BOLEHKAH BERDUAAN DENGAN TUNANGAN?

Author Topic: BOLEHKAH BERDUAAN DENGAN TUNANGAN?  (Read 3754 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

assiddiq

  • *
  • Posts: 4596
  • "Dengan Kehendak dan KuasaNya"
    • View Profile
24 October, 2009, 10:31:33 PM
  • Publish Di FB
  • BOLEHKAH BERDUAAN DENGAN TUNANGAN?        Dr. Yusuf Qardhawi
     
    PERTANYAAN
     
    Saya mengajukan lamaran  (khitbah)  terhadap  seorang  gadis
    melalui  keluarganya,  lalu  mereka  menerima dan menyetujui
    lamaran saya.  Karena  itu,  saya  mengadakan  pesta  dengan
    mengundang  kerabat  dan  teman-teman.  Kami umumkan lamaran
    itu,  kami  bacakan  al-Fatihah,  dan  kami  mainkan  musik.
    Pertanyaan saya: apakah persetujuan dan pengumuman ini dapat
    dipandang sebagai perkawinan menurut syari'at  yang  berarti
    memperbolehkan  saya  berduaan  dengan  wanita tunangan saya
    itu. Perlu diketahui bahwa dalam kondisi sekarang  ini  saya
    belum  memungkinkan  untuk  melaksanakan  akad  nikah secara
    resmi dan terdaftar pada kantor urusan nikah (KUA).
     
    JAWABAN
     
    Khitbah (meminang,  melamar,  bertunangan)  menurut  bahasa,
    adat,  dan  syara,  bukanlah  perkawinan. Ia hanya merupakan
    mukadimah (pendahuluan) bagi  perkawinan  dan  pengantar  ke
    sana.
     
    Seluruh  kitab  kamus  membedakan antara kata-kata "khitbah"
    (melamar)  dan  "zawaj"   (kawin);   adat   kebiasaan   juga
    membedakan  antara  lelaki yang sudah meminang (bertunangan)
    dengan yang sudah  kawin;  dan  syari'at  membedakan  secara
    jelas  antara  kedua  istilah  tersebut. Karena itu, khitbah
    tidak lebih dari sekadar mengumumkan keinginan  untuk  kawin
    dengan   wanita   tertentu,   sedangkan  zawaj  (perkawinan)
    merupakan aqad yang mengikat dan perjanjian yang  kuat  yang
    mempunyai    batas-batas,    syarat-syarat,   hak-hak,   dan
    akibat-akibat tertentu.
     
    Al Qur'an telah mengungkapkan kedua perkara tersebut,  yaitu
    ketika membicarakan wanita yang kematian suami:
     
    "Dan  tidak  ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang
    suaminya telah meninggal dan masih dalam 'iddah) itu  dengan
    sindiran   atau  kamu  menyembunyikan  (keinginan  mengawini
    mereka) dalam  hatimu.  Allah  mengetahui  bahwa  kamu  akan
    menyebut-nyebut   mereka,  dalam  pada  itu  janganlah  kamu
    mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali
    sekadar  mengucapkan  (kepada  mereka) perkataan yang ma'ruf
    (sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber'azam  (bertetap
    hati)  untuk  beraqad  nikah  sebelum  habis 'iddahnya." (Al
    Baqarah: 235)
     
    Khitbah, meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara,  hal
    itu  tak  lebih  hanya  untuk  menguatkan dan memantapkannya
    saja. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak  akan  dapat
    memberikan  hak  apa-apa  kepada si peminang melainkan hanya
    dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana
    disebutkan dalam hadits:
     
    "Tidak  boleh  salah seorang diantara kamu meminang pinangan
    saudaranya." (Muttafaq 'alaih)
     
    Karena itu, yang penting  dan  harus  diperhatikan  di  sini
    bahwa   wanita   yang  telah  dipinang  atau  dilamar  tetap
    merupakan  orang  asing  (bukan  mahram)  bagi  si   pelamar
    sehingga  terselenggara  perkawinan  (akad nikah) dengannya.
    Tidak boleh si wanita diajak hidup  serumah  (rumah  tangga)
    kecuali  setelah  dilaksanakan akad nikah yang benar menurut
    syara', dan rukun asasi dalam akad ini ialah ijab dan kabul.
    Ijab  dan  kabul adalah lafal-lafal (ucapan-ucapan) tertentu
    yang sudah dikenal dalam adat dan syara'.
     
    Selama akad nikah -  dengan  ijab  dan  kabul  -  ini  belum
    terlaksana,  maka  perkawinan  itu  belum terwujud dan belum
    terjadi, baik menurut adat,  syara',  maupun  undang-undang.
    Wanita   tunangannya  tetap  sebagai  orang  asing  bagi  si
    peminang  (pelamar)  yang  tidak  halal  bagi  mereka  untuk
    berduaan dan bepergian berduaan tanpa disertai salah seorang
    mahramnya seperti ayahnya atau saudara laki-lakinya.
     
    Menurut ketetapan syara, yang  sudah  dikenal  bahwa  lelaki
    yang  telah  mengawini  seorang  wanita  lantas meninggalkan
    (menceraikan) isterinya itu sebelum ia  mencampurinya,  maka
    ia berkewaiiban memberi mahar kepada isterinya separo harga.
     
    Allah berfirman:
     
    "Jika  kamu  menceraikan  isteri-isteri  kamu  sebelum  kamu
    mencampuri   mereka,   padahal   sesungguhnya   kamu   telah
    menentukan  maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang
    telah kamu tentukan itu, kecuali  jika  isteri-isterimu  itu
    memaafkan  atau  dimaafkan  oleh  orang yang memegang ikatan
    nikah ..." (Al Baqarah: 237)
     
    Adapun  jika  peminang  meninggalkan  (menceraikan)   wanita
    pinangannya  setelah  dipinangnya,  baik selang waktunya itu
    panjang maupun pendek, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa
    kecuali  hukuman  moral  dan  adat  yang  berupa  celaan dan
    cacian. Kalau demikian keadaannya, mana mungkin si  peminang
    akan   diperbolehkan  berbuat  terhadap  wanita  pinangannya
    sebagaimana  yang  diperbolehkan  bagi  orang   yang   telah
    melakukan akad nikah.
     
    Karena  itu,  nasihat saya kepada saudara penanya, hendaklah
    segera melaksanakan akad  nikah  dengan  wanita  tunangannya
    itu.  Jika  itu  sudah dilakukan, maka semua yang ditanyakan
    tadi diperbolehkanlah. Dan jika kondisi belum  memungkinkan,
    maka  sudah  selayaknya  ia menjaga hatinya dengan berpegang
    teguh  pada  agama  dan  ketegarannya   sebagai   laki-laki,
    mengekang   nafsunya   dan  mengendalikannya  dengan  takwa.
    Sungguh tidak baik memulai sesuatu  dengan  melampaui  batas
    yang halal dan melakukan yang haram.
     
    Saya  nasihatkan  pula  kepada para bapak dan para wali agar
    mewaspadai anak-anak perempuannya, jangan gegabah membiarkan
    mereka  yang  sudah  bertunangan.  Sebab,  zaman  itu selalu
    berubah dan, begitu pula hati manusia.  Sikap  gegabah  pada
    awal  suatu  perkara dapat menimbulkan akibat yang pahit dan
    getir. Sebab itu, berhenti pada batas-batas Allah  merupakan
    tindakan lebih tepat dan lebih utama.
     
    "...  Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah
    orang-orang yang zhalim." (Al Baqarah: 229)
     
    "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta
    takut  kepada  Allah  dan  bertakwa  kepada-Nya, maka mereka
    adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (An Nur: 52)
     
    -----------------------
    Fatwa-fatwa Kontemporer
    Dr. Yusuf Qardhawi

    http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Berduaan.html
    "Al-haqqu bila nizom yaghlibuhul-baatil binnizom"
    Maksudnya: "Sesuatu kebenaran yang tidak sistematik akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematik dan terancang."
    http://Http://cahayarabbani.blogspot.com
    http://Http://islamicmoviecollection.blogspot.com
    assiddiq@ymail.com

    Riot_heroes

    • *
    • Posts: 595
    • IMMORTALITY
      • View Profile
    Jawab #1 24 October, 2009, 11:47:08 PM
  • Publish Di FB
  • Apa hukumnya kalau kawan kita yang baru mendapat anak lelaki manakala kita baru dapat anak perempuan dan dia berkata "dah besar nanti boleh la kawin dua ni" ataupun "boleh la kita berbesan nanti. Adakah itu telah dikira perjanjian (pertunangan).
    You'll Never Walk Alone

     Akaun Akhirat Anda No: CIMB 01180004462058 Halaqah Net Services

    alhaudhie

    • *
    • Posts: 2061
      • View Profile
    Jawab #2 25 October, 2009, 07:31:34 AM
  • Publish Di FB
  • Ustaz Azhar - Cemburu Pada Tunang


    [ HUKUM BERKHALWAT DENGAN TUNANG... (KHATIB-TUNANG LELAKI, MAKHTUBAH-TUNANG WANITA) ]
     

    HARAM BERKHALWAT / DUDUK DITEMPAT SUNYI(menimbulkan fitnah) BERSAMA DENGAN TUNANG???

    Agama Islam mengharamkan "khalwat" ini kerana ianya diharamkan ke atas tunangan ini sehinggalah mereka diakad(ijab dan qabul) dan dinikahkan. Maka lepas akad (ijab dan qabul), maka haruslah bagi pasangan laki dan wanita ini untuk berdua-duaan tanpa menimbulkan fitnah lagi. Dan hikmah, faedah dan kelebihan "haram khalwat" ini ialah untuk mencegah terjadinya maksiat. Sabda Rasulallah saw yang bermaksud: " Tidak halal bagi seseorang lelaki berkhalwat dengan seseorang wanita yang tidak halal buatnya kecuali ditemani mahram (mahram-orang yang diharamkan nikah / kahwin dengannya. Maka orang atau pihak ketiga yang ada bersama-sama ketika mereka berdua berkhalwat itu adalah syaitan". (sila rujuk buku Fiqh As-Sunnah oleh Syed Sabiq).

    Dr.Yusof Al Qardawi (Fatawa Muasoroh) berkata:
    [" selama mana akad kahwin (ijab dan qabul) belum ditunaikan oleh tunang laki dan tunang wanita (belum sah nikah / kahwin mereka mengikut 'uruf -adat, syarak dan undang-undang), maka keadaan masih seperti hukum asal. Iaitu:-

    1. Tidak halal dan haram bagi makhtubah (tunang wanita) untuk berkhalwat(berdua-duaan sehingga menimbulkan fitnah) dengan khatibnya (tunang lelaki) KECUALI bersama-sama mahtubah (tunang wanita) itu ada salah seorang mahramnya seperti ayahnya atau abangnya.

    2. Tidak halal dan haram bagi makhtubah (tunang wanita) untuk bermusafir atau melancong  dengan khatibnya (tunang lelaki) KECUALI bersama-sama mahtubah (tunang wanita) itu ada salah seorang mahramnya seperti ayahnya atau abangnya.]

    *** mahram = mahram-orang yang diharamkan nikah /kahwin dengannya (dengan wanita itu)
    ***  'uruf =  adat yang masyhur dipegang di sesuatu tempat.
     
    ISLAM untuk semua

    - Pentadbiran
    - Pondok Tahfiz

    assiddiq

    • *
    • Posts: 4596
    • "Dengan Kehendak dan KuasaNya"
      • View Profile
    Jawab #3 25 October, 2009, 07:41:56 AM
  • Publish Di FB
  • Apa hukumnya kalau kawan kita yang baru mendapat anak lelaki manakala kita baru dapat anak perempuan dan dia berkata "dah besar nanti boleh la kawin dua ni" ataupun "boleh la kita berbesan nanti. Adakah itu telah dikira perjanjian (pertunangan).
    Tidak dikira telah bertunang.

    mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #4 25 October, 2009, 08:07:03 AM
  • Publish Di FB
  • Apa hukumnya kalau kawan kita yang baru mendapat anak lelaki manakala kita baru dapat anak perempuan dan dia berkata "dah besar nanti boleh la kawin dua ni" ataupun "boleh la kita berbesan nanti. Adakah itu telah dikira perjanjian (pertunangan).

    Tidak dikira bertunang...ini dikarenakan bertunang adalah ketika seorang lelaki yang mengucapkan hasratnya untuk menikahi seorang wanita atau yang disamakan dengan context di atas seperti ada yang menawarkan anak gadisnya, lalu si lelaki mengatakan ok...baru khitbah....

    Kalau contoh yang anta beri adalah antara besan dengan besan...ini bukan khitbah...sebab hasrat utk menikah haruslah dari si calon suami, dan Istri tinggal keputusan ayah atau calon istri kalau memang direstui si bapak (Syafi'i)... kalau Hanafi harus calon suami dan istri yang bersepakat utk menikah...

    Buka al-Fiqh al-Islami, al-Mausu'ah fi al-Ahwal al-Syakhsiyyah.

    ليس الفتى يقول هو أبي لكن الفتى يقول هذا أنا

    Reading to live - Flaubert ..... Say No to Intellectual Barbarism!
    ---Raden Kiai Mooksy---

    mualli

    • *
    • Posts: 462
    • PERANGI MAKSIATTTT!!!!!ayuhhhh...
      • View Profile
    Jawab #5 25 October, 2009, 11:37:45 AM
  • Publish Di FB
  • Penjelasan yg lengkap harap semua pemuda- pemudi sekarang memahami
    sangat batas2 pergaulan semasa bertunang...

    Perkara yg elok..jgnlah dicemari ngan maksiat pulak
    Barulah...Barakah....
    Berjihad Fisabilillah...
    Paksalah diri untuk melakukan ibadat...baguss gabuss
    Berilmu...Beramal...kerana ALLAH!
    PERANGI MAKSIATTTT!!!!!ayuhhhh...
    http://jomperahotakk.blogspot.com/
    http://imageshack.us/

    imansyauqina

    • *
    • Posts: 22
      • View Profile
    Jawab #6 25 October, 2009, 11:42:38 AM
  • Publish Di FB
  • salam.. betul tu.. pertunangan bukanlah tiket utk lakukan apa saja.. masih org asing yang belum tentu esok dia akan menjadi suami kita... at least be ware sblm terjadi apa2...

    shukri5573

    • *
    • Posts: 45
      • View Profile
    Jawab #7 25 October, 2009, 03:59:33 PM
  • Publish Di FB
  • Salam... Minta kepastian dari kalangan saudara saudari sekalian.. Adapun pasangan yang bertunang itu adalah orang asing bagi kedua-dua pihak.. Boleh x pihak lelaki ataupun perempuan menyimpan gambar pasangan masing -masing dalam tempoh pertunangan?

    khalila

    • *
    • Posts: 1032
      • View Profile
    Jawab #8 25 October, 2009, 04:20:34 PM
  • Publish Di FB
  • jangan sampai rindu2 sangat sebab nanti dikhuatiri berlakunya zina hati.

    yoshitsune

    • *
    • Posts: 110
      • View Profile
    Jawab #9 25 October, 2009, 06:41:49 PM
  • Publish Di FB
  • jadi maknanya, memang tak boleh rindu atau boleh? kalau ada perasaaan rindu nanti da jatuh hukum zina hati..gimana tu? better jangan sampai jatuh tahap rindu je...errr, betul ke?

    habib abqari

    • *
    • Posts: 49
      • View Profile
    Jawab #10 25 October, 2009, 07:27:58 PM
  • Publish Di FB
  • rasanya bertunang tu cam adat je kan..klu x bertunang pun x slh.so, klu nk jgk bertunang..seeloknya cpt2 lah bernikah sbbnya bl dh bertunang ni mula la si dia tu cam dh jadi hak milik sndri..walhal bertunang tu sm je cam "couple", cuma dlm konteks yang sedikit berbeza, iaitu ikatan antra pmpuan n lelaki tu dh dipersetujui oleh kdua-dua keluarga etc la...wallahuallam....

    mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #11 25 October, 2009, 08:39:27 PM
  • Publish Di FB
  • rasanya bertunang tu cam adat je kan..klu x bertunang pun x slh.so, klu nk jgk bertunang..seeloknya cpt2 lah bernikah sbbnya bl dh bertunang ni mula la si dia tu cam dh jadi hak milik sndri..walhal bertunang tu sm je cam "couple", cuma dlm konteks yang sedikit berbeza, iaitu ikatan antra pmpuan n lelaki tu dh dipersetujui oleh kdua-dua keluarga etc la...wallahuallam....

    Tunang bukan murni adat...tapi ia juga ditetapkan dalam syariat...ada hadis lagi...berikut ungakapan Syaikh Wahbah al-Zuhayli:

    ذكر ابن رشد(1) أربع مقدمات للزواج هي حكم الزواج شرعا، وحكم خطبة العقد، والخطبة على الخطبة، والنظر إلى المخطوبة قبل التزويج، وسأبحث الأمرين الأولين في بحث تكوين الزواج، وأما الأمران الآخران فمحل بحثهما هنا.
    والسبب في عناية الشرع بهذه المقدمات: هوا لحرص على إقامة الزواج على أمتن الأسس، وأقوى المبادئ، لتتحقق الغاية الطيبة منه، وهي الدوام والبقاء، وسعادة الأسرة، والاستقرار ومنع التصدع الداخلي، وحماية هذه الرابطة من النزاع والخلاف، لينشأ الأولاد في جو من الحب والألفة والود والسكينة واطمئنان

    ثانيا- معنى الخطبة:
    الخطبة: هي إظهار الرغبة في الزواج بامرأة معينة، وإعلام المرأة وليها بذلك. وقد يتم هذا الإعلام مباشرة من الخاطب، أو بواسطة أهله.
    فإن وافقت المخطوبة أو أهلها، فقد تمت الخطبة لمجنهما، وترتبت عليها أحكامها وآثارها الشرعية التي سأذكرها.
    ثالثا- حكمة الخطبة:
    الخطبة كغيرها من مقدمات الزواج. طريق لتعرف كل من الخاطبين على الآخر، إذ أنها السبيل إلى دراسة أخلاق الطرفين وطبائعهما وميولهما، ولكن بالقدر المسموح به شرعا، وهو كاف جدا، فإذا وجد التلاقي والتجاوب أمكن الإقدام على الزواج الذي هو رابطة دائمة في الحياة، واطمأن الطرفان إلى أنه يمكن التعايش بينهما بسلام وأمان، وسعادة ووئام، وطمأنينة وحب، وهي غايات يحرص عليها كل الشبان والشابات والأهل من ورائهم.

    إلى أن قال

    يترتب على الخطبة أيضا حرمة التقدم لخطبة المرأة ممن كان يعلم بتمام خطبتها لغيره، فقد أجمع العلماء على تحريم الخطبة الثانية على الخطبة الأولى إذا كان قد تم التصريح با لإجابة، ولم يأذن الخاطب الأول، ولم يترك الخطبة، فإن خطب الثاني وتزوج والحال هذه فقد عصى، باتفاق العلماء؛ لقوله (ص): "لا يبع أحدكم على بيع أخيه(2)، ولا يخطب على خطبة أخيه، إلا أن يأذن له"(3)، وفي رواية البخاري: "نهى أن يبيع الرجل على بيع أخيه، وأن يخطب الرجل على خطبة أخيه حتى يترك الخاطب قبله، أو يأذن له الخاطب"(4).
    هذا النهي صريح في تحريم الخطبة الثانية بعد تمام الموافقة على الخطبة الأولى لخطيب آخر، لما فيها من إيذاء الخاطب الأول، وتوريث عداوته، وزرع الضغينة في نفسه، فإن عدل أحد الطرفين أو أذن لغيره بالتقدم للخطبة، جاز ذلك.

    Yang saya garis adalah hadis ttg tunang...so dalam Islam khitbah atau tunang itu ada,...hanya saja banyak orang salah gunakan....

    Riot_heroes

    • *
    • Posts: 595
    • IMMORTALITY
      • View Profile
    Jawab #12 25 October, 2009, 08:45:25 PM
  • Publish Di FB
  • Apa hukumnya kalau kawan kita yang baru mendapat anak lelaki manakala kita baru dapat anak perempuan dan dia berkata "dah besar nanti boleh la kawin dua ni" ataupun "boleh la kita berbesan nanti. Adakah itu telah dikira perjanjian (pertunangan).
    Tidak dikira telah bertunang.

    Jazakallah

    Riot_heroes

    • *
    • Posts: 595
    • IMMORTALITY
      • View Profile
    Jawab #13 25 October, 2009, 08:45:53 PM
  • Publish Di FB
  • Apa hukumnya kalau kawan kita yang baru mendapat anak lelaki manakala kita baru dapat anak perempuan dan dia berkata "dah besar nanti boleh la kawin dua ni" ataupun "boleh la kita berbesan nanti. Adakah itu telah dikira perjanjian (pertunangan).

    Tidak dikira bertunang...ini dikarenakan bertunang adalah ketika seorang lelaki yang mengucapkan hasratnya untuk menikahi seorang wanita atau yang disamakan dengan context di atas seperti ada yang menawarkan anak gadisnya, lalu si lelaki mengatakan ok...baru khitbah....

    Kalau contoh yang anta beri adalah antara besan dengan besan...ini bukan khitbah...sebab hasrat utk menikah haruslah dari si calon suami, dan Istri tinggal keputusan ayah atau calon istri kalau memang direstui si bapak (Syafi'i)... kalau Hanafi harus calon suami dan istri yang bersepakat utk menikah...

    Buka al-Fiqh al-Islami, al-Mausu'ah fi al-Ahwal al-Syakhsiyyah.
    Jazakallah

    habib abqari

    • *
    • Posts: 49
      • View Profile
    Jawab #14 25 October, 2009, 10:04:51 PM
  • Publish Di FB
  • "Yang saya garis adalah hadis ttg tunang...so dalam Islam khitbah atau tunang itu ada,...hanya saja banyak orang salah gunakan...."..blh tak terangkan pe yg org skrg dh salah gunakan skarg psl konsep pertunangan ni, n jelaskan dengan lebih terperinci tentang hadis yang mengatakan tentang pertunangan ni.


    syazana hamizah

    • *
    • Posts: 52
    • kehidupan abadi adalah di akhirat
      • View Profile
    Jawab #15 25 October, 2009, 10:43:20 PM
  • Publish Di FB
  • Tunang bukan murni adat...tapi ia juga ditetapkan dalam syariat...ada hadis lagi...berikut ungakapan Syaikh Wahbah al-Zuhayli:

    ذكر ابن رشد(1) أربع مقدمات للزواج هي حكم الزواج شرعا، وحكم خطبة العقد، والخطبة على الخطبة، والنظر إلى المخطوبة قبل التزويج، وسأبحث الأمرين الأولين في بحث تكوين الزواج، وأما الأمران الآخران فمحل بحثهما هنا.
    والسبب في عناية الشرع بهذه المقدمات: هوا لحرص على إقامة الزواج على أمتن الأسس، وأقوى المبادئ، لتتحقق الغاية الطيبة منه، وهي الدوام والبقاء، وسعادة الأسرة، والاستقرار ومنع التصدع الداخلي، وحماية هذه الرابطة من النزاع والخلاف، لينشأ الأولاد في جو من الحب والألفة والود والسكينة واطمئنان

    ثانيا- معنى الخطبة:
    الخطبة: هي إظهار الرغبة في الزواج بامرأة معينة، وإعلام المرأة وليها بذلك. وقد يتم هذا الإعلام مباشرة من الخاطب، أو بواسطة أهله.
    فإن وافقت المخطوبة أو أهلها، فقد تمت الخطبة لمجنهما، وترتبت عليها أحكامها وآثارها الشرعية التي سأذكرها.
    ثالثا- حكمة الخطبة:
    الخطبة كغيرها من مقدمات الزواج. طريق لتعرف كل من الخاطبين على الآخر، إذ أنها السبيل إلى دراسة أخلاق الطرفين وطبائعهما وميولهما، ولكن بالقدر المسموح به شرعا، وهو كاف جدا، فإذا وجد التلاقي والتجاوب أمكن الإقدام على الزواج الذي هو رابطة دائمة في الحياة، واطمأن الطرفان إلى أنه يمكن التعايش بينهما بسلام وأمان، وسعادة ووئام، وطمأنينة وحب، وهي غايات يحرص عليها كل الشبان والشابات والأهل من ورائهم.

    إلى أن قال

    يترتب على الخطبة أيضا حرمة التقدم لخطبة المرأة ممن كان يعلم بتمام خطبتها لغيره، فقد أجمع العلماء على تحريم الخطبة الثانية على الخطبة الأولى إذا كان قد تم التصريح با لإجابة، ولم يأذن الخاطب الأول، ولم يترك الخطبة، فإن خطب الثاني وتزوج والحال هذه فقد عصى، باتفاق العلماء؛ لقوله (ص): "لا يبع أحدكم على بيع أخيه(2)، ولا يخطب على خطبة أخيه، إلا أن يأذن له"(3)، وفي رواية البخاري: "نهى أن يبيع الرجل على بيع أخيه، وأن يخطب الرجل على خطبة أخيه حتى يترك الخاطب قبله، أو يأذن له الخاطب"(4).
    هذا النهي صريح في تحريم الخطبة الثانية بعد تمام الموافقة على الخطبة الأولى لخطيب آخر، لما فيها من إيذاء الخاطب الأول، وتوريث عداوته، وزرع الضغينة في نفسه، فإن عدل أحد الطرفين أو أذن لغيره بالتقدم للخطبة، جاز ذلك.

    Yang saya garis adalah hadis ttg tunang...so dalam Islam khitbah atau tunang itu ada,...hanya saja banyak orang salah gunakan....

    bole tolng jelas kan yang bergaris itu?
    « Last Edit: 26 October, 2009, 12:41:51 AM by Ummi Munaliza »

    mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #16 26 October, 2009, 12:24:19 AM
  • Publish Di FB

  • Tunang bukan murni adat...tapi ia juga ditetapkan dalam syariat...ada hadis lagi...berikut ungakapan Syaikh Wahbah al-Zuhayli:

    ذكر ابن رشد(1) أربع مقدمات للزواج هي حكم الزواج شرعا، وحكم خطبة العقد، والخطبة على الخطبة، والنظر إلى المخطوبة قبل التزويج، وسأبحث الأمرين الأولين في بحث تكوين الزواج، وأما الأمران الآخران فمحل بحثهما هنا.
    والسبب في عناية الشرع بهذه المقدمات: هوا لحرص على إقامة الزواج على أمتن الأسس، وأقوى المبادئ، لتتحقق الغاية الطيبة منه، وهي الدوام والبقاء، وسعادة الأسرة، والاستقرار ومنع التصدع الداخلي، وحماية هذه الرابطة من النزاع والخلاف، لينشأ الأولاد في جو من الحب والألفة والود والسكينة واطمئنان

    ثانيا- معنى الخطبة:
    الخطبة: هي إظهار الرغبة في الزواج بامرأة معينة، وإعلام المرأة وليها بذلك. وقد يتم هذا الإعلام مباشرة من الخاطب، أو بواسطة أهله.
    فإن وافقت المخطوبة أو أهلها، فقد تمت الخطبة لمجنهما، وترتبت عليها أحكامها وآثارها الشرعية التي سأذكرها.
    ثالثا- حكمة الخطبة:
    الخطبة كغيرها من مقدمات الزواج. طريق لتعرف كل من الخاطبين على الآخر، إذ أنها السبيل إلى دراسة أخلاق الطرفين وطبائعهما وميولهما، ولكن بالقدر المسموح به شرعا، وهو كاف جدا، فإذا وجد التلاقي والتجاوب أمكن الإقدام على الزواج الذي هو رابطة دائمة في الحياة، واطمأن الطرفان إلى أنه يمكن التعايش بينهما بسلام وأمان، وسعادة ووئام، وطمأنينة وحب، وهي غايات يحرص عليها كل الشبان والشابات والأهل من ورائهم.

    إلى أن قال

    يترتب على الخطبة أيضا حرمة التقدم لخطبة المرأة ممن كان يعلم بتمام خطبتها لغيره، فقد أجمع العلماء على تحريم الخطبة الثانية على الخطبة الأولى إذا كان قد تم التصريح با لإجابة، ولم يأذن الخاطب الأول، ولم يترك الخطبة، فإن خطب الثاني وتزوج والحال هذه فقد عصى، باتفاق العلماء؛ لقوله (ص): "لا يبع أحدكم على بيع أخيه(2)، ولا يخطب على خطبة أخيه، إلا أن يأذن له"(3)، وفي رواية البخاري: "نهى أن يبيع الرجل على بيع أخيه، وأن يخطب الرجل على خطبة أخيه حتى يترك الخاطب قبله، أو يأذن له الخاطب"(4).
    هذا النهي صريح في تحريم الخطبة الثانية بعد تمام الموافقة على الخطبة الأولى لخطيب آخر، لما فيها من إيذاء الخاطب الأول، وتوريث عداوته، وزرع الضغينة في نفسه، فإن عدل أحد الطرفين أو أذن لغيره بالتقدم للخطبة، جاز ذلك.

    Yang saya garis adalah hadis ttg tunang...so dalam Islam khitbah atau tunang itu ada,...hanya saja banyak orang salah gunakan....

    bole tolng jelas kan yang bergaris itu?

    Dalam hadis tu ditetapkan oleh Nabi bahwa kita tidak boleh masuk meminang perempuan yang sudah dipinang orang lain...Para ulama sepakat ini adalah larangan yang memberi hukum haram masuk pinangan orang lain....

    Kesimpulannya, tunang atau dalam bahasa Arab bukan murni adat, tapi juga menjadi bagian dari syariat...oleh karena itu ulama merumuskannya di dalam kitab2 fiqh dengan bab khitbah atau muqaddimah nikah...
    « Last Edit: 26 October, 2009, 12:42:41 AM by Ummi Munaliza »

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    14 Replies
    12747 Views
    Last post 23 September, 2010, 01:27:36 PM
    by ibnushams
    4 Replies
    1556 Views
    Last post 22 July, 2007, 06:57:33 PM
    by mmas_forever1991
    5 Replies
    2290 Views
    Last post 02 November, 2011, 11:59:42 PM
    by zauj nadea