KEDAHSYATAN BERSYUKUR

*

Author Topic: KEDAHSYATAN BERSYUKUR  (Read 3655 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

ifah90

  • *
  • Posts: 44
  • “ So Don'T bE SaD, AllaH AlWayS LovE YoU ”
    • View Profile
08 July, 2008, 11:45:00 AM
  • Publish
  • KEDAHSYATAN BERSYUKUR
    Mari kita perhatikan dan renungkan ayat-ayat berikut ini:

    ..Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Al Baqoroh:243)

    Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.(QS Al A'raaf:10)

    Dari ayat itu dijelaskan, memang kebanyakan manusia itu tidak bersyukur, padahal Alloh sudah memberikan karunia, kenikmatan dan kefadholan yang sangat banyak kepada manusia.

    Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.s. an-Nahl: 18)

    Ada cerita tentang bagaimana seseorang memiliki sebuah trik agar selalu bisa bersyukur. Saya cukup terkesan dengan caranya yang unik, yaitu dengan cara mengantongi sebuah batu di saku celananya.
    Keliatannya cara itu cukup simple dan aneh, tapi cukup bermanfaat bagi si empunya batu, ketika dia memegang batu itu, maka dia jadi teringat untuk mengucapkan kalimat syukur.

    Dari cerita tentang batu reminder syukur diatas, Saya jadi ingat sebuah nasehat, bahwa kita supaya selalu mencari jalannya bersyukur.
    Jalan syukur cukup banyak, ketika kita berada di perempatan jalan melihat orang yang menjadi pengemis, maka kitapun menjadi tersadar bahwa keberadaan kita lebih baik dari mereka, maka mulut dan hati kita pun mengucapkan kalimat syukur Alhamdulillah...Ya Alloh, engkau karuniai aku dengan nikmat rizki yang cukup dan barokah!

    Waktu menengok sahabat di rumah sakit, kita bisa menyaksikan orang-orang yang sedang kehilangan nikmat sehatnya, terbaring di ranjang rumah sakit,terapi obat-obatan, belum lagi dengan biaya rumah sakit yang tinggi, tentunya mulut dan hati kitapun akan terucap kalimat Alhamdulillah..Ya Alloh, engkau beri aku nikmat sehat !

    Salah satu Kedahsyatan kalimat syukur bisa kita lihat di hasil penelitian Dr. Masaru Emoto, seorang ilmuwan jepang, dimana ketika sebuah air di beri ucapan kalimat syukur, terima kasih, maka molekul airnya membentuk sebuah kristal-kristal yang indah dan mempesona..padahal tubuh manusia 75% terdiri dari air, Otak 74,5% air, Darah 82% air, Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Betapa dahsyatnya tubuh manusia ketika setiap detiknya, menitnya dan jamnya selalu dihiasi dengan kalimat syukur Alhamdulilah...?

    Bersyukur merupakan salah satu kunci utama untuk sukses. J.R.Murphy, penulis buku Your Infinite power to be rich mengatakan: seluruh proses menuju kekayaan mental, material dan spiritual dapat diringkas dalam satu kata: Syukur!

    Erbe Sentanu, penulis buku Quantum Ikhlas mengatakan: kalau anda ingin sukses, maka bersyukurlah lebih keras!

    Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.(QS. Ibrahim:7)

    Rosululloh SAW telah memberi contoh tentang bersyukur, seperti dalam Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

    Jika Rasulullah saw. melaksanakan salat, beliau berdiri (lama sekali) sampai kedua kaki (telapak) beliau pecah-pecah. Aisyah ra. bertanya:
    Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat seperti ini padahal dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni? Lalu beliau
    menjawab: Wahai Aisyah, apakah aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur (HR Muslim)

    Ada satu lagi resep dari Rasulullah agar kita bisa bersyukur dengan nikmat yang Alloh berikan yaitu : Selalu melihat orang yang dibawah kita dan jangan melihat yang diatas kita, karena dengan meihat mereka yang taraf hidupnya dibawah kita, otomatis kita akan teringat dengan apa yang sudah kita miliki, sedangkan bila melihat yang taraf hidupnya diatas kita, maka kita akan selalu membayangkan apa yang belum kita miliki , walhasil kita akan hidup terus dalam angan-angan dan lamunan yang tidak jelas batas akhirnya, ingat mendingan kita makan singkong tapi beneran daripada makan roti tapi mimpi, betulkan?

    Akhirnya dengan bersyukur hidup bisa lebih tenang, tidur lebih nyenyak,  tidak ngoyo kata orang jawa, tidak memaksakan kehendak, selalu mengukur kemampuan dengan kemauan, terkadang kita membeli sesuatu barang tidak mengukur apakah itu suatu kebutuhan atau kemauan kita saja. Akhirnya banyak orang sakit jantung, darah tinggi, asam urat dan lain-lain karena stress memikirkan cicilan kartu kredit atau pinjaman bank dengan bunga yang membengkak karena terlambat dibayar, ya karena itu tadi, membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkannya, atau diluar kesanggupan untuk membeli, tapi memaksakan demi gengsi yang harus dijaga, kalau sudah begitu tidurpun tidak bisa nyenyak lagi, dan semua barang atau harta tadi tidak dapat lagi memberi kenikmatan,malah memberikan kesengsaraan.

    Maka marilah kita biasakan untuk selalu mensyukuri nikmat-nikmat Alloh SWT yang telah diberikan kepada kita semua.

    Semoga bermanfaat dan barokah

    IAN RIALDI
    Ya Allah
    Ketika aku menyukai seorang tmn, tlng ingatkanlah aku bhwa di dunia ini tak akn prnah ada sesuatu yg abadi.
    Sehngga ketika se2orang meninggalknku, aku akn tetap kuat & tegar kerna aku bersama Yang Tak Pernah Berakhir, yaitu cinta-Mu Ya Allah

    ria_firdaus

    • *
    • Posts: 194
      • View Profile
    Reply #1 18 July, 2008, 03:37:35 PM
  • Publish
  •  :)



    Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.

    Bersyukur merupakan salah satu ibadah mulia kepada Allah yang mudah dilaksanakan, tidak banyak memerlukan tenaga dan pikiran. Bersyukur atas nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah karena kemurahan-Nya. Dengan kata lain, bersyukur berarti mengingat Allah yang Mahakaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyantun.

    Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah.

    Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.

    Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, 'Barangsiapa mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdu li Allah, maka baginya 30 kebaikan.'

    Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, 'Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).' (QS Aldhuha [93]: 11).

    (Idris Thaha)
    “Dunia ini bagi orang beriman adalah ladang dzikir & akhirat akan menjadi panen bagi mereka.
    Mereka berjalan dengan memakai sarana syukur kepadaNya, hingga sampai pada anugerah-anugerah yg dikeluarkan dari perbendaharaan simpananNya. Sesungguhnya Dia Raja Yang Maha Mulia”

    atap_aje

    • *
    • Posts: 123
    • Dunia sangat sementara, akhirat begitu kekal abadi
      • View Profile
    Reply #2 19 July, 2008, 10:29:36 AM
  • Publish
  • sesiapa yang bersyukur, ALLAH TAALA akan tambahkan nikmat. Sesiapa yang kufur, sesungguhnya azab ALLAH TAALA amatlah pedih.
    KEJAYAAN MANUSIA HANYA DI DALAM AGAMA ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA
    TAAT PERINTAH ALLAH TA'ALA IKUT SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW
    TIADA KEJAYAAN DI DALAM HARTA PANGKAT DAN KEDUDUKAN


    elsanxs

    • *
    • Posts: 902
      • View Profile
    Reply #3 21 September, 2011, 12:58:18 PM
  • Publish
  • Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kepada kita nikmat yang terlalu besar dan banyak. Bahkan nikmat yang tidak ternilai harganya. Nikmat hidup, nikmat udara, nikmat air, nikmat makanan, nikmat kesihatan, nikmat ilmu, dan selainnya. Termasuk di dalamnya adalah nikmat keamanan dan kemerdekaan. Manakala nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam dan iman.

    Maka bersyukurlah kita dengan nikmat-nikmat Allah tersebut. Kerasa syukur adalah sebahagian dari tujuan penciptaan dan perintah-Nya. Allah Subhaanhu wa Ta’ala berfirman:


    وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    “Dan Allah mengeluarkan kamu dari pertu ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan al-af’idah (akal dan hati) agar kamu bersyukur.” (Surah an-Nahl, 16: 78)

    Allah Ta’ala menjelaskan bahawa salah satu tanda syukur adalah dengan mengabdikan diri kepadanya, iaitu mentauhidkannya. Sesiapa yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, maka dia belum benar-benar mentauhidkan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar kamu mentauhidkan-Nya.” (Surah al-Baqarah, 2: 172)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah mewahyukan kepada para Nabi dengan perkara yang serupa, berupa perintah mentauhidkan-Nya dan perintah supaya bersyukur. Allah berfirman:

    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

    “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu. Jika kamu mensyirikkan Allah, nescaya akan terhapuslah amalan kamu dan sudah tentu kamu termasuk orang-orang yang rugi. Oleh itu, hendaklah Allah sahaja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Surah az-Zumar, 39: 66)

    Tipu Daya Iblis

    Ketika musuh Allah iaitu Iblis mengetahui kedudukan, keagungan, dan ketinggian sifat syukur maka ia pun berusaha untuk menjauhkan manusia dari sikap syukur tersebut. Ia berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an:

    ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

    “Kemudian aku (Iblis) akan mendatangi mereka dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka itu bersyukur.” (Surah al-A’raaf, 7: 17)

    Dari keseluruhan manusia secara umumnya, jumlah mereka yang bersyukur amat-amatlah sedikit. Oleh itu kita perlu berusaha dengan sedaya-upaya kita dan sentiasa ingat agar kita termasuk dalam kelompok yang diberkahi tersebut walaupun sedikit lagi terasing. Iaitu kelompok orang-orang yang bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

    “... Dan amat sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Surah Saba’, 34: 13)

    وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ

    “... akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Surah al-Baqarah, 2: 243)

    Istidraj

    Suatu nikmat yang datang juga boleh jadi sebagai satu bentuk ujian bagi seseorang. Sama ada dia beryukur atau kufur, sama ada dia redha atau merungut. Beruntunglah mereka yang bersyukur dan merasa qona’ah.

    Sebahagian besar masyarakat atau kelompok manusia di negara-negara luar tertentu banyak diuji dengan kesusahan, kemelaratan, dan kemiskinan hidup. Tetapi kita di Malaysia secara umumnya diuji dengan kesenangan, kemudahan, dan kemewahan hidup. Semoga Allah menjadikan kita sebagai kelompok masyarakat yang bersyukur kepada-Nya.

    Kalau sekiranya kita melihat diri kita ini terus-menerus mendapat nikmat dari Allah, tetapi dalam masa yang sama kita sentiasa bermaksiat kepada-Nya, maka ada sesuatu yang perlu kita renungkan. Berhati-hatilah dengannya. Takut-takut ia menjadi satu bentuk ujian dan istidraj (kesenangan yang memperdaya). Jangan biar kita hanyut dalam nikmat dan kesenangan tersebut tanpa mensyukurinya. Kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

    “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka - sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan secukupnya, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa.” (Surah al-An’am, 6: 44)

    Sebaliknya jika seseorang hamba itu memiliki kedudukan, kelebihan, atau nikmat dari sisi Allah lalu dia menjaganya dengan penuh rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, nescaya Allah akan tambahkan lagi bagi dirinya dengan sesuatu yang lebih baik berbanding apa yang sedia ada. Jika tidak di dunia, nescaya di akhirat. Tetapi sekiranya ia meremehkan sikap untuk bersyukur, maka Allah akan memperdayakannya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

    “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu menyatakan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat tersebut), maka sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.” (Surah Ibrahim, 14: 7)

    Allah subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

    “Sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, sudah tentu Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Surah al-A’raaf, 7: 96)

    Mensyukuri Nikmat

    Cara mensyukuri nikmat boleh dibahagikan kepada tiga bentuk keadaan. Iaitu dengan hati, dengan lisan, dan dengan anggota badan (amalan fizikal). Mensyukuri dengan hati adalah dengan meneguhkan tauhid, keimanan, dan mengakui nikmat-nikmat tersebut datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

    “Dan apa jua nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah ia datang, dan apabila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Surah an-Nahl, 16: 53)

    Mensyukuri nikmat Allah dengan lisan adalah dengan sentiasa memperbanyakkan pujian serta mengingati-Nya (dengan zikir dan doa) di setiap keadaan sebagaimana yang disyari’atkan. Di antara pintu syukur melalui lisan adalah dengan ucapan hamdalah.

    Manakala mensyukuri nikmat dengan anggota badan adalah dengan cara menggunakan anggota badan untuk amal-amal kebaikan serta mencari keredhaan Allah serta dengan tidak menggunakan nikmat-nikmat yang dimiliki untuk perkara-perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Semoga kita mampu menjadi manusia yang paling bahagia dengan menjadikan nikmat-nikmat yang kita kecapi sebagai sarana mencari redha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iaitu dengan menjadikan setiap rezeki dan kelebihan yang diusahakan sebagai aset untuk mentauhidkan dan bersyukur kepada Allah. Setiap nikmat yang dikurniakan Allah kita jaga dengan cara mentaati dan melaksanakan perintah-Nya serta kita menjaganya dengan cara memeliharanya sebagaimana diperintahkan.

    Sebaliknya semoga kita tidak menjadi manusia yang malang lagi mengkufuri nikmat-nikmat Allah dengan menggunakan kelebihan nikmat-nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mengundang kemurkaan-Nya.

    Sifat syukur dan insaf dapat lahir antaranya dengan selalu melihat kesusahan dan kepayahan orang lain. Sebaliknya jangan terlalu asyik melihat kelebihan orang lain sehingga membuatkan diri merungut rasa kekurangan. Oleh itu di samping merasa syukur, ia perlu diiringi juga dengan sikap qona’ah, iaitu merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan mengusahakannya sekadar kemampuan tanpa berlebih-lebihan mengejar apa yang di luar kemampuan.

    Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:

    إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

    "Apabila salah seorang dari kamu memandang orang yang diberi kelebihan melebihi harta dan bentuk tubuhnya, hendaklah ia memandang orang yang lebih rendah darinya di mana ia diberi kelebihan berbanding orang tersebut." (Hadis Riwayat Muslim, 14/212, no. 5263)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

    قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

    “Benar-benar beruntung seseorang yang masuk Islam, kemudian mendapat rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan pula kepadanya sifat qona’ah (merasa cukup dan redha) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.” (Hadis Riwayat Muslim, 5/276, no. 1746)

    Bersyukur Walau Sedikit

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda dari atas mimbar:

    مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللهَ. التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

    “Siapa yang tidak mampu mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri nikmat yang banyak. Dan siapa yang tidak mampu berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan mampu bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah syukur, meninggalkannya adalah kufur. Hidup berjama'ah adalah rahmat, manakala perpecahan adalah azab.” (Hadis Riwayat Ahmad, 30/390, no. 18449. Kata al-Haitsami, “Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani, dan al-Bazzar. Para perawi keduanya tsiqah.” Dinilai sahih oleh al-Albani. Lihat juga Majma’ az-Zawa’id, 5/392 oleh al-Haitsami dan Tahqiq Musnad Ahmad oleh Syu’aib al-Arnauth)

    Nikmat Keamanan dan Kemewahan

    Harga dan nilai barangan sentiasa turun naik setiap hari. Tetapi taraf hidup masyarakat di negara kita umumnya jauh lebih baik berbanding 10 hingga 20 tahun lalu. Ini suatu yang wajib disyukuri. Kalau 15 tahun lalu di desa-desa, kanak-kanak ke sekolah rendah dan menengah dengan berbasikal meredah becak tanah merah, tetapi sekarang ramai yang sudah bergaya bermotorsikal ke sekolah dengan jalan berturap walupun sebahagiannya tidak berlesen.

    Di universiti pula rata-rata pelajarnya sudah bekereta, sehingga jalan-jalan dan tempat-tempat letak kenderaan Universiti penuh sesak. Inilah antara nikmat kemewahan yang kita kecapi walupun dalam masa yang sama harga bahan api kenderaan melambung tinggi.

    Ketika penulis di sekolah dulu, nikmat telefon bimbit memang tidak pernah dikecapi. Bahkan telefon bimbit termasuk sebahagian gadget mewah yang bukan sebarangan orang mampu memilikinya.

    Tetapi hari ini, Allah menganugerahkan kemudahan telefon bimbit dengan harga yang jauh lebih murah dengan kualiti yang jauh lebih baik. Kalau dulu harganya mahal tetapi dengan screen monochrome, tetapi hari ini harganya murah fungsinya pelbagai. Caj perkhidmatan yang dikenakan pun amat rendah berbanding dulu. Ruang lingkup telekomunikasi dan perhubungan menjadi lebih mudah dan pantas. Sehingga kanak-kanak di sekolah pun dibekalkan telefon bimbit oleh ibu atau bapa.

    Taraf pendidikan di negara kita secara umumnya semakin meningkat. Lebih ramai mampu melanjutkan pelajaran. Peluang pekerjaan pula terbuka luas. Sama ada sebagai penjawat awam, di sektor swasta, mahupun bekerja sendiri.

    Kalau sekitar 20 tahun lalu, orang-orang di kampung keluar menoreh getah dan memetik kelapa sawit dengan berbasikal atau motorsikal Honda Cup 70. Tetapi hari ini ramai di antara mereka telah keluar ke kebun dengan berkereta sambil mengecapi nikmat rumah besar yang penuh keselesaan.

    Kemudahan untuk beribadah juga amat baik. Masjid-masjid tersergam indah. Umat Islam bebas mengamalkan agamanya. Bebas untuk bersolat, bebas untuk berpuasa, bebas untuk berhari-raya. Cuma adakalanya mungkin disebabkan “masjid terlalu besar” dan luas, jumlah orang yang menunaikan solat di masjid nampak terlalu sedikit. Inilah di antara hasil keamanan yang ada di negara kita berbanding di negara-negara Islam lain yang sebahagiannya hendak menunaikan solat fardhu berjama’ah pun terancam nyawanya. Jadi, syukurilah nikmat masjid ini dengan memenuhinya di setiap kali tiba waktu solat.

    Nikmat makanan di negara kita tidak lagi dapat dinafikan. Walaupun ramai yang mengeluh mengatakan banyak harga makanan meningkat tetapi hakikatnya majoriti rakyat Malaysia tiada yang mati kerana kebuluran. Sebaliknya ramai yang mati kerana terlalu banyak makan. Buktinya, dalam hari-hari perayaan ini sahaja terlalu banyak undangan makan di rumah-rumah terbuka. Pelbagai menu dan juadah dihidang percuma.

    Sehingga terlebihnya nikmat kemewahan, tidak kurang ramai yang menghisap rokok sebaik selesai makan. Demikianlah hakikat kemewahan yang dikecapi di negara ini, sebahagiannya sampai terlupa mensyukurinya hingga terlajak melakukan kemungkaran menghisap rokok.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

    “Dan Dia telah memberi kepada kamu sebahagian dari setiap apa yang kamu ingini dan jika kamu menghitung nikmat Allah nescaya lemahlah kamu menentukan bilangannya. Sesungguhnya manusia (yang ingkar) sangat suka menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya lagi sangat tidak menghargai nikmat Tuhannya.” (Surah Ibrahim, 14: 34)

    Sepatutnya, inilah antara nikmat-nikmat keamanan dan kemewahan yang perlu kita syukuri. Hargailah ia sebagai sarana untuk menuntut ilmu-ilmu yang syar’i dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara yang benar. Bukan sebagai alat untuk bermaksiat dan melakukan kekufuran. Hamparkanlah sifat qona’ah dan tawakkal, serta buangkanlah jauh-jauh sikap suka merungut dan berkeluh-kesah. Renungilah kesusahan dan kesempitan orang lain, nescaya kita akan rasa sangat beruntung.

    Semoga kita tidak menjadi orang yang hanya mengenal nikmat-nikmat tersebut setelah Allah menariknya kembali.

    اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    “Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (Diucapkan di setiap kali selesai solat – Hadis Riwayat al-Bukhari, al-Adabul Mufrad, 1/239, no. 690. Abu Daud, 4/318, no. 1301. An-Nasaa’i, 5/86, no. 1286. Dinilai sahih oleh al-Albani)

    رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

    “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu/bapaku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh.” (Surah an-Naml, 27: 19)

    Wallahu a’lam...

    halaqahforum4

    Yuzie

    • *
    • Posts: 1024
    • Demi Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang
      • View Profile
    Reply #4 22 September, 2011, 01:00:48 PM
  • Publish
  • BUKAN KE ALLAH LEBIH MUSTAHAK UNTUK DISYUKURI DARIPADA LAINNYA?

    Tidak ada kesedihan kecuali akan datang kesenangan, tidak ada sebarang masalah kecuali ada jalan penyelesaian...

    Bersyukur kepada Allah adalah salah satu cara terbaik dan mudah untuk meraih kebahagian dan terbebas dari tekanan kerana ketika kita bersyukur kepada Allah, bererti kita menghadirkan kembali pelbagai nikmat-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita. Salah seorang salafus soleh berkata:

    "Jika engkau ingin mengetahui nikmat Allah yang telah dikurniakan kepada kita, dengan itu pejamkanlah mata kita".

    Lihatlah beberapa nikmat Allah yang ada pada kita, nikmat pendengaran, penglihatan, akal, agama, keturunan, rezeki dan lain-lainnya. Sebahagian wanita menganggap rendah nikmat yang ada padanya. Seandainya mereka melihat orang lain yang fakir dan  miskin, yang sakit, yang liar dengan itu mereka akan memuji Allah atas nikmat yang ada padanya. Walaupun dia tinggal di rumah yang sangat kecil tetap akan memuji Allah atas semua nikmat_Nya. Bandingkan diri dengan mereka yang cacat fizikal, cacat akal, cacat pendengaran, memiliki kanak-kanak yang cacat dan sebagainya banyak telah kita temui di dunia ini. Marilah kita renungi dan bersyukur atas nikmat yang diberi kepada kita dengan penuh keinsafan dan penghayatan bukan hanya pada mulut sahaja tetapi berkeadaan hati yang lalai...
    Cukuplah bila kami merasa mulia karena Engkau sebagai Pencipta bagi kami dan cukuplah bila kami bangga bahawa kami menjadi hamba bagiMu. Engkau bagi kami sebagaimana yang kami cintai, maka berilah kami taufik sebagaimana yang Engkau cintai.

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    2 Replies
    3172 Views
    Last post 12 September, 2014, 09:03:22 AM
    by Nur Jasmin
    7 Replies
    2734 Views
    Last post 13 April, 2012, 09:14:04 AM
    by Arozi
    0 Replies
    655 Views
    Last post 31 March, 2011, 12:55:43 PM
    by bolobeh