Keistimewaan Istighfar

*

Author Topic: Keistimewaan Istighfar  (Read 19156 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

01 July, 2008, 12:17:51 PM
  • Publish
  • :)


    Keistimewaan Istighfar


    Ketika Imam Hasan Al Bashri Ra sedang duduk-duduk di dalam masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba ada seorang yang datang menghampirinya dan berkata dengan nada mengeluh, "Ya Taqiyuddin, hujan belum juga turun."

    Mendengar perkataan tersebut Hasan Al Bashri menasehati, "Perbanyaklah istighfar kepada Alloh."

    Tak lama kemudian datang lagi seorang lainnya yang juga mengadukan keluh kesahnya,"Ya Taqiyuddin, aku menderita kemiskinan yang parah."
    Maka Imam Hasan Al Bashri berkata,"Perbanyaklah istighfar kepada Allah!"

    Seorang yang lain juga datang mengeluhkan keadaan dirinya, "Ya Taqiyuddin, istriku mandul, tidak bisa melahirkan anak!"
    Perbanyaklah istighfar kepada Allah Ta′ala," kata hasan Al Bashri masih dengan jawaban yang sama.

    Tak lama kemudian ada seorang lagi yang datang, "Ya Taqiyuddin, bumi sudah tidak memberikan hasil bumi dengan baik"
    Maka sekali lagi Hasan Al Bashri berkata, "Perbanyaklah istighfar kepada Allah Ta′ala."

    Beberapa teman yang sedang berkumpul bersamanya di tempat itu terheran-heran dengan jawabannya. Mereka bertanya, kenapa setiap ada orang yang mengeluhkan hal-ikhwalnya kepadamu, selalu selalu anda perintahkan kepadanya untuk memperbanyak istighfar kepada Allah?

    Maka Iamam Hasan Al Bashri menjawab, "Apakah anda tidak membaca firman allah Ta′ala yang bunyinya:

    "Maka Aku katakan kepada mereka, "Mohonlah ampun (istighfar) kepada Robbmu. Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuknya kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. Nuh:10-12)
    « Last Edit: 29 October, 2008, 02:18:36 PM by ria_firdaus »
    “Dunia ini bagi orang beriman adalah ladang dzikir & akhirat akan menjadi panen bagi mereka.
    Mereka berjalan dengan memakai sarana syukur kepadaNya, hingga sampai pada anugerah-anugerah yg dikeluarkan dari perbendaharaan simpananNya. Sesungguhnya Dia Raja Yang Maha Mulia”

    Reply #1 01 July, 2008, 04:45:57 PM
  • Publish
  •  :)


    Istighfar

    Mungkin masih ada di antara kita yang enggan membasahi bibir dengan memperbanyak istighfar,boleh jadi tidak sedikit orang yang lidahnya masih kelu untuk berulang-ulang mohon ampun kepada Allah. Padahal banyak perkara dalam hidup ini yang tidak dapat dilalui tanpa istighfar.Istighfar adalah sarana turunnya kasih sayang, rahmat dan cinta Allah. Cinta dan kasih sayang Allah tsb tercermin jelas dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Anas bin Malik ra..

    “Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hambaNya melebihi kesenangan seorang yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di tengah hutan.” (HR Bukhari Muslim)

    Renungkanlah.. sedemikian senangnya Allah menerima taubatnya seseorang,namun manusia sendiri malah enggan istighfar & kembali pada jalan yang lurus yang mendapat rahmat Allah.

    Rasulullah saja yang telah maksum dari dosa setiap hari tidak kurang 70 kali beliau beristighfar,apalagi kita manusia yang setiap detiknya selalu berkarya membuat tumpukan dosa,seharusnya lebih banyak beristighfar baik secara lisan,dalam hati maupun pikiran kita.Kesalahan dan dosa yang terus bertambah akan mengotori hati akan berdampak pada kondisi labil dan tidak seimbangnya kehidupan yang dijalani seseorang.

    Banyak dosa yang tidak mampu kita rasakan dan kita raba,banyak kekeliruan yang tidak mampu kita rasakan sebagai kekeliruan,banyak kemaksiatan yang tidak kita sadari sebagai kemaksiatan.Jika kita termasuk yang rajin shalat apakah kita bisa bebas dari dosa yang tidak bisa kita rasakan?

    Seperti perkataan Abu Bakar Al Muzanni,”Amal-amal manusia itu akan naik ke langit. Jika pada lembar catatan itu terdapat istighfar maka putihlah catatannya.Jika lembar catatan itu tidak terdapat istighfar,maka hitamlah catatannya.”

    Istighfar ibarat air,yang menyirami dan membersihkan hati.Menghilangkan kotoran dan dosa dari jiwa. Istighfar adalah cahaya yang menghapus kegelapan orang-orang yang melakukan kemaksiatan. Istighfar akan memunculkan cahaya dalam hati seseorang.

    Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,”Salah satu sebab paling besar dari kesempitan hati adalah menjauh dari Allah dan lalai berzikir kepada Allah.”

    Saat seseorang melakukan banyak dosa dan kemaksiatan maka hatinya menjadi keras,kesat dan legam karena dosa.Dan hal ini akan tercermin dari kesempitan hati,kegundahan,kerisauan pikiran,kebingungan. Istighfar akan menjadikan hati lebih bersih,sehingga bisa menerima kebenaran dan tunduk pada kebenaran dari Allah.

    Birahmatika ya arhamar rahimin, Biqudrotika ya Ghofurur rahim..

    Reply #2 02 July, 2008, 11:24:28 AM
  • Publish
  •  :)


    Tingkatan Istighfar


    Di sebuah majelis pengajian Imam Hasan Al Bashri hadirlah seorang gembong penjahat. Beliau sendiri tidak pernah mengenalnya, hanya tahu namanya saja. Orang menyebutnya, Atabatul Ghulam. Siapa yang tidak kenal dengan kejahatan dan kekejamannya. Bahkan, tokoh ini sudah layak disebut orang fasik.

    Di tengah sesi tanya jawab, seorang jamaah mengajukan pertanyaan kepada Hasan Al Bashri, Ya Syekh, bagaimana jika seseorang sudah sangat keterlaluan mengerjakan kemaksiatan, apakah dosanya bisa diampuni Allah?

    Ulama besar dan tokoh sufi ini menjawab, Apabila penuh kesadaran dan dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat menurut syarat-syaratnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya itu seperti yang dilakukan Atabatul Ghulam.

    Betapa terkejutnya tokoh penjahat ini ketika dirinya dijadikan contoh pelaku dosa besar. Namun Allah tetap berkenan memberikan ampunan, seandainya ia mau bertobat sepenuh hati.

    Ada apa dengan istighfar?

    Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Luasnya ampunan Allah tidak bisa kita ukur atau kita batasi. Allah selalu membuka Diri-Nya untuk memberi ampunan bagi setiap hamba yang pernah menyimpang dari jalan-Nya. Bertaburan ayat dalam Alquran dan hadis Nabi yang menunjukkan betapa Maha Pengampunnya Allah SWT. Tidak hanya akan mengampuni, bahkan dengan kasih sayang-Nya, Allah mengajak setiap pendosa untuk bersegera kembali kepada-Nya.

    Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134, Allah SWT berfirman, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Ayat ini diawali dengan kata wassyarii′u atau dan bersegeralah yang berbentuk fiil amr (bentuk perintah). Mengapa Allah memerintahkan manusia bersegera (dengan bersungguh-sungguh) mendatangi ampunan-Nya? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, waktu yang dimiliki manusia sangat terbatas--berkisar 60 sampai 70 tahun--dan Allah hanya akan menerima tobat seseorang sebelum ajalnya tiba. Kedua, tidak semua orang mendapatkan ampunan Allah, walau Dia membuka lebar-lebar pintu tobat bagi hamba-Nya yang berdosa. Ketiga, tidak semua orang memiliki kesadaran dan perhatian terhadap arti penting bertobat dan maghfirah Allah SWT.

    Ada hal menarik dalam susunan ayat tersebut. Perintah untuk mendapatkan maghfirah Allah diungkapkan lebih dulu daripada perintah untuk mendapatkan syurga. Apa sebabnya? Jelas, bila kita mendapatkan maghfirah maka syurga pun otomatis akan kita raih. Maka, hal pertama yang kita lakukan adalah berusaha optimal untuk mendapatkan maghfirah Allah dan bertobat kepada-Nya.

    Apa perbedaan antara maghfirah dan tobat? Kedua kata ini hakikatnya merujuk pada hal serupa, yaitu kembali kepada Allah setelah melakukan dosa. Secara umum maghfirah berasal dari kata ghafara, yang berarti menutupi atau menyembunyikan. Orang Arab berkata, Ghafara al-syaib bil khidhab. Ia menyembunyikan ubannya dengan celupan. Jadi maghfirah dapat diartikan dengan ampunan Allah di mana Dia menutupi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Cara kita memohon maghfirah Allah disebut istighfar. Dengan istighfar, kita meminta kepada Allah agar kita dipelihara dari konsekuensi dosa, dari akibat-akibat dosa, atau dari hal-hal buruk yang terjadi karena dosa tersebut. Ali bin Abi Thalib berkata, Pakailah wewangian istighfar, supaya Allah tidak mempermalukan kalian dengan bau busuk dari dosa-dosa kalian. Sedangkan tobat berarti kembali dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya kepada perbuatan baik.

    Mengapa kita harus ber-istighfar? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, Allah SWT telah memberikan nikmat melimpah kepada kita. Dan, nikmat tersebut harus kita syukuri sebagai hak Allah. Masalahnya kemampuan kita untuk mensyukuri nikmat sangatlah terbatas. Karena itu kita beristighfar atas ketidakoptimalan kita dalam menunaikan hak-hak Allah tersebut. Kedua, pada hakikatnya manusia membutuhkan ampunan Allah. Sesempurna apapun manusia pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan. Ketiga, istighfar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang bertakwa. Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134 di awal, Allah SWT menunjukkan bahwa istighfar merupakan karakteristik utama orang bertakwa. Ia mendahulukan beristighfar sebelum menjalankan amalan-amalan pelengkap lainnya, seperti menafkahkan harta--baik pada saat lapang ataupun sempit, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

    Enam tahap Istighfar

    Istighfar itu kunci ibadah. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Ketahuilah, Allah teramat bahagia saat seorang hamba kembali kepada-Nya. Kebahagiaan Allah melebihi bahagianya seseorang yang kehilangan unta dan semua perbekalannya di padang pasir, lalu ia menemukannya kembali tanpa kurang satu apapun. Namun, Istighfar bukan sekadar ucapan tanpa penghayatan yang memengaruhi perilaku. Istighfar mengandung sejumlah konsekuensi agar seorang pendosa berhak mendapat ampunan Allah SWT.

    Pertanyaannya, istighfar seperti apa yang memenuhi syarat ampunan Allah? Simaklah kisah berikut ini. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib melewati seorang yang sedang mengulang-ulang kata astaghfirullah. Ali menegurnya, Celaka kamu. Tahukah kamu apa arti istighfar? Istighfar ada pada tingkat yang sangat tinggi. Istighfar mengandung enam makna. Pertama, penyesalan akan apa yang sudah kamu lakukan. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi dosa. Ketiga, mengembalikan kembali hak makhluk yang sudah kamu rampas, sampai kamu kembali kepada Allah dengan tidak membawa hak orang lain padamu. Keempat, gantilah segala kewajiban yang telah kamu lalaikan. Kelima, arahkan perhatianmu kepada daging yang tumbuh karena harta yang haram. Rasakan kepedihan penyesalan sampai tulang kamu lengket pada kulitmu. Setelah itu tumbuhkanlah daging yang baru. Keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan sakitnya ketaatan, setelah kamu merasakan manisnya kemaksiatan. Setelah memenuhi semua syarat itu, ucapkanlah Astaghfirullah.

    Semoga Allah memampukan kita menapaki tingkat demi tingkat istighfar ini.   :aamiin:

    Reply #3 03 September, 2008, 11:19:20 AM
  • Publish
  •  :)



    Mengatasi Kemelut dengan Memperbanyak Istighfar


    Oleh : Uti Konsen.U.M.



    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah SWT. memaafkan sebagian besar ( dari kesalahan-kesalahanmu ). QS.Al Syura ( 42 ) : 30 )



    Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar, dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah mengarunianya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya“. (HR.Ahmad).

    “Apalah jadinya bila Allah tidak memberi kita jalan untuk menghapus dosa. Sudah pasti neraka akan penuh sesak. Berbahagialah kita karena ada jalan istighfar. Satu cara yang sangat mudah untuk menghilangkan “bahaya“ yang mengancam keselamatan kita di dunia dan akhirat. Tidak saja itu, ternyata istighfar akan menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan lainnya “. (Buku Keajaiban Istighfar oleh Ibnu Muhammad Salim).

    “Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Tuhan menutup kesempatan manusia untuk bertobat. Padahal setiap orang bisa saja tergelincir dalam lembah dosa setiap saat,“ kilah Opick “Tombo Ati“, penyanyi lagu ‘Istighfar‘. “Istighfar adalah pembersihan diri seorang hamba, untuk kemudian mendengarkan seruan fitrah, dan menjalani kebaikan yang melahirkan kesejahteraan,” ujar Abdul Halim Fatahni dalam buku ‘Ensiklopedi Hikmah’.

    Suatu ketika Rasulullah SAW duduk di masjid bersama sejumlah sahabatnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki menghampirinya dan mengeluh karena hujan tak kunjung turun. Rasul SAW menasehati “Beristighfarlah“. Tak lama berselang, datang lagi seseorang yang mengadukan kesulitan ekonominya. “Beristighfarlah“kata Nabi. Berikutnya ada juga yang berucap “Wahai Rasulullah! Isteri saya mandul“. Lagi - lagi Nabi SAW berkata “Beristighfarlah“.

    Abu Hurairah RA. terheran-heran dan bertanya “Ya Rasul, penyakitnya banyak tapi obatnya hanya satu“. Maka Nabi Mulia itu menjawab “Simaklah firman Allah, ‘Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Zat Yang Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan padamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai“.

    Dalam kaitan ini Rasulullah SAW. bersabda “Sesungguhnya dosa senantiasa mengelilingi hatiku dan aku memohon ampun kepada Allah 100 kali dalam sehari“. (HR.Muslim). Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab RA, ketika minta hujan kepada Allah hanya mengulang-ulang bacaan istighfar. Ketika ditanya, mengapa hanya membaca istighfar, sedangkan maksudnya minta hujan? Umar menjawab dengan membacakan surah Nuh (71) : 10-12 tersebut.

    Imam Al Hassan Al Basri, salah seorang ulama tabiin, setiap kali datang kepadanya orang-orang yang mengeluh misalnya karena kefakiran, tidak adanya lapangan kerja, dan kesulitan untuk mendapatkan keturunan, ia menjawab dengan anjuran memperbanyak istighfar. Seorang ahli hikmah, Al-Hasan Al-Jaduah, juga bila datang kepadanya seseorang yang mengeluh karena sengsara, ia hanya menjawab “ istighfarlah“. Datang lagi yang lain mengeluh karena kelaparan, kemiskinan dan kefakiran, ia juga menjawab “istighfarlah“. Demikian seterusnya, apa pun yang dimintai nasehat oleh seseorang kepadanya, ia hanya menyuruh untuk memperbanyak istighfar kepada Allah.

    Menurut Al Qurthubi, surah Nuh (71) ayat 10-12 tersebut menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sebab untuk datangnya rezeki dan hujan. Sementara menurut Ibnu Katsir, “Jika kalian bertobat kepada Allah SWT, meminta ampunan dan menaati-Nya, niscaya Allah akan membukakan jalan rezeki, mengalirkan air yang membawa keberkahan dari langit, dan menumbuhkan dari bumi segala keberkahannya berupa tanam-tanaman, serta menyuburkan air susu ibu. Pun akan dianugerahkan kepada mereka harta dan anak-anak, kebun-kebun yang subur dengan segala macam buah-buahan, di tengah-tengahnya mengalir air yang tidak pernah berhenti “.

    Begitulah kejelian para ulama akhirat sejak zaman dahulu. Mereka tidak memandang satu persoalan dari sisi kulitnya saja, melainkan tertuju pada akar persoalan sebagaimana yang dibimbing oleh wahyu Ilahi. Bandingkan dengan orang-orang pada zaman sekarang yang hanya mengedepankan rasio saja dalam menganalisis masalah. Bila negerinya tertimpa bencana apakah itu kekeringan, kebakaran, gempa bumi, banjir, wabah penyakit, hama tanaman dan lain sebagainya, mereka tidak segera berpikir bahwa semua itu tidak lain adalah akibat dari dosa yang dilakukannya seperti yang ditegaskan Allah SWT. dalam surah Al Syura ayat 42 dan 30. Kita teringat dengan ungkapan Prof Dr. Sauki Futaki (Allahumma Yarham), tokoh Muslim Jepang “Yang membuat manusia modern mudah resah dan gelisah, karena mereka terlalu mengandalkan kepada kemampuan otaknya sedangkan dengan Allah semakin bertambah jauh“.

    Demikian agungnya istighfar. Sebuah langkah yang selama ini selalu kita abaikan dalam mencari jalan keluar dari berbagai krisis yang kita hadapi. Dengan beristighfar, kita berupaya menyalakan kembali kesadaran kita. Kita mendekatkan diri kepada-Nya, menghilangkan jarak antara kita dengan-Nya. Sehingga, Allah selalu hadir dalam kehidupan kita, entah kala suka maupun duka, entah lapang atau sempit. Sesulit apa pun masalah, Allah SWT selalu membukakan pintu-pintu solusi bagi para ahli istighfar. Insya Allah. Amin. Wallahualam.

    Reply #4 29 October, 2008, 02:23:24 PM
  • Publish
  •  :)


    BUAH & FAEDAH ISTIGHFAR

    Ibnu Taimiyah Rahimahullah menyebutkan di dalam bukunya tentang buah dan faedah yang dapat kita ambil dari kita melakukan amalan ini, di antaranya ialah:

    1. Diampuninya dosa-dosa. Siapa yang mengakui dosanya dan juga meninggalkannya, maka dia akan diampuni.

    2. Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kecintaan-Nya. Istighfar merupakan perkara yang penting, sehingga seorang hamba bisa mendapatkan ridha dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta”ala.

    3. Memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. FirmanNya, Hendaklah kalian meminta ampun kepada Allah Ta’ala, agar kalian mendapat rahmat (An-Naml :46).

    4. Membebaskan diri dari adzab. Istighfar merupakan sarana yang paling pokok untuk membebaskan diri dari adzabnya, sebagaimana firman-Nya, Dan tidaklah Allah Ta’ala akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.(Al-Anfal:33).

    5. Istighfar mendatangkan kebaikan yang banyak dan juga barokah. Firman Allah Ta’ala, Dan (dia berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang deras kepada kalian, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian’.(Hud:52).
    Didalam firman-Nya yang lain, Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan dengan lebat, dan akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai’.(Nuh:10-12).

    6. Kebeningan hati. Karena istighfar dapat menghapus dosa dan mengenyahkannya. Maka hati pun menjadi bersih dan bening dari noda dosa serta kedurhakaan.

    7. Istighfar merupakan kebutuhan hamba yang berkelanjutan. Dia membutuhkannya menjelang siang dan malam, bahkan istighfar senantiasa dibutuhkan dalam setiap perkataan dan perbuatan, kala sendirian maupun ramai, karena di dalamnya mengandung kemashlahatan, mendatangkan kebaikan, menyingkirkan kemudhoratan, menambah kekuatan amal hati dan badan serta keyakinan iman.

    8. Mendatangkan sikap lemah lembut dan baik tutur katanya. Siapa yang ingin agar Allah Ta’ala memperlakukannya dengan lemah lembut, maka dia harus senantiasa bersama-Nya. Istighfar dapat menjadikan seorang hamba lemah lembut, baik tutur katanya, karena dia biasa mengucapkan kebenaran dan menjelaskannya.

    9. Memperbanyak ibadah dan zuhud di dunia. Istighfar membutuhkan penyesalan dan taubat, sehingga ia menuntut pelakunya lebih banyak beribadah. Firman Allah Ta’ala, Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan.(Hud:114).

    Setelah kita mengetahui apa buah dan bagaimana faidahnya bagi kita apabila kita melaksanakan amalan ini, marilah bersama-sama kita saling mengingat kesalahan-kesalahan kita, mumpung kita masih hidup, masih ada waktu untuk memikirkan seberapa banyak dosa yang telah kita kerjakan dan berapa banyak kebaikan-kebaikan yang telah kita kerjakan. Marilah kita bersama-sama mencari ridha Allah Ta’ala mencari rahmat dan karunianya yaitu berupa surga di akhirat nanti. Dan mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang merugi di yaumul akhir nanti. Allahu A’lam.

    Pustaka :
    [ Istighfar, Ahammiyah wa Hajatul-‘Abd Ilaihi, Ibnu Taimiyah, Dar Ibnu Hazm, Beirut 1415 H ]

    disalin dari http://www.ngajisalaf.net

    Reply #5 12 February, 2009, 03:36:40 PM
  • Publish
  • [move]KEUTAMAAN ISTIGHFAR [/move]




    Dari Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

    “Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”. (HR. Muslim)

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

    “Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari”. (HR. Bukhari)

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

    “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

    “Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim” (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

    Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”. (HR. Abu Dawud)

    Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang berdoa: “Astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaihi” (Saya mohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada sesembahan yang benar melainkan Dia yang Maha Hidup, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertaubat kepada-Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun lari dari perang”. (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi & Al Hakim, Berkata Al Imam An Nawawi: hadits ini shahih berdasarkan syarat Al Bukhari & Muslim)

    Penjelasan Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah berkenaan dengan riwayat-riwayat diatas:

    Berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan Al Aghor Al Muzani Radhiyallahu ‘anhu:

    (“Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati”) yakni sesuatu yang membuat kalut pikiran dan perasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam (“dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”) kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam mengucapkan istighfar (astaghfirullah) dalam sehari sebanyak seratus kali.

    Perhatikan perangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam diatas, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosa beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang telah lalu dan yang akan datang, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam tetap beristighfar memohon ampun kepada Allah. Maka bagaimana dengan kita? dimana kita memiliki hati yang keras, bahkan mati dan tidak terlintas rasa kurang baik dalam hati serta pikiran ketika melakukan dosa-dosa dan pelanggaran. Dan sungguh engkau akan dapati manusia sangat sedikit untuk menaruh perhatian dalam masalah ini. Oleh karena itu sudah semestinya bagi manusia meneladani perangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang mulia, yakni dengan banyak beristighfar sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Kami menghitung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam membaca :

    “Robbighfirlii watub ‘alaiyya innaka antat tawwaaburrohiim” (Ya Tuhan, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) ..sebanyak seratus kali dalam satu majlis”. (HR. Abu Dawud & At Tirmidzi)

    Demikian yang diamalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, dan itu merupakan suatu kenikmatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas hamba-Nya ketika si hamba terpedaya untuk berbuat dosa dan kemudian beristighfar memohon ampun kepada Allah.

    “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

    Riwayat diatas memberikan motivasi bagi manusia, agar mau bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan memperbanyaknya. Karena dengan sebab itu manusia dapat mencapai derajat orang-orang yang suka beristighfar kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Sebagaimana yang dinyatakan Abu Dawud dalam Sunan-nya:

    “Barangsiapa membiasakan beristighfar, maka Allah melapangkan kesempitannya dan memudahkan segala kesulitannya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka”.

    (Barangsiapa membiasakan beristighfar) yakni dalam keadaan terus-menerus beristighfar dan memperbanyaknya, maka akan menjadi sebab untuk melapangkan kesempitan dalam hidupnya dan memudahkan segala kesulitannya serta memberi rizki kepadanya dari arah yang tiada disangka-sangka.

    Hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan Istighfar dan pujian serta motivasi bagi pelakunya sangatlah banyak. Maka wajib atasmu wahai saudaraku untuk memperbanyak istighfar. Yang paling banyak diucapkan: “Allahummaghghfirli (Ya Allah ampunilah aku), Allahummarhamni (Ya Allah rahmatilah aku), Astaghfirullaaha wa atuubu ‘ilaih (Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya) dan lafadz-lafadz yang semisalnya. Semoga pada hari kiamat kelak engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan dijawab permohonanmu, dan Allah mengampunimu. Wallahul muwaffiq.

    Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullaah
    Syarh Riyadhus Shalihin, Hal. 559 - 560
    Penterjemah : Fikri Abul Hassan

    halawah

    • *
    • İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
      • View Profile
    Reply #6 15 February, 2010, 09:29:11 AM
  • Publish
  •  :)

    “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat
    kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
    memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada
    waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap
    orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
    berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari
    Kiamat.” (Hud: 3).

    Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha
    Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang
    yang beristighfar dan bertaubat.

     Dan maksud dari firmanNya:
    “Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus)
    kepadamu.” Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, “Ia
    akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian”.

    Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “Inilah buah
    dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada
    kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran
    hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang
    dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.

    Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian
    balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
    berkata: “Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan
    bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah
    menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya
    sampai pada waktu yang ditentu-kan. Allah memberikan balasan (yang
    baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat
    yang dite-tapkan”.

     Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah di antara
    kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu
    Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia
    berkata, Rasulullah bersabda:

    “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah),
    niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan
    untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki
    (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.

    Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang
    berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat
    dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu,
    bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan
    mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak
    diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

    Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia
    bersegera untuk memperbanyak istighfar (memohon ampun), baik dengan
    ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada, sekali
    lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan
    lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.

    "Bersegeralah kamu mendapatkan KEAMPUNAN Allah"
    İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
    hubungan dengan ukhuwahfıllah perpaduan Ummah seutuh

    sonidoter89

    • *
    • ipraytobeclosedtoyouandonthatdayi'llseeyousmile!
      • View Profile
    Reply #7 05 March, 2011, 09:05:57 PM
  • Publish
  • :)

    Syarat Istighfar

    *Meninggalkan maksiat

    *Menyesal atas maksiat yang telah dilakukan

    *Berhasrat tidak akan mengulanginya lagi

    *Memperbanyak ibadah dan berbuat amal kebajikan seperti bersedekah, memberi makan kepada fakir miskin dan lain-lain.

    *Mohon maaf jika melibatkan orang lain.


    Keistimewaan Istighfar

    *Menghidupkan jiwa yang resah kerana dosa

    *Mendekatkan diri kepada Allah SWT

    *Meningkatkan ketakwaan

    *Membanteras tipu daya syaitan, yang selama ini memerangkap manusia dengan dosa

    *Memperolehi kemuliaan dan anugerah Allah SWT dunia dan akhirat.
    Jangan menilai saya berdasarkan penulisan atau post saya!!!!!(kalau saya post pasal christianity/pluralisme bukan saya nak ajak anda join agama/fahaman itu!!!!atau saya seorang christian!!!!!TETAPI saya sedang berkongsi apa yang saya belajar!!!!!
    INGAT!!!!DAKWAH IS NOT ABOUT I AM BETTER THAN YOU!!!

    halawah

    • *
    • İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
      • View Profile
    Reply #8 14 June, 2011, 12:00:47 AM
  • Publish
  •  :)

    Marilah sama-sama membersihkan hati dan minda kita dengan muhasabah diri;


    Sabda Rasulullah s.a.w. berkenaan erti penghijrahan:( Erti hijrah itu perpindahan iaitu Menukarkan diri dari sifat keji ke sifat yang terpuji)
     
    Yang bermaksud: “Orang yang berhijrah, adalah dia yang meninggalkan apa yang Allah larang.” Hadith riwayat Imam Bukhari.

    Maka Hijrah kita selaku Umat Nabi s.a.w adalah dengan kita meninggalkan segala larangan Allah, dan mengamalkan segala perintah Allah s.w.t.

    Mungkin sudah berkali-kali kita bertekad untuk mentaati perintah Allah, untuk bertaubat dari kesilapan masa lalu, atau untuk kembali ke jalan yang lurus. Oleh itu, mulakanlah dari hari ini, sejak detik ini peluang untuk kita menginsafi diri kepada Allah s.w.t. Dengan hati penuh pasrah, panjatkan doa memohon keampunan dari Allah.
    Doa taubat
    Doa Taubat - Madrasah Al Junied ( With Lyrics )



    Ketahuilah, bahawasanya Allah sentiasa menerima permintaan dan pengampunan hamba-Nya, walau bagaimana sekalipun hal keadaannya. Semperna Bulan Rajab adalah Bulan Allah swt yang mulia marilah kita renungkanlah hadith Nabi s.a.w. yang diriwayatkan Imam Bukhari yang bermaksud:

    “Apabila seseorang mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal maka aku akan mendekat sehasta, apabila ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang dengan berlari.”


    Orang yang dicintai Allah swt itu sentiasa berada dalam naunganNya, sehingga segala gerak-gerinya
    diarahkan kepada segala perbuatan yang diredhaiNya semata. Sebab Allah swt tidak ingin
    kita melakukan yang mungkar, padahal hawa nafsu kita pula sangat cenderung kepada yang mungkar.

    Hanya orang yang dirahmati Tuhannya akan terselamat dari angkara hawa nafsu, dan mereka itulah orang-orang yang berada dalam perlindungan Allah swt dan naunganNya.

    Dan orang yang berada dalam naungan Allah adalah orang yang dicintaiNya, sedang orang yang dicintaiNya itu tentu sudah
    menunaikan segala kewajipannya dengan sempurna. Kemudian ditambahnya lagi dengan ama-lamal
    kebajikan secara sukarela. Segala anjuran Allah dilaksanakannya dengan penuh redha dan
    syukur. Segala anggotanya akan tertarik untuk melakukannya, sedang hatinya merasa lapang dan
    tenang.

    Sesungguhnya Allah swt telah menyatakan kepada Nabi Musa as ketika berkata kepadanya :
    Ketahuilah bahawasanya sesiapa yang menghina waliKu, atau menakutkannya, maka dia telah mengajak Aku untuk berperang, dan bermusuh denganKu....

    Berkata Aishah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. telah bersabda: Allah s.w.t. telah berfirman:
    “Barangsiapa yang menggangu waliKu, maka ia telah menyatakan perang terhadapKu. Dan tiada
    seorang hambaKu yang bertaqarrub kepadaKu seperti menunaikan segala kefardhuannya. Dan selama
    hambaku bertaqarrub kepadaku dengan Nawafil, sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku
    mencintainya, nescaya jadilah Aku (seolah-olah) seperti matanya yang ia melihat dengannya, dan
    telinganya yang ia mendengar dengannya, dan kakinya yang ia berjalan dengannya, dan hatinya
    yang ia memikir dengannya, dan lidahnya yang ia berkata-kata dengannya. Apabila ia meminta, Aku
    akan memberinya, dan apabila ia berdoa, Aku akan mengkabulkannya. Dan tidak pernah teragakagak
    dalam sesuatu perbuatan yang Aku putuskan, seperti teragak-agaknya Aku untuk mewafatkannya.
    Sebab dia bencikan mati, sedang Aku benci pula untuk menyakiti hatinya”.
    Dikeluarkan oleh At-Thabraani dan yang lainya  dari riwayat Uthman Bin Abi Al-‘Atikah dari
    Ali Bin Yazid dari Al-Qasim dari Abi Umamah dari Nabi saw Baginda bersabda : Allah swt telah berkata :
    “Barangsiapa yang menghina waliKu, maka ia telah menyatakan perang terhadapKu. Wahai anak
    Adam, sesungguhnya engkau tidak sekali-kali akan mengetahui apa yang ada di sisiku kecuali apa
    yang telah Aku fardhukan ke atasmu. Dan hendaklah hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan Nawafil,
    sehingga Aku mencintainya. Maka nescaya jadilah Aku hatinya yang ia memikir dengannya, dan
    lidahnya yang ia berkata-kata dengannya, dan pandangannya yang ia melihat dengannya. Maka
    apabila ia berdoa kepadaKu, akan Kukabulkannya, dan apabila ia meminta padaKu, maka Akan Aku
    beri padanya, dan apabila ia memohon kemenangan dariKu, maka akan Ku berikannya kemenangan.
    Dan sebaik-baik ibadah hambaKu yang Aku sukai adalah nasihat.”
     Beristighfar dan taubat adalah di antara
    kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, AbuDawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:

    “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah),niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki(yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.


    Astaghfirullah;
    Doa Taubat (Astaghfirullah) - Pelajar Madrasah Al-Junied Islamiah Singapura


    Sebagai memperhalusi hati yang keras beremosi yang lembut dan gerakan sentimen kearah yang positif maka hayatilah zikir ini,,,Adoi Syahdunyee boleh menangis setiap iramakannya penuh insaf terasa Allah swt tertusuk kedalam Kalbu mendalam...


    « Last Edit: 14 June, 2011, 11:35:58 AM by halawah »

    halawah

    • *
    • İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
      • View Profile
    Reply #9 14 June, 2011, 11:38:32 AM
  • Publish
  •  :)
    Istighfar mendidik jiwa yang gundah maka berbanyak zikir nama Allah swt.


    Perubatan rohani yang dimaksudkan di sini ialah perubatan penyakit dengan kaedah kerohanian atau perubatan penyakit rohani samada menggunakan kaedah perubatan rohani atau jasmani.

    Perubatan rohani yang dinyatakan di atas wujud dan boleh ditemui dalam banyak dalil. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

    “Berkata Abu Hurairah ‘Rasulullah s.a.w melihatku sedang aku baring menahan sakit diperutku’. Beliau berkata ‘Adakah kamu ditimpa sakit perut?’ Aku berkata ‘Ya ! wahai Rasulullah’ Ia berkata ‘Bangunlah dan lakukan solat. Sesungguhnya solat itu adalah penawar” (Riwayat Ibn Majah)
     
    Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

    “Bangunlah wahai Bilal! Rehatkanlah kami dengan solat” (Riwayat Abi Daud)



    Sholatun Bissalamil Mubin (Ustaz Shafi & Anak-Anak Cinta Rasul)
    « Last Edit: 14 June, 2011, 11:51:00 AM by halawah »

    divider3
    halaqahforum4