SIAPAKAH IBN AL-’ARABI AL-SUFI?

*

Author Topic: SIAPAKAH IBN AL-’ARABI AL-SUFI?  (Read 23292 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

Nie Feng

  • *
  • Posts: 113
    • View Profile
26 May, 2007, 09:59:42 PM
  • Publish
  • Ibnu 'Araby

    SYEIKHUL AKBAR DAN IMAM PARA FILSUF SUFI

    Dunia Islam telah melahirkan para tokoh besar dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan diantaranya tak bisa ditandingi oleh tokoh-tokoh cendekiawan dari dunia luar, baik ahli hukum, filsuf maupun para fisikawan dan astronom serta matematikawannya. Dunia Barat sungguh berutang budi pada dunia Islam, karena transfer pengetahuan abad pertengahan senantiasa melalui interpretasi cendekiawan Muslim.

    Tokoh paling unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan seorang imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali, seorang ulama Islam yang jumlah karya-karyanya tak tertandingi oleh ulama Islam mana pun. Ia adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim, saudara Ady bin Hatim ath-Tha'y. Kemudian ia biasa dipanggil dengan Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Selain itu, ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, danSang Kibritul Ahmar. Walaupun lahir di Andalusia, namun bernasab Arab.

    Ibnu 'Araby lahir kedunia bertepatan tanggal 17 Ramadhan, hari Senen, tahun 560 H. Atau tanggal 29 Juli 1165 M. di kota Marsia, Ibu kota Andalusia Timur, sebuah kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama, cendekiawan dan penyair besar Islam. Ia tumbuh di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan yang masing-masing membentuk ideologi kehidupan dan tingkah psikologis sehari-harinya. Kelak dari keluarga inilah lahir filsuf besar, dan imam para sufi agung yang belum tertandingi dalam dunia Islam.

    Ibunya adalah Nurul Anshariyah. Sungguh ibunda agung ini, menyusui putranya dengan air susu taqwa, menyuapinya dengan suapan mahabbah, mendidikknya lahir dan batin, hingga mencapai karakter dimana jiwa ibunda telah berpisah dari kemanusiaan menuju karakter uluhiyah. Suatu ketika, sufi besar Fathimah dari Kordoba berkata kepadanya, "Wahai Nurul Anshariyah, anakmu ini, adalah "ayahmu", didiklah dengan baik dan jangan kau batasi." Ibunda Ibnu 'Araby tidak terkejut dengan kata-kata itu, dan ia terima dengan penerimaan yang baik.

    Pada tahun 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia. Maka di kota baru ini, terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. kepribadian sufi, intelektualisme filosufis, fiqh dan sastra. Karena itu kelak, selain sebagai filsuf sufi, Ibnu 'Araby juga dikenal sebagai ahli tafsir, hadist, fiqh, sastra dan filsafat, bahkan astrolog dan kosmolog.

    Ibnu 'Araby belajar al-Qur'an dengan qira'at sab'ah dari beberapa guru seperti: Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy; Abul Qasim asy-Syarrath dan dari Ahmad bin Abi Hamzah. Sementara untuk mendalami bidang fiqh dan hadist ia menekuni fiqh mazhab Ibnu Hazm adz-Dzahiry dan mazhab Imam Malik, pada beberapa guru seperti Ali bin Muhamamd ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy.

    Dalam majelis-majelis lainnya, ia tak pernah ketinggalan menekuni suatu kitab kecuali membaca keseluruhan. "Aku mempelajari kitab-kitab antara lain, al-Imta' wal-Mu'anasah karya Abu Hayyan at-Tauhidy, kitab Al-Mujalasah karya Dinawari, kitab Bahjatul Asrar, karya Imam Ibnu Jahadhah, kitab Al-Mubtada' karya Ishaq bin Bisyr, kitab Dalailun Nubuwwah, karya Ibnu Nu'aim, kitab As-Sirah karya Ibnu Hisyam, kitab Shafwatus Shafwah karya Ibnul Jauzy, Musnad asy-Syihab karya Ibnu Salamah al-Qadha'y, Al-Musnad karya al-Azraqy, Al-Musnad, karya Ibnu Hanbal, As-Sunan, karya Sijistany, Shahih Muslim, al-Bukhari, dan At-Tirmidzy..."

    Toh dari sekian Imam dan kitab itu, Ibnu 'Araby tidak bertaklid sama sekali pada mereka. Ia termasuk tokoh yang (karena kapasitas ijtihadnya) menolak taklid. Bahkan ia membangun metodologi yang orisinal dalam menafsirkan al-Qur'an dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu. Dimana hati kami kosong dari kontemplasi pemikiran, dan kami bermajelis dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang pada kami dari-Nya, sehingga Al-Haqq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat.... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." Demikian kata Ibnu 'Araby.

    THARIQAT KEPADA ALLAH SWT.

    Pada akhirnya, Ibnu 'Araby menempuh jalan halaqah sufi dari beberapa Syeikhnya. Sebagaimana diakuinya dalam kitabnya yang paling monumental Al-Futuhatul Makkiyah, ia mendalami dunia sufi dari beberapa syeikh yang memiliki disiplin spiritual yang beragam. Ibnu 'Araby pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, meninggalkan keinginan duniawi dan kenikmatannya. Ia menemui para tokoh yang benar-benar jujur menepati janji Allah, yang tidak dialpakan oleh bisnis dan jual beli, hingga lalai dzikir kepada Allah. Ibnu 'Arabi berdzikir dan menghayati seluruh wirid mereka, hingga ruhnya meyangga ke atas derajat iluminasi dan emanasi yang kemudian melahirkan imajinasi yang dahsyat dalam dirinya, terurai dalam ratusan karyanya.

    Usia 20 tahun, usia remaja penuh gejolak. Tapi Ibnu 'Araby telah matang dalam kepribadian intelektual dan moralnya. Usia inilah Ibnu 'Araby telah menjadi sufi. Ia berkata:

    "Thariqat sufi ini dibangun di atas empat cabang: Bawa'its (instrumen yang membangkitkan jiwa spiritual); Dawa'i (pilar pendorong ruhani jiwa); Akhlaq dan Hakikat-hakikat. Sedangkan pendorong itu ada tiga hak: hak Allah, adalah hak untuk disembah oleh hamba-Nya dan tidak dimusyriki sedikitpun. Hak hamba terhadap sesamanya, yakni hak untuk mencegah derita terhadap sesama, dan menciptakan kebajikan pada mereka. Dan (terakhir) hak hamba terhadap diri sendiri, yaitu menempuh jalan (thariqat) yang didalamnya kebahagiaan dan keselamatannya."

    Pada hak Allah (pertama) bisa dilacak secara sempurna pada seluruh karya Ibnu 'Araby. Dimana tauhid dijadikan sebagai konsumsi, iman sebagai cahaya hati, al-Qur'an sebagai akhlaknya. Kemudian naik ke tahap, dimana tak ada lagi selain al-Haqq (Allah swt.) Karakter Ibnu 'Araby senantiasa naik dan naik ke wilayah yang luhur, rahasianya senantiasa bertambah rindu, dan hatinya jernih semata hanya bagi al-Haqq, rahasia batinnya bermukim menyertai-Nya tak ada yang lain yang menyibukkan dirinya kecuali Tuhannya.

    Ibnu 'Araby menggunakan kendaraan mahabbah, bermazhab ma'rifah, dan berwushul tauhid. Ubudiyah dan iman satu-satunya hanyalah kepada Allah Yang Esa dan Maha Kuasa, Yang Suci dari pertemanan dan peranakan. Raja tanpa tanding, Pencipta dan Pengatur, Maujud dengan Dzat-Nya tanpa butuh pada pewujud-Nya. Bahkan seluruh yang wujud membutuhkan-Nya. Seluruh alam semesta wujud karena Wujud-Nya, dan hanyalah Dia yang berhak disifati sebagai Wujud. Yaitu Wujud Mutlak dengan sendiri-Nya tanpa batas. Dia bukan inti atom, bukan jasad, bukan arah dan suci dari dimensi, arah dan wilayah. Namun bisa dilihat oleh hati dan mata hati.

    Sementara hak sesama makhluk, ia mengambil jalan taubat dan mujahadah jiwa, serta lari kepada-Nya. Ia gelisah manakala terjadi lowong atas tindakan kebajikan yang diberikan Allah, sebagai jalan mahabbah dan mencari ridha-Nya. Hak ini bersumber pada ungkapan ruhani dimana semesta alam yang ada di hadapannya merupakan penampilan al-Haqq. Seluruh semesta ini bertasbih pada Sang Khaliq, dan menyaksikan kebesaran-Nya, dan semuanya merupakan limpahan dari organisasi Ilahi.

    Sementara hak terhadap diri sendiri adalah menempuh kewajiban agar sampai pada tingkah laku ruhani dengan cara berakhlak yang dilandaskan pada sifat-sifat al-Haqq, dan upaya penyucian dalam taman Dzat-Nya.

    Semua ini tidak bisa ditempuh kecuali melalui bimbingan dan pendidikan dari para Syeikh yang kamil, dimana mereka mampu membukakan pintu-pintu cakrawala pencerahan yang luhur dalam perjalanan ruhaninya.

    KONTROVERSI SEPUTAR KARYA-KARYANYA

    Pandangan-pandangan filsafat tasawuf Ibnu 'Araby dinilai oleh beberapa pihak, teruatama kaum fuqaha' dan ahli hadist sangat kontroversial. Sebab, teorinya tentang Wahdatul Wujud dianggap condong pada pantheisme. Hal ini disebabkan seluruh karya-karya Ibnu 'Araby, meggunakan bahasa simbolik, sehingga kalangan awam dan kaum tekstualis sangat kebingungan. Bahkan tidak sedikit yang mengganggap murtad dan kufur pada Ibnu 'Araby. Tak kurang, misalnya Syeikhul Islam Ibnu Taymiyah, dan pengikutnya. Tetapi pada akhirnya, Ibnu Taimiyah menerima pandangan Ibnu 'Araby setelah bertemu dengan Taqyuddin Ibnu Athaillah as-Sakandari asy-Syadzily di sebuah masjid di Kairo, yang menjelaskan makna-makna metafora Ibnu 'Araby. "Kalau begitu yang sesat itu adalah pandangan pengikut Ibnu 'Araby yang tidak memahami makna sebenarnya," kata Ibnu Taimiyah.

    Ketersesatan memahami Ibnu 'Araby juga berkembang di Jawa, ketika secara aliran kebatinan Jawa singkretik dengan Tasawuf Ibnu 'Araby. Diskursus Manunggaling Kawula Gusti telah membuat penafsiran yang menyesatkan di kebatinan Jawa, yang sama sekali tidak pantas untuk dikaitkan dengan Wahdatul Wujud-nya Ibnu 'Araby. Bahkan di jawa sudah melesat ke arah kepentingan jargon politik yang menindas atas nama Tuhan.

    Untuk memahami karya-karya dan wacana Ibnu 'Araby, haruslah disertai thariqat yang penuh, komprehensif dan iluminatif. Karena itu, harus pula membaca kitab-kitab tasawuf lainnya, dan kemudian syarah atas karya-karyanya. Dr. Su'ad al-Hakim mengkorkordansi sejumlah istilah filsafat tasawuf yang secara orisinal muncul dari Ibnu 'Araby. Ada ratusan istilah baru yang diilhami oleh terminologi Qur'any dan Sunnah Nabawi. Dr. Abdullah Afifi, murid RA. Nicholson, membuat syarah yang berharga atas karyanya yang paling sulit, Fushushul Hikam. Dan Dr. Mahmud Mathrajy memberi pengantar panjang dan catatan kaki pada karya monumentalnya, Al-Futuhatul Makkiyah. Namun Mathrajy juga sedikit terjebak oleh pendapat orientalis, terutama penilainnya sebagai Pantheisme.

    Karya-karya Ibnu 'Araby masih asing di Indonesia, termasuk dunia pesantren belum memperkenalkan karya-karya sufi besar ini. Menurut peniltian para ulama dan juga orientalis, karya Ibnu Araby berjumlah sekitar 560 kitab lebih. Bahkan ada yang meniliti, termasuk risalah-risalah kecilnya, mencapai 2000 judul. Kitab tafsirnya yang terkenal adalah Tafsir al-Kabir terdiri 90 jilid. dan karya ensiklopediknya tentang penafsiran sufistik, yang paling masyhur adalah Futuhatul Makkiyah (8 jilid), dan disusul pula dengan Futuhatul Madaniyah. Selain itu, karya yang paling sulit dan penuh metaforal adalah Fushushul Hikam. Dan sesungguhnya untuk sekadar menghantar pemikiran Ibnu 'Araby, membutuhkan satu juta halaman lebih, atas karya-karyanya
    Orang yang memberi ilmu kepada si bodoh akan hilanglah ilmu itu; orang yang yang manahan ilmu dari orang yang memerlukannya, adalah membuat dosa'.

    abuzulfiqar

    • *
    • Posts: 798
      • View Profile
    Reply #1 30 June, 2007, 11:29:37 AM
  • Publish
  • IBNU ARABI : TOKOH SUFI
    Zakaria Stapa
    DBP 1993

    *Beberapa tahun yang lalu saya ada terbaca buku di atas. Siang tadi saya terjumpa nota yang saya tulis. Ada baiknya saya berkongsi bahan bacaan tersebut bersama anda.

    • Namanya MUHAMMAD bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah al-Hatimi. Lahir di Andalus (Sepanyol) pada tahun 560 Hijrah/ 1165 Masehi.

    • Bapanya berkawan baik dengan IBNU RUSYD dan kerap mengunjungi SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI. Bapanya minat Syeikh Abdul Qadir mendoakan agar dia mendapat anak.

    • Semasa kematiana ayahnya, Ibnu Arabi teragak-agak untuk mengkebumikan ayahnya kerana keadaan jasad ayahnya yang masih segar seperti orang hidup. Ini salah satu petanda kesolehan ayahnya.

    • Tiga orang bapa saudaranya adalah ahli sufi. Yang peratma sering memukul kakinya dengan tongkat apabila penat berdiri beribadh pada waktu malam. Yang kedua asalnay seorang pegawai. Setelah disedarkan oleh seorang ahli sufi, barulah dia tersedar. Yang ketiga masuk ke alam sufi hanya setelah berusia 80 tahun menerusi seorang kanak-kanak yang tidak tahu pun tentang sufi.

    • Semasa remaja, Ibnu Arabi pernah menjadi setiausha kepada Gabenor Seville. Beliau pernah jatuh sakit berta sehinggakan orang ramai menyangka dia akan meninggal dunia. Dalam sakitnya, dia seolah-olah dikepung sekumpulan makhluk jahat bersenjata yang hendak menghapuskannya. Tba-tiba muncul seorang yang berseri-seri wajahnya menghalau makhluk-makhluk tersebut. Ibu Arabi bertanya, “Apa engkau ini?” Jawabnya, “Aku ialah surah Yaasin.” Dia terjaga dan mendapati bapanya sedang membaca Yaasin berhampiran kepalanya. Setelah itu dia terus sembuh dan menjadi ahli sufi.

    • Syeikh Ibnu Arabi kerap menulis kepada pemerintah menegur tindak-tanduk mereka. Pernah khalifah yang sedang berkenderaan tidak diberi salam oleh Ibnu Arabi kerana mengikut sunnah- yang berkenderaan sepatutnya beri salam kepada yang tidak berkenderaan.

    • Syeikh mengembara selama 40 tahun tetapi ada juga pulang sepanjang tempoh itu. Beliau rajin mengkaji hasil penulisan Abu yazid Bustami, Abu Mansur al-Hallaj, Hakim at-Tirmizi, Junaid al-Baghdadi, Abu Talib al-Makki, al-Qusyairi dan al-Ghazali.

    • Kata Syeikh, “Kesemua yang aku tulis dalam kitab-kitabku bukannya hasil daripada pemikiran dan penaakulan biasa. Ia sesungguhnya diberitahu kepadaku menerusi hembusan malaikat ilham ke dalam kalbuku.” (*Kata-kata sebegini hanya difahami oleh mereka yang berbakat dalam dunia sufi sahaja). Dikatakan dia menghasilkan 846 hasil karya bertulis. (*Ini membuktikan ilmu ilham yang diterimanya kerana pada zaman itu kelengkapan menulis susah diperolehi, tidak ada “keyboard” seperti hari ini. Dalam kesibukannya dengan disiplin-disiplin sufi dan kelas-kelas pengajian serta pengembaran selama 40 tahun, mustahil dia mampu menghasilkan 846 karya tetapi itulah yang berlaku)

    • Apabila ilham datang, dia tidak boleh berhenti menulis sampailah kitab itu selesai. Ada kitab yang ditulis dalam masa satu jam sahaja iaitu “Hilyatul Abdal” yang mengisahkan kelebihan-kelebihan kaum sufi. Kitab yang paling besar ialah “Al-Futuhatul Makkiyyah” yang terdiri daripada 560 bab. Kitabnya yang masyhur “Fususul Hikam” ditulis setelah diberikan oleh Rasulullah dalam mimpinya dengan kata, “Ambil dan sebarkan kepada manusia agar mereka beroleh manfaatnya”.

    • Ibnu Arabi tidak menggunakan platform tariqat tertentu tetapi dia dibimbing oleh guru-guru dan rakan-rakan dari tariqat yang berbeza-beza. Beliau kemudiannya mengasaskan Tariqat Akbariyyah.

    • Beliau turut berguru dengan dua orang ahli sufi wanita- Shams dari Marchena dan Nunah Fatimah binti Ibn al Muthanna. Syeikh berkhidmat beberapa tahun kepada Fatimah. Sungguhpun Fatimah sudha berusia 90 tahun, tetapi Ibnu Arabi berasa malu untuk menatap wajahnya yang seolah-olah gadis berusia 14 tahun.

    • Ibnu Arabi biasa bertemu “KHIDIR” telah diberi “khirqah” olehnya sebanyak tiga kali iaitu semasa di Seville, Makkah dan Mosul.

    • Syeikh berkahwin dengan 3 orang wanita.

    • SYEIKH MUHAMMAD ABDUH adalah antara orang yang kuat mempertahankan Syeikh Ibnu Arabi.

    • Semasa berada di Mekah, beliau pernah bermimpi melihat Kaabah dibina dengan batu-bata emas dan perak. Pada salah satu sudut Kaabah itu, masih kurang dua ketul bata (1 emas dan 1 perak). Ibnu Arabi “diletakkan” di sana untuk MELENGKAPKAN BINAAN KAABAH itu.

    • Antara kisah ajaib yang berlaku ke atas Syeikh, suatu ketika Syeikh mengarang sebuah puisi di Tunis iaitu di madrasah Ibnu Muthana. Kemudian beliau pulang ke Seville (yang memakan masa TIGA BULAN perjalanan). Tiba di Seville, seorang yang tidak dikenali datang dan membacakan puisi yang sama dengan karangan Ibnu Arabi. Padahal tidak ada sesiapapun yang tahu isi puisi itu kecuali Ibnu Arabi sendiri. Ibnu Arabi bertanya kepada si lelaki. Lelaki itu menjawab yang puisi itu ditulis dalam satu majlis tariqat. Ketika itu datang seorang pengemis yang membacakan puisi itu. Menurut pengemis, puisi itu dikarang oleh Ibnu Arabi. Setelah dikaji, rupanya pengemis misteri itu menyebarkan puisi tersebut PADA HARI PUISI ITU DICIPTA oleh Ibnu Arabi.

    “PANDANG GLOBAL, BERGERAK SEBAGAI SATU UMAT”

    Alexanderwathern
    31 MEI 2007

    http://myalexanderwathern.freephpnuke.org/modules.php?name=News&file=article&sid=173&mode=&order=0&thold=0
    Pandang Global, Bergerak Sebagai Satu Umat.
    BerTuhankan Allah, Bersyariatkan Syariat Muhammad saw.

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14514
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #2 26 April, 2009, 10:04:47 AM
  • Publish
  • Siapakah sebenarnya Ibnu 'Araby?

    BIODATA
    Ibnu 'Araby (Arab: أبن عربي) bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatim. Ia biasa dipanggil dengan nama Abu Bakr, Abu Muhammad dan Abu Abdullah. Namun gelarnya yang terkenal adalah Ibnu 'Araby Muhyiddin, dan al-Hatamy. Ia juga mendapat gelar sebagai Syeikhul Akbar, dan Sang Kibritul Ahmar.

    Ibnu 'Araby dikenal luas sebagai ulama besar yang banyak pengaruhnya dalam percaturan intelektualisme Islam. Ia memiliki sisi kehidupan unik, filsuf besar, ahli tafsir paling teosofik, dan imam para filsuf sufi setelah Hujjatul Islam al-Ghazali. Lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M, di Kota Marsia, ibukota Al-Andalus Timur (kini Spanyol),

    Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga sufi, ayahnya tergolong seorang ahli zuhud, sangat keras menentang hawa nafsu dan materialisme, menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan. Sikap demikian kelak ditanamkan kuat pada anak-anaknya, tak terkecuali Ibnu 'Araby. Sementara ibunya bernama Nurul Anshariyah. Pada 568 H keluarganya pindah dari Marsia ke Isybilia.

    Perpindahan inilah menjadi awal sejarah yang mengubah kehidupan intelektualisme 'Araby kelak; terjadi transformasi pengetahuan dan kepribadian Ibnu 'Araby. Kepribadian sufi, intelektualisme filosofis, fikih dan sastra. Karena itu, tidak heran jika ia kemudian dikenal bukan saja sebagai ahli dan pakar ilmu-ilmu Islam, tetapi juga ahli dalam bidang astrologi dan kosmologi.

    Meski Ibnu 'Araby belajar pada banyak ulama, seperti Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmy, Abul Qasim asy-Syarrath, dan Ahmad bin Abi Hamzah untuk pelajaran Alquran dan Qira'ahnya, serta kepada Ali bin Muhammad ibnul Haq al-Isybili, Ibnu Zarqun al-Anshary dan Abdul Mun'im al-Khazrajy, untuk masalah fikih dan hadis madzhab Imam Malik dan Ibnu Hazm Adz-Dzahiry, Ibnu 'Araby sama sekali tidak bertaklid kepada mereka. Bahkan ia sendiri menolak keras taklid.

    Ibnu 'Araby membangun metodologi orisinal dalam menafsirkan Alquran dan Sunnah yang berbeda dengan metode yang ditempuh para pendahulunya. Hampir seluruh penafsirannya diwarnai dengan penafsiran teosofik yang sangat cemerlang. "Kami menempuh metode pemahaman kalimat-kalimat yang ada itu dengan hati kosong dari kontemplasi pemikiran.

    Kami bermunajat dan dialog dengan Allah di atas hamparan adab, muraqabah, hudhur dan bersedia diri untuk menerima apa yang datang dari-Nya, sehingga Al-Haq benar-benar melimpahkan ajaran bagi kami untuk membuka tirai dan hakikat... dan semoga Allah memberikan pengetahuan kepada kalian semua..." ujar Ibnu 'Araby suatu kali.
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Abu Abrisam

    • *
    • Posts: 26
      • View Profile
    Reply #3 27 April, 2009, 12:56:59 AM
  • Publish
  • SIAPAKAH IBN AL-’ARABI AL-SUFI?


    Dalam dunia Ilmu Tariqat Sufi, nama Syeikh Muhyiddin bin al-Arabi atau dikenali sebagai Ibn Arabi atau Ibn al-Arabi sangat terkenal dah dia sangat diagungkan mana-mana pengikut Tasawwuf.

    Mereka menganggapnya sebagai seorang Wali Allah yang hebat dan disebut sebagai al-Syeikh al-Akbar (Syeikh Besar) dan Khatamul Auliya’ (Penutup Sekalian Wali).

    Namun, siapakah sebenarnya dia di sisi Ulama Ahli Sunnah wal Jamaah? Apakah pandangan ulama Jarh wa Ta’dil terhadap dirinya?

    PANDANGAN IMAM AL-HAFIZ AL-ZAHABI R.H.

    Imam al-Zahabi r.h menyebut dalam kitab beliau yang terkenal ‘Siyar A’lam al-Nubala’  bahawa nama syeikh ini adalah:

    العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ، أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بنُ عَلِيِّ بنِ مُحَمَّدِ بنِ أَحْمَدَ
    الطَّائِيُّ، الحَاتِمِيُّ، المُرْسِيُّ، ابْنُ العَرَبِيّ

     Maksudnya: “Seorang yang alim, mempunyai tulisan karya yang banyak, Muhyiddin Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Tai al-Hatimi al-Mursi Ibn al-Arabi”.

    Kemudian selang beberapa perenggan Imam al-Zahabi menyatakan kedudukan lelaki ini dalam syariat:

    وَمِنْ أَرْدَإِ تَوَالِيفِهِ كِتَابُ (الفُصُوْصِ)، فَإِنْ كَانَ لاَ كُفْرَ فِيْهِ، فَمَا فِي الدُّنْيَا كُفْر
    Maksudnya: “dan antara tulisannya yang paling teruk adalah kitab (al-Fusus), maka jika kitab ini tidak boleh dihukum kufur maka tiada lagi kekufuran dalam dunia ini..”

    Lihat betapa teruknya lelaki ini sehingga Imam al-Zahabi r.h menghukumkan dia telah mencapai tahap kekufuran yang lebih tinggi daripada Iblis, nauzubillah min zalik!!

    Imam al-Zahabi juga mendatangkan riwayat daripada Imam Izzuddin bin Abdul Salam r.h di mana beliau berkata:

    هُوَ شَيْخُ سُوءٍ مَقْبُوْحٌ كَذَّابٌ
    Maksudnya: “dia adalah syeikh yang teruk, keji lagi pendusta”

    Lihat bagaimana seorang ulama besar mazhab Syafii menghukum Ibn Arabi atau Ibn al-’Arabi ini sebagai keji dan pendusta.

    AL-ZARKALI R.H.

    Imam al-Zarkali r.h dalam kitab beliau ‘al-A’lam’ menyatakan:

    وأنكر عليه أهل الديار المصرية (شطحات) صدرت عنه، فعمل بعضهم على إراقة دمه
    Maksudnya: “dan penduduk Mesir telah mengingkarinya kerana ’satahat’ (latahan sufi) yang muncul daripadanya maka sebahagian mereka (ulama Mesir) berusaha untuk menjatuhkan hukuman mati ke atasnya”.

    IMAM IBN KASIR R.H.

    Ibn Kasir r.h dalam kitab beliau ‘al-Bidayah wa al-Nihayah’ menyatakan:

    وله كتابه المسمى بفصوص الحكم فيه أشياء كثيرة ظاهرها كفر صريح
    Maksudnya: “dan dia mempunyai kitab bernama ‘Fusus al-Hikam’ yang terkandung dalamnya beberapa perkara kebanyakannya kufur yang jelas pada zahirnya”.

    Jadi dengan jelas, ulama besar seperti al-Zahabi dan Ibn Kasir rahimahumallah menghukum Ibn Arabi sekurang-kurangnya sebagai majruh (cedera) pada aqidahnya. Maka, orang seperti ini tidak sepatutnya dijadikan qudwah ikutan. Ramai lagi ulama dan pemuka-pemuka agama yang boleh kita contohi dan ikuti, bahkan para Sahabat Rasulullah s.a.w lebih layak untuk kita kaji dan teladani ilmu dan amalan mereka berbanding orang kebelakangan seperti Ibn Arabi ini. Wallahua’lam.


    Oleh: Mohd Asrie Bin Sobri

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #4 27 April, 2009, 01:12:58 AM
  • Publish
  • Jangan berbohong sheikh. Sebagaimana anda taksub dengan Muhammad bin Abdul Wahab, takkan anda tidak mahu mencari keadilan untuk Ibnu Arabi ini.

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #5 27 April, 2009, 01:32:57 AM
  • Publish
  • Saya terjumpa sumber ambilan abu abrisam ini iaitu di blog ahbashsesat. Yang menarik lagi siap ada artikel Jangan menurut Yang Banyak - Cubaan untuk menyatakan golongan ini adalah lebih selamat. Dan menghukum ramai umat Islam sesat dan masuk neraka.

    Yang peliknya ayat al Quran yang sepatutnya untuk orang musyrik digunakan untuk orang Islam : Sila lihat :


    وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah (Al-Quran) dan kepada Rasul-Nya (yang menyampaikan)," mereka menjawab: "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati datuk nenek kami mengerjakannya." Adakah (mereka akan menurut juga) sekalipun datuk nenek mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat hidayah petunjuk? (Al-Maidah: 104)

    Ayat di atas banyak menerangkan agar tidak menurut pada kebanyakan pegangan manusia di muka bumi ini. Hatta islam sekali pun belum tentu terselamat dalam beri'tiqad. Sila rujuk :
    [box title=TitleBox]
    http://ahbash-sesat.blogspot.com/2008/12/jangan-menurut-yang-banyak.html[/box]

    Hebat pemilik blog Ahbash Sesat ini. Siapakah mereka ini? Dan siapa pula yang membuat pautan dengan link ini? Dalam menghukum sesat kepada Ahbash, secara tidak langsung juga ada perbuatan dalam menghalalkan cara bagi menghukum sesat, musyrik kepada Umat Islam dengan menggunakan ayat Al Quran. Na'uzubiLlah.

    Kepada Abu Abrisam takkan anda tak pernah terbaca athar Ibnu Umar apabila berbicara tentang orang yang merobek agama (merobek agama) beliau menyebutkan sebagai berikut : Sesungguhnya mereka suka membelokkan ayat yang sebenarnya turun kepada orang-orang kafir lalu mereka menjadikannya untuk orang -orang Mukmin (Lihat Sahih Muslim Nombor 6531).
    « Last Edit: 27 April, 2009, 01:36:05 AM by IbnuNafis »

    Abu Abrisam

    • *
    • Posts: 26
      • View Profile
    Reply #6 27 April, 2009, 03:04:00 AM
  • Publish
  • Saya terjumpa sumber ambilan abu abrisam ini iaitu di blog ahbashsesat. Yang menarik lagi siap ada artikel Jangan menurut Yang Banyak - Cubaan untuk menyatakan golongan ini adalah lebih selamat. Dan menghukum ramai umat Islam sesat dan masuk neraka.

    Yang peliknya ayat al Quran yang sepatutnya untuk orang musyrik digunakan untuk orang Islam : Sila lihat :


    وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah (Al-Quran) dan kepada Rasul-Nya (yang menyampaikan)," mereka menjawab: "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati datuk nenek kami mengerjakannya." Adakah (mereka akan menurut juga) sekalipun datuk nenek mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat hidayah petunjuk? (Al-Maidah: 104)

    Ayat di atas banyak menerangkan agar tidak menurut pada kebanyakan pegangan manusia di muka bumi ini. Hatta islam sekali pun belum tentu terselamat dalam beri'tiqad. Sila rujuk :
    [box title=TitleBox]
    http://ahbash-sesat.blogspot.com/2008/12/jangan-menurut-yang-banyak.html[/box]

    Hebat pemilik blog Ahbash Sesat ini. Siapakah mereka ini? Dan siapa pula yang membuat pautan dengan link ini? Dalam menghukum sesat kepada Ahbash, secara tidak langsung juga ada perbuatan dalam menghalalkan cara bagi menghukum sesat, musyrik kepada Umat Islam dengan menggunakan ayat Al Quran. Na'uzubiLlah.

    Kepada Abu Abrisam takkan anda tak pernah terbaca athar Ibnu Umar apabila berbicara tentang orang yang merobek agama (merobek agama) beliau menyebutkan sebagai berikut : Sesungguhnya mereka suka membelokkan ayat yang sebenarnya turun kepada orang-orang kafir lalu mereka menjadikannya untuk orang -orang Mukmin (Lihat Sahih Muslim Nombor 6531).


    Setelah terbukti ibn al-'arabi sesat anda masih nak membelanya?? lihat bukti dalam artikel itu dulu....kalau tak setuju sila bawak dalil yang menyangkal setiap hujah yang diberikan....bukan dengan cara menjawab yang melencong dari topic.....

    zawq

    • *
    • Posts: 362
      • View Profile
    Reply #7 27 April, 2009, 07:31:48 AM
  • Publish
  • bagaimana orang seperti anda menghukum ibnu arabi sebagai sesat?
    sedangkan ibnu taimiyyah sendiri menyatakan kekagumannya kepada ibnu arabi, dan karangannya (terutama fusus al-hikam).
    sekiranya ajaran 'wujudiah' ibnu arabi itu di salah faham, itu nyata terhasil dari pembawaan mereka yang tidak faham.

    sebetulnya, saya juga berfahaman 'wujudiah'. =)
    "AKU akan membelimu; masamu; nafasmu; hartamu; dan hidupmu. Habiskan semua itu kepada-KU. Palingkan semua itu kepada-KU. dan Ku-bayar dengan kebebasan, keagungan dan kearifan Ilahiah. Inilah hargamu di mata-KU.

    fikri

    • *
    • Posts: 237
      • View Profile
    Reply #8 27 April, 2009, 09:42:45 AM
  • Publish
  • SIAPAKAH IBN AL-’ARABI AL-SUFI?


    Dalam dunia Ilmu Tariqat Sufi, nama Syeikh Muhyiddin bin al-Arabi atau dikenali sebagai Ibn Arabi atau Ibn al-Arabi sangat terkenal dah dia sangat diagungkan mana-mana pengikut Tasawwuf.

    Mereka menganggapnya sebagai seorang Wali Allah yang hebat dan disebut sebagai al-Syeikh al-Akbar (Syeikh Besar) dan Khatamul Auliya’ (Penutup Sekalian Wali).

    Namun, siapakah sebenarnya dia di sisi Ulama Ahli Sunnah wal Jamaah? Apakah pandangan ulama Jarh wa Ta’dil terhadap dirinya?

    PANDANGAN IMAM AL-HAFIZ AL-ZAHABI R.H.

    Imam al-Zahabi r.h menyebut dalam kitab beliau yang terkenal ‘Siyar A’lam al-Nubala’  bahawa nama syeikh ini adalah:

    العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ، أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بنُ عَلِيِّ بنِ مُحَمَّدِ بنِ أَحْمَدَ
    الطَّائِيُّ، الحَاتِمِيُّ، المُرْسِيُّ، ابْنُ العَرَبِيّ

     Maksudnya: “Seorang yang alim, mempunyai tulisan karya yang banyak, Muhyiddin Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Tai al-Hatimi al-Mursi Ibn al-Arabi”.

    Kemudian selang beberapa perenggan Imam al-Zahabi menyatakan kedudukan lelaki ini dalam syariat:

    وَمِنْ أَرْدَإِ تَوَالِيفِهِ كِتَابُ (الفُصُوْصِ)، فَإِنْ كَانَ لاَ كُفْرَ فِيْهِ، فَمَا فِي الدُّنْيَا كُفْر
    Maksudnya: “dan antara tulisannya yang paling teruk adalah kitab (al-Fusus), maka jika kitab ini tidak boleh dihukum kufur maka tiada lagi kekufuran dalam dunia ini..”

    Lihat betapa teruknya lelaki ini sehingga Imam al-Zahabi r.h menghukumkan dia telah mencapai tahap kekufuran yang lebih tinggi daripada Iblis, nauzubillah min zalik!!

    Imam al-Zahabi juga mendatangkan riwayat daripada Imam Izzuddin bin Abdul Salam r.h di mana beliau berkata:

    هُوَ شَيْخُ سُوءٍ مَقْبُوْحٌ كَذَّابٌ
    Maksudnya: “dia adalah syeikh yang teruk, keji lagi pendusta”

    Lihat bagaimana seorang ulama besar mazhab Syafii menghukum Ibn Arabi atau Ibn al-’Arabi ini sebagai keji dan pendusta.

    AL-ZARKALI R.H.

    Imam al-Zarkali r.h dalam kitab beliau ‘al-A’lam’ menyatakan:

    وأنكر عليه أهل الديار المصرية (شطحات) صدرت عنه، فعمل بعضهم على إراقة دمه
    Maksudnya: “dan penduduk Mesir telah mengingkarinya kerana ’satahat’ (latahan sufi) yang muncul daripadanya maka sebahagian mereka (ulama Mesir) berusaha untuk menjatuhkan hukuman mati ke atasnya”.

    IMAM IBN KASIR R.H.

    Ibn Kasir r.h dalam kitab beliau ‘al-Bidayah wa al-Nihayah’ menyatakan:

    وله كتابه المسمى بفصوص الحكم فيه أشياء كثيرة ظاهرها كفر صريح
    Maksudnya: “dan dia mempunyai kitab bernama ‘Fusus al-Hikam’ yang terkandung dalamnya beberapa perkara kebanyakannya kufur yang jelas pada zahirnya”.

    Jadi dengan jelas, ulama besar seperti al-Zahabi dan Ibn Kasir rahimahumallah menghukum Ibn Arabi sekurang-kurangnya sebagai majruh (cedera) pada aqidahnya. Maka, orang seperti ini tidak sepatutnya dijadikan qudwah ikutan. Ramai lagi ulama dan pemuka-pemuka agama yang boleh kita contohi dan ikuti, bahkan para Sahabat Rasulullah s.a.w lebih layak untuk kita kaji dan teladani ilmu dan amalan mereka berbanding orang kebelakangan seperti Ibn Arabi ini. Wallahua’lam.


    Oleh: Mohd Asrie Bin Sobri


    Ibnu Nafis xnampak ke Abrisam bawakkan dalil dari kitab dan sumbernya, kalo tidak percaya mengapa tidak belek2 sahaja kitab tersebut.
    Saya meminta maaf sekiranya terkasar bahasa sepanjang saya bersama Halaqian. Kini saya sudah berhenti menjadi Halaqians. Selamat maju jaya. Selamat menuntut ilmu dengan manhaj yang sahih.Tolong delete ID saya.

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #9 27 April, 2009, 10:25:02 AM
  • Publish
  • fikri, bila saya berbincang dengan anda mengenai masalah sheikh khajandi adakah anda membelek kembali kitabnya? Insya ALlah, saya akan membawa juga pandangan yang membela ibnu arabi. Cuma yang saya pertikaikan di atas abur abrisam ini membawa artikel tanpa membawa sumber dari mana ia mengambilnya. Dan saya berjaya mendapatkan sumbernya iaitu dari blog ahbash sesat.

    Dan saya juga membawa bukti bahawa blog ahbash sesat tersebut menggunakan al Quran yang sepatutnya ayat itu untuk orang musyrik tetapi digunakan  dengan sewenang-wenangnya untuk menghukum umat Islam pula. Mengapa diambil sumber sebegini yang tidak dapat dipertanggungjawabkan?

    Dengan ini benarlah, ada golongan yang mengaku dirinya golongan selamat dan mudah menghukum kafir, syirik dan sesat pada umat Islam tanpa hak.

    Patutkah terus menghukum tanpa membuat penyelidikan. Patutkah ayat al Quran digunakan untuk kepentingan golongan sendiri? Sumber pun boleh dipertikaikan, adakah artikel di atas itu boleh dipertanggungjawabkan? Jom fikir.

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #10 27 April, 2009, 10:46:25 AM
  • Publish
  • Al-Syaykh Ibn ‘Arabiy Dan Pemikiran Wahdat Al-Wujud

    Oleh:

    Sulaiman bin Ibrahim Jab. Pengajian Dakwah Dan Kepimpinan
    Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaya

    Pendahuluan


    Al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy (r.h.) adalah seorang tokoh pemikir besar dalam sejarah pemikiran Islam, khususnya dalam tasawwuf. Dengan meninggalkan ratusan karya, beliau membentuk pengaruh yang sangat besar dalam aliran tasawwuf Islam. Pengaruhnya yang besar dan pemikirannya yang dianggap kontroversi telah memaksa ulama besar membahaskan kedudukannya dan kedudukan pernik dalam Islam sehingga lahirlah tiga golongan ulama.

    Pertama golongan ulama yang membangkang, mengkritik, menyesa malah ada yang sampal mengkafirkan al-Syeikh Ibn ‘arabi.

    Kedua
    ialah golongan ulama yang mengambil apa menyokong pendapat-pendapat al-Syeikh Ibn ‘arabi dan menganggapnya sebagal al-Syeikh al-Akbar Sultan al-’ Awliya’. Mereka telah berusaha membersihkan beliau daripada tuduhan yang mereka anggap palsu berhubungan al-Syeikh Ibn ‘Arabiy.

    Ketiga
    ialah golongan ulama yang berdiam diri memberikan sebarang hukum terhadap al-Syeikh Ibn ‘arabi .

    Sesungguhnya penulisan tentang al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy mencabar dan memerlukan kajian dan pembacaan yang dan mendalam, namun masa yang terlalu terhad tela memungkin penulis berbuat demikian. Justeru, tulisan in akan cuba menyingkap beberapa persoalan utama sahaja berhubung al-Syeikh Ibn ‘Arabiy seperti beberapa perkara mengenai latar diri tokoh tersebut, kedudukannya di kalangan para ulama’ dan teori wahdat al-wujud yang seringkali dikaitkan dengannya. Sedaya upaya, dalam menanggapi pemikiran al-Syeikh Ibn ‘Arabiy, penulis cuba melihat dari kaca mata beliau sendiri dan juga ahli sufi, bukannya dari kaca mata musuhnya. Penulis sendiri amat sedar tentang kekerdilan penulis untuk menanggapi pemikiran tokoh besar ini, seumpama kata Syeikh al-Islam, Syeikh al-Azhar al-Syari` al-Imam al-Akbar Prof Dr. ‘Abd. Al-Halim Mahmud umpama sang kelawar mahu menduga sang singa yang hebat.

    Latar Belakang AL-Syeikh Ibn ‘Arabiy


    Nama:
    Nama penuh al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy ialah Abu Bakr Muhy al-Din Muhammad ibn ‘ Aliy ibn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Hatimiy (daripada keturunan ‘Abd Allah ibn Hatim saudara ‘Adiy ibn Hatim al- Ta’iy.l Beliau dikenali dengan gelaran Ibn al-’ Arabiy (dengan awalan al-) di Ilegeri-negeri sebelah al- Maghrib (Barat), dan dengan gelaran Ibn ‘Arabiy (tanpa awalan al) di negeri-negeri sebelah al-Masyriq (Timur) untuk membezakan antara beliau dengan al-Qadi Abu Bakr ibn al-’ Arabiy.2
    Keluarga: Beliau adalah berasal dari keturunan keluarga yang masyhur di negeri sebelah Maghrib.3 Bapanya adalah seorang ulama fiqh dan hadith, juga seorang wali Allah.4

    Tarikh lahir:
    Hari Isnin, 17 Ramadan 560H (1165M) di bandar Murcia, Tenggara Andalus (Sepanyol).5
    Pengajian: Semasa kecil, di Murcia beliau menghafaz al-Quran al- Karim. Pada ketika berusia lapan tahun (568H), beliau berpindah bersama bapanya ke bandar Isybiliyah dan belajar dengan beberapa orang ulama besar. Beliau mempelajari kitab (al-Kafi) dalam bidang Qira’ at Sab’ah (Qira’ at Tujuh) dengan al-Syeikh Abu Bakr ibn Khalaf dan al-Syeikh Abu al-Qasim al-Syarrat. Beliau juga belajar kitab (al- Taysir -bidang Qira’ at) karangan al-Imam Abu ‘Amr al-Dani dengan al-Syeikh Abu Balsr Muhammad ibn Jamrah. Beliau juga mempelajari ilmu hadith, fiqh dan bahasa dengan ulama besar zaman itu sepertical-Syeikh Abu I Abd Allah ibn Zarqun, al-Hafidh ibn al-lad ahli fiqh di Andalus, al-Syeikh Abu al- Walid al-Hadramiy, al-Syeikh Abu al-Hasan ibn Nasr dan al-Syeikh IAbu Muhammad I Abd al-Haqq al-Isybiliy dan al-Syeikh Abu al- Qasim ibn Basykuwal dan laln-laln.6

    Dikatakan, bahawa sepanjang pengajiannya, beliau telah menguasal semua musannafat (kitab) dan kuliah-kuliah pengajian yang disampalkan oleh guru-gurunya. Kebijaksanaannya sangat terserlah dan bintangnya bergemerlapan berbanding teman- temannya yang laln sehinga beliau meningkat ke tahap al-Syuyukh dan menjadi imam dalam ilmu ma’qul dan manqul. Sejumlah ulama besar telah mengurniakannya ijazah berhubung al-marwiyyat (hadith) dan kitab-kitab karangan mereka seperti Ibn ‘Asakir, Ibn al-Jawziy, al-Hafidh al-Sulamiy, I Abd al-Haqq al-Isybiliy dan laln- laln.7

    Al-Syeikh al-Mufassir al-Muhaddith Isma’it al-’ Ajluniy dalam kitab (Kasyf al-Khafa’ wa Muzil al-lltibas ‘Amma Usytuhira min al-Ahadith ‘ala Alsinat al-Nas), daripada al-Syeikh Hijaziy al-Wa’iz (pensyarah kitab al-Jami’ al-Saghir karya al-Imam al-Suyutiy): bahawa al- Syeikh Muhy al-Din ibn ‘ Arabiy adalah terhitung dan kalangan al- huffazS (ialtu beliau adalah se9rang al-hafiz).9

    Dalam bidang tasawwuf, beliau mendapat didikan daripada 55 orang syeikh.
    Beliau abadikan nama dan biografi mereka dalam kitabnya yang berjudul al-Durrah al-Fakhirah Fi Dhikr Ma lntafa’tu Bihi Fi Tariq al-Akhirah.lo
    Beliau juga dianggap sebagal Mujtahid Mutlaq.ll AL-Syeikh Ibn , Arabiy menyatakan dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyah:12 II Al- hamdulillah, kita tidak bertaklid, kecuali dengan Nabi al-Syari’ (s.a. w.)”. Beliau bersyalr:
    Quote
    Bukanlah aku dari kalangan orang yang berkata ‘berkata Ibn Hazm’ Tidak, juga tidak ‘berkata Ahmad, tidak juga al-Nu’man’.
    Balt syalr ini telah diberikan komentar oleh lbn al-’lmad al- Hanbaliy dalam kitabnya (Syadharat al-Dhahab Fi Akhbar Man
    Dhahab): Kenyataan ini adalah sarih (jelas atau nyata) menyatakan beliau adalah mujtahid mutlaq
    .13

    Karya: Al-Syeikh Ibn ‘Arabiy mempunyal sangat banyak karya dalam bentuk kitab; syalr dan nathar yang mencecah hampir 250 buah karya merangkumi karya yang besar dan karya kecil, ada yang menyatakan 500 buah karya,14sedangkan Carl Brockelman menghitungnya sebanyak 150 karya.15 Antara yang masyhur ialah:

    1. Al-Futuhat al-Makkiyah yang mula beliau tulis sejak tahun 599H. dan disiapkan ketika beliau menetap di Damsyik (620H/1223M.-638H./1240M.). Ia merupakan kitabnya yang paling besar dengan kandungannya sebanyak 560 bab. Kitab ini membicarakan prinsip-prinsip metafizik, pelbagal llmu yang bersifat suci, dan pengalaman kerohanian beliau sendiri. Tambahan pula kitab ini merupakan ilmu-ilmu kerohanian Islam yang mengatasi semua kitab yang pernah ditulis oleh beliau dari aspek skop dan isinya.

    2. Kitab Fusus al-Hikam. Ia disiapkan pent1lisannya di Damsyik dalam ta-hun 628H./1230H. dan dianggap sebagal kemuncak kematangan penulisan beliau, di mana dalamnya terkandung kesempurnaan aliran beliau yang telah disentuh oleh beliau dalam tulisan-tulisan beliau yang laln.

    3. Kitab Mawaqi’ al-Nujum wa Matali’ Ahillat al-Asrar wa al-’Ulum, yang telah ditulis pada tahun 595H. serna sa beliau berada di al-Meria.

    4. Kitab Insya’ al-Dawa’ir, yang beliau memulakan penulisannya semasa berada di rumah sahabat beliau al-Mahdawiy, di Bandar Tunis, pada tahun 598H.

    5. Kitab Tarjuman al-Asywaq, yang beliau tulis semasa berada di Makkah, pada tahun 599H.

    6. Kitab Misykat al-Anwar, yang ditulis pada masa beliau berada di Makkah dari tahun 599H. hingga tahun 601H. Kitab ini berupa satu koleksi daripada hadith Rasulullah (s.a. w.).

    7. Kitab Hilyat al-Abdal, yang juga ditulis dalam tempoh beliau
    berada di Makkah dari tahun 599H. hingga 601H. Kitab ini berupa satu risalah berhubung dengan kelebihan-kelebihan golongan sufi yang dikatakan telah disiapkan penulisannya dalam tempoh satu jam sahaja.

    8. Kitab Taj al-rasa’iI, yang juga ditulis dalam tempoh beliau berada di Makkah dari tahun 599H. hingga 601H. Kitab ini pula merupakan satu risalah tentang mimpi.

    9. Kitab Ruh al-Quds Fi Munasahat al-Nafs, yang ditulis pada
    tahun 600H. semasa beliau berada di Makkah juga.

    10. Kitab al- Tanazzulat al-MawsiIiyyah, yang ditulis semasa beliau berada di Mosul pada tahun 601H. hingga 602H. Ki-tab ini merupakan satu risalah yang mengandungi 50 bab, membicarakan kepentingan wuduk dan sembahyang dipandang dari aspek esoferiknya.

    11. Kitab al-Dhakha’ir wa al-A’Iaq, ditulis di Makkah pada tahun 611H. Kitab ini, sebenamya merupakan komentar yang berslfat esoteric terhadap balt-balt Tarjuman al-Asywaqnya.

    12. Kitab Diwan Ibn ‘Arabiy atau al-Diwan al-Akbar yang disiapkan penulisannya dalam tempoh beliau menetap di Damsyik. Kitab ini merupakan suatu koleksi besar syalr-syalr tasawwuf yang beliau cipta.16

    Di samping bidang tasawwuf, al-Syeikh Ibn ‘Arabiy juga mempunyal karya dalam bidang laln seperti bidang hadith dan tafsir.
    Dalam bidang hadith, beliau telah menghasilkan kitab Mukhtasar al-Musnad al-Sahih Ii Muslim ibn al-Hajjaj (Ringkasan al- Musnad al-Sahih karya al-Imam Muslim ibn al-Hajjaj) Mukhtasar al- Tirmidhiy (Ringkasan kitab karya al-Imam al- Tirmidhiy) dan al- Misbah Fi Jam Bayn al-Sihah. 17 Sementara dalam bidang tafsir, beliau mempunyal sebuah kitab al- Tafsir al-Kabir mencecah 95 jilid di mana beliau telah sempat menafsirkan al-Quran sehingga ayat: 18
    Quote
    Maksudnya: …Dan Kami telah mengajarkannya dari sisi Kami suatu ilmu.
    (Surah al-Kahf : 65)

    « Last Edit: 27 April, 2009, 10:49:59 AM by IbnuNafis »

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #11 27 April, 2009, 10:56:06 AM
  • Publish
  • Kedudukan al-Syeikh Ibn ‘Araby di Kalangan Ulama

    Seperti yang dinyatakan dalam bahagian pendahuluan, al-Syeikh Ibn Arabiy adalah seorang tokoh ilmuan yang sangat kontroversi dalam sejarah tamadun ilmu Islam. Ulama terbahagi kepada tiga golongan dalam memberikan pandangan berhubung kedudukan al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy ini.

    Golongan Pertama ialah golongan ulama yang mengambil pendirian menyokong pendapat-pendapat al-Syeikh Ibn Arabiy,
    menganggapnya sebagal al-Syeikh al-Akbar Sultan al- Arifin dan mereka telah berusaha membersihkan beliau dari pada tud uhan- tuduhan yang mereka anggap palsu berhubungan al-Syeikh Ibn ~ Arabiy.

    Antara mereka ialah al-Imam Jalal al-Din al-Suyutiy (849- 911H), al-Imam’ Abd al-Wahhab al-Sya~raniy, al-Syeikh Majd al- Din Muhammad ibn Ya’qub al-Fayruzabadiy, pengarang al-Qamus al-Muhit dan laln-laln.

    AL-Imam Jalal al-Din al-Suyutiy telah menukilkan dalam kitabnya Tanbi’ ah al-Ghabiy bi Tabri’ ah Ibn ‘ Arabiy nukilan-nukilan ramal ulama Islam yang menyanjung al-Syeikh Ibn / Arabiy. Disebabkan ruang yang terbatas, berikut di sebutkan di sini beberapa nama mereka sahaja tanpa menukilkan kata-kata mereka:19

    (1) AL-Syeikh Safiy al-Din ibn Abi al-Mansur. (2) AL-Syeikh / Abd al-Ghaffar al-Qawsiy. ‘
    (3) AL-Syeikh Abu / Abd Allah ibn As/ad ibn / Aliy al- Yafi/iy. (4) AL-Hafiz Muhibb al-Din ibn al-Najjar.
    (5) AL-’ Allamah Siraj al-Din ibn al-Hanafiy.
    (6) AL-Syeikh Waliy al-Din Muhammad ibn / Abd Allah al-
    , Ajamiy.
    (7) AL-Syeikh al-Badr ibn al-Sahib dan laln-laln.2°
    AL-Imam / Abd al-Wahhab al-Sya’raniy mempunyal beberapa buah kitab yang mana dalam kitab-kitab tersebut beliau telah membela al-Syeikh Ibn / Arabiy. Antaranya ialah al-Kibrit al-Ahmar Fi Bayan ‘Ulum al-Syeikh al-Akbar, Tanbih al-Aghbiya’ / Ala Qutrah Min Bahr ‘Ulum al-Awliya’, al- Yawaqit wa al-Jawahir, Lawaqih al-Anwar al- Qudsiyyah dan laln-laln. Antara kenyataan al-Imam / Abd al- Wahhab al-Sya’raniy dalam percubaan beliau membela dan mempertahankan al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy ialah: Sesungguhnya ilmu- ilmu al-Syeikh (Ibn / Arabiy) semuanya berdiri atas asas al-kasyf dan al-ta’rif dan ilmu-ilmu beliau bersih daripada syak dan penyelewengan.21

    Di antara sebab banyak pemikiran al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy dianggap I menyeleweng ialah wujudnya beberapa karangan beliau yang telah terdedah kepada pencerobohan. Pada zaman dahuIu, perkembangan kitab bergantung kepada industri penyalinan (al- naskh). Maka, didapati bahawa ada sesetengah karangan al-Syeikh Ibn ‘Arabiy telah diceroboh dengan dimasukkan tambahan- tambahan yang tidak ada pada naskhah asal di mana tambahan- tambahan ini mempunyal unsur-unsur penyelewengan akidah ahl al-sunnah wa al-jama’ah seperti kefahaman al-hulul wa al-ittihad. Kenyataan ini pemah dinyatakan oleh al-Imam’ Abd al-Wahhab al- Sya’raniy dalam kitabnya Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah:
    Quote
    [/b][/u]
    Semasa saya melakukan usaha meringkaskan (Mukhtasar) (kitab al- Futuhat al-Makkiyah), saya telah terhenti pada banyak tempat dalam kitab itu di mana isi kandungannya jelas bagi diriku bercanggah dengan akidah ahl al-sunnah wa al-jama’ ah, jadi saya telah memadamkan bahagian tersebut daripada ringkasan (Mukhtasar). Boleh jadi saya terlalal, lalu saya memeriksa kandungan kitab itu… Kemudian, saya terus beranggapan bahawa bahagian-bahagian yang saya telah padamkan itu I memang thabit ianya adalah daripada perkataan al-Syeikh Muhy al-Din, sehinggalah seorang saudaraku seorang ‘alim al-Madaniy yang wafat pada tahun 955H datang menziarahiku. Lalu, saya bermuzakarah dengan beliau tentang perkara ini, lalu beliau menunjukkan kepada saya satu naskhah kitab al-Futuhat al-Makkiyah yang dia sendiri telah menyemaknya dengan satu naskhah asli tulisan tangan al-Syeikh Muhy al-Din, maka saya dapati bahawa bahagian-bahagian yang saya padamkan itu (yang saya sangka ia adalah perkataan asli al-Syeikh Muhy al-Din dan ianya bercanggah dengan akidah ahl al-sunnah wa al-jama’ah) tidak ada sarna sekali, jadi saya terus memadamkannya. Justeru, tahulah saya bahawa naskhah-naskhah (naskhah kitab al-Futuhat al-Makkiyah) di Mesir sekarang ini semuanya telah disalin berdasarkan naskhah yang telah dimasukkan tambahan-tambahan fitnah terhadap al-Syeikh yang mana ianya bercanggah dengan akidah ahl al-sunnah wa al-jama’ah sebagalmana juga apa yang telah berlaku kepada kitabnya Fusus al-Hikam dan laln-lalnnya.
    22

    Kenyataan bahawa banyak kitab-kitab karangan al-Syeikh Ibn , Arabiy telah diceroboh dengan tambahan-tambahan palsu oleh puak-puak zindik dan al-Batiniyyah sudah maklum dan pasti (confirmed). Hal ini telah dinyatakan oleh al-Muqriy dalam Nafh al- Tayyib, Ibn al-’Imad al-Hanbaliy, dalam Syadharat al-Dhahab dan juga al-Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zunun. Justeru, memetik kata- kata al-Syeikh Ibn ‘Arabiy mesti dilakukan secara hati-hati, terutamanya perkara-perkara yang kelihatan bercanggah kerana kemungkinan ia adalah kerja puak-puak zindik dan al-Batiniyyah yang sengaja menokok-tambah perkara-perkara jahat dalam karya beliau.

    Golongan kedua ialah golongan ulama yang membangkang, mengkritik, menyesatkannya, malah ada yang sampal mengkafirkan al-Syeikh Ibn ‘Arabiy.

    Terdapat beberapa kitab yang ditulis khusus untuk menyerang al- Syeikh Ibn ‘Arabiy dan golongan sufi, yang dianggap oleh golongan penentang ini, sebagal pelampau. Antara tulisan-tulisan tersebut adalah seperti berikut:23

    1. Tanbih al-Ghabiy ‘ala Takfir Ibn ‘Arabiy, karya Burhan al-Din Ibrahim al-Biqa’iy.
    2. Kasyf al-Ghita’ ‘An Haqa’iq al- Tawhid wa ‘Aqa’ id al-muwahhiddin
    yang ditulis oleh Badr al-Din Husayn Ibn al-Ahdal.
    3. AL-Suyuf al-Masyhurah fi Ibn ‘ Arabiy wa Kalimatihi al-Mahzurah, yang ditulis oleh Abu Bakr Ibn ‘ Abd Allah al-Dimasyqiy.
    4. Asyi’at al-Nusus yang ditulis oleh ‘Imad al-Din Ahmad al- Wasitiy.
    5. AL-Qawl al-Munabbi Fi Akhbar Ibn ‘ Arabiy, yang ditulis oleh al- Sakhawiy.
    6. Tahdhir al-’Ibad min al-hulul wa al-ittihad, yang ditulis oleh IbnTulun.

    Golongan ketiga ialah go long an ulama yang berdiam diri tanpa memberikan sebarang hukum terhadap al-Syeikh Ibn ‘Arabiy.24

    Sementara al-Syeikh ‘Izz al-Din’ Abd al-Salam (w748H/1348M) pula telah diriwayatkan mempunyal dua pandangan terhadap al- Syeikh Ibn ‘Arabiy.


    Pertama, pandangan yang negatif dan kedua pandangan yang positif.

    Perubahan sikap ini ada kaltannya dengan perubahan sikap beliau terhadap para sufi.
    Quote
    Hal ini telah dinyatakan oleh al-Syeikh Ibn ‘Ata’ Allah al-Sakandariy (w709H) dalam kitabnya Lata’ifal-Miran bahawa al-Syeikh ‘Izz al-Din’ Abd al-Salam pada awalnya bersikap seperti sikap para fuqaha yang cepat mengingkari para sufi. Kemudian, apabila beliau berkawan dengan al-Syeikh Abu al-Hasan al-Syadhiliy (593-656H) dan sikapnya mula berubah terhadap para sufi di mana beliau selalu menghadiri majlis-majlis ahli sufi.
    25

    Secara umumnya, boleh dianggap bahawa ramai para sarjana dan ulama yang memandang serong terhadap pemikiran al-Syeikh Ibn , Arabiy. Mereka lebih suka menonjolkan aspek-aspek khilafiyyah yang cuba disandarkan kepada pemikiran beliau seperti pemikiran wahdat al-wujud, al-hulul dan al-ittihad. Kebanyakan mereka menerima pakal pendapat ulama dan sarjana terdahulu berkaltan dengan pemikiran wahdat al-wujud, al-hulul dan al-ittihad yang dikaltkan dengan al-Syeikh Ibn ‘Arabiy tanpa mengulangkaji semula karya-karya beliau secara saksama. Dalam erti kata yang laln, keterkaltan al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy dengan pemikiran wahdat al- wujud, al-hulul dan al-ittihad ini seolah-olah suatu tuduhan tradisi yang diwarisi turun temurun oleh sesetengah sarjana dan ulama tanpa ada kajian semula terhadap hakikat perkara ini secara mendalam. Justeru, al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy telah berada di kandang orang tertuduh pada sepanjang sejarah pemikiran Islam walaupun ada ramal juga ulama dan sarjana yang cuba membelanya, namun gelombang pemikiran yang memandang negatif terhadap beliau lebih mendominasi pemikiran khalayak.


    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #12 27 April, 2009, 11:04:52 AM
  • Publish
  • Pemikiran Wahdat AL-Wujud

    Wahdat al-wujud adalah sebuah doktrin tasawwuf yang menjadi polemik yang hebat diperdebatkan di kalangan ulama dan sarjana Islam. Wahdat al-wujud mempunyal pengertian yang berbeza-beza antara seseorang ulama atau sarjana. Kepelbagalan tanggapan untuk memahami konsep wahdat al-wujud ini telah menyebabkan lahirnya pelbagal hukum terhadap konsep itu sendiri, sarna ada hukum yang mengharamkannya dan menganggap penganutnya sebagal sesat, atau hukum yang mengharuskannya dan menganggapnya sebagal konsep yang tidak bercanggah dengan Islam. Tidak kurang pula ada ulama yang bersikap berkecuali dalam memberikan hukum terhadap konsep kontroversial ini.

    Dalam masa yang sarna, istilah wahdat al-wujud ini digunakan oleh ulama daripada mazhab ahl al-sunnah dan juga mazhab Syiah. Justeru, memberikan hanya satu bentuk pendapat atau hukum terhadap konsep ini berasaskan kepada salah satu pengertian atau kefahaman akan menimbulkan keresahan di kalangan sesetengah pihak yang laln. Tulisan ini akan cuba meninjau pengertian wahdat al-wujud yang dianuti oleh para sufi secara umumnya sebelum meninjau pendapat golongan pengkritik tasawwuf atau pengecam konsep wahdat al-wujud ini.

    Doktrin wahdat al-wujud biasanya dihubungkan dengan Ibn Arabiy kerana tokoh ini dianggap sebagal pengasasnya.
    Oleh itu adalah tidak menghalrankan jika selama ini istilah wahdat al-wujud dikatakan berasal daripada Ibn ‘ Arabiy. Kajian ilmiah tentang sufisme, baik yang dilakukan oleh para orientalis mahupun yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Muslim, selama beberapa dekad tidak mempersoalkan anggapan yang telah lama berlaku ini.26 dan namun, tanggapan ini telah cuba diubah oleh beberapa sarjana yang gigih mengkaji pemikiran al-Syeikh Ibn ‘Arabiy dan teori wahdat al-wujud. Antara sarjana yang berpendapat bahawa teori wahdat al-wujud ini bukan berasal daripada al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy ialah Prof. Ibrahim Bayyumi Madkur,27Hermann Landolt28 dan Prof. Dr. Su’ad al-Hakim. 29

    Ibrahim Bayyumi Madkur 3O dan Su’ad al-Hakim 31 menganggap bahawa kemungkinan al-Syeikh al-Imam Ibn Taymiyyah adalah antara orang yang pertama yang mempopularkan istilah ini dalam risalah-risalahnya untuk menghentam golongan tasawwuf yang menganut faham tersebut.32 Sementara kajian Dr. Kautsar Azhari Noer memutuskan bahawa orang yang pertama menggunakan istilah wahdat al-wujud ialah al-Syeikh al-Sadrudin al-Qunawiy (w.673H/1274M), murid al-Syeikh Ibn ‘Arabiy sendiri. Ia kemudian dipopularkan pula oleh murid al-Quna’viy, ialtu al- Syeikh Sa’id al-Din Farghaniy (w.700H/1301M).33

    Menurut Prof. Dr. Su’ad al-Hakim teori wahdat al-wujud yang disandarkan kepada al-Syeikh Ibn ‘Arabiy sebenarnya bukanlah berasal daripada beliau, kerana tidak ada apa-apa nas yang sabit daripada Ibn ‘ Arabiy berhubung teori ini yang boleh membuktikan bahawa beliau adalah pengasas teori ini
    . Yang menggembar gemburkan teori ini ialah para pengkaji pemikiran beliau atau secara lebih tepat, para pengkaji-pengkaji tersebut telah menyenaralkan Ibn ‘Arabiy sebagal salah seorang dari kalangan yang menganut faham tersebut.34

    Prof. Dr. Su’ad al-Hakim menegaskan bahawa seseorang sarjana tidak akan menemui sebarang petanda idea (yang menggambarkan wujudnya pemikiran wahdat al-wujud dalam pemikiran Ibn ‘Arabiy) kecuali dengan mengutip beberapa petikan tulisan beliau yang kemudiannya dipadankan dengan huralan yang bersesualan dengan semangat aliran pemikiran wahdat al-wujud.

    Dengan demikian, seseorang yang mengaltkan Ibn ‘ Arabiy dengan doktrin ini akan memetik kata-kata beliau seperti:
    Quote
    “al-wujud itu semuanya satu”, “tidak ada di sana selaln Allah”, “tidak ada dalam al-wujud melalnkan Allah”
    ,35 sehingga membuka ruang untuk digelar sebagal pendokong wahdat al-wujud.36

    Namun Dr. Kautsar Azhari Noer, walaupun bersetuju dengan pendapat bahawa al-Syeikh Ibn , Arabiy tidak pernah menggunakan istilah wahdat al-wujud, namun beliau menegaskan bahawa ajaran-ajarannya memang mengandungi idea-idea wahdat al-wujud. Petikan-petikan yang hampir sama seperti yang digunakan oleh Su’ad al-Hakim digunakan oleh Kautsar Azhari Noer untuk menunjukkan hal tersebut.37

    Adalah sukar untuk membincangkan doktrin wahdat al-wujud menurut versi para pengkaji konsep ini yang menyandarkannya secara langsung dengan pemikiran Ibn ‘Arabiy berdasarkan pandangan mereka semata-mata. Segala huralan terhadap doktrin wahdat al-wujud yang disandarkan kepada Ibn ‘Arabiy adalah suatu penafsiran dari kalangan yang menghuralkannya semata- mata terhadap fahaman yang dianuti oleh Ibn ‘Arabiy dan bukannya bersifat yakin bahawa demikian itulah kefahaman beliau terhadap konsep berkenaan.

    Seandalnya kefahaman Ibn ‘Arabiy berhubung hal ini hendak diperbetulkan, maka satu- satunya jalan ke arab itu ialah memahami apakah kefahaman beliau berhubung dengan al-wujud? Yang sangat menonjol dalam pemikiran Ibn ‘Arabiy ialah penekanan kepada al-Wujud al-Haqq ialtu hanya Allah sahaja wujud yang hakiki. Yang laln hanyalah wujud khayaliy,38 atau dalam perkataan laln, beliau menggambarkan bahawa Allah adalah zat al-Wujud al-Haqq dan wujud makhluk hanyalah bayangan kepada al-Wujud al-Haqq.39 Di tempat yang laln, beliau menyifatkan bahawa al-wujud semuanya hanya wujud Yang E3a secara hakiki di mana tiada wujud sesuatu bersama wujud- Nya. Tidak ada apa-apa pun yang wujud menempel kecuali makhluk yang wujud, kemudian ghalb, ialtu zahir kemudian lenyap.40 Dalam perkataan laln, Ibn ‘ Arabiy cuba menggambarkan bahawa al-Wujud al-Haqq hanyalah Allah kerana Dialah Tuhan yang kekal abadi, sementara wujud makhluk bersifat sementara, tidak kekal dan fana.41

    Ramal sarjana yang kebingungan berdepan dengan basil-basil pemikiran Ibn ‘Arabiy, adakah beliau mempunyal idea wahdat al- wujud atau wahdat al-syuhud. Malangnya, secara tergesa-gesa mereka menyimpulkannya sebagal wahdat al-wujud.42 Seperkara lagi yang menjadi hujah kepada penolakan wujudnya pemikiran wahdat al-wujud di sisi Ibn ‘ Arabiy ialah kerana konsistennya beliau dalam penggunaan istilah al-mumkin (al-mumkinat ialtu makhluk) yang merujuk kepada makna makhluk di mana beliau kadang- kadang menamakannya sebagal al-mawjud, tetapi beliau tidak pernah menamakannya sebagal al-wujud. Dengan ini, jelaslah bahawa wahdat al-wujud yang menjadi pegangan Ibn I Arabiy tidaklah tertegak di atas penelitian terhadap kesatuan dalam kathrah al-mazahir (kepelbagalan fenomena makhluk), malah ia tertegak atas dasar menafikan wujudnya al-kathrah.43 Sebagal contoh, Ibn I Arabiy mengungkapkan bahawa di sana tidak ada sesuatu melalnkan Allah dan al-mumkinat. Maka Allah itu Wujud sedangkan al-mumkinat itu thabitah {sabit).44

    Dengan demikian, penafsiran seperti yang dijelaskan di atas dikira tepat untuk memahami konsep wahdat al-wujud yang menjadi anutan Ibn I Arabiy dan perkara ini adalah selari dengan pandangan beberapa ulama laln yang melihat konsep ini secara positif dan harmoni. Sebagal contoh, al-Imam al-Nabulsiy menyimpulkan kunci kefahaman teori wahdat al-wujud Itersembunyi dalam pengertian al-wujud al-haqiqiy. Maka, seluruh wujud secara mumkinat sebenarnya tidak memiliki wujud mustaqill atau wujud secara bersendirian atau secara istiqlal daripada Allah (s.w.t.). Secara jelas, al-Imam al-Nabulsiy cuba untuk menghuralkan kekusutan konsep wahdat al-wujud dengan menetapkan tahap mafhum al-wujud sebagal Allah, bukannya makhluk.45

    Dengan ini, tidak timbul soal penyatuan atau kesatuan Tuhan dengan makhluk sebagalmana yang difahami oleh sesetengah pihak. Malah al-Nabulsiy telah pergi lebih jauh dengan menggunakan banyak ayat-ayat al-Quran yang dikatakannya sebagal punca konsep wahdat al-wujud. Sebagal contoh, firman Allah (s.w.t.) yang berbunyi:

    Maksud: .. .
    Quote
    Di mana-mana sahaja kamu menghalakan (wajah kamu) maka di situ ada wajah Allah…
    (Surah al-Baqarah : 115)

    Ungkapan (aynama tuwallu) adalah umum merangkumi pelbagal tempat dan manusia. Ungkapan (nothing thamma wajh Allah) pula ditujukan kepada wajah yang zahir dalam mazahir tersebut (fenomena-fenomena makhluk yang terdiri daripada pelbagal tempat dan manusia). Ayat ini membayangkan bahawa segala apa yang dicapal oleh akal atau pancalndera (berdasarkan kepelbagalan hamba-hamba-Nya) adalah sebagal tempat penzahiran Wajh Allah yang tunggal itu. Dengan itu, mazahir (fenomena) itu banyak, tetapi wajah hanyalah sarno Oleh itul banyaknya mazahir tidak pula menafikan keesaan wajah, sebagalmana keesaan wajah tidak menghalang berbilang-bilangnya mazahir.46

    Al-Nabulsiy juga mengaltkan konsep wahdat al-wujud ini dengarl ayat-ayat al-Quran yang laln, seba-galmana firman Allah yang berbunyi:

    Maksudnya: “Setiap orang yang ada di atas permukaan bumi adalah musnah dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu.”
    (Surah al-Rahman: 27) Dan firman Allah yang berbunyi:

    Maksudnya: “Dan telah datanglah al-haqq dan hancurlah kebatilan, sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur…”
    (Surah al-Isra : 81)

    Dalam memperkukuhkan penafsiran beliau terhadap maksud ayat-ayat al-Quran di atas, al-Nabulsiy juga mengaltkan sebuah syalr Arab klasik yang diakui oleh Rasulullah (s.a. w.) sebagal kalimah yang paling benar yang pernah diungkapkan oleh penyalr, ialtu ungkapan yang diilhamkan oleh Labid yang bermaksud: Ketahuilah, bahawa segala sesuatu selaln daripada Allah adalah batil.47

    Maka, pada hemah penulis, dalam konteks perbincangan konsep wahdat al-wujud ini, kita dapati kekusutan sebenar datangnya daripada kepelbagalan pandangan ulama sufi dan pengkritik tasawwuf dalam menghuralkan konsep al-wujud. Maka, ada ulama yang menghuralkannya seperti huralan al-Imam al-Nabulsiy di atas, ialtu melihat al-wujud al-haqiqiy dan al-wujud al-wahmiy (wujud yang tidak sebenar). Ada juga yang menghuralkannya dari perspektif al-wujud al-haqiqiy yang bersifat wajib al-wujud dan wujud makhluk yang bersifat sebagal wujud al-mumkinat. Ada juga yang mengistilahkan sebagal al-wujud al-haqqiy dan al-wujud al- khalqiy.48 AL-Imam al-Akbar Shaykh al-Azhar Prof. Dr. ‘Abd al- Halim Mahmud berpendapat kekusutan ini berikutan kesalahan sesetengah pihak dalam menafsirkan maksud al-wujud al-wahid yang sering digunakan oleh golongan sufi.49

    Dalam konteks masyarakat Islam di Nusantara, kekusutan juga timbul akibat penggunaan istilah wujudiyyah sebagal mengaggambarkan kefahaman wahdat al-wujud. Ramal pengkaji dan penulis yang menggunakan istilah wujudiyyah ini untuk dikaltkan dengan mazhab atau pemikiran al-Syeikh Hamzah Fansuri dan al-Syeikh Syams al-Din al-Sumatraniy. Ini adalah suatu perkara yang amat mendukacitakan kerana wujudiyyah mempunyal kefahaman yang negatif. Wujudiyyah adalah satu mazhab falsafah kesusasteraan yang bersifat atheis. lah adalah suatu mazhab yang paling berpengaruh di Barat pada kurun ke-20. lah adalah falsafah yang memusatkan tumpuannya kepada wujud manusia yang dianggapnya sebagal satu-satunya wujud secara yakin. Tidak ada sesuatu yang wujud sebelumnya atau selepasnya.

    Falsafah ini menganggap bahawa manusia mempunyal zatnya sendiri dan hakikatnya sendiri dengan iradatnya, mencipta perbuatannya dan menentukan sifat-sifatnya dengan kehendaknya secara bebas tanpa ada kaltan dengan Tuhan atau nilal-nilal di luar daripada kehendaknya.50 Pengarang besar Melayu seperti Shaykh Dawud al- Fataniy sendiri menyenaralkan puak Wujudiyyah sebagal puak yang sesat. Ternyata fahaman Wujudiyyah yang dianggap oleh beliau sebagal sesat itu ialah golongan yang menganggap “tiada wujudku, hanya wujud Allah”, yakni bahawa aku wujud Allah. Mereka juga berkata “Bahawasanya Allah (s. w. t.) tiada mawjud melalnkan di dalam kandungan wujud segala makhluk.51 Dengan ini istilah Wujudiyyah tidak wajar digunakan untuk merujuk kepada golongan yang berpegang dengan konsep wahdat al- wujud.52

    Dalam tulisan ini, penulis hanya akan memberikan beberapa contoh tokoh ulama terkemuka yang menghuralkan kefahaman berhubung dengan istilah al-wujud yang dikaltkan atau disifatkan dengan perlbagal tambahan tadi; al-wujud al-haqiqiy dan al-wujud al-wahmiy, al-wujud al-haqqiy dan al-wujud al-khalqiy atau wajib al- wujud dan wujud al-mumkinat. Ia adalah sebagal pengukuhan terhadap apa yang sara nyatakan berkaltan simpang siur kcfahaman al-wujud di kalangan ulama sufi yang akhirnya mencetuskan polemik wahdat al-wujud.

    Perbicaraan tentang konsep seumpama ini telah diajarkan beberapa sufi sebelum Ibn ‘ Arabiy.

    AL-Syeikh Ma’ruf al-Karkhiy (w.200/815M), seorang sufi terkenal di Baghdad yang hidup empat abad sebelum Ibn ‘Arabiy, dianggap orang yang pertama sekali mengungkapkan syahadat dengan kata-kata: “Tiada sesuatu pun dalam wujud kecuali Allah.” AL-Syeikh Abu al-’ Abbas Qassab (hidup pada abad ke-4/ke-10) mengungkapkan kata-kata yang hampir sarna: “Tiada sesuatu pun dalam dua dunia kecuali Tuhanku. Segala sesuatu yang ada (mawjudat), segala sesuatu .: selaln wujud-Nya, adalah tiada {ma’dum).” Khwaja ‘Abd Allah Ansariy (w. 481/1089) menyatakan bahwa “tauhid orang-orang terpilih” adalah doktrin “tiada sesuatupun selaln-Nya.” (Laysa ” ghayrahu ahad). Jika ia diajukan pertanyaan: “Apa tauhid itu?” beliau menjawab: “Tuhan, dan tidak ada yang laln. Yang laln
    adalah kebodohan {hawas).” Sufi laln sebelum al-Syeikh Ibn ‘Arabi .; yang lebih kurang mengemukakan pernyataan-pernyataan yang ~ dianggap mengandung doktrin seumpama ini ialah al-Imam Abu Hamid al-Ghazzaliy (w.505/1111), saudaranya al-Syeikh Ahmad al-Ghazzaliy (w.520/1126), dan’ Ayn al-Qudat Hamadaniy (w. 526/1132).53

    Begitu pula dengan tokoh-tokoh selepas Ibn Arabiy, tidak terlepas daripada membicarakan perkara yang sarna. Sebagal contoh, al- Syeikh ‘ Abd al-Karim al-Jiliy (767-826H/1365-1423M) menganggap al-wujud (makhluk) tidak boleh dianggap wujud secara hakikat pada zatnya kecuali dengan kadar pancaran al-tajalli al-Ilahiy dan al-nur al-Ilahiy. Tidak ada di sana wujud dhatiy, malah yang ada hanya khayalan semata-mata yang meminjam sifat wujud daripada Allah. Beliau mengistilahkan wujud itu sebagal al-’ ariyyah al-wujudiyyah (kepinjaman wujud atau wujud yang bersifat pinjaman). Beliau menyatakan bahawa al-’ ariyyah al-wujudiyyah dalam segala sesuatu bererti memberikan nisbah kewujudan makhluk (al-wujud al-khalqiy) kepada makhluk sedangkan secara hakikatnya wujud yang haq (al-wujud al-haqqiy ialtu Allah) itu adalah asal usul (punca) bagi segala makhluk itu. Sesungguhnya Allah (s. w.t.) telah meminjamkan sifat al-wujud kepada makhluk- makhluk-Nya daripada Zat-Nya supaya rahsia ketuhanan dapat zahir di alam ini.54 AL-Syeikh I Abd al-Karim al-Jiliy menegaskan bahawa tidak boleh dianggap ada dua wujud; wujud makhluk dan wujud khaliq. Hanya yang wujud ialah al-Khaliq.55

    AL-Syeikh Ibn ‘Ata’ Allah al-Sakandariy juga antara tokoh tasawwuf yang banyak membicarakan tentang konsep al-wujud tetapi bersih daripada tuduhan wahdah al-wujud.56 Sebagal contoh dibawakan huralan beliau tentang konsep al-wujud yang pernah diutarakan oleh gurunya al-Syeikh Ahmad ibn ‘Umar ibn Muhammad al-Andalusiy al-Mursiy (w686H). Kata-kata gurunya al-Mursiy itu pernah dianggap orang sebagal perbicaraan mengenal konsep wahdah al-wujud.57 Al-Syeikh al-Mursiy berkata: Telah adalah ins~dan itu (dicipta) sesudah dia belum pemah ada, dan dia akan fana (mati) selepas dia tercipta. Maka, barangsiapa yang kedua-dua tepinya tiada (’adam), maka dia adalah tiada (’adam). Al-Syeikh Ibn ‘Ata’ Allah al-Sakandariy menjelaskan: Maksud kata-kata al-Syeikh al-Mursiy itu ialah bahawa seluruh alam (al- ka’inat) tidak mempunyal status wujud yang mutlak kerana al- wujud al-mutlaq itu hanya Allah. Dia mempunyal keesaan dan ketunggalan. Sedangkan alam semesta hanya mempunyal status wujud sekadar apa yang Dia kurniakan kepadanya (alam semesta). Ketahuilah bahawa sesiapa yang mempunyal status wujud dengan ehsan pemberian daripada pihak laln (Allah), maka ia pada hakikatnya adalah tiada (’adam). Al-Syeikh Abu al-Hasan al- Syadhiliy pemah berkata: Ahli sufi ialah orang yang memandang makhluk dalam lipatan rahsianya seumpama debu dalam udara, kedua-duanya tidak acta (mawjudayn) tetapi tidak juga tiada (ma’ dumayn), sepertimana yang acta pada ilmu Allah. Beliau juga berkata: Sesungguhnya kami tidak nampak ada seorangpun dalam alam semesta (al-khalq). Adakah dalam alam semesta (al-wujud) ini seseorang selaln al-Malik al-Haqq (Allah)? Jika sekiranya mahu dianggap wujud juga (segala sesuatu selaln Allah), maka (wujud mereka itu) seumpama debu dalam udara, jika engkau memeriksanya, engkau tidak akan dapati apa-apa sedikitpun.58

    Seterusnya Al-Syeikh Ibn ‘ Ata’ Allah al-Sakandariy menjelaskan: Perumpamaan yang paling hampir berhubung kewujudan alam semesta ini (wujud al-ka’inat) apabila engkau memandangnya dengan ‘ayn al-basirah ialah wujudnya bayang-bayang (al-zilal). Maka bayang itu tidak ada wujud dalam semua iktibar wujud dan tidak pula ma’dum dalam semua iktibar ‘adam. Jika engkau telah mensabitkan kewujudan bayangan sesuatu, maka mengapa engkau mahu menghapuskan keesaan Tuhan yang memberikan kesan itu? .59

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #13 27 April, 2009, 11:11:13 AM
  • Publish

  • Al-Syeikh Ibn ‘Ata’ Allah al-Sakandariy juga pernah berkata dalam hikmahnya sebagal berikut:


    Maksudnya:
    Quote
    “Sungguh halran. Bagalmana mungkin boleh zahir al- wujud dalam al-’ adam? Atau bagalmana boleh sabit sesuatu yang al- hadith (makhluk yang bersifat baharu) bersama dengan Tuhan yang bersifat qidam ?
    “60 .

    Al-Syeikh Ibn ‘Ajibah (1160-1224H) dalam kitabnya Iqaz al-Himam Fi Syarh al-Hikam, menghuralkan sebagal berikut: al-wujud dan al- I adam dua perkataan yang saling kontradik dan tidak akan bertemu. Al-hadith dan al-Qadim saling bertentangan dan tidak akan bertemu. Telah jelas bahawa AL-Haq (Allah) adalah wajib al- wujud dan sekalian makhluk selaln-Nya adalah ‘adam secara yakin. Maka, apabila zahir al-wujud maka akan hilangkan lawannya ialtu I adam. Maka bagalmana boleh digambarkan bahawa makhluk boleh menghijab Allah sedangkan ia adalah ‘adam?61

    Maka, tidak ada wujud bagi segala sesuatu (makhluk) berserta wujud-Nya, maka ternafilah (terbatallah) teori al-hulul, kerana al- hulul bermaksud wujud yang laln (al-siwa, ialtu wujud yang sarna taraO sehingga makna-makna al-Rububiyyah boleh memasukinya. Oleh kerana wujud yang laln (al-siwa) hanyalah ‘adam semata-mata, maka tidak dapat digambarkan boleh berlaku al-hulul.62

    Sesungguhnya didapati bahawa penafsiran konsep al-wujud seumpama ini yang menganggap al-wujud al-haqiqiy hanya wujud Allah dan wujud yang laln hanya khayalan atau wahmiy an dalam mas a yang sarna membezakan antara al-Khaliq dan al- makhluq ini sangat konsisten dalam pemikiran penghural- penghural al-Hikam al-’ Ata’ iyyah seperti al-Syeikh Ibn ‘ Abbad (al- Imam Muhammad ibn Ibrahim ibn ‘Abd Allah al-Nafaziy al- Rindiy (732-792H) dalam kitabnya Ghayth al-Mawahib al-’ Aliyyah Bi Syarh al-Hikam al-’ Ata’ iyyah,63 al-Syeikh Zarruq (Zarruq, Ahmad ibnAhmad ibn Muhammad ibn ‘Isa al-Burnusiy dalam kitabnya Syarh al-Hik4m,64 Syeikh al-Islam al-Imam I Abd Allah ibn Hijaziy ibn Ibrahim dalam kitabnya al-Minah al-Qudsiyyah I ala al- Hikam al- Ata’iyyah,65 al-Syeikh al-Syarnubiy (al-Syeikh ‘Abd al-Majid al- Syarnubiy al-Azhariy dalam kitabnya Hikam Ibn lAta’ Allah al- Sakandariy.! Sementara itu, al-Syeikh al-Qusyayriy berkata: Tidak ada wujud al-Haq kecuali sesudah khumud al-Basyariyyah (lenyap manusia), kerana tidak ada baqa’ bagi manusia ketika mana zahirnya sultan al-haqiqah.67

    Dalam istilah laln, persoalan mengiktiraf akan wujud hakiki ini boleh dikaltkan pula dengan satu istilah laln, ialtu sebagal wahdat al-syuhud seperti yang dihuralkan oleh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Butiy, dalam kitabnya al-Hikam al-’ Ata’ iyyah: Syarh wa Tahlil. Beliau menegaskan ketika membincangkan persoalan ‘ayn al- bashirah dengan menyatakan bahawa manusia pada tahap memiliki ‘ayn al-bashirah ini melihat bahawa al-wujud al-dhatiy bagi segala yang wujud ini berkecal hilang pada pandangannya. Dia sudah tidak melihat dalam segala makhluk ini sesuatu yang mempunyal sifat wujud berasingan. Justeru, dia melihatnya (wujud yang tidak mempunyal sifat wujud berasingan itu) sebagal dalil yang menunjukkan wujud-Nya. Pada tahap ini, dia tidak melihat segala wujud (makhluk) melalnkan dia akan melihat sifat Allah (s. w. t.), dan inilah apa yang dikatakan sebagal wahdat al- syuhud.68

    Berhubung istilah al-wujud al-wahid, al-Imam al-Akbar Shaykh al- Azhar Prof. Dr. ‘Abd al-Halim Mahmud menegaskan bahawa tidak ada sebarang syak wasangka berkaltan dengan al-wujud al-wahid. Ia adalah al-wujud yang kaya dengan zat-Nya daripada selaln-Nya. Ia adalah al-wujud al-haq yang mengurniakan sifat wujud kepada setiap makhluk. Makhluk tidak memiliki tuhan pencipta yang mengumiakan sifat wujud itu selaln-Nya. Maha suci Allah. Dialah tuhan yang segala wujud daripada-Nya. Maha suci Allah, Dialah tuhan yang al-Khaliq al-Bari’ al-Musawwir.69 Menurut Dr. ‘Abd al- Halim Mahmud, istilah al-wujud al-wahid inilah yang disalah ertikan oleh sesetengah pihak sehingga membawa kepada kefahaman wahdah al-wujud sebagalmana yang difahami oleh musuh-musuh tasawwuf ialtu yang bersamaan maksud dengan istilah pantheism,70 sedangkan fahaman pantheism sangat berbeza daripada fahaman wahdah al-wujud sebagalmana yang difahami oleh ahli sufi.71

    Justeru, al-Imam al-Akbar Shaykh al-Azhar Prof. Dr. ‘Abd al-Halim Mahmud lebih cenderung untuk mentafsirkan pengertian wahdah al-wujud sebagal keesaan dan kesatuan Allah (s.w.t.) yang sememangnya berlawanan dengan pengerti~dan al-kathrah yang menjadi perkataan berlawanan bagi kata wahdah. Dengan pengertian tersebut, beliau berpendapat, istilah wahdah al-wujud sebagal suatu istilah yang tidak salah digunakan dalam Islam. Yang salah pada pandangan beliau ialah teori wahdah al-mawjud. Beliau menegaskan bahawa tidak ada seorangpun ahli sufi - termasuk Ibn ‘ Arabiy dan al-Hallaj- yang berpendapat dengan wahdah al-maw/ud.72 Golongan sufi tidak pernah menyatakan wahdah al-wujud (kesatuan makhluk) yang terdiri daripada langit, bumi, manusia, halwan, wama, rasa (rasa yang ada sesuatu seperti pada makanan), ketebalan, kehalusan, malalkat, batu-batan, cahaya, kegelapan, taat, maksiat, ball dan laln-laln. Hal ini tidak pernah dikatakan oleh mana-mana orang Mukmin, sementelah pula ahli maqam al-ihsan.73 AL-Imam al-Sya’raniy menempelak musuh-musuh al-Syeikh ibn ‘Arabiy dengan katanya: “Sesungguhnya penyembah-penyembah berhalapun tidak berani biadap untuk menjadikan tuhan-tuhan mereka zat Allah, bahkan mereka hanya berani menyatakan bahawa kami tidak menyembah berhala- berhala itu kecuali supaya mereka memperdekatkan kami kepada Allah sebagal perantaraan”. Maka, bagalmana disangka buruk terhadap para wall Allah bahawa mereka mendakwa mereka telah bersatu (ittihad) dengan Allah. lni adalah mustahil.74

    Berdasarkan keterangan yang telah diberikan, amat nyata bahawa Ibn ‘ Arabiy tidak sekali-kali menyamakan di antara al-Haqq dan al- Khalq (makhluk). Apa yang sebenarnya mahu dijelaskan oleh beliau dalam hubungan ini ialah bahawa ‘hakikat Ketuhanan’ itu adalah berbeza dari ‘manifestasi-Nya’ dan Tuhan adalah berbeza serta mengatasi ‘manifestasi’ tersp:but. Bagalmanapun ‘manifetasi’ itu pula bukanlah terasing atau terpisah daripada ‘Hakikat Ketuhanan’ yang dengan cara tersendiri merangkumi segalanya. Atau dalam kata laln, hal ini boleh dijelaskan bahawa Tuhan adalah mengatasi segala alam semesta; alam semesta pula tidaklah terputus hubungan daripada-Nya, yakni alam semesta adalah ‘tenggelam’ dalam-Nya dengan suatu cara yang tidak diterangkan rahsianya. Maksudnya kita tidak dibenarkan mempercayal bahawa ada lagi tarat hakikat sesungguhnya selaln ‘Hakikat Mutlak’ dengan wujud hakiki-Nya. Kalaulah ini dipercayal maka ini adalah merupakan syirik,dan ini bermakna juga menolak kebenaran dalam syahadah-lah ilaha ilIa Allah. Adalah benar, alam semesta ini dan segala benda yang ada dalamnya bukanlah Tuhan, tetapi hakikat terakhir daripada segala yang ada ini adalah tidak laln dari hakikat-Nya. Kalau tidak demikian benda-bend a yang ada semuanya ada mempunyal hakikatnya masing-masing, dan ini nantinya samalah dengan mengatakan bahawa mereka semuanya adalah sarna tarafnya dengan Tuhan.75

    Sebagalmana itu adalah kesimpulan berhubung teori wahdat al- wujud, maka demikian juga penyokong-penyokong al-Syeikh Ibn , Arabiy menolak kemungkinan beliau memperkatakan tentang al- hulul wa al-ittihad. Ini adalah kerana al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy sendiri pemah menyatakan bahawa “tidak berkata seseorang mengenal al- ittihad melalnkan golongan mulhid (atheis) dan tidak berkata mengenal al-hulul melalnkan golongan jahil dan ahl al-fudul.76 Beliau juga menegaskan dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah bahawa II al-Qadim (Allah yang bersifat dengan sifat Qidam) tidak mungkin boleh menjadi temp at (tempat turun atau jelmaan) bagi al-hawadith (segala makhluk). Kesemua kenyataan daripada al- Syeikh Ibn I Arabiy tadi dengan jelas menjelaskan sikap beliau yang sebenar terhadap kefahaman al-hulul wa al-ittihad ialtu beliau menganggapnya sebagal kefahaman golongan yang mulhid dan jahil.

    AL-Syeikh Ibn I Arabiy juga pernah menyatakan bahawa: Tidak perlu kita mendirikan dalil (bukti) untuk mensabitkan keesaan Allah (al-wahdaniyyah), kerana semua masyahid (fenomena- fenomena alam yang wujud) menghalang (kita) daripada berbantah-bantahan mengenal Allah dan mengenal keesaan-Nya.77 Dalam erti kata yang laln, keesaan Allah (s. w. t.) itu adalah suatu perkara yang darurah dalam pemikiran seorang Mukmin. Maka bagalmana mungkin boleh timbul persoalan-persoalan yang menggugat status keesaan Allah (s. w. t.) ini seperti pemikiran wahdat al-wujud, al-ittihad dan al-hulul.
    Beliau juga menegaskan: Bahkan makhluk gagal (qasir) untuk memahami (rahsia dan selok-belok) dirinya, maka bagalmana dia boleh memahami (rahsia dan selok-belok) penciptanya (munsyi’) dari segi DIA sebagal pencipa baginya. Maka lebih utamalah dan segi zat Allah Taala- bahawa tidak mungkin akan ada seorang ‘arif yang mengetahuinya (zat Allah Taala) dengan sebenar-benarnya, dan tidak mungkin akan ada seorang was if yang mampu menyifatkannya (zat Allah Taala) dengan sebenar-benarnya.78
    Pendapat-pendapat di atas kelihatan lebih harmoni dalam menanggapi pengertian istilah wahdat al-wujud, sehingga boleh diselaraskan dengan akidah ahl al-sunnah wa al-jama’ ah yang membezakan antara Khaliq dengan makhluk. Setelah meninjau kefahaman wahdat al-wujud pada pandangan al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy dan pengikutnya, adalah elok kita tinjau sedikit kefahaman wahdat al-wujud pada pandangan pengecam tasawwuf.

    Sebagalmana yang dikatakan di peringkat awal tadi, kemungkinan tokoh yang paling besar peranannya dalam mempopularkan istilah wahdat al-wujud ialah al-Imam ibn Taymiyyah (w.728H/1328M), pengecam keras Ibn ‘Arabiy dan para pengikutnya. Beliau sering menggurLakan istilah wahdat al-wujud, dalam karya-karyanya. Bagi beliau, istilah wahdat al-wujud adalah istilah yang mempunyal pengertian negatif dan digunakannya sebagal kutukan dan ejekan. Baginya, ajaran ini adalah kufur dan bid’ah.79
    Pengertian wahdat al-wujud menurut Ibn Taymiyyah adalah berbeza dengan pengertian wahdat al-wujud Ibn ‘Arabiy dan para pengikutnya. Menurut Ibn Taymiyyah, wahdat al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam, yang dalam istilah moden adalah seerti dengan ‘panteisme’. Sejak zaman Ibn Taymiyyah dan seterusnya, istilah wahdat al-wujud semakin kerap digunakan secara umum bagi menunjukkan keseluruhan doktrin yang diajarkan oleh Ibn ‘Arabiy dan para pengikutnya. Bagi para pengecam doktrin wahdat al-wujud, terutama kaum fuqaha, istilah wahdat al- wujud berkonotasi negatif, yang diberi label sebagal kufur, zindiq dan bid’ ah. Namun, bagi yang menganut doktrin wahdat al-wujud, istilah ini bagi mereka adalah seerti dengan tauhid yang paling tinggi. Wahdat al-wujud adalah pendekatan sufi dalam mengekspresikan tauhid.


    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #14 27 April, 2009, 11:11:25 AM
  • Publish
  • Menurut Hasan Abu’ Ammar pula, wahdat al-wujud yang beliau namakan juga sebagal wahdat al-tasykik mempunyal pengertian yang tictak sarna an tara pengertian falsafah dan pengertian tasawwuf. Dalam tasawwuf, wahdat al-wujud bererti ittihad (fana atau hancur lebur hingga diri bersatu dengan Tuhan) ialtu orang- orang yang sudah bersih bersatu dengan Allah (s..w.t.) sehingga tidak acta perbezaan an tara dirinya dan al-Haqq.8O Kembalinya hamba yang suci kepada Allah umpama kembalinya p~rcikan alr laut, yang berpisah akibat membelah batu karang, kepada taut itu sendiri. Setelah percikan alr itu hilang sarna sekali, dan yang jelas ada hanyalah laut.81 Dalam falsafah pula, wahdat al-wujud bermaksud semua wujud adalah satu atau sarna ialtu mempunyal erti yang berlawanan dengan makna tiada. Oleh itu, semua wujud sarna ada wujud wajib (Tuhan) at au wujud mumkin (makhluk) adalah sarna. Dengan kata laln, wujud itu satu, namun di dalamnya terdapat tingkatan-tingkatan umpama alr sungal yang mengalir dari gunung, kemudian ketika sampal di perkampungan at au persawahan, alr sungal tadi dialirkan melalui alar-alar yang lebih kecil sesual dengan keperluan masyarakat.82 Walaupun wujud itu berbeza-beza, namun di dalamnya terdapat tingkatan- tingkatan. lnilah yang dimaksudkan dengan wujud adalah satu yang berperingkat atau wahdat al-wujud.83

    Berhubung dengan wahdat al-wujud ini, Prof. Dr. Abdulfatah Haron Ibrahim menyatakan bahawa ia adalah satu aliran falsafah yang meyakini bahawa Allah adalah segala-gala, menyatukan Allah dengan alam dan memperakui satu wujud sahaja ialtu wujud Allah sementara wujud selaln Allah hanyalah ‘arad ialtu alamo Beliau mengaltkan fahaman ill dengan Batiniyyah yang mengikut al-Syahrastaniy, ia adalah nama laln bagi aliran Syi’ ah Isma’iliyyah. Oleh itu, apabila doktrin ini dikaltkan dengan Batiniyyah atau Isma’iliyyah, maka nyatalah bahawa doktrin ini mempunyal kaltan langsung dengan Syi’ ah.84

    Bagi pengecam wahdat al-wujud, teori itu antara laln juga dikenali sebagal Wujudiyyah, Keesaan Wujud, Satu Wujud, Serba Tuhan dan Kesatuan Wujud atau Kesamaan Wujud. Walaupun ia berkaltan dengan doktrin Syi’ ah yang paling utama yang berkaltan dengan realiti tabii sebagalmana yang dijelaskan oleh Seyyed Hossein Nasr, namun, terdapat pandangan-pandangan yang menyatakan bahawa doktrin ini mempunyal persamaan atau dipengaruhi oleh unsur-unsur yang datangnya dari luar. Justeru, doktrin Wahdat al-Wujud telah dianggap sesat oleh sebahagian sarjana-sarjana Islam.85

    Setelah dibentang beberapa pendapat yang memandang negatif terhadap konsep wahdat al-wujud, maka didapati seolah-olahnya tiada jalan penamat bagi menghentikan polemik yang berliku-liku ini. Justeru, penulis berpendapat bahawa umat Islam seharusnya memberikan ruang berlapang dad a terhadap al-Syeikh Ibn ‘Arabiy berhubung beberapa pandangan beliau yang dianggap bercanggah pada zahimya dengan syarak, sarna seperti kita memberikan ruang kelapangan dad a kepada al-Imam al-Asy’ariy (r.h.) dalam pandangan beliau bahawa al-wujud itu adalah ‘ayn al-mawjud” yang bermaksud al-wujud itu adalah zat yang sarna dengan zat al- mawjud. Pandangan beliau itu adalah dalam konteks wujud Allah.

    Para sufi dan ramal ulama Islam yang tidak sependapat dengan al- Imam al-Asy’ ariy. Ia adalah pandangan yang mempunyal unsur falsafah yang kemungkinan al-Imam al-Asy’ariy betul atau salah, sarna macam pandangan-pandangan laln yang terdedah kepada betul atau salah. Ulama yang menyanggahi al-Imam al-Asy’ariy berpendapat bahawa al-wujud itu berbeza daripada al-mawjud.86

    Umat Islam juga pernah memberikan kemaafan terhadap tokoh besar Syeikh al-Islam Ibn Taymiyyah (r.h.) dalam isu falsafah ketuhanan. Ada beberapa nas yang dinukilkan daripada Syeikh al- Islam Ibn Taymiyyah yang mengandungi pengakuannya (persetujuannya) dengan pendapat ahli falsafah dalam akidah mereka seperti al-qidam al-naw’iy bagi benda, wujud kekuatan tabiat yang dibekalkan kepada makhluk (al-quwwah al-tabi’iyyah al- muda’ ah fi al-ashya’) yang dengannya (kekuatan tabiat itu) segala sesuatu memperolehi kekuatannya dan keberkesanannya (nothing’iliyyah wa ta’thirah). Nukilan tersebut mengandungi pembelaan Syeikh al- Islam Ibn Taymiyyah dan dakwaan beliau bahawa pendapat itu adalah al-haq yang tidak boleh dipertikalkan lagi. Ulama Islam telah sepakat menyatakan bahawa ahli falsafah Yunani telah jatuh kufur kerana tiga sebab. Sebab yang paling utama ialah pendapat mereka berhubung al-qidam al-naw’iy bagi alam ini.87 Pendapat seumpama ini boleh mendedahkan Syeikh al-Islam Ibn Taymiyyah kepada tuduhan kafir, namun umat Islam boleh memaafkan beliau apabila didapati banyak pula kenyataan-kenyataan beliau sendiri yang menyanggahi pendapat tersebut. Justeru, kenyataan yang betul daripada Syeikh al-Islam Ibn Taymiyyah telah diambil kira oleh ulama dalam menentukan hukuman at au sikap mereka terhadap beliau dan mereka mengabalkan pendapat yang negatifnya walaupun boleh sampal ke tahap boleh ditakfirkan.88

    Penutup

    5.1 Kesimpulan:

    Setelah paparan ringkas berkenaan al-Syeikh Ibn ‘Arabiy, terutamanya tentang pemikirannya, maka dapatlah dibuat beberapa kesimpulan:

    5.1.1 AL-Syeikh Ibn ‘Arabiy adalah seorang ulama besar dan bertaraf wali Allah, malah beliau telah dianggap sebagal al-Syeikh al-Akbar Sultan al-’ Arifin, yang merupakan satu gelaran yang amat tinggi dalam kedudukan tasawwuf.

    5.1.2 Kajian ramal sarjana mendapati bahawa al-Syeikh Ibn , Arabiy adalah bebas daripada pemikiran wahdat al- wujud seperti yang ditafsir oleh pengkritik tasawwuf. Pemikiran wahdat al-wujud yang disandarkan kepada beliau sebenarnya adalah pemikiran atau teori wahdat al-syuhud. Wahdat al-syuhud pula adalah satu teori tasawwuf yang rata-rata mendapat komentar positif daripada ulama. Pengkritik Ibn ‘Arabiy telah tersilap memahaminya dan telah menganggapnya sebagal wahdat al-wujud.

    5.1.3 Jika pengkritik Ibn ‘Arabiy tetap mahu mengaltkan beliau dengan pemikiran wahdat al-wujud, maka pemikiran ini hendaklah difahami sebagalmana yang telah dihuraLl(an oleh para sufi, bukannya sebagalmana yang dihuralkan oleh pengkritik tasawwuf yang terang-terang menyimpang daripada kehendak mereka dalam penggunaan istilah tersebut.

    5.1.4 Kata kunci dalam memahami konsep ini wahdat al- wujud terletak pada kefahaman berkenaan dengan konsep al-wujud dengan segala pecahannya; wahdat al- syuhud, al-wujud al-haqiqiy dan al-wujud al-wahmiy, al- wujud al-haqqiy dan al-wujud al-khalqiy atau wajib al- wujud dan wujud al-mumkinat, al-wujud al-haqq, al- wujud al-mutlaq, al-wujud al-wahid dan laln-laln. Persoalan yang timbul hanya berupa cara pengolahan, pengistilahan dan perumpamaan (tamsthil) yang cuba sedaya upaya dibuat oleh setiap tokoh. Masing- masing mahu menyampalkan apa yang adalah dalam minda tetapi ungkapan itu dikekang oleh keterhadan bahasa, kerana ilmu tasawwuf itu keseluruhannya berasaskan dhawq.

    5.1.5 Pemikiran al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy pada umumnya adalah selari dengan kaedah keilmuan dalam Islam. Banyak ilmu yang dicurahkannya dalam karya-karya beliau adalah merupakan ilmu Islam yang amat berguna.

    5.1.6 “Secara relatif, tahap pemikiran beliau adalah sangat tinggi dalam banyak temp at dalam karya-karya beliau sehingga sukar difahami at au boleh difahami sebaliknya. Pembacaan terhadap karya-karya beliau memerlukan kemampuan pembaca yang tinggi sarna ada dari segi latar belakang ilmu, at au dari segi latar belakang pengalaman tasa wwuf.

    5.1.7 Sebahagian pemikiran al-Syeikh Ibn ‘Arabiy mungkin sangat sukar difahami oleh orang biasa. J usteru, mengambil sikap sederhana terhadap idea-idea tersebut adalah lebih selamat berbanding mentakwil atau menolaknya.

    5.1.8 Penafsiran yang dibuat oleh para sarjana berhubung doktrin tasawwuf al-Syeikh Ibn ‘Arabiy tidak seharusnya diterima bulat-bulat kerana fahaman- fahaman tersebut hanyalah merupakan tanggapan sahaja. Ia bukan satu keyakinan yang mantap sebagalmana yang dikehendaki oleh al-Syeikh Ibn , Arabiy sendiri.

    5.1.9 Penafsiran tentang hakikat al-wujud ini bukannya milik al-Syeikh Ibn ‘Arabiy seorang sahaja, atau mana- mana ahli sufi tertentu sahaja, malah ia adalah persoalan umum yang dibincangkan secara terbuka oleh ulama sufi. Ulama dan sarjana berselisihan pendapat dalam membuat kesimpulan tentang pemikiran ini sehingga ada yang menyimpulkannya bahawa ia adalah w”lhdat al-syuhud dan ada yang menganggapnya sebagal wahdat al-wujud. Semen tara ulama yang menganggap pemikiran itu bercorak sebagal wahdat al-wujud pula mempunyal pandangan yang berbeza-beza tentang pengertian wahdat al-wujud. Maka ada yang mentafsirkan secara positif dan ada yang mentafsirkannya secara negatif dan boleh membawa kepada kufur.

    5.2 Cadangan:


    5.2.1 Masyarakat Islam di Malaysia seharusnya membudayakan budaya ilmu yang harmoni, jauh daripada unsur menghentam ulama, sementelah menyesatkan mereka at au mengkafirkan mereka. Dalam konteks al-Syeikh Ibn ‘ Arabiy, khalayak ilmuan seharusnya selalu memberikan komentar dan mengambil sikap yang sederhana terhadap pandangan-pandangan beliau, terutamanya berkenaan dengan konsep al-wujud.

    5.2.2 Memberikan ruang kelapangan dada kepada al-Syeikh Ibn ‘Arabiy berhubung beberapa pandangan beliau yang dianggap bercanggah pada zahirnya dengan zahir syarak, sarna seperti kita memberikan ruang kelapangan dada kepada al-Imam al-Asy’ ariy (r.h.) dalam pandangan beliau bahawa “al-wujud itu adalah ‘ayn al-mawjud” dan terhadap tokoh besar Syeikh al- Islam Ibn Taymiyyah (r.h.) dalam isu falsafah ketuhanan, seperti seperti isu al-qidam al-naw’iy bagi benda, wujud kekuatan tabiat yang dibekalkan kepada makhluk (al-quwwah al-tabi’iyyah al-muda’ ah fi al-ashya’) yang dengannya (kekuatan tabiat itu) segala sesuatu memperolehi kekuatannya dan keberkesanannya(nothing’iliyyah wa ta’thirah).

    5.2.3 Menumpukan kepada aspek-aspek laln dalam pemikiran al-Syeikh Ibn ‘Arabiy yang selama ini seolah-olahnya ditinggalkan justeru terlampau menumpukan perhatian kepada persoalan kontroversi; wahdat al-wujud. Persoalan tarbiyah ruhiyyah, psikologi dan kaunseling adalah antara ruang yang boleh dikaji dalam pemikiran tokoh besar ini.

    5.2.4 Mengelakkan perbicaraan berkaltan hal-hal kontroversi seperti teori wahdat al-wujud, wahdat al-syuhud dan laln-laln persoalan yang halus dan keliru pada khalayak umum yang tidak memahami persoalan yang halus ini.
    5.2.5 Pengkaji-pengkaji moden harus banyak mengelakkan penggunaan sumber skunder terutamanya yang bersumberkan sarjana-sarjana Barat dalam menganalisis dan membuat kesimpulan tentang pandangan al- Syeikh Ibn ‘Arabiy berhubung hakikat al-wujud, sedangkan petikan-petikan daripada karyanya dilakukan secara sambillewa dan tidak mantap untuk menyimpulkan sedemikian. Hal yang sarna terjadi dalam banyak kajian yang dilakukan oleh sarjana kita ketika melakukan analisis terhadap pemikiran al-Syeikh Hamzah Fansuri dan al-Syeikh Syams al-Din al-Sumatraniy.

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #15 27 April, 2009, 11:15:28 AM
  • Publish

  • Nota Hujung


    1 AI-Mahdiy, Judah Muhammad Abu al-Yazid (Prof. Dr.) (1999) Bihar al-Wilayah al- Muhammadiyyah Fi Manaqib A’lam al-Sufiyyah, Kaherah: Dar Gharib Ii al-Tiba’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi’, h. 461. Lihat ‘Umar Farrukh (Prof. Dr.) (1972), Tarikh al- Fikr aI-’ Arabiy Ila Ayyam Ibn Khaldun, Beirut: Dar al-’Ilm Ii al-Malayin, Wm. 527.
    2 AI-Mahdiy, op.cit., hIm. 461 Zakaria Stapa (Prof) (1993), Ibnu Arabi Tokoh Sufi (560H/638H-1165M/1240M), Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Wm. 1.
    3 AI-Mahdiy, h. 461.-
    4 Surur, al-Syaykh Taha ‘ Abd al-Baqi (t.th.), Muhy aI-Din Ibn ‘ Arabiy, Kaherah: Matba’ah al-Khanji, h. 14.
    5 AI-Mahdiy, h. 461.
    6 Hilmiy, aI-Syaykh Muh Syaykh aI-Akbar, Kaher
    7 AI-Mahdiy, op.cit., hIm. 463.
    8 Ibn al-’Imad al-Hanbaliy, Abu al-Falah ‘ Abd aI-Hay ibn al-’Imad al-Hanbaliy, Syadllarat al-Dhahab Fi Akhbar Man Dhahab, al-Maktab al- Tijariy Ii al- Tiba’ ah Wa al- Nasyr Wa al-Tawzi’, Beirut, t.th. j. 5, him. 200.
    9 AI-Hafidh dalam istilah ulama hadith ialah seorang ahli hadith yang memenuhi sifat- sifat seorang al-muhaddith, banyak menghafaz clan mengumpulkan banyak turuq dalam riwayat hadith. Sebahagian ulama mutakhirin menganggap bahawa al-hafiz ialah orang yang menghafaz 100,000 hadith Nabi (s.a. w.) dari segi matan clan sanad. Lihat aI-Khatib, Dr. Muhammad’ Ajjaj, Usul al-Hadith, Beirut: Dar al-Fikr, hIm. 448.
    10 AI-Mahdiy, op.cit., hIm. 465.
    11 Mujtahid Mutlaq ialah seorang yang mencapai tarat layak berijtihad secara mutlak tanpa ikatan dengan mana-mana ulama lain. Contoh mujtahid mutlaq ialah seperti al- Imam al-Syafi’iy, aI-Imam Malik, aI-Imam Abu Hanifah clan aI-Imam Ahmad ibn Hanbal. Mereka semua digelar Mujtahid Mutlaq.
    12 Bab 367.
    13 Ibn al-’lmad al-Hanbaliy, op. cit.
    14 AI-Tu’miy, Muhy aI-Din (1994), Tabaqat al-Syadhiliyyah al-Kubra, Beirut: Dar al-Jil,
    1996, j.l, hIm. 188.
    15 Zakaria Stapa (Prof) (1993), lbnu Arabi Tokoh Sufi (560H/638H-1165M/1240M), Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, hIm. 33.
    16 Zakaria Stapa (Prof) (1993), Ibnu Arabi Tokoh Sufi (560H/638H-1165M/1240M), Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, him. 38-41.
    17 Sulaiman bin Ibrahim, al- Turuq, him. 98.
    18 Al-Sya’raniy (1378H), al-Yawaqit wa al-Jawahir, Kaherah: Matba’ah Mustafa al-Babiy al-Halabiy, j.l, him. 8.
    19 AI-Suyutiy, aI-Imam al-Hafidh Jalal aI-Din al-SuyutiY-{tih.), Tanbi’ah al-Ghabiy bi Tabri’ah Ibn ‘Arabiy, sunt. Muhammad Ibrahim Salim, Kaherah: Oar al-’l1m wa al- Thaqafah, hIm. 39-41.
    20 Ibid.
    21 AI-Sya’raniy, aI-Imam I Abd al-Wahhab al-Sya’raniy, al-Kibrit al-Ahmar Fi Bayan ‘Ulum al-Syaykh aI-Akbar, j,l. him. 2-3.
    22 AI-Sya’raniy, aI-imam’ Abd aI-Wahhab aI-Sya’raniy, Lawaqih aI-Anwar aI-Qudsiyyah. Lihat aI-Mahdiy, op.cit., hIm. 471
    22 AI-Sya’raniy, aI-imam’ Abd aI-Wahhab aI-Sya’raniy, Lawaqih aI-Anwar aI-Qudsiyyah. Lihat aI-Mahdiy, op.cit., hIm. 471.
    23 Zakaria Stapa (Prof.), op.cit., hIm. 48-49.
    24 Lihat pembahagian seumpama ini dalam al-SuyutiYI aI-Imam al-Hafidh Jalal aI-Din al-Suyutiy (t.th.), Tanbi/ah al-Ghabiy bi Tabri/ah Ibn I ArabiYI stint. Muhammad Ibrahim Salim, Kaherah: Dar al-/lIm wa al-Thaqafah, hIm. 39-41.
    25 Al-SakandariYI Abu al-Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn I Abd aI-Karim ibn I Ata’ Allah al-Sakandariy (1992), Lata/if al-Minan Fi Manaqib al-Syaykh Abi aI-’ Abbas al-Mursiy wa Syaykhihi Abi aI-Hasan al-SyadhiliYI stint. al-Syaykh Khalid I Abd aI-Rahman al- I Akk, Damsyik: Dar al-Basya’ir, hIm. Lihat juga al-SuV11tiy. op.cit., him. 41-42.
    26 Kautsar Azhari Noer (1995), Ibn ‘ Arabiy -Wahdat al-Wujud Dalam Perdebatan, Jakarta: Penerbit Paramadina, him. 17.
    27 Madkur, Ibrahim Bayyumi (1969), ‘Wahdah al-Wujud Bayn Ibn ‘ Arabiy wa Spinoza”, . dalam al-Kitab al-Tidhkariy: Muhy aI-Din Ibn ‘ Arabiy, sunt. Ibrahim Bayyumi Madkur, Kaherah: Oar al-Kitab aI-’ Arabiy, hIm. 369.
    28 Lihat Kautsar Azhan Noer (1995), op.cit., hIm. 144 (catatan nombor 1).
    29 AI-Hakim, Su’ad aI-Hakim (Prof. Dr.), al-Mu’jam al-Sufiy: al-Hikmah Fi Hudud al- Kalimah, Dandarah Ii al-Tiba’ah wa al-Nasyr, Beirut, 1981, hIm. 1145.
    30 Madkur, Ibrahim Bayyumi (1969), op.cit., him. 369-370. 31 AI-Hakim, Su’ad aI-Hakim, op.cit. , hIm. 1145.
    32 Lihat Ibn Taymiyyah (1984), Majmu’ aI-rasa’ iI, Kaherah: Matba’ah aI-Madani, hIm.
    167. clan perkataan yang digunakan ialah “madhhab al-wahdah”. 33 Kautsar Azhan Noer, op.cit., hlm.36-37.
    34 AI-Hakim, Su’ad aI-Hakim (Prof. Dr.), al-Mu’jam al-Sufiy: al-Hikmah Fi Hudud al- Kalimah, Dandarah Ii al-Tiba’ah wa al-Nasyr, Beirut, 1981, hIm. 1145.
    35 Ibn ‘ Arabiy, Fusus al-Hikam, j. 4, him. 357. 36 AI-Hakim, op. cit., him. 1145.
    37 Lihat Kautsar Azhari Noer (1995), op.cit., him. 35.
    38 Ibn ‘Arabiy, Fusus al-Hikam, j. 1, hIm. 104. 39 Ibn ‘Arabiy, Fusus al-Hikam, j. 4, hIm. 279. 40 AI-Hakim, OF. cit., Wm. 1147.
    41 Dr. Kamis bin Ismail, Shicah Dan Pengaruhnya Dalam Bidang Politik Dan Tasawuf Falsafah di Alam Melayu Zaman Tradisional, Tesis doktor falsafah, Fakulti Sa ins Sosial dan Kemasyarakatan, UKM, Bangi, 2003, Wm. 243
    42 AI-Hakim, op. cit., hIm. 1145. Prof. Dr. Su’ad aI-Hakim menangkis ketergesaan Dr. Abu aI-’ Ala’ Afifi yang secara terang-terangan clan secara tergesa-gesa -menurut pandangan Su’ad aI-Hakim- menetapkan kaitan Ibn ‘ Arabiy dengan doktrin wahdah aI-wujud. Lihat ibid., hIm. 1155 clan Iihat Dr. Abu aI-’ Ala’ Afifi (t.th.) dalam mukadimahnya untuk kitab Fusus al-hikam, Beirut: Oar aI-Kitab aI-’ Arabiy, hIm. 25-26. ~,.
    43 AI-Hakim, op. cit., hIm. 1149. “I’ 44 Ibn’ Arabiy, Fusus aI-Hikam, j. 4, hIm. 410. 45 AI-Hakim, op. cit.. hIm ‘148.
    46 ‘ Ata ‘ Abd al-Qadir Ahmad (1987), al- Tasawwuf al-lslamiy barn al-asalah wa al-iqtibas fi ‘ Asr al-Nabulsi, Beirut: Oar al-Jil., hIm. 346.
    47 I Ata I Abd al-Qadir Ahmad (1987), op.cit., hIm. 346-347.
    48 Yusuf Zaydan (1988), I Abd ai-Karim al-Jiliy Faylasuf al-Sufiyyah, Kaherah: al-Hay’ah al-Misriyyah aI-’ Ammah Ii aI-Kitab, hIm. 151 & Yusuf Zaydan (1988), al-Fikr al-Sufiy ‘Ind I Abd aI-Karim al-Jiliy, Beirut: Oar al-Nahdah aI-’ Arabiyyah, him. 184-187.
    49 ‘Abd al-Halim Mahmud (Prof. Dr.) (t.th.), Qadiyyat al- Tasawwuf al-Munqidh Min al- Dalal, Kaherah: Dar al-Ma’arif, him. 155.
    50 Liha t http: / / http://www.khayma.com/iniernetclinic/ mathahb / aiogodea.htm.
    51 Lihat Shaykh Dawud ibn ‘Abd Allah al-Fataniy, Tuhfat al-Raghibin fi Suluk Tariq al- Muttaqin, dalam Hj. Wan Mohd Shaghir Abdullah (1992), Manhal al-Shafi Syeikh Daud al-Fatani, Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah, hIm p~ dan 92.
    53 Kautsar Azhari Noer, op. cit., hIm. 34-35.
    54 Lihat al-Jiliy, , Abd aI-Karim al-Jiliy, al-Insan al-Kamil, j.l, hIm. 28 dan Yusuf Zaydan (1988), op.cit., hIm. 159-160.
    55 Lihat aI-Tilly, al-Insan al-Kamil, j.l, hIm. 28 dan Yusuf Zaydan (1988), op.cit., hIm. 159-
    160. 56 Pelbagai kupasan telah diberikan terhadap hikmah-hikmah (hikam) beliau, namun kesimpulan Prof. Dr. Abu al-Wafa al- Taftazaniy menegaskan bahawa setelah diteliti lama dan mendalam, didapati bahawa tasawuf al-Syaykh al-Sakandariy bersih daripada fahaman wahdat al-wujud, al-hulul dan al-ittihad. Lihat al- Taftazaniy, Abu al-Wafa al-Ghunaymi (Dr.) (1969), Ibn lAta’ Allah al-Sakandariy wa Tasawwufuhu , Kaherah: Maktabah aI-Anglo AI-Misriyyah, hIm. 65.
    57 ‘Abd al-Halim Mahmud (Prof. Dr.) (t.th.), Qadiyyat al- Tasawwuf al-Madrasah al- Syadhiliyyah, Kaherah: Dar al-Ma’arif, hIm. 248.
    58 AI-Sakandariy, (1992), Lata’if aI-Millan, hIm. 214.
    59 AI-Sakandariy, (1992), Lata’if al-Minan, him. 214.
    60 Khalaf Allah, Ahmad ‘Izz aI-Din’ Abd Allah (Uh.), al-Hikam Ii Ibni ‘ Ata’ Allah al- Sakandariy, Aqwa Dustur Tarbawiy Fi al-Qarn al-Sabi’ al=-Hijriy, Kaherah: al- Maktabah al-Azhariyyah Ii al- Turath, bab I, hikmah 16, hIm. 107.
    61 Ibn ‘ Ajibah, Ahmad ibn Muhammad ibn ‘ Ajibah al-Hasaniy (t.th.), Iqaz al-Himam Fi Syarh al-Hikam, Kaherah: Dar al-Ma’arif, hIm. 83.
    62 Ibid.
    63 Ibn’ Abbad, aI-Imam Muhammad ibn Ibrahim ibn Abd Allah al-Nafaziy al-Rindiy (t.th.), Ghayth al-Mawahib al-’ Aliyyah Bi Syarh al-Hikam al-’ Ata’iyyah, sunt. ai-Imam Prof. Dr. ‘ Abd al-Halim Mahmud dan Dr. Mahmud ibn al-Syarif, Kaherah: Dar al- Ma’am, j. I, him. 130,307-308.
    64 Zarruq, Ahmad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Isa al-Burnusiy (1405H), Syarh al- Hikam, sunt. aI-Imam Prof. Dr. ‘ Abd al-Halim Mahmud dan Dr. Mahmud ibn al- Syam, Kaherah: Dar al-Sya’b, him. 46 & 175.

    65 Al-Syarqawiy, Syaykh aI-Islam’ Abd Allah ibn Hijaziy ibn Ibrahim (2003), al-Minah aI- Qudsiyyah ‘ala al- Hikam al-’ Ata’iyyah, Kaherah: Maktabah Tahir Ii al- Turath, him. 24 & 136.
    66 AI-Syarnubiy, al-Syaykh’ Abd aI-Majid al-Syarnubiy al-Azhariy (1999/1420H), Hikam Ibn lAta’ A Ila h al-Sakandariy, Kaherah: Maktabah al-Qahirah.
    67 AI-Qusyayriyyah, Abu al-Qasim ‘ Abd aI-Karim ibn Wawazin al-Qusyayriy al- Naysaburiy (1993), al-Risalah al-Qusyayriyyah, sunt. Ma’ruf Zurayq & ‘ Aliy , Abd al- Hamid al-Baltahjiy, Beirut: Dar al-Khayr, hIm. 62
    68 AI-Butiy, Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Butiy, al-Hikam al-’Ata’iyyah: Syarh wa Tahlil, Oar al-Fikr, Damsyik, 2001.
    69 ‘Abd al-Halim Mahmud, op. cit” hIm 156.
    70 Ibid, hIm. 155.
    71 Tentang pantheism, lihat Kautsar Azhari Noer, op.cit., hlm 159-217. 72 Abd al-Halim Mahmud, op.cit., hIm 154.
    73 Al-Qat’aniy, al-Syaykh Ahmad al-Qat’aniy (1992), al-Hujjah al-Mu’tah Fi al-Radd ‘Ala
    Sahib Kitab Ila. al- Tasawwuf Ya Ibad Allah, Kaherah: Maktabah Jumhuriyyah Misr, 234-235.

    74 ‘Abd al-Halim Mahmud, op.cit., him. 163.
    75 Seyyed Hossein Nasr (1969), Three Muslim Sages: Avicenna -Suhrawardi -Ibn ‘Arabi, Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press, hIm. 106-107. Lihat Zakaria Stapa, op.cit., him. 73.
    76 Ahl al-fudul ialah orang yang banyak melakukan perbuatan yang sia-sia.
    77 Ibn I Arabiy, al- Tanazzulat al-Layliyyah Fi al-Ahkam al-llahiyyah, sunt. Al-Syaykh ‘Abd aI-Rahman Hasan Mahmud, Kaherah: I Alam al-Fikr, hIm. 53.
    78 Ibn ‘Arabiy, al- Tanazzulat, hIm. 570
    79 Kautsar, of. cito, hIm. 39-40. Lihat juga Dr. Kamis Ismail, hIm. 246.
    80 Hasan Abu’ Ammar (1993), , Aqidah Shi’ah seri Tawhid -rasionalis’me dan alam pemikiran filsafat dalam Islam, Yayasan al-Muntazhar, t.tapi., cet. 1, hIm. 180. Lihat Dr. Kamis bin IsmaiL op.cit., him. 247;
    81 Dr. Khamis, ibid., him. 247.
    82 Ibid.
    83 Ibid., him. 248.
    84 Dr. Kamis, ibid., hIm. 248.
    85 Dr. Kamis, hIm. 248.
    86 ‘ Abd al-Halim Mahmud, op.cit., hIm. 155.
    87 AI-Butiy, Muhammad Sa’id Ramadan al-Butiy (Prof. Dr.) (1990), al-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah, lah Madhhab Islamiy, Damsyik: lah al-Fikr, c. 2.
    hIm. 205.
    88 ibid.

    Rujukan


    AL-Quran al-Karim.

    ‘Abd al-Halim Mahmud (Prof. Dr.) (t.th.), Qadiyyat al-Tasawwufal- Munqidh Min al-Dalal, Kaherah: Dar al-Ma’arif.

    ‘Abd al-Halim Mahmud (Prof. Dr.) (t.th.), Qadiyyat al-Tasawwufal- Madrasah al-Syadhiliyyah, Kaherah: Oar al-Ma’ arif.

    ‘Ata ‘Abd al-Qadir Ahmad (1987), al- Tasawwuf al-lslamiy bayn al- asalah wa al-iqtibas fi ‘Asr al-Nabulsi, Beirut: Dar al-JiI.

    ‘Umar Farrukh (Prof. Dr.) (1972), Tarikh al-Fikr al-’Arabiy Ila Ayyam Ibn Khaldun, Beirut: Dar al-’Ilm Ii al-Malayin.

    AL-Butiy, Muhammad Sa’id Ramadan al-Butiy (Prof. Dr.) (1990), al- Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah, lah Madhhab Islamiy, Damsyik: lah al-Fikr.

    AL-Butiy, Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Butiy (2001), al- Hikam al-’ Ata’iyyah: Syarh wa Tahlil, Dar al-Fikr, Damsyik.

    Haji Khalifah (1360H/1941M), Kasyfal-Zunun ‘An Asami al-Kutub wa al-Funun, T. tapi: Matba’ ah al-Ma’ arif al- Turkiyyah.

    AL-Hakim, Su’ad al-Hakim (Prof. Dr.) (1981), al-Mu’jam al-Sufiy: al- Hikmah Fi Hudud al-Kalimah, Dandarah Ii al- Tiba’ ah wa al- dan asyr, Beirut.

    AL-Khatib, Dr. Muhammad’ Ajjaj (1990), Usul al-Hadith, Beirut: Dar al-Fikr.

    AL-Mahdiy, Judah Muhammad Abu al-Yazid (Prof. Dr.) (1998), Bihar al-Wilayah -al-Muhammadiyyah Fi Manaqib A’lam al- Sufiyyah, Kaherah: Dar Gharib Ii al-Tiba’ah wa al-Nasyr wa al- Tawzi’.

    AL-Qat’aniy, al-Syeikh Ahmad al-Qat’aniy (1992), al-Hujjah al- Mu’tah Fi a!-Radd ‘Ala Sahib Kitab Ila al- Tasawwuf Ya ‘Ibad Allah, Kaherah: Maktabah Jumhuriyyah Misr.

    AL-Qusyayriyyah, Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim ibn Wawazin al- Qusyayriy al-Naysaburiy (1993), al-Risalah al-Qusyayriyyah, sunt. Ma’ruf Zurayq & ‘ Aliy , Abd al-Hamid al-Baltahjiy, Beirut: Dar al-Khayr.

    AL-Sakandariy, Abu al-Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Abd al- Karim ibn ‘ Ata’ Allah al-Sakandariy (1992), Lata’ifal-Minan Fi Manaqib al-Syeikh Abi al-’ Abbas al-Mursiy wa Syeikhihi Abi al- Hasan al-Syadhiliy, sunt. al-Syeikh Khalid ‘ Abd al-Rahman al- , Akk, Damsyik: Dar al-Basya’ir.

    AL-Suyutiy, al-Imam al-Hafidh Jalal al-Din al-Suyutiy (t.th.), Tanbi’ ah al-Ghabiy bi Tabri’ ah Ibn ‘Arabiy, sunt. l1uhammad Ibrahim Salim, Kaherah: Dar al-’ 11m wa al- Thaqafah.

    AL-Sya’raniy (1378H), al- Yawaqit wa al-Jawahir, Kaherah: Matba’ ah Mustafa al-Babiy al-Halabiy.

    AL-Sya’raniy, al-Imam’ Abd al-Wahhab al-Sya’raniy, al-Kibrit al- Ahmar Fi Bayan ‘Ulum al-Syeikh al-Akbar.

    AL-Sya’raniy, al-Imam’ Abd al-Wahhab al-Sya’raniy, Lawaqih al- Anwar al-Qudsiyyah.

    AL-Syarnubiy, al-Syeikh ‘ Abd al-Majid al-Syarnubiy al-Azhariy (1999/1420H), Hikam Ibn ‘Ata’ Allah al-Sakandariy, Kaherah: Maktabah al-Qahirah.

    AL-Syarqawiy, Syeikh al-Islam’ Abd Allah ibn Hijaziy ibn Ibrahim (2003), al-Minah al-Qudsiyyah ‘ala al- Hikam al-’ Ata’iY.1/ah. Kaherah: Maktabah Tahir Ii al- Turath.

    Al-Taftazaniy, Abu al-Wafa al-Ghunaymi (Dr.) (1969), Ibn ‘Ata’Allah al-Sakandariy wa Tasawwufuhu , Kaherah: Maktabah al-Anglo AL-Misriyyah. i

    AL- Tu’miy, Muhy al-Din (1994), Tabaqat al-Syadhiliyyah al-Kubra,
    Beirut: Dar al-Iii.

    Doktor Kamis bin Ismall, Shiah Dan Pengaruhnya Dalam Bidang Politik Dan Tasawwuf Falsafah di Alam Melayu Zaman Tradisional, Tesis doktor falsafah, Fakulti Salns Sosial dan Kemasyarakatan, UKM, Bangi, 2003.

    Hasan Abu’ Ammar (1993), ‘Aqidah Shi’ah seri Tawhid -rasionalisme dan alam pemikiran filsafat dalam Islam, Yayasan al-Muntazhar, Up., cet. 1.

    Hilmiy, al-Syeikh Muhammad Rajab al-Qadiriy (t.th.), al-Burhan al- Azhar Fi Manaqib al-Syeikh al-Akbar, Kaherah: Matba’ah al- Sa’adah.

    Ibn ‘ P.bbad, al-Imam Muhammad ibn Ibrahim ibn ‘ Abd Allah al- Nafaziy al-Rindiy (t.th.), Ghayth al-Mawahib al-’ Aliyyah Bi Syarh al-Hikam al-’ Ata’iyyah, sunt. al-Imam Prof. Dr. ‘ Abd al-
    Halim Mahmud dan Dr. Mahmud ibn al-Syarlf, Kaherah: Dar
    al-Ma’arif.

    Ibn ‘Ajibah, Ahmad ibn Muhammad ibn ‘ Ajibah al-Hasaniy (t.th.), Iqaz al-Himam Fi Syarh al-Hikam, Kaherah: Dar al-Ma’ arif.

    Ibn ‘Arabiy Abu Bakr Muhy al-Din Muhammad ibn ‘ Aliy ibn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘ Abd Allah al-Hatimiy (t.th.), Fusus al-Hikam, sunt. Dr. Abu al-’Ala’ Afifi, Beirut: Oar al- Kitab al-’ Arabiy.

    Ibn ‘ Arabiy, Abu Bakr Muhy al-Din Muhammad ibn ‘ Aliy ibn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘ Abd Allah al-Hatimiy (1392H/ 1972M), al-Futuhat al-Makkiyyah, sunt. ‘Uthman Yahya, Kaherah: al-Hay’ ah al-Misriyyah al-’ Ammah li al-Kitab.

    Ibn / Arabiy, al- Tanazzulat al-Layliyyah Fi al-Ahkam al-Ilahiyyah, sunt. AL-Syeikh / Abd al-Rahman Hasan Mahmud, Kaherah: / Alam
    al-Fikr.

    Ibn al-’Imad al-Hanbaliy, Abu’al-Falah’ Abd al-Hay ibn al-’Imad al- Hanbaliy (t.th.), Syadharat al-Dhahab Fi Akhbar Man Dhahab, Beirut: al-Maktab al-Tijariy Ii al-Tiba’ah Wa al-Nasyr Wa al-
    Tawzi’.

    Ibn Khaldun, ‘Abd al-Rahman Ibn Muhammad (1957), al- Muqaddimah, Beirut: Dar al-Kitab al-’ Arabiy.

    Ibn Taymiyyah (1984), Majmu’ al-rasa’il, Kaherah: Matba’ah al- Madani.

    Kautsar Azhari Noer (1995), Ibn ‘Arabiy -Wahdat al-Wujud Dalam Perdebatan, Jakarta: Penerbit Paramadina.

    Khalaf Allah, Ahmad ‘Izz al-Din / Abd Allah (t.th.), al-Hikam Ii Ibni
    ‘Ata’ Allah al-Sakandariy, Aqwa Dustur Tarbawiy Fi al-Qarn al- Sabi’ al-Hijriy, Kaherah: al-Maktabah al-Azhariyyah Ii al-
    Turath.

    Madkur, Ibrahim Bayyumi (1969), “Wahdah al-wujud Bayn Ibn ‘Arabiy wa Spinoza”, dalam al-Kitab al- Tidhkariy: Muhy al-Din Ibn ‘Arabiy, sunt. Ibrahim Bayyumi Madkur, Kaherah: Dar al- Kitab al-’ Arabiy.

    Seyyed Hossein Nasr (1969), Three Muslim Sages: Avicenna -
    Suhrawardi -Ibn ‘Arabi, Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

    Sulalman bin Ibrahim (2002), al- Turuq al-Sufiyyah Fi Maliziya,
    Seremban: Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan.

    Surur, al-Syeikh Taha ‘ Abd al-Baqi (t.th.), Muhy al-Din Ibn ‘Arabiy, Kaherah: Matba’ ah al-Khanji.

    Yusuf Zaydan (1988), ‘Abd al-Karim al-Jiliy Faylasuf al-Sufiyyah, Kaherah: al-Hay’ah al-Misriyyah al-’ Ammah li al-Kitab.

    Yusuf Zaydan (1988), al-Fikr al-Sufiy ‘lnd ‘Abd al-Karim al-Jiliy, Beirut: Oar al-Nahdah al-’ Arabiyyah.

    Zakaria Stapa (Prof) (1993), lbnu Arabi Tokoh Sufi (560Hj638H- 1165Mj1240M), Kuala Lumpur: Dewan Bahasa daR Pustaka.
    Zarruq, Ahmad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Isa al-Burnusiy (1405H), Syarh al-Hikam, sunt. al-Imam Prof. Dr. ‘Abd al- Halim Mahmud dan Dr. Mahmud ibn al-Syarif, Kaherah: Dar al-Sya’b.

    (Tamat)

    Dipetik dari buku: Munaqashah Sufi Peringkat Kebangsaan 2004, anjuran Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan Darul Khusus.

    Sumber : Malakian

    p/s: Untuk memasuki tasawuf peringkat yang mendalam biarlah bertanya dengan ahlinya. Saya mengingatkan sekali lagi, berhati-hati dengan golongan yang menggunakan kalam ulamak, pada suatu masa digunakan pendapat ulamak itu untuk membela pendapatnya dan golongannya. Dalam masa yang lain ulama itu dihukum sesat, kafir dan sebagainya. Jom Fikir. WaLLahua'lam

    IbnuNafis

    • *
    • Posts: 1281
      • View Profile
    Reply #16 27 April, 2009, 11:16:50 AM
  • Publish
  • Untuk mengelakkan dari pertikaian dan ketidakfahaman orang yang tidak memahami tasawuf dan kemudian mengeluarkan pernyataan sesuka hati tanpa ilmu. Saya lock topic ini. Maaf dan terima kasih.

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14514
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #17 27 April, 2009, 11:20:50 AM
  • Publish

  • Bagus Ustaz Ibnu Nafis, saya setuju topik ini dikunci kerana bukan semua halaqian memahami apa yang sedang  dibincangkan dan cuba dihuraikan di sini.

    Sembilu Kasih

    • *
    • Posts: 415
      • View Profile
    Reply #18 06 January, 2011, 08:45:17 AM
  • Publish
  • Salah seorang ahli sufi besar dan berpengaruh dalam sejarah perkembangan tasauf dalam dunia Islam ialah Ibnu Arabi.

    Nama lengkapnya ialah Muhiddin Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Hatimi al-Ta'i.

    Beliau juga dikenali dengan gelaran Muhy ad-Din (Penghidup Agama) dan Sheikh al-Akbar (Guru Terbesar). Ibnu Arabi terkenal dengan doktrinnya tentang Wahdah al-wujud (kesatuan wujud) yang mengakibatkan beliau dikritik dan dikafirkan oleh ulama.

    Setelah berkelana ke pelbagai tempat, beliau menetap di Damsyik, Syria sampai akhir hayatnya. Di sana beliau merasakan peringkat terakhir perjalanannya yang juga merupakan peringkat kematangan kerohanian dan intelektualnya sebagai seorang ahli sufi.

    Ibu Arabi terkenal dengan Fahaman Wahdah-al-Wujud. Menurutnya tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Hanya ada satu kewujudan hakiki, iaitu Tuhan.

    Segala yang ada selain Tuhan hanyalah tampakan lahiriah daripada-Nya. Kewujudan makhluk bergantung kepada kewujudan Tuhan, atau berasal daripada kewujudan Tuhan.

    Manusia yang sempurna (insan kamil) merupakan pusat tampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Oleh sebab konsepnya ini, Ibnu Arabi dianggap kafir oleh ulama lain.

    Pengaruh Ibnu Arabi terhadap perkembangan tasauf, khususnya tasauf falsafah sangat luar biasa. Gagasan kesufian Ibnu Arabi tersebar ke seluruh dunia Islam dan mendapat pengikut yang tidak terhitung jumlahnya.

    Di Indonesia, pemikiran Ibnu Arabi juga tersebar luas. Hal ini terbukti dengan banyaknya ulama yang membawa fahaman Wahdah al-wujud, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Abdus Samad al-Palimbani.

    Ada sekitar 300 judul buku yang dihasilkan oleh Ibnu Arabi. Sebahagian besar ditulis semasa berkelana untuk menuntut ilmu. Antara karyanya yang terkenal ialah Futuhat al Makkiyyah (Penaklukan Makkah).

    Dalam karyanya itu, Ibnu Arabi menulis bahawa Allah SWT melalui malaikat yang menyampaikan ilham kepadanya. Kitab ini mengandungi huraian tentang prinsip metafizik, ilmu keagamaan dan pengalaman kerohanian Ibnu Arabi sendiri.

    Fusus al-Hikam (Permata Hikmah) ialah karya Ibnu Arabi yang ditulis 10 tahun sebelum beliau meninggal dunia. Menurut pengakuan Ibnu Arabi, karya ini diterimanya daripada Nabi Muhammad SAW dalam mimpinya, yang menyuruh beliau menyebarkannya kepada seluruh umat manusia agar mereka dapat mengambil manfaat daripada karya itu.

    Kitab tersebut bertujuan memaparkan aspek tertentu kebijaksanaan Ilahi dalam konteks kehidupan 25 orang nabi dan rasul.


    http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2011&dt=0104&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    1 Replies
    2383 Views
    Last post 11 September, 2009, 10:34:58 AM
    by acit
    2 Replies
    539 Views
    Last post 05 February, 2013, 10:12:29 PM
    by nazri0070
    8 Replies
    791 Views
    Last post 15 November, 2013, 12:03:57 AM
    by al_ahibbatu