Hukum Perempuan Solat di Masjid

Author Topic: Hukum Perempuan Solat di Masjid  (Read 10710 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

alyani

  • *
  • Posts: 212
  • amna_mujahidah
    • View Profile
25 May, 2007, 01:36:45 PM
  • Publish Di FB
  • sambungan..........

    WANITA DI MASJID
    Para wanita boleh pergi ke masjid dan ikut melaksanakan shalat berjama'ah dengan syarat menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah, seperti mengenakan perhiasan dan menggunakan wangi-wangian.

    Sabda SAW yang bermaksud :-
    "Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian." (diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud)

    Dan beliau juga bersabda :-
    "Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya' berjama'ah bersama kami." (diriwayatkan oleh Muslim)
    Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda :-
    "Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi." (diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

    Beliau juga bersabda :-
    "Jangan kamu melarang isteri-isteri kamu (shalat) di masjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka." (diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim)

    Dalam sabdanya yang lain : -
    "Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada di bagian tengah rumahnya dan shalatnya di kamar (pribadi)-nya lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya." (diriwayatkan oleh Abu Daud dan Al-Hakim)

    Beliau bersabda pula :-
    "Sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) dari rumahnya." (diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqi)

      ::)
    KETIKA SATU PINTU KEBAHAGIAAN TERTUTUP, PINTU LAIN DIBUKAKAN.TAPI SERINGKALI KITA TERPAKU TERLALU LAMA PADA PINTU YANG TERTUTUP SEHINGGA TIDAK MELIHAT PINTU LAIN YANG DIBUKAKAN BAGI KITA.

    Ayuni_Balqis

    • *
    • Posts: 70
      • View Profile
    Jawab #1 07 November, 2010, 10:25:14 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Apakah hukum perempuan pergi ke masjid untuk solat berjemaah  pada  tiap waktu solat?

    al_ahibbatu

    • *
    • Posts: 4918
      • View Profile
    Jawab #2 07 November, 2010, 10:28:52 PM
  • Publish Di FB
  • tak di wajibkan
    tak di sunat kan

    maka jatuh pada tangga makruh

    kerana tidak pula di haramkan

    makruh mendekati kepada haram, sebab wanita tu aurat

    tambahan jika anak gadis, anak dara

    subhanallah

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14510
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Jawab #3 07 November, 2010, 10:35:52 PM
  • Publish Di FB

  • Para ulama telah bersepakat bahawa shalat seorang laki-laki lebih utama dilakukan berjama’ah di masjid daripada di rumahnya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwa telah datang seorang laki-laki buta menemui Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah aku tidak memiliki penuntun yang akan membawaku ke masjid.’ Ia meminta agar Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) kepadanya untuk melakukan shalat di rumahnya lalu Nabi saw memberikan rukhshah kepadanya. Namun tatkala orang itu berlalu maka beliau saw memanggilnya dan bertanya kepadanya,’Apakah kamu mendengar suara adzan untuk shalat?’ orang itu berkata,’ya.’ Beliau bersabda,’kalau begitu kamu harus menyambutnya (ke masjid).” (HR. Muslim) –(baca : “Mendengar Adzan Ketika Sedang Sibuk”)

    Adapun bagi seorang wanita maka kehadirannya di masjid untuk melakukan shalat berjama’ah diperbolehkan bagi mereka yang sudah tua dan dimakruhkan bagi yang masih muda karena dikhawatirkan adanya fitnah. Untuk itu yang lebih utama baginya adalah melakukan shalat di rumahnya, demikian menurut DR. Wahbah.

    Beberapa pendapat para ulama tentang permasalahan ini adalah :


    1. Abu Hanifah dan dua orang sahabatnya mengatakan bahwa makruh bagi seorang wanita yang masih muda menghadiri shalat berjama’ah (di masjid) secara mutlak karena dikhawatirkan adanya fitnah. Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak mengapa bagi seorang wanita yang sudah tua pergi ke masjid untuk shalat shubuh, maghrib dan isya karena nafsu syahwat bisa menimbulkan fitnah di waktu-waktu selain itu. Orang-orang fasiq tidur pada waktu shubuh dan isya kemudian mereka disibukan dengan makanan pada waktu maghrib. Sedangkan kedua orang sahabatnya membolehkan bagi seorang wanita yang sudah tua pergi ke masjid untuk melakukan semua shalat karena tidak ada fitnah didalamnya dikarenakan kecilnya keinginan (syahwat) seseorang terhadapnya.

    Dan madzhab dikalangan para ulama belakangan adalah memakruhkan wanita menghadiri shalat jama’ah walaupun shalat juma’at secara mutlak meskipun ia seorang wanita tua pada malam hari dikarenakan sudah rusaknya zaman dan tampaknya berbagai kefasikan.

    2. Para ulama Maliki mengatakan bahwa dibolehkan bagi seorang wanita dengan penuh kesucian dan tidak memikat kaum laki-laki untuk pergi ke masjid melakukan shalat berjama’ah, id, jenazah, istisqo (shalat meminta hujan), kusuf (shalat gerhana) sebagaimana dibolehkan bagi seorang wanita muda yang tidak menimbulkan fitnah pergi ke masjid (shalat berjama’ah) atau shalat jenazah kerabatnya. Adapun apabila dikhawatirkan terjadinya fitnah maka tidak diperbolehkan baginya untuk pergi ke masjid secara mutlak.

    3. Para ulama Syafi’i dan Hambali mengatakan bahwa makruh bagi para wanita yang cantik atau memiliki daya tarik baik ia adalah seorang wanita muda atau tua untuk pergi ke masjid shalat berjama’ah bersama kaum laki-laki karena hal itu merupakan sumber fitnah dan hendaklah ia shalat di rumahnya.

    Dan dibolehkan bagi para wanita yang tidak menarik untuk pergi ke masjid jika ia tidak mengenakan wangi-wangian dan atas izin suaminya meskipun sesungguhnya rumahnya lebih baik baginya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Janganlah engkau melarang para wanita itu pergi ke masjid meskipun rumah mereka lebih baik bagi mereka.”

    Didalam lafazh lainnya disebutkan,”Apabila para wanita kalian meminta izin kepada kalian pada waktu malam hari untuk ke masjid maka izinkanlah mereka.” (HR. Jama’ah kecuali Ibnu Majah) yaitu jika aman dari kerusakan (fitnah). Juga sabdanya saw,”Janganlah kamu melarang para wanita pergi ke masjid, hendaklah mereka keluar tanpa memakai wangi-wangian.” (HR. Ahmad, Abu daud dari Abu Hurairoh) dan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Sebaik-baik masjid bagi kaum wanita adalah didalam rumahnya.” (HR. Ahmad)

    Intinya adalah bahwa tidak dibolehkan bagi seorang wanita cantik (menarik) untuk pergi ke masjid dan dibolehkan bagi wanita yang sudah tua. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz II hal 1172 – 1173)


    Wallahu A’lam
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Nur_Ain

    • *
    • Posts: 228
      • View Profile
    Jawab #4 07 November, 2010, 10:58:00 PM
  • Publish Di FB

  • PERLUKAH WANITA KE MASJID?
    Disediakan oleh:Ust Tuan Mohd Sapuan bin Tuan Ismail


    Sering kita dengar para ustaz menyatakan bahawa wanita tidak digalakkan ke masjid. Tetapi ada juga di kalangan muslimat yang bertanya tentang logiknya larangan ini. Ini kerana bagi mereka, kenapa hanya larangan ke masjid yang dicanang, tetapi tidak pula dicanang larangan ke tempat-tempat yang lain?

    Kalau kita melihat kepada hukum solat berjemaah kepada wanita di masjid, kita akan dapati para ulamak sepakat menyatakan bahawa solat jemaah tidaklah wajib kepada kaum wanita. Ini ada disebutkan oleh al-Hafiz Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. Kita juga dapati sebahagian daripada mereka memakruhkan bagi wanita untuk ke masjid, terutamanya kepada para pemudi. Dan alasan yang biasa diberikan adalah kerana bimbangkan fitnah. Dan kita juga dapati bahawa mereka telah sepakat menyatakan bahawa tuntutan solat berjemaah kepada kaum wanita tidaklah sama seperti kepada kaum lelaki. Berkata Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu': “terdapat beberapa perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam hukum solat berjemaah, antaranya ialah: tuntutannya tidaklah sama seperti tuntutan kepada kaum lelaki”.

    Kebanyakan ulamak pula mengaggap bahawa solat di rumah adalah lebih baik bagi kaum wanita berbanding di masjid. Pendapat mereka ini bersesuaian dengan Sabda Nabi s.a.w.: “…dan rumah kediaman mereka adalah lebih baik bagi mereka”. Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud.

    Walau bagaimana pun, kita juga dapati bahawa para ulamak sepakat tidak mengharamkan mereka ke masjid. Berkata al-Imam Ibnul Jauzi: “Harus bagi seorang perempuan untuk keluar ke masjid untuk solat berjemaah bersama kaum lelaki” (Lihat: Ahkamun Nisa', m/s 36, cetakan pertama, Matbaah al-Halabi, Mesir, 1994).Bahkan ada di kalangan mereka yang menganggap bahawa elok juga bagi kaum wanita untuk datang solat berjemaah di masjid. Berkata al-Hafiz Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla: “Jika hadir seorang wanita ke masjid untuk bersolat berjemaah bersama kaum lelaki, maka itu adalah satu perkara yang baik” . Dan ini adalah pendirian mazhab Zohiri. Bagi mereka hadis yang menyatakan kelebihan solat berjemaah mengatasi solat bersendirian dengan 27 darjat tidak boleh dikhususkan untuk kaum lelaki sahaja. Lihat al-Mufassal Fi Ahkamil Mar'ah, jilid 1, m/s 212.

    Sebenarnya tidak ada nas yang jelas melarang wanita ke masjid, bahkan nas yang ada hanyalah menyatakan bahawa solat di rumah adalah lebih baik. Nas ini adalah penutup kepada hadis yang menyatakan bahawa mereka perlu diberikan keizinan untuk ke masjid. Sabda Nabi s.a.w.: "Jangan kamu menegah kaum wanita ke masjid-masjid, dan (solat mereka di) rumah-rumah mereka adalah lebih baik". Hadis sohih riwayat Abu Daud, Kitabus Solah.

    Dan terdapat juga kata-kata Siti Aisyah yang seolah-olah menunjukkan bahawa kaum wanita dilarang ke masjid. Aisyah berkata: “Kalaulah Rasulullah s.a.w. melihat apa yang telah dilakukan oleh wanita sekarang (zaman beliau), nescaya baginda akan melarang mereka (ke masjid), sebagaimana telah dilarang perempuan Bani Israil. Riwayat Imam Bukhari. Berkata al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani: “..kata-kata Aisyah itu tidaklah mengubahkan hukum (yang sedia ada). Ini kerana beliau gantungkan (larangan) tadi dengan satu syarat yang tidak wujud, yang hanya berdasarkan sangkaan beliau sahaja. Perkataan beliau: “Kalaulah Rasulullah s.a.w. melihat” boleh (dijawab dengan) dikatakan bahawa baginda tidak melihatnya dan tidak melarangnya. Maka kekallah hukum (yang asal, iaitu tiada larangan). Bahkan Aisyah sendiri tidaklah secara jelas melarang, sekalipun perkataannnya itu menunjukkan bahawa beliau seolah-olah melarangnya. Lagipun Allah SWT telah pun mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para wanita, dan Dia tidaklah mewahyukan kepada NabiNya untuk melarang mereka. Kalaulah apa yang mereka lakukan itu memerlukan dilarang mereka ke masjid, maka melarang mereka ke pasar-pasar adalah lebih utama. Lihat Fathul Bari, kitabul Azan, juz 2, m/s 445.

    Kerana inilah mereka juga perlu diberikan keizinan untuk pergi solat berjemaah di masjid, walaupun pada malam hari. Sabda Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Umar: "Berilah keizinan kepada wanita-wanita kamu untuk ke masjid pada malam hari". Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat: Ahkamun Nisa', m/s 39. Kaum wanita di zaman Rasulullah s.a.w. juga menghadiri solat berjemaah di masjid, dan Rasulullah s.a.w. tidaklah menghalang mereka. Bahkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah menyatakan bahawa kaum muslimat datang berjemaah solat subuh bersama Rasulullah s.a.w., dan mereka tidaklah dapat dicam kerana hari masih gelap (sekalipun sudah ada cahaya pagi). Isteri-isteri Rasulullah s.a.w. pula, bukan sahaja datang ke masjid, bahkan mereka juga beriktikaf di masjid di bulan Ramadhan. Semua nas ini dengan jelas menunjukkan bahawa wanita harus untuk ke masjid dan kita tidak sepatutnya menghalang mereka.

    Kalaulah kaum wanita dihalang ke masjid atas alasan fitnah, maka kenapa kita tidak menghalang anak-anak perempuan kita ke sekolah atas alasan yang sama? Tidakkah fitnah pergaulan bebas di sekolah lebih teruk daripada di masjid? Tidakkah gangguan yang bakal dihadapi mereka semasa ke sekolah atau ke kolej dan di kolej atau universiti itu lebih besar daripada ke masjid? Kenapakah mereka dihalang ke masjid yang berdekatan dengan rumah mereka, tetapi tidak dihalang ke kolej atau universiti yang jaraknya lebih jauh? Kenapakah anak-anak perempuan kita atau isteri-isteri kita dibenarkan ke tempat kerja, shopping kompleks, ke pasar-pasar bahkan ke semua tempat kecuali tempat yang paling mulia, iaitu rumah-rumah Allah? Kenapakah wanita Islam dihalang ke masjid-masjid, sedangkan wanita-wanita Kristian, Yahudi dan sebagainya tidak dihalang ke kuil atau gereja? Adakah wanita yang sedang beribadat di dalam masjid itu lebih buruk dan lebih besar fitnahnya berbanding dengan yang sedang menonton tv di rumah?

    Bagi saya, kalaulah kita ingin berbincang mengenai hukum wanita ke masjid , kita jangan hanya melihat kepada hukum solat berjemaah yang ditulis dalam kitab-kitab Fiqh. Ini kerana hukum tersebut hanya untuk hukum datang berjemaah ke masjid. Padahal kita juga perlu melihat bahawa masjidlah tempat penyebaran ilmu dan kefahaman mengenai Islam. Kerana inilah Dr Yusof al-Qardawi berkata: "Solat seorang perempuan di rumahnya itu lebih baik jika dia ke masjid hanya untuk berjemaah, tanpa sebarang faedah lain, tetapi jika ada faedah yang lain seperti mendengar tazkirah keagamaan, mempelajari sesuatu ilmu atau mendengar bacaan al-Qur'an daripada qari yang khusyuk, maka pergi ke masjid itu adalah lebih baik". Ini kerana kewajiban belajar agama dan mendengar tazkirah bukan tertentu untuk golongan lelaki sahaja.

    Bahkan terdapat hadis yang khusus yang menyatakan kelebihan belajar di masjid. Sabda Nabi s.a.w.: “Sesiapa yang datang ke masjid dan tidak ada tujuan baginya melainkan mempelajari kebaikan atau mengajarnya, maka baginya pahala haji yang sempurna”. Hadis riwayat Tobarani dan al-Albani mengangapnya sohih. Lihat Sohih Targhib wat Tarhib, m/s 38.

    Tambahan lagi, ramai di kalangan kita yang tidak mengajarkan anak isteri mereka mengenai Islam, samada kerana tidak mampu atau tidak mempunyai masa. Dan kalaulah kita sudah pun mengajarkan mereka agama sekalipun, adakah kita mampu memberikan tazkirah yang boleh mengetuk pintu hati mereka (seperti para ustaz di masjid) supaya mereka nampak keagungan Allah SWT dan ingin mendekatkan diri kepadaNya serta menyucikan hati nurani mereka?

    Kalaulah dunia sekarang sedang memberikan kepada para wanita segala hak mereka samada dari sudut ekonomi, politik, sosial dsbg, kenapakah hak mereka untuk berada di rumah Allah dan mendekatkan diri mereka kepada Yang Maha Pencipta dihalang? Tidakkah hak ini tidak kurang pentingnya?

    Walau bagaimana pun, wanita perlu meminta keizinan suami atau wali untuk ke masjid. Dan tidak patut bagi seorang ayah atau seorang suami untuk menghalang kecuali ada sebab yang munasabah. Dan mereka juga hendaklah menjaga adab-adab berikut:-

        * Keluar dalam keadaan menutup aurat dan berpakaian sopan
        * Tidak bersolek dan memakai bau-bauan
        * Lebih elok dalam keadaan ditemani dengan mahram, suami, atau kawan-kawan.

    Sebagai mengakhiri artikel ini, saya akan naqalkan kata-kata Dr Yusof al-Qardhawi dalam perkara ini. Beliau berkata: "Sebahagian daripada kaum lelaki sekarang ini telah pun keterlaluan dalam masalah wanita, dan mereka langsung tidak menyokong fikrah harusnya wanita ke masjid, walau dalam keadaan apa sekalipun. Walaupun ada dinding yang kukuh yang membataskan antara lelaki dan perempuan di masjid, yang mana dinding seperti ini tidak pun ada pada zaman Rasulullah s.a.w.. Katanya lagi: "Ini semua adalah disebabkan oleh kerana keterlaluan dan kurangnya kesedaran".

    Saya juga di sini ingin menyeru (terutamanya kepada para ustaz), sebagaimana seruan Syeikh Dr Yusuf Qardhawi: "Sesungguhnya saya tanpa segan menyeru supaya bukakanlah kepada para perempuan untuk ke rumah-rumah Allah, supaya mereka juga dapat mencari kebaikan, mendengar peringatan dan mempelajari agama. Keluar mereka ini sedikit sebanyak boleh memberikan kegembiraan kepada mereka (dalam perkara yang bukan maksiat), selagi mana mereka keluar dalam keadaan bersopan, menutup aurat dan tanpa solekan yang diharamkan”.

    che may

    • *
    • Posts: 200
      • View Profile
    Jawab #5 07 December, 2010, 02:10:18 PM
  • Publish Di FB
  • Sering kita dengar para ustaz menyatakan bahawa wanita tidak digalakkan ke masjid. Tetapi ada juga di kalangan muslimat yang bertanya tentang logiknya larangan ini. Ini kerana bagi mereka, kenapa hanya larangan ke masjid yang dicanang, tetapi tidak pula dicanang larangan ke tempat-tempat yang lain?

    Kalau kita melihat kepada hukum solat berjemaah kepada wanita di masjid, kita akan dapati para ulamak sepakat menyatakan bahawa solat jemaah tidaklah wajib kepada kaum wanita. Ini ada disebutkan oleh al-Hafiz Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. Kita juga dapati sebahagian daripada mereka memakruhkan bagi wanita untuk ke masjid, terutamanya kepada para pemudi. Dan alasan yang biasa diberikan adalah kerana bimbangkan fitnah. Dan kita juga dapati bahawa mereka telah sepakat menyatakan bahawa tuntutan solat berjemaah kepada kaum wanita tidaklah sama seperti kepada kaum lelaki. Berkata Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu': “terdapat beberapa perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam hukum solat berjemaah, antaranya ialah: tuntutannya tidaklah sama seperti tuntutan kepada kaum lelaki”.

    Kebanyakan ulamak pula mengaggap bahawa solat di rumah adalah lebih baik bagi kaum wanita berbanding di masjid. Pendapat mereka ini bersesuaian dengan Sabda Nabi s.a.w.: “…dan rumah kediaman mereka adalah lebih baik bagi mereka”. Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud.

    Walau bagaimana pun, kita juga dapati bahawa para ulamak sepakat tidak mengharamkan mereka ke masjid. Berkata al-Imam Ibnul Jauzi: “Harus bagi seorang perempuan untuk keluar ke masjid untuk solat berjemaah bersama kaum lelaki” (Lihat: Ahkamun Nisa', m/s 36, cetakan pertama, Matbaah al-Halabi, Mesir, 1994).Bahkan ada di kalangan mereka yang menganggap bahawa elok juga bagi kaum wanita untuk datang solat berjemaah di masjid. Berkata al-Hafiz Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla: “Jika hadir seorang wanita ke masjid untuk bersolat berjemaah bersama kaum lelaki, maka itu adalah satu perkara yang baik” . Dan ini adalah pendirian mazhab Zohiri. Bagi mereka hadis yang menyatakan kelebihan solat berjemaah mengatasi solat bersendirian dengan 27 darjat tidak boleh dikhususkan untuk kaum lelaki sahaja. Lihat al-Mufassal Fi Ahkamil Mar'ah, jilid 1, m/s 212.

    Sebenarnya tidak ada nas yang jelas melarang wanita ke masjid, bahkan nas yang ada hanyalah menyatakan bahawa solat di rumah adalah lebih baik. Nas ini adalah penutup kepada hadis yang menyatakan bahawa mereka perlu diberikan keizinan untuk ke masjid. Sabda Nabi s.a.w.: "Jangan kamu menegah kaum wanita ke masjid-masjid, dan (solat mereka di) rumah-rumah mereka adalah lebih baik". Hadis sohih riwayat Abu Daud, Kitabus Solah.

    Dan terdapat juga kata-kata Siti Aisyah yang seolah-olah menunjukkan bahawa kaum wanita dilarang ke masjid. Aisyah berkata: “Kalaulah Rasulullah s.a.w. melihat apa yang telah dilakukan oleh wanita sekarang (zaman beliau), nescaya baginda akan melarang mereka (ke masjid), sebagaimana telah dilarang perempuan Bani Israil. Riwayat Imam Bukhari. Berkata al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani: “..kata-kata Aisyah itu tidaklah mengubahkan hukum (yang sedia ada). Ini kerana beliau gantungkan (larangan) tadi dengan satu syarat yang tidak wujud, yang hanya berdasarkan sangkaan beliau sahaja. Perkataan beliau: “Kalaulah Rasulullah s.a.w. melihat” boleh (dijawab dengan) dikatakan bahawa baginda tidak melihatnya dan tidak melarangnya. Maka kekallah hukum (yang asal, iaitu tiada larangan). Bahkan Aisyah sendiri tidaklah secara jelas melarang, sekalipun perkataannnya itu menunjukkan bahawa beliau seolah-olah melarangnya. Lagipun Allah SWT telah pun mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para wanita, dan Dia tidaklah mewahyukan kepada NabiNya untuk melarang mereka. Kalaulah apa yang mereka lakukan itu memerlukan dilarang mereka ke masjid, maka melarang mereka ke pasar-pasar adalah lebih utama. Lihat Fathul Bari, kitabul Azan, juz 2, m/s 445.

    Kerana inilah mereka juga perlu diberikan keizinan untuk pergi solat berjemaah di masjid, walaupun pada malam hari. Sabda Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Umar: "Berilah keizinan kepada wanita-wanita kamu untuk ke masjid pada malam hari". Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat: Ahkamun Nisa', m/s 39. Kaum wanita di zaman Rasulullah s.a.w. juga menghadiri solat berjemaah di masjid, dan Rasulullah s.a.w. tidaklah menghalang mereka. Bahkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah menyatakan bahawa kaum muslimat datang berjemaah solat subuh bersama Rasulullah s.a.w., dan mereka tidaklah dapat dicam kerana hari masih gelap (sekalipun sudah ada cahaya pagi). Isteri-isteri Rasulullah s.a.w. pula, bukan sahaja datang ke masjid, bahkan mereka juga beriktikaf di masjid di bulan Ramadhan. Semua nas ini dengan jelas menunjukkan bahawa wanita harus untuk ke masjid dan kita tidak sepatutnya menghalang mereka.

    Kalaulah kaum wanita dihalang ke masjid atas alasan fitnah, maka kenapa kita tidak menghalang anak-anak perempuan kita ke sekolah atas alasan yang sama? Tidakkah fitnah pergaulan bebas di sekolah lebih teruk daripada di masjid? Tidakkah gangguan yang bakal dihadapi mereka semasa ke sekolah atau ke kolej dan di kolej atau universiti itu lebih besar daripada ke masjid? Kenapakah mereka dihalang ke masjid yang berdekatan dengan rumah mereka, tetapi tidak dihalang ke kolej atau universiti yang jaraknya lebih jauh? Kenapakah anak-anak perempuan kita atau isteri-isteri kita dibenarkan ke tempat kerja, shopping kompleks, ke pasar-pasar bahkan ke semua tempat kecuali tempat yang paling mulia, iaitu rumah-rumah Allah? Kenapakah wanita Islam dihalang ke masjid-masjid, sedangkan wanita-wanita Kristian, Yahudi dan sebagainya tidak dihalang ke kuil atau gereja? Adakah wanita yang sedang beribadat di dalam masjid itu lebih buruk dan lebih besar fitnahnya berbanding dengan yang sedang menonton tv di rumah?

    Bagi saya, kalaulah kita ingin berbincang mengenai hukum wanita ke masjid , kita jangan hanya melihat kepada hukum solat berjemaah yang ditulis dalam kitab-kitab Fiqh. Ini kerana hukum tersebut hanya untuk hukum datang berjemaah ke masjid. Padahal kita juga perlu melihat bahawa masjidlah tempat penyebaran ilmu dan kefahaman mengenai Islam. Kerana inilah Dr Yusof al-Qardawi berkata: "Solat seorang perempuan di rumahnya itu lebih baik jika dia ke masjid hanya untuk berjemaah, tanpa sebarang faedah lain, tetapi jika ada faedah yang lain seperti mendengar tazkirah keagamaan, mempelajari sesuatu ilmu atau mendengar bacaan al-Qur'an daripada qari yang khusyuk, maka pergi ke masjid itu adalah lebih baik". Ini kerana kewajiban belajar agama dan mendengar tazkirah bukan tertentu untuk golongan lelaki sahaja.

    Bahkan terdapat hadis yang khusus yang menyatakan kelebihan belajar di masjid. Sabda Nabi s.a.w.: “Sesiapa yang datang ke masjid dan tidak ada tujuan baginya melainkan mempelajari kebaikan atau mengajarnya, maka baginya pahala haji yang sempurna”. Hadis riwayat Tobarani dan al-Albani mengangapnya sohih. Lihat Sohih Targhib wat Tarhib, m/s 38.

    Tambahan lagi, ramai di kalangan kita yang tidak mengajarkan anak isteri mereka mengenai Islam, samada kerana tidak mampu atau tidak mempunyai masa. Dan kalaulah kita sudah pun mengajarkan mereka agama sekalipun, adakah kita mampu memberikan tazkirah yang boleh mengetuk pintu hati mereka (seperti para ustaz di masjid) supaya mereka nampak keagungan Allah SWT dan ingin mendekatkan diri kepadaNya serta menyucikan hati nurani mereka?

    Kalaulah dunia sekarang sedang memberikan kepada para wanita segala hak mereka samada dari sudut ekonomi, politik, sosial dsbg, kenapakah hak mereka untuk berada di rumah Allah dan mendekatkan diri mereka kepada Yang Maha Pencipta dihalang? Tidakkah hak ini tidak kurang pentingnya?

    Walau bagaimana pun, wanita perlu meminta keizinan suami atau wali untuk ke masjid. Dan tidak patut bagi seorang ayah atau seorang suami untuk menghalang kecuali ada sebab yang munasabah. Dan mereka juga hendaklah menjaga adab-adab berikut:-

    Keluar dalam keadaan menutup aurat dan berpakaian sopan
    Tidak bersolek dan memakai bau-bauan
    Lebih elok dalam keadaan ditemani dengan mahram, suami, atau kawan-kawan.
    Sebagai mengakhiri artikel ini, saya akan naqalkan kata-kata Dr Yusof al-Qardhawi dalam perkara ini. Beliau berkata: "Sebahagian daripada kaum lelaki sekarang ini telah pun keterlaluan dalam masalah wanita, dan mereka langsung tidak menyokong fikrah harusnya wanita ke masjid, walau dalam keadaan apa sekalipun. Walaupun ada dinding yang kukuh yang membataskan antara lelaki dan perempuan di masjid, yang mana dinding seperti ini tidak pun ada pada zaman Rasulullah s.a.w.. Katanya lagi: "Ini semua adalah disebabkan oleh kerana keterlaluan dan kurangnya kesedaran".

    Saya juga di sini ingin menyeru (terutamanya kepada para ustaz), sebagaimana seruan Syeikh Dr Yusuf Qardhawi: "Sesungguhnya saya tanpa segan menyeru supaya bukakanlah kepada para perempuan untuk ke rumah-rumah Allah, supaya mereka juga dapat mencari kebaikan, mendengar peringatan dan mempelajari agama. Keluar mereka ini sedikit sebanyak boleh memberikan kegembiraan kepada mereka (dalam perkara yang bukan maksiat), selagi mana mereka keluar dalam keadaan bersopan, menutup aurat dan tanpa solekan yang diharamkan”.



    Maklumat Penulis:

    Tuan Mohd Sapuan Tuan Ismail
    Sarjana Muda Syariah & Pengajian Islam, Univ. Mu'tah, Jordan.
    tasekpauh.blogspot.com
    UPI, KIAS
    0136353463
    kenalilah dan cintailah islam kerana kebahagiannya ada padanya..

    al_ahibbatu

    • *
    • Posts: 4918
      • View Profile
    Jawab #6 07 December, 2010, 02:20:48 PM
  • Publish Di FB
  • buya HAMKA dulu pernah menganjurkan ceramah agama dan nasihat di luar masjid, dalam dewan orang ramai, dan lain lain tempat, memudahkan bagi wanita haid dan belum mandi wajib datang bersama, mendengar nasihat agama

    kenapa ulamak kita di sini tidak melakukan

    biarlah dalam majlis tu, ada orang bukan islam, asal saja merke suka mendengar nasihat agama

    agaknya, terbantut kejujuran di malaysia, adalah keran too much politiking

    kerajaan begini, pembangkang begitu, Islam semakin lemah, islam ikt padangan dan pendapat kaum puak sendiri

    bila agaknya mahu berhijrah, BERSATU, jika benarlah mengaku Muslim, beriman

    berjuang Tauhid kah, atau berjuang untuk diri sendiri, itulah cabaran Allah kepada kita

    ada ke ustaz ustaz yang berani, joom kita buat ceramah dan nasihat, Universalism Islam

    fauzani

    • *
    • Posts: 7
      • View Profile
    Jawab #7 07 December, 2010, 03:09:31 PM
  • Publish Di FB
  •  :syukur:
    syukran atas artikel ni, sedikit sbnyak mmbantu sya t0k lebih faham..
    =)

    Nor_207

    • *
    • Posts: 908
    • Just be yourself
      • View Profile
    Jawab #8 07 December, 2010, 04:33:06 PM
  • Publish Di FB

  • Intinya adalah bahwa tidak dibolehkan bagi seorang wanita cantik (menarik) untuk pergi ke masjid dan dibolehkan bagi wanita yang sudah tua. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz II hal 1172 – 1173)


    Wallahu A’lam



    Erm..kalu gitu untung jugak jadi perempuan yg tidak menarik. Boleh la ke masjid :-),
    Mujahadah itu pahit kerana syurga itu manis

    rabbitah

    • *
    • Posts: 608
      • View Profile
    Jawab #9 07 December, 2010, 07:33:53 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Dulu semasa kecil suka ikut mak pergi surau..tapi sekarang sudah besar malu pula hendak ikut mak pergi surau..

    Persoalan putri,boleh ke perempuan pergi ke surau?
     :)
    Hidup di dunia bukan sekadar suatu kembara yang akan berakhir tatkala nafas terakhir terhela. Jua bukan bermakna kehidupan seseorang manusia itu akan ternoktah tatkala nyawa terpisah dari jasad. Sebaliknya, tatkala jasad ditinggalkan roh, hidup baru bagi seseorang manusia itu bermula.

    hada_islamic

    • *
    • Posts: 1204
    • ~cintailah DIA yang mencintai kita~
      • View Profile
    Jawab #10 07 December, 2010, 07:55:39 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

    Kebanyakan ulamak pula mengaggap bahawa solat di rumah adalah lebih baik bagi kaum wanita berbanding di masjid. Pendapat mereka ini bersesuaian dengan Sabda Nabi s.a.w.: “…dan rumah kediaman mereka adalah lebih baik bagi mereka”. Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud.

    Walau bagaimana pun, kita juga dapati bahawa para ulamak sepakat tidak mengharamkan mereka ke masjid. Berkata al-Imam Ibnul Jauzi: “Harus bagi seorang perempuan untuk keluar ke masjid untuk solat berjemaah bersama kaum lelaki” (Lihat: Ahkamun Nisa', m/s 36, cetakan pertama, Matbaah al-Halabi, Mesir, 1994).Bahkan ada di kalangan mereka yang menganggap bahawa elok juga bagi kaum wanita untuk datang solat berjemaah di masjid. Berkata al-Hafiz Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla: “Jika hadir seorang wanita ke masjid untuk bersolat berjemaah bersama kaum lelaki, maka itu adalah satu perkara yang baik” . Dan ini adalah pendirian mazhab Zohiri. Bagi mereka hadis yang menyatakan kelebihan solat berjemaah mengatasi solat bersendirian dengan 27 darjat tidak boleh dikhususkan untuk kaum lelaki sahaja. Lihat al-Mufassal Fi Ahkamil Mar'ah, jilid 1, m/s 212.

    Sebenarnya tidak ada nas yang jelas melarang wanita ke masjid, bahkan nas yang ada hanyalah menyatakan bahawa solat di rumah adalah lebih baik. Nas ini adalah penutup kepada hadis yang menyatakan bahawa mereka perlu diberikan keizinan untuk ke masjid. Sabda Nabi s.a.w.: "Jangan kamu menegah kaum wanita ke masjid-masjid, dan (solat mereka di) rumah-rumah mereka adalah lebih baik". Hadis sohih riwayat Abu Daud, Kitabus Solah.

    Dan terdapat juga kata-kata Siti Aisyah yang seolah-olah menunjukkan bahawa kaum wanita dilarang ke masjid. Aisyah berkata: “Kalaulah Rasulullah s.a.w. melihat apa yang telah dilakukan oleh wanita sekarang (zaman beliau), nescaya baginda akan melarang mereka (ke masjid), sebagaimana telah dilarang perempuan Bani Israil. Riwayat Imam Bukhari. Berkata al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani: “..kata-kata Aisyah itu tidaklah mengubahkan hukum (yang sedia ada). Ini kerana beliau gantungkan (larangan) tadi dengan satu syarat yang tidak wujud, yang hanya berdasarkan sangkaan beliau sahaja. Perkataan beliau: “Kalaulah Rasulullah s.a.w. melihat” boleh (dijawab dengan) dikatakan bahawa baginda tidak melihatnya dan tidak melarangnya. Maka kekallah hukum (yang asal, iaitu tiada larangan). Bahkan Aisyah sendiri tidaklah secara jelas melarang, sekalipun perkataannnya itu menunjukkan bahawa beliau seolah-olah melarangnya. Lagipun Allah SWT telah pun mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para wanita, dan Dia tidaklah mewahyukan kepada NabiNya untuk melarang mereka. Kalaulah apa yang mereka lakukan itu memerlukan dilarang mereka ke masjid, maka melarang mereka ke pasar-pasar adalah lebih utama. Lihat Fathul Bari, kitabul Azan, juz 2, m/s 445.

    Kerana inilah mereka juga perlu diberikan keizinan untuk pergi solat berjemaah di masjid, walaupun pada malam hari. Sabda Rasulullah s.a.w. seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Umar: "Berilah keizinan kepada wanita-wanita kamu untuk ke masjid pada malam hari". Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat: Ahkamun Nisa', m/s 39. Kaum wanita di zaman Rasulullah s.a.w. juga menghadiri solat berjemaah di masjid, dan Rasulullah s.a.w. tidaklah menghalang mereka. Bahkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah menyatakan bahawa kaum muslimat datang berjemaah solat subuh bersama Rasulullah s.a.w., dan mereka tidaklah dapat dicam kerana hari masih gelap (sekalipun sudah ada cahaya pagi). Isteri-isteri Rasulullah s.a.w. pula, bukan sahaja datang ke masjid, bahkan mereka juga beriktikaf di masjid di bulan Ramadhan. Semua nas ini dengan jelas menunjukkan bahawa wanita harus untuk ke masjid dan kita tidak sepatutnya menghalang mereka.
    mencari redha ALLAH...jadilah insan berguna kepada orang lain

    azrinkun

    • *
    • Posts: 1659
    • -keyakinan, keikhlasan dan kerelaan-
      • View Profile
    Jawab #11 08 December, 2010, 02:58:06 AM
  • Publish Di FB
  • sedih bila melihat kaum wanita menuju ke masjid untuk solat sedangkan mereka sebenarnya golongan yang dilaknat oleh Allah SWT dari segi pemakaian mereka terutama yang berloceng di kaki.

    Tiada Larangan

    Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : "Saya dengan akan
    sabda Rasulullah s.a.w. katanya : "Janganlah kamu larang wanita
    berjamaah ke masjid jika mereka minta izin lebih dahulu kepadamu".
    Hadis sahih riwayat Muslim

    Dari Abu Hurairah r.a. berkata :
    "Bersabda Rasulullah s.a.w. :
    "Wanita mana saja yang memakai harum-haruman,
    maka janganlah ia hadir bersama-sama kami menunaikan sembahyang Isya'
    Hadis sahih riwayat Muslim

    Bab wanita masuk syurga

    Dari Abdurrahman bin Auf bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda :
    "Jika perempuan mengerjakan solat yang lima ,
    puasa Ramadhannya , memelihara kehormatannya
    dan taat kepada suaminya maka akan dikatakan kepadanya
    masuklah ke dalam syurga dari pintu yang mana saja engkau suka
    Hadis riwayat Ahmad dan Thabarani

    perempuan ini banyak kelebihannya,gunakanlah kelebihan itu dengan sebaiknya,patuhlah dan gunakanlah akal..cukup solat,puasa,memelihara kehormatan taat pada suami sahaja dah bebas memilih mana2 pintu syurga..
    memang tiada larangan kalau perempuan ini mahu kemasjid..tapi kena jugalah lihat keadaan yang serba moden ni kena berhati2 juga,macam2 dah ada,contoh cctv.. sekian wassalam..
    Syahadah no.1 ..  Ikut Rasulullah saw..
    jalan islam itu tauhid. jalan mukmin itu syahadat

    zunita

    • *
    • Posts: 745
      • View Profile
    Jawab #12 08 December, 2010, 10:12:27 AM
  • Publish Di FB

  • Intinya adalah bahwa tidak dibolehkan bagi seorang wanita cantik (menarik) untuk pergi ke masjid dan dibolehkan bagi wanita yang sudah tua. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz II hal 1172 – 1173)


    Wallahu A’lam



    Erm..kalu gitu untung jugak jadi perempuan yg tidak menarik. Boleh la ke masjid :-),

    Betul - betul, saya sokong  senyum*
    لا إله إلا الله

    hafizul_84

    • *
    • Posts: 323
      • View Profile
    Jawab #13 08 December, 2010, 12:48:54 PM
  • Publish Di FB
  • Assalamualaikum...
    Jangan duk wat pening kepala..tepuk dada tanya iman <senyum>
    senang sahaja kan...nak solat di rumah adalah lebih afdal
    solat di masjid tidak ditegah mahupun tidak dilarang..
    pilihla yang mana kamu mahukan..
    wassalam..

    Ummu Fatimah

    • *
    • Posts: 2264
      • View Profile
    Jawab #14 08 December, 2010, 01:02:23 PM
  • Publish Di FB
  • Kalau balik kampung di kelantan, duduk di serambi rumah pun boleh dengar ceramah/kuliah maghrib.. Azannya jelas sahut-menyahut. Tak payah perempuan susah-susah nakpi masjid dengar kuliah.
    zaujah n aliah yusri.. ummu yusuf ramadhan & nur fatimah mujahidah..

    Arozi

    • *
    • Posts: 684
      • View Profile
    Jawab #15 08 December, 2010, 05:19:54 PM
  • Publish Di FB
  • mmm.. saya tidak menyokong sebarang saranan utk wanita solat berjamaah di masjid... yg saya jumpa, solat seseorang wanita itu, dirumahnya dlebih afdhal dari masjid, di biliknya lebih afdhal dari seluruhnya, di tempat tidurnya lagi terlebih afdhal dari biliknya...

    So, kalu nak ke masjid, atas majlis ilmu... itu terserah...tapi, kalu sesajer nak solat.. better x payah.. solat kat rumah lagi bagus.. melainkan, seseorang wanita itu, yg sedang dlm musafir...kalu, bermastautin.. at home laa yer...

    ultraiman

    • *
    • Posts: 69
      • View Profile
    Jawab #16 08 December, 2010, 06:02:42 PM
  • Publish Di FB
  • Assalamualaikum...
    Jangan duk wat pening kepala..tepuk dada tanya iman <senyum>
    senang sahaja kan...nak solat di rumah adalah lebih afdal
    solat di masjid tidak ditegah mahupun tidak dilarang..
    pilihla yang mana kamu mahukan..
    wassalam..

    owh begitu? how simple. pilih jer mana ibadah yang nak~

    5zul

    • *
    • Posts: 3047
    • ~~ Tiada Kesusahan Melainkan Susah ~~
      • View Profile
    Jawab #17 08 December, 2010, 07:49:04 PM
  • Publish Di FB
  • yang penting ke izinan suami mu yer- jikalau suami mu tidak dapat bersama kerana ada kerja luar kawasan-
    kalau kamu belum berkahwin elok lah ke masjid , kan elok berjemaah - pahalaNya pun banyak-
    (Senyum) lepas tue boleh dengan ceramah Agama-
    kan pakej 2 dalam 1 heeee
    ~~ Dalam Kegelapan Malam Ader Sinaran ~~

    hembusankasturi

    • *
    • Posts: 52
      • View Profile
    Jawab #18 03 February, 2011, 11:10:12 PM
  • Publish Di FB
  •  :)

    saya ada persoalan, apakah hukumnya bagi seorang pelajar wanita menunaikan hari-hari solat di masjid berjemaah berseorangan tanpa ditemani family or rakan2? tapi, pelajar tu dh terlebih dahulu meminta izin dari ibu dan ayah untuk pergi ke masjid dan telah mendapat keizinan.. saya ada dengar tidak digalakkan kerana boleh menimbulkan fitnah tp adakah tidak boleh lansung?

    jazakallah/jazakillah in advanced..

    amin ismail

    • *
    • Posts: 26
      • View Profile
    Jawab #19 04 February, 2011, 12:49:27 PM
  • Publish Di FB
  • sedih bila melihat kaum wanita menuju ke masjid untuk solat sedangkan mereka sebenarnya golongan yang dilaknat oleh Allah SWT dari segi pemakaian mereka terutama yang berloceng di kaki.

    Tiada Larangan

    Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : "Saya dengan akan
    sabda Rasulullah s.a.w. katanya : "Janganlah kamu larang wanita
    berjamaah ke masjid jika mereka minta izin lebih dahulu kepadamu".
    Hadis sahih riwayat Muslim

    Dari Abu Hurairah r.a. berkata :
    "Bersabda Rasulullah s.a.w. :
    "Wanita mana saja yang memakai harum-haruman,
    maka janganlah ia hadir bersama-sama kami menunaikan sembahyang Isya'
    Hadis sahih riwayat Muslim

    Bab wanita masuk syurga



    sudah pasti ulamak berbeza pandangan dalam perkara ini. namun ambilla kebaikan dari perbezaan ini. seandainya kawasan yang memungkinkan anda untuk hadir ke masjid itu aman tiada gangguan, sudah pasti tiada halangan untuk anda ke masjid. contohnya yang saya boleh beri, anda seorang penuntut di kolej, anda memandu kereta dari kawasan kolej terus ke kawasan masjid. dan pada waktu itu aman dari gangguan. tambahan pula, di masjid sekarang ini pun adanya pemisah antara lelaki dan wanita.pintumasukke masjid pun dipisahkan.oleh itu perkara fitnah itu sudah pasti dielakkan.

    kita seringtersilap dalam menggunakan pentafsiran agama dalam kehidupan. andai wanita ingin ke masjid, kita kata haram kerana ada hadith itu dan ini. padahal cuba kita referkan hadith tersebut kepada orang perempuan yang suka shopping di pusat pusat hiburan, lepak lepak di taman taman, bukankah itu yang jelas membawa pada fitnah. apa yang baik kita suka untuk bangkang sedangkan perkara buruk susah. silap kita. sepatutnya hadith2 ini dikembangkan kepada teguran buat anak anak mudi yang suka berpeleseran di shopping2 mall. kalau ke masjid pun dah makruh, apa lagi yang ke pusat 2 shopping kompleks ini. wallahualam

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    8 Replies
    3246 Views
    Last post 29 January, 2009, 12:03:44 PM
    by mooks
    19 Replies
    5496 Views
    Last post 29 May, 2013, 09:48:47 PM
    by RNLQ
    4 Replies
    2250 Views
    Last post 09 September, 2009, 01:11:32 AM
    by SakaratulMaut