Kisah Orang -orang yang bertaubat

*

Author Topic: Kisah Orang -orang yang bertaubat  (Read 17956 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

Ummi Munaliza

  • *
  • Posts: 14525
  • Anniversary Ke 30
    • View Profile
23 August, 2009, 05:33:23 AM
  • Publish


  • Awan yang Mengikuti Orang Bertaubat

    Diriwayatkan bahwa seorang tukang jagal (penyembelih binatang) terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapat tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil mendapatkannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi aku sangat takut kepada Allah".

    Mendengar jawaban itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar, hatinya gemetar, tenggorokannya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak".

    Dia pulang sambil bertaubat. Ketika berada di jalan ia diserang rasa haus dan nyaris mati. Ia kemudian bertemu dengan seorang yang sholeh dan mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua, sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahwa awan itu untuk orang yang sholeh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal sampai dia tiba di rumahnya. Orang sholeh tadi heran melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya pula di tempat itu. Maka laki-laki sholeh itu berkata, "Janganlah heran terhadap apa yang kau lihat, karena orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ".
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #1 23 August, 2009, 05:34:22 AM
  • Publish

  • Pendeta yang Insaf

    Ibrahim Al Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Allah. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Makkah tanpa kendaraan dan kafilah. Pada suatu waktu, tiba-tiba aku tersesat dan kemudian aku bertemu dengan seorang rahib Nasrani (Pendeta Kristian) ". Ketika dia melihatku dia pun berkata, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?".

    Ibrahim segera menjawab, "Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu". Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehingga rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, "Tidaklah aku ingin memberitahukan padamu bahwa aku telah menderita kelaparan. Karena itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu".

    Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun memohon kepada Allah dengan berkata, "Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau mempermalukan aku di hadapan seteru engkau ini".

    Belum selesai Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minum, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama-sama. Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Setelah tiga hari tanpa makanan dan minuman, dikala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, "Hai rahib Nasrani, berikanlah kepadaku sesuatu makanan yang ada padamu". Rahib itu menghadap kepada Allah, tiba-tiba turun hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu".

    Sambung Ibrahim lagi, tatkala aku melihat yang demikian itu, maka aku pun berkata kepada rahib itu "Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku". Jawab rahib itu, "Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka aku mengenal kemuliaanmu, lalu akupun memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepadaNya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah Allah mempermalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah Syahadah)".

    "Maka gembiralah aku setelah mendengar jawaban rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai di Makkah Al Mukarramah. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tidak kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di Masjidil Haram, tiba-tiba aku mendapatinya sedang bersembahyang di sisi Ka’bah". Setelah rahib itu selesai bersembahyang maka dia pun berkata, "Hai Ibrahim, sesungguhnya sudah dekat perjumpaanku dengan Allah, maka jagalah olehmu persahabatan dan persaudaraanku denganmu".

    Setelah dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafas terakhirnya. Seterusnya Ibrahim menceritakan, "Maka aku merasa amat berduka atas kepergiannya. Aku segera mengurus jenazahnya dan pemakamannya. Ketika tidur aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu elok sekali tubuhnya, dihiasi dengan pakaian sutera yang indah". Melihat hal itu, Ibrahim pun terus bertanya, "Bukankah engkau sahabatku, apakah yang telah dilakukan oleh Allah terhadap engkau?".

    Dia menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampuniNya semua itu karena aku berprasangka baik kepadaNya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan bertetangga dengan engkau di akhirat".

    Begitulah persahabatan diantara dua orang yang berpengetahuan dan beragama sehingga memperoleh hasil yang baik. Walaupun orang tersebut dulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan pengabdiannya kepada Allah, dia ditunjukkan pada agama Islam dan bisa mendalami ajaran-ajarannya".

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #2 23 August, 2009, 05:35:39 AM
  • Publish

  • Taubat Nabi Adam a.s.

    Tahukah saudara semenjak Nabi Adam dikeluarkan dari syurga akibat tipu daya iblis, beliau menangis selama 300 tahun. Nabi Adam tidak mengangkat kepalanya ke langit karena terlanjur malu kepada Allah SWT. Beliau sujud di atas gunung selama seratus tahun. Kemudian menangis lagi sehingga air matanya mengalir di jurang Serantip.

    Dari air mata Nabi Adam itulah Allah menumbuhkan pohon kayu manis dan pohon cengkeh. Beberapa ekor burung telah meminum air mata beliau. Burung itu berkata, "Sedap sekali air ini". Terdengar Nabi Adam oleh kata-kata burung tersebut. Beliau menyangka burung itu sengaja mengejeknya karena perbuatan durhakanya kepada Allah. Hal ini membuat Nabi Adam semakin hebat menangis.

    Akhirnya Allah menyampaikan wahyu kepada Nabi Adam "Hai Adam, sesungguhnya Aku belum pernah menciptakan air minum yang lebih lezat dan lebih hebat dari air mata taubatmu itu".

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #3 23 August, 2009, 05:36:59 AM
  • Publish

  • Allah Maha Pengampun

    Di zaman Nabi Musa ada seorang fasik yang suka melakukan kejahatan. Penduduk negeri tersebut tidak mampu lagi mencegah perbuatannya, lalu mereka berdoa kepada Allah. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mengusir pemuda itu dari negerinya agar penduduknya tidak ditimpa bencana. Lalu keluarlah pemuda tersebut dari kampunganya dan sampai di suatu kawasan yang luas, dimana tidak seekor burung atau manusiapun hidup.

    Selang beberapa hari pemuda itu jatuh sakit. Merintihlah ia seorang diri, lalu berkata: "Wahai Tuhanku, kalaulah ibuku, ayahku dan isteriku berada di sisiku sudah tentu mereka akan menangis melihat waktu akan memisahkan aku dengan mereka (mati). Andaikata anak-anakku ada di sisiku pasti mereka berkata: "Ya Allah, ampunilah ayah kami yang telah banyak melakukan kejahatan sehingga ia diusir dari kampungnya ke tanah lapang yang tidak berpenghuni dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmatMu ya Allah".

    Terakhir kali pemuda itu berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau putuskan aku dari rahmatMu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu",. Setelah berkata demikian, matilah pemuda itu.

    Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, firmannya, "Pergilah kamu ke tanah lapang di sana ada seorang waliKu yang telah meninggal. Mandikan, kafankan dan sembahyangkanlah dia". Setiba di sana Nabi Musa mendapati yang mati itu adalah pemuda yang diusirnya dahulu. Lalu Nabi Musa berkata, "Ya Allah, bukankah dia ini pemuda fasik yang Engkau suruh aku usir dahulu". Allah berfirman, "Benar, Aku kasihan kepadanya karena rintihan sakitnya dan berjauhan dari keluarganya. Apabila seseorang yang tidak mempunyai saudara mati, maka semua penghuni langit dan bumi akan sama menangis karena kasihan kepadanya. Oleh karena itu bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan Aku adalah Dzat Yang Maha Penyayang di antara penyayang".

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #4 23 August, 2009, 05:37:54 AM
  • Publish

  • Iblis Ingin Bertaubat

    Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa sesungguhnya Iblis telah berjumpa dengan Nabi Musa dengan berkata: "Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah SWT dan Dia telah berkata denganmu secara langsung". Kemudian Nabi Musa berkata: "Memang benar apa yang kau katakan, kamu ini siapa dan apa yang kamu inginkan dariku?".

    Lalu berkata Iblis: "Aku adalah Iblis, Wahai Musa aku mau kamu menolongku, katakan kepada Tuhanmu bahwa seorang makhlukNya ingin minta taubat kepadaNya". Lalu Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Iblis, kemudian Allah SWT pun menurunkan wahyu yang kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, katakan padanya bahwa sesungguhnya Aku berkenan menerima permohonannya, tetapi dengan syarat dia (Iblis) harus bersujud di kubur Adam, kalau dia mau bersujud, maka aku akan mengampuni segala dosanya".

    Setelah Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT, maka Nabi Musa pun segera memberitahukan kepada Iblis tentang apa yang telah Allah perintahkan. Setelah selesai Nabi Musa memberitahukan segala perintah Allah SWT maka dengan sombong dan congkak Iblis berkata: "Wahai Musa, sewaktu Adam hidup di syurga saja aku tidak bersujud, bagaimana aku hendak sujud padanya sesudah dia mati". Begitulah sifat sombong Iblis walaupun dia tahu bahwa api neraka itu akan memakannya tapi dia tetap tidak mau beriman pada Allah SWT.

    Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa sesungguhnya Allah SWT mengeluarkan Iblis dari neraka setiap seratus tahun sekali, dan mengeluarkan Adam dari syurga, serta memerintahkan Iblis supaya sujud kepada Adam. Disebabkan sikap angkuhnya, dia tetap enggan bersujud, maka dikembalikan Iblis ke dalam neraka.
    Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab

    Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin menjumpai pendeta untuk meminta fatwa supaya dia dapat bertaubat dari dosanya. Ketika bertemu dengannya, dia pun menerangkan bahwa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya padanya apakah dia masih mempunyai peluang untuk bertaubat. Pendeta dengan tegas mengatakan dia tidak bisa bertaubat karena dosanya terlalu banyak. Lelaki itu mejadi marah dan langsung membunuh pendeta itu, menjadikannya mangsa yang ke seratus.

    Dia masih ingin bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang bisa membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahwa dia telah membunuh seratus orang dan bertanya apakah Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih mempunyai harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan ‘abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan kemaksiatan.

    Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu pergi menuju negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Baru saja sampai setengah perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia.

    Ketika itu terjadilah perdebatan antara dua malaikat, yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin membawa roh lelaki itu ke syurga karena pendapat dia adalah orang tersebut adalah baik lantaran niatnya untuk bertaubat, sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam keadaan su'ul khatimah karena dia telah membunuh seratus orang dan masih belum mempunyai amal kebajikan sedikitpun. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu.

    Allah kemudian mengantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perdebatan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat, adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang akan dituju atau lebih dekat dengan tempat asalnya yang buruk?. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan tempat kebajikan, dia milik Malaikat Rahmat. Sebaliknya apabila jaraknya lebih dekat dengan tempat asalnya, dia milik Malaikat Azab. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi ukuran sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah.

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #5 23 August, 2009, 05:38:17 AM
  • Publish

  • Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab

    Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin menjumpai pendeta untuk meminta fatwa supaya dia dapat bertaubat dari dosanya. Ketika bertemu dengannya, dia pun menerangkan bahwa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya padanya apakah dia masih mempunyai peluang untuk bertaubat. Pendeta dengan tegas mengatakan dia tidak bisa bertaubat karena dosanya terlalu banyak. Lelaki itu mejadi marah dan langsung membunuh pendeta itu, menjadikannya mangsa yang ke seratus.

    Dia masih ingin bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang bisa membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahwa dia telah membunuh seratus orang dan bertanya apakah Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih mempunyai harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan ‘abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan kemaksiatan.

    Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu pergi menuju negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Baru saja sampai setengah perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia.

    Ketika itu terjadilah perdebatan antara dua malaikat, yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin membawa roh lelaki itu ke syurga karena pendapat dia adalah orang tersebut adalah baik lantaran niatnya untuk bertaubat, sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam keadaan su'ul khatimah karena dia telah membunuh seratus orang dan masih belum mempunyai amal kebajikan sedikitpun. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu.

    Allah kemudian mengantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perdebatan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat, adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang akan dituju atau lebih dekat dengan tempat asalnya yang buruk?. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan tempat kebajikan, dia milik Malaikat Rahmat. Sebaliknya apabila jaraknya lebih dekat dengan tempat asalnya, dia milik Malaikat Azab. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi ukuran sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah.
    « Last Edit: 23 August, 2009, 05:44:53 AM by ummi Munaliza »

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #6 23 August, 2009, 05:39:02 AM
  • Publish

  • Taubatnya Malik bin Dinar

    Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata: "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr (arak), kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya. Ketika dia mulai bisa berjalan, cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

    Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban pada malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur belum shalat isya'. Dalam tidur itu aku bermimpi seakan-akan kiamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku, ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan, ditengah jalan kutemui seorang syeikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya dia pun menjawabnya, dan aku berkata: "Wahai syeikh, tolong lindungilah aku dari ular ini"!. Maka syeikh itu menangis dan berkata padaku: "Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu", maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggil-ku, "Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku kembali. Aku datangi syeikh tadi dan aku katakan, "Wahai syeikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syeikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu"

    Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera. Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena aku menemui ular besar, tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak: "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular). Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu: "Celakalah kamu sekalian! Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya". Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata: "Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia me-lompat bagaikan anak panah yang dilepaskan, kemudian dia mengulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanan-nya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

    Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata: "Wahai ayahku! Ingatlah Firman Allah yang berbunyi "Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka kepada Allah".(QS. Al Hadid: 16).

    Maka aku menangis dan berkata: "Wahai anakku, kalian semua faham tentang Al Quran", maka dia berkata: "Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al Quran darimu", aku berkata: "Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab: "Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka Allah akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", aku berkata: "Ceritakanlah tentang Syeikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab: "Wahai ayahku, itulah amal sholeh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata: "Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa'at kepada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

    Berkata Malik: "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah".

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #7 23 August, 2009, 05:40:17 AM
  • Publish

  • Taubat Tukang Fitnah

    Ada seorang tukang fitnah yang jatuh cinta kepada seorang gadis tetangganya. Suatu hari, keluarga gadis itu mengutusnya ke kampung lain untuk suatu keperluan. Mengetahui hal itu si tukang fitnah pun mengikutinya, lalu melontarkan bujuk rayunya kepada wanita itu.

    Gadis itu berkata, "Jangan kau lakukan ini! Sebenarnya cintaku padamu melebihi cintamu kepada-ku, akan tetapi aku takut kepada Allah SWT”. Laki-laki itu berkata, "Kau takut pada Allah, sementara aku tidak takut kepadaNya?" Akhirnya laki-laki itu pulang dengan perasaan penuh tobat kepada Allah SWT. Dalam per-jalanannya ia didera rasa haus yang mencekik tenggorokannya. Dalam kondisi kritis itu tiba-tiba dia bertemu dengan utusan dari seorang nabi Bani Israil dan ditanya, "Mengapa kau ini?".

    "Haus," jawabnya. Utusan itu berkata, "Ke sinilah, kita berdoa kepada Allah agar awan menaungi kita hingga sampai tujuan". Laki-laki tukang fitnah itu berkata, "Aku tidak mempunyai amal kebajikan". Utusan nabi itu berkata, "Aku yang berdoa dan engkau tinggal mengamini".

    Berdoalah utusan itu dan si tukang fitnah mengaminkannya. Tidak lama kemudian datang awan menaungi mereka hingga mereka tiba di kampung tujuan. Setelah sampai, si tukang fitnah memasuki rumahnya, sedangkan awan itu mengikutinya. Sebelum utusan itu pulang dia berkata, "Engkau telah mengaku tidak mempunyai amal kebajikan, padahal ketika aku berdoa dan engkau mengamin kannya, serta merta awan itu menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar engkau memberitahuku apa sebenarnya yang telah terjadi denganmu". Lalu tukang fitnah menceritakan kisahnya kepada utusan itu. Maka berkatalah utusan nabi itu, "Orang bertobat kepada Allah mendapat kedudukan yang dimana tidak ada seorangpun menyamai kedudukannya".

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14525
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #8 23 August, 2009, 05:41:13 AM
  • Publish

  • Paku di Tiang

    Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan seruan agama. Meskipun telah banyak berbuih ajakan dan nasihat, seruan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain, dia tetap meninggalkannya. Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi rutinitasnya.

    Suatu hari seorang ikhwah tersebut memanggil anaknya dan berkata, "Mat, kau ini sangat lalai dan terlalu banyak berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku ke tiang di tengah halaman rumah kita. Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan tancapkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini". Ayahnya berbuat seperti mana yang dia janjikan, setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang.

    Hari silih berganti, beberapa purnama berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan tersebut, timbullah rasa malu. Maka dia pun beniat untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ia tinggalkan, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

    Maka ayahnya pun memanggil anaknya dan berkata, "Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan aku akan mencabutnya sekarang. Tidakkah kamu gembira?" Mat merenung pada tiang tersebut, dia mulai menangis tersedak-sedak. "Kenapa anakku?" tanya ayahnya, "Aku menyangka kau gembira karena semua paku-paku tadi telah tiada". Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, "Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih lubang-lubang dari paku itu tetap ada ditiang, bersama dengan karatnya".

    Sesuatu yang dimuliakan, dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hingga akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita mungkin bisa mengatasinya atau secara berangsur-angsur kita dapat menghapuskannya, tetapi ingatlah bahwa bekas yang ia tinggalkanya tidak akan hilang. Dari situ, bilamana kita merenungi untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang berniat melakukan kemungkaran, maka berhentilah. Karena setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan bekas lubang pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apa lagi kalau kita biarkan sampai berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.

    lan_ammar

    • *
    • Posts: 178
      • View Profile
    Reply #9 07 September, 2009, 11:04:44 AM
  • Publish
  • Ibrahim Bin Adham merupakan seorang ahli sufi yang bermartabat tinggi. Rata-rata di kalangan ulama menyifatkan almarhum sebagai seoarang wali yang paling dekat dengan Allah s.w.t.  Hidup dan matinya adalah kerana Allah s.w.t, dan sangup melepaskan segalanya-galanya demi untuk beribadah dan beramal kepada Allah s.w.t.

        Ibrahim adalah seorang raja yang lahir di Balkh, sebelum beliau diangkat mertabatnya menjadi seorang wali Allah. Setelah mendapat petunjuk dari Allah s.w.t beliau meniggalkan takhta dan kerajaan untuk menjalani hidup bersendirian yang sempurna sambil mencari nafkah dengan kerja-kerja kasar dan buruh.

        Ibrahim tidak pernah menyesal dengan kehidupan yang dipilihnya, sekalipun sudah berkali-kali dipujuk oleh isteri dan anak-anaknya untuk kembali menjalani kehidupan yang serba mewah menjadi raja di negaranya. Ibrahim meneruskan cara hidup yang sederhana tersebut sehingga ke akhir hayatnya.

        Ibrahim telah menceritakan pada suatu malam, aku bermimpi melihat Jibril turun ke bumi membawa segulung kertas di tanganya, aku bertanya kepadanya, " apakah yang engkau mahu lakukan?"  Jawab Jibril,    " aku mahu mencatat nama sahabat-sahabat Allah,"  aku berkata kepadanya, " catatlah namaku."  aku bermohon kepadanya. Jawab Jibril," engkau bukanlah salah seorang di antara sahabat-sahabat Allah."            " Tetapi aku adalah salah seorang daripada sahabat-sahabat Allah itu,"  aku bermohon dan hampir putus asa. Jibril terdiam beberapa ketika, kemudian dia berkata, " aku telah menerima sebuah perintah supaya nama Ibrahim ditulis di tempat yang teratas kerana di dalam jalan ini harapan masih wujud dari keadaan yang putus asa."        

          Ibrahim menceritakan lagi bagaimana suatu hari beliau telah bertemu dengan seorang yang sedang mabuk khamar ( arak ). Mulutnya berbau busuk. Ibrahim segera mengambil air dan membasuh mulut pemabuk itu sambil berkata kepada dirinya sendiri, " apakah akan kubiarkan mulut yang pernah mengucapkan nama Allah di dalam keadaan kotor, itu bermakna aku tidak memuliakan Allah."  Pemabuk itupun sedar dari pengsannya akibat mabuk yang terlalu kuat, kemudian seseorang telah berkata kepadanya, " pertapa dari Khurasan telah membasuh mulut kau."  Pemabuk itu menjawab, " sejak dari saat ini aku bertaubat tidak akan mengambil lagi minuman yang memabukkan."  Setelah pemabuk itu bertaubat, Ibrahim mendengar di dalam mimpinya sebuah seruan, " engkau telah membasuh sebuah mulut demi Aku dan Aku telah membasuh hatimu."

        Suatu hari Ibrahim duduk di tepi Sungai Tigris menjahit jubahnya yang terkoyak. Jarumnya terjatuh ke dalam sungai. Seseorang telah bertanya kepadanya, " engkau telah meninggalkan sebuah kerajaan yang besar, tetapi apakah yang telah engkau perolehi sebagai balasan?"  Sambil menunjuk ke sungai Tigris, Ibrahim berseru," kembalikan jarumku"  beribu ekor ikan timbul di permukaan air sungai sambil di mulut masing-masing menggigit sebilah jarum emas. Ibrahim berkata kepada ikan-ikan tersebut, " aku mahukan jarumku sendiri."  Kemudian datang seekor ikan yang kecil menghantar jarum kepunyaan Ibrahim di mulutnya. Ibrahim menoleh kepada orang tadi dan berkata, " jarum ini adalah salah satu di antara balasan-balasan yang kuperolehi kerana meninggalkan kerajaan Balkh, sedangkan yang lain-lain belum engkau ketahui."

        Suatu hari Ibrahim pergi ke sebuah telaga untuk bersuci. Timba diturunkannya untuk mencedok air dan apabila ditariknya tali yang mengikat timba tersebut keatas, dilihatnya timba tersebut penuh dengan kepingan-kepingan wang emas. Kepingan-kepingan wang emas tersebut dituangkan kembali ke dalam telaga tersebut. Sekali lagi Ibrahim cuba mencedok air dari telaga tersebut, tetapi kali ini bukannya kepingan wang emas tetapi butiran-butiran mutiara pula yang memenuhi timba tersebut. Mutiara-mutiara tersebut dituangkan kembali oleh Ibrahim ke dalam telaga tersebut sepertimana yang telah dilakukan kepada kepingan-kepingan wang emas sebentar tadi. Kemudian Ibrahim berdoa kepada Allah s.w.t, "Ya Allah, ya tuhanku, Engkau telah menganugerahiku dengan harta karun, aku tahu bahawa Engkau maha berkuasa, tetapi Engkau pun tahu aku tidak ingin terpesona oleh harta benda, cukuplah setakat memberikan aku air, supaya aku dapat bersuci. kerana Mu ya Allah."

        Ibrahim berjalan dengan sebuah rombongan, mereka tiba di sebuah benteng, di depan benteng tersebut terdapat banyak semak belukar. "Baiklah, oleh kerana kita tidak dapat meneruskan perjalanan kita, kerana di hadapan sana terdapat semak dan belukar, kita akan bermalam di sini sahaja, sehingga kita dapat membuat unggun api,"  kata mereka. Mereka pun menghidupkan api dan duduk di sekelilingnya. Semua orang menjamah roti kering ketika Ibrahim sedang berdiri dalam solatnya. Salah seorang daripada mereka berkata, " seandainya kita mempunyai daging yang halal untuk dipanggang oleh api ini."  Setelah selesai solat, Ibrahim berkata kepada mereka, " sudah pasti Allah s.w.t dapat memberikan daging yang halal kepada kamu semua."  Setelah berkata begitu, Ibrahim bangun dan solat kembali. Tiba-tiba dengan tidak disangka-sangka seekor singa mengaum dan menyeret keldai liar dan ditinggalkannya keldai tersebut berdekatan dengan mereka. Keldai itu mereka ambil dan panggang, untuk santapan mereka pada malam tersebut, manakala singa tadi hanya memerhatikan segala tingkah laku mereka.  
    « Last Edit: 07 September, 2009, 11:13:01 AM by Ummi Munaliza »

    peluru

    • *
    • Posts: 369
    • Mujahidin
      • View Profile
    Reply #10 19 October, 2009, 04:02:46 PM
  • Publish
  • Ibrahim al-Khawas ialah seorang wali  Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Tuhan. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Mekah tanpa kenderaan dan kafilah. Pada suatu kali, tiba-tiba aku tersesat jalan dan kemudian aku berhadapan dengan seorang rahib Nasrani (Pendita Kristian)." Bila dia melihat aku dia pun berkata, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?"

    Ibrahim segera menjawab, "Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu." Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehinggalah rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, "Tiadalah ingin aku memberitakan kepadamu bahawa aku telah menderita kelaparan. Kerana itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu." Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun bermohon kepada Allah s.w.t. dengan berkata, "Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau memalukan aku di hadapan seteru engkau ini."

    Belum pun habis Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah setalam hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minuman, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama dengan seronok sekali. "Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Sesudah tiga hari tiada makanan dan minuman, maka di kala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, "Hai rahib Nasrani, berikanlah ke mari sesuatu makanan yang ada kamu. Rahib itu menghadap kepada Allah s.w.t., tiba-tiba turun setalam hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu."

    Sambung Ibrahim lagi, "Tatkala aku melihat yang demikian, maka aku pun berkata kepada rahib itu - Demi kemuliaan dan ketinggian Allah s.w.t., tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku." Jawab rahib itu, "Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka jatuhlah telekan makrifah (pengenalan) engkau kepadaku, lalu aku memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah s.w.t. dan berpegang kepada-Nya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah dia memalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah syahadah)."

    "Maka sucitalah aku setelah mendengar jawapan rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai ke Mekah yang mulia. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tiada kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di masjidil haram, tiba-tiba aku mendapati dia sedang bersembahyang di sisi Kaabah." Setelah selesai rahib itu bersembahyang maka dia pun berkata, "Hai Ibrahim, sesungguhnya telah hampir perjumpaanku dengan Allah s.w.t., maka peliharalah kamu akan persahabatan dan persauaaraanku denganmu."

    Sebaik sahaja dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafasnya yang terakhir iaitu pulang ke rahmatullah. Seterusnya Ibrahim menceritakan, "Maka aku berasa amat dukacita di atas pemergiannya itu. Aku segera menguruskan hal-hal pemandian, kapan dan pengebumiannya. Apabila malam aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu cantik sekali tubuhnya dihiasi dengan pakaian sutera yang indah." Melihatkan itu, Ibrahim pun terus bertanya, "Bukankah engkau ini sahabat aku kelmarin, apakah yang telah dilakukan oleh Allah s.w.t. terhadap engkau?"

    Dia menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah s.w.t. dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampunkan-Nya semua itu kerana aku bersangka baik (zanku) kepada-Nya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan berhampiran dengan engkau di akhirat." Begitulah persahabatan di antara dua orang yang berpengetahuan dan beragama itu akan memperolehi hasil yang baik dan memuaskan. Walaupun salah seorang dahulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan kebaktian kepada Allah s.w.t., maka dia ditarik kepada Islam dan mengalami ajaran-ajarannya."
    -hOLla-

    ...seorng hamba ALLAH...tnpa pinjaman dariNYA siapalah aku...
    [img width=610 height=70]http://i87.servimg.com/u/f87/12/77/43/73/selang10.jpg[/img]

    peluru

    • *
    • Posts: 369
    • Mujahidin
      • View Profile
    Reply #11 26 October, 2009, 04:36:05 PM
  • Publish


  • Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang

    Saleh Al-Muri bercerita, bahawa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam. Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan sholat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai solat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa:

    "Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Rabb bagiku selain Engkau yang kuharap dapat terhindar bencana yang dahsyat."

    Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: "Wahai Ukhti! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?"

    "Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku kerana terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di neraka nanti." Kata perempuan tua itu.

    Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang mengharukan itu.

    "Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Kerana aku sudah sangat rindu kepadanya." Pinta perempuan itu.

    Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya:

    "Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya." (Al-An'am: 91)

    "Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?" Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.

    Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus. Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: "Bagaimana keadaanmu sekarang?"

    Perempuan itu menjawab: "Alhamdulillah sangat baik, sebaik saat rohku dicabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: "Selamat datang wahai orang yang meninggal akibat terlalu sedih kerana merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku."

    Maka ketahuilah. . . . . . .

    # Jadikanlah Ghadhdul Bashar (menundukkan pandangan)
    sebagai "hiasan mata" anda, nescaya akan semakin
    bening dan jernih.

    # Oleskan "lipstik berwirid" pada bibir anda, nescaya
    akan semakin manis dan ayu.

    # Gunakanlah "pemerah pipi" anda dengan kosmetik yang
    terbuat dari rasa malu yang lahir dari keikhlasan Iman.

    # Pakailah "sabun taubat dan istighfar" yang menghilangkan
    semua dosa dan kesalahan yang anda lakukan.

    # Rawatlah rambut anda dengan "Tudung Islami" yang
    akan menghilangkan kelemumur pandangan lelaki yang
    merbahayakan.

    # Hiasilah kedua tangan anda dengan gelang Tawadhu'
    dan jari-jari anda dengan cincin Ukhuwwah.

    # Sebaik-baiknya kalung anda adalah kalung "kesucian".

    # Bedaklah wajah anda dengan "air Wudhu" nescaya akan
    sinar bercahaya di akhirat.


    Panjatkan kesyukuran kehadrat Allah s.w.t kerana menjadikan kaum hawa yakni perempuan dan memberikan keindahan-keindahan itu. Namun, betapa pun dijaga, dipelihara, dibelai dan ditatap di hadapan cermin saban waktu, tiba masanya segalanya akan pergi jua. Wajah akan suram, mata akan kelam.

    Satu sahaja yang tidak akan dimamah usia, sifat keperempuanan yang dipupuk dengan iman dan ibadah.

    adrieyana

    • *
    • Posts: 224
      • View Profile
    Reply #12 25 May, 2010, 03:03:12 PM
  • Publish
  • best ceritanya baguss

    putra_aftus

    • *
    • Posts: 45
      • View Profile
    Reply #13 23 November, 2010, 11:00:48 AM
  • Publish
  • Diriwayatkan bahawa seorang tukang jagal terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapatkan tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil menemukannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun sangat mencintaimu, aku sangat takut kepada Allah."


    Mendengar jawapan itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Kerana menyesal dan sedar hatinya gementar, tenggoroknya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata," Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak."


    Dia pulang sambil bertaubat. Di jalan ia diserang haus dan nyaris mati. Is kemudian bertemu seorang soleh. Mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahawa awan itu untuk orang yang soleh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal itu sampai dia tiba di rumahnya. Orang soleh tadi hairan melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya juga di tempat itu. Maka laki-laki soleh itu berkata, "Janganlah hairan terhadap apa yang kau lihat, kerana orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ."


    akhie

    • *
    • Posts: 37
      • View Profile
    Reply #14 23 November, 2010, 01:32:05 PM
  • Publish
  •  :)

    salam..ummi...

    banyak kesah teladan yang ummi post ye....

     :jaz:   

    wasssalam

    hada_islamic

    • *
    • Posts: 1204
    • ~cintailah DIA yang mencintai kita~
      • View Profile
    Reply #15 23 November, 2010, 07:54:38 PM
  • Publish
  • :)
    DOA TAUBAT

    Astaghfirullah Rabbal Barroya(Ampunilah Hamba Ya Allah Maha Penerima Taubat)
    Astaghfirullah Minal khotoya.(Ampunilah Hamba Ya Allah Daripada Segala Dosa)...4X
    Rabbi zidni 'ilman naa fi'a(Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna)
    Wa wa fiqni 'amalam maqbula(Dan berikanlah aku amalan yang dimakbulkan)
    Wa Wa habli rizqan waasi'a(Dan kurniakan kepadaku rezeki yang meluas)
    Wa tub 'alaia taubatan nasuha 2X(Dan perkenankan taubatku dengan taubat nasuha)
    Astaghfirullah Rabbal Barroya(Ampunilah Hamba Ya Allah Maha Penerima Taubat)
    Astaghfirullah Minal khotoya.(Ampunilah Hamba Ya Allah Daripada Segala Dosa)...2X
    Rabbi zidni 'ilman naa fi'a(Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna)
    Wa wa fiqni 'amalam maqbula(Dan berikanlah aku amalan yang dimakbulkan)
    Wa Wa habli rizqan waasi'a(Dan kurniakan kepadaku rezeki yang meluas)
    Wa tub 'alaia taubatan nasuha 2X(Dan perkenankan taubatku dengan taubat nasuha)
    Astaghfirullah Rabbal Barroya(Ampunilah Hamba Ya Allah Maha Penerima Taubat)
    Astaghfirullah Minal khotoya.(Ampunilah Hamba Ya Allah Daripada Segala Dosa)..2X
    Aku memohon ampun Ya Allah, Maha Penerima Taubat,
    Aku memohon ampun Ya Allah daripada segala dosa,
    Tambahkan kepadaku ilmu yang berguna,
    Berikanlah aku..amalan yang dimakbulkan,
    Kurniakan kepadaku rezeki yg meluas,
    Terimalah taubat kami dengan Taubat Nasuha..
    mencari redha ALLAH...jadilah insan berguna kepada orang lain

    Iffah Muhsin

    • *
    • Posts: 814
      • View Profile
    Reply #16 02 February, 2011, 12:52:42 PM
  • Publish
  • Taubatnya Seorang Pembunuh
    Dari Abu Said, Saad bin Malik bin Sinan al-Khudzri bahawa Rasulullah SAW bersabda;
    Hiduplah seorang lelaki di suatu masa sebelum kamu,ia telah membunuh 99 jiwa,lalu ia bertanya kepada orang yang paling alim dari penduduk suatu negeri  dan disarankan agar ia menanyakan tentang perkara tersebug pada seorang rahib. Ia pun mendatangi dan menanyakannya.Si Rahib menjawab bahawa taubatnya tidak dapat diterima. Ia pun marah dan dibunuhlah si Rahib itu,sehingga genaplah seratus orang yang telah di bunuh.

    Namun niatnya bertaubat tetap teguh.Maka kembalilah ia kepada orang yang paling alim untuk meminta petunjuk kepada siapakah ia harus menanyakan masalah taubatnya. Lalu ditunjukkan kepada seorang lelaki pintar,ia pun dating kepadanya dan menceritakan segala perbuatannya,yakni membunuh nyawa seratus orang,tetapi ia ingin bertaubat,mungkinkah taubatnya diterima.
    Orang itu menjawab ;”Ya diterima. Siapakah yang menghalangi taubat seorang hamba? Sekarang saya anjurkan agar engkau menyingkir dari negerimu yang buruk itu dan berhijrah ke sebuah negeri yang berpenduduk orang-orang soleh dan ahli ibadat kepada Allah SWT ,agar engkau dapat beribadat bersama mereka.”
    Ia pun segera meninggalkan negerinya. Dalam separuh perjalanan menuju negeri itu, datang ajal menjemputnya. Maka bersilang pendapatlah dua malaikat, malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat berkata : “Ia datang dengan niat bertaubat sepenuh hatinya”.
    Malaikat Azab pun membantah :”Tetapi ia belum melakukan kebajikan sama sekali”.
    Maka datanglah malaikat dalam bentuk manusia yang bertindak sebagai halim dalam memutuskan perkara kedua-dua malaikat tersebut. Si hakim menganjurkan agar setiap malaikat mengukur,dengan bumi (tempat)  manakah mayat tersebut lebih dekat,maka bumi (tempat) yang lebih dekat dengannya adalah miliknya. Setelah di ukur, ternyata simayat lebih dekat dengan tempat tujuannya,iaitu yang dihuni oleh orang-orang soleh,beerti ia termasuk mereka. Maka Malaikat rahmatlah yang berhak membawanya.
    (Hadis Riwayat Muttafaq Alaih)

    Dalam riwayat lain diterangkan,selisih jarak antara kedua negeri itu hanya satu jengkal,sungguhpun demikian ia masuk bumi (tempat) yang baik,kerana ia lebih dekat dengannya.
    Sebuah riwayat dalam kitab sahih juga menyebutkan ;

    "Maka Allah SWT mewahyukan kepada bumi yang buruk agar menjauh dan pada bumi yang baik agar mendekat.Lalu diperintahkan agar mengukur jaraknya,sehingga didapati ia lebih dekat pada bumi yang baik selisih satu jengkal dan ampunilah dia".

    Tidak diragukan lagi bahawa pintu taubat sentiasa terbuka kepada sesiapa saja yang ingin bertaubat.
    Thabit bin Qurrah berkata: "Kerehatan badan bergantung kepada kurangnya makan. Kerehatan jiwa bergantung kepada kurangnya melakukan dosa. Kerehatan lidah bergantung kepada kurangnya bercakap. Dosa bagi hati umpama racun bagi badan."

    Iffah Muhsin

    • *
    • Posts: 814
      • View Profile
    Reply #17 02 February, 2011, 01:12:46 PM
  • Publish
  • Taubat Gabenor Zalim

    Diceritakan bahawa di masa hidup Safiyyah Nafisah ada seorang gabenor zalim yang suka menyeksa rakyatnya tanpa alasan munasabah. Suatu hari dia memerintahkan beberapa orang pegawainya menangkap seorang yang dikehendaki untuk diseksa.
    Mendengar dirinya hendak ditangkap,orang yang dikehendaki itu pun lari ke rumah Sayyidah Nafisah minta perlindungan dan jaminan. Bagaimanapun petugas gabenor dapat mengesannya. Orang yang dikehendaki ketakutan apabila petugas gabenor datang untuk menangkapnya.
    “InsyaAllah setelah engkau menghadapnya,engkau akan dibebaskan.pergilah jangan takut,semoga Allah akan menghijab kamu dari penglihatan orang-orang yang zalim,”kata Sayyidah Nafisah kepada orang yang akan dizalimi.
    Maka pergilah lelaki itu bersama orang-orang gabenor sehingga sampai di istana.petugas membawanya dihadapan gabenor yang sedang duduk dibalai penghadapan.
    “Mana orang yang saya suruh tangkap itu?”Tanya gabenor.
    “Yang berdiri di depanmu itulah,” jawab mereka.
    “Mana?” Aku tidak Nampak pun, “ tanya gabenor bingung.
    “Ini dia tuan,takkan tidak Nampak,”kata mereka lagi.
    “Sungguh aku tidak melihatnya.pelik.apa yang terjadi dengan dia?”

    Sebelum dibawa ke sini, dia telah pergi ke rumah Sayyidah Nafisah dan memohon doa. Lalu beliau berdoa :”Semoga Allah menghijab kamu dari penglihatan orang-orang zalim.”kata petugas gabenor padanya.
    “MasyaAllah.kalau begitu,aku memang zalim.Apa yang berlaku kalau semua orang yang teraniaya dihijab oleh Allah dari penglihatanku?”kata gabenor. “Ya Allah ya Tuhanku! Aku bertaubat kepadamu.”
    Gabenor kelihatan sangat kesal dan takut,lalu dibukanya tutup kepalanya.kerana dia telah betul-betul bertaubat.tiba-tiba dia melihat lelaki yang dikehendakinya berdiri tegap dihadapannya. Dia meminta maaf dan mengecup kepala lelaki itu. Lalu dikeluarkannya beberapa helai baju bagus dan sejumlah wang untuk diberikan kepada lelaki tersebut sebagai tanda syukurnya. Dia juga menghantar utusan kepada Sayyidah Nafisah dengan membawa wang berates ribu dirham untuk diberikan kepada beliau. Namun wang itu dibahagi-bahagikan oleh Sayyidah Nafisah kepada orang lain yang memerlukannya sehingga habis.
    « Last Edit: 02 February, 2011, 01:14:37 PM by Iffah Muhsin »

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    33 Replies
    11384 Views
    Last post 26 February, 2011, 10:20:58 PM
    by fmy
    1 Replies
    1995 Views
    Last post 26 November, 2008, 12:11:05 AM
    by halawah
    2 Replies
    331 Views
    Last post 24 May, 2014, 09:52:24 AM
    by al-baab