Ciri-ciri Peribadi Muslim

Author Topic: Ciri-ciri Peribadi Muslim  (Read 9871 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

ain

  • *
  • Posts: 432
  • mahu mnjadi insan biasa yg LUAR BIASA!
    • View Profile
27 May, 2007, 09:14:58 PM
  • Publish Di FB
  • 10 Ciri-ciri Peribadi Muslim-Hasan al-Banna

    Hasan al-Banna adalah tokoh besar dalam sejarah dakwah. Beliau pernah menggariskan 10 ciri-ciri penting dalam usaha pembentukan peribadi Muslim. Moga Allah sentiasa merahmati beliau dan memberi kekuatan untuk setiap dai yang mengambil suntikan motivasi perjuangan beliau. Semalam saya telah turun berkempen. Berkempen kepada anak-anak didik saya. Berkempen untuk dipraktikkan 10 ciri-ciri peribadi Muslim. Berkempen untuk melahirkan peribadi-peribadi unggul, yang bakal mencorakkan masa depan ummah dan negara....

    Saya telah berkempen di sini hampir dua tahun, langkah seterusnya adalah untuk melihat kefahaman ini diterjemahkan, diparaktikkan dengan semaksima yang mungkin...

    10 CIRI-CIRI PERIBADI MUSLIM

    1. Salimul Aqidah.

    Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya:'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah sallallah ‘alahi wasallam mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

    2. Shahihul Ibadah.

    Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul sallallah ’alaihi wasallam yang penting, dalam satu hadisnya; beliau menyatakan: 'solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku solat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul sallallah ’alaihi wasallam yang bererti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

    3. Matinul Khuluq.

    Akhlak yang kukuh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah mahupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah sallallah ’alaihi wasallam ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).

    4. Qowiyyul Jismi.

    Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani bererti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fizikalnya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fizikal yang sihat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk- bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesihatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim, dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengubatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim selalu dalam keadaan lemah dan kesakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk perkara yang penting, maka Rasulullah sallallah alaihi wasallam bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).

    5. Mutsaqqoful Fikri.

    Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fathonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang ertinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.'Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Untuk itu seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Biasakah kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang ertinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapatmenerima pelajaran (QS 39:9).

    6. Mujahadatun Linafsihi.

    Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada dengan seseorang itu berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah sallallah ’alaihi wasallam bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

    7. Harishun 'ala Waqtihi.

    Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah s.w.t banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanfaatkan waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi sallalla ‘alaihi wasallam adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

    8. Munazhzhamun fi Syu'unihi.

    Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama,maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kesinambungan dan penguasaan ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

    9. Qodirun 'alal Kasbi.

    Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memilik keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

    10. Naafi'un Lighoirihi.

    Bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

    Jazakumullah Khairan Kathira!


    Rujukan :  http://pewariskecemerlangan.blogspot.com/2008/10/10-ciri-ciri-peribadi-muslim-hasan-al.html
    « Last Edit: 16 August, 2007, 09:43:03 AM by mas'ulah_lilmuslimeen~ »
    "Sesiapa yang mahukan kebaikan dan Islah,kegemilangan dan izzah tanpa jihad dan pengorbanan,dia adalah orang yang bermimpi dan berkhayal!"

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14507
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Jawab #1 17 June, 2009, 08:11:56 PM
  • Publish Di FB
  • Peribadi Mulia Seorang Muslim

    1. Bangunlah sembahyang apabila saudara mendengar azan, walau bagaimana keadaan sekalipun.

    2. Bacalah Al-Quran atau tatapilah buku-buku atau pergilah mendengar perkara-perkara yang baik ataupun amalkanlah zikrullah dan jangan sama sekali saudara menggunakan masa untuk perkara yang tidak berfaedah.

    3. Berusahalah untuk bertutur di dalam Bahasa Arab yang betul kerana ianya merupakan salah satu daripada syiar Islam.

    4. Janganlah banyak bertengkar dalam apa-apa perkara sekalipun kerana pertengkaran kosong tidak akan memberikan apa-apa faedah.

    5. Janganlah banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tenteram.

    6. Janganlah banyak bergurau kerana para pejuang tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh.

    7. Janganlah bercakap lebih nyaring daripada kadar yang diperlukan oleh pendengar kerana ianya sia-sia malah menyakiti hati orang.

    8. Jauhilah daripada mengumpat peribadi orang dan mengecam pertubuhan-pertubuhan dan janganlah berkata-kata melainkan yang memberikan kebaikan.

    9. Berkenal-kenallah dengan saudara Muslim yang saudara bertemu dengannya sekalipun ia tidak meminta untuk berkenalan kerana asas gerakan dakwah kita adalah berkenalan dan berkasih sayang.

    10. Kewajipan kita adalah lebih banyak daripada waktu kita ada, oleh itu bantulah saudaramu tentang apa cara-cara bagaimana hendak menggunakan masa dengan faedah dan jika saudara mempunyai tugas sendiri maka ringkaskanlah pelaksanaannya.
    « Last Edit: 22 August, 2009, 06:59:15 AM by ummi Munaliza »
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14507
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Jawab #2 22 August, 2009, 06:59:39 AM
  • Publish Di FB


  • Sesungguhnya kehidupan manusia di dunia ini sentiasa dalam kerugian dan kelalaian kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh serta bertagwa kepada Allah. Taqwa merupakan kayu pengukur yang menentukan peningkatan martabat dan status manusia di sisi Allah kerana Dia menilai seseorang manusia bukan dari kegagahannya, kekayaannya atau pangkat tetapi dilihat dart sifat ketaqwaannya.

    Allah s.w.t. berfirman maksudnya:

    " Sesungguhnya orang yang mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Al-Hujurat:13 taqwa dapat membawa manusia ke ambang kejayaan, kecemerlangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

    Talib Ali

    • *
    • Posts: 6
    • Ikthihar Itu Ada Rahmat
      • View Profile
    Jawab #3 29 August, 2009, 11:53:47 PM
  • Publish Di FB
  • SubhanAllah Untungnya Jadi Seorang Muslim

    Islam Itu indah..sungguh Indah.
    Tetapi adakalanya kita lalai dengan nikmat yang diberikan

    Ya Allah ampunilah kami
    hamba mu yang dhaif ini
    Ikthihar Itu Ada Rahmat
    http://www.hormonlife.com

    rhaikal

    • *
    • Posts: 1
      • View Profile
    Jawab #4 16 March, 2010, 04:21:39 PM
  • Publish Di FB
  • syukur alhamdulillah... ya allah ampunkan dosa kedua ibu bapa kami serta muslimin dan muslimat...

    anazahra

    • *
    • Posts: 924
      • View Profile
    Jawab #5 16 March, 2010, 05:16:20 PM
  • Publish Di FB

  • 10 muwasofat Tarbiyah daripada Hassan Al Banna

    The Fonz

    • *
    • Posts: 134
      • View Profile
    Jawab #6 09 July, 2010, 03:27:06 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Surah Al-Mukminun

    [1]
    Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman,
    [2]
    Iaitu mereka yang khusyuk dalam sembahyangnya;
    [3]
    Dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia;
    [4]
    Dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu);
    [5]
    Dan mereka yang menjaga kehormatannya, -
    [6]
    Kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya maka sesungguhnya mereka tidak tercela: -
    [7]
    Kemudian, sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas;
    [8]
    Dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya;
    [9]
    Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya;
    [10]
    Mereka itulah orang-orang yang berhak mewarisi -
    [11]
    Yang akan mewarisi Syurga Firdaus; mereka kekal di dalamnya.


    Allahu'lam
    Subhanallah

    dol_bendol

    • *
    • Posts: 1664
    • http://al-merapu.blogspot.com
      • View Profile
    Jawab #7 09 July, 2010, 03:33:21 PM
  • Publish Di FB
  • [1] Alif, Laam, Miim.
    [2] Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya ; ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa;

    [3] Iaitu orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara yang ghaib,
     dan mendirikan sembahyang serta membelanjakan  sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

    [4] Dan juga orang yang beriman kepada Kitab "Al-Quran" yang diturunkan kepadamu,
    dan Kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu, serta mereka yakin akan hari akhirat .

    [5] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang berjaya.

    keju

    • *
    • Posts: 978
      • View Profile
    Jawab #8 09 July, 2010, 04:10:37 PM
  • Publish Di FB
  • [3]
    (Wahai) keturunan orang-orang yang telah Kami bawa bersama-sama dengan Nabi Nuh (di dalam bahtera)! Sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang bersyukur.

    al israa'

    mohdazri

    • *
    • Posts: 1063
      • View Profile
    Jawab #9 09 July, 2010, 04:23:12 PM
  • Publish Di FB

  • Jangan lupa Rasulullah itu sendiri merupakan contoh mukmin sejati,dan terjemahan kepada manusia yang dikehendaki oleh Allah s.w.t

    keju

    • *
    • Posts: 978
      • View Profile
    Jawab #10 09 July, 2010, 04:26:45 PM
  • Publish Di FB
  • mencari mukmin sejati : Dengan Bimbingan as sunah + al quran

    [15]
    Sesiapa yang beroleh hidayah petunjuk (menurut panduan Al-Quran), maka sesungguhnya faedah petunjuk yang didapatinya itu hanya terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang sesat maka sesungguhnya kesan buruk kesesatannya hanya ditanggung oleh dirinya juga. Dan seseorang yang boleh memikul, tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja). Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah).

    dol_bendol

    • *
    • Posts: 1664
    • http://al-merapu.blogspot.com
      • View Profile
    Jawab #11 09 July, 2010, 05:30:48 PM
  • Publish Di FB
  • ciri ciri orang mukmin, bukan pernyataan, tetapi terperinci akan ciri ciri

    sifat sifat yang boleh kelihatan

    semuga ada yang betul dan benar menyampaikan

    maaf atas kesilapan penyampaian

    maklumlah, bukan senang melekat kecintaan kepada Allah agar melebihi selainnya

    semuga ciri teratas itu dapat di usahakan

    The Fonz

    • *
    • Posts: 134
      • View Profile
    Jawab #12 10 July, 2010, 10:11:00 AM
  • Publish Di FB
  • Assalamualaikum,

    Surah Al-Anfaal :

    [2]
    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.
    [3]
    Iaitu orang-orang yang mendirikan sembahyang dan yang mendermakan sebahagian dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka.
    [4]
    Merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan mendapat pangkat-pangkat yang tinggi di sisi Tuhan mereka dan keampunan serta limpah kurnia yang mulia (di Syurga).

    -------------------------

    Ya lah kalau kita nak benchmark diri kita sendiri mengenai ciri-ciri Orang Mukmin, tentunya Al Quraan yang Benar !

    Allahu'lam
    Subhanallah

    The Fonz

    • *
    • Posts: 134
      • View Profile
    Jawab #13 10 July, 2010, 10:26:00 AM
  • Publish Di FB
  • Assalamualaikum,

    Surah Al-Hujuraat:

    [1]
    Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memandai-mandai (melakukan sesuatu perkara) sebelum (mendapat hukum atau kebenaran) Allah dan RasulNya; dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.
    [2]
    Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengangkat suara kamu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu menyaringkan suara (dengan lantang) semasa bercakap dengannya sebagaimana setengah kamu menyaringkan suaranya semasa bercakap dengan setengahnya yang lain. (Larangan yang demikian) supaya amal-amal kamu tidak hapus pahalanya, sedang kamu tidak menyedarinya.
    [3]
    Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya semasa mereka berada di sisi Rasulullah (s.a.w), - merekalah orang-orang yang telah dibersihkan Allah hati mereka untuk bertaqwa; mereka beroleh keampunan dan pahala yang besar.
    [4]
    Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar bilik-bilik (tempat ahlimu, wahai Muhammad), kebanyakan mereka tidak mengerti (adab dan tata tertib).
    [5]
    Dan kalaulah mereka bersabar menunggu sehingga engkau keluar menemui mereka, tentulah cara yang demikian lebih baik bagi mereka; dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
    [6]
    Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini - dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) - sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.
    [7]
    Dan ketahuilah! Bahawasanya dalam kalangan kamu ada Rasulullah (maka janganlah kemahuan atau pendapat kamu mendahului pentadbirannya); kalaulah ia menurut kehendak kamu dalam kebanyakan perkara, tentulah kamu akan mengalami kesukaran; akan tetapi (Rasulullah tidak menurut melainkan perkara yang diwahyukan kepadanya, dan kamu wahai orang-orang yang beriman hendaklah bersyukur kerana) Allah menjadikan iman suatu perkara yang kamu cintai serta di perhiaskannya dalam hati kamu, dan menjadikan kekufuran dan perbuatan fasik serta perbuatan derhaka itu: perkara-perkara yang kamu benci; mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang tetap menurut jalan yang lurus; -
    [8]
    (Mereka dijadikan berkeadaan demikian) sebagai limpah kurnia dan nikmat pemberian dari Allah; dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
    [9]
    Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya; jika salah satunya berlaku zalim terhadap yang lain, maka lawanlah puak yang zalim itu sehingga ia kembali mematuhi perintah Allah; jika ia kembali patuh maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil (menurut hukum Allah), serta berlaku adillah kamu (dalam segala perkara); sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil.
    [10]
    Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kamu (yang bertelingkah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.
    [11]
    Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang) sesudah ia beriman. Dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim.
    [12]
    Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani.
    [13]
    Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).
    [14]
    Orang-orang " A'raab" berkata: " Kami telah beriman". Katakanlah (wahai Muhammad): "Kamu belum beriman, (janganlah berkata demikian), tetapi sementara iman belum lagi meresap masuk ke dalam hati kamu berkatalah sahaja: ` kami telah Islam '. Dan (ingatlah), jika kamu taat kepada Allah RasulNya (zahir dan batin), Allah tidak akan mengurangkan sedikitpun dari pahala amal-amal kamu, kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani".
    [15]
    Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya).
    [16]
    Katakanlah (kepada orang-orang "A'raab" itu wahai Muhammad): "Patutkah kamu hendak memberitahu kepada Allah tentang ugama kamu (dengan berkata: ` kami telah beriman ')? Padahal Allah mengetahui segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu".
    [17]
    Mereka mengira dirinya berbudi kepadamu (wahai Muhammad) dengan sebab mereka telah Islam (tidak melawan dan tidak menentang). Katakanlah (kepada mereka): "Janganlah kamu mengira keislaman kamu itu sebagai budi kepadaku, bahkan (kalaulah sah dakwaan kamu itu sekalipun maka) Allah jualah yang berhak membangkit-bangkitkan budiNya kepada kamu, kerana Dia lah yang memimpin kamu kepada iman (yang kamu dakwakan itu), kalau betul kamu orang-orang yang benar (pengakuan imannya).
    [18]
    "Sesungguhnya Allah mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Allah Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan".

    ------------------------

    Al Quraan Benar selama-lamanya.

    Allahu'lam
    Subhanallah

    dol_bendol

    • *
    • Posts: 1664
    • http://al-merapu.blogspot.com
      • View Profile
    Jawab #14 10 July, 2010, 11:41:44 AM
  • Publish Di FB
  • Surah Al-Anfaal :

    [2]
    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.

    gementar hati, dalam dada
    getaran di dada
    suara di dada
    Ilmu dalam dada

    itulah yg saya selalu katakan, Makrifat ia, ada suara dalam dada, bukanlah yang di dengar itu bisikan di telinga

    semuga mahulah kita, terus mencari AKU, yang ternyata, Dekat teramat dengan ku, mukmin, harapan
    inshallah, joom ramai ramai

    intizhar

    • *
    • Posts: 623
      • View Profile
    Jawab #15 11 July, 2010, 12:29:11 PM
  • Publish Di FB
  • Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dengan segala nikmat kurniaanNya.

    Gementar, getaran, suara dan ilmu adalah Haq milikNya..lalui dari peringkat demi peringkat..Kesedaran, keinsafan,keyakinan..jadilah penyerahan dlm kebenaran..mukmin kepada muqhlisin..

    Adapun manusia mula beriman kpd Allah Maha Agung dgn pengucapan secara lahir ( lisan ) semata..namun itu bukanlah suatu hakikat keimanan yang sebenarnya selama pengucapan itu tidak diikutkan dengan hati, kerana hati itu tempat pandangan Allah, yang dengarnya seseorang manusia itu menjadi sebenar-benar mukmin.

    Gambaran seorang mukmin yang hakiki itu dengan tiga syarat: iaitu : Ridha menjadikan Allah sebagai Tuhan, dan mengambil Islam sebagai agama dan mempercayai bahwa Muhammad itu adalah Nabi dan Rasul. Itulah pokok i'tikad dan kepercayaan yang sebenarnya.

    " Sesungguhnya Allah mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Allah Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan ". ( Al-Hujuraat : 18 ).

    Rasai lah mati dlm kebatinannya di hadapan Maha Penciptanya..Allah.

    wallahu'alam.
    Alhamdulillah syukur kita dengan segala nikmat kurniaanNya..

    The Fonz

    • *
    • Posts: 134
      • View Profile
    Jawab #16 12 July, 2010, 12:26:27 PM
  • Publish Di FB
  • Assalamualaikum,

    Al-Nahl,  Ayat  [97]
    Sesiapa yang beramal soleh, dari lelaki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan.

    Al Maaidah Ayat [35]
    Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan carilah yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya); dan berjuanglah pada jalan Allah (untuk menegakkan Islam) supaya kamu beroleh kejayaan.

    As-Sajdah Ayat [15]
    Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami hanyalah orang-orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka segera merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takbur.

    Al- Baqarah Ayat [186]
    Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.


    Allahu'lam
    Subhanallah

    ct_nursolehah

    • *
    • Posts: 69
      • View Profile
    Jawab #17 01 December, 2010, 05:48:46 PM
  • Publish Di FB
  •  :)
    dan adapun orang-orang beriman itusangat2sangat [/colort mencintai Allah.{surah al-baqarah:..x ingat.

    halawah

    • *
    • Posts: 2590
    • İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
      • View Profile
    Jawab #18 11 December, 2010, 09:21:05 AM
  • Publish Di FB
  •  :)
    Ciri-ciri orang mukmin yang sejati

    الســــلام عليكم ورحمة الله وبركـــاته

    الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
    أعو ذ بالله من الشيطا ن الرجيم
    بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
    اللهم إني أعوذبك من الشقاق والنفاق وسوء الأخلاق

      “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung denganMu daripada penyakit hati (Syiqaq) dan berpura-pura/bermuka-muka(Nifak) dan akhlak yang buruk(su’ul akhlak).”
    Antara ciri-ciri orang mukmin itu:

    1)mudah diajak bergaul=
    bersifat lemah lembut tutur katanya dan halus budi bahasanya, menimbulkan keimanan kepada jiran tetangganya dan ketenteraman kepada masyarakat sekelilingnya.

    Orang mukmin yang sejati ialah;
    Mukmin yang tidak menghiraukan kepenatan dirinya demi untuk kesenangan orang lain kerana seorang mukmin terhadap mukmin yang lain mempunyai pertalian persaudaraan; haram baginya menumpahkan darah saudaranya, marampas hartanya apatah lagi untuk menodai maruahnya. Seorang mukmin juga sentiasa dihiasi dengan budi pekerti yang baik. Tiada berkhianat, tidak berbahasa yang kesat dan tidak lokek untuk memberi nasihat.

    Orang mukmin mempunyai teraju yang dikendalikan oleh iman;
    Agar tidak mudah terbabas atau terpesong mengikut kemahuan hawa nafsu , dan tidak akan menyeleweng menurut keinginan syahwat.
    Imannya itulah yang akan menjadi penghalang dirinya daripada terjerumus ke dalam lembah maksiat yang mencelakakannya.

    Ini kerana segala tindakannya didasarkan kerana Allah,
    apa yang dibuatnya kerana Allah,
    apa yang ditinggalkannya kerana Allah,
    sayangnya kerana Allah dan marahnya kerana Allah.
    Cinta dan bencinya kepada sesuatu juga kerana Allah.

    Orang mukmin itu kalau sekiranya kitab Qur'an yang menjadi pedomannya, taqwa menjadi rakannya, jujur menjadi menterinya dan sifat malu menjadi rajanya, pasti rahmat Allah akan menunggu di belakangnya.

    Orang mukmin melihat dosanya seperti gunung diatas kepalanya, dia takut akan menghempap dirinya. Lantaran itu orang mukmin tidak akan menjadi pembohong, tidak akan menjadi pengumpat dan tidak akan mahu menjadi orang yang suka mencaci.

     Firman Allah di dalam surah al-Anfal:

    "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah hati mereka penuh ketakutan, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya (keterangan Allah) nescaya bertambahlah keimanan mereka dan kepada Tuhan mereka berserah, mereka tetap mengerjakan sembahyang (pada waktunya) dan membelanjakan (pada perkara kebajikan) sebahagian daripada rezki yang Kami (Allah) kurniakan kepada mereka. Itulah orang-orang mukmin sejati, mereka itu mendapat (kehormatan) di sisi Tuhan mereka, dan mendapat keampunan serta rezki yang berharga."

    Orang mukmin juga ialah orang yang rajin bekerja dan tekun berusaha untuk melepaskan dirinya daripada kesempitan hidup.


    Dia tidak rela menjadi beban orang lain, yang ditanggung makan minumnya tanpa ada sesuatu khidmat yang dilakukannya. Mereka juga ikhlas dalam amalannya dan usaha yang diamalkannya itulah bakal menjadi bekalan pada hari tuanya.

    Orang mukmin itu ialah orang benar keimanan. Tidak sedikit pun keimanannya itu dinodai oleh keraguan atau syak wasangka.

    Orang mukmin yang jujur, beristiqamah, laksana malaikat mekerbin di sisi Allah, dan orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan disukai Allah daripada orang mukmin yang dhaif lagi lemah

    Hendaklah kita sekalian menjadi orang-orang yang kuat;
     iaitu kuat imannya, kuat dalam segi keperluan hidupnya,
     kuat dalam berusaha dan beramal, serta menjadi orang-orang yang kuat di dalam persatuan dan perpaduan,

     seterusnya hendaklah kita sekalian;

     menjadi orang-orang yang kuat menegakkan agama,
     jangan ada perasaan rendah dan jangan ada perasaan susah, sesungguhnya kita lebih unggul sekiranya kita benar-benar beriman.

     Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Hujurat ayat 15:

    "Orang-orang yang sebenarnya beriman itu hanyalah mereka yang percaya kepada Allah dan RasulNya,
    kemudian itu tidak pernah ragu-ragu dan mereka berjuang pada jalan Allah dengan harta dan diri mereka, itulah orang-orang yang benar."

    ربنا ظلمناأنفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكون من الخا سرين

     “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami, dan jika
    Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya
    kami termasuk orang-orang yang rugi.”

    37 Abu Nashr As Sarraj, Al Luma’, hal. 184

    Memikirkan Dzat Allah


    Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.

    Suudzon terhadap orang Islam ghibah.

    Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

    Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk.

    Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan tetapi orang munafik selalu mencari cela orang lain.

    Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya.

    Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mampu menghitung semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia.

    Apakah cukup dengan zikrullah dan mengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas.

    Apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsung takut. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya:
    Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)

    Dalam ayat lain disebutkan:

    Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)

    Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”?
    Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat.

    Walaupun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi diri dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang akan dicerna.

    Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak masuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.

    Allah SWT berfirman :

    Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qoof 37)

    Wallahu a’lamu bis showab.
    « Last Edit: 11 December, 2010, 09:23:32 AM by halawah »
    İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
    hubungan dengan ukhuwahfıllah perpaduan Ummah seutuh

    rabbitah

    • *
    • Posts: 608
      • View Profile
    Jawab #19 09 January, 2011, 08:07:15 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Kecantikan seorang lelaki bukan kepada rupa fizikal tetapi pada murni rohani. Lelaki yang cantik adalah:-

    1) Lelaki yang mampu mengalirkan air mata untuk ingatan.

    2) Lelaki yang sedia menerima segala teguran.

    3) Lelaki yang memberi madu, setelah menerima racun.

    4) Lelaki yang tenang dan lapang dada.

    5) Lelaki yang sentiasa berbaik sangka.

    6) Lelaki yang tak pernah putus asa.

    Kecantikan lelaki berdiri di atas kemuliaan hati. Seluruh kecantikan yang ada pada Nabi Muhammad adalah kecantikan yang sempurna seorang lelaki.
    Hidup di dunia bukan sekadar suatu kembara yang akan berakhir tatkala nafas terakhir terhela. Jua bukan bermakna kehidupan seseorang manusia itu akan ternoktah tatkala nyawa terpisah dari jasad. Sebaliknya, tatkala jasad ditinggalkan roh, hidup baru bagi seseorang manusia itu bermula.

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    3 Replies
    3033 Views
    Last post 25 November, 2011, 08:06:01 PM
    by alhaudhie
    33 Replies
    9068 Views
    Last post 19 June, 2012, 07:18:53 PM
    by 5zul
    8 Replies
    3222 Views
    Last post 12 May, 2010, 09:36:24 PM
    by cahaya pencinta