Akhlak dan Adab seorang Mukmin - Page 1

*

Author Topic: Akhlak dan Adab seorang Mukmin  (Read 10616 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

17 July, 2007, 01:07:14 PM
  • Publish
  •  
    :)

    Dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
    sallam bersabda,


    "Haqqul muslimi 'alal muslimi khamsun, raddus salaami, wa 'iyaadatul
    mariidhi, wat tibaa-ul janaa-izi, wa ijaabatud da'wati, wa tasymiitul
    'aathisi"

    yang Ertinya,

    "Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima, menjawab salam, menjenguk
    orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab orang bersin"

    (HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 900 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)


    Menjawab Salam

    Salah satu jawaban salam yang baik adalah sebagaimana hadits berikut, dari
    Aisyah radhiyallaHu 'anHa, dia berkata,

    "Rasulullah berkata kepadaku, 'Ini jibril datang membacakan salam kepadamu',
    Aku berkata, 'Wa 'alaykumus salaamu warahmatullaHi wabarakatuH'" (HR. al
    Bukhari dan Muslim, hadits no. 856 pada Tarjamah Riyadush Shalihin)


    Menjenguk Orang Sakit

    Hendaknya dalam mengunjungi orang sakit diiringi dengan niat ikhlas dan
    tujuan yang baik.  Seperti misalnya yang dikunjunginya adalah seorang ulama
    atau teman yang shalih, atau mengunjunginya dalam rangka untuk beramar
    ma'ruf nahi munkar yang dilakukan dengan lemah lembut atau dengan tujuan
    untuk memenuhi hajatnya atau untuk melunasi hutangnya, atau untuk mengetahui
    tentang keadaannya.  Sebagaimana sabda Rasulullah ShallallaHu 'alaiHi wa
    sallam,



    "Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah atau di jalan Allah, akan
    ada yang menyeru kepadanya, 'Engkau telah berlaku mulia dan mulia pula
    langkahmu, serta akan kau tempati rumah di Surga'"

    (HR. at Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1433)

    Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu 'anHu, berkata

    "Apabila Nabi ShallallaHu 'alaiHi wa sallam mengunjungi orang sakit, beliau
    berkata, 'Laa ba'sa thaHuurun insyaa Allah (Tidak mengapa semoga sakitmu ini
    membuat dosamu bersih)'"
     (HR. al Bukhari no. 5656)



    Menghantar Jenazah

    Memikul jenazah dan mengiringinya termasuk hak-hak mayit atas kaum muslimin.
    Para ulama bersepakat bahwa memikul jenazah adalah farhu kifayah.  Jika
    telah dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban tersebut dari
    sebagian yang lainnya.


    Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim berkata, "Jika ijma' tersebut
    terbukti, maka itulah yang benar.  Jika tidak ada, maka tidak ada bedanya
    antara hukum memikul dan mengiringi jenazah.  Zhahirnya bahwa keduanya
    adalah fardhu kifayah.  WallaHu a'lam"
    (Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, hal. 391)


    Memenuhi Undangan


    Berkaitan dengan hukum menghadiri undangan, Imam al Bukhari meriwayatkan
    dalam Shahih-nya (no. 5177), dari Abu Hurairah radhiyallaHu 'anHu, bahwa ia
    mengatakan,


    "Seburuk-buruknya makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya
    saja yang diundang, sedang orang-orang fakir tidak diundang.  Barangsiapa
    yang tidak memenuhi undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan
    Rasul-Nya"


    Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Ini adalah dalil wajibnya memenuhi undangan"
    (Fathul Baari IX/245).


    Menjawab Orang Bersin


    Wajib bagi setiap orang yang mendengar bersin (dan mengucapkan
    alhamdulillaH) untuk mengucapkan tasymit kepadanya.  Rasulullah ShallallaHu
    'alaiHi wa sallam bersabda,

    "Jika salah seorang dari kalian bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka
    hendaklah kalian mengucapkan tasymit (ucapan yarhamukallaH) baginya, namun
    jika tidak, maka janganlah mengucapkan tasymit baginya"

    (HR. Muslim no.2992)

    Maraji' :


    1.     Adab Harian Muslim Teladan, 'Abdul bin 'Abdirrahman as Suhaibani,
        Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1425 H/Januari 2005 M.

    2.     Panduan Lengkap Nikah, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin 'Abdir Razzaq,
        Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Keempat, Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006 M.

    3.     Shahih Fiqih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim,
        Putaka at Tazkia, Jakarta, Cetakan Pertama, Rajab 1427 H/Agustus 2006 M.

    4.      Tarjamah Riyadush Shalihin Jilid 2, Imam an Nawawi, Takhrij : Syaikh
        al Albani, Duta Ilmu, Surabaya, Cetakan Kedua, Oktober 2004, Edisi Revisi.



    Semoga Bermanfaat.



    Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
    syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang
    dikehendaki-Nya.  Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
    berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)


    Reply #1 18 March, 2008, 02:12:45 PM
  • Publish
  • Bagaimana cara dalam islam untuk melayan seseorang yang tidak menyukainya & sentiasa melemparkan kata2 yang tidak menyenangkan?
    Salah satu cara mungkin boleh bersabar tapi tahap kesabaran setiap manusia biasa ada batasnya.

     
    « Last Edit: 28 May, 2009, 06:02:45 AM by Munaliza Ismail »
    Mirana[/i]

    Reply #2 28 May, 2009, 05:58:39 AM
  • Publish
  • Sifat-sifat Akhlak Seorang Muslim   


    Pernahkah terlintas, adakah aku berakhlak dengan akhlak islam? Sudahkah aku islam sepenuhnya? Atau masih lagi perlu dididik dan juga mendidik?

    "Aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah. Mengesakan AllahSWT dan mengakui Rasulullah SAW pesuruh Allah."

    "Aku solat 5 waktu sehari semalam. Kadang-kala lebih-lebih pula."

    "Aku juga berpuasa di bulan Ramadhan. Tidak sekali meninggalkannya selagi tiada ke'uzuran yang meringankan."

    "Aku membayar zakat. Tak pernah terlepas dan tak pula merasa beban."

    "Aku mahu menunaikan fardhu haji di Mekah. Cukuplah sekali sepanjang usia."


    Berpegang pada 5 rukun islam adalah wajib. Tetapi, ada lagi aspek kehidupan yang perlu dipertimbangkan. Pergaulan dengan masyarakat contohnya. Sesungguhnya, manusia adalah makhluk Allah yang sosial. Perlu pada perhubungan sesama manusia. Perlu berkomunikasi.

    Benarlah, Islam itu agama yang syumul. Melengkapi semua segi kehidupan. Termasuklah dari sudut akhlak. Rasulullah SAW juga diutuskan untuk seluruh umat.

    "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

    Akhlak itu merupakan tanda keimanan seseorang kerana akhlak yang baik adalah hasil daripada keimanan yang tersemat di hati. Namun, ramai manusia telah lupa perkaitan penting antara islam dan akhlak. Pada mereka, akhlak haruslah mengikut zaman dan masyarakat. Akhlak yang baik dan sempurna diukur mengikut garis panduan yang ditetapkan oleh manusia sendiri, tidak lagi mengikut perintah Allah SWt dan Nabi SAW.

    Fathi Yakan, dalam bukunya (Apa Ertinya Saya Menganut Islam) mewar-warkan hubungan penting antara akhlak dan agama. Rasulullah SAW ditanya tentang apakah itu agama? Baginda menjawab kemuliaan akhlak manakala apabila ditanya apakah itu kejahatan? Jawab baginda SAW adalah akhlak yang buruk.

    Melihat dari sudut 'ibadah, Islam secara halus mengajar manusia untuk berakhlak dengan akhlak islam. Contohnya, bepuasa mengajar manusia untuk patuh dan ta'at pada perintah Allah SWT. Patuh kepada perkara-perkara yang dilarang ketika berpuasa juga adalah bukti islam mendidik kita dengan akhlak islamiyah. Kesimpulannya, setiap apa yang kita lakukan adalah islam. Akhlak seharian kita juga adalah islam. Patuh pada sunnatullah.
    « Last Edit: 28 May, 2009, 06:01:30 AM by Munaliza Ismail »
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Reply #3 28 May, 2009, 06:00:43 AM
  • Publish
  • SIFAT-SIFAT AKHLAK SEORANG MUSLIM

        * bersifat warak dari melakukan perkara-perkara syubhat
        * memelihara penglihatan
        * memelihara lidah
        * bersifat pemalu
        * bersifat lemah-lembut dan sabar
        * bersifat benar
        * bersifat tawaduk
        * menjauhi sangka buruk dan mengumpat
        * bermurah hati.

    *Untuk penjelasan lanjut dan pemahaman mendalam, sila rujuk buku Apa Ertinya Saya Menganut Islam ditulis oleh Fathi Yakan.

    Sudah cukupkah aku mengamalkannya? Terasa masih lagi ada rompong, belum cukup. Namun, janganlah kita terlalu memaksa diri mencapai kesempurnaan hakiki kerana itu adalah suatu yang mustahil melainkan dengan kehendak Allah SWT. Sesungguhnya, setiap makhluk Allah ada kelemahan tambah-tambah lagi kita sebagai manusia yang dikurniakan 'akal.

    Apa yang lebih utama adalah usaha dan ikhtiar. Natijahnya, terpulanglah kepada Allah SWT. Sungguh, hati ini milik-Nya dan Dia-lah berkuasa membolak-balikkan hati manusia

    "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."

    (Surah al-Baqarah 2: 208)

    Reply #4 07 June, 2009, 09:06:57 AM
  • Publish
  • Assalamualaikum.

    Secara ringkasnya; Islam sebagai satu-satunya agama dualisme tulin; akhlak ialah 'segala sesuatu berkaitan membina dan memelihara hubungan yang harmoni seseorang manusia dengan Khalik dan membina dan memelihara hubungan yang harmoni sesama makhluk'. 

    Wassalam.
    « Last Edit: 07 June, 2009, 09:12:24 AM by rich_km »

    Reply #5 27 February, 2010, 12:45:45 PM
  • Publish
  • bleh x tuan/puan mmbntu syer menerangkan lebih detail tentang tajuk KEPENTINGAN AKHLAK MULIA DLAM KEHIDUPAN MUSLIM.

    Reply #6 21 September, 2010, 09:39:28 AM
  • Publish

  • Setiap muslim meyakini, bahwa Allah adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala isinya , Allah adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal ini mengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terimplementasikan dalam realita bahwa Allah-lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.

    Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka ini merupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain. Diantara akhlak terhadap Allah SWT adalah :



    1. Taat terhadap perintah-perintah-Nya
    Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah SWT, adalah dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya. Sebab bagaimana mungkin ia tidak mentaati-Nya, padahal Allah lah yang telah memberikan segala-galanya pada dirinya. Allah berfirman (QS.4:65): “Maka demi Rab-mu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
    Karena taat kepada Allah merupakan konsekwensi keimanan seorang muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini merupakan salah satu indikasi tidak adanya keimanan. Dalam sebuah hadits, Rosulullah SAW juga menguatkan makna ayat di atas dengan bersabda (yang artinya): “Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga hawa nafsunya (keinginannya) mengikuti apa yang telah datang dariku (Al-Qur’an dan Sunnah).” (HR.Abi Ashim al-syaiban)



    2. Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diembankan padanya.
    Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya, kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh itu, seorang mukmin senantiasa meyakini, apapun yang Allah berikan padanya, maka itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda (yang artinya):
    Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya),
    “ Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang amir (presiden/imam/ketua) atas manusia, merupakan pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita juga merupakan pemimpin atas rumah keluarganya dan juga anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Muslim)



    3. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT.
    Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT, adalah ridha terhadap segala ketentuan yang telah Allah berikan pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada maupun oleh keluarga yang tidak mampu, bentuk fisik yang Allah berikan padanya, atau hal-hal lainnya.
    Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin (baca; tsaqih) terhadap apapun yang Allah berikan pada dirinya. Baik yang berupa kebaikan, atau berupa keburukan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):
    “sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala urusannya adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.”(HR. Bukhari).
    Apalagi terkadang sebagai seorang manusia, pengetahuan atau pandangan kita terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap baik justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah memiliki kebaikan bagi diri kita.



    4. Senantiasa bertaubat kepada-Nya.
    Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah, etika kita kepada Allah, manakala sedang terjerumus dalam ‘kelupaan’ sehingga berbuat kemaksiatan kepada-Nya adalah dengan segera bertaubat kepada Allah SWT. Dalam al-Qur’an Allah berfirman(QS.3:135):
    “Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui.”



    5. Obsesinya adalah keridhaan Ilahi.
    Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akan memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktivitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak beramal dan beraktivitas untuk mencari keridhaan atau pujian atau apapun dari manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridhaan Allah tersebut ‘terpaksa’ harus mendapatkan ‘ketidaksukaan’ dari para manusia lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada kita:
    “Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan ‘adanya’ kemurkaan manusia, maka Allah akan memberikan keridhaan manusia juga. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara kemurkaan Allah, maka Allah akan mewakilkan kebencian-Nya pada manusia.”(HR. Tirmidzi, Al-Qadha’i dan ibnu Asakir).
    Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang terdapat dalam dirinya. Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman, orientasi yang dicarinya tentulah hanya keridhaan manusia. Ia tidak akan peduli, apakah Allah menyukai tindakannya atau tidak. Yang penting ia dpuji oleh orang lain.



    6. Merealisasikan ibadah kepada-Nya.
    Etika atau akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT adalah merealisasikan segala ibadah kepada Allah SWT. baik ibadah yang bersifat mahdhah, atauppun ibadah yang ghairu mahdhah. Karena pada hakekatnya, seluruh aktivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS.51:56):
    “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
    Oleh karenanya, segala aktivitas, gerak-gerik, kehidupan sosial dan lain sebagainya merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah. Sehingga ibadah tidak hanya yang memiliki skup mahdhah saja, seperti shalat, puasa, haji dan sebagainya.
    Perealisasian ibadah yang paling penting untuk dilakukan pada saat ini adalah beraktivitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat menerapkan hukum Allah di muka bumi ini. Sehingga Islam menjadi pedoman hidup yang direalisasikan oleh masyarakat Islam pada khususnya dan juga oleh masyarakat dunia pada umumnya.



    7. Banyak membaca Al-Qur’an.
    Etika dan akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah adalah dengan memperbanyak membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang merupakan firman-firman-Nya. Seseorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak dan sering menyebutnya.
    Demikian juga dengan mukmin, yang mencintai Allah SWT, tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut Asma-Nya dan juga senantiasa akan membaca firman-firman-Nya. Apalagi manakala kita mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an yang demikian besarnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita:
    “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu dapat memberikan syafaat di hari kiamat kepada para pembacanya.”(HR. Muslim)
    Adapun bagi mereka-mereka yang belum bisa atau belum lancar dalam membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga dapat membacanya dengan baik.
    Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an tersebut, maka Allah pun akan memberikan pahala dua kali lipat bagi dirinya. Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):
    “Orang (mukmin) yang membaca Al-Qur’an dan ia lancar dalam membacanya, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi suci. Adapun orang mukmin yang membaca Al-Qur’an, sedang ia terbata-bata dalam membacanya, lagi berat (dalam mengucapkan huruf-hurufnya), ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat.”(HR. Bukhori Muslim).
    "Wallahu A'lamu Bishowab"
    -LIL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS

    Reply #7 09 January, 2011, 04:50:29 AM
  • Publish
  •  :)
    Asas Akhlak dan Adab Seorang Mukmin

    Rasulullah s.a.w. telah menunjukkan kepada kita akhlak yang mulia  dan qudwah hasanah (suri tauladan yang baik)  untuk menjadi ikutan kita. Qudwah hasanah adalah satu bentuk dakwah yang paling berkesan sekali untuk kita mengajak orang lain kepada kebenaran Islam. Betapa ramai orang yang bukan Islam dizaman Nabi s.a.w telah memeluk Islam disebabkan mereka melihat contoh dan akhlak yang baik ditunjukkan oleh baginda.

    Seorang Mukmin mestilah menjadikan dirinya contoh ikutan yang baik kepada masyarakat. Segala tingkah-lakunya adalah menjadi gambaran kepada prinsip-prinsip Islam serta adab-adabnya seperti dalam hal makan minum, cara berpakaian, pertuturan, dalam suasana aman, dalam perjalanan malah dalam seluruh tingkah laku dan diamnya.

    Seorang ulama' besar Imam Qairawani ada mengatakan bahawa setiap sesuatu yang hendak dibina mestilah ada asasnya. Maka asas kepada pembentukan akhlak dan adab  seorang Mukmin adalah perlu kepada empat perkara penting iaitu :

    1. Meninggalkan perkara yang sia-sia.

    2. Mencintai saudara seagama.

    3. Sentiasa berkata yang baik dan diam.

    4. Mengawal perasaan marah.

    Hidup di dunia bukan sekadar suatu kembara yang akan berakhir tatkala nafas terakhir terhela. Jua bukan bermakna kehidupan seseorang manusia itu akan ternoktah tatkala nyawa terpisah dari jasad. Sebaliknya, tatkala jasad ditinggalkan roh, hidup baru bagi seseorang manusia itu bermula.

    Reply #8 09 January, 2011, 04:52:30 AM
  • Publish
  •  :)

    Huraiannya:-



    Jika sekiranya empat ciri-ciri di atas dapat dihayati maka ia telah memiliki asas akhlak dan adab yang perlu dimiliki oleh seorang Mukmin. Perkara-perkara tersebut adalah seperti berikut :

    Pertama : Meninggalkan perkara yang sia-sia.

    Dari Abu Hurairah r.a berkata Nabi s.a.w bersabda maksudnya : " Sebaik-baik Islam seseorang itu adalah peninggalannya tentang apa yang tiada kena mengena dengannya.”

    Meninggalkan perkara-perkara yang tiada kena mengena dengan kita sebagai seorang Mukmin iaitu perkara-perkara yang sia-sia dan tidak mendatangkan faedah. Termasuk perkara yang sia-sia adalah semua perkara yang haram , makruh dan syubha. Manakala segala perkara yang berkaitan dengan kita pula ialah perkara yang menjadi suruhan Allah s.w.t samaada  perkara wajib mahupun sunat.

    Adapun perkara harus itu hendaklah kita berhati-hati dengannya kerana boleh jadi ia berkaitan dengan kita dan boleh jadi ia tidak berkaitan dengan kita. Umpamanya, hiburan dan nyanyian itu harus hukumnya di sisi Islam tetapi ia boleh menjadi makruh dan haram sekiranya tidak penuhi syarat-syaratnya. Jika ianya melalaikan kita daripada kewajipan kita kepada Allah s.w.t maka ia boleh  jatuh kepada haram. Makan dan minum itu harus tetapi jika kita makan berlebih-lebihan hingga mendatangkan mudharat kepada kesihatan ianya boleh menjadi  haram. Begiti juga sebaliknya tidur itu harus jika kita berniat tidur kerana Allah  untuk menjaga kesihatan dan untuk memberi kekuatan untuk bangun solat tahajjud maka tidur seperti ini akan mendapat pahala di sisi Allah s.w.t.

    Maka kesimpulannya, Al Qur'an dan As Sunnah lah yang menjadi kayu ukur sama ada sesuatu itu ada kena mengena dengan kita atau tidak.

    Kedua : Mencintai saudara sesama Muslim.

    Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik r.a bersabda Nabi s.a.w. : "Tiada beriman sesaorang kamu, sehinggalah ia mencintai bagi saudaranya sama seperti ia menyintai bagi dirinya sendiri. "

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud :“Tiadalah dua orang yang berkasih sayang kerana Allah melainkan yang terlebih dikasihi Allah dari kedua mereka ialah orang yang terlebih kasih kepada saudaranya.”
    (Hadis Riwayat Ibn Hibban dan Hakim)

    Dari Muaz bin Jabal meriwayatkan, aku mendengar Rasulullah s.a.w. meriwayatkan hadis qudsi : Allah Azzawa Jalla berfirman yang bermaksud : " Orang-orang yang mencintai satu sama lain kerana kebesaran dan kemuliaan-Ku akan duduk diatas mimbar-mimbar nur pada hari kiamat, (bahkan) nabi-nabi dan para syuhada akan beriri hati kepada mereka."
    (Hadis Riwayat Tirmizi)

    Hadis di atas menekankan bahawa tanda kesempurnaan iman seseorang Muslim itu ialah dia menyayangi sesuatu yang ada pada saudaranya sebagaimana ia menyayangi sesuatu yang ada pada dirinya sendiri.

    Orang yang beriman adalah insan yang bersih hati dan jiwanya daripada bersangka buruk kepada saudaranya yang lain. Dia juga tidak akan menyakiti Muslim lain dengan lidah dan tangannya. Dari hati dan jiwa yang bersih ini akan melahirkan kasih sayang semata-mata kerana Allah s.w.t.

    Sifat orang Mukmin adalah sentiasa baik sangka kepada saudaranya yang lain. Dia cinta dan kasih pada saudaranya semata-mata kerana Allah. Dia datang berziarah dan memberikan pertolongan dengan harta, masa dan nasihat yang baik adalah semata-mata kerana Allah dan bukan diatas sebab-sebab ada kepentingan duniawi  atau kerana hubungan keluarga.

    Dalam hadis yang lain daripada Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w bersada yang maksudnya, "Siapa yang melapangkan satu kesusahan orang yang beriman daripada kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan melapangkan orang itu satu kerumitan dari kerumitan akhirat. Dan siapa yang memudahkan orang yang susah, Allah akan memudahkannya didunia dan diakhirat. Siapa yang menutup keaiban orang Islam, Allah akan menutup keaibannya didunia dan diakhirat. Dan Allah sentiasa menolong hamba itu selagi hamba itu mahu menolong saudaranya."
    (Hadis Riwayat Muslim).

    Ketiga : Sentiasa berkata yang baik dan diam.

    Dari Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w  bersabda maksudnya : " Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah berkata yang baik atau berdiam diri... ."

    Seorang Muslim sejati hendaklah sentiasa menjaga kata-katanya agar tidak terkeluar daripada batas-batas syari'at. Ini kerana kata-kata yang terkeluar daripada batas syara' boleh menyebabkan seseorang itu mendapat kemurkaan Allah dan lebih teruk lagi apabila seseorang itu mempertikaikan hukum-hukum Allah s.w.t dan mengatakan hukum-hukum Allah s.w.t sudah tidak sesuai dengan zaman. Kata-kata seperti ini  boleh menyebabkan aqidah tergadai. Jauhilah mulut daripada mengumpat, memfitnah, mengadu domba dan memperkecil-kecilkan orang lain. Itu yang melibatkan dosa besar, sedangkan dosa kecil yang melibatkan perkataan pun Nabi larang.

    Rasulullah s.a.w.  bersabda yang bermaksud:“Kebanyakan dosa anak Adam adalah kerana lidahnya.”
    (Hadis riwayat Tabrani dan Baihaqi)

    Walaupun lidah adalah satu anggota tubuh badan manusia yang kecil menghiasi kesempurnaan kejadian makhluk Allah, lidah mempunyai peranan besar dalam kehidupan manusia.

    Pada satu ketika, lidah boleh memuliakan serta mengangkat maruah seseorang dan dalam ketika yang lain, lidah mampu pula untuk menghina dan menjatuhkan seseorang. Malah, lidah berupaya membawa kejayaan juga kegagalan. Maka tidak hairanlah orang tua ada bermadah, ’sebab pulut santan binasa, sebab mulut badan binasa’.

    Menyedari akan kedudukan lidah yang penting, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

    “Ketika seseorang memasuki pagi yang hening, seluruh anggota tubuhnya akan berlutut merayu kepada lidah seraya berkata: Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah kerana kami sangat bergantung kepada engkau. Apabila engkau beristiqamah, kami pun akan turut sama beristiqamah. Sebaliknya jika engkau menyimpang dari jalan yang benar, kami pun turut menyimpang.”
    (Hadis riwayat Tirmizi)

    Secara prinsipnya seorang Mukmin bila ada sesuatu yang boleh mendatangkan kebaikan maka ia akan berkata-kata dengan baik dan tidak ada sesuatu perkataan yang keluar daripada lidahnya  melainkan perkataan yang baik belaka dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Tetapi bila dalam satu keadaan berdiam diri lebih baik maka ketika itu ia akan berdiam diri kerana dengan berdiam diri itu akan mendatangkan pahala.

    Keempat : Mengawal perasaan marah.

    Marah adalah salah satu sifat mazmumah yang harus di jauhi supaya kita tidak termasuk dikalangan orang yang memilikmi sifat tercela.. Sesiapa yang tidak dapat mengawal perasaan marah sebenarnya ia sedang dikuasi oleh hawa nafsu.

    Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi s.a.w., "Berilah aku wasiat?."Nabi s.a.w. bersabda: : "Janganlah engkau marah"Orang tersebut mengulangi permintaannya hingga beberapa kali, sedang Nabi s.a.w. bersabda : " Janganlah engkau marah"(Hadis Riwayat. Bukhari).

    Sabda Nabi s.a.w yang bermaksud, “Tidaklah seseorang dikatakan pemberani dan kuat karena cepat meluapkan amarahnya, tetapi seseorang dikatakan pemberani dan kuat kalau mampu menguasai diri dan nafsunya ketika marah"

    Banyak keadaan marah boleh mendatangkan perkara buruk. Apabila seseorang itu marah, ia dibantu oleh syaitan. Syaitan adalah musuh utama manusia yang berjanji kepada Allah untuk menggoda dan memesongkan anak cucu Adam.

    Marah itu sifatnya panas dan panas itu sifat api. Maka cara untuk memadamkan api ialah dengan air. Apabila seseorang itu terasa ingin marah, maka Nabi mengajar kita agar berwudhu' supaya hati yang ingin atau sedang marah disejukkan oleh air wudhu'. Marah tidak mendatangkan manfaat kepada kita bahkan ia membawa kepada permusuhan dan dendam kesumat. Jadi, seorang Mukmin hendaklah mengawal emosinya agar tidak mudah marah dan menggantikannya dengan sifat sabar, salah satu sifat mahmudah (terpuji).

    Adapun marah kerana agama, maka ia adalah dituntut. Contohnya, kita marahkan anak kita kerana tidak menunaikan solat.Maka perbuatan itu adalah bertujuan untuk mendidik. Hendaklah kita membezakan antara marah kerana emosi dengan marah kerana mendidik.
    « Last Edit: 09 January, 2011, 04:54:45 AM by rabbitah »

    Reply #9 09 January, 2011, 11:50:10 AM
  • Publish
  • Guru saya berpesan banyakkan zikir agar keluar segala sifat yang tak baik(sifat mazmumah) dalam diri

    Reply #10 13 February, 2011, 10:14:21 PM
  • Publish
  • :)

    Faktor penyelewengan akhlak


    Dalaman

    *Hawa Nafsu
    Nafsu sentiasa menyuruh ke arah kejahatan kecuali jiwa yang diberi hidayah(dengan mujahadatul an-nafs dan muhasabatul an-nafs),kalau tidak berusaha memperoleh hidayah,mudah terpengaruh dengan nafsu kejahatan.

    *Syaitan
    Tidak menuntut ilmu agama , maka tidak mengenali baik buruk, tidak tahu mana satu perbuatan syaitan, maka ikutlah perbuatan syaitan.


    Luaran

    *Usia muda , tulang masih kuat, guna untuk melepak, membuang masa.

    *Kelapangan masa yang digunakan untuk melakukan perkara yang sia-sia.

    *Kemewahan hidup, untuk hiburan nafsu semata-mata

    *Teman yang jahat yang dipilih, yang baik diperlekehkan.

    *Kerosakan masyarakat(persekitaran) yang penuh maksiat, kita pun join sekali.

    Allahua'lam..semoga tergolong dalam yang terpelihara...dan mati dalam keimanan...insyaAllah..senyum*
    Jangan menilai saya berdasarkan penulisan atau post saya!!!!!(kalau saya post pasal christianity/pluralisme bukan saya nak ajak anda join agama/fahaman itu!!!!atau saya seorang christian!!!!!TETAPI saya sedang berkongsi apa yang saya belajar!!!!!
    INGAT!!!!DAKWAH IS NOT ABOUT I AM BETTER THAN YOU!!!

    Reply #11 26 January, 2012, 10:21:36 AM
  • Publish
  • SIFAT-SIFAT AKHLAK SEORANG MUSLIM

        * bersifat warak dari melakukan perkara-perkara syubhat
        * memelihara penglihatan
        * memelihara lidah
        * bersifat pemalu
        * bersifat lemah-lembut dan sabar
        * bersifat benar
        * bersifat tawaduk
        * menjauhi sangka buruk dan mengumpat
        * bermurah hati.

    *Untuk penjelasan lanjut dan pemahaman mendalam, sila rujuk buku Apa Ertinya Saya Menganut Islam ditulis oleh Fathi Yakan.

    Sudah cukupkah aku mengamalkannya? Terasa masih lagi ada rompong, belum cukup. Namun, janganlah kita terlalu memaksa diri mencapai kesempurnaan hakiki kerana itu adalah suatu yang mustahil melainkan dengan kehendak Allah SWT. Sesungguhnya, setiap makhluk Allah ada kelemahan tambah-tambah lagi kita sebagai manusia yang dikurniakan 'akal.

    Apa yang lebih utama adalah usaha dan ikhtiar. Natijahnya, terpulanglah kepada Allah SWT. Sungguh, hati ini milik-Nya dan Dia-lah berkuasa membolak-balikkan hati manusia

    "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."

    (Surah al-Baqarah 2: 208)
    Pelajaran dari buku yang menjadi Pedoman Hidup bersama-sama''Yang baik jadikan Tauladan yang buruk dijadikan sempadan.

    Allah swt Redha pada hambanya dalam segala hal..sudahkah hambaNya Redha atas kudratNya,,,baik dan jahat sudah ditentukan,mungkar dan jahil diimbangkan agar kita selalu berlapang dada,hanya yang sewajarnya kita Sabar dan menolakkan secara hikmah...
    Idfa, billati hiya Ahsan.."tolak dan tepislah kamu dalam menanagani sesuatu secara bijaksana"
    Buang yang keroh ambil yang jernih..
    Itu air bah bertakong tu usah biarkan nanti sampah sarap bertakong dan akan membawa mudharat,maka bersihkan sampah itu sedikit demi sedikit saling tolong-menolong pada diri masing masing dan berserah diri kepada Allah dan ikhlaskan/sucikan zahir dan bathinmu agar ceriah hidup berpanjangan...
    İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
    hubungan dengan ukhuwahfıllah perpaduan Ummah seutuh

    Reply #12 26 January, 2012, 10:23:52 AM
  • Publish
  • "Akan berlaku selepas peninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengikut petunjukku, tidak mengikut sunnahku dengan panduan sunnahku. Akan muncul pula di kalangan kamu orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan (manusia berhati syaitan). Aku (Huzaifah) bertanya: Apakah harus aku lakukan jika aku menemuinya? Baginda bersabda: Hendaklah kamu mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan merampas harta-bendamu." [HR Imam Bukhari dan Imam Muslim].

    Hadis diatas tidak membawa maksud anda perlu redho dengan kezaliman pemimpin ia jelas bertentangan dengan tuntutan syarak. Hadis tersebut sebenarnya hanya menuntut kita taat jika pemimpin tersebut menyuruh pada yang baik walaupun pemimpin itu telah melaku kezaliman terhadap kita.Manakala dalam hal maksiat kita perlu menidakkannya dan menentangnya dengan cara yang hikmah mengikut tahap -tahap yang diperlukan untuk menyedarkannya.
    sy hanyalah seorang islam yang biasa

    Reply #13 28 January, 2012, 03:04:31 PM
  • Publish
  •  :)
    bagaimana pula orang yang dilihat baik pada agamanya (solat awal waktu, berjemaah di masjid, hafal quran, hadith, pandai berhujjah tentang islam) tapi...rendah pada akhlaknya, contohnya boleh terjebak menonton video2 haram, mulut celupar mengeluarkan kata2 nista dan keji, kutuk maki hamun orang lian,  mudah panas baran dan berkasar.

    Macam mana ni ye? adakah berkaitan dgn IMAN? atau amalan2nya yang tidak mendapat keberkatan ALLAH S.W.T? Seringkali menjadi persoalan diri ini. Minta yang arif huraikan...syukran
    cantik wanita kerana kejernihan wajah,manis wanita kerana senyuman,
    hebat wanita kerana kesabaran, mulia wanita kerana keimanan dan kecintaan Ilahi...

    Reply #14 28 January, 2012, 03:12:42 PM
  • Publish
  • :)
    bagaimana pula orang yang dilihat baik pada agamanya (solat awal waktu, berjemaah di masjid, hafal quran, hadith, pandai berhujjah tentang islam) tapi...rendah pada akhlaknya, contohnya boleh terjebak menonton video2 haram, mulut celupar mengeluarkan kata2 nista dan keji, kutuk maki hamun orang lian,  mudah panas baran dan berkasar.

    Macam mana ni ye? adakah berkaitan dgn IMAN? atau amalan2nya yang tidak mendapat keberkatan ALLAH S.W.T? Seringkali menjadi persoalan diri ini. Minta yang arif huraikan...syukran

    ini yang saya tahu laaa, terpulang percaya ke tak

    kelakuan di atas akibat dirinya, berdampingan syaitan, jin, bunian
    daripada keturunannya

    sesungguhnya, pada sesiapa saja, ada syaitan berjalan dalam darah, yang rasulullah punya, rasul saw berkata, telah mengikut aku

    pada orang lain kebanyakannya aku ikut mereka

    begitulah, sungguhlah Baran ialah amarah dari syaitan

    suka membalas kata nista bukanlah sunnah Rasul saw
    patut percakapan ialah mendoakan kebaikan


    hal ni jika kalian lihat saya yang melakukan, tolonglah pesan, ingat Allah wey, ingat allah

    inshallah ya, Rujuk 43 36 dan 37

    ambillah pelajaran

    bukanlah dendangan, amalan membaca ayat, melainkan ambil pelajarannya

    inshallah ya

    Reply #15 28 January, 2012, 06:19:09 PM
  • Publish
  • :)
    bagaimana pula orang yang dilihat baik pada agamanya (solat awal waktu, berjemaah di masjid, hafal quran, hadith, pandai berhujjah tentang islam) tapi...rendah pada akhlaknya, contohnya boleh terjebak menonton video2 haram, mulut celupar mengeluarkan kata2 nista dan keji, kutuk maki hamun orang lian,  mudah panas baran dan berkasar.

    Macam mana ni ye? adakah berkaitan dgn IMAN? atau amalan2nya yang tidak mendapat keberkatan ALLAH S.W.T? Seringkali menjadi persoalan diri ini. Minta yang arif huraikan...syukran


    ini yang saya tahu laaa, terpulang percaya ke tak

    kelakuan di atas akibat dirinya, berdampingan syaitan, jin, bunian
    daripada keturunannya

    sesungguhnya, pada sesiapa saja, ada syaitan berjalan dalam darah, yang rasulullah punya, rasul saw berkata, telah mengikut aku

    pada orang lain kebanyakannya aku ikut mereka

    begitulah, sungguhlah Baran ialah amarah dari syaitan

    suka membalas kata nista bukanlah sunnah Rasul saw
    patut percakapan ialah mendoakan kebaikan


    hal ni jika kalian lihat saya yang melakukan, tolonglah pesan, ingat Allah wey, ingat allah

    inshallah ya, Rujuk 43 36 dan 37

    ambillah pelajaran

    bukanlah dendangan, amalan membaca ayat, melainkan ambil pelajarannya

    inshallah ya

    betul cakap azy mazyah...banyak yang begini...ilmu agama tinggi..tapi akhlak..?

    dan betul juga cakap tok batu...(SAYA PERCAYA)

    dah banyak contoh yang saya lihat..

    ada yang taat beribadat...dok mengaji hari2..tapi dengan isteri..masih panas baran..hari2 dok bergaduh...

    ada yang baik dengan orang sekeliling..suka membantu..tapi tidak dengan ahli keluarga sendiri........

    mungkinkah setiap orang yang baik..akan ada sisi keburukannya.

    dan setiap orang yang jahat itu juga ada sisi kebaikannya....

    tak ada manusia yang perfect.

    tapi perlu berusaha buang segala yang tak baik dalam diri...perlu beriktiar perbaiki diri....

    setelah kenal pasti kelemahan kita..dah berusaha membaikinya....kalau masih juga...tak dapat bagus 100%...tawakal lah pada Allah..

    mohon keampunan padaNYA sentiasa.Mungkin juga..kita dianugerahkan kelemahan sebegini..supaya kita ingat tuhan..dan tak lalai.

    Sedar yang kita hamba yang lemah..Selalu kena mohon kekuatan dari NYA.

    Wallahu'alam.

    p/s Kalau Tok Batu buat begini..insyallah nanti saya tolong ingatkan (senyum)



    Reply #16 28 January, 2012, 06:28:25 PM
  • Publish
  • Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

    Sahabat yang dirahmati Allah,
    Nabi SAW bersabda yang bermaksud : “Orang mukmin bukan seorang pencela, bukan seorang pengutuk, bukan seorang yang keji dan bukan seorang yang berkata kotor.” (Hadis Riwayat Ibnu Mas'ud)

    Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya : “Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka kerana tidak dapat mengendalikan lidahnya?”. (Hadis Riwayat Tirmidzi)

    Seorang mukmin akan sentiasa menjaga akhlak dan adab sopan dan kehidupannya. Akhlak dan kesopanan adalah pakaian seorang mukmin sejati. Justeru, dalam kempen pilihan raya bukannya masa untuk kita menanggalkan akhlak dan adab sopan.

    Antara anggota badan yang paling banyak digunakan dalam kempen pilihan raya adalah lidah untuk tutur bicara. Calon dan penyokong parti akan menggunakan lidah untuk berkempen dan menarik sokongan dan kepercayaan pengundi dengan manifesto dan janji-janji yang akan ditunaikan sekiranya diberi peluang untuk memenangi pilihanraya.

    sumber : http://abubasyer.blogspot.com/2012/01/orang-mukmin-sentiasa-menjaga-lidah-dan.html

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    19 Replies
    5238 Views
    Last post 18 June, 2010, 10:50:06 PM
    by dollmatt
    8 Replies
    1929 Views
    Last post 07 October, 2011, 10:20:27 PM
    by impliqasea
    2 Replies
    1397 Views
    Last post 06 July, 2011, 10:44:45 AM
    by azy mazyah