Mencari Kebahagiaan

*

Author Topic: Mencari Kebahagiaan  (Read 14541 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

24 May, 2007, 04:17:02 AM
  • Publish
  •  :)

    UKURAN KEBAHAGIAN :

    1. orang fakir mengatakan bahgia terletak pada kekayaan

    2. orang sakit mengatakan bahagia terletak pada tubuh yang sihat

    3. orang yang terjerumus dalam lembah dosa mengatakan berhenti daripada berbuat dosa itulah kebahagian.

    4. seorang yang sedang bercinta dan merindu mengatakan betemu kekasih itulah kebahagian .

    5. seorang pemimpin rakyat mengatakan kemerdekaan dan kecerdasan umat yang dipimpinnnya itulah kebahagian.

    6. seorang gadis dusun ,ASMA BIN BAHDAD , yang dikahwini muawiyah abi sufyan, yakin bahawa kebahagian itu jika dia dapat kembali ke kampungnya , tinggal dalam pondoknya yang buruk wlpun dia sekarang berada dalam istana yang indah.
     
    ~..Ukhwah yang dibina antara kita, Biarlah seperti seutas tasbih, Ada awal,  Tiada penghujungnya, Dicipta untuk mengingatiNYA, Dibahagi untuk cintaNYA, Diratib demi redhaNYA..~

    Reply #1 02 January, 2008, 03:45:33 PM
  • Publish
  • KEBAHAGIAAN YANG SEBENAR


    Kebahagiaan sebenarnya bukan terletak pada mata, tangan, kaki
    atau anggota-anggota lahir. Rasa bahagia itu tempatnya di hati.
    Kalau hati senang, dalam miskin pun boleh rasa bahagia. Sebaliknya
    kalau hati rosak binasa maka ilmu tinggi mana pun,
    kaya raya macam mana pun dan sebesar mana pun pangkat,
    tetap tidak akan hidup bahagia.

    Itu bukti yang cukup jelas yang memang sudah menjadi
    pengalaman hidup semua orang. Kerana itu, untuk mencapai
    kebahagiaan hidup untuk individu mahupun untuk masyarakat,
    apa yang mesti diutamakan ialah mendidik individu-individu
    manusia dengan iman dan taqwa. Bukan dengan duit, pangkat,
    ilmu tinggi, kemewahan, pembangunan, kemajuan dan
    kemodenan.

    Iman dan taqwa boleh membuatkan orang miskin terhibur
    dengan kemiskinannya. Iman dan taqwa boleh membuatkan
    orang kaya pemurah dengan hartanya dan rasa terhibur kalau
    dapat menyumbang kepada masyarakat dan menderma kepada
    fakir miskin. Iman dan taqwa boleh membuatkan orang-orang
    yang berkuasa rendah hati dengan rakyatnya serta terhibur
    kalau dapat berkhidmat pada rakyat.

    Iman dan taqwa membuatkan anak-anak terhibur untuk taat
    kepada ibu bapa, isteri suka dan terhibur untuk taat kepada
    suami, pengikut terhibur mentaati para pemimpin, anak murid
    terhibur untuk hormat dan kasih kepada guru, si gadis jadi malu
    serta terhibur tinggal di rumah dan pemuda terhibur untuk
    memikul tanggungjawab dan menyumbangkan tenaga.

    Bila manusia sudah berada dalam keadaan seperti ini,
    barulah duit banyak akan membawa bahagia. Barulah pangkat
    tinggi berguna dan segala kemodenan, kemajuan dan pembangunan
    akan menjadi sumber keselesaan hidup yang bermakna.
    TuhAN cInTa aGuNg..

    Reply #2 11 January, 2008, 11:42:39 PM
  • Publish
  • iman dan taqwa membuatkan diri kita bahagia. kebahagiaan sememangnya tidak dpt dibeli tetapi ia akan hadir sendiri melalui keikhlasan dan kejujuran dalam hati yg wujud melalui keimanan dan ketaqwaan.
    Dunia kita di muka bumi ini hanyalah persinggahan.Kita cuma berteduh,cukup sahaja bekalan dan tiba masanya,kita juga akan berangkat sperti yang lain.

    Reply #3 11 January, 2008, 11:45:17 PM
  • Publish
  • iman dan taqwa membuatkan diri kita bahagia. kebahagiaan sememangnya tidak dpt dibeli tetapi ia akan hadir sendiri melalui keikhlasan dan kejujuran dalam hati yg wujud melalui keimanan dan ketaqwaan.


    cuba hayati lagu nie...dimana letaknya bahagia...

    Reply #4 27 March, 2008, 05:45:23 PM
  • Publish

  • MENCARI KEBAHAGIAAN

    Mencari kebahagiaan adalah fitrah murni setiap manusia. Tidak melihat apakah itu lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang kaya atau orang miskin, orang besar atau orang kecil. Semua menginginkan kebahagiaan. Segala tindak tanduk manusia dapat kita lihat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencari kebahagiaan.

    Kebahagiaan itu bukan terletak pada tangan, mata, kaki, telinga, atau yang lainnya. Tetapi kebahagiaan itu terletak pada hati (jiwa). Orang yang mendapat kebahagiaan akan merasa ketenangan hati, ketenangan jiwa dan keindahan ruh. Kalau kita lihat berbagai cara dan jalan telah ditempuh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ada yang mencari kebahagiaan melalui kekayaan, pangkat, nama, kemasyhuran atau isteri yang cantik. Tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah, benarkah semua itu dapat memuaskan hati manusia dengan mutlak

    Kalau mencari kebahagiaan itu diusahakan dengan kebendaan, percayalah…manusia akan gagal mencari kebahagiaan, manusia akan mencapai kekecewaan, manusia akan merasa malang setiap hari, jiwa tidak tenang, tidak tenteram sepanjang masa. Inilah yang dikatakan Neraka sementara sebelum merasakan Neraka yang hakiki dan dahsyat lagi mengerikan di Akhirat nanti.

    Buktinya dapat kita lihat, orang-orang yang mencari kebahagiaan melalui :

    1. Kekayaan

    Setelah manusia itu mencari kekayaan, ia tidak akan dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak menyenangkan. Yaitu ujian-ujian. Ujian-ujian itu merupakan sunnatullah yang sengaja Allah datangkan kepada setiap manusia. Contohnya, ia tidak dapat terhindar dari sakit yang Allah datangkan kepadanya. Jika sudah ditimpakan kesakitan maka diwaktu itu kekayaan tidak berguna lagi. Atau dalam waktu-waktu yang lain terjadi pencurian, kebakaran, diancam dan sebagainya. Kalau semua itu terjadi, walau sekaya apapun ia, tidak dapat memberi kebahagiaan kepada manusia.

    2. Pangkat

    Dalam keadaan mencari kebahagiaan melalui pangkat, ia juga tidak dapat terhindar daripada dihina oleh orang yang diatasnya. Ia tidak dapat terhindar dari hasad dengki dari orang lain yang berada di atasnya, semua orang akan benci sebab untuk mendapatkan pangkat ia selalu mengumpat orang, memfitnah, menjatuhkan orang lain agar orang memeri perhatian kepadanya. Apabila sudah mendapatkan pangkat apakah ia dapat terhindar dari ujian-ujian yang Allah datangkan kepadanya ? apakah ia dapat terhindar dari kematian anak, isteri, keluarga atau orang yang dicintai ? Apakah pangkat tersebut dapat memberi kebahagiaan dan ketenangan jiwa pada seseorang ??

    Begitu juga kalau seseorang itu mencari kebahagiaan dengan nama kemasyhuran dan isteri cantik, ia tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Orang yang mencari kebahagiaan dengan dunia atau material semata-mata tidak akan menemui kebahagiaan selama-lamanya. Kebahagiaan yang diharapkan tetapi kecelakaan yang datang, yaitu kesengsaraan dan penderitaan di dunia lagi. Kita lihat beberapa contoh :

    Bintang film terkenal yang dipuja orang yaitu Marilyn Monroe dan Elvis Presley mati bunuh diri, sedangkan mereka pada lahiriahnya seolah-olah sudah mendapatkan kebahagiaan, mengapa terjadi demikian ?

    Ada juga di kalangan mereka yang mencoba bunuh diri, tetapi dapat diselamatkan. Ada yang tidak berani bunuh diri, tetapi terlibat dengan ganja, narkotik, minuman keras, dan bermacam-macam kejahatan yang mengerikan dan merusakkan masyarakat. Ada juga yang sebelum dapat dunia, mereka berusaha sungguh-sungguh agar dapat memberi kebahagiaan, kepuasan jiwa dan ketenangan hati. Dengan itu mereka membenci dunia, mereka tinggal segala-galanya membawa diri mengikut rasa hati, kesana kemari tidak tentu arah. Ada yang membiarkan pakaiannya compang-camping, seolah-olah ingin hidup seperti rumput rampai. Malah penyakit-penyakit beginilah yang menjadi masalah pada masyarakat sekarang ini.
    Benarlah firman Allah SWT yang artinya :
    "Tidak ada hidup di dunia ini, melainkan mata benda yang menipu daya"
    [Q.S. Al Hadid : 20]

    Di dunia lagi sudah terasa menipu dan mengecewakan, buktinya mereka yakin pangkat, kekayaan, nama dan kemasyhuran, serta isteri cantik dapat memberikan kebahagiaan, tetapi semua itu telah menipu mereka. Di Akhirat nanti baru dia sadar bahwa dunia ini menipunya, hingga menjadikan dia lupa perintah Allah. Karena dunialah yang menyebabkan dia terjun ke Neraka.
    Firman Allah SWT yang artinya :
    "Rasakan azab dan siksa yang pedih"

    Kalau begitu dimanakah kebahagiaan yang hakiki, di dunia atau Akhirat …? Kebahagiaan yang hakiki lagi sejati adalah setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul serta melaksanakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang dengan sepenuh hati dan ikhlas.
    Allah berfirman yang artinya :
    "Ketahuilah bahwa dengan mengingati Allah itu hati akan tenang (jiwa akan tenang)"
    [Q. S. Ar-Raad : 28]

    Dimana di Akhirat nanti tidak berguna lagi harta kekayaan, pangkat, pujian dari orang dan isteri yang cantik. Semua tidak akan dapat memberi manfaat lagi di hari Akhirat.
    Firman Allah yang artinya :
    "Di hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat sejahtera"
    [Q.S. Asy-Syuaraa : 88 - 89]

    lalu hayati lagu ini...



    Reply #5 09 April, 2008, 11:45:21 PM
  • Publish
  • ada orang kata....kebahagiaan itu milik Allah. disangka kebahagiaan ada dalam cinta....cinta di cari, namun bila bersama dgn yg tercinta, kebahagiaan tidak juga di rasakan. rupa2 nya kebahagiaan dalam menyintai Allah

    Reply #6 06 May, 2009, 11:04:54 PM
  • Publish
  •  :)
     sekadar ingin berkongsi ..
    kehidupan kian menghimpit kita..zaman yg memerlukan kita untuk mengejar sesuatu..fikirnya kadang2 kita cuma sibuk dgn mencari harta..kita menimba ilmu dari kecil mungkin hanya untuk mencari kerja yg selayaknya..jika ianya tidak kita perolehi,kita akan menghamburkan kata2 yg menyalahkan takdir..sejauh mana yg kita sedar?apamungkin jika kita mendapat kerja yg selayaknya,kita akn berkata"Akhirnya ..aku berjaya.?"atau "xsia2 aku belajar".benar,kita perolehinya atas usaha kita sejak dibangku sek.apakah benar juga semua buat kita adalah sesuatu yg tlh dimaktubkan sejak azali lagi?apakah ada ucapan lain yg mendahului Alhamdullilah?sedarkah kita?benarkah setelah apa yg kita perolehi membuatkan kita sombong?dari mn pula yg dikatakan kita sombong?mungkin dari segi pakaian,makan,kenderaan..apakah itu arahya datang kesombongan?justeru kita akan meletakkan perasaan riak yg mengatakan dalam benak "ianya bersesuaian dgn pangkat dan tempatku"..sehingga dari itu kita akan terus terhanyut...bila dinaikkan pangkat kita kita lupa yg berada dibawah juga seorang manusia..diajar mereka untuk tunduk seolah kita sudah dapat memegang dunia..kita tidak akan sedar kiranya kita berada diatas..kerna kita sendiri mengasuh jiwa untuk jadi sebegitu..mungkin juga begitu.sehingga pada saatnya daya upaya kita direntap oleh pemilik bg segala yg memiliki,saat kita kembali menjadi seperti anak kecil(TUA),brlah segala menjadi titipan buat merenung masa yg tlh berlalu..mungkin jua saat itu kita akan mempersoalkan selama mana kita hidup,berapa lamakah kita mengecap nikmat BAHAGIA yg sebenar2nya..mulanya dari niat yg suci dari kecil,kita kerohkan kelodak bila sudah dewasa..ibarat diawal alpa bismillah,diakhir tanpa alhamdulillah.dan sehingga itu barulah kita menyedari ygmn kita tlh menzalimi diri kita sendiri....saatnya kita masih dipertengahan jalan kecapilah jln bahagia yg hakiki.."tidakkah engkau perhatikan gelagat orang yg bertuhankan hawa nafsu dirinya sendiri?dan dimetraikan pula atas pendengarannya dan hatinya,serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannyalagi yang dapat memberikannya hidayah sesudah Allah(menjadikannya orang yg demekian)?oleh itu mengapa kamu(wahai org2 yg yg ingkar)tdk ingat dan insaf?" (surah Al-Jatsiyah:23)
        kenallah diri,nescaya kamu akan kenal tuhanmu(kaul ini tidak tsabit dgn hadis nabi mengikut pandangan Abu Muzaffar ibn a-Sam'ani.ianya diriwayatkan oleh Yahya ibn al-muadz al-Razi.kaul ini kaul yahya.imam nawawi sependapat):keterangan Imam Sakhawi dlm MADASUD AL HASANAH.carilah jln bahagia dgn jln Al Quran.nabi pernah berpesan kepada Abdullah ibn Umar"jadilah seorang pengembara yg menjadikan bumi ini cume tempat singgah"carilah kebahagiaan diatas bumi yg pasti akan kita tinggalkan.. :aamiin:
    « Last Edit: 09 May, 2009, 04:46:55 AM by Munaliza Ismail »

    Reply #7 07 May, 2009, 08:11:25 AM
  • Publish
  • bahagia...semua impikan kebahagiaan...
    kebahagian akan menjadi milik kita sekiranya kita sentiasa redho atas ketentuan ALLAH...haruslah diingat perlu usaha dan ikhtiar dalam kehidupan...
    cintai saudaramu mendekati sunah dan suruhan
    rasulmu dan ALLAH
    cintai rasulmu mendekati mu kepada ALLAH...
    cintai ALLAH mendekati kamu dengan keredhaanNYA...

    Reply #8 07 May, 2009, 11:49:27 AM
  • Publish
  • APA ERTI ''BAHAGIA'' PADA KEPAHAMAN KITA?

    BAHAGIA COZ ADA ORG SAYANG?
    BAHAGIA COZ KITA NI HIDUP SENANG? KAYA?

    BAHAGIA YG UTAMA ADALAH KEREDHA DARI
    ALLAH SWT
    IBUBAPA..

    APA ERTINYA BAHAGIA UNTUK ANDA..?

    Reply #9 07 May, 2009, 11:59:39 AM
  • Publish
  • APA ERTI ''BAHAGIA'' PADA KEPAHAMAN KITA?

    BAHAGIA COZ ADA ORG SAYANG?
    BAHAGIA COZ KITA NI HIDUP SENANG? KAYA?

    BAHAGIA YG UTAMA ADALAH KEREDHA DARI
    ALLAH SWT
    IBUBAPA..

    APA ERTINYA BAHAGIA UNTUK ANDA..?



    jgn kejar bahagia hingga dihantar ke hospital bahagia di tanjung rambutan udahla..

    Reply #10 07 May, 2009, 01:38:12 PM
  • Publish
  • bahagia bila kita berada di syurga..
    itulah senikmat2 bahagia..
    bahagia bila bercinta dengan ALLAH..
    itulah sebaik2 bahagia..
    ALLAH lah yang memiliki kejayaan dan kebahagiaan..
    :")
    kita tiada daya dan upaya kecuali pertolongan ALLAH..
    ini pandangan saya shj.
    "Al-haqqu bila nizom yaghlibuhul-baatil binnizom"
    Maksudnya: "Sesuatu kebenaran yang tidak sistematik akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematik dan terancang."
    http://Http://cahayarabbani.blogspot.com
    http://Http://islamicmoviecollection.blogspot.com
    assiddiq@ymail.com

    Reply #11 30 May, 2009, 01:59:00 PM
  • Publish
  • [box title=Ukuran KEBAHAGIAAN]Mencari kebahagiaan adalah fitrah murni setiap manusia. Tidak melihat apakah itu lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang kaya atau orang miskin, orang besar atau orang kecil. Semua menginginkan kebahagiaan. Segala tindak tanduk manusia dapat kita lihat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencari kebahagiaan.

    Kebahagiaan itu bukan terletak pada tangan, mata, kaki, telinga atau yang lainnya. Tetapi kebahagiaan itu terletak pada hati atau jiwa. Orang yang mendapat kebahagiaan akan merasa ketenangan hati, ketenangan jiwa dan keindahan ruh. Kalau kita lihat berbagai cara dan jalan telah ditempuh oleh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Ada yang mencari kebahagiaan melalui kekayaan, pangkat, nama, kemasyhuran atau isteri yang cantik. Tetapi yang menjadi permasalahan sekarang adalah, benarkan semua itu dapat memuaskan hati manusia dengan mutlak?

    Kalau mencari kebahagiaan itu diusahakan dengan kebendaan, percayalah…manusia akan gagal mencapai kebahagiaan,yang ada adalah manusia akan mencapai kekecewaan, manusia akan merasa malang sepanjang hari, jiwa tidak tenang, tidak tenteram sepanjang masa. Inilah yang dikatakan Neraka sementara sebelum merasakan Neraka yang hakiki dan dahsyat serta mengerikan di akhirat nanti.
    [/box]
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Reply #12 30 May, 2009, 02:00:52 PM
  • Publish

  • [box title=1.Jika kebahagiaan diukur dari Kekayaan]
    Setelah manusia itu mendapat kekayaan, ia tidak akan dapat terhindar dari masalah-masalah yang tidak menyenangkan. Yaitu ujian-ujian. Ujian-ujian itu merupakan sunnatullah yang sengaja Allah datangkan kepada setiap manusia. Contohnya, ia tidak dapat terhindar dari sakit yang Allah datangkan kepadanya. Jika sudah ditimpakan kesakitan maka diwaktu itu kekayaan tidak berguna lagi. Atau dalam waktu-waktu yang lain terjadi pencurian, kebakaran, diancam dan sebagainya. Kalau semua itu terjadi, walau sekaya apapun ia, tidak dapat memberi kebahagiaan kepada manusia.
    [/box]

    Reply #13 30 May, 2009, 02:02:50 PM
  • Publish


  • [box title=2.Jika kebahagiaan itu diukur dari Pangkat dan Jabatan]Dalam keadaan mencari kebahagiaan melalui pangkat, ia juga tidak dapat terhindar daripada dihina oleh orang yang diatasnya. Ia tidak dapat terhindar dari hasad dengki dari orang lain yang berada di atasnya, semua orang akan benci sebab untuk mendapatkan pangkat ia selalu mengumpat orang, memfitnah, menjatuhkan orang lain agar orang memberi perhatian kepadanya. Apabila sudah mendapat pangkat apakah ia dapat terhindar dari ujian-ujian yang Allah datangkan kepadanya?. Apakah ia dapat terhindar dari kematian anak, isteri, keluarga atau orang yang dicintai? Apakah pangkat tersebut dapat memberi kebahagiaan dan ketenangan jiwa pada seseorang?[/box]

    Reply #14 30 May, 2009, 02:04:41 PM
  • Publish

  • [box title=3.Jika kebahagiaan itu diukur dari Nama dan kemashuran]
    Begitu juga kalau seseorang itu mencari kebahagiaan dengan nama kemasyhuran dan isteri cantik, ia tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Orang yang mencari kebahagiaan dengan dunia atau material semata-mata tidak akan menemui kebahagiaan selama-lamanya. Kebahagiaan yang diharapkan tetapi kecelakaan yang datang, yaitu kesengsaraan dan penderitaan di dunia lagi.
    [/box]

    Reply #15 30 May, 2009, 02:12:39 PM
  • Publish
  • [box title=Ukuran KEBAHAGIAAN]
    Benarlah firman Allah SWT yang artinya :

    [box title=Q.S Al Hadid : 20]
    ”Tidak ada hidup di dunia ini, melainkan harta benda yang menipu daya”
    [/box]

    Di dunia pun sudah tertipu dan mengecewakan,karena mereka yakin pangkat, kekayaan, nama dan kemahsyuran, serta isteri cantik dapat memberikan kebahagiaan , tetapi semua itu telah menipu mereka. Di akhirat nanti baru dia sadar bahwa dunia ini menipunya, hingga menjadikan dia lupa perintah Allah. Dunialah yang menyebabkan dia terjun ke Neraka.


    Sehingga kelak akan terkejut dengan janji Allah dalam firmanNya yang artinya :

    ”Rasakanlah azab dan siksa yang pedih”

    Kalau begitu dimanakah kebahagiaan yang hakiki? Apakah di dunia atau akhirat? kebahagiaan yang hakiki dan sejati adalah setelah kita beriman kepada Allah dan Rasul serta melaksanakan apa yang diwajibkan dan meninggalkan apa yang dilarang dengan sepenuh hati dan ikhlas.

    Allah berfirman yang artinya :

    [box title=Q.S : Ar-Raad : 28.]
    ”Ketahuilah bahwa dengan mengingati Allah itu hati akan tenang (jiwa akan tenang)”
    [/box]

    Yang dimaksud tenang adalah tenang dengan dunia, tidak risau dengan dunia, tidak risau dengan rizkinya di dunia, tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia. Tetapi yang dirisaukan adalah nasibnya di akhirat serta dosa-dosanya kepada Allah. Dimana di akhirat nanti tidak berguna lagi harta kekayaan, pangkat, pujian dari orang dan isteri yang cantik. Semua tidak akan dapat memberi manfaat lagi dihari akhirat.

    Firman Allah yang artinya :

    [box title=Q.S : Asy-Syuaraa : 88 – 89]
    ”Di hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat sejahtera”
    [/box] [/box]

    Reply #16 09 August, 2009, 11:46:51 AM
  • Publish



  •   Semua orang ingin bahagia. Tapi sedikit yang berusaha  melakukan   sebab-sebab bagi tercapainya bahagia. Dengan kata   lain,  mereka tak   mau menyentuh kunci bahagia. Sama seperti dikatakan penyair  "Kesuksesan   yang kau ingini Namun   usahamu tak berarti, sedikit  sekali Sungguh,   perahu itu tak mungkin berlabuh di permukaan tanah kering"  .
     
     
      Sesungguhnya ada banyak kunci bahagia. Paling tidak ada 12 hal yang bila  kita melakukannya kita akan bahagia.
     
           1.Iman kepada Allah dan beramal  shaleh.

    Allah berfirman: "Siapa    saja yang beramal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan   dia  dalam  keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam   kehidupan yang  baik." (An Nahl: 97)
     
     
         "Siapa saja  beriman kepada  Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh   mereka tidak pernah takut dan tidak  pernah bersedih."   (Al maidah:   69).

     
     
    Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ra. meriwayatkan, Rasulullah Saw. bersabda: "Sungguh    mengherankan urusan seorang mukmin.  Sesungguhnya segala urusannya   baginya memberikan kebaikan, hal ini    tidak dimiliki oleh seorangpun   melainkan oleh seorang mukmin. Bila  mendapatkan harta atau kesuksesan   selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan  baginya dan bila mendapatkan   kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun   menjadikan kebaikan   baginya." (HR. Muslim)
     
     
     
    Pengaruh   iman dalam kehidupan sangat mnyata sekali. Ketika diinterogtasi di    Damaskus dengan berbagai bentuk penyiksaan yang keji, Ibnu Taimiyah    Rahimahullah malah mengatakan: "Apa yang   diperbuat  musuh-musuhku   itulah surgaku,penjara bagiku adalah tempatku   menyepi  dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku  (syahidku),   sedang pengusiran  terhadapku itulah tamasyaku." Ucapan ini tentu tak akan  keluar kecuali dari  seorang yang benar-benar telah menghunjam kuat  imannya di dalam dada.
     
     
           2.Beriman kepada Qadha dan Qadar
     
    Qadha   dan qadar, baik buruknya semua adalah datang dari Allah. Ketahuilah,   bila  ada musibah menimpa    dirimu maka itu bukanlah karena   kesalahanmu,  dengan kata lain, kesalahan yang kamu lakukan tidak mesti    menyebabkan  musibah bagimu di dunia. Karena semua telah ada dalam   ketentuan Allah Ta'ala.
     
       
      Ridha dengan bagian rezki dari Allah dan menerima berbagai kemungkinan   yang  bakal ditimpakan Allah   padanya. Maka, siapa saja yang tidak   beriman  kepada qadha dan qadar dia pasti hancur.
     
     
    Sebagai   contoh karena keimanan kepada qadha dan  qadar adalah kisah urwab bin   Zubair. Kaki beliau terkena penyakit kanker  sehingga harus diamputasi   (dipotong). Keadaan itu beliau terima dengan tabah.  Ketika dokter   menyarankan agar beliau minum khamar agar mengurangi rasa sakit saat   diamputasi beliau menolak. Beliau berkata, aku tunjukkan cara lain,    yakni tatkala aku sedang shalat maka kerjakanlah apa yang anda   inginkan, karena  hati, tatkala sedang bergantung kepada Allah maka   tidak akan merasa dengan apa  yang sedang mengenai dirinya. Benra,   tatkala urwah sedang bertakbir dan shalat,  operasipun dilakukan, beliau   tidak bergerak  sedikitpun dan amputasi itu  pun berhasil dengan baik." Allahu Akbar".  Itulah buah iman yang sungguh-sungguh kepada qadha dan qadar.
     
    "Dan tidak akan diberikan sifat itu  kecuali kepada oarang-orang yang sabar dan tidak  diberikan melainkan  kepada orang yang mempunyai kebahagiaan." (Fushilat:  35)
     
     

           3.Faham Ilmu Syariat

    Para   ulama yang mengenal Allah, merekalah orang-orang  yang berbahagia.   Mereka tidak memikirkan kecuali tentang berbagai ilmu yang  diberikan   Allah padanya.
     
             
      Adalah abu Al hasan Az Zahid, karena keberaniannya  menentang penguasa   zhalim Mesir di masanya, Ahmad Toulun maka ia  dimasukkan ke dalam   kerangkeng singa. Seketika, singa yang lapar itu meraung  dan mendekat.   Abu Al Hasan tetap tenang duduk, tidak bergerak dan tidak mempedulikan.   Orang-orang yang menyaksikan sudah tampak tegang. Ada yang  ketakutan   karena pemandangan yang amat mengerikan bahkan ada yang sampai menangis.    Singa itu maju mundur mendekatinya, kadang meraung lalu diam. Sesudah   itu, ia mengangguk-anggukkan kepalanya, mendekat kepada Abul Hasan lalu   menciumnya dan pergi tanpa berbuat apa-apa.  Orang-orangpun spontan   berteriak dengan takbir dan tahlil.
     
     
    Apa yang lebih hebat dari itu? tatkala Ibnu Toulon  bertanya kepada   Abu Al Hasan tentang apa yang ada di dalam benaknya ketika itu  ia   menjawab: "Aku berfikri tentang air liur singa  tersebut, seandainya mengenaiku. Apakah najis atau tidak?"  Apa kamu tidak takut kepada singa?, tanya Ibnu Toulon. Tidak, karena sesungguhnya Allah melindungiku." Inilah   kebahagiaan  yang nyata, yang dihasilkan oleh iman dan ilmu yang   bermanfaat. Inilah kelapangan yang selalu diburu oleh setiap manusia.

     
           4.Banyak Dzikir dan membaca  Al Qur'an


    Allah berfirman: "Ketahuilah  dengan dzikir kepada Allah akan tenanglah hati."   (Ar Ra'd:  28). Orang yang selalu  dzikir dan ingat kepada Allah akan   bahagia dan  tenang hatinya. Sedangkan orang yang berpaling dari ingat    kepada Allah  maka ia akan hidup dalam kesusahan dan kesedihan. "Dan   siapa saja yang berpaling dari ingat  kepada Tuhan  (Allah) yang   Pemuarah niscaya kami tentukan bagtinya setan maka jadilah ia  teman   yang tidak terpisah baginya."  (Az Zukhruf: 36) "Dan   siapa saja yang berpaling dari  dzikir (ingat) kepada Aku maka adalah   baginya penghidupan yang sempti dan  kami akan kumpulkan dia pada hari   Kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 124)  "Maka   kecelakaan bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah Mereka    itu dalam kesesatan yang  nyata." (Az Zumar: 220

     
           5.Dalam Al Qur'an banyak ditemukan  ayat-ayat yang membicarakan kedudukan hati yang lapang, di antaranya:

    "Tuhanku, lapangkanlahn  dadaku." (Thaha: 25) "Bukankah  Akuy telah lapangkan bagimu dadamu?" (Al Insyirah: 1) "Siapa saja yang Allah menghendaki akan memberikan padanya  hidayah, niscaya Allah akan lapangkan dadanya untuk menerim islam."  (Al An'am: 125) "Maka   apakah yang Allah lapangkan  dadanya untuk memeluk islam yaitu orang   yang berjalan atas nur dari  Tuhannya sama dengan yang beku hatinya?"
     

      Kelapangan dada dan mencarinya termasuk tanda-tanda  kebahagiaan dan sifart orang-orang yang berbahagia.
     
     

           6.Berbuat Baik kepada Manusia

      Ini adalah fakta. Orang yang suka berbuat baik  kepada manusia dialah   orang yang paling berbahagia, serta yang paling  diterima hidupnya di   atas bumi.

     
          7.Memandang urusan dunia lebih rendah  daripada urusan Akherat.

    Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda: "Lihatlah orang-orang yang di bawah kamu dan janganlah kamu  melihat kepada orang yang lebih tinggi darai  kamu. Maka hal itu akan lebih pasti untuk meremehkan nikmat Allah."    (HR.Muslim). Ini adalah dalam urusan keduniaan, karena bila kita ingat   ada  orang yang lebih rendah dari kita maka kita akan mengetahui betapa   besar nikmat  Allah yang diberikan kepada kita. Adapun dalam urusan   akherat, maka hendaknya  kita melihat kepada orang-orang yang lebih   tinggi dari kita, agar kita sadar  akan kelemahan dan kekutangan kita.   Jangan kita melihat orang yang hancur dan  sebab-sebab kehancurannya,   tetapi lihatlah orang yang selamat, dan bagaimana keselamatan  itu   diraih.
     

             8.Tidak tamak dunia dan selalu siap mati.

    Syaikh Abdurrhaman As Sa'di rahimahullah pernah  berkata: "Hidup itu pendek, oleh karena itu  janganlah dipendekkan lagi dengan lamunan dan  perbuatan dosa."
     

      Benar, bahwa hidup ini sangatlah pendek, oleh karena  itu kita harus   tidak menemabah kependekan itu ini  dengan kebencian,  angan-angan yang   jahat dan perbuatan dosa.

     
           9.Yakin kebahagiaan hakiki bagi seorang  mukmin adalah di akherat, walaupun di dunia tidak bahagia.

    Allah berfirman: "Adapun    orang-orang yang berbahagia maka dalam SurgaKu lah mereka, keadaan   mereka kekal padanya  selama langit dan bumi dikehendaki oleh Tuhanmu   sebagai suatu pemberian yang  tidak putus." (Hud:108). Rasul Saw.   bersabda: "Dunia ini penjara bagi  mukmin dan Surga bagi orang kafir."   Tentanng hadits ini  ada kisah menarik dari Ibnu Hajar Al Asqalani.   Suatu ketika beliau yang  tampak berseri-seri dicegat oleh seorang   Yahudi yang sedang dilanda kesedihan hebat. Orang Yahudi itu bertanya: "Bagimana anda menafsirkan ucapan  Rasul Saw. "Dunia ini penjara bagi orang  mukmin dan Surga bagi orang kafir? Kini anda tahu, aku dalam keadaan sedih, sedangkan aku kafir dan anda dalam keadaan bahagia,  sedangkan anda mukmin?". Ibnu Hajar menjawab: "Anda dengan kesedihan dan kemiskinan termasuk berada dalam  Surga dibandingkan akheratmu yang  penuh dengan siksa yang pedih (kalau kamu nanti mati dalam keadaan kafir).  Sedangkan aku (seandainya Allah  memasukkan aku ke dalam Surga) maka dengan kesenangan dunia ini termasuk  penjara dibandingkan dengan kenikmatan yang sedang menungguku  di Surga." Orang Yahudi itu menjawab: "Apakah demikian?" Ibnu Hajar menjawab: "Ya." Maka orang itu pun menyatakan: "Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah  kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan  Allah."

     
          10.Bersabahat dengan Orang Shaleh

    Pengaruh kawan sungguh sangat besar. Karena itu Nabi  Saw. bersabda: "Perumpamaan teman yang baik dengan   teman yang buruk adalah laksana pembawa minyak dan pekerja pandai besi.  (Muttafaq Alaih)
     
     

          11.Yakin perbuatan jahat orang lain akan  menjadi kebaikan bagi dirinya maka maafkanlah dia.

      Ibrahim Ataimi berkata: "Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendzhalimiku maka aku  mengasihinya." Diriwayatkan ada beberapa ulama dan juga  banyak orang yang berbuat jahat kepada Ibnu Taimiyah, sehingga  beliau dipejarakan di iskandariyah. Setelah  keluar dari penjara ada yang bertanya, adakah kamu ingin membalas  orang yang berbuat jahat padamu? Beliau  menjawab, aku bebaskan siapa saja yang telah berbuat zhalim kepadaku   dan aku maafkan. Ibnu Taimiyah telah membebaskan semuanya  karena   beliau tahu hal itu akan membuatnya bahagia di dunia dan akherat.
     

      Seorang salaf mendengar ada seorang yang ghibah atas  dirinya. Maka   orang salaf tadi memilih suatu hadiah yang menarik. Pergilah ia  kepada   orang yang berbuat ghibah itu dan diberikannya hadiah tadi. Ketika    ditanya tentang sebab pemberian hadiah itu, ia menjawab, Rasulullah   Saw.  bersabda: "Siapa saja yang berbuat  kebajikan atasmu maka berilah dia imbalan.  Sesungguhnya anda telah memberikan hadiah kepadaku dari kebajikanmu sedangkan aku tidak punya kebajikan yang dapat aku  berikan padamu kecuali kebaikan dunia. "Maha Suci  Allah.
     
     

          12.Berbicara baik, hapuslah perbuatan  buruk dengan berbuat kebajikan.

      "Dan tidak sama antara kebajikan dan keburukan.  Tolaklah keburukan itu dengan sesuatu yang lebih baik."  Coba renungkan wahai saudaraku, pengarahan Tuhan yang agung kepada aorang yang  beriman: "Dan tatkala mereka lewat di hadapan  permainandia lewat dengan penuh kemuliaan." (Al Furqan:  72)
     
     

          13.Selalu Kembali kepada Allah dan  Berdo'a kepadaNya

    Rasul Saw. telah meneladankan semua itu di antaranya  beliau berdo'a: "Ya Allah perbaikilah aku dalam  beragama karena dengan agama itu menjadi ishmah bagi segala urusanku, perbaikilah pula duniaku yang merupakan penghidupanku. Perbaiki pula akheratku yang akan menjadi  tempat kembaliku, jadikanlah hidup ini tambahan bagiku dengan berbagai kebaikan serta jadikanlah  kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala keburukan." (HR. Muslim, 17/40). Beliau  juga senantiasa berdo'a: "Ya Allah rahmatMu aku harapkan.  Janganlan   Engkau tanggungkan  (kehidupan ini) kepada diriku sendiri, meski hanya sejenak, dan perbaikilah  seluruh keadaanku semuanya, tidak ada Tuhan yang  berhak disembah kecuali Engkau."
     
     
    Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan    angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala   urusan  kita kembalikan.
     
      Wallahu A'lam.

     
    « Last Edit: 19 October, 2010, 09:43:08 AM by Ummi Munaliza »

    Reply #17 09 August, 2009, 12:23:51 PM
  • Publish
  • Rumusan saya, hanya ada satu sahaj jalan bahagia:

    satelah tuan cerita segalanya itu, maka hidupkanlah hati , hidupkanlah nyawa, hidupkanlah sendi sendi, dengan mengingati Allah, bahagianya jiika senantiasa Ingat Allah, tak dapat di sngkal, trylah tarik nafas, allahu, lepas nafas, allahu, tahan nafas allaahu, Ingat Allahu, ingat siapa/ awaludin makrifatulloh, ingat, se ingat aku, .............. Ingat ya, Ingat


    Reply #18 09 August, 2009, 12:27:25 PM
  • Publish
  • Rumusan saya, hanya ada satu sahaj jalan bahagia:

    satelah tuan cerita segalanya itu, maka hidupkanlah hati , hidupkanlah nyawa, hidupkanlah sendi sendi, dengan mengingati Allah, bahagianya jiika senantiasa Ingat Allah, tak dapat di sngkal, trylah tarik nafas, allahu, lepas nafas, allahu, tahan nafas allaahu, Ingat Allahu, ingat siapa/ awaludin makrifatulloh, ingat, se ingat aku, .............. Ingat ya, Ingat




    Ya Encik Dol.. sy ingat.. Terima kasih..Semua dalam kekuasaanNya.. Semua dengan izinNya..

    Reply #19 09 August, 2009, 12:46:21 PM
  • Publish
  • em...
    sesungguhnya manusia tak akan mendapatkan kebahagiaan hakiki jika tidak mengingati Allah. Hanya Allah kunci kebahagiaan kita. tanpa Allah manusia tidak akan mampu menecapi kebahagiaan kerana sesungguhnya setiap apa yang berlaku adalah dengan izin Nya...
    semoga hati ini sentiasa mengingati Allah dan menyayangi Nya...Amin.
    Berkhidmat untuk Allah,Negara dan Bangsa!!!Allahuakbar!!!

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    7 Replies
    2798 Views
    Last post 27 May, 2013, 10:54:38 PM
    by afiQoh
    Tebus Kebahagiaan

    Started by Tania « 1 2 3 » Munakahat

    44 Replies
    6544 Views
    Last post 30 November, 2010, 08:42:55 AM
    by hafizul_84
    2 Replies
    569 Views
    Last post 25 March, 2012, 05:33:28 PM
    by qalamm