Hukum Darah yang Menyertai Keguguran - Page 1

*

Author Topic: Hukum Darah yang Menyertai Keguguran  (Read 17623 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

10 November, 2010, 10:58:13 AM
  • Publish
  • Satu lagi persoalan yang pernah diajukan dan saya alami sendiri iaitu berkenaan dengan darah akibat keguguran - saya pernah terbaca (tapi dah tak ingat) bahawa darah keguguran hanya akan dianggap sebagai nifas hanya jika umur kandungan yang tertentu (tak ingat dah berapa minggu).  Boleh Umi jelaskan?
    Setelah mengkaji ujud juga beberapa permasalahan berkaitan darah yang keluar bersama keguguran janin,maka saya ujudkan satu thread baru untuk dibincangkan.

    Reply #1 10 November, 2010, 07:14:47 PM
  • Publish
  • Terima kasih Umi...

    Oh ya, Umi - satu lagi persoalan yang pernah diajukan dan saya alami sendiri iaitu berkenaan dengan darah akibat keguguran - saya pernah terbaca (tapi dah tak ingat) bahawa darah keguguran hanya akan dianggap sebagai nifas hanya jika umur kandungan yang tertentu (tak ingat dah berapa minggu).  Boleh Umi jelaskan?


    Setahu saya  Nifas ialah darah yang keluar dari rahim selepas melahirkan anak.  Bagi mazhab Syafie,   dikira darah nifas jika bersalin anak yang hidup, mati atau keguguran sama ada bersalin cara biasa atau pembedahan.

    Saya tidak menjumpai lagi tempoh atau umur kandungan yang boleh dikatakan bukan nifas sekiranya keguguran. Jika ada rujukan  hal ini, sila berkongsi  di sini.
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Reply #2 10 November, 2010, 07:35:35 PM
  • Publish
  • Saya  terjumpa  permasalahan ini yang hampir serupa dengan pertanyaan sari_madu.


    Soalan
    Ustaz,

    Apakah hukum darah bagi perempuan yang keguguran kandungannya kurang dari dua bulan usia kandungannya. Adakah ia darah istihadah atau wiladah atau nifas. Bagaimana pula hukum solat bagi perempuan tersebut. Adakah ia wajib atau sebaliknya. Diharap ustaz dapat memberi penjelasan.


    Jawapan


    1. Dalam masalah keguguran, sekiranya janin tersebut jelas sebahagian pancainderanya seperti jari atau kuku maka ia dikatakan bayi. Sebaliknya jika tidak jelas apa-apa bentuk seperti hanya seketul darah atau seketul daging, darah yang keluar tidak dipanggil nifas.

    2. Walau bagaimanapun, jika darah tersebut terdapat persamaan  dengan darah haid, maka ia dikira sebagai darah haid. Jika tidak (berbeza) ia dikira sebagai darah istihadhah (penyakit)
           
    3. Oleh kerana kelazimannya, dalam usia kandungan kurang dari dua bulan, janin masih belum terbentuk, maka darah tersebut adalah sama ada darah haid atau istihadhah.

    4.  Adapun hukum solatnya, ia bergantung sama ada darah tersebut darah haid atau istihadhah.

    Wallahu a`lam

    -USTAZ MUHYIDIN HAJI AZIZ

    http://www.kliniksalam.5u.com/nota/abortion.htm

    Reply #3 10 November, 2010, 07:42:09 PM
  • Publish

  • Hukum Darah yang Menyertai Keguguran
    Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu




    Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang seorang wanita yang mengalami keguguran pada usia 3 bulan kandungannya. Apakah dia tetap shalat atau harus meninggalkannya?


    Beliau menjawab:

    Yang dikenal di sisi para ulama, jika wanita mengalami keguguran maka dia tidak melaksanakan shalat, karena yang gugur dari kandungannya sudah berupa janin yang telah jelas padanya bentuk manusia, sehingga darah yang keluar darinya merupakan darah nifas yang menghalanginya dari pelaksanaan shalat.

    Para ulama menyatakan: Dan sangat mungkin bentuk manusia itu begitu jelas jika sudah genap 81 hari usia kehamilan, dan hitungan ini kurang dari 3 bulan. Jika dia yakin bahwa janinnya gugur pada usia 3 bulan, maka darah yang keluar darinya darah nifas. Adapun jika usia kehamilannya sebelum 80 hari, maka darah yang keluar darinya dihukumi darah fasad (istihadhah), sehingga dia tidak boleh meninggalkan shalat hanya karena keluarnya darah tersebut.

    Maka wajib baginya untuk mengingat-ingat, jika kegugurannya sebelum 80 hari usia kehamilannya dia mengqadha shalat (yang dia tinggalkan), jika dia tidak ingat berapa kali shalat yang dia tinggalkan maka dia perkirakan kemungkinan yang paling besar jumlah shalat yang dia tinggalkan kemudian mengqadhanya.


    Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang hukum darah yang keluar setelah keguguran?


    Beliau menjawab:

    Jika janin keluar, maka darah keluar mengikuti keluarnya janin tersebut. Jika telah nampak bentuk manusia pada janin tersebut, tampak tangan, kaki dan anggota badan lainnya, maka darah yang keluar adalah darah nifas sehingga dia tidak boleh shalat dan puasa sampai suci dari darah tersebut.

    Jika belum nampak bentuk manusia maka darahnya bukan darah nifas, sehingga dia tetap shalat dan puasa kecuali pada hari-hari yang biasanya dia mengalami haidh. Sehingga pada hari-hari tersebut dia tidak melaksanakan shalat dan puasa sampai berakhir masa kebiasaan haidhnya.


    Fadhilatusy Syaikh ditanya tentang hukum darah yang keluar dari seorang wanita setelah keguguran?


    Beliau menjawab:

    Para ulama berkata: Jika janin yang keluar telah jelas berbentuk manusia, maka darahnya darah nifas, dia harus meninggalkan shalat dan puasa serta tidak boleh digauli sampai suci dari darah tersebut.

    Jika janin yang keluar belum berbentuk manusia, maka tidak dianggap sebagai darah nifas tetapi dihukumi darah fasad yang tidak menghalanginya dari shalat, puasa dan perbuatan lainnya.

    Mereka mengatakan: Usia minima kehamilan yang dengannya janin sudah terbentuk adalah 81 hari, karena janin dalam kandungan, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu:

    حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى‎ ‎اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -وَهُوَ‏‎ ‎الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ-: إِنَّ‏‎ ‎أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ‏‎ ‎أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا‎ ‎نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً‏‎ ‎مِثْلُ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ‏‎ ‎مُضْغَةً مِثْلُ ذَلِكَ، ثُمَّ‏‎ ‎يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ،‏‎ ‎فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ‏‎ ‎وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ:‏‎ ‎بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ‏‎ ‎وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَمْ‏‎ ‎سَعِيْدٌ

    “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bercerita kepada kami -dan beliau adalah orang yang jujur dan beritanya dibenarkan-: ‘Sesungguhnya salah seorang di antara kalian penciptaannya dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa mani, kemudian 40 hari berupa darah, kemudian 40 hari berupa sekerat daging. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh dan memberitakan tentang 4 perkara: ketentuan rizkinya, ajalnya, amalannya, dan nasibnya apakah menjadi orang yang sengsara atau bahagia’.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Oleh karena itu, jika janin gugur sebelum usia 80 hari kehamilan, darah yang keluar bukan darah nifas karena usia tersebut belum terbentuk janin. Maka dia tetap berpuasa dan shalat dan melakukan amalan yang dilakukan oleh wanita-wanita yang dalam masa sucinya.

    (Dinukil dari Problema Darah Wanita, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, hal. 143-146, penerjemah: Abu Hamzah Kaswa, penerbit: Ash-Shaf Media Tegal, cet. ke-1 November 2007 M)

    Sumber:

    - http://almuslimah.wordpress.com/2009/07/31/hukum-shalat-bagi-wanita-yang-mengalami-keguguran-di-usia-tiga-bulan-kehamilan/

    - http://almuslimah.wordpress.com/2009/07/31/hukum-darah-yang-menyertai-keguguran/

    Reply #4 10 November, 2010, 07:51:48 PM
  • Publish

  • Jika Wanita Hamil Keluar Darah Banyak Tapi Bayi yang Dikandungnya Tidak Keluar ( Keguguran )



    Tanya :

    Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya: Jika seorang wanita hamil mengeluarkan banyak darah sementara bayi yang dikandungnya tidak keluar, apa hukum darah ini?


    Jawab :

    Darah itu adalah darah penyakit, maka tidak boleh bagi wanita itu untuk meninggalkan shalat hanya karena hal itu, walaupun darah itu terus mengalir hendaknya ia tetap berwudhu setiap akan shalat, Wallahu A'lam. 
    ( Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 5/417 )

    Reply #5 10 November, 2010, 07:54:39 PM
  • Publish

  • Bila Seorang Wanita Hamil Mengalami Goncangan Namun Ia Tidak Tahu Apakah Kandungannya Keguguran atau Tidak, Dalam Keadaan Ia Mengalami Haidh.



    Tanya :

    Syaikh Ibnu As-Sa’di ditanya: Bila wanita hamil mengalami goncangan, namun ia tidak tahu apakah kandungannya kegugu-ran dalam keadaan ia haidh, sementara ia pun telah meminum obat untuk membersihkan bekas keguguran. Bagaimana hukumnya?


    Jawab :

    Jika telah diketahui kehamilannya, maka terlebih dahulu harus diketahui dengan pasti bahwa di dalam perutnya tidak ada lagi sesuatu, baik itu berupa bekas keguguran, ataupun dengan berselangnya waktu yang cukup lama yang bisa memastikan bahwa dirinya tidak hamil. Untuk masa tersebut, di antara ulama ada yang berpendapat selama empat tahun, ada pula yang mengatakan; harus diyakini kepastiannya selama kurang lebih empat tahun. Demikianlah pendapat yang benar. Wallahu A’lam.
    ( Al-Majmu’ah Al-Kamilah limu’allafat Asy-Syaikh Ibn As-Sa’di, 7/100 )

    Reply #6 10 November, 2010, 07:56:34 PM
  • Publish

  • Hukum Darah yang Mengalir Terus Menerus Dalam Waktu yang Lama Setelah Keguguran



    Tanya :

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Saya mempunyai seorang istri yang sedang hamil, pada bulan kedua dari masa kehamilannya ia mengalami keguguran karena banyaknya darah yang dikeluarkan, dan darah itu masih tetap mengalir hingga saat ini, apakah diwajibkan baginya untuk melakukan shalat dan puasa? Atau apa yang harus ia lakukan?


    Jawab :

    Jika wanita hamil mengalami keguguran kandungan pada bulan kedua dari masa kehamilannya, maka sesungguhnya darah yang dike-luarkan ini adalah darah penyakit, bukan darah haidh dan bukan pula dari nifas, maka dari itu diwajibkan bagi wanita untuk berpuasa dan puasanya sah, wajib baginya melaksanakan shalat dan shalatnya adalah sah, boleh bagi suaminya untuk menyetubuhinya dan tidak ada dosa baginya, karena para ulama mengatakan bahwa syarat diberlakukannya hukum nifas, yaitu jika janin yang dilahirkan sudah berbentuk manusia dengan telah terbentuknya organ-organ tubuh dan telah memiliki bentuk kepala, kaki dan tangan. Jika seorang wanita mengeluarkan janin sebelum memiliki bentuk manusia, maka darah yang dikeluarkan oleh wanita yang melahirkan janin ini bukan darah nifas.

    Keterangan ini menimbulkan pertanyaan: Kapan janin itu berbentuk manusia?

    Jawabnya adalah: Janin itu telah memiliki bentuk jika telah berumur delapan puluh hari atau dua bulan dua puluh hari, bukan empat bulan, seba-gaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas'ud yang terkenal, ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda kepada kami:

    إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ (فَهَذِهِ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ) ثُمَّ يُبْعَثُ إِلِيْهِ المَلَكُ

    “Sesungguhnya seseorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaan-Nya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula (maka inilah masa empat bulan) kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya dst.) hingga akhir hadits.

    Tentang segumpal daging itu diterangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam kitab-Nya, bahwa segumpal daging adalah segumpal darah yang be-lum sempurna bentuknya, jadi janin itu tidak mungkin memiliki bentuk sebe-lum berumur delapan puluh hari, dan setelah delapan puluh hari bisa jadi berbentuk dan bisa jadi tidak berbentuk. Para ulama berpendapat bahwa umumnya janin itu telah berbentuk menjadi manusia jika janin bayi telah berumur sembilan puluh hari, maka janin yang ada dalam perut wanita yang baru dua bulan ini belum memiliki bentuk manusia karena baru enam puluh hari, dengan demikian darah yang keluar darinya adalah darah penyakit yang tidak menghalanginya untuk berpuasa, shalat serta ibadah-ibadah lainnya
    ( Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/266 )

    Reply #7 10 November, 2010, 07:58:23 PM
  • Publish

  • Hukum Darah yang Keluar Setelah Keluarnya Janin ( Keguguran )



    Tanya :

    Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apa hukum darah yang mengalir setelah keluarnya janin?


    Jawab :

    Jika janin bayi telah keluar dari mulut rahim lalu disusul oleh keluarnya darah, maka hukum darah yang keluar dari rahim itu tergantung pada bentuk janin yang dilahirkan, jika janin yang keluar ini telah berbentuk manusia dengan memiliki kepala, dua tangan, dua kaki serta anggota tubuh lainnya, maka darah yang keluar ini adalah darah nifas yang menghalangi seorang wanita mengerjakan shalat dan puasa sampai datangnya masa suci, yaitu terhentinya darah nifas tersebut. Sedangkan jika janin yang dilahirkan itu belum memiliki bentuk-bentuk manusia, maka darah yang keluar itu bu-kanlah darah nifas yang tidak menghalanginya untuk shalat dan puasa kec-uali jika keluarnya darah ini sesuai dengan waktu yang biasanya ia mendapat haidh, jika demikian halnya maka ia harus meninggalkan shalat dan puasa hingga habisnya masa haidh yang biasanya ia alami.
    ( Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/292 )

    Reply #8 10 November, 2010, 08:01:31 PM
  • Publish

  • Keguguran Pada Umur Tiga Bulan Kehamilan, Apakah Tetap Wajib Shalat


    Tanya :

    Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Jika seorang wanita mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari masa kehamilannya, apakah ia harus melaksanakan shalat atau harus meninggalkannya?


    Jawab :

    Pendapat yang dikenal di kalangan ahlul ilmi mengatakan, bahwa seorang wanita yang mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari kehamilannya maka ia harus meninggalkan shalat, karena ia telah melahirkan janin yang telah berbentuk manusia, dengan demikian darah yang keluar darinya adalah darah nifas sehingga ia tidak boleh melakukan shalat.

    Para ulama mengatakan: Kemungkinan janin yang ada dalam kandungan seorang wanita telah berbentuk manusia jika telah berumur delapan puluh satu hari, berarti kurang dari tiga bulan, dengan demikian jika seorang wanita telah yakin bahwa ia telah mengalami keguguran pada umur tiga bulan dari kehamilannya maka darah yang keluar darinya adalah darah nifas, sedangkan jika keguguran itu terjadi sebelum delapan puluh hari, maka da-rah yang keluar darinya adalah darah penyakit yang tidak boleh baginya untuk meninggalkan shalat. Dan bagi wanita yang menanyakan hal ini hendaknya ia mengingat-ingat masa kehamilan dirinya itu, jika keguguran terjadi sebelum delapan puluh hari maka hendaknya ia mengqadha shalat yang ditinggalkannya, jika ia tidak mengetahui berapa banyak shalat yang telah ditinggalkannya, maka hendaknya ia memperkirakannya lalu mengqadhanya berdasarkan kemungkinannya dalam meninggalkan shalatnya.
    ( Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/291 )

    Reply #9 10 November, 2010, 08:06:57 PM
  • Publish

  • Hukum Darah yang Menyertai Keguguran Prematur Sebelum Sempurnanya Bentuk Janin dan Setelah Sempurnanya Janin


    Tanya :

    Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya: Di antara para wanita hamil terkadang ada yang mengalami keguguran, ada yang janinnya telah sempurna bentuknya dan ada pula yang belum berbentuk, saya harap Anda dapat menerangkan tentang shalat pada kedua kondisi ini?


    Jawab :


    Jika seorang wanita melahirkan janin yang telah berbentuk manusia, yaitu ada tangannya, kakinya dan kepalanya, maka dia itu dalam keadaan nifas, berlaku baginya ketetapan-ketetapan hukum nifas, yaitu tidak berpuasa, tidak melakukan shalat dan tidak dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya hingga ia menjadi suci atau mencapai empat puluh hari, dan jika ia telah mendapatkan kesuciannya dengan tidak mengeluarkan darah sebelum mencapai empat puluh hari maka wajib baginya untuk mandi kemudian shalat dan berpuasa jika di bulan Ramadhan dan bagi suaminya dibolehkan untuk menyetubuhinya.


    Tidak ada batasan minima pada masa nifas seseorang wanita, jika seorang wanita telah suci dengan tidak mengeluarkan darah setelah sepuluh hari dari kelahiran atau kurang dari sepuluh hari atau lebih dari sepuluh hari, maka wajib baginya untuk mandi kemudian setelah itu ia dikenakan ketetapan hukum sebagaimana wanita suci lainnya sebagaimana disebutkan di atas.


    Dan darah yang keluar setelah empat puluh hari ini adalah darah rusak (darah penyakit), jadi ia tetap diwajibkan untuk berpuasa, sebab darah yang dikeluarkan itu termasuk ke dalam kategori darah istihadhah, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada Fatimah binti Abu Hubaisy, yang mana saat itu ia mustahadhah (mengeluarkan darah istihadhah): “Berwudhulah engkau setiap kali waktu shalat”. Dan jika terhenti-nya darah nifas itu diteruskan oleh mengalirnya darah haidh setelah empat puluh hari, maka wanita itu dikenakan hukum haidh, yaitu tidak dibolehkan baginya berpuasa, melaksanakan shalat hingga habis masa haidh itu, dan diharamkan bagi suaminya menyetubuhinya pada masa itu.


    Sedangkan jika yang dilahirkan wanita itu janin yang belum berbentuk manusia melainkan segumpal daging saja yang tidak memiliki bentuk atau hanya segumpal darah saja, maka pada saat itu wanita tersebut dikenakan hukum mustahadhah, yaitu hukum wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, bukan hukum wanita yang sedang nifas dan juga bukan hukum wanita haidh.


    Untuk itu wajib baginya melaksanakan shalat serta berpuasa di bulan Ramadhan dan dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya, dan hen-daknya ia berwudhu setiap akan melaksanakan shalat serta mewaspadainya keluarnya darah dengan menggunakan kapas atau sejenisnya sebagaimana layaknya yang dilakukan wanita yang mustahadhah, dan dibolehkan baginya untuk menjama' dua shalat, yaitu Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’. Dan disyari’atkan pula baginya mandi untuk kedua gabungan shalat dan shalat Shubuh berdasarkan hadits Hamnah bintu Zahsy yang menetapkan hal itu, karena wanita yang seperti ini dikenakan hukum mustahadhah menurut para ulama.
    ( Kitab Fatawa Ad-Da’wah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/75 )

    Reply #10 10 November, 2010, 08:09:52 PM
  • Publish

  • Tidak Mengeluarkan Darah Setelah Melahirkan, Bolehkah Suaminya Mencampurinya?



    Tanya :

    Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika wanita hamil telah melahirkan dan tidak mengeluarkan darah, apakah boleh bagi suaminya untuk menggaulinya? Dan apakah wanita itu pun harus tetap melaksanakan shalat dan puasa atau tidak?


    Jawab :

    Jika wanita hamil telah melahirkan dan tidak mengeluarkan darah maka ia wajib mandi wiladah, shalat dan puasa, dibolehkan bagi suaminya untuk mencampurinya setelah mandi, karena pada umumnya kelahiran akan  mengeluarkan darah walaupun sedikit yang mana darah itu keluar bersamaan dengan janin bayi yang dilahirkan atau setelah bayi itu dilahirkan.

    Kelahiran pada seorang wanita bukanlah darah nifas melainkan darah istihadhah, maka wajib mandi baginya setelah empat puluh hari serta melaksanakan shalat dan puasa, ia pun harus berwudhu setiap kali akan shalat dan menggunakan kapas atau sejenisnya pada kemaluannya untuk mencegah menetesnya darah. Tidak ada kewajiban baginya untuk mengqadla shalat yang telah ia tinggalkan selama masa haidh dan masa nifasnya, yang wajib untuk diqadha oleh wanita itu adalah puasanya yang ia tinggalkan selama bulan Ramadhan yang disebabkan oleh haidh ataupun nifas. Lain halnya jika darah yang keluar itu adalah darah haidh yang menyusul habisnya darah nifas setelah empat puluh hari, maka dalam hal ini tidak boleh baginya untuk shalat dan puasa.
    ( Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 5/416 )

    Reply #11 10 November, 2010, 08:18:20 PM
  • Publish

  • Apakah Wanita Nifas yang Suci Sebelum Genap Empat Puluh Hari Tetap Wajib Melaksanakan Ibadah



    Tanya :

    Syaikh Muhammad bin Utsaimin ditanya: Apakah wanita nifas wajib melakukan puasa dan shalat sebelum genap empat puluh hari?


    Jawab :


    Ya, jika ia telah suci dari nifasnya walaupun belum genap empat puluh hari, wajib baginya untuk berpuasa jika hal itu terjadi di bulan Ramadhan dan juga wajib baginya untuk melaksanakan shalat, juga dibolehkan bagi suaminya untuk mencampurinya, karena wanita itu telah suci sehingga tidak ada yang menghalanginya untuk melaksanakan puasa dan juga tidak ada sesuatu yang menghalanginya untuk shalat dan melakukan hubungan badan dengan suaminya. ( 52 Su’alan ‘an Ahkamil Haidh, Syaikh Ibnu Utsaimin, halaman 10 )

    Reply #12 10 November, 2010, 08:23:53 PM
  • Publish

  • Masa di Mana Para Wanita yang Sedang Nifas Tidak Boleh Melaksanakan Shalat



    Tanya :

    Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya: Berapakah lamanya waktu yang tetap diberlakukan untuk tidak boeh shalat bagi wanita yang sedang mengeluarkan darah setelah melahirkan ( nifas )?


    Jawab :

    Ada beberapa kondisi wanita yang sedang nifas:

    Darah berhenti mengalir sebelum sampai pada hari keempat puluh dan tidak kembali setelah itu. Jika darah itu telah berhenti mengalir darinya, maka saat itu ia harus segera mandi (bersuci) untuk melakukan shalat dan puasa.


    Darah berhenti mengalir sebelum sampai pada hari keempat puluh kemudian darah itu kembali mengalir sebelum mencapai empat puluh hari. Dalam kondisi semacam ini, jika darah berhenti mengalir maka ia harus mandi (berusuci) untuk melaksanakan shalat dan puasa, lalu jika darah nifas itu mengalir lagi maka ia harus meninggalkan shalat dan puasa, lalu puasanya di qadha tanpa harus mengqadha shalat.


    Darah terus mengalir hingga hari keempat puluh. Dengan demikian si wanita harus meninggalkan shalat serta puasa selama empat puluh hari penuh, dan jika darah berhenti mengalir, maka ia harus segera bersuci untuk melaksanakan shalat dan puasa.


    Darah terus mengalir hingga melebihi empat puluh hari. Kondisi semacam ini ada dua macam, yaitu;

    Pertama, hal ini terjadi karena berhentinya darah nifas dilanjutkan dengan keluarnya darah haidh yang biasa, jika hal ini terjadi maka ia diharuskan untuk tetap meninggalkan shalat.

    Kemudian yang kedua adalah: Darah yang dikeluarkan setelah empat puluh hari tidak bertepatan dengan kebiasaan masa haidh, maka bagi wanita ini tetap wajib mandi setelah sempurna empat puluh hari untuk melaksanakan shalat dan puasa. Dan jika keluarnya darah itu berulang hingga tiga kali, berarti itulah masa haidhnya, dan dengan begitu ia harus mengqadha puasa yang telah dilaksanakannya (karena tidak sah), tapi tidak harus mengqadha shalatnya. Akan tetapi, jika ini tidak terulang, maka tidak dikategorikan darah haidh melainkan darah istihadhah.  Fatawa wa Rasai’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/102.

    Reply #13 06 March, 2011, 08:21:56 PM
  • Publish
  • DARAH SELEPAS KEGUGURAN; Adakah ia nifas?

    Soalan;
    Assalamualaikum ustaz. selepas keguguran, darah yang keluar adakah nifas? dan berapa lamakah tempoh nifas keguguran? adakah sama dengan nifas bersalin? atau dikira sama dengan tempoh haid?

    Jawapan;

    1. Menurut mazhab Syafiie; Tidak disyaratkan untuk dikira darah nifas bahawa bayi yang dilahirkan itu hidup atau sempurna kejadian. Asalkan disahkan bahawa yang keluar itu adalah janin manusia maka sabitlah hukum nifas bagi darah yang keluar selepas keluarnya janin itu sekalipun janin itu belum menampakkan rupa manusia iaitu hanya berupa seketul daging semata-mata.

    2. Nifas yang keluar kerana keguguran dari segi hukum sama seperti nifas kerana kelahiran. Tempoh paling singkat ialah seketika/sedetik dan paling lama ialah 60 hari (menurut mazhab Syafiie) atau 40 hari (menurut jumhur ulamak).

    3. Jika nifas datang beberapa hari dan kemudian berhenti, hendaklah diperhatikan; jika tempoh berhentinya l5 hari atau lebih, ia dikira suci (yakni bersih dari nifas). Jika keluar semula darah selepas itu, ia dianggap darah haid bukan nifas lagi. Adapun jika tempoh berhentinya kurang dari 15 hari (seperti berhenti 5 hari dan datang semula darah selepas itu), ia masih dianggap darah nifas. Sehinggalah bila melepasi tempoh maksima nifas tadi (iaitu 40 hari mengikut jumhur ulamak atau 60 hari mengikut mazhab Syafiie), jika ditakdirkan darah masih keluar, ia bukan lagi darah nifas akan tetapi darah haid (jika ada tanda-tanda haid dan menepati hari kebiasaan haid) atau istihadhah (jika darah yang masih keluar itu tiada tanda-tanda haid).

    4. Jika ditakdirkan seorang wanita melahirkan anak tanpa keluar darah sedikitpun selepas bersalinnya dan keadaan itu berterusan hingga 15 hari, maka ia dianggap suci secara keseluruhannya. Jika keluar darah selepas 15 hari itu, maka darah itu dikira darah haid, bukan darah nifas. Dalam kes ini, wanita tersebut dianggap tidak bernifas.

    Untuk mendapat maklumat lebih terperinci tentang nifas, sila baca di laman FIQH ANDA  http://fiqh-am.blogspot.com/, di bahagian Darah-Darah Wanita.

    Wallahu a'lam.

    Rujukan;

    1. Buku Fiqh Toharah (Bersuci), Ahmad Adnan bin Fadzil.
    2. Tamam al-Minnah, Syeikh ‘Adil al-‘Azzazi, 1/142.

    Posted by USTAZ AHMAD ADNAN FADZIL at 8:12 AM
    http://ilmudanulamak.blogspot.com/2011/03/darah-selepas-keguguran-adakah-ia-nifas.html

    Reply #14 06 March, 2011, 08:47:56 PM
  • Publish
  • Bagaimana dengan wanita yang keguguran anak? Adakah darah yang keluar selepas gugur itu dikira darah nifas?

    Persoalan ini menjadi perbahasan di antara ulamak;

    1. Mazhab Syafi’ie berpandangan; tidak disyaratkan untuk dikira darah nifas bahawa bayi yang dilahirkan itu hidup atau sempurna kejadian. Asalkan bidan mengesahkan bahawa yang keluar itu adalah janin manusia maka sabitlah hukum nifas bagi darah yang keluar selepas keluarnya janin itu sekalipun janin itu belum menampakkan rupa manusia iaitu hanya berupa seketul daging semata-mata.

    2. Menurut mazhab Imam Malik; seorang wanita dikira bernifas jika janin yang gugur itu telah berumur empat bulan. Jika yang gugur itu baru dalam peringkat ‘alaqah atau mudghah, maka tidak dikira nifas bagi darah yang keluar selepasnya.

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    135 Replies
    20746 Views
    Last post 01 November, 2011, 06:41:17 PM
    by uncle jos
    36 Replies
    8930 Views
    Last post 17 January, 2014, 11:09:43 PM
    by msa
    13 Replies
    4671 Views
    Last post 03 June, 2013, 06:29:57 PM
    by haidistihadah