Adab - Adab Pergaulan

*

Author Topic: Adab - Adab Pergaulan  (Read 15523 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

ahmad_siddiqui

  • *
  • Posts: 525
  • "Aku menyembuhkan jiwaku kerana perbuatannya."
    • View Profile
29 June, 2007, 06:42:59 PM
  • Publish

  • ETIKA BERGAUL

    Oleh
    Ustadz Fariq bin Gasim Anuz


    SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA
    [a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.

    Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak melewati batas-batas syar’i, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau mendapat perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu tidak cukup hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk diperhatikan, ditanya dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Apabila kasih sayang tidak didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan mencarinya dari orang lain.

    . Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.

    Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain untuk berbicara. Seorang suami –misalnya-ketika pulang ke rumah dan bertemu istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal sendiri di rumah tentu tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga ketika sang suami pulang, ia merasa senang karena ada teman untuk berbincang-bincang. Oleh karena itu, suami harus mendengarkan dahulu perkataan istri. Jika belum siap untuk mendengarkannya, jelaskanlah dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu istirahat dulu dan nanti ceritanya dilanjutkan lagi.

    Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai, kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.

    [c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.

    Allah berfirman. "Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,” Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya, menerangkan tentang ayat : "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah". Beliau berkata, “manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan hararah (dengan panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar belakang……..dan pemahaman yang berbeda dengan kita dan itu sudah mendarah daging……..sehinnga para penuntut ilmu, jika akan berdiskusi dengan orang yang fanatik terhadap madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi dia harus mengadakan pendahuluan untuk menciptakan suasana kondusif antara dia dengan dirinya. target pertama yang kita inginkan ialah agar orang itu mengikuti apa yang kita yakini kebenarannya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik madzhab, mereka tidak siap mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia tidak menjadi musuh bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang kondusif antara kita dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang haq, dia tidak akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. Sedangkan apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan yang sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya, tentu akan berbeda tanggapannya.

    [d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan Kepada Orang Lain.

    Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Permasalahan ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di masjid……namun menjadikan seseorang tersinggung karena dibelakangi. Hal ini kadang tidak sengaja kita lakukan. Oleh karena itu, dari pengalaman kita dan orang lain, kita harus belajar dan mengambil faidah. Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal menghormati orang lain. Hal-hal yang membuat diri kita tersinggung, jangan kita lakukan kepada orang lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan pelecehan, harus kita kenali dan hindarkan.

    Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita diperlakukan kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya. Karena-mungkin-orang lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika kita memberi salam kepada orang lain, namun orang tersebut tidak menjawab, maka kita jangan langsung menuduh orang itu menganggap kita ahli bid’ah atau kafir. Bisa jadi, ketika itu dia sedang menghadapi banyak persoalan sehingga tidak sadar ada yang memberi salam kepadanya, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kalau perlu didatangi dengan baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. Dalam hal ini kita dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.

    Allah berfirman.
    "Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan perintahkanlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf : 199]

    [e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Maju.

    Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu tidak suka, jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti ini harus kita kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi mahasiswa. Jika di kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada kita. Maka kita harus senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus berikhtiar dengan rajin belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan orang yang dengki, tidak suka jika temannya lebih pandai dari dirinya. Malahan karena dengkinya itu dia bisa-bisa memboikot temannya dengan mencuri catatan pelajarannya dan sebagainya.

    [f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas Kebaikan.

    Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.

    [g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa Melukai Perasaannya.

    Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang diinginkan. Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang memberikan ceramah dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut. Ketika pulang, dia menanyakan pendapat istrinya tentang ceramahnya. Istrinya menjawab dengan mengatakan, bahwa jika ceramah tersebut disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya akan tepat sekali.

    Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan perkataan demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi atau bahkan membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.

    SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA
    Kita mempelajari sikap-sikap yang tidak disukai manusia agar terhindar dari sikap seperti itu. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap yang menyelisihi syariat. berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan. Dan sebaliknya, terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus kita jauhi.

    Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia ialah sebagai berikut.

    Pertama.
    Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain.

    Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yang berbunyi.

    Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian
    Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak
    Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia
    Adalah salah satu bentuk menjelek – jelekkan
    Aku tidak ridho mendengarnya
    Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku
    Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati

    Kata nasehat itu sendiri berasal dari kata nashala, yang memiliki arti khalasa, yaitu murni. Maksudnya, hendaklah jika ingin memberikan nasehat itu memurnikan niatnya semata –mata karena Allah. Selain itu, kata nasehat juga bermakna khaththa, yang artinya menjahit. Maksudnya, ingin memperbaiki kekurangan orang lain. maka secara istilah, nasehat itu artinya keinginan seseorang yang memberi nasehat agar orang yang diberi nasehat itu menjadi baik.

    Kedua.
    Manusia Tidak Suka Diberi Nasehat Secara Langsung.

    Hal ini dijelaskan Al Imam Ibn Hazm dalam kitab Al Akhlaq Was Siyar Fi Mudawatin Nufus, hendaklah nasehat yang kita berikan itu disampaikan secara tidak langsung. Tetapi, jika orang yang diberi nasehat itu tidak mengerti juga, maka dapatlah diberikan secara langsung.

    Ada suatu metoda dalam pendidikan, yang dinamakan metoda bimbingan secara tidak langsung. Misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Shalih bin Humaid, imam masjidil Haram, berjudul At Taujihu Ghairul Mubasyir (bimbingan secara tidak langsung).

    Metoda ini perlu dipraktekkan, walaupun tidak mutlak. Misalnya, ketika melihat banyak kebid’ahan yang dilakukan oleh seorang ustadz di suatu pengajian, maka kita tanyakan pendapatnya dengan menyodorkan buku yang menerangkan kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukannya.

    Ketiga.
    Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan – Kesalahannya.

    Yang dimaksud dengan kesalahan-kesalahan disini, yaitu kesalahan yang tidak fatal; bukan kesalahan yang besar semisal penyimpangan dalam aqidah. Karena manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan-kekurangan pada dirinya.

    Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh menjelaskan dalam ceramahnya, bahwa ada empat fenomena yang mengotori dakwah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

    [1]. Memandang sesuatu hanya dari satu sisi, yaitu hanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah.
    [2]. Isti’jal atau terburu-buru.
    [3]. Ta’ashub atau fanatik.
    [4]. Thalabul kamal atau menuntut kesempurnaan.

    Syaikh Shalih menjelaskan, selama seseorang berada di atas aqidah yang benar, maka kita seharusnya saling nasehat-menasehati, saling mengingati antara satu dengan yang lain. bukan saling memusuhi. Rasulullah bersabda yang artinya, “janganlah seorang mukmin membenci istrinya, karena jika dia tidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan akhlaqnya yang baik.

    Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitabMukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.

    [1]. Aqidahnya benar.
    [2]. Akhlaqnya baik.
    [3]. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena dapat menimbulkan mudharat.
    [4]. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang materialistis.

    Keempat.
    Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Tidak Pernah Melupakan Kesalahan Orang Lain.

    Sebagai seorang muslim, kita harus bisa memafkan dan melupakan kesalahan orang lain atas diri kita. tidak secara terus-menerus mengungkit-ungkit, apalagi menyebut-nyebutnya di depan orang lain. terkadang pada kondisi tertentu, membalas kejahatan itu bisa menjadi suatu keharusan atau lebih utama. Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarh Riyadush Shalihin menjelaskan, bahwa memaafkan dilakukan bila terjadi perbaikan atau ishlah dengan pemberian maaf itu. Jika tidak demikian, maka tidak memberi maaf lalu membalas kejahatannya.

    Kelima.
    Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.

    Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, barang siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walau sedikit saja…….. " sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan manusia menjadi sombong.

    [1]. Harta atau uang .
    [2]. Ilmu.
    [3]. Nasab atau keturunan.

    Keenam
    Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Terburu-Buru Memvonis Orang Lain.

    Dr. Abdullah Al Khatir rahimahullah menjelaskan, bahwa di masyarakat ada fenomena yang tidak baik. Yaitu sebagian manusia menyangka, jika menemukan orang yang melakukan kesalahan, mereka menganggap, bahwa cara yang benar untuk memperbaikinya, ialah dengan mencela atau menegur dengan keras. Padahal para ulama memilik kaedah, bahwa hukum seseorang atas sesuatu, merupakan cabang persepsinya atas sesuatu tersebut.

    Ketujuh.
    Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Mempertahankan Kesalahannya, Atau Orang Yang Berat Untuk Rujuk Kepada Kebenaran Setelah Dia Meyakini Kebenaran Tersebut.

    Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi rahimahullah berkata, “pintu hawa nafsu itu tidak terhitung banyaknya”. oleh karena itu, kita harus berusaha menahan hawa nafsu dan menundukkannya kepada kebenaran. Sehingga lebih mencintai kebenaran daripada hawa nafsu kita sendiri.

    Kedelapan.
    Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.

    Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kasetnya yang menjelaskan syarh Hilyatul ‘ilm, tentang adab ilmu. Beliau menjelaskan, bahwa jika kita mendapati atsar dari salaf yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya, maka kita harus husnudzan. Bahwa hal itu diungkapkan bukan karena kesombongan, tetapi untuk memberikan nasehat kepada kita.

    Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di pihak yang benar, tidak punya kesalahan sama sekali. sedangkan lawannya, berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian.

    Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a’lam.

    [Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
    "Aku hanyalah insan biasa yang menyatakan sesuatu hari ini, mungkin esok ku ubah kembali, dan mungkin lusa ku ubah lagi.." -Imam Abu Hanifah.

    alhaudhie

    • *
    • Posts: 2086
      • View Profile
    Reply #1 08 October, 2007, 07:11:15 AM
  • Publish


  • Virus-Virus UkhuwwahOleh: mujahid_iman

    Seorang sahabat adalah manusia, dia itu dirimu, hanya saja ia adalah orang lain…

    sekilas lalu,virus2 ukhuwah ini adalah seperti berikut:

    1) tamak akan kenikmatan dunia (20:131)

    “seseorang di antara kamu tidak beriman dengan sempurna kecuali setelah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” (hadis Nabi)

    2) lalai menjalankan ibadah dan melanggar tuntutan agama

    “tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang kerana Allah berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.”(hadis Nabi)tidakkah kau tahu; kadang air itu busuk baunya walau warnanya tetap jernih

    hadis Nabi: ..agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah.

    3) tidak santun dalam berbicara-suara tinggi/kata-kata kasar(31:19)
    -tidak mendengar sarannya, enggan menatapnya ketika bicara atau mberi salam, tidak menghargai keberadaannya
    -bergurau secara berlebihankelembutan adalah anugerah, ucapan paling baik adalah kejujuran
    sedang bergurau secara berlebihan merupakan kunci segala permusuhan

    -sering mendebat dan membantah

    “sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan selalu membantah.” (hadis nabi)

    -kritikan keras yang melukai perasaan

    4) sikap acuh(59:9)

    …rindu, kedekatan, dan kehangatan perasaan adalah ibarat bahan bakar yang menyalakan ukhuwah abadi, menambah gelora semangat, dan meringankan segala beban yang ditanggung….aku hairan, mengapa selalu merindukan mereka
    menanyakan keadaannya kepada setiap orang yang ku temui
    padahal mereka di sini bersamaku
    mataku mencari mereka ke sana kemari
    padahal mereka ada di dekat pelupuknya
    hatiku bergejolak merindukan mereka
    padahal mereka ada di antara tulang rusukku

    sekalipun wajahku tak dapat menatapmu lagi
    namun cinta dan ukhuwah tidak akan pernah sirna
    aku tidak akan berhenti memujimu
    dari kejauhan, bersama untaian doa
    jiwaku akan selalu merindukanmu
    bersua bersama penuh ketulusan dan cinta

    jiwaku adalah jiwaku,jiwaku adalah jiwanya
    hasratnya adalah hasratku, hasratku adalah hasratnya

    5) mengadakan perbicaraan rahsia (58:10)

    “jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat perbicaraan rahsia tanpa melibatkan yg lain, kerana perbuatan itu dapat membuatnya sedih.”(hadis Nabi)

    6) keras kepala, enggan menerima nasihat dan saran

    “cukuplah seseorang dinyatakan buruk, jika ia mengejek saudaranya sesama Muslim.”( hadis Nabi)

    7) sering membantah, berbeza sikap dan hobi, bersikap sombong dan kasar

    “ruh ruh itu bagaikan bala tentera, jika mereka saling kenal, maka akan bersatu. Namun jika tidak saling kenal, maka akan berselisih.” (hadis Nabi)

    8) memberi teguran di depan orang lain

    …penyebab cepat pudarnya rasa cinta dan mudah menanam bibit-bibit permusuhan…

    9) sering menegur, tidak toleran, cenderung negative thinking, enggan memaafkan

    terimalah sahabatmu dengan segala kekurangannya
    sebagaimana kebaikan mesti diterima walau kecil wujudnya
    terimalah sahabatmu kerana jika ia menyakiti
    lain kali ia membahagiakansiapa mencari sahabat tanpa cacat, nescaya sepanjang hidupnya tidak mendapat sahabat

    “seorang suami yang Mukmin tidak akan memarahi isterinya yang Mukminah, apabila ia tidak suka terhadap sebagian perangai isterinya, maka ia akan menyukai perangainya yang lain.”(hadis Nabi)

    jika tak menegur bererti tiada cinta
    cinta tetap bertahan selama ada teguran*

    banyak yang tinggal jauh namun ia dekat dihati
    banyak orang yang tinggal berdekatan namun hatimu tak mampu menyukai
    apalah erti jauh dan dekat melainkan hanya permasalahan nurani

    10) mudah percaya terhadap orang yang-orang yang mengadu domba dan memendam dengki

    …orang2 yang dipertemukan oleh Allah dalam sebuah jalinan ukhuwah harus yakin bahawa satu sama lainnya saling mencintai dengan penuh ketulusan yang muncul dari nurani yang paling dalam. Hubungan yang telus seperti itu tidak mungkin dapat tersentuh oleh tangan tangan dengki, apalagi sampai dapat dihancurkan…(8:63)

    11) membuka rahsia

    …jadikanlah semua yang anda ketahui tentang dirinya sebagai amanat yang tidak boleh dibuka kecuali jika ia mengizinkan…

    12) mengikuti prasangka(49:12)

    orang Mukmin selalu mencari alasan agar boleh memaafkan, sementara orang munafik selalu mencari cari kesalahan.

    13) mencampuri masalah peribadi

    “diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (hadis Nabi)

    14) egois, sombong, tidak empati…

    “siapa yang mencukupi keperluan saudaranya, nescaya Allah mencukupi keperluannya. Siapa yang menolong seorang Mukmin dari suatu kesusahan, nescaya Allah akan menolongnya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang Muslim, nescaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (hadis Nabi)setiap sahabat selalu dekat dikala senang
    namun sahabat sejati adalah yang tetap menemani
    ketika penderitaan menimpa

    15) menutup diri, berlebihan, membebani, dan menghitung hitung kebaikannya kepadamu

    carilah sahabat yang akan kau beri ketulusan dan hak hak ukhuwah, bukannya yang kau harapkan menerima sesuatu darinya

    16) enggan mengungkapkan perasaan cinta,…

    “jika seseorang mencintai saudaranya, maka kabarkanlah bahawa ia mencintainya.”(hadis Nabi)

    17) melupakannya kerana sibuk mengurusi orang lain dan kurang setia

    orang yang tidak boleh membuktikan cintanya kepada sahabat lama tidak akan mampu membangun cinta dengan sahabat baru

    18) suka menonjolkan kelebihan peribadi,…

    jika seorang daie mendermakan dakwahnya hanya untuk Allah semata, bukan untuk kepentingan peribadi, masalah2 biasa tidak akan berubah menjadi problema besar atau malapetaka…

    19) mengingkari janji dan kesepakatan tanpa alasan yang kuat

    “tanda tanda munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya, ia berkhianat.”(hadis Nabi)

    20) selalu menceritakan perkara yang membangkitkan kesedihannya dan suka menyampaikan berita yang membuatnya resah.

    21) terlalu cinta

    “cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.”(hadis Nabi)

    insya Allah, seizinnya..mari reflek diri..kerana sesungguhnya, tahap terendah adalah untuk berlapang dada sesama kita..n tingkat tertinggi pula, adalah untuk melebihkan mereka, lebih dari diri kita sendiri…

    http://dakwah.info/?p=130
    ISLAM untuk semua

    - Pentadbiran
    - Pondok Tahfiz

    husnulkhatimah

    • *
    • Posts: 899
    • hitam putih kehidpan..sendiri yg menentukan....
      • View Profile
    Reply #2 03 July, 2008, 11:54:42 AM
  • Publish
  • Berikut adalah 5 tips bagaimana berurusan dgn ajnabi. Tips2 ni telah dikongsi oleh seorang sahabat yg amat disenangi oleh kaum wanita dan disegani oleh kaum lelaki. Semoga dgn mengamalkan perbatasan perhubungan ini, akan lebih suci bagi hati kita dan bagi hati mereka. Sama2 lah kita menjaga hati.

    1. Elakkan berurusan dgn sahabat yg berlainan jantina. Kalau ada peluang utk minta tolong dgn sahabat sejantina, mintalah tolong dari mereka. Disebabkan limitation kemampuan perempuan seperti repair kereta, repair laptop dan lain2, maka terpaksalah minta tolong dari org lelaki.

    2. Kalau terpaksa contact sahabat yg berlainan jantina, gunakanlah medium perantaraan dalam bentuk tulisan, seperti SMS, email, atau nota kecil. Gunakan perkataan2 formal, bukan bahasa pasar. Contoh: Maaf, (bukan sorrie..), Terima kasih (bukan time kaceh). Lagi satu takyah la buat smiley face ke (^_^), gelak2 ke (hihihih), dan lain2 yg kurang berfaedah. Elakkan bercakap melalui telefon kalau belum desperate. Ini kerana suara wanita amat lunak dan boleh menggetarkan jiwa lelaki. Sampai Allah pun kena sound kat org pempuan supaya keraskan suara. Rujuk qur'an surah Al-Ahzab ayat 32:

    "Wahai isteri2 nabi, kamu bukanlah seperti perempuan2 lain jika kamu bertaqwa. Maka jgn lah lemah lembutkan suara dlm berbicara, sehingga bangkit nafsu org yg ada penyakit dlm hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yg baik"

    Kalau rasa ayat ni ditujukan kepada isteri2 nabi je, lembut2kanlah suaramu dan lihatlah kesannya. Apabila arahan ni diberi kepada isteri2 nabi, sepatutnya wanita juga patut menyahut seruan tu utk mencapai darjat yg sama seperti mereka, darjat wanita2 yg bertaqwa, dan darjat wanita2 yg terpilih. Best kan?

    3. Tundukkan hati : Apabila wanita terpaksa berurusan dgn lelaki,mereka sepatutnya merasa bulu roma mereka meremang, kerana takut pada Allah. Wanita perlu takut sekiranya disebabkan mereka, lelaki ni tertarik kepada mereka. Waktu berdepan dgn lelaki2 tu, wanita perlu byk2 lah berdoa, "Ya Allah, jgnlah Kau buatkan lelaki ini tertarik kepadaku. Jauhkan pandangannya dari panahan syaitan."

    4. Tundukkan pandangan. Jangan tertipu dgn matapelajaran communication skills yg kita belajar kat uni dulu; "make eye contact with the person you're talking to". bende tu applicable kalau kita becakap dgn org yg sama jantina sahaja. Kalau ada eye contact dgn org yg berlainan jantina, kita akan mendapati theory "dari mata turun ke hati" tu betul. so, be careful dgn pandangan mata.

    Para sahabat dulu pun, Allah perintahkan supaya tahan pandangan apabila mereka berurusan dgn isteri2 nabi. Cuba rujuk surah al-ahzab ayat 53; "....Apabila kamu meminta sesuatu dari isteri2 nabi, mintalah dari belakang tabir. Itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.." Kita bukan disuruh membawa tabir ke mana2 kita pergi. kalau susah sgt nk jaga mata, tutuplah pandangan dgn buku ke, ngan file ke. Kita lihat betapa Allah sgt ambil berat masalah hati para sahabat n isteri2 nabi supaya mereka tak tewas ke dalam kemungkaran. Kalau kita pun nk jadi sehebat diorang, kenalah buat apa yg diorang buat. Takkan nk tunggu Allah sebut nama kita dlm Qur'an baru nk buat kot. Cth: "Wahai Cik Ain.. taatilah suamimu..." Isk2. tak layak nye..

    5. Cepatkan urusan. Ni mungkin applicable kepada students/ org yg dah kerja yg terpaksa berurusan dgn team mate yg berlainan jantina. Dah tak boleh elak, dia je team mate kita. So, apa2 kerja yg nk dibuat bersama, buat je la keje tu. takyah nak borak2, tanya hal peribadilah, gelak2 lah, buat lawaklah.. tak perlu tak perlu. Siapkan keje cepat2, then pergi. Perbincangan buatlah di tempat yg proper dan berurusanlah secara professional.

    Semoga bermanfaat dan semoga kita dikenali sebagai lelaki soleh dan wanita solehah yg ada identity, yg taat pada perintah Allah dan takutkan hari pembalasan.Semoga tidak melalaikan diri kita dan org yg menerimanya. Jaga diri, hiasi peribadi. (",)

    wassalam...


    ria_firdaus

    • *
    • Posts: 194
      • View Profile
    Reply #3 03 July, 2008, 02:05:49 PM
  • Publish
  •  :)


    Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Walaupun prioritas pertama yang diajarkan olah para Nabi adalah tauhid, namun bersamaan dengan itu, mereka juga mengajarkan akhlak yang baik. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu ′alaihi wassalam diutus untuk menyempurnakan akhlak. beliau Shalallahu ′alaihi wassalam adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman.

    “Artinya : Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”. [Al-Qalam 4]

    Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :

    “Artinya : Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]

    Dengan mempraktekkan adab-adab dalam bergaul, maka kita akan memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat diantara umat Islam, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah telah berfirman.

    “Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian denga tali (agama ) Allah bersama-sama , dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk” [Al-Imran : 103].

    Oleh karena itu, adab-adab bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja atau terhadap atasan dan bawahan. Jika kita seorang da′i atau guru, maka harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da′i atau lainnya dan dengan mad′u (yang didakwahi) atau terhadap muridnya. Demikian juga apabila seorang guru, atau seorang murid atau apapun jabatan dan kedudukannya, maka kita perlu untuk mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul.

    Kurang mempraktekkan etika bergaul, menyebabkan dakwah yang haq dijauhi oleh manusia. Manusia menjadi lari dari kebenaran disebabkan ahli haq atau pendukung kebenaran itu sendiri melakukan praktek yang salah dalam bergaul dengan orang lain. Sebenarnya memang tidaklah dibenarkan seseorang lari dari kebenaran, disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

    Jika inti ajaran yang dibawa oleh seseorang itu benar, maka kita harus menerimanya, dengan tidak memperdulikan cara penyampaiannya yang benar atau salah, etikanya baik atau buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebanyakan orang melihat dulu kepada etika orang itu. Oleh karena itu, mengetahui etika ini penting bagi kita, sebagai muslim yang punya kewajiban saling menasehati sesama manusia, agar bisa mempraktekkan cara bergaul yang benar.
    “Dunia ini bagi orang beriman adalah ladang dzikir & akhirat akan menjadi panen bagi mereka.
    Mereka berjalan dengan memakai sarana syukur kepadaNya, hingga sampai pada anugerah-anugerah yg dikeluarkan dari perbendaharaan simpananNya. Sesungguhnya Dia Raja Yang Maha Mulia”

    ria_firdaus

    • *
    • Posts: 194
      • View Profile
    Reply #4 03 July, 2008, 02:27:32 PM
  • Publish

  •  :)


    Etika Pergaulan Menurut Islam
    Penulis : Taufik Ismail, Lc.



    "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

    Pergaulan adalah salah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang 'masih hidup' di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannnya.

    Tidak ada makhluk yang sama seratus persen di dunia ini. Semuanya diciptakan Allah berbeda-beda. Meski, ada persamaan, tapi tetap semuanya berbeda. Begitu pula halnya dengan manusia. Lima milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan bentuk khas. Karena perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul sesama manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku. Allah menciptakan kita dengan segala perbedaannya sebagai wujud keagungan dan kekuasaanNya.

    Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap yang wajar dan adil. Karena bisa jadi, sesuatu yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi, akan menjadi hal yang besar. Itulah perbedaan. Tak ada yang dapat membedakan kita dengan orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada Allah SWT (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

    Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi, tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya.

    Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuhkembangkan agar pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Tiga kunci untuk mewujudkannya yaitu ta'aruf, tafahum, dan ta'awun. Inilah tiga kunci utama yang harus kita lakukan dalam pergaulan.

    ***

    Ta'aruf

    Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal orang lain? Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka akan saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau, mungkinkah ukhuwah Islamiyah akan dapat terwujud?

    Begitulah, ternyata ta'aruf atau saling mengenal menjadi sesuatu yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Denga ta'aruf, kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.

    Tak berlebihan, jika kemudian ada yang mengatakan, "Tak kenal maka tak sayang." Bagaimana kita akan menyayangi orang lain, jika kita tidak mengetahui orang itu. Oleh Karena itu, jika tak kenal maka ta'aruf. Jika kita belum mengenal, maka berkenalanlah.

    ***

    Tafahum

    Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan ketika kita bergaul dengan orang lingkungan. Setelah kita mengenal seseorang, pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan. Dengan memahami, kita dapat memilah dan memilih siapa yang yang harus menjadi teman bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya yang jahat. Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita. Masih ingat, "Bergaul dengan orang shalih itu ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang harum setiap kita bersama dengannya. Sedangkan bergaul dengan yang jahat ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika kita bersamanya."

    Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-orang shalih, akan banyak sedikit membawa kita menuju kepada keshalihan. Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada keburukan perilaku (akhlakul majmumah).

    ***

    Ta'awun

    Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika belum tumbuh sikap ta'awun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasulullah SAW telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli dengan urusan umat Islam yang lain.

    ***

    Ta'aruf, tafahum, dan ta'awun telah menjadi bagian penting yang harus kita lakukan. Tapi, semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama, termasuk ketika kita mengenal, memahami, dan saling menolong. Selain itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena Allah. Karena cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan keridhaan Allah dan seluruh makhlukNya. Wallahu a'lam bishshawab.

    assiddiq

    • *
    • Posts: 4596
    • "Dengan Kehendak dan KuasaNya"
      • View Profile
    Reply #5 13 April, 2009, 09:06:37 AM
  • Publish
  • Adab - Adab Pergaulan.

    Dipetik daripada Kitab Mau'izatul Mu'minin, karya Imam Al-Ghazali

    Jika kamu ingin berbual secara baik dan sopan, maka ikutilah petunjuk-petunjuk ini :

            Hadapilah kawanmu atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan dan kerelaan serta penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan sekali-kali kamu menampakkan sikap angkuh, sombong dan berasa tinggi diri. Rendahkanlah dirimu tapi bukan kerana perasaan kurang harga diri. Dalam segala hal, letakkan menurut ukuran yang pertengahan, sebab sesuatu yang berlebihan dari segala macam perkara itu pasti tidak baik dan tercela.

            Jangan gemar melihat di kedua sampingmu, kanan atau kiri. Jangan pula banyak menoleh ke mana-mana. Jangan pula terlampau tajam memandang orang lain. Jikalau engkau duduk, maka janganlah seolah-olah sebagaimana orang yang tidak tenang duduknya dan seperti orang yang hendak melompat-lompat sahaja.

            Usahakanlah supaya dudukmu itu sentiasa tampak tenang, kata-katamu selalu teratur dan tertib. Dengarlah hati-hati percakapan orang yang ada di mukamu, tanpa menunjukkan kehairanan yang amat sangat. Jangan pula engkau biasa meminta orang lain mengulangi perbicaraannya. Jikalau ada hal-hal yang mentertawakan, maka diamlah secepat mungkin.

            Janganlah dalam bercakap-cakap itu engkau membanggakan dirimu sendiri, anak-anakmu, rambutmu, karangan-karanganmu atau apa sahaja yang engkau anggap suatu keistimewaan dalam dirimu atau keluargamu.

            Jikalau engkau berdebat, pegang teguhlah kesopanan. Janganlah engkau dianggap manusia yang bodoh dan tolol oleh orang lain, terutama oleh lawanmu. Jauhkanlah sikap tergesa-gesa, fikirkanlah masak-masak hujah atau bantahanmu. Jangan sesekali berisyarat dengan menggunakan tangan dan jangan pula suka menoleh ke belakang. Jikalau engkau sedang marah, diamlah dulu dan setelah reda kemarahanmu, ucapkanlah isi hatimu dengan baik.
    "Al-haqqu bila nizom yaghlibuhul-baatil binnizom"
    Maksudnya: "Sesuatu kebenaran yang tidak sistematik akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematik dan terancang."
    http://Http://cahayarabbani.blogspot.com
    http://Http://islamicmoviecollection.blogspot.com
    assiddiq@ymail.com

    assiddiq

    • *
    • Posts: 4596
    • "Dengan Kehendak dan KuasaNya"
      • View Profile
    Reply #6 15 April, 2009, 10:12:40 PM
  • Publish
  • Dipetik daripada Kitab Mau'izatul Mu'minin, karya Imam Al-Ghazali
    [box title=Adab - Adab Pergaulan.]
    Jika kamu ingin berbual secara baik dan sopan, maka ikutilah petunjuk-petunjuk ini :

            Hadapilah kawanmu atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan dan kerelaan serta penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan sekali-kali kamu menampakkan sikap angkuh, sombong dan berasa tinggi diri. Rendahkanlah dirimu tapi bukan kerana perasaan kurang harga diri. Dalam segala hal, letakkan menurut ukuran yang pertengahan, sebab sesuatu yang berlebihan dari segala macam perkara itu pasti tidak baik dan tercela.

            Jangan gemar melihat di kedua sampingmu, kanan atau kiri. Jangan pula banyak menoleh ke mana-mana. Jangan pula terlampau tajam memandang orang lain. Jikalau engkau duduk, maka janganlah seolah-olah sebagaimana orang yang tidak tenang duduknya dan seperti orang yang hendak melompat-lompat sahaja.

            Usahakanlah supaya dudukmu itu sentiasa tampak tenang, kata-katamu selalu teratur dan tertib. Dengarlah hati-hati percakapan orang yang ada di mukamu, tanpa menunjukkan kehairanan yang amat sangat. Jangan pula engkau biasa meminta orang lain mengulangi perbicaraannya. Jikalau ada hal-hal yang mentertawakan, maka diamlah secepat mungkin.

            Janganlah dalam bercakap-cakap itu engkau membanggakan dirimu sendiri, anak-anakmu, rambutmu, karangan-karanganmu atau apa sahaja yang engkau anggap suatu keistimewaan dalam dirimu atau keluargamu.

            Jikalau engkau berdebat, pegang teguhlah kesopanan. Janganlah engkau dianggap manusia yang bodoh dan tolol oleh orang lain, terutama oleh lawanmu. Jauhkanlah sikap tergesa-gesa, fikirkanlah masak-masak hujah atau bantahanmu. Jangan sesekali berisyarat dengan menggunakan tangan dan jangan pula suka menoleh ke belakang. Jikalau engkau sedang marah, diamlah dulu dan setelah reda kemarahanmu, ucapkanlah isi hatimu dengan baik.
    [/box]
    « Last Edit: 16 April, 2009, 05:18:05 AM by Munaliza Ismail »

    fear Allah

    • *
    • Posts: 186
    • Beramal kerana Allah
      • View Profile
    Reply #7 16 April, 2009, 12:46:22 AM
  • Publish
  •  :)       
     [box title=Adab - Adab Pergaulan]                                                       BATAS-BATAS PERGAULAN REMAJA HARI INI[/box]

    [box title=1. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhdhul Bashar)]
    Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati". Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, "Ah, tidak perlu gadhdhul bashar, yang penting kena jaga hati!".

    Namun, bukanlah menunduk pandangan sehingga terlanggar tiang tetapi cukup sekadar kita memastikan pandangan kita terjaga daripada melihat sesuatu yang tidak syarie. Lelaki memandang wanita dengan penuh nafsu dan tidak alah juga wanita yang berkelakuan demikian walau tampil ‘warak berbungkus’.[/box]

    « Last Edit: 16 April, 2009, 05:18:28 AM by Munaliza Ismail »

    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14487
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #8 16 April, 2009, 04:57:16 AM
  • Publish

  • [box title=2. Couple]Duduk berdua di taman-taman, kedai-kedai makan, berjaan berdua malah ada yang lebih licik dengan menggunakan platform rasmi yang bernama ‘meeting’ di tempat-tempat yang mencurigakan bagi yang terlibat dengan persatuan mahasiswa. Walaupun kebanyakan masyarakat sekitar tidak mempedulikan tindakan sebegini kerana menganggap mahasiswa/i berpendidikan yang berdua-duaan ini sedang berdiskusi tentang pelajaran atau tugas, namun apapun alasannya, maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik dan wajib bagi kita.

    Sememangnya masyarakat kian dirosakkan dengan istilah 'jangan jaga tepi kain orang'. Inilah suatu racun yang sedang merosak dan  enghancurkan fikrah ummah. Sudah tida lagi ungkapan amar makruf nahi mungkar dikalnagn masyarakat hingga  menyebabkan anak-anak muda denang  sewenangnya berdua-duaan.

    [/box]

    « Last Edit: 16 April, 2009, 05:15:35 AM by Munaliza Ismail »
    Pengurusan, Pentadbiran Forum Halaqahnet.
    Penal Utama Baitul Muslim


    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14487
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #9 16 April, 2009, 05:02:42 AM
  • Publish

  • [box title=3. "Cop awal-awal" Untuk Berkahwin]
    "Bagaimana enti? Tapi tiga tahun lagi baru kita kahwin. Ana takut enti diambil orang." Ikhwah belum tamat belajar sehingga 'cop' seorang akhwat untuk menikah kerana takut kehilangan, padahal belum pasti hasrat itu akan tercapai.Hal ini sangatlah berisiko dan boleh mendatangkan permusuhan dan perpecahan bukan setakat semasa belajar, malah akan  berlanjutan ke tanah air hingga melibatkan keluarga. Bukankah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sendiri melarang kita daripada ‘cop awal’ atau bertunang terlalu lama. Dengan kata mudah ‘kalau rasa diri sudah
    berpunya dan serius dalam hubungan, eloklah dipercepatkan urusan akad antara kedua-duanya takut-takut terjerumus ke kancah maksiat. Justeru, mana mungkin hubungan suci suami-isteri akan terbina kekal di atas timbunan sampah kemaksiatan.
    [/box]


    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14487
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #10 16 April, 2009, 05:05:04 AM
  • Publish
  • [box title=4. Telefon Tidak ‘Urgent’]Menelefon dan berborak tidak tentu arah, yang tidak ada nilai significantnya sama  ada soal pengajian mahupun soal tugas berpersatuan. Kalau setakat bertanya khabar, bercakap soal hati dan perasaan atau apa sahaja yang bersifat tidak syarie tanpa batas, saya gusar apa akan kita jawab di hadapan Allah nanti.

    Apa yang lebih malang, kita selaku daie, ulamak dan taruhan masyarakat di tanah air sebagai benteng terakhir umat Islam yang membawa mandat besar selaku agen pengubah masyarakat, harus menunjukkan teladan dan nama yang baik dengan mengenepikan sebarang salah laku.
    [/box]


    Ummi Munaliza

    • *
    • Posts: 14487
    • Anniversary Ke 30
      • View Profile
    Reply #11 16 April, 2009, 05:09:26 AM
  • Publish
  • [box title=5. SMS Tidak ‘Urgent’]Saling berchatting via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan dakwah mahupun urusan penting, sampai tak sedar kredit dah habis. Sudah tiba masanya kita matang dan bermuhasabah dengan kehadiran teknologi yang sudah sekian lama kita nikmati. SMS tidak sepatutnya dijadikan medan melampiaskan nafsu serakah dengan berabang-sayang tapi sepatutnya dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih murni dan berfaedah untuk menempah tiket ke syurga Allah Subhanahu Wataala.
    [/box]

    [box title=6. Berbicara Mendayu-Dayu]Bercakap sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja. Bukankah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam melarang perempuan daripada bercakap dengan suara yang mendayu-dayu dan dibuat-buat untuk menarik perhatian lelaki.
    Jadilah wanita yang bermaruah dengan sedikit bertegas bila bercakap dengan lelaki yang bukan mahram. Si lelaki pula, jadilah mukmin yang ‘gentleman’ dengan menghormati perempuan mukminat. Hormat dalam erti kata menjaga dan memelihara maruah kaum hawa yang bakal
    menjadi tempat letaknya zuriat kita, penerus generasi beragama masa depan.

    [/box]

    [box title=7. Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak ‘Urgent’]
    Laman YM adalah termasuk satu kemudahan. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik perbicaraan melebar entah ke mana dan tidak menfokuskan kepada dakwah kerana khalwat secara maya mudah untuk berlaku.
    [/box]


    nur zulaikha

    • *
    • Posts: 515
    • cinta ALLAH ku dmbakn krn merindui rahmatNYA
      • View Profile
    Reply #12 16 April, 2009, 12:15:05 PM
  • Publish
  • Assalamua'laikum...

    Pergaulan memerlukan penelitian dan penjagaan adab yang sewajarnya antara lelaki dan wanita yang bukan menjadi mahramnya...

    Sebagaimana yang dianjurkan Islam supaya lelaki dan wanita menundukkan pandangan mereka daripada apa yang diharamkan mereka untuk melihatnya. Wanita dan lelaki yang baik akan sentiasa menjaga pandangan mereka...inikan dalam batas pergaulan- memandang benda bukan ajnabi sudah haram bagaimana pula dalam bersentuhan atau percakapan...

    wallahu a'lam...
    cintai saudaramu mendekati sunah dan suruhan
    rasulmu dan ALLAH
    cintai rasulmu mendekati mu kepada ALLAH...
    cintai ALLAH mendekati kamu dengan keredhaanNYA...

    nur zulaikha

    • *
    • Posts: 515
    • cinta ALLAH ku dmbakn krn merindui rahmatNYA
      • View Profile
    Reply #13 16 April, 2009, 12:16:11 PM
  • Publish
  • tapi dibolhkan dalam perkara tertentu..

    ketika bekerja seumpamanya...

    dengan syarat tidak berniat untuk mengundang maksiat...

    SNF

    • *
    • Posts: 904
    • "Kau ibarat permata berharga"
      • View Profile
    Reply #14 16 April, 2009, 12:17:40 PM
  • Publish
  • Assalamua'laikum...

    Pergaulan memerlukan penelitian dan penjagaan adab yang sewajarnya antara lelaki dan wanita yang bukan menjadi mahramnya...

    Sebagaimana yang dianjurkan Islam supaya lelaki dan wanita menundukkan pandangan mereka daripada apa yang diharamkan mereka untuk melihatnya. Wanita dan lelaki yang baik akan sentiasa menjaga pandangan mereka...inikan dalam batas pergaulan- memandang benda bukan ajnabi sudah haram bagaimana pula dalam bersentuhan atau percakapan...

    wallahu a'lam...

    ::  Apa yg penting kita kena jaga IKHTILAD ketika pergaulan..
    ::  Ikhtilad adalah amat penting dalam apa jua aspek kita lakuan ketika berurusan dgn kaum adam..

    fear Allah

    • *
    • Posts: 186
    • Beramal kerana Allah
      • View Profile
    Reply #15 17 April, 2009, 02:16:40 AM
  • Publish
  • Realiti hari ini menyaksikan manusia lelaki dan wanita telah bolos daripada pegangan agamanya sebagaimana bolosnya anak panah dari busarnya. Sifat, sikap, adab dan disiplin pergaulan jauh sekali daripada ajaran Islam. Dalam fenomena seperti ini perkataan ikhtilat (pergaulan antara lelaki dan wanita ajnabi) tentu sekali menjadi persoalan yang mengancam kesejahteraan masyarakat dan keutuhan agama.

    Oleh kerana itu ulama-ulama Islam satu masa dahulu secara tegas menghukumkan masalah ikhtilat di sekolah, di pasar dan di mana-mana tempat adalah haram. Wanita Islam pula dididik agar mengutamakan rumah daripada pekerjaan. Oleh kerana itu isu wanita bekerja dan apatah lagi berpolitik adalah satu isu yang ditegah pada satu masa dahulu.

    Apakah sebenarnya ikhtilat itu haram?

    Fiqh semasa pada kali ini akan menghuraikan hukum pergaulan antara lelaki dan perempuan dalam berbagai sempena dari segi dalil, skop perbincangan dan batas-batas pergaulan. Contohnya wanita di tempat kerja, di pasar, di pentas dan bergelut di bidang politik. Adakah ia harus melakukan kerja-kerja yang seperti itu padahal dia terpaksa bergaul, bercakap dan bersemuka dengan bukan muhram dan bukan kaum sejenis mereka.

    Adakah wanita sepenuhnya seperti lelaki dalam bercampur dengan lelaki ajnabi? Yakni adakah percampuran mereka dengan lelaki sama dengan percampuran lelaki dengan lelaki, tanpa ada perbezaan?

    Jawapannya ialah:
    Tidak, secara pastinya tidak. Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahawa pergaulan wanita dengan lelaki sama dengan pergaulan lelaki dengan lelaki. Kerana asasnya pergaulan lelaki sesama lelaki adalah harus, tetapi pergaulan lelaki dengan wanita tidak begitu. Maka kalau itu asasnya, pergaulan lelaki dan wanita adalah haram, bukan harus.


    Percampuran Yang Diharuskan

    Setelah kita mengetahui asal hukum pergaulan antara lelaki dan perempuan adalah haram, maka ia adalah suatu perkara yang wajib dihindarkan kecuali dalam keadaan terpaksa atau keperluan yang mendesak. Sheikh Abd. Karim Zaidan dalam kitabnya al-Mufassal Fi al-Ahkam al-Mar'ah yang masyhur menyebutkan contoh-contoh keadaan tersebut seperti di bawah.

    1* Harus kerana terpaksa (dharurah)
    Ikhtilat yang berlaku kerana terpaksa seperti yang disebutkan oleh Imam Nawawi dengan katanya:

    "Berkata ahli mazhab Syafie: "Tidak ada perbezaan dalam pengharaman khulwah (berdua-duaan) sama ada dalam solat atau selainnya. Dikecualikan daripada hukum ini keadan-keadaan dharurah, seperti jika seseorang lelaki ajnabi mendapati seorang wanita ajnabi bersendirian di jalan, jauh daripada kumpulan manusia, maka harus ia menumpangkan wanita tersebut jika dibimbangi keselamatannya, maka pada ketika itu hukum menumpangkannya adalah wajib tanpa khilaf. Antara contoh dharurah yang lain ialah seperti seorang lelaki ajnabi melarikan wanita dengan tujuan menyelamatkannya daripada diperkosa, jika itu adalah satu satu jalan untuk menyelamatkan wanita tersebut.

    2* Harus kerana keperluan (hajat)
    Ulama' berkata, hajat mengambil peranan dharurah dalam mengharuskan perkara yang haram. Di sana dicatatkan beberapa keperluan yang dianggap mengharuskan ikhtilat antara lelaki dan perempuan.

    a) Ikhtilat kerana urusan jual beli yang dibenarkan oleh syarak
    Harus bagi wanita bercampur dengan lelaki semasa berjual beli, melakukan tawar menawar, memilih barang dengan syarat tidak berlaku khulwat (berdua-duaan) dan memelihara adab adab pergaulan.

    b) Ikhtilat kerana melakukan kerja kehakiman
    Wanita harus menjadi hakim dalam perkara selain hudud di sisi Hanafiah dan dalam semua perkara di sisi az-Zahiriah dan Imam at-Tabari. Sudah termaklum kerja seperti ini mengundang percampuran dengan kaum lelaki yang terdiri daripada pendakwa, tertuduh, saksi dan lain-lain.

    c) Ikhtilat kerana menjadi saksi
    Islam mengharuskan wanita menjadi saksi dalam kes berkaitan dengan harta dan hak-haknya. Seperti dinyatakan dalam ayat akhir surah al-Baqarah. Menjadi saksi akan mendedahkan diri kepada percampuran dengan lelaki ajnabi.

    d) Ikhtilat kerana amar makruf nahi mungkar
    Ibnu Hazmin telah menyebutkan dalam kitabnya al-Muhalla bahawa Umar al-Khattab RA telah melantik al-Syifa’ menjadi penguatkuasa perbandaran. Sudah tentu beliau akan bercampur dengan lelaki ketika menjalankan tugasnya.

    e) Ikhtilat kerana melayan tetamu
    Harus bagi wanita melayan tetamu bersama suaminya dan jika ada alasan yang syar'i seperti tujuan memuliakan tetamu dan sebagainya walaupun ia terpaksa bercampur dengan tetamu. Dalam hadith Bukhari, ada diriwayatkan bahawa Ummu Usaid melayani Rasulullah SAW dengan menghidangkan makanan dan menuangkan minuman untuk Baginda SAW.

    f) Ikhtilat kerana memuliakan tetamu dan jika perlu makan bersamanya
    Harus bagi wanita makan bersama tetamu dan suami tetamu kerana tujuan memuliakan tetamu atau tujuan lain yang syar'i. Muslim meriwayatkan kisah satu keluarga yang ingin memuliakan Rasulullah SAW dan bertamukan baginda. Oleh kerana makanan yang sedikit, mereka memadamkan api dan memperlihatkan bahawa mereka makan bersama sama baginda. Ini bererti bahawa orang Ansar dan isterinya itu duduk bersama tetamu untuk makan bersama, walaupun mereka tidak makan, kerana mengutamakan tetamu.

    g) Ikhtilat dalam kenderaan awam
    Harus bagi wanita keluar rumah kerana menunaikan kerja-kerjanya yang diharuskan, walaupun terpaksa bercampur dengan lelaki ajnabi, seperti keluar untuk menziarahi dua ibu bapanya, membeli belah dan ke hospital, meski pun ia terpaksa menaiki kederaan awam yang menyebabkan berlaku percampuran dengan penumpang lain dari kalangan lelaki ajnabi, dia mungkin duduk atau berdiri ditepinya. Percampuran ini diharuskan oleh keperluan yang syar'ie.

    h) Ikhtilat dalam kerja-kerja jihad
    Antara contoh pergaulan sewaktu jihad ialah seperti membawa air, merawat pesakit dan seumpamanya. Semua perkara tersebut adalah harus dilakukan oleh wanita kerana maslahah syariah. Bukhari menyebut dalam sahihnya daripada Ar-Rabei binti Muawwiz katanya:
    "Kami bersama Nabi SAW merawat pesakit, memberi minum dan menghantar jenazah yang terbunuh ke Madinah."

    i) Ikhtilat untuk tujuan belajar atau mendengar nasihat
    Antara suasana yang diharuskan, ikhtilat dengan tujuan mengajar agama kerana Bukhari meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW keluar pada satu hari raya dan sembahyang dua rakaat. Setelah selesai solat Baginda berpusing mengarah wanita. Baginda menasihati mereka dan menyuruh mereka bersedekah, bersama baginda ialah Bilal.

    j) Ikhtilat dalam suasana yang telah menjadi adat kebiasaan
    Tersebut dalam kitab Muwatta' persoalan: "Adakah harus bagi wanita makan bersama hamba atau lelaki bukan muhramnya?" Berkata Malik: "Tidak ada halangan pada perbuatan tersebut, jika dalam ruang uruf bahawa wanita makan bersama lelaki tersebut." Kadang-kadang wanita makan bersama suami dan mereka yang sering makan bersama suaminya. Antara contoh yang berlaku pada zaman ini ialah percampuran sewaktu menziarahi sanak saudara. Dalam suasana yang seperti ini akan berlaku percampuran antara lelaki dan perempuan dalam satu bilik, makan pada satu meja dan sebagainya. Ini semua diharuskan selama terpelihara adab-adab Islamiah.


    Allahu Ta'ala a'lam...

    zulaikha

    • *
    • Posts: 95
      • View Profile
    Reply #16 17 April, 2009, 12:39:31 PM
  • Publish
  • syukran semua sebab sudi kongsi ilmu..agar kita di beri kekuatan untuk mengamalkannya...insyaAllah..

    halawah

    • *
    • Posts: 2592
    • İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
      • View Profile
    Reply #17 17 April, 2009, 06:26:21 PM
  • Publish
  • Dipetik daripada Kitab Mau'izatul Mu'minin, karya Imam Al-Ghazali
    [box title=Adab - Adab Pergaulan.]
    Jika kamu ingin berbual secara baik dan sopan, maka ikutilah petunjuk-petunjuk ini :

            Hadapilah kawanmu atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan dan kerelaan serta penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan sekali-kali kamu menampakkan sikap angkuh, sombong dan berasa tinggi diri. Rendahkanlah dirimu tapi bukan kerana perasaan kurang harga diri. Dalam segala hal, letakkan menurut ukuran yang pertengahan, sebab sesuatu yang berlebihan dari segala macam perkara itu pasti tidak baik dan tercela.

            Jangan gemar melihat di kedua sampingmu, kanan atau kiri. Jangan pula banyak menoleh ke mana-mana. Jangan pula terlampau tajam memandang orang lain. Jikalau engkau duduk, maka janganlah seolah-olah sebagaimana orang yang tidak tenang duduknya dan seperti orang yang hendak melompat-lompat sahaja.

            Usahakanlah supaya dudukmu itu sentiasa tampak tenang, kata-katamu selalu teratur dan tertib. Dengarlah hati-hati percakapan orang yang ada di mukamu, tanpa menunjukkan kehairanan yang amat sangat. Jangan pula engkau biasa meminta orang lain mengulangi perbicaraannya. Jikalau ada hal-hal yang mentertawakan, maka diamlah secepat mungkin.

            Janganlah dalam bercakap-cakap itu engkau membanggakan dirimu sendiri, anak-anakmu, rambutmu, karangan-karanganmu atau apa sahaja yang engkau anggap suatu keistimewaan dalam dirimu atau keluargamu.

            Jikalau engkau berdebat, pegang teguhlah kesopanan. Janganlah engkau dianggap manusia yang bodoh dan tolol oleh orang lain, terutama oleh lawanmu. Jauhkanlah sikap tergesa-gesa, fikirkanlah masak-masak hujah atau bantahanmu. Jangan sesekali berisyarat dengan menggunakan tangan dan jangan pula suka menoleh ke belakang. Jikalau engkau sedang marah, diamlah dulu dan setelah reda kemarahanmu, ucapkanlah isi hatimu dengan baik.
    [/box]

    Semoga ilmu ini sama-sama kita menfaatkan.
    İlmu yang benar membuahkan amal İman yang Teguh
    hubungan dengan ukhuwahfıllah perpaduan Ummah seutuh

    ahmad_siddiqui

    • *
    • Posts: 525
    • "Aku menyembuhkan jiwaku kerana perbuatannya."
      • View Profile
    Reply #18 19 April, 2009, 04:37:24 PM
  • Publish
  • Quote
    Jikalau engkau berdebat, pegang teguhlah kesopanan. Janganlah engkau dianggap manusia yang bodoh dan tolol oleh orang lain, terutama oleh lawanmu. Jauhkanlah sikap tergesa-gesa, fikirkanlah masak-masak hujah atau bantahanmu. Jangan sesekali berisyarat dengan menggunakan tangan dan jangan pula suka menoleh ke belakang. Jikalau engkau sedang marah, diamlah dulu dan setelah reda kemarahanmu, ucapkanlah isi hatimu dengan baik.

    renung-renungkanlah wahai halaqian!

    assiddiq

    • *
    • Posts: 4596
    • "Dengan Kehendak dan KuasaNya"
      • View Profile
    Reply #19 19 April, 2009, 04:49:10 PM
  • Publish
  • Quote
    Jikalau engkau berdebat, pegang teguhlah kesopanan. Janganlah engkau dianggap manusia yang bodoh dan tolol oleh orang lain, terutama oleh lawanmu. Jauhkanlah sikap tergesa-gesa, fikirkanlah masak-masak hujah atau bantahanmu. Jangan sesekali berisyarat dengan menggunakan tangan dan jangan pula suka menoleh ke belakang. Jikalau engkau sedang marah, diamlah dulu dan setelah reda kemarahanmu, ucapkanlah isi hatimu dengan baik.

    renung-renungkanlah wahai halaqian!

    BETUL2..:")

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    5 Replies
    5605 Views
    Last post 28 December, 2009, 07:40:41 PM
    by jawdan
    13 Replies
    5719 Views
    Last post 09 January, 2011, 12:58:44 PM
    by aini zinnirah
    19 Replies
    13766 Views
    Last post 25 March, 2011, 09:46:43 AM
    by Ayatul Ukhuwwah