Bolehkah Menjamak Solat Jumaat dengan Solat Asar

*

Author Topic: Bolehkah Menjamak Solat Jumaat dengan Solat Asar  (Read 12990 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

masri

  • *
  • Posts: 28
    • View Profile
24 May, 2007, 11:10:06 AM
  • Publish
  • MENJAMA SHALAT ASHAR DENGAN SHALAT JUM’AT

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Ramai yang menanyakan tentang hukum menjama (menggabungkan) antara shalat Ashar dengan shalat Jum’at (sebagaimana) dalam keadaan diperbolehkan menjama shalat Ashar dengan Dzuhur. Maka, dengan meminta pertolongan kepada Allah, serta berharap hidayah dan taufiqNya, saya menjawab.More...

    Tidak boleh menjama (menggabungkan) shalat Ashar dengan shalat Jum’at ketika diperbolehkan menjama antara shalat Ashar dan Dzuhur (kerana ada alasan syar’i, seperti perjalanan,-red) . Seandainya seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh melintasi suatu daerah, lalu dia melakukan shalat Jum’at bersama kaum muslimin disana, maka (dia) tidak boleh menjama Ashar dengan shalat Jum’at.

    Seandainya ada seorang yang menderita penyakit sehingga diperbolehkan untuk menjama shalat, (lalu dia) menghadiri shalat dan mengerjakan shalat Jum’at, maka dia tidak boleh menjama shalat Ashar dengan shalat Jum’at. Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Ertinya : Sesungguhnya shalat itu adalah kewajipan yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (An-Nisaa : 103)

    Maksudnya, (ialah) sudah ditentukan waktunya. Sebahagian daripada waktu-waktu ini sudah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara global dalam firmanNya.

    “Ertinya : Dirikanlah shalat daripada sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat)” (Al-Israa : 78)

    Maksud kata ‘duluukusy syamsi’ (pada ayat di atas) ialah, tergelincirnya matahari ke arah barat. ‘ghasaqil lail’, maksudnya ialah gelapnya malam, yakni pertengahan malam.

    Waktu-waktu itu mencakupi empat shalat, yaitu : shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Shalat-shalat ini terkumpul dalam satu rangkaian waktu, kerana tidak ada pemisah di antara satu waktu ke waktu yang berikutnya. Ketika waktu salah satu shalat sudah habis, maka masuk waktu shalat berikutnya. Dan waktu shalat Shubuh terpisah kerana waktu shalat Isya tidak tersambung dengan waktu shalat Shubuh, serta waktu Shubuh tidak bersambung dengan waktu Dzuhur.

    Tentang waktu-waktu shalat sudah dijelaskan secara terperinci oleh Sunnah di dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dan dari Jabir serta yang lainnya, yaitu :

    (1). Waktu shalat Dzuhur mulai dari tergelincirnya matahari sampai ketika bayangan sebuah benda sama panjang dengan aslinya.
    (2). Waktu shalat Ashar mulai dari ketika bayangan sebuah benda sama panjang dengan aslinya sampai tenggelam matahari. Akan tetapi, waktu ketika matahari telah menguning adalah waktu darurat (1)
    (3). Waktu shalat Maghrib mulai dari tenggelam matahari sampai hilangnya warna kemerahan dari ufuk sebelah barat.
    (4). Waktu shalat Isya mulai dari hilangnya warna kemerahan dari ufuk sebelah barat sampai pertengahan malam
    (5). Waktu shalat Shubuh mulai dari terbit fajar sampai terbit matahari

    Inilah aturan-aturan Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu-waktu shalat. Barangsiapa yang melakukan shalat sebelum waktu yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia mendapatkan dosa dan shalatnya tertolak. Begitu juga orang yang mengerjakannya setelah waktunya lewat tanpa udzur syar’i.

    Demikian inilah yang dituntut oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Berdasarkan huraian ini, maka orang yang menjama’ shalat Ashar dengan shalat Jum’at, bererti dia mengerjakan shalat Ashar sebelum waktunya, iaitu ketika bayangan sebuah benda sama panjang dengan aslinya, sehingga shalatnya batal dan tertolak serta wajib diganti.

    Jika ada yang mengatakan, apakah tidak boleh mengqiyaskan jama shalat Ashar ke Jum’at dengan menjama shalat Ashar ke Dzuhur?

    Jawabnya adalah tidak boleh, kerana beberapa sebab :
    (1). Tidak ada qiyas dalam masalah ibadah.
    (2). Shalat Jum’at merupakan shalat tersendiri, memiliki lebih dari 20 hukum (ketentuan-ketentuan) tersendiri yang berbeza dengan shalat Dzuhur. Perbezaan seperti ini menyebabkannya tidak boleh disamakan (diqiyaskan) ke shalat yang lainnya.
    (3). Qiyas seperti (dalam pertanyaan diatas, -pent) ini bertentangan dengan dhahir sunnah. Dalam shahih Muslim, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama Maghrib dengan Isya di Madinah dalam keadaan aman dan tidak hujan.

    Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah juga turun hujan yang menimbulkan kesulitan, akan tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjama shalat Ashar dengan Jum’at, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan lainnya dari sahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta hujan pada hari Jum’at saat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar. Sebelum beliau turun dari mimbar, hujan turun dan mengalir dari janggotnya. Ini tidak akan terjadi, kecuali disebabkan oleh hujan yang boleh dijadikan alasan untuk menjama shalat, seandainya boleh menjama Ashar dengan shalat Jum’at. Sahabat Anas bin Malik mengatakan, pada hari Jum’at berikutnya, seseorang datang dan berkata : “Wahai, Rasulullah. Harta benda sudah tenggelam dan bangunan hancur, maka berdo’alah kepada Allah agar memberhentikan hujan dari kami”.

    Keadaan seperti ini, (tentunya) memperbolehkan untuk menjama, jika seandainya boleh menjama ‘ shalat Ashar dengan shalat Jum’at.

    Jika ada yang mengatakan “Mana dalil yang melarang menjama shalat Ashar dengan shalat Jumaat?”

    Pertanyaan seperti ini tidak tepat, kerana hukum asal beribadah adalah terlarang, kecuali ada dalil (yang merubah hukum asal ini menjadi wajib atau sunat, -pent). Maka orang yang melarang pelaksanaan ibadah kepada Allah dengan suatu amalan fizik atau hati, tidak dituntut untuk mendatangkan dalil. Akan tetapi, yang dituntut untuk mendatangkan dalil ialah orang yang melakukan ibadah tersebut, berdasarkan firman Allah yang mengingkari orang-orang yang beribadah kepadanya tanpa dasar syar’i.

    “Ertinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” (Asy-Syuura : 21)

    Dan firmanNya.

    “Ertinya : Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu jadi agamamu” (Al-Maidah : 3)

    Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Ertinya : Barangsiapa yang melakukan satu perbuatan yang tidak berdasarkan din ini, maka amalan itu tertolak.

    Berdasarkan ini, jika ada yang menanyakan, “Mana dalil larangan menjama shalat Ashar dengan shalat Jum’at?” (Maka) kita mengembalikan pertanyaan “Mana dalil yang memperbolehkannya ? Ini kerana hukum asal shalat Ashar dikerjakan pada waktunya. Ketika ada faktor yang memperbolehkan untuk menjama shalat Ashar, hukum asal ini bisa diselisihi, (maka yang) selain itu tetap pada hukum asalnya, iaitu tidak boleh diajukan dari waktunya.

    Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana pendapatmu jika dia berniat shalat Dzuhur ketika shalat Jum’at agar boleh menjama?”

    Jawab, jika seorang imam shalat Jum’at di suatu daerah, berniat shalat Dzuhur dengan shalat Jum’atnya, maka tidak syak lagi (demikian) ini merupakan perbuatan haram, dan shalatnya batal. Ini kerana bagi mereka, shalat Jum’at itu wajib. Jikad ia mengalihkan shalat Jum’at ke shalat Dzuhur, bererti mereka berpaling dari perintah-perintah Allah kepada sesuatu yang tidak diperintahkan, sehingga berdasarkan hadits di atas, (maka) amalnya batal dan tertolak.

    Sedangkan jika yang berniat melaksanakan shalat Jum’at dengan niat Dzuhur adalah –seorang musafir (misalnya) yang bermakmum kepada orang yang wajib melaksanakannya, maka perbuatan musafir ini juga tidak sah. Ini kerana, ketika dia menghadiri shalat Jum’at, bererti dia wajib melakukannya. Orang yang terkena kewajipan shalat Jum’at namun dia melaksanakan shalat Dzuhur sebelum imam salam dari shalat Jum’at, maka shalat Dzuhurnya tidak sah.

    Demikianlah penyusun kitab Al-Muntaha dan kitab Al-Iqna menuliskan, bahawa tidak boleh menggabungkan Ashar dengan shalat Jum’at. Kedua penyusun kitab ini menyebutkannya di awal bab tentang shalat Jum’at.

    Saya jelaskan secara panjang lebar, karena hal ini diperlukan. Semoga Allah membimbing kita kepada kebenaran, memberikan manfaat, sesungguhnya Allah Maha Dermawan.

    (Ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin 12/06/1419H)

    (Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/12005. Diambil dari Fatawa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183)
    _________
    Foote Note
    (1). Orang yang mengerjakan shalt Ashar pada waktu ini tanpa ada udzur syar'i, maka shalatnya sah tapi dia berdosa. Lihat Al-Wajiz hal. 68,-pent

    http://soaljawab.wordpress.com
    « Last Edit: 23 September, 2010, 09:51:12 AM by Ummi Munaliza »

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Reply #1 26 May, 2007, 10:38:19 PM
  • Publish
  • Bismillah.

    Fatwa tidak boleh menjama' solat jum'at dengan solat asar yang dikeluarkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin r.a adalah berdasarkan fatwa dalam Madzhab Hanbali.

    Ini jelas seperti yang dinyatakan oleh Syaikh: "Demikianlah penyusun kitab Al-Muntaha dan kitab Al-Iqna menuliskan, bahwa tidak boleh menggabungkan Ashar dengan shalat Jum’at. Kedua penyusun kitab ini menyebutkannya di awal bab tentang shalat Jum’at".

    Di dalam Madzhab Syafie pula didapati ramai ulama besar mereka membenarkan untuk menjama' solat juma'at dengan solat asar. Antaranya Imam Rafi3i, Imam Nawawi, Imam Zarkasyi dan Imam Zakaria Ansari.

    Wallahu a3lam.

    sumber : al-ahkam.net
    Kajian Hingga Akhir Hayat...

    alhaudhie

    • *
    • Posts: 2086
      • View Profile
    Reply #2 27 May, 2007, 09:34:46 AM
  • Publish
  • Oleh yang demikian ana mencadangkan..
    Jika fatwa sesuatu hukum datangnya daripada aliran satu-satu mazhab, maka sila nyatakan mazhab tersebut supaya dapat mengelakkan kekeliruan..

    ISLAM untuk semua

    - Pentadbiran
    - Pondok Tahfiz

    kanjeng sunan

    • *
    • Posts: 2192
    • cintai tuhan, sayangi tuhan, takuti tuhan...
      • View Profile
    Reply #3 27 May, 2007, 02:35:09 PM
  • Publish
  • ya ana juga berpendapat demikian...
    bagi mengelakkan kekeliruan..
    tetapi bagi kita yang..
    beraliran mazhab syafei...
    maka adalah lebih baik ..
    ianya dibincangkan dalam mazhab..
    kita...
    TuhAN cInTa aGuNg..

    al_haq

    • *
    • Posts: 385
    • ~Hidup & Mati hanya untuk Islam~
      • View Profile
    Reply #4 29 May, 2007, 04:53:01 AM
  • Publish
  • ya ana setuju dengan pendapat tu,biarlah letak mazhab mana dalam penulisan..dan dalam bab ni ulamak berselisih pendapat,maka tak salahlah kalau ada yang menunaikan solat jamak jumaat dan asar,sebabanya disana ada ulamak yang mengatakan boleh.
    "Semua manusia tidak dapat lari dari melakukan kesilapan dan kesalahan,yang penting kembali dan bertaubat kepadanya,(aku mengharapkan keredaanmu ya Allah)(",)"

    zulfaqar_arrusyd

    • *
    • Posts: 3
    • impossible is nothing
      • View Profile
    Reply #5 01 December, 2007, 03:09:17 PM
  • Publish
  •  :)
    Assalamualaikum halaqian semua..semoga dirahmati Allah hendaknya...

    Disini ana punya 1 soalan...
    Adakah sah solat andainya seorang yang bersolat fardu b'imamkan solat jama' qasar? Ana serba salah ingin menjawab pertanyaan kawan ana...takut tersalah hukum..

    Diharap kepada yang arif mengenai perihal ini dapat menjelaskannya  kepada ana serta kepada muslim semua...
    Semoga ilmu Allah ini dapat dikongsi bersama dan dapat merungkai permasalahan ini..
    Wallahualam..jazakumullahu khairan jaza'...

    al_haq

    • *
    • Posts: 385
    • ~Hidup & Mati hanya untuk Islam~
      • View Profile
    Reply #6 02 December, 2007, 12:58:42 AM
  • Publish
  • :)
    Assalamualaikum halaqian semua..semoga dirahmati Allah hendaknya...

    Disini ana punya 1 soalan...
    Adakah sah solat andainya seorang yang bersolat fardu b'imamkan solat jama' qasar? Ana serba salah ingin menjawab pertanyaan kawan ana...takut tersalah hukum..


    Diharap kepada yang arif mengenai perihal ini dapat menjelaskannya  kepada ana serta kepada muslim semua...
    Semoga ilmu Allah ini dapat dikongsi bersama dan dapat merungkai permasalahan ini..
    Wallahualam..jazakumullahu khairan jaza'...




    Waalaikumussalam....akhi pun sentiasa dirahmati Allah,
    berkenaan dgn soalan akhi,disisi Imam syafie adalah sah solat tersebut yakni sekiranya seorang yang bersolat fardhu berimankan solat jama' qasar,ada pun sekiranya seorang itu bersolat jamak qosar berimankan imam yang solah fardhu adalah tidak sah yakni solat qosar berimamkan solat kamil @ penuh....Wallahu a'lam

    syafiqah

    • *
    • Posts: 32
    • jihad demi ISLAM
      • View Profile
    Reply #7 19 March, 2008, 11:59:38 AM
  • Publish
  • salam..blh x explain dgn lbh lanjut ttg makmun yg bersolat jama' qosar dgn berimamkan imam yg solat penuh..ana nk tahu sbb ana prnh dgr drpd org..dia kata x pe..
    kalu btl la x blh..sy nk keterangan yg detail sbb nk bgth pd org tu..juga nk tahu pendpt dari mazhab mane
    cerdiknya seseorg itu apabila dia kenal Allah, Tahu istimewanya syurga, Tahu betapa azabnya neraka & dia berusaha mencari keredhaan Allah dlm setiap lapangan hidupnya.

    azah_firzah

    • *
    • Posts: 22
      • View Profile
    Reply #8 08 May, 2008, 12:23:01 AM
  • Publish
  • Waalaikumussalam....akhi pun sentiasa dirahmati Allah,
    berkenaan dgn soalan akhi,disisi Imam syafie adalah sah solat tersebut yakni sekiranya seorang yang bersolat fardhu berimankan solat jama' qasar,ada pun sekiranya seorang itu bersolat jamak qosar berimankan imam yang solah fardhu adalah tidak sah yakni solat qosar berimamkan solat kamil @ penuh....Wallahu a'lam

    salam..
    ngan ilmu cetek yg sy ade ni n stakat ape yg sy blajar, org yg jamak/qasar bleh b'imamkan org yg solat sempurna ttp sebaliknya xboleh. maksudnya org yang smbahyang kamil/smpurna xbleh b'imamkan org yg solat jamak/qasar..
    sy cdgkan pd sdr zulfaqar agar merujuk perkara ni pd ustaz yg arif agr ibadah kita xsia2..
    wallahu a'lam..

    duri-duri

    • *
    • Posts: 23
      • View Profile
    Reply #9 08 May, 2008, 03:37:17 PM
  • Publish
  • Oleh yang demikian ana mencadangkan..
    Jika fatwa sesuatu hukum datangnya daripada aliran satu-satu mazhab, maka sila nyatakan mazhab tersebut supaya dapat mengelakkan kekeliruan..




    saya setuju dgn andangan awk
    jgn dtgkan sesuatu pndapat selain dr mazhab syafie
    melainkan dsebut dr pendapat mana
    supaya x ada pengeliruan............

    wassalam

    muhammad161967

    • *
    • Posts: 31
    • Berbudi.Membalas budi.Mengenang budi
      • View Profile
    Reply #10 26 July, 2008, 01:22:45 AM
  • Publish
  • padangan diri saya,pendapat tidaklah tepat selagi tidak dizahirkan hadis sahih yang menyatakan ada kelakuan spt yang dibicangkan

    semuga Allah merahmati kita semua
    SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGAMPUNI PERBUATAN SYIRIK TERHADAP-NYA DAN DIA AKAN MENGAMPUNI YANG SELAIN ITU,KEPADA ORANG YANG DIA KEHANDAKI

    Hizbullah

    • *
    • Posts: 6
    • Allahumma Sholli 'Ala Muhammad Wa Ali Muhammad
      • View Profile
    Reply #11 18 September, 2008, 04:41:32 PM
  • Publish
  • Oleh yang demikian ana mencadangkan..
    Jika fatwa sesuatu hukum datangnya daripada aliran satu-satu mazhab, maka sila nyatakan mazhab tersebut supaya dapat mengelakkan kekeliruan..




    saya setuju dgn andangan awk
    jgn dtgkan sesuatu pndapat selain dr mazhab syafie
    melainkan dsebut dr pendapat mana
    supaya x ada pengeliruan............

    wassalam



    Salam...


    Bagi pandangan saya,adalah lagi baik adanya pembahagian setiap huraian mengikut mazhab tidak tertumpu kepada satu2 mazhab saja kerana jika benar2 kita menganut Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah lebih baik kita mengambil semuanya kerana tiada berdosa besar malah menjauhkan daripada Allah SWT jika kita mengikut mana2 pun mazhab oleh kerana kita Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merangkumi 4 mazhab utama.

    Walahua'lam...
    Tiada Tuhan disembah melainkan Allah yang menghidupkan aku daripada mati 5 pancaindera; Melihat, Mendengar, Mencium dan Bergerak serta Nabi Muhammad itu Pesuruh Allah, Penghuluku dan Aku Pengikutnya..

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Reply #12 14 May, 2009, 07:25:00 PM
  • Publish

  • Fatwa tidak boleh menjama' solat jum'at dengan solat asar yang dikeluarkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin r.a adalah berdasarkan fatwa dalam Madzhab Hanbali.

    Ini jelas seperti yang dinyatakan oleh Syaikh: "Demikianlah penyusun kitab Al-Muntaha dan kitab Al-Iqna menuliskan, bahwa tidak boleh menggabungkan Ashar dengan shalat Jum’at. Kedua penyusun kitab ini menyebutkannya di awal bab tentang shalat Jum’at".

    Di dalam Madzhab Syafie pula didapati ramai ulama besar mereka membenarkan untuk menjama' solat juma'at dengan solat asar. Antaranya Imam Rafi3i, Imam Nawawi, Imam Zarkasyi dan Imam Zakaria Ansari.

    Abang Masri dan tanpanama, mana satu paling rajih qaul kedua2 mazhab ini.

    Tapi kalau nak buat dua2 pun xpe kan?
    Saya meminta maaf sekiranya terkasar bahasa sepanjang saya bersama Halaqian. Kini saya sudah berhenti menjadi Halaqians. Selamat maju jaya. Selamat menuntut ilmu dengan manhaj yang sahih.Tolong delete ID saya.

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14487
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #13 23 September, 2010, 09:48:21 AM
  • Publish

  • Bolehkah menjamakkan Asar dengan solat Jumaat?


    Al-Hafiz Imam Nawawi didalam Kitab Al-Majmu' (dan jemaah yang lain) mengatakan bahawa : "Bagi ulama' Syafie telah membenarkan menjamak di antara Solat Jumaat dengan Solat Asar" .


    Begitu juga dengan kitab-kitab Fiqh Syafie yang lain seperti Mughni Al-Muhtaaj tulisan Syiekh Al-Syarbini menyebut : "(Dibenarkan menjama' diantara Solat Zohor Asar secara Taqdim) di dalam waktu pertama (dan Ta'khir) di dalam waktu yang kedua. Solat Jumaat seperti Zohor di dalam Jama' secara Taqdim sebagaimana yang dimaklumkan oleh Al-Zarkashi dan dibenarkan seperti menjama' sewaktu hujan pada awalnya, dan tidak mungkin dapat ditangguhkan kerana sesungguhnya Solat Jumaat tidak datang padanya secara Ta'khir dari waktunya" [Syiekh Al-Syarbini. Mughni al-Muhtaaj - 1. Beirut : Dar Al-Fikr, 2001. ms 370]

    Bermakna jika ingin  jamak  solat Jumaat dengan solat asar,hanya boleh dilakukan  Jamak taqdim sahaja. Iaitu selepas solat Jumaat, diiringi dengan solat asar . Tidakboleh lakukan solat Jumaat dan solat asar secara jamak takhir.



    Ulama Fiqh perbandingan masakini dari Syria, Dr Wahbah Al-Zuhaily mengatakan : "Dibenarkan di sisi Jumhur selain dari Hanafi menjamak di antara Zohor dan Asar secara Taqdim di waktu pertama, melakukan solat secara Ta'khir pada waktu kedua, dan solat Jumaat seperti juga solat Zohor didalam jama' Taqdim, diantara Maghrib dan Isya' secara Taqdim dan Ta'khir juga seperti didalam permusafiran yang panjang sebagaimana didalam Qasar (89km)." [Dr Wahbah al-Zuhaily. al-Fiqh al-Islami wa adillatuh - 2. cetakan ke 3. Damsyik : Dar al-Fikr, 1989. ms 349]


    Contoh ulama' moden mazhab Syafie yang lain seperti Syeikh Dr Khaalid Al-Jundi, pensyarah Usuluddin dan falsafah, Universiti Al-Azhar apabila ditanya boleh atau tidak menjama'kan solat asar dan Jumaat, menurut beliau : "Bagi mereka yang bermusafir untuknya dibolehkan Qasar dan Jama', Jika kamu berada ditempat yang akan bersolat Jumaat, dimana kamu didalam musafir, maka hendaklah kamu solat Jumaat kemudian bersolat Asar secara Jama' Taqdim, dan kamu boleh juga melakukan solat Jama' Taqdim secara Qasar dan Jemaah, atau dibenarkan kamu bersolat 2 rakaat sahaja atau 4 rakaat." [Al-Shiekh Khaalid Al-Jundi. Fasaluu ahla al-zikr : fatawa mu'asyirah. Beirut : Dar Al-Ma'rifah, 2003. ms 116]


    Menurut Ali Muhiyuddin Al-Qarh Dagha :- "Sebagaimana kata Ibn Taimiyah : Ijma' ulama adalah kenyataan kata putus, dan perbezaan mereka adalah rahmat, sebagaimana perbezaan ini bertukar menjadi fitnah dan ini tidak dibenarkan, kerana sesungguhnya jumhur Fuqaha' membenarkan Jama' diantara Solat Jumaat dan Asar bagi mereka yang bermusafir dan kerana hujan.



    Sumber : Pusat Pembangunan  Insan UMP.

    http://pipi.ump.edu.my/index.php?option=com_content&view=article&id=49:jamakqasar&catid=42:umum&Itemid=83
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    ibnushams

    • *
    • Posts: 25
      • View Profile
    Reply #14 23 September, 2010, 01:27:36 PM
  • Publish
  • salam...sekiranya musfir ingin jama' qasar solatnya dengan org yg bermastautin dia hendaklah lengkapkan solat itu dengan mengikut imam mastautin...musafir tidak boleh mengqasarkan bilangan solat tersbut...tp boleh menjama'kan solat itu...persoalan di sini qasar sahaja yg tidak boleh mengikuti imam mastautin...
    contoh: musafir melengkapkan solat zuhur 4 rakaat mengikut imam mastautin kemudian jama' dan qasar waktu asar bersendirian atau berjemaah....

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    8 Replies
    3400 Views
    Last post 29 January, 2009, 12:03:44 PM
    by mooks
    17 Replies
    38804 Views
    Last post 27 January, 2012, 08:31:55 AM
    by 5zul
    9 Replies
    3272 Views
    Last post 05 September, 2010, 09:48:11 PM
    by adeq_fauzy