bagaimana ayat al quran turun?di kumpulkan menjadi satu surah

*

Author Topic: bagaimana ayat al quran turun?di kumpulkan menjadi satu surah  (Read 3336 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

18 August, 2011, 10:05:39 PM
  • Publish
  •  :) saya ada kemusykilan tentang bagaimana ayat al quran turun..macam yang kita tau, al quran itu turun nya secara beransur-ansur dan mempunyai hikmah nya tersendiri..antaranya mudah untuk para sahabat menghafal,turun ayat apabila ada permasaalahan dan sebagainya..yang saya tertanya2 adalah...bagaimana ayat itu turun??kalau ambil contoh surah al baqarah ada 286 ayat kan?tidak semua ayat di turunkan sekali gus bukan?andai ayat itu diturun kan sedikit demi sedikit, adakah ianya berterusan?seperti contoh..mula2 turun ayat al baqarah 1-5 kemudian ayat 6-10..adakah seperti itu??atau pun ayat al quran di wahyukan kepada rasulullah tidak mengikut turutan?mengikut masalah y di hadapi pada masa itu mungkin?kemudian di kumpul ayat2 tersebut dan di cantumkan?maaf atas kejahilan..mohon sesiapa yang mengetahui..boleh tolong explain kan?

    Reply #1 19 August, 2011, 10:01:40 AM
  • Publish
  • Apakah itu al-Quran.

    •                     "Quran" menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih bererti "bacaan", asal kata qara’a. Kata Al Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru’ (dibaca).

    •                     Di dalam Al Qur’an sendiri ada pemakaian kata "Qur’an" dalam arti demikian sebagal tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah:
    Artinya:
    •                     ‘Sesungguhnya mengumpulkan Al Qur’an (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggunggan kami. kerana itu jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikut bacaannya".

    Kemudian dipakai kata "Qur’an" itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini.
    Adapun definisi Al Qur’an ialah: "Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah"

    Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.
     
    Bagaimanakah al-Quran itu diwahyukan.
    •                     Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan. di antaranya:

    1, Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: "Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", (lihat surah (42) Asy Syuura ayat (51).

    2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.

    3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa".

    •                     4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surah (53) An Najm ayat 13 dan 14.
    Artinya:
    •                     Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di Sidratulmuntaha.


    Hikmah diturunkan al-Quran secara beransur-ansur
    Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur itu ialah:

    1. Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dan riwayat ‘Aisyah r.a.

    2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).

    3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.

    4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an ayat (25) Al Furqaan ayat 32, yaitu:
    •                     mengapakah Al Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus
    •                     Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri:
    •                     demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu

    5. Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh lbnu ‘Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Qur’an diturunkan sekaligus

    Nama-nama al-Quran
    •  Allah memberi nama Kitab-Nya dengan Al Qur’an yang berarti "bacaan".
    •                     Arti ini dapat kita lihat dalam surat (75) Al Qiyaamah; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas.
    •  Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat (17) Al lsraa’ ayat 88; surat (2) Al Baqarah ayat 85; surat (15) Al Hijr ayat 87; surat (20) Thaaha ayat 2; surat (27) An Naml ayat 6; surat (46) Ahqaaf ayat 29; surat (56) Al Waaqi’ah ayat 77; surat (59) Al Hasyr ayat 21 dan surat (76) Addahr ayat 23.
    Menurut pengertian ayat-ayat di atas Al Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
    •                     Selain Al Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, sepcrti:
    •  1. Al Kitab atau Kitaabullah: merupakan synonim dari perkataan Al Qur’an, sebagaimana tersebut dalam surat (2) Al Baqarah ayat 2 yang artinya; "Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya…." Lihat pula surat (6) Al An’aam ayat 114.
    •                     2. Al Furqaan: "Al Furqaan" artinya: "Pembeda", ialah "yang membedakan yang benar dan yang batil", sebagai tersebut dalam surat (25) Al Furqaan ayat 1 yang artinya: "Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam"
    •  3. Adz-Dzikir. Artinya: "Peringatan". sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al Hijr ayat 9 yang artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan "Adz-Dzikir dan sesungguhnya Kamilah penjaga-nya" (Lihat pula surat (16) An Nahl ayat 44. Dari nama yang tiga tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah "Al Qur’an". Selain dari nama-nama yang tiga itu dan lagi beberapa nama bagi Al Qur’an. lmam As Suyuthy dalam kitabnya Al Itqan, menyebutkan nama-nama Al Qur’an, diantaranya: Al Mubiin, Al Kariim, Al Kalam, An Nuur.
     
    Surah-surah dalam al-Quran
    •  Jumlah surat yang terdapat dalam Al Qur’an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (tauqifi).
    Sebagian dari surat-surat Al Qur’an mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat.
    •                     Surat-surat yang ada dalam Al Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:
    •  1. ASSAB’UTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat yang panjang Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
    2. Al MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud, Yusuf, Mu’min dsb.
    3. Al MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al Anfaal. Al Hijr dsb.
    4. AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek. seperti: Adhdhuha, Al Ikhlas, AL Falaq, An Nas. dsb.
    g. Huruf-huruf Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat.
    •                     Di dalam Al Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah yaitu pada surat-surat:
    •  (1) Al Baqarah, (2) Ali Imran, (3) Al A’raaf. (4) Yunus, (5) Yusuf, (7) Ar Ra’ad, (8) lbrahim, (9) Al Hijr, (10) Maryam. (11) Thaaha. (12) Asy Syu’araa, (13) An Naml, (14) Al Qashash, (15) A1’Ankabuut, (16) Ar Ruum. (17) Lukman, (18) As Sajdah (19) Yasin, (20) Shaad, (21) Al Mu’min, (22) Fushshilat, (23) Asy Syuuraa. (24) Az Zukhruf (25) Ad Dukhaan, (26) Al Jaatsiyah, (27) Al Ahqaaf. (28) Qaaf dan (29) Al Qalam (Nuun).

    Huruf-huruf hijaaiyyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan ‘Fawaatihushshuwar’ artinya pembukaan surat-surat.

    Banyak pendapat dikemukakan oleh para Ulama’ Tafsir tentang arti dan maksud huruf-huruf hijaaiyyah itu, selanjutnya lihat not 10, halaman 8 (Terjemah)

    Reply #2 19 August, 2011, 10:04:52 AM
  • Publish
  • MENYINGKAP SEJARAH PENURUNAN ALQURAN::

    Antara peristiwa agung dalam sejarah umat Islam ialah turunnya kitab suci al-Quran atau disebut Nuzul al-Quran.Perkara ini dinyatakan dalam al-Quran, melalui firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat ke 185 yang bermaksud:
    “Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekelian manusia, dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan antara yang benar dan yang salah.”

    FirmanNya dalam ayat pertama surah al-Qadar :
    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar.

    Dalam surah al-Dukhan ayat ke 3 pula Allah s.w.t telah berfirman :
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran itu pada malam yang berkat; (Kami berbuat demikian) kerana sesungguhnya Kami sentiasa memberi peringatan dan amaran (jangan hamba-hamba Kami ditimpa azab).

    ‘Nuzul’ merupakan perkataan Arab yang memberi makna turun atau berpindah, iaitu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. ‘Al-Quran’ pula bermaksud bacaan. Ia dikatakan sebagai bacaan kerana al-Quran itu untuk dibaca oleh manusia. Ia juga dikatakan himpunan kerana dalam al-Quran itu terhimpun ayat-ayat yang menjelaskan pelbagai perkara yang meliputi soal tauhid, ibadat, jinayat, muamalat, munakahat dan sebagainya.

    Menilai ketiga ayat di atas tiada sebarang pertentangan antara ke tiga ayat di atas . Al-Syeikh Ab Rahman al-Sa’adiy menjelaskan dalam tafsir Taysir al-Karim al-Rahman, ‘malam yang berkat’ yang dinyatakan Allah dalam surah al-Dukhan itu adalah malam yang penuh dengan kebaikan dan rahmat, yang lebih besar keutamaannya dari amalan seribu bulan. Maka Allah SWT telah memilih tarikh turun kalamNya buat pemimpin umat sejagat nabi Muhammad yang penuh dengan kemuliaan itu untuk berlaku pada hari yang mulia iaitu malam al-Qadr itu sendiri

    Menurut al-Syeikh Manna’ Qattan dalam Mabahith Fi Ulum al-Quran ke tiga ayat ini secara dasarnya menunjukkan penurunan berlaku pada bulan ramadhan dan secara khususnya ia diturunkan pada malam al-Qadr yang merupakan suatu anugerah Allah buat mereka yang menghidupkan malam-malam pada bulan Ramadhan.

    Walaupun umat Islam di Malaysia secara tradisinya menyambut peristiwa Nuzul Al-Quran pada 17 Ramadhan, namun sesungguhnya pendapat yang lebih tepat tentang turunnya al-Quran ialah pada malam Isnin, tanggal 24 Ramadhan bersamaan 13 Ogos 610 M. Ini disebabkan pendapat yang mengatakan berlakunya pada 17 Ramdhan adalah berpandu pada ayat ke 41 dari Surah Al-Anfaal adalah difokuskan kepada perisytiwa perang Badar bukannya al-Quran.

    Firman Allah dalam ayat ke 41 surah al-Anfal itu,maksudnya :
    "…jika kamu beriman kepada Allah dan apa-apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad saw) pada hari Furqan,iaitu di hari bertemunya dua pasukan (diperang Badar, antara muslimin dan kafirin)…"

    Menurut sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Kathir dalam tafsirnya dari Ibn Abbas , ayat tersebut merupakan penjelasan tentang hukum pembahagian harta rampasan perang (seperti yang terdapat pada awal ayat tersebut).
    " Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, RasulNya, kerabat-kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil (orang yang sedang dalam perjalanan)…".

    Justeru tarikh yang lebih tepat tentang Nuzul al-Quran adalah pada 24 Ramadhan kerana ia berdasarkan ayat 1 Surah Al-Qadr dan ayat 1-4 Surah Ad-Dukhan yang telah dihuraikan di atas.

    Menurut sebuah riwayat oleh Ibn Abbas dan pandangan ini disokong oleh majoriti para mufassirin, Al-Quran yang diturunkan pada malam "Lailatul Qadar" sebagaimana disebut di atas adalah Al-Quran yang turun sekaligus ke "Baitul Izzah" di langit kedunia. Sedangkan Al-Quran yang diturunkan ke bumi dan diterima Rasullullah sebagai wahyu terjadi secara beransur-ansur selama sekitar 23 tahun.
    Menurut satu riwayat dari al-Hakim, al-Baihaqiy dan al-nasaei dari Ibn Abbas, beliau menjelaskan dari RasululLah saw bersabda :
    “ Al-Quran diturunkan sekali gus oleh Allah ke langit dunia pada malam al-Qadr kemudian ia diturunkan secara berperingkat dalam masa 20 tahun”

    Al Quran pula telah diturunkan secara beransur - ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah . Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan sebelum peristiwa hijrah dikenai sebagai Makkiyah sedangkan yang diturunkan selepas peristiwa hijrah dikenali sebagai Madaniyyah . Tujuan Allah menurunkan secara beransur-ansur adaah bagi memenuhi objektif-objektif berikut :
     Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus dalam kadar yang banyak. Hal ini disebut oleh Bukhari dari riwayat 'Aisyah r.a.
    Di antara ayat - ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kamaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Quran diturunkan sekaligus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh)
    Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa - peristiwa yang terjadi akan lebih berkesan dan lebih berpengaruh di hati.
     Memudahkan penghafalan. Orang - orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Quran tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana disebut dalam Al Quran surah Al Furqaan ayat 32 maksudnya :
    "……mengapakah Al Quran tidak diturunkan kepadanya sekaligus….?"
    Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri:
    "….Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu..".
    Di antara ayat - ayat yang merupakan jawapan daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagai dikatakan oleh Ibnu 'Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Quran diturunkan sekaligus. Penurunan al-Quran ini pula berlaku dalam berbagai bentuk.
    Menurut Safiyurrahman al-Mubarakfuriyy dalam al-Rahiq al-makhtum , Nabi Muhammad s.a.w. telah diwahyukan mengikut pendekatan-pendekatan berikut :
    • Menerusi mimpi yang benar ( al-Rukya al-Sadiqah )
    Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini, Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apa pun, hanya beliau merasa bahawa itu sudah berada di dala, kalbunya. Sebagai contohnya Nabi pernah bersabda mengatakan:
    "Ruhul Quddus mewahyukan ke dalam kalbuku bahawa seseorang itu takkan mati sehingga dia menyempurnakan rezkinya yang telah ditetapkan oleh ALlah".
    • Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi s.a.w. menyerupai seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya dan peristiwa seperti ini sering disaksikan oleh para sahabat.
    • Wahyu datang kepadanya seperti gemercingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan Nabi s.a.w. Kadang-kadang pada keningnya terdapat peluh, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Ada ketikanya, unta beliau terpaksa berhenti dan duduk kerana merasa amat berat. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit:
    " Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang demam yang kuat dan peluhnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa".
    • Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi s.a.w. dalam rupanya yang sebenar sebagaimana yang terdapat di dalam surah An- Najm ayat 13 & 14 :
    "Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha".

    Malaikat mewahyukan kepada Nabi dari atas langit seperti yang berlaku dalam peristiwa al-Isra` wal Mikraj . Sesetengah ulamak berpendapat baginda saw juga pernah berbicara secara langsung dengan Allah dan menerima wahyu seperti yang berlaku pada Nabi Musa.Perkara ini merupakan suatu khilaf di kalangan para ulamak.

    Al-Quran mempunyai beberapa fungsi penting, diantaranya ialah:
    Pertama: Sebagai Mukjizat Nabi Muhammad SAW.
    Al-Quran merupakan bukti kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw, sekaligus ianya menjadi bukti bahawa Al-Quran merupakan firman Allah SWT, bukannya ucapan atau ciptaan nabi Muhammad saw sendiri. Rasullulah saw telah menjadikan Al-Quran sebagai senjata bagi menentang orang-orang kafir Quraisy. Dan kita dapati bahawa mereka sememangnya tidak mampu menghadapinya, padahal mereka mempunyai kemahiran menggubah bahasa-bahasa yang indah dalam ucapan dan sajak-sajak mereka. Al-Quran secara prisipnya telah mengemukakan cabaran kepada bangsa Arab menerusi tiga peringkat iaitu :

    Peringkat pertama. Mencabar mereka dengan keseluruhan Al-Quran dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia malah jin, dengan cabaran yang mengalahkan dan menjatuhkan mereka secara padu sebagaimana firmanNya.
    "Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebahagian mereka menjadi pembantu bagi sebahagian yang lain." (17 : 88)

    Peringkat kedua. Mencabar dengan sepuluh surah sahaja daripada Al-Quran. Sebagaimana firmanNya:
    “Bahkan mereka mengatakan "Muhammad telah membuat-buat Al-Quran." Katakanlah: Jika demikian, maka datangkanlah sepuluh surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu, ketahuilah, sesungguhnya Al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah" (11 : 13-14)

    Peringkat ketiga. Mencabar mereka hanya dengan satu surah daripada Al-Quran sahaja. Sebagaimana firmanNya:
    "Atau (patutkah) mereka mengatakan: Muhammad membuat-buatnya (Al-Quran). (Kalau benar yang kamu katakan itu), cubalah datangkan satu surat seumpamanya" (TTQ 10 : 38)
    Dan cabaran ini diulangi di dalam firmanNya:
    "Dan jika kamu tetap dalam keadaan ragu tentang Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad saw), maka buatlah satu surat saja yang semisal Al-Quran itu…" (2 : 23 )

    Kedua: Sebagai Sumber Hukum Dan Aturan Hidup.
    Ayat-ayat Al-Quran mengandungi peraturan tentang hukum-hukum siyasah negara , sosial , pendidikan , pengadilan , akhlak dan sebagainya. Semua aturan dan hukum ini wajib dijadikan sebagai pandangan hidup bagi seluruh kaum muslimin dan umat manusia untuk mengatasi semua permasalahan hidup yang dihadapinya. Sememangnya penyelesaian yang diberikan oleh syariat Islam adalah merupakan penyelesaian yang sebenar-benarnya kearan ia satu-satunya perundangan yang dapat memenuhi fitrah manusia itu sendiri. Kemampuan syariat Islam dalam menyelesaikan pelbagai permasalahan kehidupan manusia inilah yang akan menjadikan Al-Quran sebagai mukjizat abadi yang paling menonjol di muka bumi.


    $%#%$#

    inshallah ya, semuga boleh membantu, memahami

    divider3
    halaqahforum4