Sedutan Hukum-Ibadah Haji & Umroh

*

Author Topic: Sedutan Hukum-Ibadah Haji & Umroh  (Read 4178 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

Jawi

  • *
  • Posts: 107
    • View Profile
20 November, 2008, 01:03:35 PM
  • Publish
  • Hikmah & Kajian

    Haji sebagai salah satu rukun Islam yang kelima dan wajib dilaksanakan setiap muslim yang mampu satu kali seumur hidupnya didasarkan pada firman Allah swt dalam surah Ali 'Imran (3) ayat 97 seperti disebut di atas. Kemudian pada ayat lain Allah swt berfirman yang artinya: "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah..." (QS.2:196), "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rajas, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji..." (QS.2:197),

    "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak..." (QS.22:27-28).

    Sedangkan kewajiban haji bagi setiap muslim yang mampu satu kali seumur hiduphya dalam hadis Rasulullah SAW dijumpai dalam riwayat dari Abu Hurairah: "Rasulullah SAW berkhotbah kepada kami. Katanya: "Wahai manusia, Allah telah memfardukan haji bagi kamu, maka laksanakanlah." Kemudian seseorang bertanya, "Apakah haji itu dikerjakan setiap tahun ya Rasulullah?" Rasulullah SAW kemudian diam, sampai-sampai lelaki itu mengulangi pertanyaan itu sebanyak tiga kali. Kemudian Rasulullah SAW berkata: "Kalau saya katakan benar, pasti akan wajib tiap tahun, tetapi kalian tidak akan mampu" (HR. Ahmad bin Hanbal, Muslim, dan an-Nasa'i).

    Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: "Ikutilah amalan haji dengan umrah, karena kedua amalan itu meniadakan sifat kikir dan dosa sebagaimana ahli logam membuang karat dari besi, perak, dan emas. Tiada lain pahala yang diterima haji yang mabrur (diterima) kecuali surga" (HR. at- Tirmizi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah dari Ibnu Mas'ud).

    Berdasarkan hadis-hadis ini, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa kewajiban haji bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan biaya, waktu, tenaga, dan aman dalam perjalanan, hanya satu kali seumur hidup. Namun demikian, Rasulullah SAW menganjurkan bagi orang yang memiliki kemampuan biaya, fisik, dan waktu untuk melaksanakan ibadah haji sekali dalam lima tahun (HR. al-Baihaki dan Ibnu Hibban dari Abu Sa'id al-Khudri).

    Hukum Ibadah Haji dan Umrah
    Berdasarkan ayat dan hadis di atas, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa ibadah haji wajib dilaksanakan bagi setiap mukmin yang mempunyai kemampuan biaya, fisik, dan waktu. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang kapan kewajiban itu dimulai, apakah kewajiban itu bisa ditunda, atau harus dilaksanakan segera setelah mampu. Imam *Abu Hanifah, Imam *Abu Yusuf (sahabat Imam Abu Hanifah), ulama Mazhab *Maliki, dan pendapat terkuat di kalangan Mazhab *Hanbali menyatakan bahwa apabila seseorang telah mampu dan memenuhi syarat, wajib langsung mengerjakan ibadah haji dan tidak boleh ditunda ('al'c3'a2 al-faur).

    Jika pelaksanaannya ditunda sampai beberapa tahun, maka orang tersebut dihukumkan *fasik, karena penundaan tersebut termasuk *maksiat. Jika pelaksanaan haji itu ditunda-tunda, kemudian uangnya habis, maka orang tersebut, menurut mereka, harus meminjam uang orang lain untuk melaksanakan ibadah haji itu, karena waktu wajib baginya telah ada, lalu ia tunda.

    Alasan mereka dalam menyatakan bahwa pelaksanaan ibadah haji tidak boleh ditunda bagi orang yang telah mampu dan memenuhi syarat adalah firman Allah SWT dalam surah Ali 'Imran (3) ayat 97 dan surah al-Baqarah (2) ayat 196 di atas. Tuntutan untuk menunaikan ibadah haji itu adalah tuntutan yang sifatnya segera, karenanya, tidak boleh ditunda.

    Alasan lain yang mereka kemukakan adalah sabda Rasulullah SAW: "Segeralah kamu melaksanakan ibadah haji, karena tidak satu orang pun di antara kamu yang mengetahui apa yang akan terjadi" (HR. Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas). Bahkan dalam hadis lain Rasulullah SAW seakan-akan mengecam orang yang menunda-nunda ibadah hajinya. Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang tidak dalam keadaan sakit, tidak dalam kebutuhan atau kesulitan mendesak, atau tidak dihalangi penguasa yang lalim, lalu ia tidak menunaikan ibadah hajinya, jika ia mati maka ia bebas memilih untuk secara Yahudi atau secara Nasrani" (HR. Sa'id bin Mansur, Ahmad bin Hanbal, Abu Ya'la, dan al-Baihaki dari Abu Umamah, tetapi salah seorang periwayatnya daif). Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Imam at-*Tirmizi, yang salah seorang periwayatnya juga daif.

    Ulama Mazhab *Syafi'i dan Muhammad bin Hasan asy-*Syaibani (sahabat Imam Abu Hanifah lainnya) berpendapat bahwa kewajiban haji itu tidak harus segera dilaksanakan ('al'c3'a2 at-tar'c3'a2khi), tetapi jika memang sudah mampu dianjurkan (disunahkan) segera dilaksanakan dengan maksud agar tanggung jawab atau kewajibannya lepas. Oleh sebab itu, menurut mereka, pelaksanaan ibadah haji bagi yang telah mampu dan memenuhi syarat boleh ditunda, karena Rasulullah SAW sendiri menunda pelaksanaan ibadah haji sampai tahun ke-10 Hijriah (HR. al-Bukhari dan Muslim), sedangkan kewajiban ibadah haji telah disyariatkan pada tahun 6 Hijriah (menurut mereka, ayat tentang kewajiban melaksanakan haji, yaitu surah al-Baqarah [2] ayat 196-197 diturunkan pada tahun ke-6 Hijriah).

    Ulama Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa ibadah haji disyariatkan sejak tahun ke-6 Hijriah, berbeda dengan pendapat jumhur ulama fikih yang menyatakan pada tahun ke-9 Hijriah. Di samping itu, lanjut mereka, hadis- hadis yang menyatakan bahwa penunaian ibadah haji harus segera dilaksanakan jika telah mampu dan memenuhi syarat seluruhnya adalah *hadis daif yang tidak bisa dijadikan landasan hukum.

    Dalam menetapkan hukum melaksanakan ibadah umrah, ulama fikih juga berbeda pendapat. Pendapat terkuat dalam Mazhab Maliki dan Mazhab *Hanafi menyatakan bahwa umrah itu hukumnya sunah mu'akkad (sunah yang dipentingkan/diutamakan) untuk satu kali seumur hidup. Alasan mereka, seluruh hadis yang berbicara tentang kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam tidak satu pun yang menyatakan bahwa umrah itu termasuk di dalamnya.

    Di samping itu, mereka juga beralasan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam at- Tirmizi, Imam Ahmad bin Hanbal, dan al-Baihaki dari Jabir bin Abdullah. Dalam hadis itu diceritakan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: "Beritahu kepada saya, apakah umrah itu wajib atau tidak?" Rasulullah SAW menjawab: "Tidak, tetapi jika kamu melaksanakan umrah lebih baik bagi engkau." Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: "Haji itu adalah jihad dan umrah itu adalah ta-tawwu' (amalan sunah)" (HR. ad-Daruqutni dan al-Baihaki dari Abu Hurairah). Menurut *Ibnu Hajar al-Asqalani, hadis ini daif.

    Menurut ulama Mazhab Syafi'i dan salah satu pendapat di kalangan Mazhab Hanbali, umrah itu hukumnya wajib, sama dengan haji. Alasan mereka adalah firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2) ayat 196 yang artinya: "Dan sempurnakanlah ibadah haji danumrah karena Allah..." Dalam ayat ini, menurut mereka, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah sekaligus secara sempurna. Di samping itu, mereka juga beralasan dengan sebuah hadis: "Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, apakah wanita itu berkewajiban untuk berjihad?" Rasulullah SAW menjawab: "Benar, yaitu jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, haji dan umrah", (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaki dari RA Aisyah).

     


    Jawi

    • *
    • Posts: 107
      • View Profile
    Reply #1 20 November, 2008, 01:03:46 PM
  • Publish
  • Syarat Ibadah Haji & Umroh

    Syarat-syarat ibadah haji dan umrah ada yang bersifat khusus bagi laki-laki dan wanita dan ada juga yang bersifat umum. Syarat-syarat yang bersifat umum adalah sebagai berikut.

    1   Muslim, karenanya orang kafir tidak sah hajinya, karena mereka tidak cakap untuk melaksanakan seluruh ibadah dalam Islam.

    2   Baligh dan berakal. Oleh sebab itu, ibadah tidak diwajibkan bagi anak kecil dan orang gila, karena mereka belum cakap untuk bertindak hukum. Apabila orang gila melaksanakan haji atau umrah maka haji dan umrahnya itu tidak sah. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: "Diangkatkan pembebanan hukum dari tiga (orang), yaitu dari orang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia bermimpi, dan dari orang gila sampai ia sembul (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmizi). Ulama Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i, dan Mazhab Hanbali berpendapat bahwa jika anak kecil melaksanakan ibadah haji, maka hajinya sah, tetapi ia tetap berkewajiban mengulangi ibadah hajinya setelah dewasa. Pahala haji anak kecil itu dilimpahkan kepada orang tuanya yang juga haji. Hal ini sejalan denqan sabda Rasulullah SAW dari *Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam an-Nasa'i. Dalam hadis itu diceritakan bahwa seorang wanita melaksanakan ibadah haji dan ia didampingi anaknya yang belum dewasa. Ketika wanita ini bertemu Rasulullah SAW wanita itu bertanya: " Apakah anak ini boleh melaksanakan ibadah haji?" Rasulullah SAW menjawab: "Boleh, dan pahalanya bagimu." Akan tetapi, menurut ulama Mazhab Hanafi, haji anak kecil itu tidak sah sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah dan Imam at-Tirmizi di atas. Di samping itu, mereka juga menganalogikan haji anak kecil ini dengan *nazar mereka. Menurut ularna Mazhab Hanafi, nazar anak kecil tidak wajib dipenuhi, demikian juga dengan hajinya juga tidak sah, karena anak kecil belum cakap dibebani hukum.

    3   Merdeka, karenanya hamba sahaya (*budak) tidak wajib melaksanakan ibadah haji, karena haji memerlukan waktu yang panjang. Jika mereka mengerjakan haji, maka kepentingan tuannya akan terabaikan.

    4   Memiliki kemampuan fisik, harta dan dalam keadaan amman, yaitu mempunyai kemampuan untuk sampai ke Mekah dalam keadaan aman. Hal ini didasarkan kepada firman Allah swt dalam surah Ali'Imran (3) ayat 97 di atas. Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat ulama fikih tentang kriteria "kemampuan dalam melaksanakan ibadah haji" tersebut. Menurut ulama Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki, kemampuan itu mempunyai tiga unsur, yaitu kekuatan badan atau fisik, kemampuan harta, dan keamanan di perjalanan dan di Tanah Suci, baik bagi laki-laki maupun bagi wanita. Menurut ularna Mazhab Syafi 'i, kemampuan itu mengandung tujuh unsur, yaitu kekuatan fisik; kemampuan harta, tersedia alat transportasi; tersedianya kebutuhan pokok yang akan dikonsumsi di Tanah Suci; keadaan di perjalanan dan di Tanah Suci dalam keadaan aman; jika yang beribadah haji itu adalah istri, maka harus didampingi suami atau mahram lainnya; dan seluruh kemampuan itu diperhitungkan sejak bulan Syawal sampai berakhirnya amalan-amalan haji. Sedangkan ulama Mazhab Hanbali hanya menafsirkan kemampuan itu dalam dua hal, yaitu kemampuan di bidang harta dan keamanan di perjalanan dan di Tanah Suci. Ulama Mazhab Hanbali tidak memberikan penafsiran yang luas terhadap pengertian kemampuan tersebut, karena mereka mengikatkan diri dengan pengertian kemampuan yang dikemukakan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis Rasulullah SAW diceritakan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pengertian "kemampuan untuk melaksanakan haji" tersebut. Rasulullah SAW menjawab: "Kelebihan harta dan keamanan perjalanan " (HR. ad-Daruqutni dari Jabir bin Abdullah, hadis yang sama juga diriwayatkan at-Tirmizi dari Umar).

    Menurut ulama fikih, syarat-syarat khusus dalam melaksanakan haji bagi wanita adalah sebagai berikut:

    1   Harus didampingi suami atau mahramnya. mereka tidak mempunyai suami atau mahram, maka haji tidak wajib bagi mereka. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah SAW: "Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan yang memakan waktu tiga hari, kecuali didampingi mahramnya" (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad bin Hanbal dari ibnu Umar). Dalam hadis lain Rasulullah SAW berbda: "Istri tidak boleh melaksanakan ibadah haji kecuali didampingi suami" (HR. ad-Daruqutni). Ulama Mazhab Syafi'i menyatakan bahwa jika ada beberapa wanita yang dapat dipercaya mendampingi wanita yang tidak mempunyai suami atau mahramnya naik haji, maka wanita yang tidak punya suami atau mahram ini wajib melaksanakan ibadah haji. Menurut ulama Mazhab Maliki, di samping dalam keadaan yang dikemukakan ulama Mazhab Syafi'i di atas, diwajibkan juga bagi wanita tersebut untuk melaksanakan ibadah haji apabila ada pendamping yang menjamin keamanannya. Alasan ulama Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi'i adalah firman Allah SWT dalam surah Ali'Imran (3) ayat 97 di atas.Menurut mereka, yang dipentingkan oleh ayat ini adalah keamanan bagi orang-orang yang akan melaksanakan ibadah haji. Apabila keamanan wanita ini terjamin, maka dia wajib melaksanakan ibadah haji.

    2   Wanita itu bukan wanita yang dalam keadaan menjalani masa *idah, baik idah karena *talak maupun idah karena kematian suami. Syarat ini didasarkan atas firman Allah SWT dalam surah at- Talaq (65) ayat 1 yang artinya: "...Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka diizinkan) keluar..." Akan tetapi, ulama Mazhab Hanbali membolehkan wanita yang dalam menjalani idah talak untuk melaksanakan ibadah haji, tetapi melarang wanita yang kematian suami untuk melaksanakan ibadah haji. Pembedaan ini meka lakukan karena bagi wanita yang sedang mennjalani idah wafat, wajib untuk tetap berada di rumah mereka, sebagai penghormatan terhadap suami mereka yang baru meninggal. Sedangkan bagi wanita yang ditalak tidak demikian. Wanita yang ditalak suaminya, menurut mereka, tidak harus senantiasa di rumah, tetapi mereka dibolehkan bepergian, khususnya dalam rangka menunaikan berbagai kewajibannya. Oleh sebab itu, apabila wanita yang dita1ak ini telah memenuhi syarat-syarat untuk melaksanakan ibadah haji, maka wajib bagi mereka untuk melaksanakan ibadah haji, sebagaimana yang berlaku pada wanita yang tidak beridah.

    http://www.mualaf.com/islam-is-not-the-enemy/pemurtadan/19-hikmah-dan-kajian/45-ibadah-haji-a-umroh?tmpl=component&print=1&page=

    5zul

    • *
    • Posts: 3023
    • ~~ Tiada Kesusahan Melainkan Susah ~~
      • View Profile
    Reply #2 09 July, 2012, 02:45:01 PM
  • Publish

  • Adakah benar seseorang itu masih di dalam ihram (ibadah umrah ziarah) walaupun telah pulang ke Malaysia? Sekiranya dia telah bertahallul, bagaimana pula jika tidak tahu telah terbatal dan tidak tahu kerana jahil?

    Tidak tahu bukanlah alasan melepaskan diri daripada tanggungjawab syarak. Semua kita wajib belajar ilmu yang berkaitan dengan syariat.

    Contohnya, bila hendak solat kita seharusnya menuntut ilmu berkaitan solat, termasuk syarat-syarat sah solat, rukun-rukun solat serta segala bacaan yang berkaitan dengannya.
    Begitu juga ibadat haji dan umrah, sebelum pergi seharusnya ilmu berkaitan haji dan umrah dipelajari sebanyak yang mungkin. Namun dalam keadaan seseorang itu benar-benar jahil maka dia seharusnya bertaubat atas kejahilannya dan mengulangi ibadatnya.

    Seseorang yang menunaikan umrah sedangkan dia jahil mengenainya hendaklah mengulangi umrahnya apabila telah cukup belanja. Perkara yang kurang pasti dalam soalan ini apakah yang dilakukan oleh orang itu sehingga tawafnya terbatal?

    Jika perkara ini berlaku tanpa ilmu yang cukup saya fikir Allah SWT Maha Mengetahui dan sedia menerima taubat hambanya.

    Seperkara lagi yang perlu kita ketahui, agama Allah SWT tidak menzalimi penganutnya, malah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya manusia dapat laksanakan ibadat dengan penuh kepatuhan bukan dengan penuh paksaan tanpa ilmu pengetahuan

    Jika telah bertahallul sebelum kembali ke tanah air maka dia dikira telah keluar daripada ihram. Lalu kembali ke tanah air dalam keadaan dia yakin bahawa dia telah sempurnakan ibadah umrah maka atas dasar itu telah menikahkan anaknya.

    Nikah yang dilakukan itu sah mengikut perhitungan si ayah yang yakin umrahnya selesai. Melainkan si ayah sedar umrahnya tidak selesai lalu menikahkan anaknya, ketika itu jelas bahawa nikah itu tidak sah.
    Pendapat yang lain mengatakan apabila seseorang itu kembali ke tanah air masing-masing dia dikira tidak lagi berada dalam ihram, biarpun ibadah umrah atau hajinya tidak sempurna. Ihramnya terbatal dengan sendiri atas perbuatannya. Maka hendaklah dia mengqada umrahnya pada tahun yang berikut kerana membatalkan umrahnya berserta dam. Selagi tidak mengqada umrah atau hajinya dia dikira masih berhutang dengan Allah SWT.
    ~~ Dalam Kegelapan Malam Ader Sinaran ~~

    al_ahibbatu

    • *
    • Posts: 4856
      • View Profile
    Reply #3 09 July, 2012, 03:15:13 PM
  • Publish
  • Ustaz dah warning awal-awal
    Kalau terkentut, jangan tipu diri sendiri n continue buat tawaf
    Kita kena amik wuduk n baru boleh sambung
    Sebab kalau idak
    Tawaf tu macam x sah la kot
    So, maksudnya kita dalam keadaan ihram sepanjang masa .....................

    TAU takper

    di Mekah, apa kamu niat - itu yang akan kamu dapatkan - subhanallah, terbukti

    jadi lihatlah niat pelaku amal itu

    di permainakan oleh nafsu sendiri

    asal daripada tidak Ikhlas beramal - subhanallah

    silakan ya, dah sampai sana, tahulah apa bicaranya ini, subhanallah

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    32 Replies
    11392 Views
    Last post 30 October, 2009, 07:54:23 AM
    by Ummi Munaliza
    0 Replies
    1050 Views
    Last post 14 December, 2009, 11:34:27 AM
    by Aaron
    2 Replies
    635 Views
    Last post 21 October, 2013, 12:10:15 PM
    by al_ahibbatu