Login  |  Daftar

Author Topik: Khutbah Jumaat: Ujian Allah DiSantuni Kekejaman Yahudi DiTangani  (Dibaca 1258 kali)

0 Halaqian dan 1 Tetamu sedang melihat topik ini.

Halaqah

  • Global Moderator
  • *****
  • Posts: 33
    • View Profile
Ujian Allah DiSantuni Kekejaman Yahudi DiTangani

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ  أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ  …أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوْا اللهَ  حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاتمَوُْتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Wahai hamba-hamba Allah ! Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.

Saya  menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian  agar  kita  sama-sama  meningkatkan  ketaqwaan  kita  kepada  Allah  dengan  melakukan  segala  suruhanNya  dan  menjauhi  segala  yang  ditegahNya.

Sidang Jumaat yang dihormati sekalian

Firman Allah dalam ayat  11   surah at-Taghabun :
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗوَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Maksudnya : Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.

Kini kita di negeri sebelah Pantai Timur sedang memasuki musim tengkujuh. Ketika kita melihat suasana banjir besar yang telah melanda negeri sebelah Utara terutama Perlis, Kedah dan Pulau Pinang maka kita di sini masih terbayang-bayang dengan musibah bah kuning yang menimpa kita pada hujung 2014 yang lepas. Inilah antara ujian kehidupan yang kita hadapi dalam menguji tahap keimanan dan bergantung harapnya kita kepada Allah dalam kehidupan.

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh membuat dia yakin bahawa apapun ketetapan yang Allâh tetapkan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya inilah maka Allâh  akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya.

Imam Ibnu Katsîr RH berkata (maksudnya): Seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh, kemudian dia bersabar dan mengharapkan balasan pahala dari Allâh, disertai perasaan tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh  nescaya Allâh  akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan Allâh akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah S.W.T,

Firman Allah dalam ayat  30  surah as-Syura:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Maksudnya : Dan apa jua yang menimpa kamu dari sesuatu kesusahan (atau bala bencana), maka ia adalah disebabkan apa yang kamu lakukan (dari perbuatan-perbuatan yang salah dan berdosa); dan (dalam pada itu) Allah memaafkan sebahagian besar dari dosa-dosa kamu.

Ulama mengatakan 4 golongan manusia dalam hadapi setiap musibah dan cubaan hidup di dunia iaitu :

[1] Golongan yang lemah iaitu selalu berkeluh kesah terhadap setiap keadaan. Dia selalu mengadu namun bukan kepada Allah tempat mengadu melainkan sesama manusia. Dia selalu meratapi hari-hari bahkan sering dia bertindak di luar batas untuk melepaskan rasa marah atas takdir buruk yang dia terima. Dia selalu mengeluh kepada semua orang. Padahal dengan banyak mengeluh bukannya orang akan simpati malah akan menjauhkan diri daripadanya bahkan dengan banyak mengeluh bukannya menyelesaikan masalah sebaliknya masalah bertambah rumit. Sikap ini adalah sikap orang-orang yang lemah imannya, lemah akalnya dan agamanya.

[2] Golongan yang bersabar atas musibah dengan cara menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengundang amarah Allah . Menahan lisan dari berucap kata yang tidak disukai Allah. Mencegah perbuatan dari perkara yang dimurkai Allah. Orang yang sabar dalam menghadapi musibah sentiasa berdoa agar Allah menyingkirkan dan meringankan musibah yang menimpanya dan berharap pahala yang ada padanya, di saat yang sama dia mengambil sebab dan upaya agar musibah itu berlalu darinya. Setiap mukmin akan selalu mendapat ujian. Dan Allah tidak akan memberi beban kecuali sesuai dengan tahap kemampuannya.

[3] Golongan yang redho yang sentiasa berlapang dada ketika musibah menimpanya. Orang yang redho atas musibah sangat menyedari bahawa semua yang terjadi atas kehendak Allah. Baginya, ketika ditimpa musibah seolah-olah dia tidak merasa mendapat musibah. Darjat redho atas musibah tentu lebih tinggi tingkatannya dari sikap sabar.

[4] Golongan yang bersyukur atas musibah yang berlaku.  Aneh kedengarannya, ditimpa musibah bagaimana boleh lahir rasa syukur. Ditimpa musibah bagaimana boleh berterima kasih.  Itulah keadaan golongan keempat ini. Baginya musibah adalah sesuatu yang ‘mengasyikkan’. Dia seakan menikmati ‘memadu kasih’ dengan Tuhannya di saat tertimpa musibah walau bagaimanapun bentuknya. Malah, kalau boleh dia berharap agar musibah itu tidak lekas hilang darinya. Golongan yang menempati darjat ini adalah para nabi dan rasul, wali-wali Allah, orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang mendalam

قال النبي : عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ – رواه مسلم
Maksudnya : Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah S.W.T,

قال النبي : إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتَزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ. وَلَـٰكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ. حَتَّىٰ إِذَا لَمْ يَبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالًا. فَسُئِلُوْا، فَأَفْتُوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا.“ رواه البخارى
Maksudnya : Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya daripada dada hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang jahil, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Sejak akhir-akhir ini semakin ramai ulama Islam yang meninggal dunia yang mengingatkan kita tentang bagaimana dunia ini terlalu hampir dengan Qiamat. Al-Quran dan hadis nabi s.a.w menyatakan bahayanya bila dunia sepi daripada Ulama taqwa yang boleh membimbing manusia kepada jalan kebenaran.

Sesuai sebagai pewaris nabi maka peranan Ulama begitu besar dalam memberi tunjuk ajar umat bukan sahaja dalam bab ibadat khusus malah meliputi seluruh apek kehidupan termasuk cara berpolitik, ekonomi, sosial dan sebagainya. Hilangnya Ulama merupakan suatu kehilangan yang besar yang wajar kita rasa kebimbangan terutama dalam menjaga kesucian agama seterusnya melaksanakan segala system Islam dalam kehidupan agar memperolehi kebahagian hidup dunia dan akhirat.

Oleh itu marilah kita berlumba untuk mencari ilmu sebelum Ulama sudah tiada. Jangan selepas kematian seorang demi seorang Ulama barulah kita kalut untuk mencari. Kehilangan Ulama sukar dicari ganti seumpama kebocoran yang tidak mampu lagi ditampung.

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: “خُذُوْا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ.“ قَالُوْا: “وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ، يَا نَبِيَّ اللهِ، وَفِيْنَا كِتَابُ اللهِ؟“ قَالَ؛ فَغَضِبَ لَا يُغْضِبُهُ اللهُ، ثُمَّ قَالَ: “ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ! أَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيْلُ فِيْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلِ فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا؟ إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ. إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ.“
Maksudnya: Sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda (maksudnya): “Ambillah ilmu sebelum ia hilang.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana ilmu boleh hilang, wahai Nabi, sedangkan di kalangan kita ada Kitab Allah?” Abu Umamah berkata; maka Nabi marah, yang sebelumnya belum pernah baginda marah, lalu bersabda: “Rosak kalian! Bukankah sudah ada Taurat dan Injil di kalangan Bani Israeil tetapi keduanya tidak mencukupi bagi mereka (tidak mereka jadikan pedoman di zaman mereka)? Sesungguhnya hilangnya ilmu bersama hilangnya pembawa ilmu itu. Sesungguhnya hilangnya ilmu bersama hilangnya pembawa ilmu itu (ulama’).”

Sidang Jumaat yang diberkati Allah S.W.T,

Firman Allah dalam ayat 61 surah al-Baqarah :
وَضُرِبَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلذِّلَّةُ وَٱلۡمَسۡكَنَةُ وَبَآءُو بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ يَكۡفُرُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقۡتُلُونَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ
Maksudnya : Mereka ditimpakan dengan kehinaan dan kepapaan dan sudah sepatutnya mereka mendapat kemurkaan daripada Allah. Yang demikian itu ialah disebabkan mereka kufur (mengingkari) ayat-ayat Allah (perintah-perintah dan mukjizat-mukjizat yang membuktikan kebesaran-Nya); dan mereka pula membunuh Nabi-nabi dengan tidak ada alasan yang benar. Yang demikian itu ialah disebabkan mereka menderhaka dan mereka pula sentiasa menceroboh.

Beradanya kita pada bulan November sewajarnya mengetuk hati kita untuk mengingati suatu peristiwa hitam iaitu pada 2 November 1917, 100 tahun lalu yang menyaksikan permulaan kepada kejahatan zionis Yahudi yang merupakan ‘Dajal Dunia’ yang sehingga ke hari ini tidak pernah insaf sebaliknya terus bermaharajalela melakukan kesombongan, kejahatan, kekejaman dan ketidakadilan terhadap tanah air serta bangsa lain yang dijajahnya. 100 tahun lalu, dengan usaha dan bantuan Britain, mereka mengisytiharkan Deklarasi Balfour yang jelas menyokong penubuhan sebuah negara Yahudi di atas tanah air umat Islam iaitu Palestin. Deklarasi haram yang tidak bermoral ini melanggar prinsip-prinsip Liga Bangsa-Bangsa (kini dikenali sebagai Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu atau PBB). Ia telah membuka jalan kepada ‘penjajahan’ negara Palestin oleh Yahudi dan pencabulan serta pemusnahan secara paksa hak-hak rakyat Palestin yang sah.

Sejak tarikh hitam itu terusirlah rakyat Palestin secara beransur-ansur dari Palestin sebaliknya menambahkan bilangan orang Yahudi yang diketahui asalnya hanya berjumlah enam orang sahaja di Palestin pada waktu itu. Hari ini kira-kira 7 juta rakyat Palestin bertebaran di seluruh dunia disebabkan segala angkara yang bermula dengan Deklarasi Balfour 1917. Sepanjang era penjajahan Britain di Palestin, sejak tahun 1917, negara itu diketahui telah berusaha dengan kuat sekali untuk mendirikan sebuah negara dan tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestin melalui dasar-dasar mereka.

Antaranya:
[1] Membantu kemasukan pendatang haram Yahudi ke Palestin
[2] Membantu pembinaan penempatan haram, pengambilalihan besar-besaran tanah rakyat Palestin secara paksaan
[3] Melatih kumpulan militan Zionis seperti Haganah yang dibekalkan dengan senjata untuk memerangi, melakukan pembunuhan ke atas rakyat Palestin
[4] Mencegah masyarakat Palestin daripada membina, membangunkan institusi-institusi mereka, sebaliknya membiarkan Zionis bertindak memusnahkan dan meminggirkan institusi-institusi masyarakat Palestin
[5] Membantu mengusir rakyat Palestin dari kampung halaman dan tanah air mereka serta memusnahkan lebih 500 kampung penduduk Palestin
[6] Menghalang sebarang usaha rakyat Palestin yang menentang pembangunan projek-projek Zionis Yahudi.
[7] Terus berusaha meruntuhkan Masjid Aqsa bagi membina Haikal Sulaiman yang didakwa milik yahudi

Sempena berada pada hari Jumaat yang mulia, atas masjid yang mulia ini marilah kita sama-sama mengutuk kekejaman zionis Yahudi dan sekutu kuffarnya serta hulurkan bantuan kepada saudara seagama di Palestin. Boikot barangan pengganas zinois yahudi dan sekutunya setakat yang termampu dalam menekan pengganas dunia itu daripada terus bermaharajalela.
خَيْبَرْ خَيْبَرْ يَا يَهُوْد جَيْشُ مُحَمَّدٍ سَوْفَ يَعُوْد
Berambus! Berambus wahai yahudi! Tentera Muhammad kan kembali.

Firman Allah dalam ayat 74 surah an-Nisa’ :
فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۚ وَمَن يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Maksudnya : Oleh itu (orang beriman) yang mengutamakan kebahagiaan akhirat daripada kesenangan dunia hendaklah mereka berperang pada jalan Allah. Dan sesiapa yang berperang pada jalan Allah lalu dia gugur syahid atau beroleh kemenangan maka Kami akan menganugerahkannya ganjaran pahala yang besar.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسِلِمْينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Sumber