Siapa Ulamak Pewaris Nabi?

Author Topic: Siapa Ulamak Pewaris Nabi?  (Read 15457 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

ZakiaAliaMedina

  • *
  • Posts: 232
    • View Profile
Jawab #60 21 September, 2013, 09:28:31 PM
  • Publish Di FB
  • semoga bermanfaat.... :ins:



    Mari kenali Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz ibni Syekh Abu Bakar bin Salim


    Nasab Habib Umar bin Hafidz

    Habib 'Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abu Bakar bin 'Aydrus bin 'Umar bin 'Aydrus bin 'Umar bin Abu Bakar bin 'Aydrus bin Husein bin As-Syekh Al Kabir Al-Qutb As-Syahir Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

    Beliau dilahirkan sebelum fajar hari senin, 4 Muharram 1383 H / 27 Mei 1963M di Kota Tarim. Di kota yang penuh berkah inilah beliau tumbuh dan menerima didikan agama serta menghafal kitab suci al-Quran dalam keluarga yang terkenal iman, ilmu dan akhlak yang luhur. Guru pertamanya sudah tentu ayahanda beliau yaitu Habib Muhammad bin Salim yang juga merupakan Mufti Kota Tarim al-Ghanna itu. Selain ayahandanya, beliau juga menuntut ilmu dengan banyak ulama antaranya dengan al-Habib al-Munshib Ahmad bin 'Ali bin asy-Syaikh Abu Bakar, al-Habib 'Abdullah bin Syaikh al-'Aydrus, al-Muarrikh al-Bahhaatsah al-Habib 'Abdullah bin Hasan BalFaqih, al-Muarrikh al-Lughawi al-Habib 'Umar bin 'Alwi al-Kaaf, asy-Syaikh al-Mufti Fadhal bin 'Abdur Rahman BaFadhal, asy-Syaikh Tawfiq Aman dan kepada saudara kandungnya al-Habib 'Ali al-Masyhur bin Muhammad bin Salim. Selain kepada para ulama Tarim, beliau juga menuntut ilmu dan ijazah kepada banyak lagi ulama di luar kota tersebut seperti di Kota Syihr, al-Baidha` dan juga al-Haramain. diantaranya beliau menuntut ilmu dan menerima ijazah kepada al-Habib Muhammad bin 'Abdullah al-Hadhar, al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumaith, al-Habib al-Musnid Ibrahim bin 'Umar bin 'Aqil, al-Habib 'Abdul Qadir bin Ahmad as-Saqqaf, al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha al-Haddad, al-Habib Abu Bakar al-Aththas bin 'Abdullah al-Habsyi dan asy-Syaikh al-Musnid Muhammad Isa al-Fadani. Sekembalinya ke Kota Tarim, beliau mengasaskan Rubath Darul Musthofa pada tahun 1414H / 1994M dengan tiga matlamat: (1) mengajar ilmu agama secara bertalaqqi dan menerimanya daripada ahlinya yang bersanad; (2) mentazkiah diri dan memperbaikkan akhlak; dan (3) menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta berdakwah menyeru kepada Allah s.w.t. Selain terkenal sebagai ulama dan da`ie, beliau juga merupakan seorang penyair yang mahir.
    Habib Umar bin Hafidz adalah Ulama terkemuka di Hadramaut, Yaman. Madrasahnya Darul Mustafa, telah menghasilkan ribuan kader Mubaligh yang berdakwah di segenap penjuru dunia,.sebagai Ulama dan Mubaligh, tutur katanya lembut dan pengetahuan agamanya luas. Namun sorot matanya tajam dan raut mukanya selalu tampak bercahaya. Dan ketika berceramah, beliau bisa berubah menjadi “singa podium” yang berapi-api. Kalimat demi kalimat meluncur dengan suara lantang dan selalu bernas. Meski begitu, beliau tidak pernah menyinggung golongan atau pihak lain, apalagi menyakiti dengan kata-kata. Beliau selalu menekankan pentingnya kebersihan hati, pengamalan ilmu dan berdakwah di jalan Allah swt. Menurut salah seorang muridnya, Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, Habib Umar tidak pernah stress dan marah kepada murid-muridnya.
    Teristimewa, Habib Umar tidak mau menunjukkan karomahnya di hadapan banyak orang. Menurutnya, karomah yang paling penting adalah bukan bisa terbang di udara; misalnya. Kalau manusia bisa terbang, apa bedanya dengan burung. Tapi karomah yang paling besar adalah Istiqamah, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
    Habib Umar lahir di Tarim, Hadramaut, pada hari senin bulan Muharram, 43 tahun yang lalu, dari pasangan Zahra binti Ahmad dan Muhammad bin Hafidz. Sejak berumur sembilan tahun, beliau sudah yatim karena ditinggal ayahnya. Ketika Ayahnya diculik oleh gerombolan komunis dan tidak diketahui jenazahnya. Bakat dan kecerdasan Habib Umar dalam ilmu agama sudah tampak sejak kecil. Beliau pun tumbuh sebagai pemuda yang gemar berburu kepada Ulama terkenal, seperti :

    • Syekh Muhammad bin Ali bin Syam
    • Habib Muhammad bin Abu Bakar Al Haddar
    • Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf.

    Setelah banyak menimba ilmu, beliau kembali ke Tarim dan mendirikan pesantren Darul Mustafa, yang murid-murid pertamanya sebagian besar dari Indonesia.
    Disamping sebagai Da’i, Habib Umar juga penulis yang produktif. Karya-karyanya tidak sebatas ilmu Fiqih, beliau juga mengarang beberapa kitab tasawuf dan maulid. Kitab yang ditulis antara lain :

    • Diyaul Lami ( Maulid Nabi Muhammad SAW )
    • Dhakhira Musyarofah ( Fiqih )
    • Muhtar Ahadits ( Hadits )
    • Nurul Iman ( akidah )
    • Durul Asas ( Nahwu )
    • Khulasah Madani an-Nabawi ( zikir )
    • Tsaghafatul Khatib ( pedoman Khutbah )


    Wasiat dan Nasihat Habib Umar bin Hafidz
    > Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah
    > Barang siapa Semakin mengenal kepada Allah niscaya akan semakin takut.
    > Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
    > Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.
    > Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
    > Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
    > Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.
    > Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
    > Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.
    > Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.
    > Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
    > Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.
    > Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
    > Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.
    > Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
    > Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
    > Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi da�fI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
    > Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya.
    > Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adat (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.
    > Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.
    > Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
    > Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.
    > Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur'an dengan merenungi artinya dan bangun malam.
    > Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
    > Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.
    > Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
    > Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.





    Wasiat Nasehat Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Ibni Syekh Abu Bakar bin Salim
    قَلْبَكَ بِمَحَبَّةِ إخْوَانِكَ يَنْجَبِرْ نُقْصَانُكَ وَ يَرْتَفِعْ عِنْدَ اللهِ شَأنَكَ
    Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah.

    مَنْ كَانَ أعْرَفُ كَانَ أخْوَفُ
    Barang siapa Semakin mengenal kepada Allah niscaya akan semakin takut.

    مَنْ لَمْ يُجَالِسْ مُفْلِحُ كَيْفَ يُفْلِحُ وَ مَنْ جَالَسَ مُفْلِحَ كَيْفَ لاَ يُفْلِحُ
    Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.

    مَنْ كَانَ سَيَلْقَي فِي الْمَوْتِ الْحَبِيْبَ فَالْمَوْتُ عِيْدًا لَهُ
    Barang siapa menjadikan kematiannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.

    مَنْ صَدَّقَ بِالرِّسَالَةِ خَدَمَهَا
    وَ مَنْ صَدَّقَ بِالرِّسَالَةِ تَحَمَّلَ مِنْ أجْلِهَا
    وَ مَنْ صَدَّقَ بِالرِّسَالَةِ بَذَّلَ مَالَهُ وَ نَفْسَهُ مِنْ شَأنِهَا
    Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.

    كُلّ وَاحِدٍ قُرْبُهُ فِى الْقِيَامَةِ مِنَ اْلأنْبِيَاءِ عَلَى قَدْرِ إهْتِمَامِهِ بِهَذِهِ الدَّعْوَةِ
    Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
    مَا أعْجَبَ اْلأرْضُ كُلُّهَا عِبْرَةٌ أظُنُّ لاَ يُوْجَدُ عَلَى ظَهْرِ اْلأرْضِ شِبْرًا اِلاَّ وَ لِلْعَاقِلِ فِيْهِ عِبْرَةٌ اِذَا اعْتُبَرَ
    Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.

    خَيْرُ النَّفْسِ مُخَالَفَتُهَا وَ شَرُّ النَّفْسِ طَاعَتُهَا
    Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

    مِنْ دُوْنِ قَهْرِ النُّفُوْسِ مَا يَصِلُ الإنْسَانُ اِلَى رَبِّهِ قَطٌّ قَطٌّ قَطٌّ وَ اْلقُرْبُ مِنَ اللهِ عَلَى قَدْرِ تَصْفِيَةِ النُّفُوْسِ
    Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

    إذَا انْفَتَحَتِ الْقُلُوْبُ حَصَلَ الْمَطْلُوْبَ
    Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

    مَنْ كَانَ لَهُ بِحَارٌ مِنَ الْعِلْمِ ثُمَّ وَقَعَتْ قِطْرَةٌ مِنَ الْهَوَى لَفَسَدَتْ
    Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

    لَحْظَةٌ مِنْ لَحَظَاتِ الْخِدْمَةِ خَيْرٌ مِنَ رُؤْيَةِ الْعَرْشِ وَ مَا فِيْهِ اَلْفَ مَرَّةٍ
    Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.

    مَا أعْجَبَ اْلأرْضُ كُلُّهَا عِبْرَةٌ أظُنُّ لاَ يُوْجَدُ عَلَى ظَهْرِ اْلأرْضِ شِبْرًا اِلاَّ وَ لِلْعَاقِلِ فِيْهِ عِبْرَةٌ اِذَا اعْتُبَرَ
    Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.

    خَيْرُ النَّفْسِ مُخَالَفَتُهَا وَ شَرُّ النَّفْسِ طَاعَتُهَا
    Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

    مِنْ دُوْنِ قَهْرِ النُّفُوْسِ مَا يَصِلُ الإنْسَانُ اِلَى رَبِّهِ قَطٌّ قَطٌّ قَطٌّ وَ اْلقُرْبُ مِنَ اللهِ عَلَى قَدْرِ تَصْفِيَةِ النُّفُوْسِ
    Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

    إذَا انْفَتَحَتِ الْقُلُوْبُ حَصَلَ الْمَطْلُوْبَ
    Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

    مَنْ كَانَ لَهُ بِحَارٌ مِنَ الْعِلْمِ ثُمَّ وَقَعَتْ قِطْرَةٌ مِنَ الْهَوَى لَفَسَدَتْ
    Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

    لَحْظَةٌ مِنْ لَحَظَاتِ الْخِدْمَةِ خَيْرٌ مِنَ رُؤْيَةِ الْعَرْشِ وَ مَا فِيْهِ اَلْفَ مَرَّةٍ
    Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.

    الإنْطِوَاءُ فِى الشَّيْخِ مُقَدِّمَةٌ لِلْلإنْطِوَاءِ فِى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ
    وَ اْلإنْطِوَاءُ فِى الرَّسُوْلِ مُقَدِّمَةٌ لِلْفَنَاءِ فِى اللهِ
    Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)

    لَمْ يَزَلِ النَّاسُ فِى كُلِّ وَقْتٍ مَا بَيْنَ صِنْفَيْنِ : صِنْفُ سِيْمَاهُمْ فِي وُجُوْهِهِمْ مِنْ أثَرِ السُّجُوْدِ وَ صِنْفُ سِيْمَاهُمْ فِى وُجُوْهِهِمْ مِنْ أثَرِ الْجُحُوْدِ
    Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.

    مَنْ طَلَبَ غَالِي بِالْبَذْلِ لاَ يُبَالِي
    Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.

    إنَّ لِلسُّجُوْدِ حَقِيْقَةً إذَا نَازَلَتْ اَنْوَارُهَا قَلْبَ الْعَبْدِ ظَلَّ الْقَلْبِ سَاجِدًا أبَدًا فَلاَ يَرْفَعُ عَنِ السُّجُوْدِ
    Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.

    قَالَ فِى شَأنِ دَعْوَةٍ : اَلْوَاجِبُ أنْ نَكُوْنَ كُلُّنَا دَعَاةً وَ لَيْسَ بِوَاجِبٍ اَنْ نَكُوْنَ قُضَاةً اَوْ مُفْتِيَيْنِ (قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِيْ أدْعُوْ اِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أنَا وَ مَنِ اتَّبَعَنِيْ) فَهَلْ نَحْنُ تَبِعْنَاهُ أوْ مَا تَبِعْنَاهُ ؟ فَالدَّعْوَةُ مَعْنَاهَا : نَقْلُ النَّاسَ مِنَ الشَّرِّ اِلَى اْلخَيْرِ وَ مِنَ الْغَفْلَةِ اِلَى الذِّكْرِ وَ مِنَ اْلأدْبَارِ اِلَى اْلإقْبَالِ وَ مِنَ الصِّفَاتِ الذَّمِيْمَةِ اِلَى الصِّفَاتِ الصَّالِحَةِ
    Beliau RA berkata tentang dakwah, “Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi da’I dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.

    اَلشَّيْطَانُ يَتَفَقَّدُ أصْحَابَهُ وَ ارَّحْمَنُ يَرْعَى أحْبَابَهُ
    Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya.

    كُلُّمَا عَظُمَتِ الْعِبَادَاتِ خَفَّتِ الْعَادَاتُ وَ كُلُّمَا عَظَمَتِ الْعِبَادَةُ فِى الْقَلْبِ خَرَجَتْ عَظَمَةُ الْعَادَةِ
    Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.

    إذَا صَحَّ الْخُرُوْج حَصَلَ بِهِ الْعُرُوْج
    Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.


    أخْرِجْ خَوْفَ الْخَلْقِ مِنْ قَلْبِكَ تَسْتَرِحْ بِخَوْفِ الْخَلْقِ
    وَ أخْرِجْ رَجَاءَ الْخَلْقِ مِنْ قَلْبِكَ تَسْتَلِذَّ بِرَجَاءِ الْخَلْقِ
    Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.

    كَثْرَةُ الصَّفَاطِ وَ كَثْرَةُ الْمِزَاحِ عَلاَمَةٌ خُلُوِّ الْقَلْبِ عَنْ تَعْظِيْمِ اللهِ تَعَالَى وَ عَلاَمَةٌ عَنْ ضَعْفِ اْلإيْمَانِ
    Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.

    حَقِيْقَةُ التَّوْحِيْدِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ وَ قِيَامُ اللَّيْلِ
    Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.

    مَا ارْتَقَى اِلَى اْلقِمَّةِ اِلاَّ بْالْهِمَّةِ
    Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).

    مَنِ اهْتَمَّ بِالْوَقْتِ يَسْلَمْ مِنَ الْمَقْتِ
    Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.

    سَبَبٌ مِنْ أسْبَابِ نُزُوْلِ الْبَلاَءِ وَ الْمَصَائِبِ قِلَّةُ الْبُكَائِيْنَ فِى جَوْفِ اللَّيِلِ
    Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

    أهْلُ اْلإتِّصَالِ مَعَ اللهِ اَمَْلَئَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ بِالرَّحْمَةِ فِى كُلِّ لَحْظَةٍ
    Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.

    Sumber: http://ilovehasnibiografi.blogspot.com/2012/03/habib-umar-bin-muhammad-bin-salim-bin.html

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #61 21 September, 2013, 11:28:15 PM
  • Publish Di FB


  •  al-Musnid Syeikh Muhammad Fuad b. Kamaludin al-Maliki al-Azhari Hafizahullah.


     berkenalan dengan seorang ‘alim yang bersungguh-sungguh memberikan perhatian kepada ilmu, kitab-kitab turast, sanad dan ijazah. Beliau ialah al-Musnid Syeikh Muhammad Fuad b. Kamaludin al-Maliki al-Azhari Hafizahullah.
    Memberikan sumbangan yang amat besar kepada Umat Islam Malaysia. Pernah menerima Anugerah Khas Maal Hijrah Negeri Sembilan 1427 Hijriyyah. Pelopor kepada Yayasan Sofa Negeri Sembilan, Madrasah Husainiah, Madrasah Hasaniah, Pusat Tahfiz al-Quran dan Hadith, Darul Maliki dan penubuhan Universiti al-Azhar (Cawangan Malaysia).
    Antara kitab-kitab yang pernah beliau mengajar ialah: Tafsir Jalalain, Tafsir Nur al Ihsan, Al Syifa’ bi Ta’rif Huquq al Mustofa, Al Syamail al Muhammadiah, Al Azkar Imam Nawawi, Nasoih al Diniyyah wa al Wasaya al Imaniyyah, Aqidah al Awam, Aqidah Islam Imam al Ghazali, Safinah al Najah, Hikam Ibni Ataillah, Hikam Abi Madyan, Hikam Ibni Raslan, Minhaj al Abidin, Qatr al Ghaithiyyah, Tanbih al Ghafilin, Munyah al Musolli , Hidayah al Salikin, Tuhfah al Gharaibin dan lain-lain lagi.
    Berikut merupakan sebahagian pengenalan terhadap syeikh, sebagaimana yang telah ditulis oleh anak murid iaitu Ust Mujahid b. Abdul Wahab di dalam bukunya yang berjudul: “Syeikh Muhammad Fuad al-Maliki yang ku kenali” :

    “..Syeikh Muhammad Fuad al Maliki adalah seorang ulama’ yang begitu menitikberatkan pengajian ilmu secara bersanad dan bertalaqqi kerana ia adalah warisan ulama’ dan salafussoleh yang mulia. Oleh yang demikian, beliau telah mengembara ke merata tempat dan mengorbankan wang yang banyak demi memperolehi sesuatu ilmu serta menghubungkan rantaian sanad yang bersambungan dengan ulama’ seterusnya kepada Rasulullah.

    Beliau telah bermusafir ke negara-negara Islam seperti Mesir, Sudan, Syria, Lubnan, Palestin, Emiriah Arab Bersatu, Makkah, Madinah, Turki, Indonesia, Singapura dan lain-lain untuk tujuan itu dan telah mendapat redha dan restu daripada ramai tokoh-tokoh dan jaguh ulama’ Islam dalam bidang ilmu dan dakwah. Daripada merekalah beliau memohon tunjuk ajar, nasihat dan doa agar diberikan taufiq dan kekuatan dalam meneruskan agenda dakwah dan melangsungkan kesinambungannya.

    Dari kaca mata beliau, seseorang pendakwah itu haruslah dilengkapi dengan beberapa perkara iaitu ilmu, kecemburuan terhadap agama serta apa yang lebih utama lagi ialah keizinan dan sanad daripada para masyayikh untuk menjalankan usaha dakwah dan tarbiah.

    Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga adalah seorang ulama’ yang amat memuliakan para guru dan masyayikhnya. Beliau sentiasa merendahkan diri di hadapan mereka serta sanggup menggadaikan masa, tenaga dan harta demi memenuhi permintaan dan mendamba keredhaan mereka.

    Disebabkan sifat sodiq dan amanahnya itu, Allah telah melimpahkan keberkatan ilmu dan futuh terhadapnya serta mencampakkan perasaan kasih ke dalam hati anak-anak murid juga insan-insan yang mendampinginya.

    Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga memilik keistimewaan yang tidak dikongsi oleh kebanyakan insan yang lain. Beliau amat dikasihi oleh para gurunya dan perkara ini dibuktikan dengan perhatian khusus yang diberikan oleh para masyayikh terhadapnya. Nikmat ini adalah sebesar-besar nikmat yang tidak dikongsi oleh beliau dengan rakan-rakannya yang lain. Kasih para masyayikhnya yang mendalam ini telah banyak memberikan kekuatan serta memandu kehidupan beliau.
    Setiap ulama’ dari serata dunia Islam sama ada yang ditemuinya di luar negara mahupun yang datang menziarahinya di Malaysia, akan menyatakan hasrat mereka untuk mengambil beliau sebagai muridnya. Begitu juga mereka berharap agar anak-anak murid beliau dapat melanjutkan pengajian di madrasah-madrasah yang diasaskan oleh mereka sama ada Makkah, Syria, Yaman dan lain-lain lagi.

    Di antara para masyayikh yang telah banyak mencurahkan ilmu, nasihat, sanad dan ijazah kepada beliau ialah:
    DARI MESIR
    SYEIKH ABDULLAH AL SYURA. Di antara kitab yang dipelajari daripadanya ialah Tuhfah al Murid ‘ala Jauharah al Tauhid, Syarah Ibni ‘Aqil dan Kifayah al Akhyar di rumahnya pada setiap pukul enam pagi.
    SYEIKH MAHMUD AL ADAWI, Imam Besar Masjid Syeikhah Sobah di Tanta, Mesir – Iqaz al Himam fi Syarh al Hikam, Qalyubi wa ‘Umairah, al Hawi li al Fatawi, Qatr al Nada wa Bal al Soda dan Syuzur al Zahab di Pejabat Masjid Syeikhah Sobah.
    SYEIKH HUSAIN AL DARWISYI– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki belajar kitab Kifayah al Akhyar di Pejabat Fatwa Masjid Sayyid Ahmad al Badawi. Di sinilah, Syeikh Muhammad Fuad al Maliki bergaul dengan ulama’ al Azhar dan mengetahui selok belok mengeluarkan fatwa. Jika Syeikh Husain mempunyai suatu urusan dan tidak dapat mengajar, maka beliau akan menyuruh rakan-rakannya dari kalangan syeikh-syeikh yang lain supaya mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
    Beliau amat menyayangi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Setelah selesai belajar, Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menghadiahkan kepadanya sagu hati dan manis-manisan sebagai tanda terima kasih seorang murid. Namun, beliau tidak menerimanya dan mengembalikan semula pemberian tersebut. Beliau hanya menerimanya setelah didesak oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tetapi diserahkannya semula kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan kemudian mengucup dahi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebagai tanda kasihnya.
    SYEIKH WAJIHUDDIN AL TURKI. Beliau berasal dari Turki tetapi keluarganya berpindah ke Tonto, Mesir selepas kejatuhan Empayar Uthmaniah. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mempelajari kitab Tuhfah al Murid ’ala Jauharah al Tauhid dengannya di rumah yang disewa oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
    SYEIKH MUHAMMAD IBRAHIM AL ASYMAWI. Beliau belajar kitab al Tuhfah al Saniyyah fi Syarh Matan al Ajrumiah dan mempelajari ilmu I’rab di Masjid Sayyid Ahmad al Badawi dan Masjid Syeikhah al Sobah dengannya.
    DR. ALI JUMA’AH, Mufti Kerajaan Mesir – Sohih Muslim dan Jam’u al Jawami’ di Masjid al Azhar.
    SYEIKH ABDUL GHANI IBN SOLEH AL JA’FARI. Beliau mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Tariqat al Ja’fariah al Ahmadiah al Muhammadiah dan sanad ayahandanya, Imam Besar Masjid al Azhar, Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari. Beliau juga telah menghadiahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tasbih, sajadah dan kopiah ayahandanya, Syeikh Soleh al Ja’fari.
    DR. JUDAH AL MAHDI AL HUSAINI. Beliau merupakan Naib Rektor al Azhar. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki belajar daripadanya secebis daripada Tafsir Fakhruddin al Razi dan ilmu Tasawwuf. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga telah diijazahkan dengan sanad-sanad ilmu dan mengambil ba’iah Tariqat al Naqsyabandiah daripadanya.
    SYEIKH ABDUL SALAM ABU AL FADHL AL HASANI– Beliau telah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki zikir Tariqat al Syazuliyyah dan Hizib al Bahr.
    Beliau merupakan seorang auliya’ Allah yang hebat dan mempunyai kasyaf yang tajam pada ketika itu. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menceritakan, semasa pergi mengerjakan solat Jumaat bersama rakan-rakannya, salah seorang daripada mereka tidak mengerjakan solat Subuh. Dengan ketajaman kasyaf yang dimilikinya, beliau tiba-tiba memotong tajuk asal khutbahnya dan masuk kepada tajuk Kepentingan Solat Subuh.
    DR. AHMAD UMAR HASYIM, Mantan Rektor al Azhar. Beliau telah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki tiga buah hadith berkaitan rahmah dan belas kasihan.
    Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad sanad-sanad ilmu yang beliau terima daripada Syeikh Muhammad Yasiin ibn Isa al Fadani, Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki, Imam al Akbar Dr. Abdul Halim Mahmud dan lain-lain. Beliau juga tidak ketinggalan mengijazahkan Syeikh Muhamad Fuad al Maliki segala kitab karangannya terutama syarah Sahih al Bukhari yang bertajuk Faidh al Bari sebanyak 15 jilid.
    AL MUHADDITH DR. MAHMUD SA’ID MAMDUH, Penyelidik di Pusat Penyelidikan Islam Dubai. Beliau telah menulis ijazah untuk Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan telah memunawalahkan kitabnya yang bertajuk al Ta’rif sebanyak 6 jilid, al Bayan yang mensyarahkan al Muhazzab karangan Imam al Syairazi dan kitab-kitab lain. Beliau juga telah menasihati Syeikh Muhammad Fuad al Maliki supaya menguasai bahasa Arab dengan sedalam-dalamnya.
    SAYYID MUSTAFA IBN AHMAD AL SYARIF AL HASANI. Beliau ialah Syeikh Tariqat al Ahmadiah al Idrisiyyah di Mesir. Menetap di Darau Aswan, Selatan Mesir. Penduduk di sana memanggil beliau dengan gelaran Abu Hasyim yang bermaksud ayah yang suka menjamu makanan kerana beliau bersifat sangat pemurah kepada faqir miskin dan sentiasa membantu kehidupan mereka. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan Khirqah Sufi, dengan sanadnya daripada ayahandanya Sayyid Ahmad al Syariif, daripada Sayyid Muhammad al Syariif, daripada Sayyid Abdul ‘Ali daripada Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani. Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala karangan murid-murid Sayyid Ahmad ibn Idris terutamanya karya-karya Sayyid Uthman al Mirghani.
    SAYYID MA’MUN IBN SAYYID ABDUL QADIR AL HASANI. Beliau ialah Syeikh Tariqat al Ahmadiah di Kaherah dan beliau sentiasa mengadakan majlis Hadharah di Masjid Sayyiduna Husain.
    SAYYID IDRIS IBN SAYYID MUSTAFA AL HASANI. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Khirqah Sufi dan menggelarkannya dengan al Ahmadi.
    SAYYID IDRIS IBN ABDUL RAHIM AL IDRISI, Khadam Masjid Sayyid Ahmad di Zainiyyah, Luxor, iaitu tempat Sayyid Ahmad ibn Idris pernah menerima Tahlil Khusus daripada Rasulullah.
    AL MUHADDITH SYEIKH MUHAMMAD IBN IBRAHIM AL KATTANI. Beliau merupakan seorang muhaddith di negara Mesir. Dr. Umar Abdullah Kamil berkata mengenainya, “Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sealim beliau di dunia ini. Kebanyakan kandungan syarahannya tidak terdapat di dalam kitab-kitab kerana ilmunya diambil terus daripada Allah.” Beliau pernah menyatakan, bahawa beliau menjadi sedemikian setelah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah memberikannya kitab karangan Syeikh Yusuf ibn Ismail al Nabhani yang bertajuk Hujjah Allah ‘ala al ‘Alamin. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya, “Semoga Allah membuka ke atas kamu segala sesuatu.”
    Beliau mempunyai ramai guru; di antaranya ialah ayahandanya sendiri, Syeikh Ibrahim ibn Abdul Ba’ith. Beliau mengambil Tariqat al Syazuliyyah daripada ayahandanya ini. Di antara gurunya yang lain ialah Syeikh Soleh ibn Muhammad al Ja’fari, Imam Masjid al Azhar. Daripada Syeikh Soleh beliau mengambil Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah. Beliau pernah menceritakan pengalaman dengan gurunya ini kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan menyatakan bahawa beliau pernah pergi ke majlis pengajian Syeikh Soleh untuk meminta ijazah Hizib al Saifi. Namun, beliau merasa rendah diri untuk memintanya. Tetapi, tiba-tiba Syeikh Soleh berkata kepada ahli majlis pengajiannya bahawa Hizib Saifi ini telah diijazahkan kepada semua keturunan Sayyiduna Ali t. Dengan perkataan Syeikh Soleh itu, bererti beliau telah mendapat ijazah tersebut kerana beliau adalah dari keturunan Sayyiduna Husain.
    Di antara gurunya juga ialah Abu al Faidh al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau mengambil Tariqat al Kattaniah yang dengannya beliau dinisbahkan dengan gelaran al Kattani.
    Di antara gurunya juga ialah al Muhaddith Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari. Pada suatu ketika dulu, beliau pernah belajar bersama-sama Dr. Ali Jum’ah yang merupakan Mufti Mesir sekarang ini, dengan Syeikh Abdullah al Ghumari. Semasa belajar, beliau sering membetulkan bacaan Dr. Ali Jum’ah yang salah.

    Di antara gurunya lagi, iaitu sanad beliau yang tertinggi ialah al Musnid Syeikh Abdul Hayy al Kattani. Daripada gurunya ini, beliau meriwayatkan kitab sanadnya yang bertajuk Fahras al Faharis yang di dalamnya mengandungi senarai 700 orang gurunya. Beliau adalah antara guru yang amat dikasihi oleh Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, begitu jugalah beliau. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki telah membaca kesemua kandungan kitab Jiyad al Musalsalaat karangan Imam Sayuti, al Iqd al Thamin karangan Imam al Ajluni t, Manzumah Aqidah Awam karangan Imam al Marzuqi, Matan Mustalah hadith al Imam al Baiquni dan sebahagian daripada Syamail al Muhammadiyyah Imam al Tirmizi dan Hikam Ibni Ata’illah al Sakandari dengannya. Beliau telah menulis ijazah khusus untuk Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebanyak dua kali.
    SYEIKH USAMAH SA’ID. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan Membaca surah al Saf.
    PROF. DR. SA’AD JAWISH. Beliau ialah seorang profesor hadith di Universiti al Azhar dan telah menulis ijazah khusus kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki
    AL ALLAMAH SYEIKH ISMAIL IBN SODIQ AL ‘ADAWI, Imam Jami’ al Azhar. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki amat terkesan dengan ilmu-ilmu dan khutbah Jumaat yang disampaikan oleh beliau di Masjid al Azhar dan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sentiasa melaziminya. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah menegaskan, beliau merasakan zauq dan wujdan apabila mendengar khutbahnya kerana khutbahnya adalah ilham daripada Allah. Kenapa tidak beliau dianugerahkan nikmat sedemikian kerana beliau merupakan cucu kepada Abi al Barakat al Dardir. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki juga pernah mendengar pengajaran kitab al Syamail al Muhammadiah daripadanya.
    AL MUHADDITH AL MU’AMMAR SYEIKH SA’AD BADRAN. Beliau telah meriwayatkan Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan mengijazahkan sanadnya yang tinggi di rumahnya di Dumyat Mesir. Beliau meriwayatkannya daripada syeikhnya, Abi al Nasr al Qauqaji, daripada ayahandanya Abi al Mahasin al Qauqaji, daripada al Sayyid ‘Abid al Sindi dengan sanadnya yang sampai hingga kepada Rasulullah.
    Begitu juga Syeikh Abi al Nasr al Qauqaji meriwayatkan daripada al Syeikh Muhammad ibn Ahmad Yusuf al Bahi al Misri al Maliki al Azhari, daripada al Hafiz al Sayyid Abi al Fadhl Muhammad Murtadha al Zabidi dengan sanadnya yang sampai kepada Rasulullah.
    AL MUHADDITH AL SUFI SYEIKH AHMAD IBN DARWISH. Beliau merupakan anak angkat kepada al Muhaddith Sayyid Abdullah al Ghumari t. Beliau telah digelar dengan al Sufi oleh Syeikhnya. Setengah dari kalangan ahli sufi mengatakan bahawa beliau adalah di antara abdal pada zaman ini. Beliau telah diijazahkan oleh Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari, mantan Mufti Mesir Syeikh Hasanain Makhluf, Muhaddith negara India Syeikh Habib al Rahman al A’zami dan lain-lain lagi. Beliau telah meriwayatkan Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan mengijazahkan segala ijazah dan sanadnya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Beliau juga telah mengijazahkan Tariqat al Syazuliyyah al Siddiqiyyah dan Salawat Dalail al Khairaat dan meminta Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mengadakan majlis bacaan salawat tersebut di madrasahnya.

    MAKKAH AL MUKARRAMAH
    DR. SAYYID MUHAMMAD IBN ‘ALAWI AL MALIKI. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Nasaih al Diniyyah, Sahih al Bukhari, Sunan Abi Daud, Fath al Mughith, Tafsir Ibnu Kathir, al Fawaid al Jalilah fi Musalsalat dan meriwayatkan daripadanya semua hadith Musalsal yang terdapat di dunia dan lain-lain. Beliau juga telah mengijazahkan Tariqat al Ahmadiah al Idrisiah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, memakaikannya Khirqah Sufi dan memberikannya bai’ah yang tidak diberikan kepada semua orang melainkan hanya kepada segelintir daripada murid-muridnya dan mengamanahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki supaya menjadi khalifahnya. Beliau juga memberikan kepercayaan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk menterjemah dan menerbitkan kitab-kitab karangannya. Bahkan, beliau juga telah memberikan bantuan moral dan material kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk membangunkan madrasahnya.
    SAYYID AHMAD IBN MUHAMMAD AL MALIKI. Beliau merupakan khalifah ayahandanya yang telah membai’ah dan memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan Khirqah Sufi.
    DR.UMAR ABDULLAH KAMIL. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala kitab karangannya dan juga kitab sanadnya yang bertajuk al I’lam bi Ijazah al A’lam. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki mempunyai hubungan yang rapat dengan beliau sehingga ke hari ini mereka sering berhubungan bagi mengadakan muzakarah ilmu.
    Syeikh Ali Qaddur al Madani. Beliau berketurunan Sayyid Ahmad al Rifa’i dari sebelah ayahandanya dan Sayyid Abdul Qadir al Jailani dari sebelah bondanya. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki segala ilmu zahir dan batin termasuk Tariqat al Rifa’iyyah.
    Al Habib Umar Hamid al Jailani. Beliau ialah keturunan Sayyid Abdul Qadir al Jailani. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan kitab sanad Mufti Johor al Habib Alawi Tahir.

    DUBAI
    DR. ISA IBN ABDULLAH IBN MANI’ AL HIMYARI, Menteri Waqaf Dubai. Beliau menegaskan bahawa Syeikh Muhammad Fuad al Maliki merupakan orang pertama yang diijazahkan olehnya.
    AL ALLAMAH DR. AHMAD MUHAMMAD NUR SAIF, Pengerusi Pusat Penyelidikan Islam Dubai. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bi al Awwaliyah.

    SYRIA
    DR. MUHAMMAD MUTI’ IBN MUHAMMAD WASIL AL HAFIZ AL DIMASYQI, Pentashih al Quran di Kementerian Waqaf, Dubai. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah menerima hadith Musalsal bi al Awwaliyah, Musafahah dan Munawalah Subhah dan lain-lain daripadanya.
    DR. KHALAF MUHAMMAD AL MUHAMMAD AL HALABI. Beliau mengijazahkan sanad yang diterimanya daripada Syeikh Muhammad Yaasiin al Fadani kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.
    SYEIKH HUSAIN SO’BIYYAH. Beliau adalah syeikh di Dar al Hadith al Asyrafiyyah, Damsyiq, tempat di mana Imam Nawawi pernah menjadi syeikh. Beliau telah meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah dan mengijazahkan ijazah-ijazah yang diterima daripada guru-gurunya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.

    YAMAN
    SYEIKH ALI HAMID AHMAD ABDUH HASAN QASIM AL SO’FANI AL MAKKI AL YAMANI, Ahli Majlis Fatwa Kementerian Waqaf Dubai. Beliau telah menggelarkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan al Ariif billah (orang yang kenal Allah). Beliau pernah mengatakan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki, “Apabila guru-guru kamu telah mengasihi kamu, maka akan dibukakan segala kefahaman ilmu ke dalam dada kamu.”
    HABIB UMAR IBN MUHAMMAD IBN SALIM IBN HAFIZ, Mudir Dar al Mustafa. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sebanyak tiga kali dan juga meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah, Musafah dan Musyabakah kepadanya. Beliau juga mengijazahkan kepadanya secara khusus kitab Iqaz al Himam fi Syarh al Hikam, Syarah Hikam Syeikh Zarruq dan Syarah Hikam Syeikh Abdul Majid al Syurbuni supaya Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dapat mengambil faedah daripadanya dalam urusan dakwah. Beliau juga mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki untuk keluar berdakwah dan mengajar umat.
    HABIB ALI AL JUFRI, Naib Mudir Dar al Mustafa. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki Musalsal bi al Awwaliyyah dan Talqim serta mengijazahkannya

    SUDAN
    SAYYID MUSTAFA IBN IDRIS AL HASANI
    SAYYID IBNU IDRIS AL HASSAN AL IDRISI
    PROF. DR. SAYYID ABDUL WAHHAB AL TAZI AL IDRISI, Pensyarah di Universiti Islam Madinah al Munawwarah. Beliau telah memakaikan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki al Khirqah al Sufiyyah
    SAYYID AHMAD IBN IDRIS AL HASANI. Beliau menetap di Dunqala Sudan.
    SAYYID MUHAMMAD IBN IDRIS AL HASANI. Beliau ialah Syeikh Tariqat Idrisiyyah al Ahmadiyyah dan menetap di Khartum sebagai khalifah ayahandanya Sayyid Idris al Idrisi.
    SAYYID MUJADDIDI AL HASAN AL IDRISI. Beliau menetap di Khartum sebagai khadam di Masjid ayahandanya Sayyid Hasan al Idrisi.

    MOROCCO

    PROF. DR. FAROUQ HAMADAH. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bi al Awwaliyyah
    DR. MUHAMMAD IBN KIRAN. Beliau telah meriwayatkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki hadith Musalsal bil Awwaliyyah dan telah menulis ijazah khusus untuknya.

    ..bersambung....
    « Last Edit: 21 September, 2013, 11:30:33 PM by ZakiaAliaMedina »

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #62 21 September, 2013, 11:29:04 PM
  • Publish Di FB
  • ---sambungan dari Tuan Guru Shekh Fuad...

    TUNISIA

    AL ‘ALLAMAH SYEIKH MUKHTAR AL SALAMI. Beliau pernah menjawat jawatan sebagai Mufti Tunisia selama 13 tahun. Beliau telah meriwayatkan hadith Musalsal bil Awwaliyyah dan mengijazahkan segala kitab karangan dan amalannya kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.

    MALAYSIA

    TUAN GURU HAJI IBRAHIM BIN DAHAN– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Matla’ al Badrain, Hikam Ibni `Atoillah, Dur al Nafis, Minhaj al Abidin, Furu’ al Masail, Aqidah al Najiin, Sair al Salikin, Ahzab dan Aurad Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani dan lain-lain lagi. Beliau merupakan ‘Guru Saka’ di daerah Rembau yang banyak mendukung Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Beliau pernah mengambil cuti mengajar untuk menghadiri ceramah pertama Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sempena sambutan Maulid Nabi di Masjid Nerasau, Rembau dan menjemput Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menyampaikan syarahan Maulid Nabi di madrasahnya, Madrasah al Islamiah Haji Ibrahim, Kampung Bongek Acheh, Rembau.

    Beliau belajar ilmu Falak daripada Tuan Guru Haji Wan Sulaiman bin Wan Sidiq (Syeikh al Islam Kedah) dan pernah berguru dengan Allahyarham Tok Kenali. Di antara kitabnya yang terkenal ialah Kitab Nur al Aulad dan beliau bertanggungjawab menyusun Taqwim Solat yang digunapakai di Negeri Sembilan, Melaka dan Selangor serta beberapa negeri lain sehingga ke hari ini. Beliau telah mengamanahkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki menyambung kuliah hari Rabu selepas pemergiannya pada 3 Ogos 1997.

    TUAN GURU HAJI ABDUL WAHID BIN UTHMAN– Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar dengannya kitab Riyadh al Solihin, Tahzib Atraf al Hadith, Hikam Ibni Ato’illah, Tafsir al Quran dan lain-lain.

    TUAN GURU MURSYID DIRAJA DATO’ HAJI TAJUDDIN IBN ABDUL RAHMAN– Beliau berasal dari Hadhramaut dan menjadi Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan sebelum kewafatannya. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar daripadanya ilmu Tauhid, Feqah, Usul Feqh dan ilmu Tasawwuf iaitu kitab Minhaj al Abidin. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dengan ijazah yang tidak pernah diijazahkannya kepada muridnya sebelum itu.

    Beliau sangat mengasihi Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan banyak memberikan galakan kepadanya. Beliau mengiktiraf keilmuan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki dan memberitahu kepada orang ramai bahawa Syeikh Muhammad Fuad al Maliki adalah seorang ulama’ besar.

    TUAN GURU DATO’ ABDULLAH BIN SIJANG, bekas Qadhi Daerah Port Dickson. Beliau pernah mengijazahkan Tariqat Ahmadiah yang diterimanya daripada Tok Syafi’i dan sanad hadith yang diterimanya daripada Syeikh Hasan Masysyat di Makkah al Mukarramah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki. Sebelum kewafatannya, beliau pernah mentalqinkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki beberapa ilmu hikmah, kaifiat muraqabah dan fidyah orang mati.

    TUAN GURU DATO’ HJ. NAWAWI BIN HASAN- Beliau pernah mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki ilmu Nahu; Nahu Wadhih dan Matan al Fiyyah di Ma’had Ahmadi Gemencheh

    SAHIBUS SAMAHAH DATO’ HASAN BIN SAIL, bekas Mufti Kerajaan N.Sembilan. Beliau pernah mengajar Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kitab Hidayah al Sibyan di Surau Kg. Tengah, Rembau, N. Sembilan.

    TUAN GURU SYEIKH ABDULLAH BIN ABDUR RAHMAN, Mudir Pondok Lubuk Tapah, Kelantan. Beliau pernah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sanad yang diterimanya daripada Syeikh Yasin ibn Isa al Fadani al Hasani, Syeikh Abdul Qadir al Mandili, Sayyid Alawi ibn Abbas al Maliki dan mengijazahkan Tariqat Ahmadiah kepadanya.

    TUAN GURU HAJI AHMAD BIN MUHAMMAD AJI. Beliau merupakan murid kepada Syeikh Ahmad, Mufti Kerajaan Negeri Sembilan dan Tuan Guru Haji Husin Langgar Kedah. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pernah belajar beberapa buah kitab karangan al Marhum Syeikh Ahmad t daripadanya di Masjid Semerbok Rembau, N.Sembilan. Tetapi, apabila Syeikh Muhammad Fuad al Maliki pulang dari al Azhar, beliau pula datang belajar dengannya kitab Syarah Hikam karangan Syeikh Ibnu ‘Ubbad dan kitab hadith Zad al Muslim karangan Syeikh Habib Allah al Syanqiti. Beliau menegaskan bahawa tiada lagi orang alim di Rembau kecuali Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.

    INDONESIA

    SYEIKH ABDUL HAMID AL MAKKI. Beliau telah mengijazahkan dan meriwayatkan hadith Musalsal bi al Awwaliyyah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki.

    SYEIKH ABDUL KARIM AL BANJARI AL MAKKI. Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kerap menghadiri majlis pengajiannya yang terletak di Masjid al Haram. Di antara kitab yang pernah dipelajari daripadanya ialah Kitab Dalil al Falihin dan beliau telah mengijazahkan secara khusus kitab sanad al Maslak al Jali kepadanya.

    AL HABIB SOLEH AL ‘AIDARUS. Beliau ialah murid Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al Maliki.

    SINGAPURA

    TUAN GURU HAJI ABDUL RASHID BIN SYEIKH HAJI MUHAMMAD SA’ID – Matla’ al Badrain dan Sair al Salikin. Orang pertama yang mengijazahkan Tariqat Ahmadiah kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki sewaktu berusia 8 tahun.

    SYEIKH AHMAD SONHAJI. Beliau telah mengijazahkan Syeikh Muhammad Fuad al Maliki kitab tafsirnya yang masyhur, ‘Ibra al Athir di Majlis Agama Islam Singapura ketika beliau menghadiri majlis ceramah Syeikh Muhammad Fuad al Maliki di sana.

    SAYYID AHMAD SEMAIT. Beliau telah mengijazahkan kepada Syeikh Muhammad Fuad al Maliki semua kitab karangan dan terjemahannya.

    Antara karya beliau ialah:

    Rasulullah dan Sirah

    1. Rasulullah dari Perspektif Imam Syafi’i
    2. Maulid Nabi dalam Necara Nabawi
    3. Rantaian Nasab Nabi
    4. Kewajipan Mencintai dan Memuliakan Nabi (Terjemahan)
    5. Hukum Menghina Nabi
    6. Hidupnya Para Nabi di Dalam Kubur
    7. Keunggulan Rasulullah
    8. Ringkasan Sirah Nabawiyyah (Terjemahan)
    9. Al Anwar al Nabawiyyah (Terjemahan)
    10. Keistimewaaan Rasulullah
    11. Mukhtasar Syamail Muhammadiah (Terjemahan)
    12. Mu’jizat Isra’ dan Mi’raj

    Manaqib dan Biografi

    1. Sayyid Ahmad ibn Idris
    2. Al Maliki: Ulama’ Rabbani Kurun ke-21
    3. Hujjah al Islam Imam al Ghazali
    4. Mendekati Sayyid Ja’afar al Barzanji
    5. Al Imam Abu Hasan al ‘Asy’ari
    6. Al Imam al Hafiz Jalaluddin al Suyuti
    7. Biografi Syeikh Muhammad Harith
    8. Manaqib Sayyidah Khadijah al Kubra
    9. Sayyid Ibrahim al Rasyid

    Tasawwuf

    1. Hubungan Tasawuf Dengan Sunnah
    2. Kewajipan Bertasawwuf (Terjemahan)
    3. Qatr al Ghaithiyyah (Semakan dan Cetakan semula)
    4. Hikam Abi Madyan (Semakan dan Cetakan Semula)
    5. Hikam Syeikh Raslan (Terjemahan)
    6. Adab-adab Salikin (Adaptasi)
    7. Anwar al Sabil al Aqwam fi Syarh al Hikam
    8. Adab Tariq (Terjemahan)

    Zikir dan Amalan

    1. Pancaran Nur Doa dan Zikir Ahli Akhyar (Terjemahan Syawariq al Anwar)
    2. Lautan Zikir Ahli Arifin
    3. Perisai Tiga Kekasih Allah
    4. Kanz al Sa’adah (Tahqiq dan Terjemahan)
    5. Ahzab wa Aurad Manhaj al Ahmadi al Idrisi (Tahqiq)
    6. Doa Majlis Sayyid Ahmad ibn Idris
    7. Aurad Ahmadiah dan Ratib Haddad
    8. Hizib Bahr
    9. Hizib al Imam Ghazali
    10. Hizib Imam Nawawi
    11. Salawat 40 (Terjemahan)
    12. Manzumah Tawassul Asma’ al Husna (Cetakan Semula)
    13. Amalan Bulan Rejab
    14. Doa Malam Nisfu Sya’ban
    15. Tazkirah Ramadhan
    16. Amalan Bulan Safar al Khair
    17. Amalan Bulan Zulhijjah
    18. Amalan Awal Muharram dan Hari Asyura
    19. Doa Untuk Ibu bapa dan Anak-anak
    20. Duru’ al Wiqayah bi Ahzab al Himayah (Cetakan semula)
    21. Surah Yaasin Kaifiat dan Doanya
    22. Doa Sayyid Ibrahim al Rasyid
    23. Wasilah Para ‘Abid
    24. Doa Angin Ahmar
    25. Amalan Memudahkan Rezeki
    26. Amalan Menguatkan Ingatan dan Menghindari Was-was
    27. Himpunan Ayat-ayat Penjaga
    28. Solat Sunat Sayyid Ahmad ibn Idris
    29. 40 Salawat Pilihan Ke atas Nabi
    30. Jampi Penawar Dari al Quran (Terjemahan)
    31. Ratib Hari Jumaat
    32. Pendinding Diri
    33. Amalan Menolak Wabak dan Bala

    Aqidah dan Tauhid

    1. Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah
    2. Qawa’id al ‘Aqaid (Terjemahan)
    3. Wahhabisme Dari Neraca Syara’
    4. Kerapuhan Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah (Terjemahan)
    5. Penjelasan Tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah (Terjemahan)
    6. Agamamu Dalam Bahaya (Terjemahan)
    7. I’tiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah (Cetakan semula)
    8. Aqidah Awam (Terjemahan)
    9. Pendapat Ahli Sunnah Yang Bertentangan Dengan Pendapat Wahhabi (Terjemahan)

    Tafsir

    1. Tafsir Surah al Fatihah (Tahqiq)
    2. Tafsir Surah Dhuha
    3. Tafsir Surah al Insyirah
    4. Tafsir Surah al Kauthar
    5. Tafsir Surah Yaasiin

    Hadith

    1. Musyahadah Ruh Insan Bertaqwa (Terjemahan)
    2. Hadith 60: Kelebihan Ahli Bait (Terjemahan)
    3. Kelebihan Memelihara dan Membiaya Anak Yatim
    4. Kelebihan al Quran (Terjemahan)
    5. Mutiara Nabawi (Terjemahan)
    6. Mutiara Sa’adah (Terjemahan)
    7. Kewajipan Mencintai dan Memuliakan Nabi (Terjemahan)
    8. Hidayah al Mukhtar (Terjemahan)
    9.Galakan Melakukan Amal Kebaikan (Terjemahan)

    Feqah
    1. Munyah al Musolli (Tahqiq)
    2. Safinah al Naja (Terjemahan)
    3. Hukum Membaca Basmalah
    4. Hukum Mengikut Imam Yang Menyalahi Mazhab Makmum
    5. Posisi Imam Ketika Solat Jenazah
    6. Pendapat Ulama’ Hukum Mencium Tangan

    Sanad dan Ijazah (Athbat)

    1. Al Musalsalat al ‘Asyarah
    2. Al Toli’ al Sa’id (Bahasa Arab)
    3. Kunuz al Anwar al Muntakhab min Asanid al Akhyar (Bahasa Arab)
    4. Al Jawahir al Ghawali min Asanid al Imam al Azhari (Bahasa Arab)
    5. Musalsal Orang-orang Mulia
    6. Al Yaqut al Nafis min Asanid al Muhaddith Sayyid Ahmad ibn Idris. (Bahasa Arab)
    7. Fath al Rahman bi Asaniid Mufti Nejri Sembilan (Bahasa Arab)
    8. Al Bahjah al Mardiyyah fi Musalsalat al Rembawiyyah (Bahasa Arab)
    9. Bulugh al Amani al Muntakhab min al Musalsalat al Maliki (Bahasa Arab)
    10.Sanad al Aurad al Qusyasyiah
    11.Al Manhal al Karim fi Asaniid al Quran al ‘Azim (Bahasa Arab)

    Lain-lain

    1. Kefahaman Yang Wajib diperbetulkan (Terjemahan Mafahim Yajibu an Tusohhah)
    2. Akhlak Salafussoleh (Terjemahan)
    3. Qudwah Hasanah Dalam Manhaj Dakwah

    Sumber : blog firdausmanaf

    Sumber ambilan: http://ahlulbait.blogdrive.com/archive/cm-11_cy-2009_m-11_d-3_y-2009_o-10.html

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #63 21 September, 2013, 11:37:45 PM
  • Publish Di FB



  • Syeikh Yasin Isa al-Fadani RohimahulLOH Ta'ala Dalam Kenangan ♥♥♥

    Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Beliau adalah ulama besar yang pernah sekolah di Madrasah Shaulatiyyah. Beliau adalah pencetus idea berdirinya Madrasah Darul-Ulũm sekaligus menjadi murid pertama madrasah itu.


    Konon sebab tercetusnya idea membangun Madrasah tersebut disebabkan karena tindakan dan perlakuan direktur Madrasah Shaulatiyyah yang sangat menyinggung (hususnya) pelajar yang kebanyakan dari Asia Tenggara saat itu. Hal ini terbukti dengan berpindahnya 120 orang pelajar dari Shaulatiyyah ke Madrasah Darul-Ulum yang baru didirikan. Ini hampir tidak pernah dialami oleh Madrasah-madrasah yang baru dibuka mendapat murid yang begitu banyak sebagaimana Darul-Ulũm.

    Dalam sebuah situs(1) dinyatakan bahwa pada tahun 1934, karena suatu konflik yang menyangkut kebanggaan nasional orang Indonesia, guru dan murid 'Jawah' telah keluar dari Shaulatiyah dan mendirikan madrasah Darul Ulum di Makkah.
    Mengenai kesehari-harian beliau, dari cerita yang saya dengar dari ayah saya, yaitu Ustaz Sukarnawadi H. Husnuddu’at: “Syekh Yasin orangnya santai, sederhana, tidak menampakkan diri, sering muncul menggunakan kaos biasa, sarung, dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang beliau miliki… Yang ingkar kepada beliau hanyalah orang-orang yang lebih mengutamakan tampang zahir daripada yang bathin…

    Pujian Para Ulama

    Syekh Zakaria Abdullah Bila teman dekat pendiri Nahdlatul Wathan yaitu Syekh M. Zainuddin pernah berkata, “waktu saya mengajar Qawa’idul-Fiqhi di Shaulatiyyah, seringkali mendapat kesulitan yang memaksa saya membolak balik kitab-kitab yang besar untuk memecahkan kesulitan tersebut. Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’idul-Janiah karangan Syekh Yasin... menjadi mudahlah semua itu, dan ringanlah beban dalam mengajar.

    Seorang ahli Hadits bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggaan Ulama Haramain dan sebagai Muhaddits.

    Doctor Abdul Wahhab bin Abu Sulaiman (Dosen Dirasatul ‘Ulya Universitas Ummul Qura) di dalam kitab: الجواهر الثمينة في بيان أدلة عالم المدينة berkata: Syekh Yasin adalah Muhaddits, Faqih, Mudir Madrasah Darul-Ulum, pengarang banyak kitab dan salah satu Ulama Masjid Al-Haram...
    Syekh Umar Abdul-Jabbar berkata didalam surat kabar Al-Bilad (jumat 24 Dzulqaidah 1379H/ 1960M): “...bahkan yang terbesar dari amal bakti Syekh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362H. Dimana dalam perjalanannya selalu ada rintangan, namun beliau dapat mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan…

    Assayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal sebagai Mufti negeri Murawah Yaman saat itu, mengarang sebuah syiir yang panjang husus untuk memuji Syekh Yasin Al-Fadani Berikut saya nukilkan satu bait saja yang berbunyi:

    أنت في العلم والمعاني فريد...... وبعقد الفخار أنت الوحيد

    “Engkau tak ada taranya dalam ilmu dan hakekat, Dibangun orang kejayaan kaulah satu-satunya yang jaya”

    Doctor Yusuf Abdurrazzaq sebagai dosen kuliah Ushuluddin Universitas Al-Azhar cairo juga memuji beliau dengan perkataan dan syiir yang panjang, saya nukilkan satu bait saja yang bunyinya:

    أنت فينا بقية من كرام......لا ترى العين مثلهم إنسانا

    “Engkau di tengah kami orang terpilih dari orang terhormat, tak pernah mata melihat manusia seumpama mereka.”

    Ustaz Fadhal bin M. bin Iwadh Attarimi-pun berkata:

    فيا طالب العلم لب نداء......ياسين وافرح بهذا القرى

    “Wahai pencari ilmu sambutlah panggilan Yasin, bergembiralah dengan sajian yang ia sajikan,”

    Doctor Ali Jum’ah yang menjabat sebagai Mufti Mesir dalam kitab Hasyiah Al-Imam Al-Baijuri Ala Jauharatittauhid yang ditahqiqnya, pada halaman 8 mengaku pernah menerima Ijazah Sanad Hadits Hasyiah tersebut dari Syekh Yasin yang digelarinya sebagai مسند الدنيا Musnid Addunia…

    Al-Habib Assayyid Segaf bin Muhammad Assagaf seorang tokoh pendidik di Hadramaut (pada tahun 1373H) menceritakan kekaguman beliau terhadap Syekh Yasin, dan menjulukinya sabagai "Sayuthiyyu Zamanihi". Beliau juga mengarang sebuah syiir untuk memuji beliau, berikut saya nukilkan dua bait saja yang bunyinya sebagai berikut:

    لله درك يا ياسين من رجل......أم القرى أنت قاضيها ومفتيها

    في كل فن وموضوع لقد كتبا ......يداك ما أثلج الألباب يحديها

    “Bagus perbuatanmu hai Yasin engkau seorang tokoh,

    dari Ummul Qura engkau Qhadi dan Muftinya.”

    “Setiap pandan judul ilmu tertulis dengan dua tanganmu,

    Alangkah sejuknya akal pikiran rasa terhibur olehnya.”

    Assayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki sebagai guru Madrasah Al-Falah dan Masjid Al-Haram, Syekh M. Mamduh Al-Mishri dan Al-Habib Ali bin Syekh Balfaqih Siun Hadramaut dan Ulama lainnya, pernah memuji karangan-karangan beliau…

    Doctor Yahya Al-Gautsani bercerita, pernah ia menghadiri majlis Syekh Yasin untuk mengkhatam Sunan Abu Daud. Ketika itu hadir pula Muhaddits Al-Magrib Syekh Sayyid Abdullah bin Asshiddiq Al-Gumari dan Syekh Abdussubhan Al-Barmawi dan Syekh Abdul-Fattah Rawah.

    H.M.Abrar Dahlan berkata: “yang membuat beliau lepas dari sorotan publikasi ialah karena ia telah menjadi lambang Ulama Saudi yang “bukan Wahabi” yang tersisa di Makkah. Walaupun begitu ia diakui juga oleh ulama Wahabi sebagai Ulama yang bersih dan tidak pernah menyerang kaum Wahabi… Seorang tokoh agama Najid dari Ibukota Riyadh (Pusat Paham Wahabi) yaitu Jasim bin Sulaiman Addausari pada tahun 1406H pernah berkata:

    أبلغوا مني سلاما من صبا نجد......ذكيالأبي الفيض فداني

    مسند الوقت بعيد عن نزول......هابط أما لما يعلو فداني

    فدى أسر الروايات فلوتنطق......لقالت: علم الدين فداني

    Karya Tulis & Murid-Murid Beliau

    Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang Ilmu-ilmu yang lain… di antara karangan beliau adalah: al-Arba'un al-Buldaniyyah, al-Arba'un Haditsan Min Arba'ina Kitaban An Arba'ina Syaikhan, Bulug al-Amani, Arraudh al-Fatih, dan lain-lain...

    Di antara murid-murid yang pernah berguru dan mengambil Ijazah sanad-sanad Hadits dari beliau adalah Al-Habib Umar bin Muhammad (Yaman), Syekh M. Ali Asshabuni (Syam), Doctor M. Hasan Addimasyqi, Syekh Isma’il Zain Alyamani, Doctor Ali Jum’ah (Mesir), Syekh Hasan Qathirji, Tuan Guru H. M. Zaini Abdul-Ghani (Kalimantan) dll…
    Dan di antara murid-murid beliau yang di samping mengambil Sanad Hadits, mendapatkan Ijazah ‘Ammah dan Khasshah, juga diberi izin untuk mengajar di Madrasah Darul-Ulum adalah: H. Sayyid Hamid Al-Kaff, Dr. Muslim Nasution, H.Ahmad Damanhuri, H.M.Yusuf Hasyim, H.M. Abrar Dahlan, Dr. Sayyid Aqil Husain Al Munawwar, Ayah saya sendiri yaitu Ustaz Sukarnawadi KH. Husnuddu’at dll...



    Ayah saya pernah bercerita, seseorang bernama H.Abdul-Aziz asal Jeruwaru Lombok NTB pernah mendatangi Syekh Yasin untuk meminta bai’at, izin serta restu untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah… ketika itu Syekh Yasin memberi satu syarat, yaitu, ayah saya harus turut dibai’at, karena ayah saya di samping menjadi Guru yang lama mengajar di Madrasah Darul-Ulum, (dari tahun 1978 sampai 1990) juga sebagai salah satu dari sekian murid yang selalu diberikan bimbingan dan perhatian khusus… maka yang mendapat izin dari beliau untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah yang berasal dari Lombok saat itu hanyalah Ayah saya dan H.Abdul Aziz...Ayah saya sebagai warga, bahkan tokoh NW (ketika pulang ke lombok) menceritakan hal itu kepada pendiri Nahdlatul Wathan, yaitu Syekh M. Zainuddin, dan beliaupun tidak mengingkari hal tersebut, bahkan beliau merestui, memberikan Ijazah dan doa yang khusus serta harapan agar di samping itu tetap berjuang membela NW…

    Kekeramatan Beliau

    Seseorang bernama Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syekh Yasin Pada hari jumat. Ketika Azan jumat dikumandangkan, Syekh Yasin masih saja di rumah, ahirnya Zakariyya keluar dan solat di masjid terdekat. Seusai solat jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syekh Yasin ra. tidak solat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…H.M.Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syekh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakaudari buah-buahan/rokok teradisi bangsa arab). Setalah saya bikinkan dan syekh mulai meminum teh, saya keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syekh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

    Dikisahkan ketika K.H.Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, beliau menerima sepucuk surat dari Syekh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan K.H.Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!
    Ketika ayah saya tamat Darul-Uulum (Aliah), beliau dilarang oleh Syekh Yasin untuk melanjutkan studinya di Universitas manapun, ayah saya diperintahkan untuk mengabdi di Darul-Ulum. Sedangkan mata pelajaran yang pernah dipegang oleh ayah saya sejak tahun 1978 hingga 1990 adalah Hadits, Fiqih, Tauhid, Tarikh dan Geografi. Di samping itu Syekh Yasin pernah berdo’a untuk ayah saya agar menjadi seorang penulis… kekeramatan do’a beliau dapat dirasakan sendiri oleh ayah saya. Walaupun sibuk dalam pekerjaannya sebagai guru dan pegawai di kantor, namun beliau selalu menyempatkan diri untuk menulis. Dan kini tulisan beliau sudah mencapai 24 judul. Yang sudah dicetak sampai saat ini baru 12 judul saja… Ayah saya berkata pada saya, “ini berkat do’a restu Syekh Yasin dan Syekh Zainuddin” Oleh karena itu Ayah saya berpesan agar kami di Mesir, juga mencari seorang guru yang benar-benar pewaris Nabi, agar mendapatkan barokah do’a restu serta barokah ilmunya...

    H.Mukhtaruddin asal Palembang bercerita, pernah ketika pak Soeharto sedang sakit mata, beliau mengirim satu pesawat khusus untuk menjemput Syekh Yasin. Ahirnya pak Soehartopun sembuh berkat do’a beliau. Kisah ini selanjutnya didengar sendiri oleh ayah saya dari Syekh Yasin.Semoga Allah swt. merahmati beliau, amin ya Rabbal-Alamin…

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #64 21 September, 2013, 11:39:44 PM
  • Publish Di FB


  • Ayah Mad Lundang Paku Hafizohullah Ta'ala ♥♥♥


    Ayah Mad Lundang Paku @ nama sebenarnya Mamat merupakan antara ulamak dan auliya yang tertua di Kelantan. Berusia 125 tahun. Usia mudanya banyak menuntut ilmu agama dan 12 kali berulang ke Makkah . Pernah belajar di Bukit Jiyad,Makkah alMukarramah dan dikatakan Tok Kenali adalah guru dan sahabatnya dalam rehlah ilmu ini... Pondoknya di Lundang Paku berdekatan Tendong Pasir Mas ...
    Kata Almarhum Murobbina Tg Hj Abd Qader @ Musa Al Madani
    Ziarahlah Ayah Mad selagi masih hidup kerana beliau adalah ahlullah.. Ayah Mad juga suka berjalan kaki kemana-mana hingga dikatakan orang kurang waras kerana sentiasa mengutip tin kosong dan tempurung ditepi jalan.. Walhal beliau membuka tin kosong dan muka tempurung mengadap cahaya matahari kerana tidak tahan DENGAR RINTIHAN TIN KOSONG DAN TEMPURUNG MeNGADU KEPADANYA nak rasa rezeki ALLAH dengan menghadapkan tin dan tempurung ke arah matahari... WALLAHU A'LAM..
    « Last Edit: 22 September, 2013, 01:00:11 AM by ZakiaAliaMedina »

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #65 21 September, 2013, 11:42:23 PM
  • Publish Di FB


  • Tuan Guru Dr. Haji Jahid Bin Haji Sidek Al Kholidi ♥♥♥

    Biodata Tuan Guru Jahid Sidek
    Gelaran al-khalidi diberikan oleh al-Marhum Tuan Guru Imam Ishak melalui bait-bait kata-kata aluan beliau sempena penerbitan Buku terjemahan Tanwirul Qulub - "Dhia'ul Iman Fi Tariq ar-Rahman")

    Dilahirkan pada 11 Februari 1940 di Batu Pahat, Johor Darul Takzim. Beliau menerima pendidikan awal di Sekolah Kebangsaan Darjah Khas Sekolah Agama Kerajaan Johor (1957). Kemudian beliau meneruskan pengajian ke Sekolah Arab Kluang Johor dan Kolej Islam Klang. Pada Tahun 1972 beliau memperoleh Ijazah Sarjana Muda Sastera daripada Universiti Malaya . Seterusnya beliau memperoleh Ijazah Sarjana MA dalam bidang Usul Fekah (1975) dan Ijazah Kedoktoran Ph.D daripada Universiti yang sama (1992) dalam bidang Usuluddin (Tasawuf).

    Beliau pernah menjawat jawatan sebagai Guru Agama Sekolah antara tahun 1964 – 1969 dan pernah pula dilantik sebagai Guru Penolong Kanan selepas mendapat ijazah pertama. Pada awal tahun 1974 beliau dilantik menjadi pensyarah di Jabatan Pengajian Islam, Fakulti Sastera & Sains Sosial, Universiti Malaya; dan telah dilantik menjadi Profesor Madya tahun 1992 dan beliau telah bersara pada akhir tahun 1995, sebagai Pensyarah di Jabatan Aqidah dan Pemikiran Islam Akademi Pengajian Islam (APIUM), Universiti Malaya.

    Dalam bidang Rawatan @ Perubatan Secara Islam beliau telah berpengalaman hampir 20 tahun dengan memperkenalkan kaedah rawatan menggunakan Teknik pukulan (akupuntur@refleksologi Islam), dzikrullah dan doa kepada pelbagai penyakit yang dialami pesakit. Kesungguhan beliau dalam membantu masyarakat terbukti dengan penubuhan Pusat Rawatan Islam MANARAH di Lorong Beringin, Kuang, Selangor Darul Ehsan. Dengan pengalaman yang diperolehi, beliau juga sebagai tempat rujukan orang ramai kerana ditemui pelbagai lapisan masyarakat bagi nasihat, tunjuk ajar serta bimbingan dalam pelbagai masalah yang dihadapi. Kepakaran dan pengalaman beliau dalam bidang Perubatan Secara Islam telah dimanfaatkan dengan menulis artikel, kertas kerja, dakwah dan membimbing orang ramai melalui media masa, seminar, ceramah dan kursus oleh pelbagai pihak.

    Beliau bergiat aktif dalam masyarakat sebagai pemimpin Islam setempat dengan usaha membangunkan hal ehwal agama Islam seperti surau, masjid dan sekolah. Beliau telah dilantik sebagai Nazir Masjid Nurul Yaqin Kg Melayu Sri Kundang 1988 – 2006 dan Pengerusi Sekolah Rendah Agama 1988-. Usaha dan kegigihan beliau dalam pengislahan masyarakat direalisasikan apabila dilantik sebagai Yang DiPertua Persatuan Kebajikan Bina Budi Malaysia (BUDI) yang telah mengembangkan sayap bergerak di seluruh Malaysia dengan sokongan ahli persatuan yang aktif dalam pelbagai aktiviti berbentuk pendidikan dan kemasyarakatan.

    Minatnya tentang tarekat dan tasawwuf yang cukup mendalam hingga mendorongnya untuk mengkaji, mempelajari dan mengamalkan tiga tarekat, iaitu Ahmadiyyah, Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah yang berpengaruh dan mempunyai murid yang ramai. Beliau juga adalah seorang Shaikh dalam Tariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang memimpin amalan Khalwah/Uzlah/bersuluk sehingga sekarang di Madrasah Babul-Khayrat, Jalan Suka, Kampung Melayu Majidi, Johor Bahru dan di Madrasah Madinatul Ilmi di Jalan Pekan-Kuantan, Kuantan, Pahang, dan memimpin dzikrullah@tawajjuh di 6 majlis tawajjuh seluruh Malaysia.

    Dengan kefahaman, kepakaran dan pengamalan berhubung hal ehwal tarekat dan tasawwuf, beliau telah diberikan kepercayaan dan diamanahkan oleh Jabatan Mufti Negeri Sembilan sebagai Ahli Majlis Tariqah-Tariqah Sufiyah (Jalsah Turuq Sufiyah) di bawah Enakmen Tarekat Tasawwuf Negeri Sembilan pada Mac 2007. Yang antara lainnya bertujuan menasihati, memantau dan mengembalikan kedudukan dan perjalanan Tarekat dan Tasawwuf mengikut Al-Quran dan Sunnah.

    Beliau telah menulis beberapa buah buku antaranya ialah Berpawang dan Bersahabat dengan Jin daripada Perspektif Islam, Tokoh-tokoh dan Peristiwa Penting Sejarah Islam, Strategi Menjawab Sejarah Islam, Dhiaul Iman Fi Thariq ar-Rahman (Terjemahan Kitab), Shaikh dalam Ilmu Tariqah dan Kedudukan Qiyas dalam Perundangan Islam. Beliau telah membentangkan lebih 40 kertas kerja untuk pelbagai seminar di peringkat antarabangsa dan kebangsaan, mengarang artikel ilmiah bagi ruangan akhbar “Perubatan Alternatif” dan lain-lain majalah.

    Hampir setiap malam beliau memberikan kuliah / ceramah agama di masjid atau surau di sekitar Kuala Lumpur dan Selangor, malah sebulan sekali beliau akan memberikan kuliah agama bulanan di Kuala Terengganu, Kuantan, Johor Bahru, Muar dan Seremban.
     SEBAHAGIAN TAJUK KERTAS KERJA DALAM BIDANG TASAWWUF/AHKLAK

    1. Perhimpunan Tarekat-Tarekat Seluruh Dunia, Tajuk: “PERKEMBANGAN TAREKAT NAQSYABANDIAH DI MALAYSIA ” (Bahasa Arab), Anjuran: Kerajaan Libya , Tempat: Tripoli , Tarikh: 1980 an.
    2. Seminar Perubatan Islam & Pemurnian Tasawwuf, Tajuk: “KEPENTINGAN TASAWWUF PENINGKATAN ILMU DAN AMAL” Anjuran: Persatuan Pelajar Mahasiswa Pahang Dewan Abbasiah Kaherah, Dengan Kerjasama Yayasan Pahang dan Jabatan Penuntut Malaysia di Kaherah Mesir. Tarikh: Mac 2007
    3. Dalam Seminar Tasawwuf 2007, Tajuk: “PENYAKIT-PENYAKIT HATI: PUNCA DAN KAEDAH RAWATANNYA MENURUT PRINSIP TASAWWUF”, Anjuran: Jabatan Mufti Negeri Sembilan, Tarikh: 22 Disember, 2007.
    4. Seminar Tasawwuf Kebangsaan, Tajuk: “DHIKRULLAH: ANTARA SUNNAH DAN BID’AH”, Anjuaran Jabatan Mufti Negeri Sembilan dengan Kerjasama Universiti Kebangsaan Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka. Tarikh: 9-10 Ogos, 2003.
    5. Seminar Dakwah Tariqah Tasawwuf Antarabangsa, Tajuk: “SALAH FAHAM TERHADAP SHAIKH DAN MURID DALAM TAREKAT TASAWWUF”, Anjuran Bersama: Universiti Kebangsaan Malaysia Dan Jabatan Agama Islam Negeri Sembilan, Tarikh: 17 – 19 Ogos 2002.
    6. Simposium Peradaban Ilmu Dan Ketamadunan Islam (SPIKE '04). Tajuk: “HUBUNGAN TASAWWUF DENGAN SUNNAH, KEPENTINGAN DAN SUMBANGAN TOKOH-TOKOH SUFI DALAM PEMBINAAN TAMADUN” , Anjuran Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Teknologi Malaysia (PMIUTM) Dengan Kerjasama Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM), Jabatan Agama Islam Johor (JAJ) ALUMNI UTM, Masjid Sultan Islam (MSI) Tarikh: 10 – 11hb. Januari, 2004.
    7. Seminar Kefahaman Tasawwuf Dan Penghayatannya, Tajuk: “KEDUDUKAN DAN KEPENTINGAN TAREKAT DALAM ISLAM”, Anjuran: Anugerah HRM Consultant Sdn Bhd, Tarikh: 25 Mac, 2005.
    8. Seminar Kefahaman Tasawwuf, Tajuk: “KEDUDUKAN TAREKAT DALAM ISLAM”, Anjuran Persatuan Mahasiswa Islam, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Skudai, Tarikh: 25 Mac, 2006
    9. Seminar Tasawwuf, Tajuk: “TAREKAT DAN TASAWWUF: MEHNAH DAN TRIBULASI” Anjuran: Persatuan Pelajar, Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Gombak.
    10. Seminar Kefahaman Tasawwuf Islam, Tajuk: “KEPIMPINAN TAREKAT/TASAWWUF SATU PENJELASAN” Anjuran: Universiti Putra Malaysia (UPM)
    11. Muzakarah Ulama’, Tajuk: “ILHAM, KASYAF DAN ILMU LADUNI MENURUT PANDANGAN AHLI TASAWWUF”, Anjuran: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Hotel Marriot Putrajaya.
    12. Seminar Kefahaman Islam, Tajuk: “PERANAN MANHAJ SUFIYYAH KE ARAH TAZKIYAH AN-NAFS”, Anjuran: Sekretariat, Persatuan Ulama’ Malaysia (PUM)
    13. Seminar Solat, Tajuk: “SEMBAHYANG YANG KHUSYUK”, Anjuran: Masjid al-Falah USJ 9 Subang Jaya
    14. Seminar Kepimpinan UM, Tajuk: “KEPENTINGAN AKHLAK ISLAMIAH DALAM KEPIMPINAN ISLAM”, Anjuran: Kolej Kediaman Kelima UM.
    15. “KEPENTINGAN TAREKAT DALAM MENINGKATKAN ILMU DAN AMAL”
    16. “AMALAN SULUK/KHALWAT DALAM TASAWWUF”

    SEBAHAGIAN KERTAS KERJA DALAM BIDANG RAWATAN @ PERUBATAN ISLAM

    1. Seminar Perubatan Islam & Pemurnian Tasawwuf, Tajuk: “JIN/SYAITAN: HUBUNGANNYA DENGAN PELBAGAI GANGGUAN KESIHATAN MANUSIA” Anjuran: Persatuan Pelajar Mahasiswa Pahang Dewan Abbasiah Kaherah, Dengan Kerjasama Yayasan Pahang dan Jabatan Penuntut Malaysia di Kaherah Mesir. Tarikh: Mac 2007.
    2. Seminar Alam Misteri Dalam Budaya, Tajuk: “MENURUN: KEBENARANNYA MENURUT ISLAM” Anjuran Pejabat Muzium Etnologi Dunia Melayu, Jabatan Muzium & Antikuiti. Tarikh: 4 Julai 2002
    3. Seminar Perubatan Tradisional Menurut Islam, Tajuk: “METODOLOGI PERUBATAN TRADISIONAL MELAYU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM” Anjuran: Institut Latihan Dakwah Selangor (ILDAS) Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) Sg Lang Sabak Bernam.
    4. Seminar Mengubati Manusia Dan Alam Dengan Pendekatan Metafizik Islam. Tajuk: “KOMBINASI PUKULAN, DHIKRULLAH DAN DOA SATU KAEDAH PERUBATAN ISLAM YANG PENTING”, Anjuran: Persatuan Kebajikan Saviour Insan Selangor (PERKESAN), Tarikh: 25 Disember 2005
    5. Seminar Rawatan Islam, Tajuk: “SAKA: KESAN DAN CARA MERAWATNYA”, Anjuran: IQ Insan Training & Consultancy Dengan Kerjasama Masjid Wilayah Persekutuan Jalan Duta, Tarikh: 2 Februari 2008
    6. Seminar Rawatan Sihir Menggunakan Al-Quran, Tajuk: “SIHIR: CIRI-CIRINYA, KAEDAH RAWATAN DAN AMALAN PENDINDING”, Anjuran IQ Insan Training & Consultancy Dengan Kerjasama Masjid Negara Kuala Lumpur. Tarikh: 5 Januari 2008.
    7. Seminar Rawatan Sihir Menggunakan Al-Quran, Tajuk: “SIHIR: CIRI-CIRINYA, KAEDAH RAWATAN DAN AMALAN PENDINDING”, Anjuran Jabatan Al-Quran dan Sunnah Akademi Pengajian Islam Universtiti Malaya, dengan kerjsama: IQ Insan Training & Consultancy. Tarikh: Disember 2007.
    8. Dan baru- baru ini menghadiri Seminar Tasawuf Dan Tariqah Serta Majlis Haul Tariqah Naqsyabandiah Al Kholidiyah.Pembentangan kerja kerja bertajuk Makna Dan Kedudukan Syariat Tarekat Hakikat Dan Makrifah Tarikh 26 Julai 2008 bertempat di Masjid Nur Salam,Kg Kubang Jelai Tokai Pendang,Kedah.
    « Last Edit: 22 September, 2013, 12:55:37 AM by ZakiaAliaMedina »

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #66 21 September, 2013, 11:44:13 PM
  • Publish Di FB


  • BIOGRAFI TUAN GURU HJ. ISMAIL BIN OMAR ( BABA EIL )

    Kelahiran, Keluarga dan Pendidikan.
    Nama asal beliau ialah Ismail bin Omar atau lebih dikenali sebagai Baba Eil Spanjang iaitu panggilan bagi seorang Tuan Guru. Dilahirkan di Kampung Dusun Spanjang Daerah Penarik, Patani kira-kira 20 km dari Bandar Patani. Merupakan anak lelaki tunggal dalam keluarga sebanyak 3 beradik.

    Mendapat pendidikan awal di Sekolah Rendah Kampung Dusun Spanjang. Kemudian menyambung pendidikan di pondok berdekatan rumahnya (200 meter) pada ketika usia 14 tahun. Beliau dihantar belajar agama oleh keluarganya dengan Almarhum Tuan Guru Haji Abdul Latif. Selain itu, beliau juga berguru dengan Almarhum Tuan Guru Haji Abdul Rahman dengan mendalami pelbagai ilmu antaranya Tafser, Hadis, Feqah, Nahu dan lain-lain. Manakala tiba musim cuti semester Baba Eil pergi belajar di pondok lain pula bagi mengisi masa lapang.

    Ketika umur beliau mencapai 21 tahun, beliau berpindah ke Pondok Haji Abdul Qader Sekam (Baba Der) yang terkenal dengan ilmu tauhid untuk belajar di sana sehinggalah umur beliau 30 tahun. Ketika di sana beliau bukan setakat mengajar kepada pelajar tetapi mula menerima undangan mengajar masyarakat sekitar. Antara tempat yang beliau masih mengajar hingga ke hari ini ialah Masjid Yala (21 tahun) dan Masjid Patani (22 tahun).

    Ketika umur beliau 29 tahun, beliau telah mendirikan rumahtangga dengan Hajah Sabariah Binti Tuan Guru Haji Abdul Aziz (Pengarang Kitab Misbahul Munir). Hasil perkahwinan tersebut, beliau dikurniakan 5 cahayamata ( 2 lelaki dan 3 perempuan ).Selepas itu ketika berumur 31 tahun, beliau telah pergi ke Mekah dan bermuqim di sana selama 7 bulan.

    Pada tahun 1993, setelah kembali dari Mekah, barulah Baba Eil membuka pondok di Kampung Kubang Ikan Bandar, Narathiwat yang dikenali dengan nama Maahad Darul Muhajirin. Dalam tempoh tersebut, beliau juga selalu berulang-alik ke Kelantan untuk memenuhi jemputan mengajar. Akhirnya pada tahun 1998, pondok beliau telah berpindah ke kampung beliau sendiri di Kampung Dusun Spanjang hinggalah ke hari ini. Rutin harian beliau dipenuhi dengan mengajar agama kepada pelajar yang datang dari pelbagai pelusuk dalam dan luar negara seperti Kemboja, Malaysia dan Burma tanpa menerima bayaran.
    Sehingga kini, terdapat lebih kurang 200 orang pelajar yang sedang menuntut di pondok beliau. Pengajian berlangsung sepanjang tahun melainkan pada waktu cuti iaitu 15 Sya’ban hingga 15 Syawal ( 2 bulan ), cuti Raya Haji ( seminggu ) dan bulan Rabiulawal ( 1 bulan ).

    Selain itu, Baba Eil juga memberi khidmat masyarakat dengan mengajar pada setiap hari Sabtu di Masjid Patani dan setiap Ahad di Masjid Yala.. Kuliah Baba Eil sering disiarkan di radio tempatan. Selain mengajar, Baba Eil memenuhi masa lapang dengan mentelaah dan mengarang kitab.
    Antara kitab karangan Baba Eil ialah “Mizan ad-Durari”, “Hikam Jawi”, “Mawaiz al-Iman”, dan karangan dalam bidang tafsir,hadis dan Qawaid. Selain itu,Baba Eil telah dilantik sebagai Ahli Jawatankuasa Fatwa Persatuan Ulama Fathoni.

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #67 21 September, 2013, 11:47:50 PM
  • Publish Di FB



  • As Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas Al Maliki Al Hasani- ♥♥♥

    As Sayyid Prof. Dr. Muhammad bin Sayyid ‘Alawi bin Sayyid ‘Abbas bin Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di kota suci Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, dekat Bab As-salam

    Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama terkenal dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah seperti Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki adalah seorang alim ulama yang pertama kali memberikan ceramah di radio Saudi setelah salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”.

    Begitu pula ayah beliau adalah seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah jika ada perayaan pernikahan.Selama menjalankan tugas da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah setelah wafat beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.

    Sebagaimana adat para Sadah dan Asyraf ahli Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu menggunakan pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah.

    Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan karena ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil adalah ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya. Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin beliau kembali ke Makkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.

    Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah beliau tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu beliau selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya beliau selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.

    Dari rumah beliau telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid beliau yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 beliau yang masuk ke dalam pemerintahan.

    Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula beliau telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan beliau memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

    Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.

    Dalam kehidupannya beliau selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai beliau menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim beliau di masjidil Haram. Semua ini beliau terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan beliau selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Beliau adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Beliau selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya

    Karya Tulis Beliau

    Di samping tugas beliau sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, beliau pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 beliau yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

    Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam berbagai bidang:

    Aqidah:

    1. Mafahim Yajib an Tusahhah
    2. Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus
    3. At-Tahzir min at-Takfir
    4. Huwa Allah
    5. Qul Hazihi Sabeeli
    6. Sharh ‘Aqidat al-‘Awam

    Tafsir:

    1. Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
    2. Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la
    3. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran
    4. Hawl Khasa’is al-Quran

    Hadith:

    1. Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
    2. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith
    3. Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
    4. Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik

    Sirah:

    1. Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
    2. Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
    3. ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif
    4. Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah
    5. Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah
    6. Zikriyat wa Munasabat
    7. Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra

    Usul:

    1. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
    2. Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
    3. Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah

    Fiqh:

    1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha
    2. Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar
    3. Abwab al-Faraj
    4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
    5. Al-Husun al-Mani‘ah
    6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar

    Lain-lain:

    1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)
    2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis)
    3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam)
    4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik Dawah)
    5. Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)
    6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)
    7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman)
    8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin)
    9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)
    10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)
    11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)
    12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)
    13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk beliau, As-Sayyid Abbas)
    14. Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa beliau, As-Sayyid Alawi)
    15. Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)
    16. Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)

    Catatan diatas adalah kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk pertama kali, dengan ta'liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

    Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka.

    Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya beliau dilarang, bahkan kedudukan beliau sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf.

    Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, beliau mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana beliau mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana beliau telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran beliau tentang da’wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

    Pada tanggal 11/11/1424, beliau mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya beliau selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.

    Beliau wafat hari jumat tanggal 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’la disamping kuburan istri Rasulullah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan beliau seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri.

    Semuanya menyaksikan hari terakhir beliau sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah beliau setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah beliau untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan umat.

    Semoga kita bisa meneladani beliau. Amien.

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #68 21 September, 2013, 11:51:55 PM
  • Publish Di FB



  • Inilah beliau Ulama' Solihin Al-Arif Billah Tuan Guru Hj Tayyib Al-Makki,

    Beliau di lahirkan pada tahun 1912 .. dan beliau ke Makkah sejak British jejak tanah melayu sehingga ssekarang .. Selama di Makkah , beliau sempat menuntut ilmu degan Masyeikh Makkah yang terkenal antaranya:

    -Syeikh Wan Ismail Al-Fathani,
    -Syeikh Muhammad Amin Al-Kutbi,
    -Syeikh Alawi Abbas Al-Maliki,
    -Syeikh Hassan Masyath.. Dll

    *Antara rakan seguru beliau d Makkah adalah:

    -Tuan Guru Hj Abdul Rahman Awang,pondok Guar kepayang,kedah
    -Tuan Guru Hj Soleh Hj Musa,pondok Sik,Kedah,
    -Tuan Guru Hj Abdul Rahman Pombing.. Dll

    Di Mekah beliau di kenali dengan nama 'Hj Tayyib Roti' keran beliau hanya makan roti.. Akhlak beliau sangat indah .. Beliau mudah di dekati oleh sesiapa pun.. Jika anda meminta nasihat dari beliau .. Nasihat yang bakal beliau beri bertepatan dengan peribadi orang yg meminta nasihat. . Banyak mutiara kata yang di lontarkan oleh beliau..

    Ulama hebat berusia 100 tahun ini tinggal bersama isteri dan seorang anaknya di Kampung Asam Jawa daerah Parit Panjang Kedah .. Untuk pergi ke rumah beliau .. Perlu berjalan dikawasan yang dpenuhi dengan hutan iaitu lebih kurang 2 km dari jalan utama .. Subhanallah .. Beliau hidup dengan penuh kezuhudan .. Beliau tidur beralaskan papan keras dan sekapit simen lama sebagai bantal .. Beliau seorang yang menegakkan kebenaran .. Oleh sebab itu orang kampung tidak menyukai beliau .. Malah beliau dihina dengan bermacam macam kata keji seperti orang gila dan seorang yang suka menyekat rezeki orang .. Allahurobbi ..

    Walaupun umur beliau sudah pun satu abad .. Subhanallah .. Beliau masih bercucuk tanam .. Mencangkul .. dan apa lebih hebat lagi ... Beliau membina rumahnya itu sendiri dengan tulang empat keratnya .. Allahurobbi .. Untuk ke kedai .. Beliau terpaksa berjalan kaki dari rumahnya hampir 1 km.. Cuba tuan puan bayangkan dengan usianya .. keadaannya beliau terpaksa berjalan kaki .. Subhanallah ..

    Diantara Ulama Hebat yang pernah ditemu dan ketemu dengan beliau ialah Habib Umar Bin Hafiz dan Syeikh Nuruddin Marbu Al Banjari Al Makki ..

    Sahabatku .. Ulama Solihin ini telah lanjut usia .. Bila bila masa sahaja Allah Taala boleh menjemputnya ke Raudhah .. Selagi masih ada peluang .. selagi masih ada waktu .. ziarahilah beliau .. ciumlah pipi beliau .. peluklah beliau seerat eratnya .. Minta agar beliau mendoakan kesejahteraan kita .. Sampai bila kita ingin mengabaikan sebuah permata ummah ini ..

    Wallahualam ..

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #69 23 September, 2013, 12:26:07 AM
  • Publish Di FB
  • *Saye diberitahu dari salah seorang muridnye,menerima amanah dari beliau agar gambarnye tidak dipaparkan.

    Sheikh As-Syarif Dr. Yusuf Muhyiddin Riq El-Bakhur Al-Hasani.

    Beliau berketurunan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein r.a., kedua-dua cucu kesayangan Rasulullah s.a.w.

    KELAHIRAN DAN KEHIDUPAN BELIAU:

    Beliau dilahirkan di Aka, Lubnan. Kini, beliau tinggal di Lubnan dan Kanada.

    LATAR BELAKANG PENDIDIKAN BELIAU

    Pada awalnya, beliau menuntut di Lubnan. Seterusnya, beliau melanjutkan pengajiannya di Institut Fiqh (Islamic Study) pada tahun 1974 dalam bidang Ijazah Sarjana Muda. Beliau juga turut mengambil pengajian Sarjana Muda di Al-Azhar dan tamat pada tahun yang sama, dalam bidang Al-Syariah wa Al-Qonun.

    Beliau melanjutkan Ijazah Sarjana di Al-Azhar dalam bidang Al-Syariah wa Al-Qonun dan tamat pada tahun 1989. Seterusnya, beliau dianugerahkan ijazah Kedoktoran (Ph.D) Kerhormat daripada Universiti Islam Lubnan pada tahun 1991.

    ANTARA GURU-GURU BELIAU:

    Beliau mengambil tarbiah sufiyah secara khusus dari As-Sheikh Al-Mursyid Sidi Abdul Qadir Isa r.a. yang merupakan mursyid bagi Tarikat As-Syazuliyah Ad-Darqowiyah.

    Setelah dilihat kelayakan Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani, dalam memikul tugas sebagai mursyid, maka Sidi Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. memberi izin wirid 'am dan khas tarikat As-Syazuliyah dan izin irsyad dan tarbiah kepada beliau. Sheikh Yusuf merupakan khalifah Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. yang termuda dari kalangan keempat-empat khalifah beliau.

    Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani pernah dibawa oleh Sheikh Abdul Qadir Isa r.a. untuk bertemu dengan guru beliau sendiri iaitu Sheikh Muhammad Al-Hasyimi. Sheikh Muhammad Al-Hasyimi turut memberi izin wirid am dan khas tarikat As-Syazuliyah kepada Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani r.a..

    Sheikhuna Yusuf Al-Hasani bersahabat dengan Sheikh Abdul Qadir Isa sehinggalah ke hujung hayat Sheikh Abdul Qadir Isa r.a.. Setelah kewafatan Sheikh Abdul Qadir Isa r.a., Sheikhuna Yusuf juga turut mencari mursyid lain sebagai tabarruk dan merasakan diri masih lagi memerlukan tarbiah dari seorang mursyid, walaupun pada ketika itu, beliau sudahpun mendapat izin sebagai seorang mursyid.

    Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani mengambil bai'ah tabarruk dari Sheikh Sa'duddin Murod, yang merupakan khalifah utama Sheikh Abdul Qadir Isa r.a.. Sheikh Sa'duddin Murod turut memberikan kepada Shiekh Yusuf Al-Hasani izin tarbiah khalwah dan izin wirid am dan khas tarikat As-Syazuliyah.

    Bukan sekadar itu sahaja, malah Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani turut menemui Sheikh Al-Habib Abdul Qadir As-Saggaf untuk mengambil bai'ah tarikat daripada beliau seterusnya menjadi murid beliau. Sheikh Abdul Qadir As-Saggaf lantas memberi kepada Sheikhuna Yusuf Al-Hasani, izin irsyad tarikat As-Syazuliyah, kerana melihat keahlian yang dimiliki oleh Sheikhuna Yusuf.

    Di samping itu juga, Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani mengambil bai'ah tarikat daripada beberapa mursyid tarikat berlainan lantaran itu, turut menerima izin irsyad dari mursyid-mursyid tarikat tersebut. Antara mursyid-mursyd tersebut adalah:

    Sheikh Soleh Farfur (tarikat As-Syazuliyah juga)
    Sheikh Sayyid Muhammad bin Sayyid 'Alawi Al-Maliki (tarikat Alawiyah)
    Sheikh Uthman Sirajuddin An-Naqsyabandi (tarikat An-Naqsyabandiyah)
    Sheikh Muhammad Na'im Al-Jailani Al-Asyarafi (tarikat Al-Qadiriyah)
    Sheikh Muhammad Zaki Ad-Din Ibrahim (tarikat Asyirah Muhammadyah)

    Sheikhuna Sidi Yusuf Al-Hasani juga meriwayatkan hadis-hadis musalsal dan sanad-sanad hadis dan ilmu agama secara umum dari Sheikh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki r.a. dan Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim.

    AKTIVITI-AKTIVITI BELIAU:

    - Pengarah Yayasan Islam Kanada, di Hamilton, Kanada pada tahun 1981 sehingga hari ini.

    - Pensyarah di Universiti Islam Lubnan

    - Ahli Jawatan Kuasa Majlis Fatwa Lubnan

    - Anggota Majlis Ulama' di Syria

    - Seorang pendakwah peringkat antarabangsa (Syam, Kanada, Mesir, Jepun dan Asia Tenggara)

    - Mursyid atau Sheikh Tarikat Al-Asyirah Al-Muhammadiyah di Hamiton, Kanada

    - Murobbi Tasauf khususnya dalam Tarikat Syazuliyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Darqowiyah, Alawiyah dan sebagainya.

    - Pengasas Dar El-Hasani Center, iaitu tempat perhimpunan anak-anak murid beliau di Mesir.

    -Penasihat Kehormat Institut Pngajian Ar-Razi, Pulau Pinang, Malaysia
    * Pakar bidang studi perbandingan antara fiqh Hanafiah dan madzhab-mdzhab lain
    serta pemikiran Islam.
    « Last Edit: 23 September, 2013, 12:36:56 AM by ZakiaAliaMedina »

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #70 23 September, 2013, 12:33:15 AM
  • Publish Di FB
  • *Saye diberitahu dari salah seorang muridnye,menerima amanah dari beliau agar gambarnye tidak dipaparkan.

    al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith

    Nama dan Nasabnya
    Beliau adalah al-Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-'Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da'i ilallah, as-Sayyid al-Habib Abu Muhammad Zain bin Ibrahim bin Zain bin Muhammad bin Zain bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali bin Salim bin Abdullah bin Muhammad Sumaith bin Ali bin Abdurrahman bin Ahmad bin Alwy bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwy ('Ammul al-Faqih al-Muqqadam) bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali Qatsam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy Ba'Alawy bin 'Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rummi bin Muhammad An-Naqib bin Ali al-'Uraidhi bin Ja'far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib dan Sayidah Fathimah binti Rasulullah SAW.

    Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M. Ayahnya Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu, selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.

    Sejak kecil Habib Zain sudah mengenal agama dengan baik, baik ilmu pengetahuan maupun amaliah sehari-hari. Mengetahui Habib Zain memiliki kelebihan dibanding saudara- saudara lainnya, ayahnya memberikan pendidikan ekstra. Tak hanya ilmu, akhlak pun ditekankan pada diri Habib Zain.

    Belajar dan Guru-gurunya
    Mengunjungi para ulama contohnya. Seperti diketahui, mengunjungi (dalam bahasa Jawa: sowan) sudah menjadi tradisi bagi sebagian umat Islam, seperti Jawa dan Arab asal Hadramaut Yaman. Tak sekadar silaturahmi, tapi yang diharapkan adalah berkah doa dari mereka, para ulama. Sowan inilah yang dijadikan salah satu mediasi oleh Habib Ibrahim dalam mendidik Habib Zain. Dari rasa cinta dan hormat (mahabbah dan ta’ dzim), lalu muncul pada diri Habib Zain rasa ingin menjadi seperti mereka, paling tidak meneladani perilaku mereka. Sejak itu, Habib Zain mengais ilmu dari ulama-ulama Betawi. Di waktu beliau masih kecil, ayahnya suka membawanya ke Majelis Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad, salah satu pemuka kalangan saddah 'Alawiyyin yang bermukim di Bogor (Beliau dimakamkan di kubah gurunya Al-Habib Abdullah bin Mukhsin al-Aththas, Mesjid An-Nur, Empang Bogor). Beliau menghadiri maulud yang biasa diadakan di rumah Habib Alwy setiap ashar di hari Jum'at. Habib Alwi terhitung guru pertama dalam kehidupan beliau. Selain Habib Alwi, masa kecil Habib Zain banyak dihabiskan untuk menimba ilmu kepada Habib Ali bin Abdurrahman al- Habsyi (Kwitang, dekat Pasar Senen Jakarta Pusat). Di sini, Habib Zain paling tidak hadir seminggu sekali, mengikuti majlis rutin yang digelar tiap Ahad pagi. Selanjutnya, pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan Habib Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim.

    Guru-gurunya al-habib Zain bin Ibrahim bin Smith diantaranya adalah
    al-Habib Alwy bin Muhammad bin Thohir al-Hadad
    Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh,
    Habib Umar bin Alwi al-Kaf,
    Al-Allamah Al-Sheikh Mahfuz bin Salim,
    Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan,
    Habib Salim bin Alwi Al-Khird,
    Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus,
    Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar (mertuanya).
    Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil
    Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Aththas
    Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl
    Habib Muhammad bin Hadi Assaqof,
    Habib Ahmad bin Musa Al-Habsyi, Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki,
    Habib Umar bin Ahmad bin Smith,
    Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad,
    Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assaqof dan
    Habib Muhammad bin Ahmad Assyatiri
    pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan Habib Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim. Di bumi awliya’ itu Habib Zain tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan.

    Menyadari mahalnya waktu untuk disia-siakan, Habib Zain berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah
    lainnya, hingga pada akhirnya mengkhususkan belajar di ribath Tarim. Di pesantren ini nampaknya Habib Zain merasa cocok dengan keinginannya.
    Di sana ia memperdalam ilmu agama, antara lain mengaji kitab ringkasan (mukhtashar) dalam bidang fikih kepada al-'Allamah al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahnya al-Habib Umar bin Hafizh Darul Musthafa-Tarim, di bawah asuhan al-Habib Muhammad pula, Habib Zain berhasil menghapalkan kitab fikih buah karya Imam Ibn Ruslan, “Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya Asy-Syarraf Ibn Al-Muqri yang beliau hafal sampai bab Jinayat.

    Tak cukup di situ, Habib Zain belajar kitab “Al-Minhaj” yang disusun oleh Habib Muhammad sendiri, menghapal bait-bait (nazham) “Hadiyyah
    As-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya.

    Dalam penyampaiannya di Tarim beliau sempat berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Habib Umar bin Alwi Al-Kaf, kepadanya beliau membaca kitab "Mutammimah al-Ajurumiyah", menghapal kitab "Alfiyyah" karya Ibnu Malik, dan mulai mempelajari syarah kitab itu padanya.

    Beliau menimba ilmu Fiqih dari al-Allamah asy-Syaikh Mahfuzh bin Salim az-Zubaidi dan dari seorang syaikh yang Faqih Syekh Salim Sa’id
    Bukhayyir Baghitsan. Beliau juga membaca kitab "Mulhah al-I'rab" karya al-Hariri dengan Habib Salim bin Alwi Al-Khird. Dalam ilmu ushul, beliau mengambil dari Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl dan al-Habib Abdurrahman bin Hamid As-Sirri, kepada mereka berdua, beliau juga membaca kitab matan "al-Waraqat". Beliau juga menghadiri majelis-majelis al-Habib Alwi bin Abdullah Shihabuddin dan rauhah-nya, juga pelajaran-pelajaran  di Ribath, dan majelis Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran.

    Beliau juga menimba ilmu dari Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus, dan sering pulang pergi ke tempatnya. Beliau mendapatkan banyak ijazah darinya. Beliau juga menimba ilmu dari Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abubakar Attos bin Abdullah Al-Habsyi. Kepadanya beliau membaca kitab al-Arba'in karya Imam al-Ghazali. Guru-gurunya memuji karena kelebihannya dibanding lainnya, juga karena adab, perilaku, dan akhlaknya yang baik.

    Selain menimba ilmu di sana Habib Zain banyak mendatangi majlis para ulama demi mendapat ijazah, semisal Habib Muhammad bin Hadi As-Saqqaf,
    Habib Ahmad bin Musa Al-Habsyi, al-Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assaqof, al-Habib al-Murabbi Hasan bin Abdullah asy-Syatiri dan Habib Muhammad bin Ahmad asy-Syatiri. Melihat begitu banyaknya ulama yang didatangi, dapat disimpulkan, betapa besar semangat Habib Zain dalam rangka merengkuh ilmu pengetahuan agama, apalagi melihat lama waktu beliau tinggal di sana, yaitu kurang lebih delapan tahun.


    al-Habib Muhammad al-Haddar, al-Habib Hasan bin Abdullah asy-Syatiri dan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith (ki-ka)

    Kemudian salah seorang gurunya bernama Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz menyarankannya pindah ke kota Baidhah, salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman sebelah selatan, untuk mengajar di rubath sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar.

    Dalam perjalanan ke sana, Habib Zain singgah dulu di kediaman seorang teman dekatnya di wilayah Aden, Habib Salim bin Abdullah Assyatiri, yang saat itu menjadi khatib dan imam di daerah Khaur Maksar, disana Habib Zain tinggal beberapa saat. Selanjutnya Habib Zain melanjutkan perjalanannya di Baidhah, Habib Zain pun mendapat sambutan hangat dari sang tuan rumah Habib Muhammad Al-Haddar, di sanalah untuk pertama kali ia mengamalkan ilmunya lewat mengajar.

    Habib Zain menetap lebih dari 20 tahun di Rubath Baidha’ menjadi khadam ilmu kepada para penuntutnya, beliau juga menjadi mufti dalam Mazhab Syafi’i. Beliau merupakan tangan kanan Habib Muhammad al-Haddar. Selama di rubath Baidha, beliau benar-benar berjuang, beribadah dan menempa diri dengan kesungguhan dan keseriusan dalam Muthala'ah (mengkaji) kitab-kitab tafsir, hadist, fiqih, dan lain-lain, juga membaca kitab-kitab salaf. Beliau memiliki semangat yang tak kenal lelah dan jemu dalam mengajar, mendidik murid-murid, dan membimbing mereka yang kurang pandai.

    Beliau memilki kedudukan tersendiri di sisi gurunya al-Habib Muhammad al-Haddar. Sehingga bila suatu persoalan ilmiah diajukan kepada Habib Muhammad dan sudah dijawab oleh Habib Zain maka Habib Muhammad mengatakan, "Jika Habib Zain telah menjawab maka tidak perlu lagi ada komentar". Begitulah penilaian gurunya karena sangat percaya dengan keilmuan al-Habib Zain bin Sumaith.

    Setelah itu beliau berpindah ke negeri Hijaz diminta untuk membuka rubath Sayyid Abdurrahman bin Hasan al-Jufri di Madinah. Beliau berangkat pada bulan Ramadhan tahun 1406 H. , Habib Zain telah bersama-sama dengan Habib Salim asy-Syatiri menguruskan Rubath di Madinah selama 12 tahun, Setelah itu Habib Salim pindah ke Tarim Hadhramaut untuk menguruskan Rubath Tarim.


    Habib Zain di Madinah diterima dengan ramah, muridnya banyak dan terus bertambah, dalam kesibukan mengajar dan usianya yang juga semakin meningkat, keinginan untuk terus menuntut ilmu tidak pernah pudar. Beliau mendalami ilmu Usul daripada Sheikh Zaidan Asy-Syanqiti Al-Maliki, seorang yang sangat alim dan ahli ushul fiqih. Kepadanya beliau membaca kitab at-Tiryaq an-Nafi' 'ala Masail Jami'ul Jawami karya Imam Abu BAkar bin Syahab, Maraqi as-Su'ud karya Syarif Abdullah al-Alawi asy-Syanqithi yang merupakan kitab matan lanjutan dalam ilmu ushul fiqih.

    Habib Zain terus menyibukkan diri menuntut dengan Al-Allamah Ahmaddu bin Muhammad Hamid Al-Hasani asy-Syanqithi dalam ilmu bahasa dan Ushuluddin. Kepadanya beliau membaca Syarh al-Qath, sebagian Syarh Alfiyyah karya Ibnu 'Aqil, Idha'ah ad-Dujunnah karya Imam al-Maqqari dalam akidah, as-Sullam al-Munauraq karya al-Imam al-Akhdari, Isaghuji karya al-Imam al-Abhari, Itmam ad-Dirayah li Qurra an-nuqayah karya Imam Suyuthi, al-Maqshur wa al-Mamdud dan Lamiyah al-Af'al, keduanya karya Ibnu Malik, jilid pertama kitab Mughni al-Labib karya Ibnu Hisyam, dua kitab ilmu shorof, Jauhar al-Maknun dalam ilmu balaghoh. Syaikh Ahmaddu memuuji Habib Zain karena semangat besar dan kesungguhannya dalam menuntu ilmu. Dan kebanyakan membaca kepadanya di Masjid Nabawi yang mulia.

    Selama masa ini Habib Zain sering melakukan perjalanan-perjalanan yang diberkahi ke sejumlah negeri Islam untuk berdakwah serta menjumpai para ulama dan para wali. Beliau mengunjungi Syam, Indonesia, Malaysia, Afrika dan lain-lain.

    Allah SWT memberi anugerah kepadanya, yaitu mudah diterima orang dan kewibawaan dalam penampilannya. Habib Zain seorang yang tinggi kurus. Lidahnya basah, tidak henti berzikrullah. Tasbih hampir tidak pernah berpisah dengan tangannya. Selalu mengenakan sorban putih, dan mengenakan sarung dan pakaian sebagaimana kebiasaan para salaf di Hadramaut.

    al-Habib Zain memilki pengaturan khusus dalam wirid, zikir dan ibadahnya. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya. Di waktu pagi Habib Zain keluar bersolat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi sehingga matahari terbit, setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majlis Rauhah digelar setelah asar hingga waktu maghrib tiba. Lalu beliau melanjutkan mengajar hingga menjelang Isya. Setelah itu, pergi ke Masjid Nabawi untuk melakukan shalat Isya dan berziarah ke makam datuknya yang mulia dan agung, Rasulullah SAW.

    Di antara hasil karya tulis beliau :
    al-Manhaj as-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah as-Sadah al-Ba'Alawi. Kitab terpenting di antara beliau, menjelaskan mengenai thariqah Alawiyyah.
    Al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah Min Anfas as-Sadah al-'Alawiyyah. Kitab Tafsir maknawi yang tipis dan menghimpun ucapan Sadah al-Alawiyyin dalam kumpulan ayat al-Qur'an dan Hadist Nabi.
    Hidayah ath-Thalibin Fi Bayan Muhimmat ad-Din. kitab Syarh hadist perbincangan antara Jibril.as dan Rasulullah SAW.
    Al-Ajwibah al-Ghaliyah Fi 'Aqidah al-Firqah an-Najiyah. Menjelaskan menganai keyakinan orang-orang yang menyimpang dalam bentuk tanya jawab.
    al-Futuhat 'Aliyyah Fi al-Khutbah al-Mimbariyyah. Merangkum ceramah-ceramah beliau
    HAadayah az-Zairin ila Ad'iyah az-Ziyarah an-Nabawiyyah wa Masyahid as-Shalihin. Kumpulan doa para salaf yang diucapkan ketika ziarah Nabi dan kuburan-kuburan di Haramain dan Hadhramaut.
    Majmu'. Kitab manfaat yang bertebaran dalam hukum, doa,dan adab.
    Fatawa al-Fiqhiyah. Mengenai fatwa-fatwa fiqih
    Tsabat Asanidah wa Syuyukhah. Bentuk naskah berisi sanad dan para gurunya

    Semoga menjadi keberkahan bagi kita semua di dunia dan akhirat berkumpul dengan ulama-ulama Allah dan menjadi penegak panji-panji Sayyiduna wa Maulana Muhammad S.A.W. dan kelak mendapat syafa'at dari Nabi kita termulia dan dari Ulama-Ulama Allah SWT.
    Amiin Amiin Yaa Robbal Alamiin…..


    Rauhah adalah majelis di mana seorang Syaikh berkumpul dengan murid-muridnya di luar waktu belajar, biasanya diadakan sore hari. Dalam kesempatan ini, mereka membaca kitab-kitab akhlak, manaqib atau adab. Tujuannya adalah bersantai dan bersenang-senang dengan sesuatu yang bermanfaat. Majelis rauhah biasanya diakhiri dengan pembacaan Nasyid yang indah, kemudian ditutup dengan doa dan pembacaan Surah al-Fatihah.

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #71 23 September, 2013, 01:00:56 AM
  • Publish Di FB


  • MUFTI KERAJAAN NEGERI SEMBILAN KETIGA (ANAK KEPADA DATO MUFTI YANG PERTAMA)

    Dato' Haji Mohd Murtadza bin Haji Ahmad


    – Beliau dilahirkan pada 23 Safar 1356H bersamaan 5 Mei 1937. Mendapat pendidikan awal di Sekolah Dato' Shahbandar, Rasah. Kemudian meneruskan pengajiannya di Singapura bersama bapa saudaranya Tuan Haji Abdul Rasyid, dan kemudian di Sekolah Agama al-Atas, Johor Bahru hingga tahun 1956. Pada tahun 1957, beliau melanjutkan pelajaran di al-Mashor, Pulau Pinang. Kemudian tahun 1961 beliau menyambung pengajiannya ke luar negara iaitu di Maahad al-Kaherah dan seterusnya menuntut di Universiti al-Azhar, Cairo pada tahun 1967 hingga 1974.


    Pengalaman dalam perkhidmatan :

    • Bertugas sebagai guru Agama di Sekolah Agama Menengah Tinggi Bukit Merbah pada tahun 1974

    • Menjadi Qadhi di Daerah Kuala Pilah dan Jempol sehingga tahun 1981.

    • Menjawat jawatan Ketua Penerangan Agama dan merangkap Imam Besar Negeri Sembilan dari tahun 1981- 1984.

    • Menjawat Ketua Penerangan Agama dan memangku Qadhi Besar bermula pada 31 Oktober, 1984 hingga bulan Ogos 1987.

    • Bermula 10 Ogos, 1987 bertugas sebagai Mufti Kerajaan Negeri, Negeri Sembilan Darul Khusus hingga sekarang.

    BIODATA MUFTI KERAJAAN NEGERI SEMBILAN


    Pada tahun 1943 Y.B Dato' Mufti memulakan pembelajaran di Sekolah Kebangsaan Sega, Rantau. Selepas itu bapa Y.B Dato' berpindah ke Mukim Nyatoh dan Y.B Dato' bersekolah di Sekolah Kebangsaan Nyatoh. Selepas British kembali memerintah Malaysia Y.B Dato' mula belajar di Sekolah Kebangsaan Dato' Shahbandar Haji Ahmad, Rasah hingga tamat pada kelas 6.

    1950 - Belajar di Madrasah Khairiah Singapura disamping belajar dengan bapa saudara Tuan Haji Abd. Rashid.

    1951 - Berpindah ke Madrasah Al-Atas Johor Bahru – belajar agama di sebelah pagi di Madrasah Al-Atas dan di sebelah petang belajar di Sekolah Agama Air Molek.

    1956 - Lulus Kelas Khas dan mendapat No. 3 daripada 1000 orang penuntut. Dan pada tahun yang sama lulus syahadah al-Iftida‘iyah di Madrasah tersebut.


    Pada awal 1957 berpindah ke Madrasah Al-Manshoor, Pulau Pinang hingga 1960. Kemudian lulus ujian dan dilantik menjadi guru sementara di Madrasah Al-Manshoor, Pulau Pinang.

    Bulan Ogos 1960 bertolak ke Al-Azhar. Mula-mula belajar di Maahad Al-Bu‘us. Oleh kerana al-Azhar menerima perubahan baru zaman Sheikh Mahmud Shaltud dan Dr. Mohd Bahai, Menteri al-‘Aukuf. Semua pelajar-pelajar diarah menerima sistem baru palajaran sains dan agama di al-Azhar dan saya diantara yang kekal sehingga mendapat shahadah Senawi di Maahad al-Kaherah.


    1965 - Mendapat sijil menengah al-Azhar.

    1966 hingga 1973 - Mengaji di Universiti al-Azhar dalam kuliah al-Syariah al-Qanun.

    1973 - Lulus Sarjana al-Azhar.
    Sepanjang di Mesir beliau terlibat dengan Persatuan Melayu Mesir (PMRAB). Menjawat beberapa jawatan terpenting Persatuan tersebut dan berkawan rapat dengan ramai sahabat di Malaysia sekarang diantaranya Dr. Yusof Nor, Dr. Abdul Hamid Othman, Dato' Hashim Yahya, Ust. Azizan Abdul Razak, Sheikh Mohsin, Dr. Ismail Ibrahim, almarhum Tan Sri Sheikh Mohsin, Ust. Fadhil Nor, Dr. Daing Sanusi, Ust. Sulaiman Yasin, Dato' Nik Aziz dan pelajar-pelajar Brunei , Singapura , Indonesia , Filipina dan Muldip dan terlibat bersama-sama rakan Malaysia membentuk Pakatan Mahasiswa Asia Tenggara. Tamat pengajian pada tahun 1973 dan berada di Malaysia pada tahun 1974.

    1974 - Bertugas sebagai Guru Sementara di SMKA Sheikh Hj. Mohd Said, Seremban

    1976 - Menjadi Qadhi Daerah Kuala Pilah / Jempol dan Hakim Mahkamah Syariah Daerah Kuala Pilah dan Jempol.

    10.9.81 - Dilantik menjadi Ketua Pegawai Penerangan merangkap Imam Besar Masjid Negeri.

    10.7.84 - Ketua Pegawai Penerangan memangku Qadhi Besar Negeri Sembilan dan Hakim Mahkamah Qadhi Besar seluruh Negeri Sembilan. Dalam tempoh ini beliau telah dihantar menghadiri beberapa kursus yang diadakan samada di Kuala Kubu, JAKIM, 2 minggu menghadiri kursus Imam-Imam di Sabah atas kerjasama Kerajaan Malaysia dan Libya . Kemudian kursus Imam-Imam seluruh dunia di Mesir selama 3 bulan (Mac – Jun 1986) bersama-sama 11 orang Pegawai Agama seluruh Malaysia atas pilihan JAKIM.

    Sepanjang menjadi Qadhi telah dihantar menghadiri beberapa kursus Qadhi-Qadhi seluruh Malaysia .

    1987 - Dilantik menjadi Mufti Kerajaan Negeri Sembilan yang ketiga. Sekarang tidak lagi.

    @Merupakan Mursyid Tareqat Ahmadiah Idrissiah
    @Mudir di Pondok Rasah, Negeri Sembilan.

    Sepanjang berkhidmat beliau dikurniakan 3 pingat :

    1983 - PJK
    1986 - PMC
    1988 - DSNS
    -Sumber Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

    ZakiaAliaMedina

    • *
    • Posts: 232
      • View Profile
    Jawab #72 08 April, 2014, 05:41:18 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

     :ins: semoga membawa manfaat..

    Kewafatan almarhum TG Babo Abdul Aziz-Belasungkawa (Ketua Ulama Pattani)
    Kg Kok Kapok, Tak Bai, Thailand: Pengkebumian almarhum Tuan Guru Baba Abdul Aziz As Syafie, 76 tahun. Alhamdulillah sempat memberi penghormatan terakhir. Sebaik sahaja mendengar berita kewafatan TG pada pukul 1.00 pagi, terus kami dr lembah klang bergegas ke Tak Bai melalui Pengkalan Kubur? Kelantan. Bagaikan baru semalam bersama almarhum Baba, sempat khidmat dgn Babo tatkala bermusafir dgn beliau hampir 1 minggu di Pontianak, Kalimantan 3 mggu lepas. nasihatnya (mafhum kalam) dalami tauhid makrifat sehingga mencapai syuhudiah. Tauhid itu bukan akalan, tapi perasaan. Kata almarhum TG lagi, zaman Imam Mahdi sudah tidak lama dah berulang2 kali. Allahu
    Sebelum wafat, TG berpesan kpd keluarga dan anak2 buahnya, "jangan gila dunia, skrg ramai orang gila dunia".
    Detik2 kewafatan...
    1- Di hospital Kubang Kerian, Kelantan. Masuk waktu maghrib semalam, almarhum TG yang pernah bermukim di Makkah hampir 25 tahun, lazimi membasahkan lidahnya dgn zikir la ilaha ilallah....Allah. Sambil berpesan, banyak gangguan Iblis skrg.
    2- sesudah selsai zikir, (wafat pukul 11.00mlm). Seakan2 sudah tahu beliau akan wafat, TG mengumpulkan ahli keluarganya dan ank buah terdekat utk memohon maaf, menoktahkan wasiat sambil bercakap, " 'jemputan' sudah dtg ni, hidup Baba mcm tunggu bas je". senyum sahaja Baba.
    3-saat2 terakhir, TG berdiam tenang...lalu mengucapkan kalimah syahadah. maka terhenti la ia nafas. kembali TG ke Rahmatullah.
    nasihat TG yang paling saya terkesan:
    "bila lagi kamu nak banyakkan selawat? bila lagi kamu nak banyakkn bangun malam"...nak tunggu bila lagi..."?
    Setakat ini catatan ambe...
    Machang, Kelantan...
    Sumber: https://www.facebook.com/salehudin.abdulaziz

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    2 Replies
    1788 Views
    Last post 24 December, 2009, 08:12:26 PM
    by IbnuNafis
    14 Replies
    4464 Views
    Last post 27 March, 2012, 11:59:30 AM
    by norsam
    15 Replies
    1792 Views
    Last post 07 June, 2011, 06:39:17 PM
    by ABDUL HAQ