Prof. Dr. Musdah Mulia

*

Author Topic: Prof. Dr. Musdah Mulia  (Read 3398 times)

0 Halaqian and 1 Guest are viewing this topic.

anasameen

  • *
  • Posts: 1048
  • free al-Quds!!!
    • View Profile
08 March, 2010, 04:26:19 PM
  • Publish
  •  :)

    Tahukan anda siapakah Prof. Dr. Musdah Mulia...?
    Seorang warga Indonesia yang cukup kenal Islam tetapi memijak-mijak Islam.
    Kenapa saya cakap macam ni?
    Beliau menghalalkan gay dan lesbian dalam Islam. Dengan kenyataannya itu beliau mendapat pengiktirafan dari Itali.  :msya:
    Seorang yang cukup menjunjung Islam, sanggup mencanangkan Islam. ALLAHu'alam, jom sama-sama bincangkan...
    :: berkata2 itu lebih senang dari melaksana ::

    hasin

    • *
    • Posts: 883
      • View Profile
    Reply #1 08 March, 2010, 04:27:37 PM
  • Publish
  • dia dapat phD kat mana?

    ila_kein

    • *
    • Posts: 91
    • islam itu indah..
      • View Profile
    Reply #2 08 March, 2010, 04:44:13 PM
  • Publish
  • ye ker...?
    comfirm kena laknat dengan tuhan...
    Hanya padamu ya Allah, tempat aq mengadu segala-galanya..

    cahayalurus

    • *
    • Posts: 1289
      • View Profile
    Reply #3 08 March, 2010, 04:48:08 PM
  • Publish
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Musdah_Mulia

    Musdah Mulia (nama lengkap Siti Musdah Mulia; lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958; umur 52 tahun) adalah seorang aktivis wanita, peneliti, konselor, dan penulis di bidang keagamaan (Islam) di Indonesia.

    Musdah Mulia merupakan Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Sekretaris Jendral ICRP (Indonesian COnference on Religion and Peace), pernah menjabat sebagai Ahli Peneliti Utama Bidang Lektur Keagamaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama [1].
    [sunting] Pendidikan

        * Menamatkan Program Sarjana (S1) di IAIN Alauddin Makassar pada 1982
        * Menamatkan Program Pascasarjana (S2 dan S3) di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada 1992 dan 1997.
    Mrs. Ikan Pari

    hasin

    • *
    • Posts: 883
      • View Profile
    Reply #4 08 March, 2010, 05:18:44 PM
  • Publish
  • Quote
       * Menamatkan Program Sarjana (S1) di IAIN Alauddin Makassar pada 1982
        * Menamatkan Program Pascasarjana (S2 dan S3) di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada 1992 dan 1997.

    kat malaysia, sarjana muda ialah BA. sarjana ialah MA.

    bagaimana pula di indonesia? pascasarjana tu MA ke?

    anasameen

    • *
    • Posts: 1048
    • free al-Quds!!!
      • View Profile
    Reply #5 08 March, 2010, 10:43:36 PM
  • Publish
  • ...sila bertanggung jawab dengan setiap penulisan yg dibuat!!!

     :)
    Maaf, mungkin penulisan saya kurang maklumat dan penuh keraguan. Saya tidak sesekali berniat untuk menyebarkan perkara yang tidak betul. Dalam majalah Al-Islam keluaran Februari 2010 ada menceritakan tentang Siti Musdah Mulia. Dalam majalah tersebut, menyatakan gelaran "Dr."...Kerana rasa ingin tahu, saya cuba cari kat internet, ada yang cakap "Prof.Dr."...Bagaimanapun, saya belum memiliki hasil penulisannya. Saya nak tegaskan disini, langsung tidak terlintas dari hati untuk menyebarkan fitnah, apa lagi saya tahu apa saya akan dapat. Apa yang saya utarakan bukan dipinta untuk dipercayai 100%...Kita punya akal untuk mentafsir, dan saya inginkan perkongsian daripada halaqian semua...Kalau salah betulkan saya... Apa yang saya nak ketengahkan sekarang, setinggi manapun ilmu yang seseorang miliki bukan jaminan yang dia tak akan membunuh Islam jika ilmu itu tidak diterjemahkan dalam amalan.

    Hanya ingin berkongsi satu cerita.
    "Tika cucunya Nabi Muhammad SAW ingin menegur seorang tua, caranya cukup lembut dan penuh hikmah, cara pendekatannya cukup halus sehinggakan orang tua tersebut tak perasan yang dia ditegur. Apa yang dikatakan?"
    "Pak cik tolong tengok, siapa antara kami yang berwudu' dengan cara betul."
    Seorang mengambil wudu' dengan cara yang betul manakala seorang lagi mengikut cara yang orang tua tersebut.
    Dengan itu, pak cik tua tersebut tahu yang kedua orang si kecil ini ingin menegurnya, tetapi dengan cara yang penuh sopan dan santun sekalipun pak cik tersebut salah dalam mengambil wudu'nya. Sama-samalah kita mempraktikkan cara indah ini. ALLAHua'lam.

    p/s: Maaf jika tersalah kata, hanya ingin berkongsi. Terpulanglah pada halaqian semua untuk percaya atau tidak akan cerita "cucu Nabi SAW", namun apa yang saya ingin ketengahkan disini, tegurlah dengan penuh hikmah, kerana itu sikapnya seorang Muslim. Moga kita daam redhaNya selalu, amiin...ALLAHu'alam
    « Last Edit: 08 March, 2010, 10:58:08 PM by anasameen »

    anasameen

    • *
    • Posts: 1048
    • free al-Quds!!!
      • View Profile
    Reply #6 08 March, 2010, 11:00:39 PM
  • Publish
  • Saya perlukan perkongsian daripada halaqian semua. Saya membuka topik ini untuk dibahaskan bersama-sama. Jika saya salah, betulkan saya dengan cara yang sepatutnya. Mohon dikongsi ilmu yang ada, sikap Muslim itu selalu berkongsi dan ingat-mengingati.

    p/s: mohon ditutup sahaja topik, jika kekeliruan melampau. ALLAHu'alam 
    « Last Edit: 08 March, 2010, 11:06:25 PM by anasameen »

    anasameen

    • *
    • Posts: 1048
    • free al-Quds!!!
      • View Profile
    Reply #7 09 March, 2010, 12:13:25 PM
  • Publish
  • Topik apa yang ingin dibahaskan?
    Ketokohan beliau? Keilmuan beliau?
    Atau isu yang dikupas oleh beliau?

     :)

    Tidak ada perkataan terasa hati sekarang, tetapi hanya untuk berkongsi sedikit ilmu untuk sama-sama difikirkan sejenak. Semua pertanyaan di atas perlu jika niatnya untuk sama-sama menambah ilmu dan mengambil contoh disebalik kejadian tersebut. Ketokohan, keilmuan semuanya perlu. Sesungguhnya, disebalik kejadian buruk itu terselit kejadian yang membawa kepada kebaikan. Mungkin sebelum ini, kita tak pernah terfikir ha-hal seperti ini, dan dengan kejadian tersebut, ianya membuatkan kita berfikir. ALLAHu'alam 
    « Last Edit: 09 March, 2010, 12:15:14 PM by anasameen »

    yuss28183

    • *
    • Posts: 289
      • View Profile
    Reply #8 09 March, 2010, 12:30:11 PM
  • Publish
  • June 10, 2008
    ”Kampanye Lesbi Profesor AKKBB”

    Oleh : Adian Husaini.
    Namanya sudah sangat masyhur. Media massa juga rajin menyiarkan pendapat-pendapatnya. Wajahnya sering muncul di layar kaca. Biasanya menyuarakan aspirasi tentang kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dia memang salah satu aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa buku sudah ditulisnya. Gelar doktor diraihnya dari UIN (dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Gelar Profesor pun diraihnya.


    Biasanya, dia dikenal sebagai feminis pejuang paham kesetaraan gender. Umat Islam sempat dihebohkan ketika Prof. Musdah dan tim-nya meluncurkan Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam. Banyak ide-ide ”aneh” yang tercantum dalam CLD-KHI tersebut. Misalnya, ide untuk mengharamkan poligami, memberi masa iddah bagi laki-laki; menghilangkan peran wali nikah bagi mempelai wanita, dan sebagainya.

    Sejumlah Profesor syariah di UIN Jakarta sudah menjawab secara tuntas gagasan Musdah dan kawan-kawan. Puluhan – bahkan mungkin ratusan — diskusi, debat, seminar, dan sebagainya sudah digelar di berbagai tempat.

    Toh, semua itu dianggap bagai angin lalu. Prof. Musdah tetap bertahan dengan pendapatnya. Biar orang ngomong apa saja, tak perlu dipedulikan. Jalan terus! Bahkan, makin banyak ide-ide barunya yang membuat orang terbengong-bengong. Pendapatnya terakhir yang menyengat telinga banyak orang adalah dukungannya secara terbuka terhadap perkawinan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Pada CAP-230 lalu, kita sudah membahas masalah ini. Ketika itu, banyak yang bereaksi negatif, seolah-olah kita membuat fitnah terhadap Prof. Musdah. Ada yang menuduh saya salah paham terhadap pemikiran Musdah.

    Untuk memperjelas pandangan Musdah Mulia tentang hubungan/perkawinan sejenis (homoseksual dan lesbian), ada baiknya kita simak beb erapa tulisan dan wawancaranya di sejumlah media massa. Dalam sebuah makalah ringkasnya yang berjudul ”Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta”, dosen pasca sarjana UIN Jakarta ini menulis:
    “Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah. Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia… Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi maka hubungan demikian dapat diterima.” (Uraian lebih jauh, lihat, Majalah Tabligh MTDK PP Muhammadiyah, Mei 2008)


    Siti Musdah Mulia adalah aktifis Gender yg berinduk pada liberalisme barat
    Musdah memang sangat berani dalam menyuarakan pendapatnya, meskipun sangat kontroversial dan mengejutkan banyak orang. Dia tentu paham bahwa isu homoseksual dan lesbian adalah hal yang sangat kontroversial, bahkan di lingkungan aktivis lieral sendiri. Banyak yang berpendapat agenda pengesahan perkawinan sejenis ini ditunda dulu, karena waktunya masih belum tepat. Tapi, Musdah tampaknya berpendapat lain. Dia maju tak gentar, bersuara tentang kehalalan dan keabsahan perkawinan sesama jenis. Tidak heran jika pada 7 Maret 2007 pemerintah Amerika Serikat menganugerahinya sebuah penghargaan ”International Women of Courage Award”.

    Sebenarnya, sudah sejak cukup lama Musdah memiliki pandangan tersendiri tentang homoseks dan lesbi. Pandangannya bisa disimak di Jurnal Perempuan edisi Maret 2008 yang menurunkan edisi khusus tentang seksualitas lesbian. Di sini, Prof. Musdah mendapat julukan sebagai ”tokoh feminis muslimah yang progresif”. Dalam wawancaranya, ia secara jelas dan gamblang menyetujui perkawinan sesama jenis. Judul wawancaranya pun sangat provokatif: ”Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”.

    Menurut Profesor Musdah, definisi perkawinan adalah: ”Akad yang sangat kuat (mitsaaqan ghaliidzan) yang dilakukan secara sadar oleh dua orang untuk membentuk keluarga yang pelaksanaannya didasarkan pada kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak.” Definisi semacam ini biasa kita dengar. Tetapi, bedanya, menurut Musdah Mulia, pasangan dalam perkawinan tidak harus berlainan jenis kelaminnya. Boleh saja sesama jenis.

    Simaklah kata-kata dia berikutnya, setelah mendefinisikan makna perkawinan menurut Aal-Quran:
    ”Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

    Selanjutnya, dia katakan:
    ”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”

    Prof. Dr. Siti Musdah Mulia pun merasa geram dengan masyarakat yang hanya mengakui perkawinan berlainan jenis kelamin (heteroseksual). Menurutnya, agama yang hidup di masyarakat sama sekali tidak memberikan pilihan kepada manusia.
    ”Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan,” gerutu sang Profesor yang (menurut Jurnal Perempuan) pernah dinobatkan oleh UIN Jakarta sebagai Doktor Terbaik IAIN Syarif Hidayatullah 1996/1997.

    Kita tidak tahu, apakah yang dimaksud dengan ”orientasi seksual lainnya” termasuk juga ”orientasi seksual dengan binatang”. Yang jelas, bagi kaum lesbian, dukungan dan legalisasi perkawinan sesama jenis dari seorang Profesor dan dosen di sebuah perguruan Tinggi Islam tekenal ini tentu merupakan sebuah dukungan yang sangat berarti. Karena itulah, Jurnal Perempuan secara khusus memampang biodata Prof. Musdah. Wanita kelahiran 3 Maret 1958 ini lulus pendidikan S-1 dari IAIN Alaudin Makasar. S-2 ditempuhnya di bidang Sejarah Pemikiran Islam di IAIN Jakarta. Begitu juga dengan jenjang S-3 diselesaikan di IAIN Jakarta dalam bidang pemikiran politik Islam. Aktivitasnya sangat banyak. Sejak tahun 1997-sekarang masih menjadi dosen Pasca Sarjana UIN Jakarta. Tahun 1999-2000 menjabat sebagai Kepala Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Depag RI. Masih menurut birodata di Jurnal Perempuan, sejak tahun 2001-sekarang, Musdah Mulia juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Agama bidang Hubungan Organisasi Keagamaan Internasional. Tapi, data ini ternyata tidak benar. Saya sempat mengkonirmasi ke seorang pejabat di Departemen Agama tentang posisi Musdah Mulia ini, dijawab, bahwa dia sudah dikembalikan posisinya sebagai peneliti di Litbang Depag.

    Banyak yang bertanya, apa yang salah dengan pendidikan Prof. Musdah? Mengapa dia menjadi pendukung lesbian? Jawabnya: Wallahu A’lam.

    Yang jelas, Musdah Mulia memang seorang ’pemberani’. Amerika tidak keliru memberi gelar itu. Dia berani mengubah-ubah hukum Islam dengan semena-mena. Dia memposisikan dirinya sebagai ’mujtahid’. Dia berani menyatakan dalam wawancaranya bahwa:
    ”Sepanjang bacaan saya terhadap kisah Nabi Luth yang dikisahkan dalam Al-Qur’an (al-A’raf 80-84 dan Hud 77-82) ini, tidak ada larangan secara eksplisit baik untuk homo maupun lesbian. Yang dilarang adalah perilaku seksual dalam bentuk sodomi atau liwath.”

    Para pakar syariah tentu akan geli membaca ”hasil ijtihad” Musdah ini. Seorang Profesor – yang juga dosen UIN Jakarta – pernah berargumen, di dalam Al-Quran tidak ada larangan secara eksplisit bahwa Muslimah haram menikah dengan laki-laki non-Muslim. Ketika itu, saya jawab, bahwa di dalam Al-Quran juga tidak ada larangan secara eksplisit manusia kawin dengan anjing. Tidak ada larangan kencing di masjid, dan sebagainya. Apakah seperti ini cara menetapkan hukum di dalam Islam? Tentu saja tidak. Melihat logika-logika seperti itu, memang tidak mudah untuk mengajak dialog, karena dialog dan debat akan ada gunanya, jika ada metodologi yang jelas. Sementara metode yang dipakai kaum liberal dalam pengambilan hukum memang sangat sesuka hatinya, alias amburadul.

    Yang jelas, selama 1400 tahun, tidak ada ulama yang berpikir seperti Musdah Mulia, padahal selama itu pula kaum homo dan lesbi selalu ada. Karena itu, kita bisa memahami, betapa ”hebatnya” Musdah Mulia ini, sehingga bisa menyalahkan ijtihad ribuan ulama dari seluruh dunia Islam. Jika pemahaman Musdah ini benar, berarti selama ini ulama-ulama Islam tolol semua, tidak paham makna Al-Quran tentang kisah kaum Luth. Padahal, dalam Al-Quran dan hadits begitu jelas gambaran tentang kisah Luth.
    “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).
    Di dalam surat Hud ayat 82 dikisahkan (artinya):

    ”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah-tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”
    Kebejatan perilaku seksual kaum Luth ini juga ditegaskan oleh Rasulullah saw:

    “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

    imageDalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan, bagaimana sangat merusaknya penyakit ’kaum Luth’, sehingga mereka diazab dengan sangat keras oleh Allah SWT. Hamka sampai menyebut bahwa perilaku seksual antar sesama jenis ini lebih rendah martabatnya dibandingkan binatang. Binatang saja, kata Hamka, masih tahu mana lawan jenisnya. Hamka mengutip sebuah hadits Rasulullah saw:

    “… dan apabila telah banyak kejadian laki-laki ’mendatangi’ laki-laki, maka Allah akan mencabut tangan-Nya dari makhluk, sehingga Allah tidak mempedulikan di lembah mana mereka akan binasa.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, dan at-Tabhrani).

    Hamka menulis dalam Tafsirnya tentang pasangan homoseksual yang tertangkap tangan: “Sahabat-sahabat Rasulullah saw yang diminta pertimbangannya oleh Sayyidina Abu Bakar seketika beliau jadi Khalifah, apa hukuman bagi kedua orang yang mendatangi dan didatangi itu, karena pernah ada yang tertangkap basah, semuanya memutuskan wajib kedua orang itu dibunuh.” (Lihat, Tafsir al-Azhar, Juzu’ 8) .

    Tapi, berbeda dengan pemahaman umat Islam yang normal, justru di akhir wawancaranya, Prof. Musdah pun menegaskan:
    ”Islam mengajarkan bahwa seorang lesbian sebagaimana manusia lainnya sangat berpotensi menjadi orang yang salah atau taqwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, baik kepada sesama makhluk dan peduli pada lingkungannya. Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.”

    Camkanlah pendirian Ibu Professor AKKBB ini. ”Saya yakin ini!” katanya. Itulah pendiriannya. Demi kebebasan, orang bisa berbuat apa saja, dan berpendapat apa saja. Ketika seorang sudah merasa pintar dan berhak mengatur dirinya sendiri, akhirnya dia bisa juga berpikir: ”Tuhan pun bisa diatur”. Kita pun tidak perlu merasa aneh dengan pendirian dan sikap aktivis AKKBB seperti Mudah Mulia. Jika yang bathil dalam soal aqidah – seperti kelompok Ahmadiyah – saja didukung, apalagi soal lesbian. Meskipun sering mengecam pihak lain yang memutlakkan pendapatnya, Ibu Profesor yang satu ini mengaku yakin dengan pendapatnya, bahwa praktik perkawinan homo dan lesbi adalah halalan thayyiban.

    Jika sudah begitu, apa yang bisa kita perbuat? Kita hanya bisa ’mengelus dada’, sembari mengingatkan, agar Ibu Profesor memperbaiki berpikirnya. Profesor tidak jaminan benar. Banyak profesor yang keblinger. Jika tidak paham syariat, baiknya mengakui kadar keilmuannya, dan tidak perlu memposisikan dirinya sebagai ”mujtahid agung”. Pujian dan penghargaan dari Amerika tidak akan berarti sama sekali di hadapan Allah SWT. Kasihan dirinya, kasihan suaminya, kasihan mahasiswa yang diajarnya, dan kasihan juga institusi yang menaunginya. Tapi, terutama kasihan guru-guru yang mendidiknya sejak kecil, yang berharap akan mewariskan ilmu yang bermanfaat, ilmu jariyah.

    Mudah-mudahan, Ibu Profesor aktivis AKKBB ini tidak ketularan watak kaum Luth, yang ketika diingatkan, justru membangkang, dan malah balik mengancam. “Mengapa kalian mendatangi kaum laki-laki di antara manusia, dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu; bahkan kalian adalah orang-orang yang melampaui batas. Mereka menjawab: ”Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, maka pasti kamu akan termasuk orang-orang yang diusir.” (QS asy-Syu’ara: 165-167).
    "What You Do With Your Life, Is What You Give To ALLAH"

    anasameen

    • *
    • Posts: 1048
    • free al-Quds!!!
      • View Profile
    Reply #9 13 March, 2010, 09:39:12 PM
  • Publish
  • 08 March 2007

    Indonesian Woman Honored as Woman of Courage
    Scholar Siti Musdah Mulia champions Islam and women’s rights

     
    Under Secretary Paula Dobriansky with Siti Musdah Mulia, recipient of an Internationa Women of Courage Award. (Janine Sides/State Dept)By Jane Morse
    Staff Writer



    Washington -- Siti Musdah Mulia is devoted to both Islam and women’s rights – a devotion that has caused conservative Muslim groups to condemn her and radical Islamic groups to threaten her with death.

    In 1997, she became the first woman to obtain a doctorate degree in the field of Islamic political thought from the State Islamic University of Syarif Hidayatullah, Jakarta.  In 1999, she became the first woman to be appointed as a research professor by the Indonesian Institute of Sciences.

    In 2004, Mulia and a team of 11 experts completed a groundbreaking project – the Counter Legal Draft (CLD) – which is aimed at revising Indonesia’s Islamic legal code.  In a recent interview with USINFO, Mulia explained that among the revisions recommended are a ban on polygamy and forced marriages, and raising the legal age of marriage for girls from 16 to 19 years old.  Both changes, she said, would help prevent domestic violence and child abuse. The recommendations also called for husbands and wives to be given the same rights, she said.

    Mulia proposed that the CLD revisions immediately be considered and ratified by the Indonesian parliament.  But disagreements and violent protests prompted Indonesia’s minister of religious affairs to cancel the project.

    The firestorm, however, has not deterred Mulia from her mission of enlightening women.  “Many women are not aware of their rights,” she said.

    Mulia’s steadfastness has won her recognition from the United States:  On March 7 she was honored with the International Women of Courage Award.

    This new award is the result of Secretary of State Condoleezza Rice’s desire to recognize women around the globe who have shown exceptional courage and leadership in promoting women’s rights and advancement.

    Mulia joined nine other women who received this award at a special ceremony at the U.S. Department of State.  The other awardees, drawn from Afghanistan, Argentina, Iraq, Latvia, Maldives, Saudi Arabia and Zimbabwe, were selected from 82 nominees submitted by U.S. embassies worldwide. (See related article.) 

    Mulia acknowledged that her acceptance of the U.S. award might prompt some Islamists to criticize her as being “too Western.”  But she added that the Islamic tradition runs deep n her and her family – she is a graduate of an Islamic boarding school and her father and father-in-law are Islamic clerics.  Winning the U.S. award, she said, is a chance for her to explain to Islamists and an international audience her fight for human rights for women.

    In Indonesia, Mulia reaches out to women by having her publications translated into the 300-plus local languages commonly used in the islands within the nation, and she appears on Indonesian talk shows and before women’s organizations.

    A respected scholar, Mulia is the chairwoman of Muslimat Nahdlatul Ullama (Muslimat NU), which, with more than 40 million members, is the largest Islamic social organization in Indonesia.

    p/s: Tengoklah, mereka cukup bangga dengan idea yang Prof. Musdah bawa kerana ianya dapat mamalukan Islam. Setinggi mana ilmu di    dada jika tidak dirasa dengan hati, aql dan tidak diamal, ianya sama sahaja dengan yang tidak punya ilmu.
     
    Sumber dari: America.gov

    anasameen

    • *
    • Posts: 1048
    • free al-Quds!!!
      • View Profile
    Reply #10 13 March, 2010, 09:45:53 PM
  • Publish
  • Dalam Islam, kita ada konsep untuk memahami ilmu. Ianya terbahagi kepada 2 iaitu 'ilm dan ma'rifah. 'Ilm dapat dikesan dengan kajian saintifik seperti matematik, psikologi, sociologi dan sebagainya. Manakala ma'rifah dapat dikesan dengan hati, contohnya wujudnya ALLAH, kehidupan selepas mati dan sebagainya. Ianya sah, tetapi tak dapat disahkan dengan mata kasar. Hanya hati yang dapat kesan. Dalam hadith riwayat Bukhari dan Muslim, ada mengatakan yang membawa maksud dalam badan kita ada satu ketul darah yang mana jika ianya baik, maka baiklah keseluruhan badan itu. Jika ianya tidak, tidaklah keseluruhan badan itu. Dan ianya adalah hati.

    Kesimpulannya, Islam menekankan penggunaan 'aql dan hati dalam mencari ilmu. Bukan semata-mata bergantung kepada aqal sahaja. ALLAHu'alam.

    divider3
    halaqahforum4

     

    Related Topics

      Subject / Started by Replies Last post
    16 Replies
    13167 Views
    Last post 28 April, 2010, 03:01:36 PM
    by alprozz
    19 Replies
    3102 Views
    Last post 05 June, 2011, 11:53:20 AM
    by mohdazri
    1 Replies
    1053 Views
    Last post 13 November, 2012, 03:54:36 PM
    by RNLQ