Mendidik Anak-anak Menurut Ajaran Islam - Page 1

*

Author Topic: Mendidik Anak-anak Menurut Ajaran Islam  (Read 19778 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

13 June, 2007, 11:11:19 PM
  • Publish

  • Pendidikan Anak-anak menurut Islam
    oleh Syeikh Muhammad Soleh Uthaimin

    Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal- hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya.

    Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:


    1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

    2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

    3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.

    4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.

    5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.

    6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal- hal ini.

    7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

    8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku- buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

    9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.

    10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair- syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

    11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia- kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

    12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

    13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.

    14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.

    15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

    16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

    17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.

    18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

    19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.

    20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

    21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

    22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

    23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

    24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.

    25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

    26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang- orang yang suka melakukan hal itu.

    27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

    28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

    29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah- perintah.

    30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

    Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.

    WaAllahu ta'ala a'lam.

    Dari mathwiyat Darul Qasim "tsalasun wasilah li ta'dib al abna''" asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah . Diterjemahkan oleh, Ubaidillah Masyhadi http://mifty-away.tripod.com/id44.html

    **Moga ALLAH subhanahu wa ta'ala memelihara kita dan keluarga kita dari api neraka, amin.

    « Last Edit: 16 August, 2010, 09:53:46 AM by Ummi Munaliza »
    "Aku hanyalah insan biasa yang menyatakan sesuatu hari ini, mungkin esok ku ubah kembali, dan mungkin lusa ku ubah lagi.." -Imam Abu Hanifah.

    Reply #1 07 January, 2008, 06:48:45 AM
  • Publish
  • Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.

    Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.
    Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

    Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

    Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:

    1. Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

    Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

    Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,

    يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

    “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,

    “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

    Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

    Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang dimana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit.

    Dalilnya antara lain,

    “Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)
    Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.

    Adapun dari hadits,
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

    2. Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah

    Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).

    “Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).

    Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

    3. Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak

    Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.

    4. Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia

    Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll.
    Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.

    5. Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan

    Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan, seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.

    Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-, sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!

    Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang musik,

    لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ اَلْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

    “Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).

    Maknanya: Akan datang dari muslimin kaum-kaum yang meyakini bahwa perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi laki-laki, pent.), minum khamar dan musik sebagai perkara yang halal, padahal perkara tersebut adalah haram.

    Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana dan yang lainnya. Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR. Muslim).

    Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,

    كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

    “Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di neraka, maka kelak Allah akan jadikan pada setiap gambar-gambarnya menjadi hidup, kemudian gambar-gambar itu akan mengadzab dia di neraka jahannam”(HR. Muslim).

    إِنِّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْمُصَوِّرُوْنَ

    “Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” (HR. Muslim).

    Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil, pesawat dan yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama tidak ada gambar makhluk hidupnya.

    6. Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian

    Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.

    Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada Yahudi dan orang-orang zhalim. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.

    Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.

    7. Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i

    Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.

    Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud)

    Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.

    Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan mereka.

    Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.

    Diringkas oleh Abu Umar Al-Bankawy dari kitab Kaifa Nurabbi Auladana karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu dan hadits-hadits tentang hukum gambar ditambahkan dari Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Syaikh Muqbil bin Hadi.
    "Jadilah yang tebal itu IMAN,yang nipis itu LIDAH,yang tajam itu AKAL,yang lembut itu HATI,yang ringan itu SOLAT,yang halus itu ILMU dan yang manis itu SENYUMAN..."

    Reply #2 06 July, 2008, 10:13:11 AM
  • Publish
  • Quote
    Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

    Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:

    1. Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

    Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

    Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,

    يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

    “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,

    “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

    Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

    Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang dimana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit.

    Dalilnya antara lain,

    “Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)
    Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.

    Adapun dari hadits,
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

    2. Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah

    Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).

    Memang betapa pri mustahak hal2 ini di dalam keluarga muslim ditengah era globalisasi dunia Metropolitan.
    demi keselamatan dunia dan akhirat.Amin.
    İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
    hubungan dengan ukhuwahfıllah perpaduan Ummah seutuh

    Reply #3 25 August, 2008, 02:14:21 PM
  • Publish
  • terima kasih atas perkongsian semoga rumah tangga diredhai Allah
    If Allah grants your prayers,
    He is increasing your faith.

    If He delays,
    He is increasing your patience.

    If not,
    He know you can handle it!

    Reply #4 15 April, 2009, 06:43:52 PM
  • Publish
  • [box title=Contohi Luqman didik anak]
    Seorang Muslim sewajarnya menjadikan kampung akhirat sebagai matlamat utama. Jangan kita hanya meletakkan dunia dan gemerlapannya di lubuk hati.

    Dunia hanya sebagai batu loncatan untuk mencapai nikmat syurga yang abadi. Justeru, janganlah kita hanya duduk bersantai menanti waktu berlalu apalagi ditipu ilusi dunia.

    Firman Allah yang bermaksud: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan keampunan dari Allah serta keredaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadid: 20)

    Ibnu Kathir berkata, Allah membuat misalan di dunia sebagai keindahan yang fana dan nikmat yang akan sirna, iaitu seperti tanaman yang disiram hujan selepas kemarau panjang sehingga tumbuhlah tanaman yang menakjubkan petani, seperti takjubnya orang kafir terhadap dunia. Namun tidak lama kemudian tanaman-tanaman tersebut menguning dan akhirnya kering dan hancur.

    Perbandingan ini mengisyaratkan bahawa dunia akan hancur dan digantikan oleh akhirat. Lalu Allah mengingatkan tentangnya dan menganjurkan kita berbuat baik.

    Sesungguhnya pendidikan anak-anak termasuk salah satu daripada unsur keluarga. Pendidikan dapat menyelamatkan diri kita di dunia dan akhirat. Anak-anak bagi ibu bapa adalah penyeri rumah tangga yang amat menyenangkan.

    Selain itu, anak adalah amanah Allah kepada ibu bapa. Sebab itu, mereka tidak boleh disia-siakan. Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Wajib bagi orang tua menentukan supaya mereka tidak menyimpang daripada jalan lurus di dalam Islam. Selain itu, anak yang soleh menjadi pelaburan kepada para ibu bapa.

    Tuntutan ini bertepatan dengan firman Allah yang bermaksud: Hai orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah dari manusia dan batu...(at-Tahrim: 6)

    Oleh yang demikian, hendaknya para ibu bapa jangan mensia-siakan umur muda anak-anak mereka. Sebaliknya, berusaha ke arah menjadikan mereka hamba Allah yang taat. Bak kata pepatah, 'melentur buluh biar dari rebungnya'[/box]
    « Last Edit: 08 October, 2009, 09:35:41 AM by Ummi Munaliza »
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Reply #5 15 April, 2009, 06:46:24 PM
  • Publish
  • [box title=Pengawasan]

    Jangan biarkan anak-anak tanpa pengawasan terhadap bacaan yang mereka gemar, apa saya yang suka mereka saksikan dan aktiviti yang mereka sertai. Kelalaian dalam hal ini bererti mensia-siakan amanah Allah.

    Ingatlah akibat yang akan menimpa kita dan keluarga jika mensia-siakan agama. Nerakalah balasan bagi orang yang lalai menunaikan kewajipan kepada Yang Maha Esa. Ini mungkin menimpa anak kita yang malang.

    Balasan seksa neraka Allah dinyatakan menerusi firman-Nya yang bermaksud: Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan yang lain supaya mereka merasakan azabnya. (an-Nisa': 56)

    Azab neraka yang paling ringan pun amat menyakitkan. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: Penduduk negara yang paling azabnya ialah Abu Talib. Dia memakai dua terompah dari api neraka (yang akibatnya) otak mendidih kerananya. (riwayat muttafaqun alaih)

    Menyedari hakikat ini, berikanlah perhatian terhadap tarbiyatul aulad iaitu proses pendidikan anak kita. Al-Quran telah mengulas hal ini menerusi kisah Luqman yang menasihati anaknya. Ia boleh kita teliti dalam ayat 12 hingga 19 surah Luqman.

    Dalam surah tersebut, Luqman mula mengajar anaknya dengan menanam kalimat tauhid yang hakikatnya memurnikan ibadat hanya untuk Allah SWT sahaja. Ini dilanjutkan dengan kewajipan berbakti dan taat kepada ibu bapa selama mana ia tidak menyalahi syariat.

    Wasiat berikutnya adalah berkaitan penyemaian keyakinan tentang hari pembalasan, kewajipan menegakkan solat. Seterusnya, amar makruf nahi munkar yang berperanan sebagai faktor penting untuk memperbaiki umat.

    Luqman juga menyentuh tentang sikap sabar dalam pelaksanannya dan mengalih perhatian kepada adab-adab seharian yang tinggi. Antaranya, larangan memalingkan muka ketika berkomunikasi dengan orang lain kerana ia mencerminkan sikap takbur.

    Beliau turut melarang anaknya berjalan dengan bongkak dan sewenang-wenangnya di muka bumi. Sebabnya, Allah tidak menyukai orang yang sombong.

    Sebaliknya, anaknya diajar berjalan dengan sedang- tidak terlalu lambat atau terlalu cepat. Nasihat Luqman yang terakhir pula berkait erat dengan perintah merendahkan suara dan tidak berlebih-lebihan dalam berbicara.

    Kisah di atas dapat dijadikan tauladan kepada semua pemimpin keluarga. Sesungguhnya keperluan seorang anak terdapat ilmu dan pengetahuan adalah lebih mustahak berbanding yang lain.

    Jangan pula ibu bapa hanya sekadar mencurahkan kemewahan fizikal semata-mata tanpa diseimbangkan dengan keperluan ukhrawi. Ini bagi menentukan anak-anak menjadi orang yang berguna dan berjaya di dunia dan akhirat.[/box]
    « Last Edit: 08 October, 2009, 09:35:14 AM by Ummi Munaliza »

    Reply #6 01 May, 2009, 09:41:33 PM
  • Publish
  • salam,
    terbentuknya peribadi seseorang bermula dari rumah lagi, keakraban sesama keluarga, didikan agama yang mencukupi, kessungguhan ibu bapa membesarkan zuriat-zuriatnya agar menjadi mukmin yang sejati...insyaAllah...semoga kita semua hebat di didik dalam keluarga yang bahagia dan di bawah rahmatNya..amiiin..

    Reply #7 05 August, 2009, 10:42:20 AM
  • Publish
  •  :)
    Tidak ada formula khusus mendidik anak kerana setiap anak adalah makhluk yang luarbiasa dan unik, yakni berbeza-beza di antara satu sama lain.Bagaimanapun, Rasulullah SAW menggariskan 4 tahap mendidik anak:

    1. Tahap Pertama – Anak yang baru lahir sehingga mumayyiz (6 tahun). Hendaklah kita banyak bergurau dan membelai mereka dengan penuh kasih sayang sepertimana haiwan menjaga anak.

    2. Tahap Kedua – Anak berumur 7 tahun hingga baligh (14 tahun). Hendaklah kita mendidik mereka dengan arahan, disiplin dan beri tanggungjawab.

    3. Tahap Ketiga – Anak berumur 15 tahun hingga dewasa (21 tahun). Hendaklah dididik dengan cara berkawan, bertukar pendapat dan hormati pendapat mereka selagi yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

    4. Tahap Keempat – Anak berumur lebih daripada 21 tahun. Hendaklah para ibubapa memberi mereka kebebasan bertindak selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ibubapa hanya perlu bertindak sebagai penasihat agar segala tindakan mereka terkawal.

    Wallahu’alam.

    P/S: Jemput la ke blog saya:
    http://thebest4u.wordpress.com (tazkirah/tips/petua/link/produk dan banyak lagi untuk dikongsi bersama)
    http://taqwimdigital.wordpress.com (produk islam -taqwim digital untuk kegunaan di rumah/surau/masjid. guna sendiri atau sedekahkan sebagai saham akhirat)

    Reply #8 26 August, 2009, 09:47:29 AM
  • Publish
  • panduan yg bgus untuk semua!!! blh ker gna panduan ni untuk mendidik adik2 kite..........he5 semoga kita mendapat keredhaan olehNYA selalu

    Reply #9 05 September, 2009, 03:35:37 PM
  • Publish
  •  :)


    Pendidikan anak adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. Begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita temui banyak juga bentuk-bentuk pendidikan terhadap anak, baik dari perintah maupun perbuatan beliau mendidik anak secara langsung.

    Seorang pendidik, baik orangtua maupun guru hendaknya mengetahui betapa besarnya tanggung-jawab mereka di hadapan Allah ‘azza wa jalla terhadap pendidikan putra-putri islam.
    Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

    Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”

    Untuk itu -tidak bisa tidak-, seorang guru atau orang tua harus tahu apa saja yang harus diajarkan kepada seorang anak serta bagaimana metode yang telah dituntunkan oleh junjungan umat ini, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa tuntunan tersebut antara lain:

    1. Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak

    Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa tauhid merupakan landasan Islam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid dia pasti terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

    Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,

    يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

    “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.(Luqman: 13)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,

    “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

    Perkara-perkara yang diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas di atas adalah perkara tauhid.

    Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang dimana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian mengatakan bahwa Allah ada dimana-mana. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit.

    Dalilnya antara lain,

    “Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy” (Thaha: 5)
    Makna istiwa adalah tinggi dan meninggi sebagaimana di dalam riwayat Al-Bukhari dari tabi’in.

    Adapun dari hadits,
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. Beliau bertanya pula, “Siapa aku?” budak itu menjawab, “Engkau Rasulullah”. Rasulllah kemudian bersabda, “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita mu’minah”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

    2. Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah

    Hendaknya sejak kecil putra-putri kita diajarkan bagaimana beribadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai dari tatacara bersuci, shalat, puasa serta beragam ibadah lainnya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari).

    “Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Lihat Shahih Shahihil Jami’ karya Al-Albani).

    Bila mereka telah bisa menjaga ketertiban dalam shalat, maka ajak pula mereka untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

    3. Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak

    Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari. Hendaknya mereka mulai menghapalkannya, seperti doa ketika makan, keluar masuk WC dan lain-lain.

    4. Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia

    Ajarilah anak dengan berbagai adab Islami seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan basmalah sebelum makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, dll.
    Begitu pula dengan akhlak. Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.

    5. Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan

    Hendaknya anak sedini mungkin diperingatkan dari beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan, seperti merokok, judi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orang tua dan segenap perbuatan haram lainnya.

    Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-, sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!

    Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang musik,

    لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ اَلْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

    “Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).

    Maknanya: Akan datang dari muslimin kaum-kaum yang meyakini bahwa perzinahan, mengenakan sutra asli (bagi laki-laki, pent.), minum khamar dan musik sebagai perkara yang halal, padahal perkara tersebut adalah haram.

    Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana dan yang lainnya. Bahkan lonceng juga, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Lonceng itu serulingnya syaithan”. (HR. Muslim).

    Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,

    كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ

    “Seluruh tukang gambar (mahluk hidup) di neraka, maka kelak Allah akan jadikan pada setiap gambar-gambarnya menjadi hidup, kemudian gambar-gambar itu akan mengadzab dia di neraka jahannam”(HR. Muslim).

    إِنِّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلْمُصَوِّرُوْنَ

    “Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” (HR. Muslim).

    Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Adapun gambar pemandangan, mobil, pesawat dan yang semacamnya maka ini tidaklah mengapa selama tidak ada gambar makhluk hidupnya.

    6. Menanamkan Cinta Jihad serta Keberanian

    Bacakanlah kepada mereka kisah-kisah keberanian Nabi dan para sahabatnya dalam peperangan untuk menegakkan Islam agar mereka mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang pemberani, dan sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan Muawiyah telah membebaskan negeri-negeri.

    Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada Yahudi dan orang-orang zhalim. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.

    Didiklah mereka agar berani beramar ma’ruf nahi munkar, dan hendaknya mereka tidaklah takut melainkan hanya kepada Allah. Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.

    7. Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i

    Hendaknya anak-anak dibiasakan menggunakan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.

    Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” (Shahih, HR. Abu Daud)

    Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.

    Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jangan membentak atau mencela mereka, apalagi sampai mengumbar-umbar kesalahan mereka.

    Semoga bisa bermanfaat, terutama bagi orangtua dan para pendidik. Wallahu a’lam bishsawab.

    Diringkas oleh Abu Umar Al-Bankawy dari kitab Kaifa Nurabbi Auladana karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu dan hadits-hadits tentang hukum gambar ditambahkan dari Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah karya Syaikh Muqbil bin Hadi.

    Reply #10 14 September, 2009, 02:46:16 PM
  • Publish

  • Mengkhatankan anak
    ================

    Berkhatan atau bersunat harus dilakukan untuk membersihkan anak-anak kerana kemaluan merupakan tempat najis yang harus dibersihkan. Hukum berkhatan Menurut Imam Shafie, Imam Malik dan Al-Auzai dan lain-lain, berkhatan hukumnya wajib.

    Khatan Nabi Ibrahim Dan Rasulullah SAW.

    Nabi Ibrahim berkhatan ketika berusia 80 tahun. Beliau khatankan Nabi Ismail pada usia 13 dan Nabi Ishaq pada usia 7 tahun. Ada riwayat mengatakan Rasulullah dilahirkan sudah berkhatan dan juga riwayat mengatakan baginda dikhatan oleh Malaikat Jibrail.

    Hikmah dan kelebihan berkhatan

    a. Berkhatan merupakan asas daripada kebersihan dan merupakan syariat Islam perlu dikerjakan.

    b. Menyempurnakan tuntutan syara' yang sesuai dengan sunnah Nabi Ibrahim dan Rasulullah SAW. Sebagai usaha ke arah kebersihan diri untuk mengabdikan diri pada Allah SWT.

    c. Sering digunakan sebagai perbezaan antara orang Islam dan bukan Islam.

    d. Dari aspek kesihatan, ia boleh mendatangkan kebersihan pada kemaluan, mencantikkan bentuk dan merangsang syahwat.

    e. Menjaga kesihatan tenaga batin serta memelihara diri dari dihinggapi penyakit kelamin.

    f. Mengandungi hikmah yang besar di sebalik yang dilihat oleh mata kerana ajaran Islam yang lengkap dan murni, setiap yang disuruh pasti mengandung makna yang mendalam.


    Reply #11 14 September, 2009, 02:46:26 PM
  • Publish

  • Mendidik moral anak
    ===============

    Memberikan pendidikan kepada anak adalah kewajipan ibubapa. Firman Allah dalam suruh Luqman ayat 12 - 19 memberi beberapa pokok ajaran Luqman, antaranya :

    a.Pendidikan supaya bersyukur
    b.Pendidikan supaya jangan mempersekutukan Allah
    c.Pendidikan supaya berbakti kepada orang tua
    d.Pendidikan tentang balasan dari hasil perbuatan yang baik dan sebaliknya.
    e.Pendidikan tentang soalt
    f. Pendidikan tentang amar makruf nahi mungkar
    g. Pendidikan supaya bersabar
    h.Pendidikan supaya jangan sombong dan angkuh
    i. Pendidikan kesederhanaan

    Erti anak bagi orang tua
    ==================

    Setiap orang akan merasa bahagia apabila dikurniakan anak. Namun disebalik ke bahagiaan ini tersimpan tanggungjawab yang amat berat yang harus dipikul. Anak amat bererti pada ibubapa, antaranya:

    1. Anak sebagai rahmat Allah SWT
    2. Anak sebagai amanat Allah SWT
    3. Anak sebagai harta yang tergadai
    4. Anak sebagai penguji keimanan
    5. Anak sebagai alat untuk beramal

    6. Anak sebagai saham di akhirat
    7. Anak sebagai sumber kebahagiaan
    8. Anak sebagai tempat bergantung di hari tua
    9. Anak sebagai penyambung cita-cita
    10. Anak sebagai makhluk yang harus diberi pendidikan

    Reply #12 08 October, 2009, 09:23:00 AM
  • Publish
  • 1. Didik anak sejak dalam kandungan lagi
    2. Sejak bayi diajar sedikit sebanyak apa yang kita tahu dan yang kita mahu(gunakan persekitaran)
    3. Kenalkan pada buku di peringkat usia muda lagi (sejak bayi lagi...bila bayi dah boleh melihat)
    4. Didik dan ajar apa sahaja, ilmu dunia dan ilmu akhirat
    5. Beri galakan & sokongan serta panduan pada anak
    6. Boleh dibeli buku/flash card atau pun buat sendiri (lagi baik)
    7. Jadikan belajar tu "fun" bukan kita paksa anak belajar tapi kita terap kan sikit2..
    8. Terokai anak anda...cari apa yg dia minati & kembangkan ilmu nya
    9. Itu lah tanggungjawab kita sebagai ibu bapa..luangkan walupun 5 minit sehari...(boleh juga sambil2 masak ke sambil2 membasuh kain ..boleh ajar apa aje yg anak kita nak tau..)

    Pengalaman yang di lalui...
    2. Memperkenalkan buku kepada anak-anak sedari bayi lagi. Sewaktu anak menyusu, sebab anak menyusu payu dara ni selalunya ambik masa yang lama, jadi mesti ummi akan berbaring, setelah melihat wajahnya dan bermain dengan jari-jarinya, ummi akan membaca buku. Tidak kira buku apa, buku itu di buka dan anak ini akan tengok juga muka surat mana ummi sedang membaca. Lama-lama , bila dia besar, minta membaca ini ummi tidak payah pupuk, dia lahir dengan sendirinya. Pantang jumpa kertas bertulis mereka akan melihat-lihat dan membelek-belek.

    Sebelum pandai membaca, mereka cuma melihat-lihat gambar yang ada dalam buku itu, bila dah pandai membaca, mereka akan terus membaca tanpa henti hingga habis buku itu. Hinggakan kegilaan mereka pada buku, membaca sambil makan. Hingga ummi terpaksa buat peraturan, tak boleh makan sambil membaca atau tidak boleh membaca buku sambil makan. Kenapa? Samada mengambil masa yang lama untuk untuk menghabiskan makanan atau buku rosak/kotor dek kerana tertumpah air atau terkena makanan.

    Sebenarnya tabiat makan sambil mebaca itu tabiat ummi, tapi bila ummi buat peraturan tu, ummi pun terpaksa patuhi. Bila mereka makan ambil masa yang lama, sedangkan banyak perkara lain perlu di siapkan seperti untuk mandi, solat dan ke sekolah agama. Jadi mereka hanya boleh membaca di waktu senggang dan dalam perjalanan jauh. setoap bulan kena belikan buku, dan mereka akan berlumba untuk menyiapkan kerja sekolah kerana bila kerja sekolah dah siap baru boleh membaca.

    Reply #13 08 October, 2009, 09:34:27 AM
  • Publish


  • 8. Terokai minta anak-anak. Tengok kecendurangan anak sedari  kecil lagi . Kemana minatnya dan kita pandu anak ke arah yang di minati. Entahlah, mungkin anak-anak ummi banyak dominan kepada gen ummi, maka apa yang menjadi minat ummi, itu lah juga yang mereka minati.Contohnya melukis. Salah seorang anak yang minat melukis, ummi pandu dia hingga dia berminat dalam design dan reka cipta.


    Yang minat memasak, ummi beri galakkan di bidang masakkan dan memang berkeupayaan menjadi tukang masak. Ummi mula mendidik anak memasak seawal usia 6 tahun, dilatih memasak nasi di dalam periuk nasi elektrik(rice cooker). Didikan pertama, ajar sukatan beras dan sukatan airnya secara demontrasi. kali kedua kita lihat dia buat sendiri. Latihan ini mesti dibuat setiap hari, contohnya masak untuk makan malam keluarga.

    Begitu juga dengan penggunaan dapur masak, tunjukkan cara yang betul dan ceritakan ciri-ciri merbahaya dan keselamatan penggunaan dapur masak. Mencuci bilik air, melipat pakaian sendiri dan menyusun di dalam almari pakaian.

    Banyak lagi didikan yang mesti bermula dari awal kanak-kanak selain dari membaca, menulis dan mengaji Al-quran. jangan biarkan anak-anak terus leka menontot tv dan bermain game sahaja.

    Reply #14 08 October, 2009, 09:39:06 AM
  • Publish
  • InsyAllah...Mengapa anak2 anak sekarang banyak yang hilang akal,akalnya separuh dan tiada akal adalah kerana 1 faktor penting ialah anak tersebut adalah hasil dari hubungan suami isteri yang mana tiada 1 pun Allah disebut..Ini adalah disebabkan generasi kedua masyarakat telah mula meninggalkan amalan-amalan orang2 yang terdahulu.Walaupun sah dari segi syariah hubungan suami isteri melalui perkahwinan....namun apabila tiada zikrullah maka "majlis" tersebut disebut majlis lalai..Jadi anak2 anak yang keluar adalah anak2 yang lalai kerana kelalaian ibu-bapanya..Siapa yang berperanan disitu...SYAITAN LAKNATullah bersama dalam"majlis tersebut..Kita nak marah macamana wujud macam2 yang pelik2 kerana orang yang ada bin dan binti sendiri yang menyuburkan SYAITAN NYATA tersebut..Ini akan menjadi panduan untuk muslimin dan muslimat yang ingin mendirikan rumah tangga agar mengambil pusing akan hal ini..Kita cukup sedih dalam satu majlis seorang bapa yang umurnya sudah menjangkau 67 tahun membuat pengakuan kepada ustaz akan halnya...Dan dia sendiri mengakui baik anak lelaki dan anak perempuannya...MasyaAllah...Semoga Allah memberi kita taufiq dan cuba menyampaikannya pada yang lain akan BESAR dan WAJIBNYA perkara ini...
    Walam...

    Reply #15 08 October, 2009, 09:44:07 AM
  • Publish
  • InsyaAllah Anak2 yang ibu-bapanya yang tak lalai dlam BERSAMA>InsyaAllah anak yang dilahirkan tampan,mukanya jenih dan jenis anak yang bijak,mudah mendengar kata,membantu ibu bapa  dan taat perintah ibu bapa serta taat menunaikan PERINTAH ALLAH...
    Yang paling besar ialah menjadi Signal dari Allah dalam hal2 tertentu dan penyelamat dari Allah SWT dalam keadaan2 tertentu..
    w alam..

    Reply #16 08 October, 2009, 09:44:37 AM
  • Publish


  • Seperkara lagi, biasakan anak-anak makan masakan ibu di rumah. Kenapa? Sambil ibu masak, ibu akan berdoa " Ya Allah, Jadikan lah makanan yang aku masak mendapat keberkatan MU, jadikan anakku, anak  yang soleh dan solehah."

    Sambil masak, terus berzikir, dan setiap memulakan sesuatu dengan ucapan Basmallah...

    Reply #17 08 October, 2009, 09:50:45 AM
  • Publish
  • Ana nak tanya sikit, betulkah jika seseorang makan makanan yang dimasak oleh tangan2 orang yang tidak bersolat, maka ini akan menggelapkan hati seseorang?
    Jika begitu, macam mana pula jika memakan makanan yg halal tetapi dimasak oleh orang bukan muslim? Mohon jawapan.

    Reply #18 08 October, 2009, 10:13:07 AM
  • Publish
  • Ana nak tanya sikit, betulkah jika seseorang makan makanan yang dimasak oleh tangan2 orang yang tidak bersolat, maka ini akan menggelapkan hati seseorang?
    Jika begitu, macam mana pula jika memakan makanan yg halal tetapi dimasak oleh orang bukan muslim? Mohon jawapan.

    Untuk menghuraikan panjang lebar. Topik hukum memakan makanan yang di masak oleh orang kafir telah dibahaskan di sini.
    Fatwanya pun ada. Makan Makanan Yang Disediakan Oleh Hindu

    Sila rujuk.

    Mengenai makan masakan oleh yang tidak bersolat itu, lain pula ceritanya, ia berkaitan dengan keberkatan dan hati manusia. Dan detail pula huraian kerana bersangkutan ilmu tasawwuf...

    Reply #19 12 October, 2009, 09:34:18 PM
  • Publish

  • 10 ETIKA ANAK SOLEH YANG BERKESAN
    (ANTARA PANDUAN YANG DIGALI DARIPADA SURAH LUQMAN)



    1.      Tidak mempersekutukan Allah SWT, Syirik dan Murtad

           - Merupakan kesalahan dan dosa yang amat besar.

    2.      Berbuat baik kepada kedua ibubapa
    - Kenangilah penderitaan ibu yang mengandung kita dengan segala susah payah. Apabila kita dilahirkan, kita disusunya sehingga berusia kira-kira 2 tahun.
    -Banyak bersyukur kepada Allah SWT kerana diciptakan kita untuk hidup di dunia ini.
    -Doakanlah kesejahteraan ke atas mereka dan semoga Allah SWT akan menjaga mereka sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil sehingga dewasa.

    3.      Yang tidak boleh kita taati suruhan kedua ibubapa hanya apabila dipaksa syirik atau menyembah yang lain daripada Allah SWT (namun 'ketidaktaatan' ini harus dilakukan dengan cara yang baik - penuh hikmah, dakwah, siasah dan diplomasi) Ketaatan kepada ibubapa yang bukan Islam sekalipun (walaupun anaknya itu mualaf) masih diwajibkan (bukan taatkan suruhan mensyirikkan Allah SWT)
     
    4.      Memahami bahawa segala amal ibadat kita diketahui oleh Allah SWT walau sekecil mana sekalipun

    5.      Mendirikan solat

    6.      Menyuruh perkara kebaikan dan melarang perkara kejahatan (Amar Makruf Wa Nahyu Anil Mungkar) - dakwah lidah, hati dan anggota.

    7.      Bersabar dan redha diatas segala dugaan

    8.      Tidak menyombong dan membanggakan diri samada kaya atau miskin, berpangkat ataupun tidak, berilmu atau tidak, tua atau muda atau berketurunan (orang baik-baik) dll.

    9.      Bersederhana dalam segala perkara.

    10.      Bersikap lemah lembut dan beradab sopan


    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    12 Replies
    8850 Views
    Last post 30 November, 2012, 01:12:56 PM
    by wanita4adam
    2 Replies
    2066 Views
    Last post 15 December, 2010, 03:53:14 AM
    by Rahimah Sakinah
    113 Replies
    52979 Views
    Last post 18 May, 2014, 07:11:00 PM
    by Ummi Munaliza