Terapi Stres Aqidah

*

Author Topic: Terapi Stres Aqidah  (Read 2469 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

ria_firdaus

  • *
  • Posts: 194
    • View Profile
18 July, 2008, 11:08:10 AM
  • Publish
  •  :)



    Terapi Stres Aqidah
     
     


    Dalam Ilmu Psikologi modern, stress termasuk jenis penyakit kejiwaan kategori neurosis. Pihak penderita masih menya-dari penuh kondisi dirinya, tidak hilang akal. Meski secara fisik, sering menam-pakkan tanda-tanda ketidakwarasan dengan ngamuk dan sejenisnya, tapi pada hakikatnya ia sadar, namun gagal mengendalikan emosi.

    Stress merupakan reaksi tubuh terhadap situasi yang tampak berbahaya atau sulit. Gara-gara stres, tubuh memproduksi hormon adrenaline yang berfungsi untuk mempertahankan diri. Stres yang ringan berguna dan dapat memacu seseorang untuk berpikir dan berusaha keras sehingga dapat menjawab tantangan hidup sehari-hari. Stres ringan bisa merangsang dan memberikan rasa lebih bergairah dalam kehidupan yang biasanya membosankan dan rutin. Tetapi stress yang terlalu banyak dan berkelanjutan, bila tidak ditanggulangi, akan berbahaya bagi kesehatan.

    Gejala-gejala:

     Menjadi mudah tersinggung dan marah terhadap teman, keluarga dan kolega.
     Bertindak secara agresif dan defensif
     Merasa selalu lelah.
     Sukar konsentrasi atau menjadi pelupa.
     Palpitasi atau jantung berdebar-debar.
     Otot-otot tegang.
     Sakit kepala, perut dan diare.

    Bagian dari Hati

    Satu hal yang perlu ditegaskan, bahwa segala bentuk penyakit kejiwaan -menurut pandangan Islam, termasuk bagian dari penyakit hati. Sehingga, orang yang pendengki, takabur, suka berburuk sangka, pencemburu berat, penyedih, itu berada di areal yang sama dengan orang yang stress, depresi, psikopat, pengidap skizofrenia, dan yang lainnya. Termasuk juga pengidap penyakit-penyakit kejiwaan seksual seperti pedofilia, parafilia, homoseks, lesbian, dan sejenisnya.

    Setiap pengidap penyakit jiwa, jenis apa pun juga, neuoris atau psikosis, sesungguhnya sedang mengidap penyakit hati. Seorang pedofilia (pengidap penyakit seks menyukai anak-anak di bawah umur) tak lebih dari orang yang memperturutkan hawa nafsunya terhadap lawan jenis atau sesama jenis, karena ia merasa tak sanggup atau kurang percaya diri melampiaskan nafsunya secara wajar dengan lawan jenisnya, apalagi melalui lembaga resmi, pernikahan. Saat sudah terbiasa dengan pelampiasan tersebut, ia akan menjadi candu, sehingga saat sudah menikah pun, kecenderungan seks menyim-pangnya itu bisa saja tetap berkembang, dan merusak dirinya serta orang lain di sekitarnya.

    Begitu juga psikopat misalnya. Kenapa ia suka melihat penderitaan orang lain? Suka menyakiti orang lain yang menikmati hasil kerjanya itu? Karena ia terbiasa dengan dosa. Setiap dosa mewarisi kenikmatan, yang bila terus dilakukan akan seperti candu.

    Kontrol Taqwa

    Untuk dapat menghindari atau minimal meredam jiwa yang menyimpang dari kewajaran, menahan kecendrungan hati ber-maksiat, seseorang harus berlatih terus dalam kesadaran penuh.
    Kesadaran penuh seseorang pada kondisi jiwanya disebut taqwa. Makna taqwa adalah kemampuan memelihara diri dari segala hal yang bisa menyebabkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala, atau turunnya adzab Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam bahasa ilmiah, taqwa didefinisikan,

        Melaksanakan perintah Allah, dengan tuntutan cahaya keilmuan dari Allah, dan dengan mengharapkan pahala-Nya. Menjauhi larangan Allah, dengan tuntuntan cahaya keilmuan dari Allah, dan karena takut terhadap siksa-Nya. (Az-Zuhd Ibnul Mubarak I : 474 - Lihat juga Al-Hilyah oleh Abu Nu'aim 1344)

    Artinya, ketakwaan itu melahirkan kesadaran diri, kewaspadaan, dan kepekaan. Orang yang bertakwa sadar banget bagaimana kondisi dirinya, prilaku, perbuatan dan sikap yang diambilnya. Ia tidak akan membiarkan adanya suatu hal, sikap, prilaku hingga kebiasaan yang bisa menyebabkan Allahlmurka, atau menyebabkan Allahl menyiksanya.

    Oleh sebab itu disebutkan,

        Ketakwaan itu letaknya di sini, ketakwaan itu letaknya di sini. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 14 : 69, oleh Al-Haitsami dalam Mazma'uz Zawaa-id X : 262)

    Ketika seseorang bertakwa, ia bukan saja akan mampu memelihara diri dari segala bahaya yang bersifat fisik dan keduniaan, namun juga yang bersifat abstrak dan ukhrowi. Ia mungkin saja marah, tapi saat akan melampiaskan amarahnya, ia akan berpikir, “Apa manfaat yang akan saya peroleh dari pelampiasan amarah ini, di dunia dan di akhirat?” Maka, semakin lemah daya kontrol diri seseorang terhadap prilaku dirinya, semakin lemah ketakwaannya, dan semakin banyak hal-hal buruk yang akan menimpanya, baik bersifat keduniaan, ataupun kelak di akhirat nanti.

    Pemulihan Kontrol

    Taubat adalah proses pengembalian kontrol ketakwaan itu kepada asalnya. Oleh sebab itu, orang yang bertaubat dari sebuah dosa, seperti orang yang belum pernah melakukannya, 'At-taaibu minadz dzanbi kaman laa dzanba lahu'. Dalam hadits, orang yang berbuat dosa berarti telah tercetak noda hitam dalam hatinya. Saat ia bertaubat, noda hitam itu akan kembali dihapus, dan hatinya akan kembali bersih seperti sedia kala. Namun per-soalannya, bila dosa itu terus dilakukan, sementara proses taubat jarang dilakukan, maka hati akan semakin menghitam oleh noda tersebut, hingga suatu saat akan kehilangan unsur ketakwaannya sama sekali. Saat itulah, seseorang ibarat orang yang sudah tidak lagi memiliki kesadaran apa-apa. Ia tak tahu lagi mana yang bermanfaat bagi dirinya, dan mana yang justru membahayakannya.

    Orang yang suka berbuat keliru, namun masih senantiasa menyadari akan kekeliruannya dan selalu melakukan upaya dan lompatan-lompatan menuju taubat, itulah orang yang menurut pandangan psikolog disebut penderita neurosis. Sejenis penyakit kejiwaan tingkat awal, di mana kesadaran akan kealpaan diri masih ada. Bila kesadarannya itu lenyap sama sekali, atau hanya bersisa terlalu sedikit sehingga nyaris tak lagi berfungsi menggugah kesadarannya, maka disebut penderita psikosis. Silakan baca buku saya, "Metode Kedokteran Nabi, Antara Realitas dan Kepalsuan", pada Pasal, 'Ath-Thibbun Nabi dan Penyakit Kejiwaan’.

    Orang yang stress, pada awalnya adalah penderita jenis neurosis. Namun bila diabaikan, akan berkembang menjadi pengidap psikosis yang tak ubahnya orang gila yang kehilangan seluruh kesadarannya, meski sesung-guhnya belumlah demikian.

    Maka, untuk mengatasi sress dan depresi, sesungguhnya seseorang harus mengobati sumber penyakit paling utama dalam diri, yaitu bibit kekafiran dan kemusyrikan.

    Setelah itu, ia harus melakukan terapi dengan mendekatkan diri kepada Allahl, di antaranya, dengan memperbanyak dzikir. Dzikir dapat meneguhkan jiwa, sehingga tak mudah labil, dan selalu dalam kondisi sadar dalam berbuat dan berkata-kata.

        Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Al-Anfaal : 45)

    Selain beribadah dan berdzikir, banyak-banyaklah beristighfar dan bertaubat.

        Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri… (Al-Baqoroh : 222)

    Sebelumnya saya sudah menegaskan bahwa taubat adalah proses pemulihan kontrol ketakwaan dalam diri seseorang, sehingga ia kembali memiliki kemampuan berjuang mengontrol ucapan, perbuatan, hingga gerak-gerik hatinya. Orang yang bertakwa bukan hanya mampu menahan diri agar tidak memukul orang, mencuri, dan sejenisnya, namun juga mampu menahan hatinya untuk sekadar berburuk sangka terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian juga terhadap sesama manusia. Sosok hati semacam itu akan sulit dihinggapi ragam penyakit, dan sulit untuk dinodai oleh berbagai jenis penyakit kejiwaan.

    Sisi penting yang paling utama -seperti dipaparkan di atas-- adalah menjaga hati dari bibit-bibit kekafiran dan kemusyrikan. Karena keduanya adalah penyakit hati yang paling berat. Bila tak diobati, segala terapi lain tak akan ada gunanya sama sekali.

    Contohnya saja, kecenderungan hati mengeluh dan mengutuki takdir, kebencian terhadap karakter yang diciptakan Allahl pada diri sendiri, berburuk sangka kepada Allahl, keinginan mendapatkan harta banyak meski dengan cara haram dan menduakan Allahl, dan berbagai bisikan hati lain yang dapat mendekatkan seseorang kepada kekafiran. Tanpa diatasi, siapapun akan sulit berproses melenyapkan atau mengurangi stress dan depresi dalam hatinya. Sebab, kekafiran dan kemusyrikan -bila sudah mengakar- akan menghanguskan seluruh rasa ketawakalan seseorang kepada Allahl. Sehingga sebagai gantinya, orang akan bersandar pada harta dan keduniaan, pangkat atau jabatan, dan hal-hal materi lainnya. Saat sandaran itu hilang atau berkurang, dunia pun amblas, dan ia pun kehilangan kendali diri. Di situlah, biasa penyakit stress dan depresi akan semakin mengguritta, kadang merusak susunan saraf di bagian kepala, dan tidak jarang mengakibatkan kegilaan, semi atau bahkan permanen. Wal 'iadzu billah.

    Ust. Abu Umar Basyir
    “Dunia ini bagi orang beriman adalah ladang dzikir & akhirat akan menjadi panen bagi mereka.
    Mereka berjalan dengan memakai sarana syukur kepadaNya, hingga sampai pada anugerah-anugerah yg dikeluarkan dari perbendaharaan simpananNya. Sesungguhnya Dia Raja Yang Maha Mulia”

    ria_firdaus

    • *
    • Posts: 194
      • View Profile
    Reply #1 26 July, 2008, 03:27:57 PM
  • Publish
  •  :)


    Hati ibarat Cermin ......


    Bandingkan dua buah cermin. Dibuat pada waktu yang sama, ditempatkan di tempat yang sama, bahkan menerima pencahayaan dan suhu udara yang sama. Yang membedakan hanyalah dua orang manusia yang memilikinya.

    Yang pertama, malas sekali membersihkannya. Setiap ada setitik debu menempel di cermin, dia biarkan. Bahkan cipratan tinta yang mengenai cermin pun dia enggan membersihkannya. Dia sama sekali tidak pernah mau sekedar menghapus, atau menggesek cermin kesayangannya itu dengan lap bersih atau air bersih. Segala noda dia biarkan menempel di cermin.

    Awalnya cipratan tinta itu mungkin hanya setitik, dua titik, lalu tiga titik, hingga selanjutnya mengendap menjadi gumpalan tinta yang sudah mengering di permukaan cermin. Sampai-sampai, si pemiliknya sendiri tidak bisa bercermin pada cerminnya sendiri. Dia tidak bisa melihat apakah dirinya baik, atau jelek, saat berdiri di depan cermin. Lama-lama, cipratan-cipratan tinta itu pun menjadi karat. Dan cermin sudah tidak berfungsi baik lagi. Bahkan, kadang-kadang, karena telah ternodai oleh gumpakan tinta yang mengarat, cermin memantulkan kebaikan menjadi kejelekan, atau kejelekan menjadi kebaikan.Karna sudah mengarat, cermin pun susah untuk dibersihkan...

    Yang kedua, merawat cerminnya dengan baik. Setiap ada setitik cipratan tinta, meskipun sedikit, dia langsung membersihkannya. Menggosoknyanya dengan lap dan air yang bersih. Sehingga cermin setiap harinya selalu jernih, mampu memberinya pengetahuan tentang sebaik/seburuk apa dirinya jika berdiri di depan cermin tersebut. Sehingga cermin bisa membuatnya selalu mengoreksi setiap kesalahan dalam
    penampilannya.


    Rajin-rajinlah membersihkan hati kita...karna jika tidak, niscaya dosa-dosa itu semakin lama akan semakin menumpuk dan menutupi cahayaNya. Yang lebih menakutkan, noda-noda dosa itu bisa membolak balikkan fakta. Yang benar jadi batil, yang batil jadi benar. Naudzubillah...

    Setiap hari.. carilah pengampunanNya. Istighfar..bukan hanya di mulut saja. Namun penyesalan terdalam akan semua kehilapan yang kita lakukan.

    Setiap dosa, adalah bahaya. Meski sepatah kata..atau sekelebat lirikan mata...itu awal dari noda yang bisa menjadi karat jika tidak cepat-cepat dibersihkan..

    Ada pepatah, "Menyesali sebelum melakukan, adalah keberuntungan.... dan menyesal setelah kejadian, adalah ketidak bergunaan"

    Intropeksi diri..beristighfar setiap waktu adalah lebih baik daripada terlanjur melakukan kehilafan. Allah memang Maha Penerima Taubat, tapi urusan kita adalah untuk selalu menjaga diri dari dosa.

    wallahua'lam bish shawab.
    « Last Edit: 26 July, 2008, 03:30:00 PM by ria_firdaus »

    puterilindunganbulan2005

    • *
    • Posts: 59
    • Bu...nga....
      • View Profile
    Reply #2 05 September, 2008, 07:42:55 PM
  • Publish
  • terima.. kasih.. pesanan ini sangat berguna.. untuk saya..
    Insya Allah.. saya.. akan cuber.. kuatkn hati untuk mengahadapi dugaan yg dtg..
    Nur itu cahaya, yang menyinari.. dalam kegelapan..

    assiddiq

    • *
    • Posts: 4596
    • "Dengan Kehendak dan KuasaNya"
      • View Profile
    Reply #3 09 April, 2009, 06:34:04 PM
  • Publish
  • terima.. kasih.. pesanan ini sangat berguna.. untuk saya..
    Insya Allah.. saya.. akan cuber.. kuatkn hati untuk mengahadapi dugaan yg dtg..

    hmm..
    alhamdulillah..
    "Al-haqqu bila nizom yaghlibuhul-baatil binnizom"
    Maksudnya: "Sesuatu kebenaran yang tidak sistematik akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematik dan terancang."
    http://Http://cahayarabbani.blogspot.com
    http://Http://islamicmoviecollection.blogspot.com
    assiddiq@ymail.com

    shaniza

    • *
    • Posts: 216
    • Ya Allah Engkaulah Maksudku, keredhaan Mu impianku
      • View Profile
    Reply #4 09 April, 2009, 09:05:27 PM
  • Publish
  •  :)

    Stres boleh menyebabkan tension..

    Ada satu puisi tentang hal ini.. hayatilah..

          A Good One...
    The Moment you are in Tension
    You will lose your Attention
    Then you are in total Confusion
    And you will feel Irritation
    Then you will spoil personal Relation
    Ultimately, you won't get Co - Operation
    Then you will make things Complication
    Then your blood pressure may raise Caution
    And you may have to take Medication
    Instead, understand the Situation
    And try to think about the Solution
    Many problems will be solved by Discussion
    This will work out better in your Profession
    Don't think it's my free Suggestion
    It's only for your Prevention
    If you understand my Intention
    You will never come again to Tension

        You Can
    Do all the good you can
    By the means you can
    In all the ways you can
    In all the places you can
    At all the times you can
    To all the people you can
    As long as ever you can
    Bagi mendapatkan info tambahan, layari blog-blog ummi sha
    http://sarimahshaniza.blogspot.com/

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    4 Replies
    857 Views
    Last post 22 July, 2012, 11:44:43 PM
    by Nurul Nawar
    3 Replies
    779 Views
    Last post 01 October, 2012, 04:44:21 PM
    by elsanxs
    9 Replies
    1742 Views
    Last post 10 July, 2013, 01:49:01 PM
    by robhunhayati