CINTA DALAM ISLAM

*

Author Topic: CINTA DALAM ISLAM  (Read 42473 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

21 July, 2008, 03:09:09 PM
  • Publish
  • CINTA DALAM ISLAM
    Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah
    mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya.
    Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung
    dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di
    atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas
    pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu
    mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya
    itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di
    telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari
    perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih
    berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi
    semerbak.

    Lebih mencengangkan lagi, di apartemennya bertebaran buku-buku karya
    Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece
    bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang
    mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya bait-bait syair.
    "Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut,
    mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi
    yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga."

    Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung
    menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai
    manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai
    seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah
    lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?

    Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya
    itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati?
    Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri
    ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya
    Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya
    menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.

    Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah
    majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta
    manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta
    kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada
    sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya
    adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, "Dan di antara manusia
    ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
    mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
    beriman amat sangat cintanya kepada Allah."

    Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan
    garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman
    melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan
    porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada
    Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada
    selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

    Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang
    bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan
    tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada
    Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan
    firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang
    mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
    tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan
    harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai
    pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24). Subhanallah!

    Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan
    sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta
    seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah,
    membaca Al Qur'an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan
    mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya
    melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa
    berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk
    berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud.
    Betapa indahnya jalinan cinta itu!

    Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa
    didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini saya baru
    mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya
    dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai
    sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa
    sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela
    agama-Nya.

    Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan
    tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada
    setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu
    timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala
    membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi,
    qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya,
    hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang
    sempurna... Puji syukur ya Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta
    memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia
    keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta
    dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu
    seperti kasus sahabat saya tadi.

    Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya.
    Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya.
    Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti
    syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh
    rahmah dan amanah... Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat...

    Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana
    seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan
    cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini
    diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama
    sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya
    Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon,
    akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah." Wallahua'lam
    bish-showab.
    Ya Allah
    Ketika aku menyukai seorang tmn, tlng ingatkanlah aku bhwa di dunia ini tak akn prnah ada sesuatu yg abadi.
    Sehngga ketika se2orang meninggalknku, aku akn tetap kuat & tegar kerna aku bersama Yang Tak Pernah Berakhir, yaitu cinta-Mu Ya Allah

    Reply #1 23 July, 2008, 01:24:41 AM
  • Publish
  •  :)
    syukran atas maklumat...
    tp,pnjg sgt la..letih nk baca nie...

    Reply #2 23 July, 2008, 01:39:15 AM
  • Publish
  • cinta sblm kawen ni xslh asalkan pndai jga adab2 pergaulan..
    tp, kna pndai2 la jgn bg syaitan ambil kesempatan...

    Reply #3 23 July, 2008, 03:26:33 PM
  • Publish
  •  :)


    Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).


    Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

    Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

    Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

    Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

    Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

    Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

    Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

    Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

    Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

    Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan

    Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

    Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

    Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:

    1) Iman yang kuat

    2) Ikhlas dalam beramal

    3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.
    “Dunia ini bagi orang beriman adalah ladang dzikir & akhirat akan menjadi panen bagi mereka.
    Mereka berjalan dengan memakai sarana syukur kepadaNya, hingga sampai pada anugerah-anugerah yg dikeluarkan dari perbendaharaan simpananNya. Sesungguhnya Dia Raja Yang Maha Mulia”

    Reply #4 11 December, 2008, 11:41:47 AM
  • Publish
  • "Bercinta (sblm nikah) tidak salah dan dibolehkan jika ada jaminan untuk kita tidak melakukan maksiat."-Tok Guru Nik Aziz (Majalah i edisi Oktober).

    Persoalannya, apakah kita betul2 ada jaminan yakni batas2 syariat?

    Hati yang jauh drp Allah akan selalu merasa sepi. Bercinta dgn Allah akan menghiburkan hati. Sentiasa merasa dia selalu hadapan. Suatu ketika Ibnu Abbas berjalan di belakang Rasulullah s.a.w. lalu bgind bersabda, "Wahai anak muda, sungguh akan aku ajarkan kpdmu suatu kalimah. Peliharalah Allah nescaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah Allah nescaya kamu akan dapati Dia sentiasa berada di hadapanmu..."   

    Sebagaimana firmannya dlm Surah Ra'ad ayat 28, "Orang mukmin itu apbl mengingati Allah hati mrk akan mnjadi tenang. Ketahuilah dgn mengngati Allah hati mnjadi tnang."

    Pd pndapat ana, letak cinta kpd Allah dahulu, disusuli Rasulullah dan seterusnya...

    Wallahuaklam.
    "Aku hanyalah insan biasa yang menyatakan sesuatu hari ini, mungkin esok ku ubah kembali, dan mungkin lusa ku ubah lagi.." -Imam Abu Hanifah.

    Reply #5 11 December, 2008, 01:04:18 PM
  • Publish
  • Assalamualaikum...apakah jaminan yang akan kita dapat apabila kita bercinta(sebelum kahwin)..?masya Allah..sedangkan seperti yang kita ketahui nafsu dan godaan sentiasa membelenggu hati kita..jwa dan hati kita yang kian hari makin lemah..kerana diperdaya godaan syaitan.. di mana matlamat hidup yang kita perjuangkan untuk menegakkan kalimah ALLAH swt?
    Tiada rupa seindah AKHLAQ,tiada hati seindah IMAN,Tiada hidup seindah ISLAM,tiada cinta sesuci CINTA ALLAH

    Reply #6 11 December, 2008, 01:20:13 PM
  • Publish
  • Quote
    "Bercinta (sblm nikah) tidak salah dan dibolehkan jika ada jaminan untuk kita tidak melakukan maksiat."

    Individu yg ingin bercinta (b4 married) mestilah menjaga batas2 syariat dan inilah jaminannya...tetapi cinta sebegini amat2lah tidak digalakkan...harus hukumnya. Sebaik2 musmlim ialah meninggalkan perkara2 yg harus.

    Ulamak dari Arab Saudi mengharamkannya kerana lebih kpd maksiat.

    wallahuaklam.

    Reply #7 08 February, 2009, 11:51:18 PM
  • Publish
  • CINTA DALAM ISLAM
    Ingatkah saat Anda dulu jatuh cinta? Atau mungkin saat ini Anda tengah
    mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya.
    Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung
    dan matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di
    atas tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas
    pesan dengan pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu
    mendengar nada panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya
    itu, wajahnya seketika merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di
    telinganya. Penampilannya pun kini rapi, sesuatu yang dulu luput dari
    perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi pun sekarang lebih
    berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah, warna-warni, dan wangi
    semerbak.

    Lebih mencengangkan lagi, di apartemennya bertebaran buku-buku karya
    Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang banyak menghasilkan masterpiece
    bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun menjadi penyair yang
    mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya bait-bait syair.
    "Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta mengarus lembut,
    mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata air abadi
    yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa dahaga."

    Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak urung
    menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai
    manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai
    seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah
    lebih dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?

    Lantas apakah kita tidak boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya
    itu? Bagaimana menyikapi cinta pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati?
    Apakah cinta itu adalah karunia sehingga boleh dinikmati dan disyukuri
    ataukah berupa godaan sehingga harus dibelenggu? Bagaimana sebenarnya
    Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi cinta? Tak mudah rasanya
    menemukan jawaban dari kontroversi cinta ini.

    Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah
    majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta
    manusia seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta
    kepada-Nya jauh melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada
    sesama makhluk dicurahkan semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya
    adalah firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 165, "Dan di antara manusia
    ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
    mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
    beriman amat sangat cintanya kepada Allah."

    Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai perbedaan dan
    garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman
    melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan
    porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada
    Allah. Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada
    selain Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

    Islam menyajikan pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang
    bagaimana manusia seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan
    tertinggi perasaan cinta adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada
    Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada sesama makhluk diurutkan sesuai dengan
    firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat (yang
    mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
    tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sedangkan
    harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk dicintai
    pada tataran yang lebih rendah (QS 9: 24). Subhanallah!

    Perasaan cinta adalah abstrak. Namun perasaan cinta bisa diwujudkan
    sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara tanda-tanda cinta
    seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat sunnah,
    membaca Al Qur'an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama dan
    mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya
    melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa
    berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk
    berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud.
    Betapa indahnya jalinan cinta itu!

    Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh Sang Khaliq senantiasa
    didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya. Kali ini saya baru
    mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala perintah-Nya
    dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai
    sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa
    sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela
    agama-Nya.

    Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga sekujur roh dan
    tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya pada
    setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu
    timbul kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala
    membayangkan azab Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi,
    qalbunya selalu bergetar manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya,
    hatinya tenang bila selalu mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang
    sempurna... Puji syukur ya Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta
    memang anugerah yang terindah dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia
    keliru menafsirkan dan menggunakannya. Islam tidak menghendaki cinta
    dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta diumbar mengikuti hawa nafsu
    seperti kasus sahabat saya tadi.

    Jika saja dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya.
    Bila saja pujaan hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya.
    Dan andai saja gelora cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti
    syariat-Nya yaitu bersegera membentuk keluarga sakinah, mawaddah, penuh
    rahmah dan amanah... Ah, betapa bahagianya dia di dunia dan akhirat...

    Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat yang mengatur bagaimana
    seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga menghasilkan
    cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti ini
    diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama
    sekaligus pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya
    Kalung Burung Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon,
    akarnya menghujam ke tanah dan pucuknya banyak buah." Wallahua'lam
    bish-showab.

    Reply #8 13 March, 2009, 09:11:36 AM
  • Publish
  • Cinta itu lahir dari perasaan, perasaan itu adalah fitrah kurniaan-Nya, jadi tidak salah bercinta, asalkan jangan lalai dibuai oleh cinta terutamanya cinta yang tidak kekal

    Reply #9 02 October, 2009, 07:10:04 PM
  • Publish
  • cinta memang indah..kadang2 cinta membuat seseorang itu lalai...kadang2 cinta sanggup mengorbankan apa saja demi sang kekasihnya..mula2 bercinta indah2 saja..tapi bila sudah lama..mula lah pasangan kita menunjukan belangnya..

    Reply #10 18 November, 2009, 09:25:21 AM
  • Publish
  •  :)

    Rasulullah SAW bersabda:

    "sesungguhnya aku telah menjauhkan dunia untukmu.janganlah engkau hidupkan dia sesudahku. setengah kebusukan dunia adalh bhw kederhakaan terhadap Allah ada di sana. setengah keburukan dunia bhw kau tidak ingat pada akhirat kecuali dengan meninggalkannya. ingatlah, ambillah dunia sekadarnya, jangan engkau menyertainya dan beramalah dengan amalan yang di redhai Allah. sesungguhnya punca segala kesalahan adalah akibat cinta kpd dunia dan kesenangan dan nikmat dunia yg sedikit dapat mengeratkan seseorang dalam derita yang panjang."


    Reply #11 29 December, 2009, 04:40:19 PM
  • Publish
  • cinta itu indah dan suci..cuma ramai yang salah tafsiran atas nama cinta tu..dan silap meletakkan
    cinta yang sebenar..
    jika dapat temui cinta yang sebenarnya...pasti dapat merasai kemanisan cinta tu..
    terutama cinta kepada Allah dan Rasul...
    wah..dah berpujangga rasanya...
    wallahu'alam..

    Reply #12 01 October, 2010, 11:22:05 AM
  • Publish
  • terkadang cinta sejati yank  kita harapkan harus musnah karena 1 hal dan saat itu adalah saat yang berat buat kita...tapi kita harus berpikir bahwa allah lah cinta sejati kita dan yang harus kita harapkan.....

    Reply #13 17 October, 2010, 07:00:20 AM
  • Publish
  • Sejak dibangku sekolah, sy mmg antikapel. Benci sgt tgk org berkapel, walau apapun alasannya.. Sewaktu sibuk2 diIPT, dihimpit dgn tugasan blambak yg memerlukan interaksi blainan jantina, akhirnya sy t'uji dgn cinta b4 married.. Yg sblm ini sy haramkn.. Wlwpn sy btegas cinta ini xlayak selain utk bakal suami, b'usaha sgguh2 pelihara 'cinta islamik' (:senyum:-kononnyalah) tp Allah tunjukkan kuasaNya, cinta sblm kawin xmenjanjikn apa2.. Jodoh itu dah tertulis, xperlu kita susahpayah merentas lautan api yang penuh ranjau.. Tersasar mencintai manusia tanpa hak, kembalilah kepada Allah. Syukur kerana Allah sangat menyayangi hamba2Nya lebih dari seorang ibu yang mengasihi anaknya..
    « Last Edit: 17 October, 2010, 09:06:24 AM by ummu fatimah »
    zaujah n aliah yusri.. ummu yusuf ramadhan & nur fatimah mujahidah..

    Reply #14 17 October, 2010, 08:15:49 AM
  • Publish
  •  :)
    cinta pada bunga, bunga akan layu
    cinta pada manusia, manusia kan mati,
    cinta pada ALLAH, hanya yang kekal abadi


    cinta itu tak salah,jaoh lagi berdosa...
    cinta itu anugerah..
    yang salah hanya manusia
    yang tak tahu menilai
    antara kaca didaratan dan mutiara di lautan
     :jaz:
    mencari redha ALLAH...jadilah insan berguna kepada orang lain

    Reply #15 17 October, 2010, 11:16:12 AM
  • Publish
  • ''Kisah cinta yang sebenarnya tiada akhirnya''"Bukti terbaik cinta ialah kepercayaan"

    Reply #16 17 October, 2010, 01:24:36 PM
  • Publish
  • Islam meraikan fitrah manusia yang ingin mencintai dan dicintai. Namun, niat dan jalannya perlu mengikut syariat Islam. Cintailah sesiapa jua asalkan ia membawa kita dekat pada Allah dan berhentilah mencintainya andai dia membawa kita jauh daripada Allah.

    Cinta yang betul pasti membawa kebaikan, cinta yang salah pasti membawa kebinasaan.

    Maka, kita telah diberikan panduan dan akal untuk menilai..The choice is yours!! Make the right decision...
    Mujahadah itu pahit kerana syurga itu manis

    Reply #17 17 October, 2010, 01:37:16 PM
  • Publish
  • Cinta itu fitrah.. Allah gerakkan hati manusia untuk saling menyayangi. Nak tergelak bila baca ayat-ayat indah kat forum ini atau mana-mana forum.. Haram hukumnya bercinta tanpa ada ikatan perkahwinan.. Jangan bercinta dengan manusia, bercinta dengan Allah saja. Ya, memang betul..cinta itu hak eksklusif Allah. Hanya pada Allah.

    Tapi macam awal saya kata..Allah juga menggerakkan hati manusia untuk saling berkasih sayang.. Saling tertarik.. Saling terdetik perasaan suka. Tak perlulah dinafikan perasaan itu. Semua pasti akan melaluinya.. Tapi bergantung pada individu itu, bagaimana mereka menangani perasaan yang wujud di hati mereka. Adakah tunduk pada perasaan itu atau menjaganya mengikut batas agama. Sebab itulah kita dikurniakan akal.. maka gunakanlah ia sebaik-baiknya. Jalanmu, anda yang pilih.
    Menterjemah Apa Yang Tersirat DI MInda
    http://durratulmujahid.blogspot.com/

    Reply #18 17 October, 2010, 01:47:46 PM
  • Publish
  • Islam meraikan fitrah manusia yang ingin mencintai dan dicintai. Namun, niat dan jalannya perlu mengikut syariat Islam. Cintailah sesiapa jua asalkan ia membawa kita dekat pada Allah dan berhentilah mencintainya andai dia membawa kita jauh daripada Allah.

    Cinta yang betul pasti membawa kebaikan, cinta yang salah pasti membawa kebinasaan.

    Maka, kita telah diberikan panduan dan akal untuk menilai..The choice is yours!! Make the right decision...


    baguss

    Reply #19 14 November, 2010, 04:07:50 AM
  • Publish
  • payah nak mendidik nafsu agr x terjatuh ke perkara2 yg melanggar syariat...bagi ana,cinta yang paling utama dan kekal hanyalah cinta Allah....redhO Allah yg ingin digapai....khdupn akhirat mahu diraih....bekalan ke sana perlu digali....menjd penyelamat dari siksa api neraka dn azab Allah....

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    13 Replies
    3147 Views
    Last post 30 October, 2012, 05:24:49 PM
    by Mei
    12 Replies
    3622 Views
    Last post 20 December, 2012, 01:58:14 AM
    by Saya Hamba
    7 Replies
    1891 Views
    Last post 01 November, 2012, 03:27:11 PM
    by Wafiya