Pendidikan Seks Untuk Anak

Author Topic: Pendidikan Seks Untuk Anak  (Read 6592 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

alhaudhie

  • *
  • Posts: 2060
    • View Profile
08 October, 2007, 07:52:50 AM
  • Publish Di FB

  • Pendidikan Seks Untuk Anak
    Oleh: Zulia Ilmawati
    Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Remaja

    Perdebatan tentang perlu-tidaknya pendidikan seks diberikan kepada anak bermula dari keprihatinan terhadap pergaulan remaja saat ini. Para pemerhati masalah remaja berpendapat, seks bebas yang sekarang ini menggejala salah satunya disebabkan karena pengetahuan remaja tentang seksualitas masih sangat rendah. Karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk memasyarakatkan pendidikan seks kepada remaja. Program-program pendidikan seks pun mulai digulirkan, bahkan ada yang berpendapat bahwa pendidikan seks seharusnya diberikan sedini mungkin. Jika perlu, di bangku prasekolah pun ada kurikulum yang membahas khusus tentang pendidikan seks. Benarkah sepenting itu pendidikan seks bagi anak? Bagaimana Islam memandang persoalan ini? Apa itu Pendidikan Seks?

    Ada banyak pengertian tentang apa itu pendidikan seks, bergantung pada sudut pandang yang dipakai. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan. Dengan begitu, jika anak telah dewasa, ia akan dapat mengetahui masalah-masalah yang diharamkan dan dihalalkan; bahkan mampu menerapkan perilaku islami dan tidak akan memenuhi naluri seksualnya dengan cara-cara yang tidak islami.

    Pendidikan seks di dalam Islam merupakan bagian integral dari pendidikan akidah, akhlak, dan ibadah. Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sendiri, bahkan mungkin akan menimbulkan kesesatan dan penyimpangan dari tujuan asal manusia melakukan kegiatan seksual dalam rangka pengabdian kepada Allah. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari tuntutan syariat Islam.

    Siapa yang Bertanggung Jawab?

    Orangtua manapun tentu selalu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik. Anak adalah generasi yang diciptakan untuk kehidupan masa depan. Sepantasnyalah orangtua memberikan bekal berupa pendidikan yang menyeluruh, termasuk pendidikan seks. Orangtua dituntut memiliki kepekaan, keterampilan, dan pemahaman agar mampu memberi informasi dalam porsi tertentu, yang justru tidak membuat anak semakin bingung atau penasaran. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam masalah pendidikan, termasuk pendidikan seks. Jadi, dalam hal ini, sesungguhnya tidak mutlak diperlukan adanya kurikulum khusus tentang pendidikan seks di sekolah-sekolah.

    Pokok-Pokok Pendidikan Seks Perspektif Islam

    Di antara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterapkan dan diajarkan kepada anak adalah:

    1. Menanamkan rasa malu pada anak.

    Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Membiasakan anak perempuan sejak kecil berbusana Muslimah menutup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.

    2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.

    Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, harus dibiasakan dari kecil anak-anak berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata:

    Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR al-Bukhari).

    3. Memisahkan tempat tidur mereka.

    Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Jika pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orangtuanya, setidaknya anak telah dilatih untuk berani mandiri. Anak juga dicoba untuk belajar melepaskan perilaku lekatnya (attachment behavior) dengan orangtuanya. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

    4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu).

    Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat, yakni waktu ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka (Lihat: QS al-Ahzab [33]: 13). Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.

    5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.

    Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training). Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.

    6. Mengenalkan mahram-nya.

    Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak. Dengan demikian dapat diketahui dengan tegas bahwa Islam mengharamkan incest, yaitu pernikahan yang dilakukan antar saudara kandung atau mahram-nya. Siapa saja mahram tersebut, Allah Swt telah menjelaskannya dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 22-23.

    7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.

    Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau film yang mengandung unsur pornografi. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

    8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.

    Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diboleh-kan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Mereka bebas mengumbar pandangan, saling berdekatan dan bersentuhan; seolah tidak ada lagi batas yang ditentukan syariah guna mengatur interaksi di antara mereka. Ikhtilât dilarang karena interaksi semacam ini bisa menjadi mengantarkan pada perbuatan zina yang diharamkan Islam. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.

    9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.

    Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilât, khalwat pun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. jika bermain, bermainlah dengan sesama jenis. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat.

    10. Mendidik etika berhias.

    Berhias, jika tidak diatur secara islami, akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa. Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan maksiat.

    11. Ihtilâm dan haid.

    Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata. Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi. Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

    Itulah beberapa hal yang harus diajarkan kepada anak berkaitan dengan pendidikan seks. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

    http://dakwah.info/?p=13
    ISLAM untuk semua

    - Pentadbiran
    - Pondok Tahfiz

    Sum79

    • *
    • Posts: 569
    • THE TRUTH IS OUT THERE!!
      • View Profile
    Jawab #1 30 September, 2009, 02:35:43 PM
  • Publish Di FB


  • Siapa yang Bertanggung Jawab?

    Orangtua manapun tentu selalu menginginkan anaknya menjadi anak yang baik. Anak adalah generasi yang diciptakan untuk kehidupan masa depan. Sepantasnyalah orangtua memberikan bekal berupa pendidikan yang menyeluruh, termasuk pendidikan seks. Orangtua dituntut memiliki kepekaan, keterampilan, dan pemahaman agar mampu memberi informasi dalam porsi tertentu, yang justru tidak membuat anak semakin bingung atau penasaran. Orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap anak dalam masalah pendidikan, termasuk pendidikan seks. Jadi, dalam hal ini, sesungguhnya tidak mutlak diperlukan adanya kurikulum khusus tentang pendidikan seks di sekolah-sekolah.


    http://dakwah.info/?p=13

    betul2..kita ni bakal ibu bapa kena bertanggungjawab..
    "It's better to be hated for what you are, than to be loved for what you're not..." - Kurt Cobain

    Arozi

    • *
    • Posts: 684
      • View Profile
    Jawab #2 30 September, 2009, 02:41:32 PM
  • Publish Di FB
  • ramai ibibapa zaman sekarang terlepas pandang dlm bab ni....subhaanallah!

    elbeesan

    • *
    • Posts: 252
      • View Profile
    Jawab #3 30 September, 2009, 05:06:14 PM
  • Publish Di FB


  • Ada banyak pengertian tentang apa itu pendidikan seks, bergantung pada sudut pandang yang dipakai. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri, dan perkawinan. Dengan begitu, jika anak telah dewasa, ia akan dapat mengetahui masalah-masalah yang diharamkan dan dihalalkan; bahkan mampu menerapkan perilaku islami dan tidak akan memenuhi naluri seksualnya dengan cara-cara yang tidak islami.


    Ramai orang salah erti tentang pendidikan seks.. Sebab tu la sukar nak dilaksanakan..

    mardhiah

    • *
    • Posts: 1
      • View Profile
    Jawab #4 26 November, 2009, 09:15:24 AM
  • Publish Di FB
  • kita akan disoal oleh pencipta kita yang telah memberia amanah kepada kita dengan mengurniakan khalifah yanng baru iaitu anak kita bakal mewarisi dan mentadbir alam ini...besar beranan dan tanggungjawab kita pada Pencipta..jika kita melihat akhbar dan media elektronik berapa banyak berita tentang penderaan kanak2 yang merupakan pelapis kita.salah ke dia hendak menumpang kasih pada kita silapkah dia nak bermanja2 pada kita yang dewasa ini???

    qiraati

    • *
    • Posts: 284
    • Ukhwah Fillah Abadan Abada
      • View Profile
    Jawab #5 26 November, 2009, 09:25:11 AM
  • Publish Di FB
  • salam alayk. bagaimana pula bagi ibu bapa yang mendidik anak-anak secara open-minded.
    Cuba berjuang menjadi muslimah terbaik

    dol_bendol

    • *
    • Posts: 1664
    • http://al-merapu.blogspot.com
      • View Profile
    Jawab #6 26 November, 2009, 11:03:42 AM
  • Publish Di FB
  • masalah sek bebas bukan sebab pengetahuan yang tak sampai kepada remaja berkaitan seks

    sebaliknya masalah yang menimpa umat berdasarkan kepada kehendak umat sendiri
    Allah tak ubah nasin manusia kepada keburukan, kejahatan, melainkan, manusia itu sendiri yang mahukannya

    apabila manusia, tak mahu letakkan syariat islam dalam urusan sehari hari, maka tercabutlah, batas sempadan yang menghalang keburukan
    umpama kita pasang lampu.....sepanjang jalan, dan dalam pasaraya, kita lampukan terang benderang, manusia walau pakai jam tangan, sedarkah................waktu solat?  siang malam ada ketahuan ke idak?

    itulah Allah berikan syaitan syaitan kepada manusia, yang lalai, yang tak mahu ambil pelajaran daripada al Quran, syaitan yang jadi kawan karib. lalu bagaimana kah nak harapkan, berlaku kebaikan, kita dah tak pasak dunia kita tu, dengan hukum hakam Allah?

    Allah beritahu,,,pada ayat perentah menjaga diri menutup aurat, JIKA KAMU MAHU JADI BAIK......... ikutlah pesanan Allaah

    pada masa kemelut berlaku, hendaklah diri yang sedar dan mengetahui itu, cuba mendirikan sunnah, pada dirinya, dan ahli keluarga, kaum kerabatnya, semuga mereka akan berjaya, begitulah maksud yang ada dalam perkhabaran sunnah

    ISU bESAR............ialah sumber, isu kecil ialah, semasa, jadi perjuangan bagi yang sedar, ialah yg DASAR. Quran dan sunnah, jangan lah ambil sebahagian sahaja, pasti di permainkan oleh Syaitan

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14528
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Jawab #7 28 April, 2010, 07:35:29 AM
  • Publish Di FB

  • Jangan sempitkan pendidikan seks

    Mega: Apa maksud pendidikan seks hinggakan ramai ibu bapa yang skeptikal dengan topik ini?

    DR. MASTURA: Timbul skeptikal dan stigma apabila bercakap tentang pendidikan seks adalah akibat penafsiran yang sempit di kalangan kita. Majoriti kita berpendapat, pendidikan seks itu mestilah melibatkan hubungan seks.

    Sedangkan tafsirannya adalah lebih luas. Ia meliputi pengajaran tentang kesihatan, kebersihan, hubungan sosial dan gaya hidup sihat.

    Gaya hidup sihat ini merangkumi konsep perkahwinan, mengekang perlakuan seks rambang dan juga mencegah penyakit berbahaya.

    Sebenarnya, pendidikan ini telah pun berlaku secara tidak langsung di peringkat pra sekolah. Misalnya, apabila kita memperkenalkan anggota badan kepada anak-anak, mengajar mereka bahawa yang boleh membersihkan anggota sulit mereka apabila ke tandas ialah ibu bapa atau guru. Demikian juga sewaktu kita memperkenalkan perbezaan antara lelaki dan perempuan.

    Malah, di taska pun sudah diasingkan lelaki dan perempuan. Kalau mandi pun, mereka cepat-cepat pakai tuala kerana rasa malu jika dilihat oleh kawan berlainan jantina.

    Inilah sepatutnya maksud pendidikan seks atau pun kesihatan reproduktif yang dicadangkan oleh kerajaan yang perlu difahami oleh kita.

    Saidina Umar r.a ada berkata, bermainlah dengan anak kamu selama 7 tahun, umur 7 ke 14 tahun masa untuk mendisiplinkan anak dan apabila berusia 14 ke 21 tahun, berkawanlah dengan mereka. Signifikan kata-kata ini dalam pendidikan seks kepada anak-anak?

    DR. MASTURA: Ini menunjukkan bahawa adalah penting bagi ibu bapa memahami psikologi anak-anak. Ibu bapa juga perlu mempelajari kemahiran keibubapaan.

    Ilmu ini perlu dipelajari dan kita tidak boleh buat trial and error kerana kesannya akan dilihat untuk jangka panjang. Dengan kata lain, anak-anak perlu diajar dan dididik mengikut tahap kemampuan mereka.

    Pada masa yang sama, ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina berpendapat, umur tiga tahun adalah masa paling baik untuk mendisiplinkan anak.

    Imam al-Ghazali pula berkata, masa terbaik adalah umur antara mumaiyiz (tujuh tahun) dan baligh. Mumaiyiz bermakna anak-anak sudah boleh membezakan yang bersih dan kotor, yang baik dan buruk. Pada usia ini, ibu bapa wajib mengajar mereka tentang istinjak atau bersuci.

    Dari sudut perkembangan kognitif pula, teori Jean Piaget menjelaskan, pada umur tujuh tahun kanak-kanak sudah boleh membezakan yang abstrak dan konkrit.

    Ia menunjukkan ada titik pertemuan antara pandangan Islam dan juga teori Barat dalam perkara ini.

    Berbalik kepada kata-kata Saidina Umar tadi, pada usia 14 tahun iaitu semasa anak-anak kita remaja, ibu bapa perlu menjadikan mereka kawan. Ini supaya anak-anak boleh meluahkan perasaan dan berkongsi cerita suka dan duka mereka.

    Dengan demikian, insya-Allah, mereka tidak mudah terjebak dengan gejala sosial. Sebabnya, mereka sentiasa mempunyai 'kawan' di rumah untuk berkongsi segala masalah iaitu ibu bapa.

    Apabila kita tidak mempraktikkan konsep ini, sebaliknya mengambil pendekatan menghukum semata-mata, anak-anak remaja tadi akan memberontak. Seterusnya mencari 'kawan-kawan' yang sealiran dan mula terlibat dalam perbuatan seperti melepak, merempit dan sebagainya.

    Masyarakat Melayu umumnya belum terbuka untuk berbincang tajuk seks dengan anak-anak. Adakah elok dikekalkan begitu ada sudah sampai masa kita mengubah persepsi ini?

    DR. MASTURA: Saya melihat kita perlu mengubah persepsi ini. Soalnya, jika pendidikan seks tidak diajar di sekolah, apakah jaminan anak-anak kita tidak mempelajarinya melalui Internet.

    Ini jauh lebih bahaya daripada yang diajar oleh guru. Di Internet, apakah bentuk tapisan dan panduan yang ada?

    Remaja apabila melayari pornografi di Internet akan terdorong untuk mencubanya dalam keadaan mereka sendiri tidak tahu dan tidak memahami konsep hidup sihat.

    Sebenarnya, pendidikan seks sudah pun diajar melalui subjek biologi atau sains. Murid-murid telah didedahkan dengan hal seperti pembentukan manusia dan organ-organ dalam badan.

    Cuma, ia lebih kepada berorientasikan peperiksaan. Jadi, murid-murid mungkin lebih menumpu kepada menghafal berbanding untuk memahami subjek tersebut dalam kehidupan sebenar.

    Dalam pendidikan Islam pun, hal berkaitan seks iaitu jantina turut diajar. Contohnya dalam bab munakahat, pergaulan lelaki dan perempuan, tanda-tanda baligh sehinggalah kepada syarat sah solat iaitu mesti suci daripada hadas kecil dan besar.

    Bab aurat adalah salah satu contoh Islam menekankan. Aurat iaitu bahagian tubuh yang wajib ditutup, tidak boleh diperlihatkan dan kita pun tidak boleh melihat aurat orang lain.

    Bagi lelaki, auratnya antara pusat hingga ke paras lutut. Aurat wanita pula seluruh tubuhnya kecuali muka dan dua tapak tangan.

    Dalam hal ini, tiada kelonggaran atau keuzuran bagi seseorang mendedahkan aurat kepada orang lain kecuali untuk tujuan perubatan dan sebab yang dibenarkan syarak.

    Malah, lelaki wajib menundukkan pandangannya apabila melihat perempuan seperti dinyatakan Allah dalam firman-Nya yang bermaksud: Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuan-Nya tentang apa yang mereka kerjakan. (al-Nur: 30)

    Masalah buang bayi berpunca daripada seks bebas. Apa peranan pendidikan seks dalam menangani hal ini?

    DR. MASTURA: Saya melihat kita perlu merangka silibus pendidikan seks mengikut acuan kita. Sebabnya, saya melihat pengajaran sedia ada gagal memahamkan murid-murid tentang seks.

    Mereka hanya menghafal, sedangkan fahamnya tidak. Sebab itu, apabila remaja terjebak dalam seks luar nikah, kita selalu kata mereka kurang didikan agama. Betul, ada sebahagian mereka begitu.

    Namun, saya nampak mereka ini bukan kurang didikan agama tetapi sistem ilmu kita ada kelemahan. Yang selalu kita tekankan adalah ingat, faham tetapi tidak sampai ke tahap mempraktikkan. Murid-murid tidak boleh menghayati apa yang dipelajari untuk diamal dalam kehidupan.

    Silibus itu nanti perlu memberi penekanan yang seimbang antara teori dan praktikal. Contohnya, murid-murid boleh dibawa melawat rumah orang tua-tua dalam kita mengajar tentang 16 nilai murni dalam pendidikan moral.

    Nilai-nilai itu antaranya adalah taat pada ibu bapa, berbakti kepada orang tua dan baik hati. Sayangnya, semua itu tidak boleh dibincangkan daripada sudut teori semata-mata.

    Dengan membawa pelajar ke rumah orang tua-tua, mereka dapat melihat sendiri bagaimana boleh menghormati dan berbakti kepada golongan itu.

    Demikian juga untuk memberi pendidikan tentang gejala buang bayi. Adalah lebih berkesan jika murid-murid dibawa melawat Rumah Perlindungan supaya mereka dapat melihat dan merasai kesan negatif perbuatan tersebut.

    Lebih penting lagi dalam hal ini, untuk kita kembali kepada pokok permasalahan iaitu pergaulan bebas yang membawa kepada perlakuan zina.

    Pada masa yang sama, faktor-faktor pendorong berlakunya gejala sosial dan maksiat perlu kita sekat.

    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    msa

    • *
    • Posts: 1612
      • View Profile
    Jawab #8 19 February, 2014, 10:44:37 PM
  • Publish Di FB
  • Bahayanya Jika Tidak Asingkan Tempat Tidur Anak.


    Walaupun anak-anak ini kelihatan begitu lena, namun kita tidak dapat menjamin bahawa mereka tidak akan tersedar sehingga ke pagi. Maka berwaspadalah sentiasa!

    Pendidikan seks, apa yang anda fikirkan apabila disebut perkataan ini? Ramai yang rasa ia adalah satu perkara yang lucah dan memalukan. Namun, ketika saya ingin menulis tentang mengasingkan anak tidur dari ibu bapa, saya menyelak buku Pendidikan Anak-Anak Islam tulisan Dr Nasih Ulwan. Saya dapati, Dr Nasih Ulwan telah menerangkan tentang perkara terbut di dalam satu bab yang panjang iaitu bab pendidikan seks.Setelah diteliti, ternyata bahawa pendidikan seks di dalam keluarga islam sangat-sangat dipentingkan untuk menjaga anak-anak dari terdedah kepada gejala sosial yang amat membimbangkan sebagaimana yang berlaku di dalam masyarakat pada masa kini.

    Melihat kepada gejala sosial yang berlaku kini seperti penzinaan, pembuangan anak, seks di luar tabii dan banyak lagi jenayah yang berlaku di kalangan remaja Islam, saya merasakan bahawa pendidikan seks di dalam Islam yang banyak berkisar kepada penjagaan aurat dan adab-adab sesama ahli keluarga dan individu lain perlulah ditekankan oleh ibu bapa sejak anak-anak masih kecil

    Memetik sebuah ayat alquran dari surah An-Nur ayat 58

    “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

    Daripada ayat di atas, Allah telah membimbing tentang asas pendidikan di dalam rumah. Maka sejak kecil lagi, anak-anak mestilah dibiasakan untuk meminta izin, pada masa-masa dimana seorang lelaki dan seorang perempuan sedang duduk bersama-sama, supaya anak-anak kecil ini tidak terserempak dengan sesuatu keadaan yang dia tidak sepatut melihatnya.

    Adab ini mestilah diajar kepada anak-anak sebelum umur baligh mereka dan mereka mestilah mememinta izin dalam tiga keadaan iaitu

    I. Di waktu sebelum sembahyang subuh kerana pada ketika itu manusia sedang tidur di atas tempat peraduan mereka
    II. Di waktu tengah hari, kerana manusia mungkin sedang menanggalkan pakaiannya ketika itu, dan sedang duduk bersama-sama isterinya
    III. Di waktu sesudah sembahyang isyak kerana waktu itu adalah waktu tidur dan waktu berehat

    Sekiranya anak-anak sudah baligh dan cukup akal, maka wajiblah kepada para ibu bapa dan pendidik untuk mengajar mereka meminta izin pada ketiga-tiga waktu tersebut sesuai dengan firman Allah yang bermaksud

    “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

    Anak-anak kecil sebelum baligh lagi sudah diarahkan untuk meminta izin untuk memasuki bilik tidur, jadi bagi ibu bapa, peraturan ini perlulah dilaksanakan di dalam rumahtangga. Maka, pengasingan bilik tidur antara anak-anak dan ibu bapa perlulah dibuat sejak anak-anak kecil. Jika masih tidur sebilik, bagaimanakah kita dapat mengajar anak-anak tentang adab meminta izin ini?Melalui pengamatan saya, setelah berkecimpung di dalam arena pendidikan anak-anak selama hampir sepuluh tahun, saya dapati ramai di kalangan ibu bapa yang melihat proses mengasingkan anak-anak tidur dari bilik ibu bapa sebagai satu perkara yang remeh.

    Saya mendapati ramai ibu bapa yang masih tidur sebilik dengan anak-anak walaupun anak-anak telah menjangkau usia lima dan enam tahun, bahkan saya juga pernah bertemu dengan anak yang masih tidur di bilik ibu bapa walaupun sudah berumur tujuh atau lapan tahun.

    Saya ingin menarik perhatian ibu bapa diluar sana tentang satu peristiwa yang saya lalui sendiri.

    Pada suatu hari, seorang guru datang menemui saya.

    “Kak syifa, ada seorang pelajar lelaki lima tahun dari kelas saya selalu berkelakuan yang tidak sopan terhadap rakan-rakan perempuannya. Saya dah cuba untuk menasihatinya, tetapi ia tidak memberi kesan. Dia tetap melakukan perkara yang sama berulang kali, dan ia sangat membimbangkan saya.” Cikgu Ida memulakan cerita dengan wajah penuh kebimbangan. Saya mendengar dengan teliti.

    “Kelakuan yang tidak sopan? Dia buat macammana?” Hati saya sudah berdetap kencang, namun saya cuba mengawal perasaan agar kebimbangan saya itu tidak menambah kerisauan yang bersarang di dalam diri Cikgu Ida. Cikgu Ida merupakan seorang guru yang sangat prihatin, apa jua masalah yang berlaku di tadika, pasti akan dibawa berbincang untuk menyelesaikannya.

    “Dia buat benda-benda yang tak senonoh la kak, saya nak cerita pun rasa malu.” Cikgu Ida cuba berbahasa dengan saya, wajahnya tertunduk mungkin tidak sanggup hendak menceritakan perihal anak muridnya itu.

    “Dia buat macamana Ida? Akak tak boleh nak tangkap apa yang Ida cakap ni. Demi kebaikan anak-anak di tadika kita ni, cuba Ida ceritakan apa yang berlaku sebenarnya.” Saya memujuk Cikgu Ida untuk bercerita dengan lebih jelas. Perkataan ‘tidak senonoh itu terlalu umum untuk saya terjemahkan.

    “Mmm… Mmm… Dia suka cium dan pegang-pegang budak perempuan la kak… Pelajar-pelajar perempuan selalu mengadu dengan cikgu-cikgu, saya bimbang jika perkara ini berlarutan ibu bapa akan membuat aduan, dan saya bimbang jika pelajar perempuan yang diganggu itu tidak mahu lagi ke sekolah.”

    Saya mengangguk-angguk sambil menumpukan sepenuh perhatian kepada aduan beliau.

    “Baru-baru ini, dia bermain dengan kawan-kawan di bawah meja, kemudian tidak semena-mena dia mencium pipi seorang budak perempuan ni, pelajar-pelajar lain yang melihat kejadian ini menjerit-jerit memberitahu cikgu-cikgu manakala pelajar perempuan tadi sudah menangis, mungkin terasa malu dan tidak selesa dengan kelakuan rakannya itu tadi.”

    “Bila cikgu-cikgu bertanya kenapa dia buat begitu, dia hanya terkulat-kulat memandang cikgu dan hanya mendiamkan diri. Dia tidak mahu bercakap, cikgu –cikgu sudah menasihatinya dan berpesan kepada pelajar-pelajar lain agar tidak melakukan perkara yang sama. Namun, ia berulang lagi tengahhari tadi. Nampaknya kita perlu melakukan sesuatu untuk membendung perkara sebegini.” Panjang lebar Cikgu Ida menjelaskan kepada saya. Saya menelan air liur yang terasa pahit.

    “Oh begiitu, ada apa-apa lagi kelakuan yang tidak menyenangkan?” Saya bertanya lagi

    “Mmm… Dia juga selalu menyebut-nyebut perkatan “cium mulut”.. Ish akak, saya nak sebut pun malu rasanya.” Merona warna kemerahan di wajah Cikgu Ida, malu. Tersirap juga darah saya dibuatnya. Tidak menyangka anak sekecil lima tahun sudah tahu perkataan-perkataan sebegitu. Saya beristighfar berulang kali.

    “Berat juga masalah ni, tapi Insya Allah masih boleh diubati dan diselesaikan. Insya Allah, sama-sama kita hadapi masalah ini dengan berhikmah dan bijaksana.” Saya menutup perbincangan dengan menawarkan diri untuk menyelesaikan masalah ini secara serius.

    Selepas perbincangan saya dengan Cikgu Ida hari itu, saya banyak meluangkan masa untuk melihat sendiri apa yang dilakukan oleh pelajar tersebut tanpa dia menyedari dia sedang diperhati.

    Setelah beberapa waktu menyiasat perkara tersebut, terkejut saya apabila saya bertanya : “Kamu tengok siapa buat macam ni? Kamu tengok di televisyen?”

    Anak kecil itu menggeleng lalu berkata: “Ibu dan ayah.” Terkedu saya sebentar lalu beristighfar panjang.

    “Kamu tidur di bilik kamu atau di bilik ibu ayah kamu?” Saya bertanya lagi

    “Bilik ibu ayah.” Pendek sahaja jawapannya

    Bagi menyelesaikan masalah tersebut, saya tiada cara lain selain memanggil ibu bapa berkenaan untuk berbincang, dan ternyata ibu bapa itu sendiri terkejut kerana mereka membayangkan bahawa anak-anak sudah tidur sewaktu mereka ‘bersama’.

    Kisah-kisah sebegini sebenarnya banyak saya dengar dari rakan taulan pengusaha tadika yang lain. Bahkan satu kisah yang lebih teruk saya dengar, seorang pelajar lelaki telah duduk di atas perut seorang pelajar perempuan ketika pelajar itu tidur kerana melihat bapanya berbuat begitu terhadap ibunya. Na’uzubillah.

    Perkara sebeginilah yang perlu kita elakkan, jangan biar sudah berlaku sedemikian, baru lah kita ingin mengambil tindakan. Pada saya, bukan mudah untuk membaiki keadaan, kerana anak itu berkelakuan sedemikian diatas faktor pernah melihatnya sendiri. Malah, ia dilakukan oleh orang yang paling mereka percayai iaitu ibu bapa mereka sendiri! Bagi mereka apa yang dibuat oleh ibu bapa bukanlah perkara yang salah.

    Yang lebih membimbangkan, anak kita bukanlah seperti komputer yang boleh kita hapuskan sahaja maklumat yang tidak kita ingini lagi dengan menekan butang ‘delete’. Sekali ia tersimpan di dalam memori mereka, apakah caranya untuk memadamkannya?

    Oleh itu wahai ibu bapa yang budiman, asingkanlah anak-anak dari bilik tidur kalian seawal mungkin, iaitu apabila anak sudah pandai meniru kata-kata dan tingkah laku kita. Walaupun ia proses yang agak sukar, namun kita mestilah serius untuk menjayakannya.

    Jangan biarkan nasi menjadi bubur, kerana kita tidak tahu mungkin anak kita tersedar dari tidur dan terlihat perkara yang tidak sepatutnya. Berjaga-jagalah dari awal lagi.

    Oleh itu, bagi kita umat Islam yang meyakini bahawa Al-Quran adalah manual kehidupan yang paling lengkap dan terbaik, kita perlulah meyakini bahawa Islam amat mengambil berat terhadap pendidikan anak-anak dari sejak mereka mula mengenal sifat malu, dan akhlak pergaulan yang baik serta budiperketi Islam yang mulia.

    Sehingga, apabila anak mencapai usia remaja, dia akan menjadi satu contoh teladan yang mulia dalam kelakuan dan akhlaknya.

    Betapa kerap berlaku sesuatu yang memalukan, apabila si anak masuk ke dalam bilik tidur, dan terserempak melihat kedua ibu bapanya sedang asyik dalam perhubungan seks. Kemudian si anak itu keluar dari situ seraya bercerita sesama teman-temannya yang kecil. Dan berapa banyak pula yang mengkhayalkan lakonan itu di dalam lintasan fikirannya ketika gambaran itu berulang di dalam otaknya

    Dan betapa banyak pula anak yang menyeleweng disebabkan dari kecil telah merasa keinginan kepada seks dan telah melihat bagaimana caranya berhubungan seks serta merasa kelazatannya.

    Lantaran itu, maka wajiblah atas ibu bapa dan para pendidik teguh dengan adab Al-Quran Al-Karim dalam hal mengajar anak meminta izin sejak dia mula berakal. Mudah-mudahan anak-anak akan mempunyai akhlak yang mulia, mempunyai peribadi Islam yang berbeza dengan yang lain serta menjadi penyejuk mata kita di dunia dan akhirat.

    Wallahua’lam


    SUMBER
    ~ Begin with the End in Mind ~

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    16 Replies
    5318 Views
    Last post 18 November, 2013, 10:39:59 AM
    by afiQoh
    0 Replies
    2012 Views
    Last post 21 June, 2010, 10:31:01 AM
    by azizi_zulkefli
    8 Replies
    1940 Views
    Last post 06 February, 2013, 07:39:33 AM
    by nazri0070