'Abasa - Bermuka masam - عبس

*

Author Topic: 'Abasa - Bermuka masam - عبس  (Read 2131 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

29 January, 2010, 09:51:57 AM
  • Publish


  • Surah: 80 daripada 114 Senarai Surah.
    Jumlah ayat: 42
    Baca Satu Persatu



    1. Ia memasamkan muka dan berpaling,

    2. Kerana ia didatangi orang buta.

    3. Dan apa jalannya Engkau dapat mengetahui (tujuannya, Wahai Muhammad) ? Barangkali ia mahu membersihkan hatinya (dengan pelajaran ugama yang didapatinya daripadamu)! -

    4. Ataupun ia mahu mendapat peringatan, supaya peringatan itu memberi manfaat kepadaNya.

    5. Adapun orang yang merasa keadaannya telah cukup, tidak berhajat lagi (kepada ajaran Al-Quran),

    6. Maka Engkau bersungguh-sungguh melayaninya.

    7. Padahal Engkau tidak bersalah kalau ia tidak mahu membersihkan dirinya (dari keingkarannya).

    8. Adapun orang yang segera datang kepadaMu,

    9. Dengan perasaan takutnya (melanggar perintah-perintah Allah), -

    10. Maka Engkau berlengah-lengah melayaninya.

    11. Janganlah melakukan lagi yang sedemikian itu! sebenarnya ayat-ayat Al-Quran adalah pengajaran dan peringatan (yang mencukupi).

    12. Maka sesiapa yang mahukan kebaikan dirinya, dapatlah ia mengambil peringatan daripadanya.

    13. (ayat-ayat suci itu tersimpan) Dalam naskhah-naskhah yang dimuliakan, -

    14. yang tinggi darjatnya, lagi suci (dari Segala gangguan), -

    15. (Terpelihara) di tangan malaikat-malaikat yang menyalinnya dari Lauh Mahfuz;

    16. (malaikat-malaikat) yang mulia, lagi yang berbakti.

    17. Binasalah hendaknya manusia (yang ingkar) itu, betapa besar kekufurannya?

    18. (tidakkah ia memikirkan) dari apakah ia diciptakan oleh Allah? -

    19. Dari air mani diciptakanNya, serta dilengkapkan keadaannya Dengan persediaan untuk bertanggungjawab;

    20. Kemudian jalan (baik dan jahat), dimudahkan Tuhan kepadanya (untuk menimbang dan mengambil mana satu yang ia pilih);

    21. Kemudian dimatikannya, lalu diperintahkan supaya ia dikuburkan;

    22. Kemudian apabila Allah kehendaki dibangkitkannya (hidup semula).

    23. Janganlah hendaknya ia kufur ingkar lagi! sebenarnya ia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadaNya.

    24. (Kalaulah ia tidak memikirkan asal dan kesudahan dirinya), maka hendaklah manusia melihat kepada makanannya (bagaimana Kami mentadbirkannya):

    25. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan hujan Dengan curahan yang menakjubkan.

    26. Kemudian Kami belah-belahkan bumi Dengan belahan yang sesuai Dengan tumbuh-tumbuhan, -

    27. Lalu Kami tumbuhkan pada bumi biji-bijian,

    28. Dan buah anggur serta sayur-sayuran,

    29. Dan zaitun serta pohon-pohon kurma,

    30. Dan taman-taman yang menghijau subur,

    31. Dan berbagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput, -

    32. Untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternak kamu.

    33. Kemudian (ingatlah keadaan yang berlaku) apabila datang suara jeritan yang dahsyat, -

    34. Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya,

    35. Dan ibunya serta bapanya,

    36. Dan isterinya serta anak-anaknya; -

    37. Kerana tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu, ada perkara-perkara yang cukup untuk menjadikannya sibuk Dengan hal dirinya sahaja.

    38. Muka (orang-orang yang beriman) pada hari itu berseri-seri,

    39. Tertawa, lagi bersuka ria;

    40. Dan muka (orang-orang yang ingkar) pada hari itu penuh berdebu,

    41. Diliputi oleh warna hitam legam dan gelap-gelita. -

    42. Mereka itu ialah orang-orang yang kafir, yang derhaka.


    sumber rujukan tafsiran.net
    Timbangan yang paling berat diakhirat ialah Akhlak.

    Ummi Munaliza

    • *
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #1 29 January, 2010, 10:23:56 AM
  • Publish

  • [bg=http://www.mooseyscountrygarden.com/hampton-court-flower-show-marquees/pastel-sweetpea-flowers.jpg]Siapakah Yang Bermuka Masam?


    Sebab turunnya surat Abasa (QS:80) berasal dari sebuah peristiwa sejarah. Suatu ketika Nabi SAAW tengah bersama sejumlah orang kaya Quraisy dari suku Umayyah. Ketika Rasul Allah SAAW tengah mengajari mereka, ‘Abd Allah ibn Ummi Maktum, seorang buta dan termasuk salah seorang sahabat Nabi SAAW, datang kepadanya. Nabi SAAW menyambutnya dengan penuh hormat dan memberikan tempat duduk yang paling dekat dengan dirinya. Bagaimanapun, Nabi SAAW tidak menjawab pertanyaan orang buta dengan segera mengingat ia berada di tengah pembicaraan dengan suku Quraisy. Karena ‘Abd Allah miskin dan buta, para pembesar Quraisy merendahkannya dan mereka tidak suka penghormatan dan penghargaan yang ditujukan kepadanya oleh Nabi SAAW. Mereka juga tidak suka kehadiran orang buta di tengah-tengah mereka sendiri, dan perkataannya yang menyela perbincangan mereka dengan Nabi SAAW. Akhirnya, salah seorang kaya dari Bani Umayyah (Walid ibn Mughiro) bermuka masam dan berpaling daripadanya.

    Perbuatan orang kaya Quraisy tidak diridhai oleh Allah dan Dia menurunkan surat Abasa (80) melalui malaikat Jibril di waktu yang sama. Surat ini memuji kedudukan ‘Abd Allah kendati ia papa dan buta. Dan, dalam ayat-ayat belakangan Allah “mengingatkan” Nabi-Nya SAAW bahwa mengajari seorang kafir tidaklah penting andaikata orang kafir itu tidak cenderung untuk menyucikan dirinya dan menyakiti seorang mu’min hanya karena ia tidak kaya dan sehat.

    Sejumlah mufasir dan ulama mengatakan bahwa surat Abasa ini ditujukan untuk Nabi Allah SAAW karena Nabi SAAW bermuka masam karena kehadiran ‘Abd Allah yang miskin dan buta.

    Faktanya adalah Al-Qur’an tidak memberikan keterangan apapun bahwa yang bermuka masam kepada orang buta adalah Nabi SAAW dan juga tidak memastikan siapa yang dituju (oleh ayat tersebut). Lebih dari itu terjadi perubahan kata benda dari dia dalam dua ayat pertama kepada ” engkau” dalam ayat-ayat terakhir dalam surat tersebut. Allah tidak menyatakan “Engkau bermuka masam dan berpaling”, tapi menyatakan, ” Dia bermuka masam dan berpaling (ketika ia tengah bersama Nabi). Karena telah datang kepadanya seorang yang buta. Tahukah kamu bahwa ia (orang buta tersebut) ingin membersihkan dirinya dari dosa,” (QS 80:1-3)



    Kendatipun kita mengandalkan bahwa “engkau” dalam ayat ketiga tertuju kepada Nabi SAAW, maka nyatalah dari tiga ayat di atas bahwa kata kata “dia” (orang yang bermuka masam) dan “kamu” tertuju pada dua orang yang berbeda.

    Kata “kau” atau “mu” dalam Al-Qur’an tidaklah selalu harus ditujukan kepada Nabi SAAW; dalam QS 75:34-35 kata “engkau” ditujukan kepada orang kafir, “Kecelakaanlah bagi engkau (orang kafir), maka kecelakaanlah (bagi engkau)”

    Kata ” tawalla” (berpaling) dalam surat Abasa ayat 1 ( QS 80:1 ), juga akan ditemui di QS 75:32, QS 88:23, QS 96:13 yang ketiga-tiganya ditujukan untuk orang kafir. Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an, kata ” abasa” disebutkan 2 kali: surat Abasa sendiri ( QS 80:1 ) dan surat Al-Muddatstsir ( QS 74:22 ). Dalam ( QS 74:22 ) tersebut kata ” abasa” ditujukan untuk orang kafir.

    Maka, berdasarkan bukti di atas, apakah mungkin orang yang bermuka masam dan berpaling adalah Nabi SAAW yang akhlaknya terjamin mulia dan agung? Apakah mungkin Nabi SAAW disejajarkan dengan orang kafir?

    Lebih dari itu, bermuka masam bukanlah perilaku yang berasal dari Nabi SAAW terhadap musuh-musuhnya yang nyata, apalagi (bermuka masam) terhadap orang beriman yang mencari petunjuk! Satu lagi pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bisa seorang Nabi SAAW yang diutus sebagai rahmat untuk umat manusia berbuat tidak senonoh seperti itu? Dakwaan ini juga berlawanan dengan pujian Allah SWT sendiri atas moral luhur dan etika mulia dari Nabi SAAW, ” Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung,” (QS 68:4) . Tidak ada keraguan atas kemuliaan akhlak Nabi SAAW, bahkan Allah SWT bersumpah demi bintang apabila tenggelam, “Demi bintang apabila terbenam, tidaklah sesat sahabat kamu itu (Muhammad) dan tidak keliru,” (QS 53:1-2)

    “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah.” (QS 33:21)

    Disepakati bahwa surat al Qalam ( QS 68 ) turun sebelum surat Abasa. Ia bahkan diturunkan segera setalah surat Iqra’ ( QS 96 – surat pertama yang diwahyukan ). Bagaimana bisa masuk akal bahwa Allah melimpahkan kebesaran pada makhluk-Nya di permulaan kenabiannya, menyatakan bahwa ia berada dalam budi pekerti yang agung, dan setelah itu balik menegur dan memperingatkannya atas keraguan yang tampak pada tindakan moralnya.

    Kesimpulan akhir adalah orang yang menghina orang buta itu BUKANLAH Nabi SAAW. Ulama dan orang yang menganggap Nabi SAAW menghina orang buta berarti mereka menganggap diri mereka lebih mulia dari Nabi SAAW, karena mereka menganggap diri mereka tidak mungkin akan bermuka masam dan berpaling jika ada orang miskin dan buta datang kepada mereka.


    [/bg]
    « Last Edit: 29 January, 2010, 10:28:12 AM by Ummi Munaliza »
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Ummi Munaliza

    • *
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #2 29 January, 2010, 10:47:08 AM
  • Publish

  • Benarkah Surat Abasa Teguran kepada Nabi yang Bermuka Masam?

    Assalammu''alakum,

    Pak ustadz, saya mau menanyakan perihal tafsir surat Abasa. Benarkah tafsir surat itu ditujukan kepada Nabi Muhammad yang sangat sayang kepada fakir miskin dan anak yatim? Jika tafsir itu benar ditujukan kepada beliau bukankah itu sangat kontradiksi dengan ayatQ uran lainnya? Ahlaq nabi adalah al-Quran (al-Hadis).

    Pernah ada orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa lebih mulia dibandingkan Muhammad karena Nabi Isa mau mengobati penyakit kusta sedang Nabi Muhammad memalingkan muka dan bermuka masam kepada orang buta. Saya mohon penjelasannya.

    Jawapan

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Tidak ada yang salah dengan surat ''Abasa yang mengisahkan tentang nabi Muhammad SAW bermuka masam. Juga tidak ada yang salah dengan sikap itu bagi seorang nabi Muhammad SAW. Sikap itu adalah sikap manusiawi yang tidak merusak apapun.

    Sebaliknya, adanya surat ''Abasa jelas membuktikan bahwa Al-Quran itu bukan karangan nabi Muhammad SAW. Sebab secara sekilas, surat itu memang mengkritik sikap beliau yang bermuka masam terhadap seorang yang minta diajarkan tentang agama yang dibawanya.

    Kalau seandainya Al-Quran itu karangan beliau, pastilah tidak akan ada ayat yang mengkritik sikap beliau. Logikanya, mana mungkin seorang pengarang buku menjelekkan diri sendiri dalam bukunya. Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa Al-Quran bukan karangan beliau. Dan sesungguhnya memang bukan karangan beliau, melainkan datang dari sisi Allah SWT.

    Namun bermuka masam kepada Abdullah bin Ummi Maktum ra. bukan sebuah dosa. Hanya merupakan hal yang kurang layak saja. Namun alasannya juga sangat pantas, yaitu lantaran saat itu beliau SAW sedang sibuk sekali memikirkan bagaimana agar para tokoh Quraisy bisa masuk Islam. Logika sederhananya, bila para tokoh itu bisa masuk Islam, maka orang-orang kecil semacam Abdullah bin Ummi Maktum ini tentu akan mudah.

    Logika manusiawi beliau SAW saat itu kira-kira demikian. Dan sebagai manusia biasa, adalah wajar baginya punya nalar sekilas seperti itu. Dan ketika turun ayat yang menegur beliau, tentunya beliau segera melayani permintaan shahabatnya itu.

    Dan sama sekali tidak perlu dipersoalkan memang, bahkan meski teguran itu datang lewat ayat Quran yang bersifat abadi, manfaatnya buat kita yang lebih utama justru bukan pada bermuka masamnya, melainkan pada pembuktian bahwa Rasulullah SAW itu bukan penulis Al-Quran, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh lawan.

    Bahkan Abdullah bin Ummi Maktum ra. sendiri setelah kejadian itu tidak kecil hati, sebaliknya beliau malah merasa bangga. Sebab karena dirinya seorang nabi ditegur tuhannya.

    Sampai ketika perang Qadisiyah sepeninggal Rasulullah SAW, shahabat nabi yang buta ini punya permintaan untuk membawa bendera umat Islam di medan tempur. Ketika para jenderal menolaknya lantaran beliau seorang tuna netra, beliau pun mengeluarkan ''ancaman'' yang tidak bisa dibantah. "Apakah kalian menolak permintaanku, padahal Rasulullah SAW ketika dahulu menolak permintaanku, langsung ditegur Allah?" Maka bendera itu pun diserahkan kepadanya, meski beliau seorang tuna netra.

    Jadi...

    Tidak ada yang sakit hati atas turunnya ayat ''Abasa itu, bahkan buat si buta Abdullah bin Ummi Maktum, hal itu justru menjadi kebanggaan tersendiri. Sebab biasanya ayat Quran turun menegur para shahabat atau orang kafir, tapi ada satu ayat yang turun menegur nabi Muhammad SAW, di mana hal itu terjadi lantaran dirinya.

    Akan halnya Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan nabi Isa as, tentu saja buat umat Islam tidak ada masalah. Toh nabi Isa as itu adalah nabi juga yang diakui oleh umat Islam juga. Kalau dalam satu dan lain kesempatan, terasa beliau punya kelebihan, kita sebagai umat Islam akan ikut bangga.

    Apalagi antara umat Islam dan nabi Isa as. memang punya hubungan ''mesra'' tersendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa Nabi Isa as nanti akan muncul dan bergabung bersama umat Islam menjelang hari kiamat. Beliau akan shalat dan berhaji bersama umat Islam, bahkan beliau akan menghancurkan gereja dan patung-patung diri beliau yang selama ini disembah. Beliau bahkan tidak mau dianggap sebagai nabi atau pemimpin umat, sehingga ketika ditawari untuk menjadi imam shalat, beliau akan menolak dan shalat menjadi makmum bersama umat Islam.

    Maka kalau ada orang kritsten memuji Nabi Isa as, kita pun bangga. Kita tidak perlu kecil hati, sebab Nabi Isa as adalah nabi kita sekaligus umat Islam juga.

    Hanya bedanya, umat Islam tidak pernah menjadikan beliau sebagai tuhan, karena beliau memang bukan tuhan. Sedangkan orang Kristen telah keliru ketika menjadikan beliau sebagai tuhan. Tentunya perbuatan ini menggugurkan iman dan pelakunya kafir dan masuk neraka.

    Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


    Reply #3 22 February, 2010, 05:09:35 PM
  • Publish
  • Ikhfa' Syafawi( الإخفاء الشفوي )
    Cara Mengenalnya:

    Apabila huruf Mim sukun bertemu dengan huruf Ba berbaris hukum bacaanya di dengungkan.
    Iaitu meringankan dua bibbir mulut disamping dengung yang sempurna sebelum menyebut huruf Ba.


    Ia dinamakan Syafawi kerana Huruf Mim dan Ba' sama-sama keluar dari dua bibir mulut.

    http://qiraatitatih.blogspot.com/2008/07/ikhfa-syafawi.html

    divider3
    halaqahforum4