Kerusakan Nashiruddin al-Albani

Author Topic: Kerusakan Nashiruddin al-Albani  (Read 16586 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

mooks

  • *
  • Posts: 801
    • View Profile
25 February, 2009, 11:36:58 AM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Banyak dari Halaqin yang memberi hujjah dalam membela ideology mereka dengan mendaifkan berbagai hadis...sayangnya, mereka ini bukanlah ahli hadis, akan tetapi hanya merujuk kepada salah satu orang yang sangat kontroversi dan pembuat fitnah, yaitu Nashiruddin al-Albani...Perkara ini tidak hanya berlaku di kalangan Halaqin, akan tetapi orang awam yang senang dan suka mendalami Islam dan cuba untuk mempelajarinya tanpa guru, atau dengan guru tapi ternyata guru mereka adalah orang2 yang tidak menemukan kebenaran dalam ilmu hadis...Sebenarnya bukanlah salah mereka...bagi ana, ini adalah salah dari seseorang yang penuh kontroversi ini...

    Oleh karena itu, ada sahabat ana yang meminta ana mengulas tentang siapa sebenarnya Nashiruddin al-Albani...beliau meminta ana tunjukkan di mana kelemahan al-Albani dan kekontroversinya al-Albani yang sampai banyak Ulama Ahli Sunnah wa al-Jama'ah banyak menolaknya...

    Pada waktu ana menerima permintaan ini, ana tidak merasa terbeban oleh sebuah tugas atau amanah yang berat, kerana, senior ana seperjuangan di Jawa Timur telah pun menulis secara ringkas kerusakan al-Albani...ana menukil tulisannya dan merubah sedikit settings dan bahasa yang digunakan tanpa merubah bahan dan isi primernya...

    Di keranakan tulisan ini adalah tulisan ringkas, maka pembaca dapat merujuk kepada banyak kitab2 yang menguak berbagai kerusakan dan kebohongan al-Albani seperti kitab Tanaqud al-Albani karangan al-Saqqaf...

    Sebelum anta semua mulai membaca, saya harap sekali anta2 untuk bersihkan dulu hati dari ideology2 yang tidak ilmiah, dan buka minda secara rasional dan menerimanya secara ilmiah.

    Harap saudara pembaca dapat menerimanya dan memberi tanggapan atau pertanyaan kalau ada yang musykil...kalau ada yang tak terima, silalah memberi hujjah, tapi masih dalam pembahasan al-Albani, tidak lain darinya...

    Nashiruddin al-Albani banyak memiliki pandangan-pandangan kontroversial (syadz) dan keluar dari al-Qur'an dan sunnah, sehingga tak jarang menuai kritikan tajam dari para  ulama termasuk dari kalangan Wahhabi sendiri. Kritikan-kritikan tersebut adalah sebagai berikut:

    a) al-Albani dan Sayyidina Utsman  :
    Sebagaimana telah dimaklumi oleh kaum muslimin, bahwa pada zaman Rasulullah , Sayyidina Abu Bakar  dan Umar , azan untuk solat Jumaat hanya dilakukan satu kali yaitu ketika khatib naik ke atas mimbar. Pada masa Sayyidina Usman , populasi penduduk semakin meningkat, rumah-rumah baru banyak yang dibangun dan jauh dari masjid. Untuk memudahkan mereka dalam menghadiri solat Jumaat agar tidak terlambat, beliau memerintahkan agar azan dilakukan dua kali. Azan ini disepakati oleh seluruh sahabat yang hadir pada saat itu. Para ulama menamai azan sayyidina Usman  ini dengan Sunah yang harus diikuti kerana beliau termasuk khulafaur raysidin.

    Tetapi al-Albani dalam kitabnya al-Ajwibah al-Nafi'ah, menilai azan sayyidina Utsman  ini sebagai bid'ah yang tidak boleh dilakukan.Tentu saja, pendapat aneh al-Albani yang controversial ini mendapatkan serangan tajam dari kalangan ulama termasuk dari sesama Wahhabi. Dengan pandangannya ini, berarti al-Albani menganggap seluruh sahabat dan ulama salaf yang saleh yang telah menyetujui azan sayidina Utsman  sebagai ahli bid'ah. Bahkan Ulama Wahhabi yaitu al-'Utsaiminin sendiri, sangat marah al-Albani, sehingga dalam salah satu kitabnya menyinggung al-Albani dengan sangat keras dan menilainya  tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali:  "ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم." “ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid'ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak di tentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani). Beliau (Utsman R.A) termasuk  Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”. Lihat: al-‘Utsaimin, Syarh al-'Aqidah al- Wasîthiyyah (Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) Pg. 638.

    Pernyataan al-‘Utsamin yang menilai al-Albani, "tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali", menunjukkan bahwa al-Albani adalah bukanlah seorang yang ahli hadis bahkan bukan dari golongan ulama yang alim. Golongan Wahabbi sendiri menetapkan hal itu.

    b) Mengkafirkan al-Imam al-Bukhari:
    al-Albani yang suka membuat ulah ini, pernah mengeluarkan fatwa yang isinya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari, kerana dalam Kitab Shahih al-Bukhari beliau melakukan ta'wil terhadap ayat 88 surah al-Qashash “كل شيء هالك إلا وجهه أى إلا ملكه”, "tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah". (al-Qashash: 88)". “Maksud `illa wajhah, adalah `illa mulkahu (kecuali kerajaan-Nya)” (Shahih al-Bukhari).

    Ketika ditanya tentang penakwilan seperti dalam Shahih al-Bukhari tersebut, al-Albani mengatakan: “هذا لا يقوله مسلم مؤمن”, “penakwilan seperti ini tidak akan dikatakan oleh seorang muslim yang beriman” (fatawa al-Albani, Pg. 523).

    Dengan fatwanya ini, secara halus al-Albani berarti telah menilai al-Imam al-Bukhari kafir, tidak Islam dan tidak beriman. Tentu saja kita akan menyakini bahwa al-Iman al-Bukhari lebih mengetahui terhadap penafsiran al-Qur’an dan sunnah daripada al-Albani.

    c) Membongkar Kubah Hijau:
    Dalam kitabnya yang berjudul, Tahdzir al-Sajid min Iitikhadz al-Qubur Masajid muka surat 68, al-Albani mengajak kaum muslimin untuk membongkar al-qubbah al-khadra' (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah SAW) dan mengajak mengeluarkan makam Rasulullah SAW dan makam sayyidina Abu Bakar dan sayyidina Umar ke lokasi luar masjid Nabawi. al-Albani menganggap posisi makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat tercinta beliau, yang berada dalam lokasi Masjid Nabawi itu, sebagai sebuah fenomena penyembahan berhala (zhahirah watsaniyyah)- na'udzu billah min dzalik.

    Tentu saja, ajakan al-Albani ini sebagai indikasi kebenciannya yang mendalam kepada Rasulullah SAW. Dengan pandangannya ini, berarti al-Albani telah menyalahkan dan menilai sesat seluruh umat Islam sejak generasi salaf yang saleh, yang telah membiarkan dan menganggap baik posisi makam Rasulullah SAW dan makam kedua sahabat beliau tercinta ini dalam lokasi Masjid Nabawi. Sementara para ulama telah bersepakat, bahwa orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang isinya mengandung penilaian sesat terhadap seluruh umat, maka hukumnya adalah kafir. Dalam hal ini, al-Hafiz al-Qadhi ‘Iyadl, al-Hafiz al-Nawawi dan al-Hafiz Ibn Hajar mengatakan: “وَكَذَا نَقْطَع بِكُفْرِ كُلّ مَنْ قَالَ قَوْلًا يُتَوَصَّل بِهِ إِلَى تَضْلِيل الْأُمَّة أَوْ تَكْفِير الصَّحَابَة”, “demikian pula kita memastikan kekafiran setiap orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang isinya mengandung penilain sesat terhadap seluruh umat atau pengkafiran terhadap sahabat”. (al-Hafizh al- Qadhi Iyadh, al-syifa vol. 2 Pg. 236; al-Hafizh al-Nawawi, Raudhat al-Thalibin vol. 8 Pg. 384; al-Hafizh Ibn Hajar, Fath al-Bari vol. 12 Pg. 300).

    d) al-Albani dan kepentingan Yahudi:
    Suatu saat al-Albani mengelurkan fatwa yang isinya bahwa berkunjung kepada kelurga dan sanak saudara pada saat hari raya termasuk bid'ah yang harus dijauhui. Di saat yang lain al-Albani mengeluarkan fatwa yang isinya mengharuskan warga muslim Palestina agar keluar dari negeri mereka dan mengosongkan tanah Palestina untuk orang-orang Yahudi. Dalam hal ini al-Albani mengatakan: “إن على الفلسطينيين أن يغادروا بلادهم ويخرجوا إلى بلاد أخرى وإن كل من بقي في فلسطين منهم كافر[/u]”, “Warga muslim Palestina harus meniggalkan negerinya ke negara lain. Semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir” (Fatawa al-Albani, yang dihimpun oleh Ukasyah Abd al-Manan, Pg. 18).

    Fatwa al-Albani yang kontroversial ini akhirnya meyulut reaksi keras dari berbagai kalangan melalui berbagai media massa di Timur Tengah. Sebagian pakar menganggap fatwa al-Albani membuktikan bahwa logika yang dipakai oleh al-Albani adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, kerana fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang Yahudi yang berambisi menguasai Palestina. Mereka menilai fatwa al-Albani ini menyalahi sunnah dan sampai tingkatan pikun bahkan Dr. Ali al-Fuqayyir, anggota dewan perwakilan rakyat Jordan menilai, bahwa fatwa ini keluar dari syaitan. Tentu saja fatwa al-Albani menjadi bukti kebenaran pernyataan al-'Utsaimin, bahwa al-Albani memang tidak memiliki ilmu pengetahuan sama sekali.

    e) Fatwa-Fatwa al-Albani:
    al-Albani tidak jarang mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial yang keluar dari al-Qur'an, Sunnah dan Ijmak kaum muslimin. Di antara fatwa-fatwanya yang dinilai controversial oleh para Ulama:
    1.   Mangharamkan memakai cincin, gelang dan kalung emas bagi kaum wanita.
    2.   Mengharamkan berwudhu dengan air yang lebih dari satu mud (sekitar satu liter) dan mengharamkan mandi dengan air yang lebih dari lima mud (sekitar tiga litur). Tetapi fatwa ini dilanggarnya sendiri. al-Albani pernah berwudhu di Masjid Damaskus dengan menghabiskan air  yang tidak kurang dari 10 mud (sekitar 6 liter).
    3.   Mengharamkan solat malam melebihi 11 rakaat.
    4.   Mengharamkan memakai tasbih (penghitung) untuk berdzikir.
    5.   Melarang solat tarawih melibihi 11raka'at.

    f) al-Albani dan Hadis:
    Dewasa ini tidak sedikit di antara pelajar Ahlussunah Wal-Jama'ah yang tertipu dengan karya-karya al-Albani dalam bidang ilmu hadis, kerana belum mengetahui siapa sebenarnya al-Albani itu. Pada mulanya, al-Albani adalah seorang tukang jam. Ia memiliki kegemaran membaca buku. Dari kegemaran ini, ia curahkan untuk mendalami ilmu hadis dan ilmu agama yang lain kepada para Ulama, sebagaimana yang menjadi tradisi Ulama salaf dan ahli hadis. Oleh kerana itu al-Albani tidak memiliki sanad hadis yang muktabar, kemudian ia mengaku sebagai pengikut salaf, padahal memiliki akidah yang berbeda dengan mereka, yaitu akidah Wahhabi dan tajsim.

    Oleh kerana akidah al-Albani yang berbeda dengan akidah ulama ahli hadis dan kaum muslimin, maka hadis-hadis yang menjadi hasil kajiannya sering bertentangan dengan pandangan ulama ahli hadis. Tidak jarang al-Albani menilai da'if dan maudhu' terhadap hadis-hasis yang disepakati keshahihanya oleh para hafiz, hanya dikeranakan hadis tersebut berkaitan dengan dengan dalil tawassul. Salah satu contoh misalnya, dalam kitabnya al-Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu (Beirut: Maktab Islami, Pg. 128) al-Albani menda'ifkan hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh al-Darimi dalam al-Sunan-nya, dengan alasan dalam sanad hadis tersebut terdapat perawi yang bernama Sa'id bin Zaid, saudara Hammad bin Salamah. Padahal dalam kitabnya yang lain, al-Albani sendiri telah menilai Sa'id bin Zaid ini sebagai perawi yang hasan dan jayyid hadisnya yaitu dalam kitabnya Irwa' al-Ghalil, vol. 5 Pg. 338. Al-Albani mengatakan tentang hadis yang dalam sanadnya terdapat Sa'id bin Zaid, “Aku berkata, ini sanad yang hasan, semua perawinya dapat dipercaya, sedangkan perawi Sa'id bin Zaid yaitu saudara Hammad, ada pembicaraan yang tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan. Dan ibn al-Qayyim mengatakan dalam al-Furusiyyah bahwa ini hadis yang sanadnya jayyid”.

    Contoh-contoh kecurangan dan kebohongan dalam menilai hadis tidak jarang dilakukan oleh al-Albani kerana kepentingan aliran Wahhabi yang dianutnya. Di antara ulama Islam yang mengkritik al-Albani adalah al-Imam al-Jalil Muhammad Yasin al-Fadani penulis kitab al-Durr al-Mandhuh Syarh sunan Abi Dawud dan Fath al-Allam Syarh Bulugh al-Maram; al-Hafiz Abdullah al-Ghummari dari Maroko; al-Hafizh Abdul Aziz al-Ghumari dari Maroko; al-Muhaddits Mahmud Sa’id Mamduh dari mesir pengarang kitab Raf'u al-Manarah li-takhrij Ahadis al-Tawassul wa al-Ziyarah; al-Muhaddits Habiburrahman al-A'zhami dari India; Syaikh Muhammad bin Ismail al-Anshari seorang peniliti komisi tetap fatwa Wahhabi Saudi Arabia; Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Khazraji, menteri agama dan wakaf Uni Emirat Arab; Syaikh Badruddin Hasan Dayyab dari Damaskus; Syaikh Muhamad Arif al-Juwaijati; Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf dari Jordan; al-Imam al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dari Mekah; Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dari Najd yang menyatakan bahwa al-Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali; dan lain-lain. Masing-masing Ulama tersebut telah mengarang bantahan terhadap al-Albani.

    Tulisan Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf yang berjudul Tanaqudl al-Albani al-Wadhihat merupakan kitab yang menarik dan mendalam dalam mengungkapkan kesalahan fatal al-Albani tersebut. Beliau mencatat seribu lima ratus (1500) kesalahan yang dilakukan al-Albani lengkap dengan data dan faktanya. Bahkan menurut penelitian ilmiah beliau, ada tujuh ribu (7000) kesalahan fatal dalam buku-buku yang ditulis al-Albani. Dengan demikian, apabila mayoritas ulama sudah menegaskan penolakan tersebut, berarti Nashiruddin al-Albani itu memang tidak layak untuk diikuti dan dijadikan panutan.

    Jadi apakah kita sebagai orang yang lemah di dalam pengetahuan hadis ingin mendifkan hadis hanya kerana disebut oleh penfitnah hadis terbesar zaman sekarang?? Nasihat ana kepada sekalian halaqin, lebih baiklah kita berpegangan kepada majority umat Islam, kerana Majority tidak akan jatuh di dalam kesesatan....Ana berharap saudara2 sebarkanlah makalah pendek ini agar tidak terjadi kesalahan di dalam menilai sebuah hadis yang hanya merujukkan pada Mukhrij al-Fitnah fi al-Sunnah Nashiruddin al-Albani.

    Semoga Allah menyelamatkan kita dari kursi yang terbuat dari api neraka.. :aamiin:

     :ws:
    « Last Edit: 25 February, 2009, 11:40:13 AM by mooks »

    ليس الفتى يقول هو أبي لكن الفتى يقول هذا أنا

    Reading to live - Flaubert ..... Say No to Intellectual Barbarism!
    ---Raden Kiai Mooksy---

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14528
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Jawab #1 25 February, 2009, 06:05:03 PM
  • Publish Di FB

  • Terima kasih mooks kerana mendedahkan kebohongan dan fitnah al-Albani di dalam ilmu hadith.

    Semoga kita tidak tersalah lagi dalam menjadikan hadith al-Albani sebagai panduan dan rujukan.
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14528
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Jawab #2 25 February, 2009, 07:54:12 PM
  • Publish Di FB
  • Imam Bukhari menyusun beberapa kitab (beberapa diantaranya adalah kumpulan hadis) antara lain:
    1.   Al-Jamiush Sahih, iaitu kitab hadis yang tersahih di antara kitab hadis lainnya, yang dikenal dengan Kitab Sahih Bukhari
    2.   Al-Adabul Mufrad
    3.   Raf'ul Yadain Fish-Shalah
    4.   Al-Qira'ah Khalfal-Iman
    5.   Birrul Walidai
    6.   At-Tarikh Al-Kabir
    7.   At-Tarikh Al-Ausath
    8.   At-Tarikh Ash-Shagir
    9.   Khalqu Af'alil Ibad
    10.  Ad-Dlu'afa (hadis-hadis lemah)
    11.  Al-Jami' Al-Kabir
    12.  Al-Musnad Al-Kabir
    13.  At-Tafsir Al-Kabir
    14.  Kitabul Asyribah
    15.  Kitabul Hibah
    16.  Asami Ash-Shahabah (nama-nama sahabat), dan lain-lain

    Khusus untuk Kitab Al-Jamiush Sahih (Kitab Sahih Bukhari ), seluruh hadis yang termuat di dalamnya sebanyak 7,275 hadis adalah hadis-hadis sahih yang telah tetap dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Bahkan semua Mu'allaqat dalam Sahih Bukhari dinyatakan sahih oleh para ulama ahlul hadis. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah mengatakan : " Para ulama telah sepakat menerimanya (yakni Sahihul Bukhari) dan menerima kesahihan apa-apa yang ada di dalamnya, demikian pula seluruh Ahlul-Islam".

    Sedangkan kitab Al-Adabul Mufrad, adalah salah satu kitab hadis yang juga disusun oleh Imam Bukhari diluar Kitab Al-Jamiush Sahih. Hadis-hadis yang tercantum di Kitab Al-Adabul Mufrad pada umumnya, tidak tercantum di Kitab Sahih Bukhari. Nah kitab inilah ( Kitab Al-Adabul Mufrad ) yang ditakhrij oleh Syeikh Nasiruddin Al-Albani yang kemudian beliau tuangkan dalam Kitab beliau : " Sahih Al-Adabul Mufrad ".

    Jadi beliau (Syeikh Al-Albani) tidak mendhaifkan hadis yang tercantum dalam Kitab Shahih Bukhari, tetapi yang tercantum di Kitab Al-Adabul Mufrad. Jadi harus dibezakan antara Kitab Sahih Bukhari dan Kitab Al-Adabul Mufrad. Kalau ada yang keliru dengan tulisan di atas, mohon ikhwan yang lain mampu mengoreksinya. Wallahu'alam.

    Sumber:
    Dari artikel asal berjudul Kealiman Imam Bukhari Rahimahullah melalui laman web Indonesia, http://www.ikhwan-interaktif.com



    Mooks...ini macamana?
    « Last Edit: 09 March, 2009, 07:16:15 AM by Munaliza Ismail »

    mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #3 25 February, 2009, 11:39:06 PM
  • Publish Di FB
  • Siapa kata?? buktinya takwil "{ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ }
    إِلَّا مُلْكَهُ" berada di dalam kitab Sahih al-Bukhari atau al-Jami' al-Shahih...al-Albani malah menolaknya??? Masalah al- Adab al-Mufrad ana sudah membacanya sebagian darinya, juga diterangkan oleh guru ana yang ahli hadis, bahwa ia tetap status sahih akan tetapi tidak sampai derajat sahih yang terdapat di al-Jami' al-Shahih...Sila rujuk VCD debat antara NU vs Mahrus Ali al-Wahhabi..

    kalau saudara membaca kitan Tanaqudl al-Bani, malah tertulis banyak hadis yang ditolak adalah bukhari yang terdapat di dalam al-Jami' al-Shahih...atau baca saja al-Silsilah al-Dla'ifah.....Yang benar sudah jelas, yang salah juga sangat jelas...

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #4 26 February, 2009, 05:58:48 AM
  • Publish Di FB
  • Xpernah jumpa la plak kalo ada ulama syadid lagi dari Imam Bukhari...

    perlu rujuk dan bukak mu3jam huruf lagi pasal kullu tuh...banyak cerita tentangnya...

    :D

    ~Iza Ata Al-Habib Bi Zanbin Wahid Fa Jaat Mahasinuhu Bi Alfin Syafi3~

    Apabila datang kekasih dengan satu dosa, maka datang seribu kebaikannya memadamkannya

    ~Kullu Kalamin YUkhazu Wa Yuraddu Illa Sohibul Qaul~

    Setiap pendapat diterima dan ditolak melainkan tuan punya kalam(Nabi saW)

    ~Sesiapa yang berijtihad dan betul maka baginya 2 pahala, jika dia berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala~

    ~Yakinlah khilaf itu semulajadi~

    Sesungguhnya Allah itu tidak memberatkan hambanya dan yakinilah khilaf itu membawa Rahmat.

    Salam :D
    Saya meminta maaf sekiranya terkasar bahasa sepanjang saya bersama Halaqian. Kini saya sudah berhenti menjadi Halaqians. Selamat maju jaya. Selamat menuntut ilmu dengan manhaj yang sahih.Tolong delete ID saya.

    mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #5 26 February, 2009, 06:36:04 AM
  • Publish Di FB
  • Xpernah jumpa la plak kalo ada ulama syadid lagi dari Imam Bukhari...

    perlu rujuk dan bukak mu3jam huruf lagi pasal kullu tuh...banyak cerita tentangnya...

    :D

    ~Iza Ata Al-Habib Bi Zanbin Wahid Fa Jaat Mahasinuhu Bi Alfin Syafi3~

    Apabila datang kekasih dengan satu dosa, maka datang seribu kebaikannya memadamkannya

    ~Kullu Kalamin YUkhazu Wa Yuraddu Illa Sohibul Qaul~

    Setiap pendapat diterima dan ditolak melainkan tuan punya kalam(Nabi saW)

    ~Sesiapa yang berijtihad dan betul maka baginya 2 pahala, jika dia berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala~

    ~Yakinlah khilaf itu semulajadi~

    Sesungguhnya Allah itu tidak memberatkan hambanya dan yakinilah khilaf itu membawa Rahmat.

    Salam :D

    So what is your point?? afwan laa akhi, ana la afhamu...

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1294
      • View Profile
    Jawab #6 26 February, 2009, 10:34:08 AM
  • Publish Di FB
  • Sekiranya pernyataan saudara fikri di atas berkaitan dengan sheikh albani maka, saya berpendapat begini :

    Masalah yang berkaitan dengan hadith bukan masalah kecik tuan, ini berkaitan dengan sunnah rasuluLlah. Di sana ada kriteria-kriteria perawi hadith bahkan ia patut dicontohi oleh mereka yang ingin berkecimpung di dalam mentakrijkan hadith, mentarjih hadith, meriwayatkan hadith. Antaranya perlu ada sanadnya - demi menjaga kemurnian hadith tersebut, mempelajari hadith dari ulamak-ulamak hadith (bukan belajar dengan buku sahaja).

    Ada golongan yang tidak mahu mengambil hadith dhoief kerana menyamakannya dengan maudhuk (ini lagi besar kesalahannya). Tetapi bagaimana pula apabila mengambil hadith dari orang yang telah membuat kesilapan dalam perkara hadith dan tambahan pula dalam feqh juga. Kritikan yang diberikan bukan bermakna menghina kepada sheikh albani. Tetapi kita disuruh untuk selidik dan menyampaikan mana-mana yang tersilap agar boleh dijadikan panduan dan berhati-hati. Urusan agama perlu diserahkan kepada ahlinya.

    Silakan jika anda ingin terus menggunakan sheikh albani sebagai tempat rujukan walaupun setelah didedahkan kesilapannya. (ingat bukan seorang sahaja yang mendedahkan kesalahan sheikh albani seperti sheikh as saqqaf, tetapi juga muhaddith seperti sheikh siddiq al ghumari, ulamak di iraq seperti dr abdul malik abd rahman as sa'adi, sheikh mahmud saedd mamduh, dr yusof al qardhawi dan ramai lagi).

    Perkataan anda ini :

    Quote
    ~Sesiapa yang berijtihad dan betul maka baginya 2 pahala, jika dia berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala~


    Untuk mereka yang sudah mencapai taraf mujtahid. Bukan untuk mereka yang tidak mencapai taraf tersebut. Syarat-syarat menjadi mujtahid tuh banyak dan ada disiplinnya yang ketat.

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #7 28 February, 2009, 08:10:22 PM
  • Publish Di FB
  • Sekiranya pernyataan saudara fikri di atas berkaitan dengan sheikh albani maka, saya berpendapat begini :

    Masalah yang berkaitan dengan hadith bukan masalah kecik tuan, ini berkaitan dengan sunnah rasuluLlah. Di sana ada kriteria-kriteria perawi hadith bahkan ia patut dicontohi oleh mereka yang ingin berkecimpung di dalam mentakrijkan hadith, mentarjih hadith, meriwayatkan hadith. Antaranya perlu ada sanadnya - demi menjaga kemurnian hadith tersebut, mempelajari hadith dari ulamak-ulamak hadith (bukan belajar dengan buku sahaja).

    Ada golongan yang tidak mahu mengambil hadith dhoief kerana menyamakannya dengan maudhuk (ini lagi besar kesalahannya). Tetapi bagaimana pula apabila mengambil hadith dari orang yang telah membuat kesilapan dalam perkara hadith dan tambahan pula dalam feqh juga. Kritikan yang diberikan bukan bermakna menghina kepada sheikh albani. Tetapi kita disuruh untuk selidik dan menyampaikan mana-mana yang tersilap agar boleh dijadikan panduan dan berhati-hati. Urusan agama perlu diserahkan kepada ahlinya.

    Silakan jika anda ingin terus menggunakan sheikh albani sebagai tempat rujukan walaupun setelah didedahkan kesilapannya. (ingat bukan seorang sahaja yang mendedahkan kesalahan sheikh albani seperti sheikh as saqqaf, tetapi juga muhaddith seperti sheikh siddiq al ghumari, ulamak di iraq seperti dr abdul malik abd rahman as sa'adi, sheikh mahmud saedd mamduh, dr yusof al qardhawi dan ramai lagi).

    Perkataan anda ini :

    Quote
    ~Sesiapa yang berijtihad dan betul maka baginya 2 pahala, jika dia berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala~


    Untuk mereka yang sudah mencapai taraf mujtahid. Bukan untuk mereka yang tidak mencapai taraf tersebut. Syarat-syarat menjadi mujtahid tuh banyak dan ada disiplinnya yang ketat.


    terima kasih moderator kerana tolong mudahkan kerja saya.

    Sebagai pencari ilmu, tidak bagus jika kita membaca satu artikel dan menerimanya bulat2. Disarankan kita membaca ulasan pro dan kontra tentang sesuatu isu, seterusnya menjadikan kita bersikap adil dalam menerima sesuatu isu atau menghukum seseorang. Kita juga akan jadi lebih terbuka.

    Sabda Nabi kepada Saidina Ali ~Wahai Ali, janganlah kau jatuhkan hukuman melainkan selepas kau mendengar pengaduan dari kedua pihak yang bertelagah~


    purnamanila

    • *
    • Posts: 103
      • View Profile
    Jawab #8 09 March, 2009, 01:53:30 AM
  • Publish Di FB
  • :)

    Banyak dari Halaqin yang memberi hujjah dalam membela ideology mereka dengan mendaifkan berbagai hadis...sayangnya, mereka ini bukanlah ahli hadis, akan tetapi hanya merujuk kepada salah satu orang yang sangat kontroversi dan pembuat fitnah, yaitu Nashiruddin al-Albani...Perkara ini tidak hanya berlaku di kalangan Halaqin, akan tetapi orang awam yang senang dan suka mendalami Islam dan cuba untuk mempelajarinya tanpa guru, atau dengan guru tapi ternyata guru mereka adalah orang2 yang tidak menemukan kebenaran dalam ilmu hadis...Sebenarnya bukanlah salah mereka...bagi ana, ini adalah salah dari seseorang yang penuh kontroversi ini...

    Oleh karena itu, ada sahabat ana yang meminta ana mengulas tentang siapa sebenarnya Nashiruddin al-Albani...beliau meminta ana tunjukkan di mana kelemahan al-Albani dan kekontroversinya al-Albani yang sampai banyak Ulama Ahli Sunnah wa al-Jama'ah banyak menolaknya...

    Pada waktu ana menerima permintaan ini, ana tidak merasa terbeban oleh sebuah tugas atau amanah yang berat, kerana, senior ana seperjuangan di Jawa Timur telah pun menulis secara ringkas kerusakan al-Albani...ana menukil tulisannya dan merubah sedikit settings dan bahasa yang digunakan tanpa merubah bahan dan isi primernya...

    Di keranakan tulisan ini adalah tulisan ringkas, maka pembaca dapat merujuk kepada banyak kitab2 yang menguak berbagai kerusakan dan kebohongan al-Albani seperti kitab Tanaqud al-Albani karangan al-Saqqaf...

    Sebelum anta semua mulai membaca, saya harap sekali anta2 untuk bersihkan dulu hati dari ideology2 yang tidak ilmiah, dan buka minda secara rasional dan menerimanya secara ilmiah.

    Harap saudara pembaca dapat menerimanya dan memberi tanggapan atau pertanyaan kalau ada yang musykil...kalau ada yang tak terima, silalah memberi hujjah, tapi masih dalam pembahasan al-Albani, tidak lain darinya...

    Nashiruddin al-Albani banyak memiliki pandangan-pandangan kontroversial (syadz) dan keluar dari al-Qur'an dan sunnah, sehingga tak jarang menuai kritikan tajam dari para  ulama termasuk dari kalangan Wahhabi sendiri. Kritikan-kritikan tersebut adalah sebagai berikut:

    a) al-Albani dan Sayyidina Utsman  :
    Sebagaimana telah dimaklumi oleh kaum muslimin, bahwa pada zaman Rasulullah , Sayyidina Abu Bakar  dan Umar , azan untuk solat Jumaat hanya dilakukan satu kali yaitu ketika khatib naik ke atas mimbar. Pada masa Sayyidina Usman , populasi penduduk semakin meningkat, rumah-rumah baru banyak yang dibangun dan jauh dari masjid. Untuk memudahkan mereka dalam menghadiri solat Jumaat agar tidak terlambat, beliau memerintahkan agar azan dilakukan dua kali. Azan ini disepakati oleh seluruh sahabat yang hadir pada saat itu. Para ulama menamai azan sayyidina Usman  ini dengan Sunah yang harus diikuti kerana beliau termasuk khulafaur raysidin.

    Tetapi al-Albani dalam kitabnya al-Ajwibah al-Nafi'ah, menilai azan sayyidina Utsman  ini sebagai bid'ah yang tidak boleh dilakukan.Tentu saja, pendapat aneh al-Albani yang controversial ini mendapatkan serangan tajam dari kalangan ulama termasuk dari sesama Wahhabi. Dengan pandangannya ini, berarti al-Albani menganggap seluruh sahabat dan ulama salaf yang saleh yang telah menyetujui azan sayidina Utsman  sebagai ahli bid'ah. Bahkan Ulama Wahhabi yaitu al-'Utsaiminin sendiri, sangat marah al-Albani, sehingga dalam salah satu kitabnya menyinggung al-Albani dengan sangat keras dan menilainya  tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali:  "ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم." “ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid'ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak di tentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani). Beliau (Utsman R.A) termasuk  Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”. Lihat: al-‘Utsaimin, Syarh al-'Aqidah al- Wasîthiyyah (Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) Pg. 638.

    Pernyataan al-‘Utsamin yang menilai al-Albani, "tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali", menunjukkan bahwa al-Albani adalah bukanlah seorang yang ahli hadis bahkan bukan dari golongan ulama yang alim. Golongan Wahabbi sendiri menetapkan hal itu.

    b) Mengkafirkan al-Imam al-Bukhari:
    al-Albani yang suka membuat ulah ini, pernah mengeluarkan fatwa yang isinya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari, kerana dalam Kitab Shahih al-Bukhari beliau melakukan ta'wil terhadap ayat 88 surah al-Qashash “كل شيء هالك إلا وجهه أى إلا ملكه”, "tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah". (al-Qashash: 88)". “Maksud `illa wajhah, adalah `illa mulkahu (kecuali kerajaan-Nya)” (Shahih al-Bukhari).

    Ketika ditanya tentang penakwilan seperti dalam Shahih al-Bukhari tersebut, al-Albani mengatakan: “هذا لا يقوله مسلم مؤمن”, “penakwilan seperti ini tidak akan dikatakan oleh seorang muslim yang beriman” (fatawa al-Albani, Pg. 523).

    Dengan fatwanya ini, secara halus al-Albani berarti telah menilai al-Imam al-Bukhari kafir, tidak Islam dan tidak beriman. Tentu saja kita akan menyakini bahwa al-Iman al-Bukhari lebih mengetahui terhadap penafsiran al-Qur’an dan sunnah daripada al-Albani.

    c) Membongkar Kubah Hijau:
    Dalam kitabnya yang berjudul, Tahdzir al-Sajid min Iitikhadz al-Qubur Masajid muka surat 68, al-Albani mengajak kaum muslimin untuk membongkar al-qubbah al-khadra' (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah SAW) dan mengajak mengeluarkan makam Rasulullah SAW dan makam sayyidina Abu Bakar dan sayyidina Umar ke lokasi luar masjid Nabawi. al-Albani menganggap posisi makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat tercinta beliau, yang berada dalam lokasi Masjid Nabawi itu, sebagai sebuah fenomena penyembahan berhala (zhahirah watsaniyyah)- na'udzu billah min dzalik.

    Tentu saja, ajakan al-Albani ini sebagai indikasi kebenciannya yang mendalam kepada Rasulullah SAW. Dengan pandangannya ini, berarti al-Albani telah menyalahkan dan menilai sesat seluruh umat Islam sejak generasi salaf yang saleh, yang telah membiarkan dan menganggap baik posisi makam Rasulullah SAW dan makam kedua sahabat beliau tercinta ini dalam lokasi Masjid Nabawi. Sementara para ulama telah bersepakat, bahwa orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang isinya mengandung penilaian sesat terhadap seluruh umat, maka hukumnya adalah kafir. Dalam hal ini, al-Hafiz al-Qadhi ‘Iyadl, al-Hafiz al-Nawawi dan al-Hafiz Ibn Hajar mengatakan: “وَكَذَا نَقْطَع بِكُفْرِ كُلّ مَنْ قَالَ قَوْلًا يُتَوَصَّل بِهِ إِلَى تَضْلِيل الْأُمَّة أَوْ تَكْفِير الصَّحَابَة”, “demikian pula kita memastikan kekafiran setiap orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang isinya mengandung penilain sesat terhadap seluruh umat atau pengkafiran terhadap sahabat”. (al-Hafizh al- Qadhi Iyadh, al-syifa vol. 2 Pg. 236; al-Hafizh al-Nawawi, Raudhat al-Thalibin vol. 8 Pg. 384; al-Hafizh Ibn Hajar, Fath al-Bari vol. 12 Pg. 300).

    d) al-Albani dan kepentingan Yahudi:
    Suatu saat al-Albani mengelurkan fatwa yang isinya bahwa berkunjung kepada kelurga dan sanak saudara pada saat hari raya termasuk bid'ah yang harus dijauhui. Di saat yang lain al-Albani mengeluarkan fatwa yang isinya mengharuskan warga muslim Palestina agar keluar dari negeri mereka dan mengosongkan tanah Palestina untuk orang-orang Yahudi. Dalam hal ini al-Albani mengatakan: “إن على الفلسطينيين أن يغادروا بلادهم ويخرجوا إلى بلاد أخرى وإن كل من بقي في فلسطين منهم كافر[/u]”, “Warga muslim Palestina harus meniggalkan negerinya ke negara lain. Semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir” (Fatawa al-Albani, yang dihimpun oleh Ukasyah Abd al-Manan, Pg. 18).

    Fatwa al-Albani yang kontroversial ini akhirnya meyulut reaksi keras dari berbagai kalangan melalui berbagai media massa di Timur Tengah. Sebagian pakar menganggap fatwa al-Albani membuktikan bahwa logika yang dipakai oleh al-Albani adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, kerana fatwa ini sangat menguntungkan orang-orang Yahudi yang berambisi menguasai Palestina. Mereka menilai fatwa al-Albani ini menyalahi sunnah dan sampai tingkatan pikun bahkan Dr. Ali al-Fuqayyir, anggota dewan perwakilan rakyat Jordan menilai, bahwa fatwa ini keluar dari syaitan. Tentu saja fatwa al-Albani menjadi bukti kebenaran pernyataan al-'Utsaimin, bahwa al-Albani memang tidak memiliki ilmu pengetahuan sama sekali.

    e) Fatwa-Fatwa al-Albani:
    al-Albani tidak jarang mengeluarkan fatwa-fatwa kontroversial yang keluar dari al-Qur'an, Sunnah dan Ijmak kaum muslimin. Di antara fatwa-fatwanya yang dinilai controversial oleh para Ulama:
    1.   Mangharamkan memakai cincin, gelang dan kalung emas bagi kaum wanita.
    2.   Mengharamkan berwudhu dengan air yang lebih dari satu mud (sekitar satu liter) dan mengharamkan mandi dengan air yang lebih dari lima mud (sekitar tiga litur). Tetapi fatwa ini dilanggarnya sendiri. al-Albani pernah berwudhu di Masjid Damaskus dengan menghabiskan air  yang tidak kurang dari 10 mud (sekitar 6 liter).
    3.   Mengharamkan solat malam melebihi 11 rakaat.
    4.   Mengharamkan memakai tasbih (penghitung) untuk berdzikir.
    5.   Melarang solat tarawih melibihi 11raka'at.

    f) al-Albani dan Hadis:
    Dewasa ini tidak sedikit di antara pelajar Ahlussunah Wal-Jama'ah yang tertipu dengan karya-karya al-Albani dalam bidang ilmu hadis, kerana belum mengetahui siapa sebenarnya al-Albani itu. Pada mulanya, al-Albani adalah seorang tukang jam. Ia memiliki kegemaran membaca buku. Dari kegemaran ini, ia curahkan untuk mendalami ilmu hadis dan ilmu agama yang lain kepada para Ulama, sebagaimana yang menjadi tradisi Ulama salaf dan ahli hadis. Oleh kerana itu al-Albani tidak memiliki sanad hadis yang muktabar, kemudian ia mengaku sebagai pengikut salaf, padahal memiliki akidah yang berbeda dengan mereka, yaitu akidah Wahhabi dan tajsim.

    Oleh kerana akidah al-Albani yang berbeda dengan akidah ulama ahli hadis dan kaum muslimin, maka hadis-hadis yang menjadi hasil kajiannya sering bertentangan dengan pandangan ulama ahli hadis. Tidak jarang al-Albani menilai da'if dan maudhu' terhadap hadis-hasis yang disepakati keshahihanya oleh para hafiz, hanya dikeranakan hadis tersebut berkaitan dengan dengan dalil tawassul. Salah satu contoh misalnya, dalam kitabnya al-Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu (Beirut: Maktab Islami, Pg. 128) al-Albani menda'ifkan hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh al-Darimi dalam al-Sunan-nya, dengan alasan dalam sanad hadis tersebut terdapat perawi yang bernama Sa'id bin Zaid, saudara Hammad bin Salamah. Padahal dalam kitabnya yang lain, al-Albani sendiri telah menilai Sa'id bin Zaid ini sebagai perawi yang hasan dan jayyid hadisnya yaitu dalam kitabnya Irwa' al-Ghalil, vol. 5 Pg. 338. Al-Albani mengatakan tentang hadis yang dalam sanadnya terdapat Sa'id bin Zaid, “Aku berkata, ini sanad yang hasan, semua perawinya dapat dipercaya, sedangkan perawi Sa'id bin Zaid yaitu saudara Hammad, ada pembicaraan yang tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan. Dan ibn al-Qayyim mengatakan dalam al-Furusiyyah bahwa ini hadis yang sanadnya jayyid”.

    Contoh-contoh kecurangan dan kebohongan dalam menilai hadis tidak jarang dilakukan oleh al-Albani kerana kepentingan aliran Wahhabi yang dianutnya. Di antara ulama Islam yang mengkritik al-Albani adalah al-Imam al-Jalil Muhammad Yasin al-Fadani penulis kitab al-Durr al-Mandhuh Syarh sunan Abi Dawud dan Fath al-Allam Syarh Bulugh al-Maram; al-Hafiz Abdullah al-Ghummari dari Maroko; al-Hafizh Abdul Aziz al-Ghumari dari Maroko; al-Muhaddits Mahmud Sa’id Mamduh dari mesir pengarang kitab Raf'u al-Manarah li-takhrij Ahadis al-Tawassul wa al-Ziyarah; al-Muhaddits Habiburrahman al-A'zhami dari India; Syaikh Muhammad bin Ismail al-Anshari seorang peniliti komisi tetap fatwa Wahhabi Saudi Arabia; Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Khazraji, menteri agama dan wakaf Uni Emirat Arab; Syaikh Badruddin Hasan Dayyab dari Damaskus; Syaikh Muhamad Arif al-Juwaijati; Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf dari Jordan; al-Imam al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dari Mekah; Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dari Najd yang menyatakan bahwa al-Albani tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali; dan lain-lain. Masing-masing Ulama tersebut telah mengarang bantahan terhadap al-Albani.

    Tulisan Syaikh Hasan bin Ali al-Saqqaf yang berjudul Tanaqudl al-Albani al-Wadhihat merupakan kitab yang menarik dan mendalam dalam mengungkapkan kesalahan fatal al-Albani tersebut. Beliau mencatat seribu lima ratus (1500) kesalahan yang dilakukan al-Albani lengkap dengan data dan faktanya. Bahkan menurut penelitian ilmiah beliau, ada tujuh ribu (7000) kesalahan fatal dalam buku-buku yang ditulis al-Albani. Dengan demikian, apabila mayoritas ulama sudah menegaskan penolakan tersebut, berarti Nashiruddin al-Albani itu memang tidak layak untuk diikuti dan dijadikan panutan.

    Jadi apakah kita sebagai orang yang lemah di dalam pengetahuan hadis ingin mendifkan hadis hanya kerana disebut oleh penfitnah hadis terbesar zaman sekarang?? Nasihat ana kepada sekalian halaqin, lebih baiklah kita berpegangan kepada majority umat Islam, kerana Majority tidak akan jatuh di dalam kesesatan....Ana berharap saudara2 sebarkanlah makalah pendek ini agar tidak terjadi kesalahan di dalam menilai sebuah hadis yang hanya merujukkan pada Mukhrij al-Fitnah fi al-Sunnah Nashiruddin al-Albani.

    Semoga Allah menyelamatkan kita dari kursi yang terbuat dari api neraka.. :aamiin:

     :ws:


    salam...sy ingin mengemukakan sedikit pandangan...mengenai dakwaan yang mengatakan al-albani mengkafirkan imam bukhari adalah fitnah besar...al-albani sentiasa menjadikan imam bukhari sebagai rujukan....sebenarnya imam al-Bukhari xsebut pun macam yang anda tulis tu....dan kita perlu tau jaga kitab fatwa al-albani nie ada yang di tulis secara dusta oleh puak2 al-ahbash dan mengatakan tu fatwa al-albani (al-ahbash ialah nisbah kepada guru mereka Abdullah al-Harari al-Ahbasyi) sila rujuk blog ni http://ahbash-sesat.blogspot.com/
    ....dan juga blog nie http://ahbash-sesat.blogspot.com/2008/02/menjawab-tuduhan-al-ahbash-terhadap-al.html sebab hadis yang sama Imam al-Bukhari keluarkan dua kali dalam kitab dia, dalam bab tafsir n bab tauhid...dalam bab tafsir imam bukhari datangkan beberapa 'Tafsiran' terhadap 'ayat' tersebut...dalam bab Tauhid Imam al-Bukhari jelas menetapkan bagi Allah sifat wajah tanpa 'takwil'....hanya mereka yang tidak pernah melihat sahih bukhari saja cakap begini....terdapat kaedah: sapa yang takwil sifat Allah tanpa dalil yang benar adalah kufur kerana takwil mengubah makna dan menafika sifat yang sabit dalam al-Quran n Sunnah.....dan lagi satu mengenai kafir mengkafir....sebenarnya kita perlu faham kaedah betul2....jika seseorang mengeluarkan kenyataan seperti 'siapa yang mengingkari hudud adalah kafir'....kenyataan tu xsalah....tp xbermaksud kita boleh kata si fulan tu ingkar hudud dan dia adalah kafir...xboleh...samalah seprti dr. masyitah yang mengingkari hudud...kita xboleh katakan dia kafir.....cuma kenyataan 'siapa yang mengingkari hudud adalah kafir' adalah perlu dan wajib kita nyatakan....sama la jugak seperti pak lah...kita xboleh kata dia kafir sebab dia dok p letak bunga kat tugu negara.....tp perbuatannya itu kufur....kena faham kaedah...nk kafirkan org nie ada procedure dia....ni kaedah asal dalam bab kafir...

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #9 09 March, 2009, 06:40:18 AM
  • Publish Di FB
  • Sebagai pencari ilmu, tidak bagus jika kita membaca satu artikel dan menerimanya bulat2. Disarankan kita membaca ulasan pro dan kontra tentang sesuatu isu, seterusnya menjadikan kita bersikap adil dalam menerima sesuatu isu atau menghukum seseorang. Kita juga akan jadi lebih terbuka.

    Sebagai pencari ilmu dan belajar ilmu agama, kita belajar UNTUK MENAMBAHKAN KESATUAN UMMAH dengan berlapang dada menerima pendapat yang berbeza. Jangan kita sakitkan lagi agama ini dan merosakkan pemikiran orang tentang agama.


    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1294
      • View Profile
    Jawab #10 10 March, 2009, 08:32:30 PM
  • Publish Di FB
  • :) Terima kasih saudara Fikri, insya ALlah saya mengkaji kedua2 pendapat. Mereka yang menyokong sheikh albani dan juga yang mendedahkan masalah sheikh albani. Dan saya mengambil keputusan untuk tidak mengambil takhrij hadith atau tarjihnya dan perkara yang berkaitan dengan beliau dalam hadith mahupun feqh kerana sudah jelas ramai ulamak yang menolaknya dan masalah yang ditimbulkan oleh beliau dalam perkara feqh.

    Walaubagaimanapun saya menghormati beliau sebagai ilmuwan. WaLlahua'lam

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #11 11 March, 2009, 07:39:17 AM
  • Publish Di FB
  • Terima kasih juga Ibnu Nafis. Semoga Allah memberkati diskusi kita.

    Berkenaan Syeikh Albani tu memang ramai yang khilaf dengan dia ,tapi kehebatannya dan kefaqihannya diiktiraf. Mungkin manhaj yang berbeza kot. Maka pendapat pun berbeza. Macam pendapat ahli atsar dan ahli hadis. Macam manhaj penerimaan hadis untuk ilmu sirah dan ilmu hadis. Semuanya berbeza. Tambah pula ada yang mutasyaddidin dan ada yang lebih besederhana. Khilaf itu rahmat kan.

    Bagi saya kalo ulama ramai yang tolak dia bukan sebab untuk kita tolak dia. ~Pendapat yang masyhur xsemestinya paling rajih~ . Macam Ibnu Hazam dan Ibnu Taimiyah. Walaupun mereka banyak berkhilaf dengan ulama sezaman mereka tapi ulama2 sezaman menganggap mereka ulama yang hebat.

    ٍSaya bagi contoh satu cerita jidal ulama pasal mazhab antara Ibnu Hazam dengan Al-Baji. Hujah Ibnu Hazam hebat dan tajam sampai ada pepatah kata " Lisan Ibnu Hazam dan pedang Al-Hajaj bagaikan adik beradik ".

    Cerita Ibnu Hazam dan Abu Walid Al-Baji
    http://www.aldahereyah.net/forums/showthread.php?p=23676

    Sumber - Kitab مناظرات في أصول الشريعة الإسلامية بين ابن حزم والباجي

    Akhir kalam, andai ada kesilapan sila tegur saya. ~ Semoga Allah merahmati manusia yang menghadiahi aku keaibanku~

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1294
      • View Profile
    Jawab #12 11 March, 2009, 08:20:28 AM
  • Publish Di FB
  • Ya fikri, saya berharap anda jangan letak dengan perkataan kot-kot. Sheikh albani juga terlibat di dalam pernyataannya menyokong sheikh khajandi mengatakan hukum bermazhab adalah haram - dan ini bertentangan dengan ijmak ulamak dan umat Islam. Apatah lagi ada pernyataannya yang menyamakan kristian dan mazhab hanafi. Ini semua telah didedahkan oleh Dr Said Ramadhan al Buthi. (saya berharap kita tidak tersalah tempat menggunakan pernyataan - pendapat yang masyhur tidak semestinya rajih).

    Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'di, tokoh ulama terkenal Iraq yg berkata bahawa KESILAPAN UTAMA Albani adalah kerana campur tangan dalam bidang yg beliau bukan ahlinya iaitu Fiqh & Ushul Fiqh.

    Petikan kenyataan beliau;

    'Saya bersyukur kepada Allah apabila mendapati Syeikh Ali At-Thantawi juga sependapat dengan saya mengenai Syeikh Al-Albani & beliau juga menasihatkan Syeikh Al-Albani supaya membiarkan persoalan Fiqh kepada ahlinya.
    Tidaklah pelik bila kita lihat kebanyakan para muhaddithin terdahulu,antaranya Imam Muslim, At-Tirmidzi & An-Nasai menyerahkan persoalan Fiqh kepada para fuqaha. Mereka hanya mengemukakan dalil2 Fiqh dalam masa mereka berkecimpung dalam mengumpulkan hadith.
    Sikap mereka dengan para fuqaha jelas tertera dalam satu ungkapan yg masyur yg mereka tujukan kepada para fuqaha iaitu : 'KAMI PENYEDIA UBAT, KAMU ADALAH DOKTOR'.

    Menyerahkan agama hendaklah kepada ahlinya, dan bukan dengan sebarangan orang :

    Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

        ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Bagi saya pula ulamak itu penunjuk, jika tidak tahu maka kita merujuk kepada mereka. WaLlahua'lam

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #13 11 March, 2009, 08:33:51 AM
  • Publish Di FB
  • Ya fikri, saya berharap anda jangan letak dengan perkataan kot-kot. Sheikh albani juga terlibat di dalam pernyataannya menyokong sheikh khajandi mengatakan hukum bermazhab adalah haram - dan ini bertentangan dengan ijmak ulamak dan umat Islam. Apatah lagi ada pernyataannya yang menyamakan kristian dan mazhab hanafi. Ini semua telah didedahkan oleh Dr Said Ramadhan al Buthi. (saya berharap kita tidak tersalah tempat menggunakan pernyataan - pendapat yang masyhur tidak semestinya rajih).

    Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'di, tokoh ulama terkenal Iraq yg berkata bahawa KESILAPAN UTAMA Albani adalah kerana campur tangan dalam bidang yg beliau bukan ahlinya iaitu Fiqh & Ushul Fiqh.

    Petikan kenyataan beliau;

    'Saya bersyukur kepada Allah apabila mendapati Syeikh Ali At-Thantawi juga sependapat dengan saya mengenai Syeikh Al-Albani & beliau juga menasihatkan Syeikh Al-Albani supaya membiarkan persoalan Fiqh kepada ahlinya.
    Tidaklah pelik bila kita lihat kebanyakan para muhaddithin terdahulu,antaranya Imam Muslim, At-Tirmidzi & An-Nasai menyerahkan persoalan Fiqh kepada para fuqaha. Mereka hanya mengemukakan dalil2 Fiqh dalam masa mereka berkecimpung dalam mengumpulkan hadith.
    Sikap mereka dengan para fuqaha jelas tertera dalam satu ungkapan yg masyur yg mereka tujukan kepada para fuqaha iaitu : 'KAMI PENYEDIA UBAT, KAMU ADALAH DOKTOR'.

    Menyerahkan agama hendaklah kepada ahlinya, dan bukan dengan sebarangan orang :

    Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

        ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Bagi saya pula ulamak itu penunjuk, jika tidak tahu maka kita merujuk kepada mereka. WaLlahua'lam

    Terima kasih kerana betulkan saya. Boleh letakkan link atau sumber pasal albani cakap bermazhab tuh haram. Nak baca jugak. Apa2 pun jazakallah khairan kathira

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1294
      • View Profile
    Jawab #14 11 March, 2009, 08:42:21 AM
  • Publish Di FB
  • saudara boleh membacanya di sini :

    http://www.islam.gov.my/ajaransesat/pdf/bahaya%20anti%20mazhab.pdf

    dan juga boleh membuka kitab : Alla mazhabiyyatu akhtaru bid'atin tuhaddidu asy syariiaata al Islamiyyah - dr said ramadhan al buthi.

    Afwan kathira

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #15 11 March, 2009, 08:49:43 AM
  • Publish Di FB
  • ~Pendapat yang masyhur xsemestinya paling rajih~

    Pasal yang ni silap. Maaf ye. Sebetulnya ~Pendapat yang ramai xsemestinya paling rajih~

    Saya sedang baca tapi xkaji sangat. Penat kot.

    Pasal Ibnu Hazam tuh saya dah cerita pada post lepas,


    ٍSaya bagi contoh satu cerita jidal ulama pasal mazhab antara Ibnu Hazam dengan Al-Baji. Hujah Ibnu Hazam hebat dan tajam sampai ada pepatah kata " Lisan Ibnu Hazam dan pedang Al-Hajaj bagaikan adik beradik ".

    Cerita Ibnu Hazam dan Abu Walid Al-Baji
    http://www.aldahereyah.net/forums/showthread.php?p=23676

    Sumber - Kitab مناظرات في أصول الشريعة الإسلامية بين ابن حزم والباجي


    Pasal pendapat Albani tuh, saya cuba cari di muka surat 2,3 dan 4 dalam pdf tuh. tapi xjumpa. Xpe saya cuba cari lagi. Kalau ada sumber lain boleh letakkan kat sini.
    « Last Edit: 11 March, 2009, 08:56:15 AM by fikri »

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1294
      • View Profile
    Jawab #16 11 March, 2009, 09:38:52 AM
  • Publish Di FB

  • mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #17 11 March, 2009, 02:35:00 PM
  • Publish Di FB

  • salam...sy ingin mengemukakan sedikit pandangan...mengenai dakwaan yang mengatakan al-albani mengkafirkan imam bukhari adalah fitnah besar...al-albani sentiasa menjadikan imam bukhari sebagai rujukan....sebenarnya imam al-Bukhari xsebut pun macam yang anda tulis tu....dan kita perlu tau jaga kitab fatwa al-albani nie ada yang di tulis secara dusta oleh puak2 al-ahbash dan mengatakan tu fatwa al-albani (al-ahbash ialah nisbah kepada guru mereka Abdullah al-Harari al-Ahbasyi) sila rujuk blog ni http://ahbash-sesat.blogspot.com/
    ....dan juga blog nie http://ahbash-sesat.blogspot.com/2008/02/menjawab-tuduhan-al-ahbash-terhadap-al.html sebab hadis yang sama Imam al-Bukhari keluarkan dua kali dalam kitab dia, dalam bab tafsir n bab tauhid...dalam bab tafsir imam bukhari datangkan beberapa 'Tafsiran' terhadap 'ayat' tersebut...dalam bab Tauhid Imam al-Bukhari jelas menetapkan bagi Allah sifat wajah tanpa 'takwil'....hanya mereka yang tidak pernah melihat sahih bukhari saja cakap begini....terdapat kaedah: sapa yang takwil sifat Allah tanpa dalil yang benar adalah kufur kerana takwil mengubah makna dan menafika sifat yang sabit dalam al-Quran n Sunnah.....dan lagi satu mengenai kafir mengkafir....sebenarnya kita perlu faham kaedah betul2....jika seseorang mengeluarkan kenyataan seperti 'siapa yang mengingkari hudud adalah kafir'....kenyataan tu xsalah....tp xbermaksud kita boleh kata si fulan tu ingkar hudud dan dia adalah kafir...xboleh...samalah seprti dr. masyitah yang mengingkari hudud...kita xboleh katakan dia kafir.....cuma kenyataan 'siapa yang mengingkari hudud adalah kafir' adalah perlu dan wajib kita nyatakan....sama la jugak seperti pak lah...kita xboleh kata dia kafir sebab dia dok p letak bunga kat tugu negara.....tp perbuatannya itu kufur....kena faham kaedah...nk kafirkan org nie ada procedure dia....ni kaedah asal dalam bab kafir...



    Afwan ya akhi...memang ana ambil dari artikel...tapi setelah ana buka di bukhari memang ternyata Imam Bukhari mentakwil kok...begitu juga dengan kata-kata al-alBani yang menjurus pada takfir terhadap Bukhari...buktinya dia berkata "هذا لا يقوله مسلم مؤمن"...dan ini ana jumpa dalam buku al-Albani yang dimiliki Dosen ana alumni Saud University Riyadl...so memang dari Saudi...tidak mungkin tahrif dari orang lain...Ahbash?? ana memang tidak pakai Ahbash (ana tak nak membicarakan kefatalan Ahbash disini)... Tapi ana hanya berilmiah saja...Dan artikel ini ternyata authentic setelah dirujuk dari kitab Al-Albani sendiri...ana dah baca juga artikel2 dari golongan al-Albani, dan ternyata mereka masih belum dapat terima hakiki dari kefatalan Al-Albani...kenapa tak terima je al-Albani itu bukan seorang yang alim??? terbukti Utsaimin pun berkata seperti itu...cuba anta buka Sahih Bukhari bab Surah al-Qishash...

    Masalah takwil boleh atau tidak?? saya harap dibuka thread baru untuk bahas masalah takwil...kaedah yang dikeluarkan anta itu adalah yang dikeluarkan dari orang2 yang anti terhadap takwil...bukan ulama yang pro takwil....Ulama kita Ibn Hajar al-Haitami telah membahas dengan dalam masalah ini...afwan kerana ana sedang dalam waktu yang sempit sekali skrg ini...cukup sekian saja...
    « Last Edit: 11 March, 2009, 03:03:21 PM by mooks »

    mooks

    • *
    • Posts: 801
      • View Profile
    Jawab #18 11 March, 2009, 02:46:13 PM
  • Publish Di FB
  • Terima kasih juga Ibnu Nafis. Semoga Allah memberkati diskusi kita.

    Berkenaan Syeikh Albani tu memang ramai yang khilaf dengan dia ,tapi kehebatannya dan kefaqihannya diiktiraf. Mungkin manhaj yang berbeza kot. Maka pendapat pun berbeza. Macam pendapat ahli atsar dan ahli hadis. Macam manhaj penerimaan hadis untuk ilmu sirah dan ilmu hadis. Semuanya berbeza. Tambah pula ada yang mutasyaddidin dan ada yang lebih besederhana. Khilaf itu rahmat kan.

    Bagi saya kalo ulama ramai yang tolak dia bukan sebab untuk kita tolak dia. ~Pendapat yang masyhur xsemestinya paling rajih~ . Macam Ibnu Hazam dan Ibnu Taimiyah. Walaupun mereka banyak berkhilaf dengan ulama sezaman mereka tapi ulama2 sezaman menganggap mereka ulama yang hebat.

    ٍSaya bagi contoh satu cerita jidal ulama pasal mazhab antara Ibnu Hazam dengan Al-Baji. Hujah Ibnu Hazam hebat dan tajam sampai ada pepatah kata " Lisan Ibnu Hazam dan pedang Al-Hajaj bagaikan adik beradik ".

    Cerita Ibnu Hazam dan Abu Walid Al-Baji
    http://www.aldahereyah.net/forums/showthread.php?p=23676

    Sumber - Kitab مناظرات في أصول الشريعة الإسلامية بين ابن حزم والباجي

    Akhir kalam, andai ada kesilapan sila tegur saya. ~ Semoga Allah merahmati manusia yang menghadiahi aku keaibanku~



    Ana ingin mengkoreksi sedikit kesalahan anta...apakah anta betul2 sudah belajar kitab2 al-Albani?? di Pondok ana pernah diadakan perdebatan antara Sunni dan Front wahhabi...di situ front wahhabi sama berhujjah seperti anta (aneh sekali sebab byk dari wahhabi kalau berdepan dgn wahhabi sendiri menolah khilaf adalah rahmat)...jadi mereka mengatakan konsep al-Albani yang lain dan ini rahmat seperti al-Zahiri...sayangnya, kalau al-Albani betul2 macam tu tak pe, tapi ustaz-ustaz ana dan Grand Syaikh meneliti di forum itu juga kitab2 al-Albani yang kami bawa dari saudi...ternyata dari berbagai kitab, Albani mendaifkan satu hadis disatu tempat, lalu mensahihkan daif yang sama ditempat yang lain pula..dan yang menarik perkara ini terdapat di dalam kitab yang sama...Forum ini dia adakan waktu ana masih tsanawiyah lagi, dan ana ingat secara pasti yang fornt wahhabi tak dapat menjawab hujjah Kyai2 Nahdlatul Ulama...oleh karena itulah di Indonesia, Wahhabi tidak dapat mewarnai Islam majority di Jawa...

    Ini juga menunjukkan albani tidak jujur dengan metodeloginya sendiri....malah dia memang tak de metodelogy pun, sebab dia bukan ahli hadis.....Baca Hasan Bin Ali al-Saqqaf...

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Jawab #19 19 March, 2009, 07:05:23 AM
  • Publish Di FB
  • Pembetulan pasal Albani, Khajandi dan Ibu Hazam mengharamkan mazhab, diorang tidak mengharamkan mazhab tetapi diorang tidak suka fanatik mazhab.

    Ibnu Hazam pun ada mazhabnya iaitu mazhab Az-Zahiri

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    3 Replies
    3686 Views
    Last post 26 August, 2009, 12:02:18 AM
    by Monte Carlo
    9 Replies
    5918 Views
    Last post 05 September, 2007, 03:33:50 PM
    by Sang Pencinta
    36 Replies
    11635 Views
    Last post 12 May, 2010, 08:08:54 AM
    by ubaidullah