Haiwan yang Boleh Dimakan dan Tidak Boleh Dimakan

Author Topic: Haiwan yang Boleh Dimakan dan Tidak Boleh Dimakan  (Read 26886 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

tanpanama

  • *
  • Posts: 409
    • View Profile
01 June, 2007, 12:12:15 AM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Mari kita dinamikkan pemikiran kita....


    Firman Allah S.W.T : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 173)

    Firman Allah S.W.T lagi : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging haiwan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (al-Maidah: 3).

    Kesimpulan dari ayat di atas, cuma 10 haiwan yang tidak halal dimakan:

    1. Bangkai yang mati tanpa sembelih
    2. Darah yang keluar mengalir
    3. Daging BABI
    4. haiwan yang disembelih kerana pemujaan
    5. Haiwan yang mati kerana tercekik
    6. Haiwan yang mati kerana dipukul
    7. Haiwan yang mati kerana jatuh di tempat tinggi
    8. Haiwan yang mati ditanduk
    9. Haiwan yang mati kerana diserang binatang buas
    10. Haiwan yang disembelih atas nama berhala.


    Walaupun dalam hadith-hadith memperincikan benda2 kotor yg tidak halal dimakan seperti singa, gajah, biawak dan burung2 yang berkuku panjang, tetapi ia masih menjadi khilaf antara ulama samaada larangan memakannya haram atau makruh sahaja.
    Mazhab maliki hanya mengatakan 10 sahaja (seperti diatas) yg tidak halal dimakan, dan haiwan yg lain semuanya halal atau makruh termasuklah anjing, binatang2 buas ular dan sebagainya selagi mana tidak termakan racunnya (ertinya tidak memudaratkan diri) [Rujukan: al-Zuhaili, Fiqh perundangan Islam]

    Kesimpulanya, bagi yang berselera untuk makan binatang selain 10 di atas silakan, dan amat dialu-alukan...:senyum:, dan bagi mereka yang tak de selera nak makan, jangan kata haram ,kerana anda perlu mengeluarkan dalil terlebih dahulu mengapa ia haram.

    p/s: Jangan cepat menolak tulisan di atas, boleh jadi ia berguna untuk anda dalam proses pendakwahan kepada saudara baru atau perkara2 yang lain.
    « Last Edit: 09 June, 2010, 08:38:29 AM by Ummi Munaliza »
    Kajian Hingga Akhir Hayat...

    zulhusnie

    • *
    • Posts: 116
      • View Profile
    Jawab #1 01 June, 2007, 12:49:19 AM
  • Publish Di FB
  • BINATANG BUAS BERTARING
    Hal ini berdasarkan hadits : "Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: "Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan" (HR. Muslim no. 1933)

    Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I'lamul Muwaqqi'in (2/118-119) Maksudnya "dziinaab" yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan". (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).

    Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I'lamul Muwaqqi'in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.

    Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): "Saya tidak mengetahui persilanganpendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama'pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikianpula anjing,gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi saw bukan pendapat orang....".



    BURUNG YANG BERKUKU TAJAM
    Hal ini berdasarkan hadits : Dari Ibnu Abbas berkata: "Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam" (HR Muslim no. 1934)

    Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234): "Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya". Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: "Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi'i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam."

    KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)
    Hal ini berdasarkan hadits:

    "Dari Jabir berkata: "Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda". (HR Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941) dalam riwayat lain disebutkan begini : "Pada perang Khaibar, mereka menyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda. (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa'i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811).

    Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :

    Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi'in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).

    Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi'i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha' bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: " Salafmu biasa memakannya (daging kuda)". Ibnu Juraij berkata: "Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan'ani).

    HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH
    "Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam. " (HR. Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz "kalajengking: gantinya "ular" )

    Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): "Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan" (Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu' Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi).

    "Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak" (HR. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129)" "Tokek/cecak telah disepakati keharaman memakannya".



    Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda :

    "Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: " Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu'min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: "Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan",

    Dan firmanNya yang lain: "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu" Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do'anya". (HR Muslim no. 1015).


    « Last Edit: 01 June, 2007, 01:00:32 AM by NurZulhusnie »

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #2 01 June, 2007, 01:21:55 AM
  • Publish Di FB
  • Quote
    Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :

    Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi'in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).



    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A'raf: 157)

       Yang disebut Khabaits (yang kotor-kotor), iaitu semua yang dianggap kotor oleh perasaan manusia secara umum, beberapa prinsip mungkin menganggap tidak kotor.Rasulullah dalam hadisnya melarang makan keledai kota pada hari Khaibar.

       Hadisnya itu berbunyi sebagai berikut: "Rasulullah s.a.w. melarang makan daging keledai kota pada hari perang Khaibar." (Riwayat Bukhari)

    betulkah sedemikian??
    Hadith ini ada ulama' yang berpendapat, larangan memakannya adalah disebabkan
    keadaan yang memerlukan ketika itu sebagai kenderaan.

    Quote
    BINATANG BUAS BERTARING
    Hal ini berdasarkan hadits : "Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: "Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan" (HR. Muslim no. 1933)

    Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I'lamul Muwaqqi'in (2/118-119) Maksudnya "dziinaab" yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan". (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).

    Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I'lamul Muwaqqi'in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.

    betulkah haram secara mutlak??

    Ibnu Abbas berpendapat, bahawa binatang yang haram dimakan itu hanya empat seperti yang tersebut dalam ayat al-Quran. Seolah-olah beliau menganggap hadis-hadis di atas dan lain-lain sebagai mengatakan makruh, bukan haram. Atau mungkin kerana hadis-hadis tersebut tidak sampai kepadanya.

       Ibnu Abbas juga pernah berkata: "Bahawa orang-orang jahiliah pernah makan sesuatu dan meninggalkan sesuatu kerana dipandang kotor. Kemudian Allah mengutus nabiNya dan menurunkan kitabNya. Di situlah menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Oleh kerana itu, apa yang dihalalkan, bererti halal, dan apa yang diharamkan, bererti haram, sedang yang didiamkan bererti dimaafkan (halal). Kemudian ia membaca ayat:

       “Katakanlah! Saya tidak mendapatkan sesuatu yang diwahyukan kepadaku tentang makanan yang diharamkan bagi orang yang mahu makan kecuali ...” (al-An'am: 145)

       Berdasar ayat ini, Ibnu Abbas berpendapat bahawa daging keldai kota itu halal. Pendapat Ibnu Abbas ini diikuti oleh Imam Malik, dimana beliau tidak menganggap haram terhadap binatang-binatang buas dan sebagainya, tetapi ia hanya menganggap makruh.

    persoalanya, jika haram secara mutlak, bagai mana Ibnu Abbas seorang sahabat yg agung ini menghalalkannnya??


    Rujukan : al-haram wal haram- Yusuf al-Qardhawi.
                 Islam dan Manusia:1001 kemusykilan - Dr Abdul Hayei Syukor (Ahli penal fatwa kebangsaan & Bekas pensyarah API-UM)

       

       

    husnulkhatimah

    • *
    • Posts: 899
    • hitam putih kehidpan..sendiri yg menentukan....
      • View Profile
    Jawab #3 01 June, 2007, 10:49:05 AM
  • Publish Di FB
  • smalam ana dgr IKIM..segmen DUNIAKU BUKU....ada pemaggil tanya haalalkah ikan paus dan ustaz tu jawab halal...sekardar berkongsi...

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #4 01 June, 2007, 12:28:54 PM
  • Publish Di FB
  • smalam ana dgr IKIM..segmen DUNIAKU BUKU....ada pemaggil tanya haalalkah ikan paus dan ustaz tu jawab halal...sekardar berkongsi...
    Untuk pengetahuan anda, Mazhab syafie adalah mazhab yang paling luas dalam
    makanan laut, semua binatang laut boleh makan, takde kecuali lansung
    termasuklah anjing laut,babi laut (jika ada).
    Pendapat mazhab maliki mengatakan makruh sahaja makan babi laut, sebab ada perkataan 'babi'.
    Dan mazhab yang paling sempit dalam makanan laut ialah, mazhab hanafi,
    kerana hanya Ikan sahaja boleh dimakan, udang,ketam dan lain2 semuanya haram.

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #5 01 June, 2007, 12:31:46 PM
  • Publish Di FB
  • tulang babi leh tak?
    ada pendapat yang mengatakan boleh, sebab yang haram hanya daging
    sahaja berdasarkan al-Quran,kalo tak silap saya, pendapat itu berdasarkan mazhab zahiri tetapi sebahagian ulama menentang pendapat itu kerana ita ialah pendapat yang 'ganjil'.

    husnulkhatimah

    • *
    • Posts: 899
    • hitam putih kehidpan..sendiri yg menentukan....
      • View Profile
    Jawab #6 01 June, 2007, 04:01:07 PM
  • Publish Di FB
  • bukan ka ada juga sisa2 daging kalo ye pun nk makan tulang jer?

    ibnuwalidaini

    • *
    • Posts: 2895
    • .:: StiLL iN JoUrNeY tO kNoW AbOuT LiFe ::.
      • View Profile
    Jawab #7 01 June, 2007, 04:07:10 PM
  • Publish Di FB
  • bukan ka ada juga sisa2 daging kalo ye pun nk makan tulang jer?

    eh tak mustahil kalo diorang leh kikis daging sampai abis..ni tempan penah tgk sendiri diorang kikis semua daging sampai tinggal tulang semata-mata tulang....

    Quote
    Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :

    Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi'in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).



    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A'raf: 157)

       Yang disebut Khabaits (yang kotor-kotor), iaitu semua yang dianggap kotor oleh perasaan manusia secara umum, beberapa prinsip mungkin menganggap tidak kotor.Rasulullah dalam hadisnya melarang makan keledai kota pada hari Khaibar.

       Hadisnya itu berbunyi sebagai berikut: "Rasulullah s.a.w. melarang makan daging keledai kota pada hari perang Khaibar." (Riwayat Bukhari)

    betulkah sedemikian??
    Hadith ini ada ulama' yang berpendapat, larangan memakannya adalah disebabkan
    keadaan yang memerlukan ketika itu sebagai kenderaan.

    Quote
    BINATANG BUAS BERTARING
    Hal ini berdasarkan hadits : "Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: "Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan" (HR. Muslim no. 1933)

    Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I'lamul Muwaqqi'in (2/118-119) Maksudnya "dziinaab" yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan". (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).

    Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I'lamul Muwaqqi'in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.

    betulkah haram secara mutlak??

    Ibnu Abbas berpendapat, bahawa binatang yang haram dimakan itu hanya empat seperti yang tersebut dalam ayat al-Quran. Seolah-olah beliau menganggap hadis-hadis di atas dan lain-lain sebagai mengatakan makruh, bukan haram. Atau mungkin kerana hadis-hadis tersebut tidak sampai kepadanya.

       Ibnu Abbas juga pernah berkata: "Bahawa orang-orang jahiliah pernah makan sesuatu dan meninggalkan sesuatu kerana dipandang kotor. Kemudian Allah mengutus nabiNya dan menurunkan kitabNya. Di situlah menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Oleh kerana itu, apa yang dihalalkan, bererti halal, dan apa yang diharamkan, bererti haram, sedang yang didiamkan bererti dimaafkan (halal). Kemudian ia membaca ayat:

       “Katakanlah! Saya tidak mendapatkan sesuatu yang diwahyukan kepadaku tentang makanan yang diharamkan bagi orang yang mahu makan kecuali ...” (al-An'am: 145)

       Berdasar ayat ini, Ibnu Abbas berpendapat bahawa daging keldai kota itu halal. Pendapat Ibnu Abbas ini diikuti oleh Imam Malik, dimana beliau tidak menganggap haram terhadap binatang-binatang buas dan sebagainya, tetapi ia hanya menganggap makruh.

    persoalanya, jika haram secara mutlak, bagai mana Ibnu Abbas seorang sahabat yg agung ini menghalalkannnya??


    Rujukan : al-haram wal haram- Yusuf al-Qardhawi.
                 Islam dan Manusia:1001 kemusykilan - Dr Abdul Hayei Syukor (Ahli penal fatwa kebangsaan & Bekas pensyarah API-UM)

       

       


    syeikh tanpanama nak makan tak kalo ada orang bagi harimau ngan keldai peliharaan..?
    " Semua manusia tahu bagaimana
    hendak bercakap tetapi
    tidak semua orang tahu bila dia
    patut bercakap."

    kanjeng sunan

    • *
    • Posts: 2192
    • cintai tuhan, sayangi tuhan, takuti tuhan...
      • View Profile
    Jawab #8 01 June, 2007, 05:19:31 PM
  • Publish Di FB
  • pegang zahir ayat camni laa...biasa ler pak kanjeng...nanti kita try cari tulang babi..nak tgk tanpanama nak makan tak...

    teringat kawan cerita masa kat jepun dulu...
    cam nie lebih kurang diolagnye....

    kisahnya bermula begini...
    kawan teman nie..nak makan mee (wudon)...
    so dia nak letak kuah la...
    cam kita kat sini..kuah kari...

    ooo...orang muslim ye....(orang jepun cakap)..
    pastinya tak boleh makan babi...

    tapi kuahnya tak pe kan...
    lalu terus je...masukkan kuah..
    kat dalam wudon tersebut...

    so kat sinilah...
    kita leh ambil iktibar...
    TuhAN cInTa aGuNg..

    ibnuwalidaini

    • *
    • Posts: 2895
    • .:: StiLL iN JoUrNeY tO kNoW AbOuT LiFe ::.
      • View Profile
    Jawab #9 01 June, 2007, 05:32:14 PM
  • Publish Di FB
  • ermm bagus contoh tu pak kanjeng..nanti ada ler yg ngomen ni...

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #10 01 June, 2007, 06:25:07 PM
  • Publish Di FB
  • sy x akan makn.sbb megi masih ada lagi dlm simpanan sy....hehehh
    tapi, yg sy tulis semuanya tertulis dalm kitab2 fiqh,
    dan tanya la mana2 ulama' fiqh sekalipun......

    lagipun babi ni byk virus.....

    ibnuwalidaini

    • *
    • Posts: 2895
    • .:: StiLL iN JoUrNeY tO kNoW AbOuT LiFe ::.
      • View Profile
    Jawab #11 01 June, 2007, 07:43:03 PM
  • Publish Di FB
  • ehh kan ker leh makan...aper salahnyer...megi tu campur ngan tulang babi..amacam ok tak..bukannyer haram pun..kan syeikh tanpanama...

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #12 01 June, 2007, 08:06:06 PM
  • Publish Di FB
  • sebab itu lah saya kata, sila rujuk pada posting pertama
    dan bila sy bawa pendapat mazhab zahiri ,bukan bermakna saya pakai mazhab  tu

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #13 01 June, 2007, 08:11:50 PM
  • Publish Di FB
  • bab babi tu kita tolak tepi,
    kalo ada sesapa yg ada selera nak makan penyu ke, kure2 ke,..kucing ke
    kanggaroo ke..silakan....hehehee

    ibnuwalidaini

    • *
    • Posts: 2895
    • .:: StiLL iN JoUrNeY tO kNoW AbOuT LiFe ::.
      • View Profile
    Jawab #14 01 June, 2007, 10:22:27 PM
  • Publish Di FB
  • syeikh berpegang pada mazhab maner..kalo leh syeikh bawakkan dalil mazhab tu utk perkongsian bersama...yg dalam posting pertama tu mazhab zahiri ker mazhab mailiki yg syeikh bawakkan tu? nanti biler syeikh ada selera makan..bgtau yerk..ahaakkk...

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #15 01 June, 2007, 11:41:59 PM
  • Publish Di FB
  • Sy berpegang pada mana2 mujtahid, tak kira mazhab mana, asalkan
    beliau itu seorang mujtahid.
    posting pertama adalah merujuk pada mazhab maliki,
    bukankah saya telah tulis, pendapat mazhab zahiri di kira ganjil oleh jumhur ulama'.
    faham ke maksud ganjil????
    Selera tak selera, bergantung pada individu itu sendiri, ada yang takde selera makan belut, tapi  jelas belut itu halal. yang x berselera jgn kata haram, sebab hujahnya bukan pada selera, tapi pada dalil2.

    saya bukak topik ini, banyak input yg saya terima, respon daripada forumer amat menggalakkan (seperti yg dijangka) ada yg sempit, ada yg takleh terima, ada yg tak open minded, ada yg terbuka luas dan macam2 lagi. Ini boleh dijadikan sumber kajian saya terhadap penerimaan umat melayu khususnya dalam perkara yg mereka tak pernah dengar, atau bercanggah dengan apa yg mereka dgr sebelum ini.setakat ini nampaknya susah sikit la nak bukak langkah berdakwah kepada non-muslim yg makan macam2 ni.

    ibnuwalidaini

    • *
    • Posts: 2895
    • .:: StiLL iN JoUrNeY tO kNoW AbOuT LiFe ::.
      • View Profile
    Jawab #16 02 June, 2007, 01:07:51 AM
  • Publish Di FB
  • kire syeikh tanpanama tidak memegang mana2 mazhab la yerk..kire pukul rata semua...ermm syeikh tanpanama seorang mujtahid boleh laa..cuber senaraikan binatang yg haram pada mazhab shafei pulak...yer ler kan..malaysia kita ni..majoriti mazhab shafei..teman pun taktau senarai yg sbenarnyer..mintak syeikh tanpanama senaraikan leh tak...

    ibnuwalidaini

    • *
    • Posts: 2895
    • .:: StiLL iN JoUrNeY tO kNoW AbOuT LiFe ::.
      • View Profile
    Jawab #17 02 June, 2007, 06:30:15 AM
  • Publish Di FB
  • kalo dah syeikh tanpanama berpegang kata mujtahid...so boleh la makan tulang babi,sup rimau...tu kan mujtahid jugak yg berijtihad..ker camner tu?

    zulhisnie..teman taktau saper tok guru tu..leh bgtau nama tak...ahaakk..

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #18 02 June, 2007, 09:34:00 AM
  • Publish Di FB
  • kalo dah syeikh tanpanama berpegang kata mujtahid...so boleh la makan tulang babi,sup rimau...tu kan mujtahid jugak yg berijtihad..ker camner tu?

    zulhisnie..teman taktau saper tok guru tu..leh bgtau nama tak...ahaakk..
    kita tgk pada  majoriti mujtahid, dalil yang di bawa masing2, mengikut penilaian
    sendiri. Tapi itu kena masuk bab baru la.
    Untuk orang awam, cukup la ikut mana2 pendapat mujtahid yang tidak
    dikira ganjil oleh ulama' yg lain.

    tanpanama

    • *
    • Posts: 409
      • View Profile
    Jawab #19 02 June, 2007, 09:41:47 AM
  • Publish Di FB

  • maafkan saya...kira dia ni terrer 4 mazhab le...sebab tu dia boleh pegang
    semua mazhab.
    Cuba tanya tok guru Tanpanama tengok..sapa tu....allaa....yg tu..tu..
    Dia makan tak menate-menate tuh...
    Kalau dia pun makan teman rasa tak salah la kalu syeikh pun makan.

    nampaknya anda sekarang ketinggalan nampaknya,
    orang sekarang bukan pelajari sekadar 4 mazhab tetapi lebih dari itu,
    mazhab bukhari,mazhab al-Qardhawi, mazhab al-Syaukani dan Mazhab
    Malizi.
    Kalo Anda nak belajar kuliah fiqh 4 mazhab pun boleh,
    sila layari kelantan.tv  setiap jumaat jam 8.30 pagi sebelum kuliah tuan guru  MB kelate.Live dari kelate.
    Dalam jadual kuliah Tuan Guru MB pukul 9.30. tempat yg sama.
    Inilah salah satu usaha yang dibuat oleh Tuan guru, supaya rakyatnya dapat
    menguasai pendapat mujtahid lain.
    bagi saya, walaupun usaha ini mungkin sedikit terlewat, tetapi itu sudah bagus
    bagi mengelakkan orang beranggapi dalam dunia Islam ini, hanya pendapat
    syafi'sme saja yg wujud.

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    7 Replies
    2737 Views
    Last post 24 April, 2009, 04:10:17 PM
    by NuRul IsLam
    5 Replies
    3608 Views
    Last post 04 May, 2009, 10:06:50 PM
    by ibnuwalidaini
    0 Replies
    586 Views
    Last post 19 December, 2011, 05:09:20 PM
    by tolibulakhirat